Podcast Bu Heni

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Change DNA

Tidak ada komentar
Short Sharing karena seharian mata pedes membaca ebook pak Rhenald Kasali berjudul Recode Your Change DNA [ebook gratis, linknya ada di sharing saya sebelumnya ya.]

Kesan pertama dari tulisan pak Rhenald adalah jelas dan mudah dimengerti bahasanya, tidak ruwet bin muter-muter seperti tulisan [maaf] pak Super Sekali - pak Mario Teguh. Tulisannya pak Rhenald ini mirip gaya tulisan pak Dis alias Dahlan Iskan. Mungkin karena keduanya pernah masuk karir jurnalistik, jadi tulisannya empuk dibacanya.

Kedua, tulisan pak Rhenald mengena sekali. Itu karena beberapa kisah yang disampaikan benar dialami sendiri oleh beliau. Sehingga saya tidak merasa hanya disuguhi teori atau hasil penelitian. Tipe tulisan pengalaman seperti ini sangat saya sukai, seperti halnya tulisan biografi. Bercerita berdasar kisah nyata. Asik.

Tentang isi ebook Recode, yang paling mengena untuk saya sampaikan saat ini adalah ketika saya masuk ke bab pengujian Change DNA saya. Change DNA = DNA perubahan, yaitu kode genetik dalam sel tubuh saya yang menyimpan kemampuan untuk berubah. Di bab ini saya menuliskan jawaban satu per satu dari kuis yang diberikan. Apakah saya memilih A atau B. Lalu di akhir kuis ada penjelasan tipe karakter Change DNA saya jika memilih A terlalu banyak, atau B terlalu banyak.

Syaa sangat bersyukur sekali, karena jawaban yang saya berikan menunjukkan arah bahwa saya punya Change DNA yang kuat dan terbuka pada perubahan. Alhamdulillah.

Yang menjadi puncak syukur adalah saya bisa menjawab dengan tepat dari beberapa pertanyaan, yang merupakan akumulasi hasil tempaan kehidupan yang saya jalani sebagai ibu rumah tangga bukan wanita karir. Misalnya pertanyaan tentang respon saya terhadap orang yang memfitnah. Apakah saya reaktif dan emosional. Atau tetap tenang, mengajak berbicara orang yang memfitnah dan mencari solusinya atau berusaha memahami.

Nah, perkara fitnah ini tidak pernah sama sekali saya hadapi ketika masih berstatus single dan pelajar atau berstatus karyawan. Tetapi saya pernah menelan pil pahit fitnah ketika menjadi ibu rumah tangga. Dan kepahitan itu benar-benar menjadi obat yang sangat baik karena membuat DNA saya berubah menjadi lebih tangguh sekaligus tenang.

Adalagi pertanyaan yang menunjukkan ketahanan saya terhadap tekanan dan keinginan besar untuk berubah. Saya pun berkali-kali bersyukur karena diberi karunia dan kemudahan oleh Alloh SWT bisa sekolah di tempat yang terbaik. Bisa merantau dan merasakan semua hal di perantauan. Ternyata hal ini  memberikan kontribusi juga dengan DNA saya hingga saat ini. Terbiasa mandiri membuat saya menjadi ibu rumah tangga yang tidak mudah merengek minta bantuan. Walau harus mengurus anak yang prematur seorang diri, walau pasca operasi tulang kaki harus tertartih-tatih menahan sakit yang luar biasa dan mondar-mandir merawat anak kedua yang mendadak sakit panas, saya tidak mudah menangis menelpon suami, ibu atau mertua. Saya terima itu semua dan lebih bangga jika melakukannya sendiri walau sekarang sudah tidak merantau lagi dan bisa saja dengan mudah menelepon mereka meminta bantuan. Rasa sulit ketika di perantauan merawat diri sendiri walau sedang sakit, membuat saya tahan dengan keadaan yang mirip seperti itu. Alhamdulillah, ALLOH MAha MEnguatkan hamba-Nya.

Terakhir saya bersyukur juga dengan motivasi diri yang kuat untuk berubah, saya bisa sekolah di tempat yang baik. karena menurut pak Rhenald, DNA juga dipengaruhi oleh lingkungan, oleh teman. Hanya bermodal niat ingin berubah, dan takut mengecewakan orang tua, saya belajar sangat keras ketika masa sekolah. Sehingga bisa diterima di sekolah negeri favorit dan terbaik. Dan juga berusaha sekeras mungkin menggunakan waktu dengan tepat, belajar cepat, supaya orang tua tidak terbebani biaya jika saya bermalas-malasan dalam belajar. Itu semua, alhamdulillah, ikut serta membina DNA saya. Subhanallah sungguh tak saya sangka. Dari hal ini, saya mulai menemukan vision dream yang makin terang untuk kehidupan saya terutama anak-anak saya kelak. Saya akan merumuskan mimpi saya lagi bersama suami, agar bisa memberikan lingkungan yang baik untuk anak-anak agar mempunyai DNA yang mumpuni, fleksibel dan bersemangat terhadap perubahan. Bismillah, dalam semua kemampuan yang kami miliki, saya akan berusaha merumuskan, menuliskan kembali apa yang perlu kami lakukan agar bisa menjadi Change Maker. Agen Perubahan untuk kehidupan kami sendiri, keluarga kecil kami, keluarga besar kami, tetangga dan saudara kami dan untuk kehidupan yang lebih luas lagi dalam ijin Alloh SWT.

Ya, saya harus mulai menuliskannya, kenapa harus ditulis?

Ada quote dari Woody Allen :
   Tuhan akan tersenyum jika kita menuliskan mimpi atau keinginan yang ingin kita peroleh dalam hidup.

Pasti, itu karena Tuhan yakin kita menghargai hidup yang diberikan oleh-Nya, dan tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Bismillah. Allahumma Amin

Semoga bermanfaat
> Heni Prasetyorini <

Bisnis Bukan [hanya] Cari Uang

Tidak ada komentar
Pertama, saya kemarin nonton acara Kick Andy di Metro TV. Temanya adalah Kids-Preneur, yaitu profil para pemenang lomba usahawan cilik yang diadakan oleh bank Permata. Menarik sekali, terutama profil usahawan kakak beradik laki-laki yang menjual replika mobil kuno,brosur dan onderdil mobil kuno. Dua anak itu bernama Sena dan Wibi. Kedekatan mereka dalam bersaudara membuat saya ingat dua anak lelaki saya, Aldo dan Aji. Saya sungguh berharap kelak mereka tumbuh dewasa sebagai sahabat. Dan melihat contoh kemarin, mungkin saja lewat bisnis bersama sejak kecil mereka akan semakin akrab. Saya mulai berpikir untuk mengenalkan bisnis pada mereka. Mungkin tentang kaos sablon digital printing atau kaos berlukis fabric crayon dengan gambar buatan mereka sendiri. Karena mereka gemar sekali menggambar. Dan Aldo, si kakak, sudah mulai mencoba sendiri menggambar dengan Photoshop. Semoga ada jalan yang mudah untuk memulai hal tersebut, untuk pembelajaran.

Bisnis dikupas sedikit oleh pak Renald Khasali di acara metro TV itu dengan singkat tapi kena pas banget padaku. Bahwa generasi sekarang adalah tipe Connected Generation. Yaitu generasi yang terhubung satu sama lainnya, terutama lewat internet atau blackberry. Bahkan pak Renald berkelakar, anak sekarang baru lahir saja tangan kanannya sudah pegang mouse. Karakter lain dari anak sekarang adalah mereka bertipe Driver = pengemudi. Mereka mulai bisa mengemudikan hidup mereka sendiri. Soft skill mereka bagus, mereka bisa presentasi bisnis dengan baik, berpromosi dengan yakin dan tekun menjalankan usahanya.

Pak Andi F. Noya selaku host menanyakan bahwa dulu ada kekhawatiran jika anak diajari mencari uang atau berbisnis maka akan merusak konsentrasinya belajar di sekolah. Jadi sejak kapan anak diajari bisnis, begitu tanya pak Andi selanjutnya.

Dan pak Renald menjawab, "sebenarnya bisnis juga belajar. Asal dibimbing dengan baik. Harus ditekankan bahwa bisnis itu tidak mencari uang. Uang bukan tujuan. uang adalah akibat. Yang perlu diperhatikan adalah pembelajaran dalam berbisnis, seperti tekun, kerja keras, jujur, berkomunikasi dengan baik, melayani pelanggan, pencatatan teratur, disiplin dan sebagainya. Dengan bekal ini maka karakter anak akan terbentuk mandiri dan tangguh.

Yang tidak kalah penting, lanjut pak Renald, kita harus mengawasi bacaan anak tentang bisnis. Tentu bacaan ini bisa mereka dapat dari mana saja, terlebih dari internet. Kita harus membimbing mereka agar tidak salah menafsirkan. Karena sekarang banyak beredar bacaan yang memberikan cara instan untuk sukses berbisnis dan sebagainya. Seperti halnya konsep "The power of Kepepet", Kerja Cerdas, dsb.

Bisnis harus dikonsep dengan baik, dan tidak perlu menunggu untuk kepepet dulu baru bergerak dengan sungguh-sungguh. Juga tentang kerja cerdas, jangan sampai anak menafsirkan bahwa bekerja cerdas itu berarti tidak perlu bekerja keras. Karena tidak ada satupun bisnis di bumi ini bisa sukses tanpa kerja keras.

Kata-kata pak Renald ini sangat baru bagi saya. Memberi konsep baru tentang bisnis dan terutama kaitannya dengan anak-anak. Sekaligus juga menguatkan saya untuk tetap menekuni bisnis yang telah saya mulai dua tahun yang lalu. benar memang kata beliau, dalam bisnis ini banyak hal yang bisa disebut pembelajaran.

Kemudian baru tadi, saya tak sengaja menekan channel TVRI dan menemukan acara Rumah Perubahan Renald Kasali. Disitu beliau menunjukkan buku yang beliau tulis, berjudul Recode, Change Your DNA. Sekilas kalimat singkat yang saya ingat adalah kita harus beradaptasi dengan baik saja dalam hidup yang selalu berubah.
Langsung deh, saya tertarik untuk membeli buku ini. Dan ternyata, setelah saya cari di Google, berita bahagianya adalah pak Renald berbaik hati untuk membuat ebook gratis dari buku tersebut. Linknya disini. Sementara info tentang ebook gratis ini saya peroleh dari blog seseorang disini
Tanpa menunggu, ebook itu langsung saya download. Dan alhamdulillah, ebooknya ada berbentuk pdf, bisa dibaca, ada beberapa foto menarik dan tentu saya akan lanjut membacanya malam ini juga. Jika tertarik silahkan klik link yang saya berikan di atas.

Semoga bermanfaat >.<
Heni Prasetyorini

Kutahu Yang Kumau

Tidak ada komentar
Beberapa hari ini nonton tivi, menampilkan profil artis. Acaranya apa ya? singkat cerita sajalah. Ada dua artis yang dibahas. Famous semua. Yaitu Agnes Monica dan Dian Sastro.

Kedua artis ini diberi komentar yang sama oleh rekan dekatnya atau ibunya. Bahwa mereka berdua itu Tahu Yang Dia Mau.

Artinya mereka tahu benar apa keinginan mereka di masa depan. Membuat rencananya dan melakukannya. Keren betul. Apalagi pas di acara profil Dian Sastro ditunjukkan diarynya masa SMA, disana ditulis beberapa mimpinya atau ibunya bilang Repelita Dian [Rencana Pembangunan Lima Tahun] versi Dian. Dan beberapa tercapai, beberapa tidak.

Saya jadi ingat ketika membongkar buku dan menemukan diary. Bener juga, ada beberapa hal yang saya tulis dan tanpa sadar semuanya terjadi. Menikah cepat, punya anak laki-laki semua dan bahkan tanpa sadar di salah satu buku campur yang mencatat tentang resep dan kesehatan, saya menulis info tentang bayi prematur. itu saya nulisnya ketika masih kuliah. Eh Subhanallah, Masya Alloh, Allohu Akbar, ternyata bayi kedua saya lahir prematur.

Menuliskan mimpi atau keinginan ternyata tanpa sadar memberikan koridor yang jelas bagi kita untuk melangkah ke depan. Walau benar-benar itu semua saya lakukan tanpa sadar. Atau malah ini disebut "dibawah sadar ya"? entahlah. Ketika masih sekolah saya rajin menuliskan keinginan ini dan itu. Dan tanpa sadar pula saya mempunya semangat sangat membara jaman sekolah.

Nah, belakangan saya merenungi diri sendiri, kenapa semangat itu tak semenyala dulu. Kenapa saya juga tak memulai menuliskan mimpi saya lagi?
mungkinkah karena :
1. sejak punya anak, saya ragu untuk mempunyai mimpi lagi. karena walau berencana secanggih apapun, akhirnya eksekusi rencana itu harus sesuai dengan kondisi anak, suami dan rumah tangga. alias, saya sudah sangat sering harus mengalah mundur agar mereka semua maju. mungkin ini yang membuat saya enggan bermimpi lagi.

2. zona nyaman. kemarin saya anti dengan kenyamanan. lalu beberapa teguran dari Alloh SWT datang pada saya. paling gress ya ketika tulang telapa kaki saya retak tempo hari, dan harus menjalani operasi besar tipe tiga untuk memasang kawat diantara tulang kaki saya itu. Sakitnya luar biasa dan pengalaman ketika operasi sungguh membuat saya takut meninggal. Jujur itu benar. Akhirnya karena takut meninggal dan melihat anak-anak, maka fokus saya saat itu sudahlah melepaskan saja semua mimpi yang muluk-muluk dan kembali menginjak bumi dimana anak-anak saya berada.

3. banyak alasan dan semakin malas. namanya otak dan otot itu mirip. jarang dipakai, ya lembek bin letoy. ini benar terjadi pada saya. Menulis yang biasanya saya lakukan spontan membahan badai halilintar [eh niru jeng syahrinem hehehe], ini karena saya lama betul tidak menulis, jadinya sulit sekali. Membaca dengan tenang juga sulit, saya masih selalu emosian dan membaca cepat. Bahkan novel tebal Perahu Kertas habis dalam sehari semalam saja. Karena penasaran juga tidak bisa membaca lambat lagi, takut dikejar pekerjaan lagi.

Begitulah, saya membolak-balik hati, kenapa semakin pesimis dari hari ke hari. Kenapa ya, toh saya berusaha untuk memompa semangat diri sendiri ini setiap hari loh. Ternyata eh ternyata saya mendapa jawabannya setelah membaca timeline di twitternya pak Ippo di @ipporight. Beliau menunjukkan konsep Input in Output Out. Garbage in Garbage Out.

yang artinya, Apapun yang masuk dalam pikiran kita- itulah hasil yang keluar. Jika bacaan-tontonan-teman kita positif dan semangat, kita pun ketularan begitu. Jadi semangat, optimis dan yakin,

Tapi, kita akan mudah pesismis jika suka melihat berita negatif, tontonan horor,..

nah jreng jreng itu dia, BERITA NEGATIF. inilah biang keladinya. Sejak jadi ibu rumah tangga, karena menghindari sinetron, saya rajin nonton berita. Lah, berita di negeri ini berapa persen yang positif? mayoritas negatif semua. Ini diaaa, saya kebanyakan nonton berita negatif, seperti korupsi, perceraian, rusuh, banjir, dll. Pantesan saya keder sendiri secara tidak sadar.

Lalu ada lagi, karena menjadi ibu rumah tangga yang ingin posisinya aman di masyarakat sosial, saya merasa semakin sering diam memendam kalimat yang ingin saya sampaikan. Misalnya ingin menjelaskan pentingnya konsep bahwa belajar di rumah itu oke loh bu, daripada anaknya dibawa kabur les kesana kemari sampai kecapekan. Nah itu kalimat haruus saya telan terus, karena kuatir menyinggung perasaan teman sesama ibu-ibu. Atau semacam itulah kasusnya. Karena saya harus diam dan diam tanpa konsep diam yang baik , maka saya merasa untuk menambah ilmu lagi jadi sia-sia dan tidak bersemangat. Ini juga biang keladi rasa pesimis dan malas saya ini.

Tapi untunglah, alhamdulillah. Berkat gemar internetan dan membaca dengan seksama saya terinspirasi oleh status seorang teman yang menunjukkan simpati dan kagum pada temannya. Ibu rumah tangga, punya dua balita, baru melahirkan dan bisa lulus di kuliah online gratisan di www.coursera.org. Nah status ini bikin saya penasaran lalu membuka link website itu. Kuliah online gratis, asik sekali. Dan ketika saya buka, eh benar, disana banyak sekali materi kuliah dan kursus yang ditawarkan. Yang menarik bagi saya adalah tentang sains, menulis, psikologi dan digital. Yang membuat keder dan terhenyak adalah kudu pake bahasa Inggris ciin. *mukul kepala sendiri - salah sendiri dah lama kabur kalau ada bahasa Inggris yang serius. [apa saya perlu kursus lagi? hehehe]

Ah, setidaknya, ibu itu memberi saya motivasi dan contoh yang luar biasa. Memberitahukan pada saya bahwa harapan itu masih ada terbentang begitu luas. Lambat laun, saya kembali tahu apa yang saya inginkan. Kutahu Yang Kumau.

Seutas Benang dan Jarum Jahit

4 komentar


Sudah lama sekali, kira-kira sembilan atau sepuluh tahun yang lalu, aku mendengar cerita ini. Ada seorang penjahit sukses, yang kemudian karena sesuatu hal jadi bangkrut. Keluarganya berantakan. Lalu merantaulah dia dan anaknya ke Jakarta. Disana dia tidak punya dana sepeserpun kecuali untuk mengontrak satu kamar. Dia ingin mencari pekerjaan, tapi tidak punya kemampuan kantoran. Yang dia kuasai cuma satu, yaitu menjahit. Tetapi dia tidak punya apa-apa. Mesin jahit dia pinjam dari si pemilik rumah.


Yang hebat, beliau mencari jalan keluar. Jadi mendatangi rumah-rumah warga di sekitar rumah kontrakannya. Dia tawarkan jasa menjahit. Tapi dia pinjam uang dulu untuk beli jarum dan benang. Sementara kain sudah diberikan oleh calon konsumennya.


Dengan sepenuh hati, beliau kerjakan baju pesanan tetangganya itu. Dan jadilah. Tetangganya puas. Dari mulut ke mulut, berkembanglah usaha menjahitnya.


Pernah suatu saat beliau disuruh menjahit baju pengantin yang panjangnya bermeter-meter. Beliau tidak tahu caranya. Belum pernah les menjahit baju pengantin Eropa. Tetapi tidak putus asa. Beliau membeli majalah bergambar pengantin Eropa, lalu mondar-mandir ke toko baju pengantin Eropa untuk mengamati bajunya. Dan kemudian menjahit sendiri baju itu dengan sangat hati-hati.


Dengan sungguh-sungguh walau sempat tidak tidur, dia menyelesaikan satu demi satu pesanan jahitan. Dan sampailah akhirnya dia dikenal ahli menjahit baju pengantin yang cantik. Kalau saya tidak salah ingat, profil ini saya lihat di televisi. Profil pengusaha wanita sukses. Jadi dari nol, sampai bisa eksis di media tivi, itu adalah sosok wanita yang tangguh menjalani kehidupannya.


Dari situ, aku mulai termotivasi tak henti-henti. Agar tidak surut langkah hanya karena tidak punya uang untuk modal. Tidak punya modem bagus untuk online. Bahkan tidak punya kamera digital untuk memotret produk, ketika kuputuskan menjalankan usaha menjual jilbab secara online.


Adakalanya kenekadanku tidak didukung oleh orang lain. Bahkan orang terdekat kita sekalipun. Tetapi punya kekerasan hati pun bisa menjadi bahan bakar yang luar biasa. Maksudnya keras hati adalah, ketika orang berpikir mustahil kita sukses, maka kita keraskan hati kita, dan kita pantulkan kalimat itu kepada mereka kembali. Sehingga gaungnya kepada kita bisa berubah suara,”aku bisa sukses, walau tanpa bantuanmu sekalipun. Karena dibantu oleh YANG MAHA KUASA, itu lebih penting”.


Bersikeras untuk terus menjalani dengan semua keterbatasan dan hambatan, tentu tidak mudah. Ada airmata, ada keringat yang jatuh tak putus-putusnya. Ada pengorbanan. Bahkan mungkin mengorbankan keadaan nyaman untuk anak kita, sewaktu kita bersusah payah merintis usaha mulai dari nol.


Saya menuliskan hal ini, agar menjadi motivasi yang terhunjam di setiap hati para ibu. Yang galau, gelisah, dan panik karena tidak punya modal atau barang yang bisa mendukung keinginannya.

Ingatlah seutas benang dan jarum jahit itu. Beliau meminjam uang dari calon konsumennya, dan itu dipercaya. Kenapa? \

karena si peminjam percaya pada kemampuannya, pada ketrampilannya, pada life skill yang sudah dia miliki dan dia asah sebelumnya. Juga kegigihan yang pasti bisa meyakinkan calon pembeli.


Maksud saya, konsentrasilah penuh pada cara untuk menambah atau mengasah ketrampilan kita, kemampuan kita. Dalam berapa saja. Menjahit, meronce, melukis, menulis, memasak, dsb. Tinggalkan jauh perasaan, aku tidak suka menjahit, tidak cocok melukis, dsb.


Ingatlah artis Pepeng yang terbaring sakit, tapi bisa menjadi dosen, menulis buku dan menjadi web designer.

Menjadi web designer lho, padahal waktu sehat, dia tidak bisa membuat desain web apapun. Tentu dia belajar web design ketika sudah sakit kan?


Kata Pepeng, jadilah seperti anak kecil. Yang selalu ingin tahu. Ingin tahu. Ingin tahu. Maka anda akan panjang umur.


Betul kiranya,

saya yang berlatar belakang ilmu sains, semula tak begitu suka dengan dunia crat, menjahit, dsb. Tetapi saya selalu dianugerahi rasa penasaran yang luar biasa besar. Ketika orang bisa membuat kalung, hati saya akan gelisah, bagaimana ya caranya. Bahannya apa. Alatany apa. Bukunya apa. Begitu terus. Dan tidak akan berhenti, sampai aku bisa membuatnya. \


begitu juga ketika membuat kreasi flanel. Cara menjahit tusuk feston, kukupelajari dari ibu, yang seorang penjahit. Sementara di waktu SMA aku benci sekali jika disuruh ibu menjahit. Bahkan menjahit kancing pun aku benci dan tidak sabar.

Tetapi karena penasaran, aku lansung praktek. Bahkan lapar, tidak sarapan, tidak kuhiraukan. Baru setelah sebuah boneka tangan berbentuk gajah kecil jadi, barulah aku bisa makan dengan tenang.


Jadi jangan batasi diri, apa suka ini atau itu.

Selalulah ingin tahu dan ingin bisa. Maka tanpa sadar ketrampilan kita bertambah, bertambah dan makin bertambah. \\dan percayalah, ilmu apapun entah itu ilmu kimia, membuat gelang atau bahkan membuat tahu, tidak akan sia-sia, jika kita praktekkan. Entah untuk diri sendiri. Atau untuk kita amalkan , kita ajarkan kepada orang lain.




just believe on yourself
jangan bandingkan diri dengan orang lain. capek !

walau kita ngerjain urusan rumah semuanya sendiri, gak berarti kita lebih gagal daripada mereka yang punya banyak asisten rumah tangga.

semua tergantung kita, mau atau tidak.

yang penting, kemauan harus sangat keras dan kuat.

oke, ibu-ibu...semangat !!!

31 Desember 2011. 10:47 WIB. Indonesia

Tidak ada komentar
Setuju dengan sebuah quote :
Yang hidupnya mengikuti arus air cuman DEAD FISH.

Jadi, sejak detik ini, saya memproklamirkan diri.

I'm Not a Dead Fish at all.

Saya akan :
membuat rencana
berdoa
melakukan rencana
berdoa
mengevaluasi
berdoa
memperbaiki rencana
berdoa
membuat rencana baru
berdoa
berdoa
dan
berdoa

Happy New Year 2012

Belajar Dari Ibu Kembar

Tidak ada komentar

Sri Irianingsih (Rian) dan Sri Rossiati (Rossi). Wanita yang akrab disapa Ibu Kembar ini menggawangi sekolah darurat 'Kartini', khusus bagi anak-anak putus sekolah yang hidup di kolong tol.


Belajar dari Ibu Kembar

Kemarin kulihat kembali profil ibu kembar dan anak didiknya di TV. Sebelumnya kubaca profil beliau di sebuah majalah jadul. Majalah Kartini edisi tahun 90-an. Dan sekarang, kisah kesuksesan dan kedermawanan mereka sering tampil di televisi atau media informasi lainnya.

Ibu kembar adalah sepasang ibu bersaudara, kembar, dan sama-sama cantik, plus sama-sama aktif dalam kegiatan sosial pendidikan. Mereka mendirikan sekolah dan kursus gratis untuk anak-anak dan ibu-ibu yang tidak mampu. Supaya anak-anak bisa mendapat pendidikan dan wawasan. Dan supaya para ibu mendapat ketrampilan untuk menambah penghasilan keluarga.

Yang kemarin membuatku heran. Bagaimana mungkin semua hal bisa diajarkan oleh beliau sendiri? Seperti yang tampak di tivi.

Dan ketika kemarin aku ke rumah ibu, aku kembali mengambil majalah, secara tak sengaja saja. Asal ambil saja. Dan ketika sudah kubaca, profil ibu kembar ada di situ. Dan membaca kisah hidupnya membuatku mengerti. Jadi begini ceritanya,

ibu kembar ini adalah anak yatim sejak kecil. Artinya ibu mereka adalah single mother. Single parents, yang harus bekerja sebagai ayah, dan mendidik sebagai ibu. Nah agar para anak kembar ini bisa mandiri, mereka diharuskan belajar banyak ketrampilan. Ibunya sendiri yang mengajar. Mereka belajar menjahit, merias, dll. Bahkan ketika mereka SMA, mereka sudah menjadi guru bagi ibu-ibu PKK. Dan ketika mendapatkan honor mengajar, honor itu disimpan untuk biaya kursus ketrampilan yang lainnya.

Salah satu ibu kembar, ingin menjadi guru. Sehingga kuliah di IKIP. Tetapi belum selesai kuliahnya, beliau sakit dan harus opname. Nah, ketika di rumah sakit inilah, beliau bertemu dengan dokter yang akhirnya menjadi suaminya. Karena suaminya adalah dokter bedah, yang pasti jarang berada di rumah, maka beliau melepaskan usaha salon riasnya dan kuliahnya untuk menjadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah. Ibu rumah tangga full time. Demi mendidik anak-anak.

Karena setelah anak sekolah, suami kerja, beliau merasa nganggur dan hampa. Akhirnya atas ijin suaminya, beliau membuka kursus salon gratis. Di lokasi dekat rumah sakit tempat suaminya berpraktek dokter. Kursus itu ramai, dan bahkan beberapa alumninya bisa mandiri dan membuka salon sendiri. Tetapi beberapa kali pula, beliau harus menutup kursus itu karena harus mengikuti suaminya pindah tugas.

Sampai suatu ketika, anak-anak beliau sudah pada besar dan kuliah. Akhirnya bersama saudara kembarnya beliau menggagas kegiatan sosial untuk mengentaskan kemiskinan dari pendidikan dan ketrampilan. Bermula dari pemukiman rumah kardus dibawah kolong jembatan. Mereka mengajarkan rias pengantin, dll. Bahkan selain mengajarkan anak-anak baca tulis,seminggu sekali beliau membawakan makanan bergizi, berupa susu , roti atau kacang hijau.

Sungguh cerita ini membuatku terperangah juga. Kupikir mereka berdua berasal dari keluarga kaya, yang iba kepada penderitaan si miskin. Ternyata mereka pun berasal dari kondisi yang sulit. Yang harus mandiri karena tiadanya figur bapak. Dan kebiasaan untuk mandiri : bekerja, bekerja dan bekerja itu malah tidak membuat mereka merasa, di masa tua, adalah masa untuk menikmati kesusahan bekerja di masa muda. Tetapi malah mereka ingin tetap berlelah-lelah ikut memotivasi dan mengentaskan kemiskinan melalu ketrampilan dan kemampuan yang mereka punya.

Membaca ini membuatku juga malu. Baru umur kepala tiga saja, aku sudah merasa di masa sekolah lalu aku sudah bekerja belajar dan berusaha begitu kerasnya. Dan ingin sekarang, mulai berleha-leha, beristirahat sebentar. Ingin bersenang-senang, melakukan semua hal yang dulu tidak bisa kulakukan karena tidak ada biaya, atau tidak ada waktu.

Masih umur kepala tiga. Sedangkan ibu kembar bersosial ketika berumur 50 tahun!
Malunya, malu aku.

Mulai sekaranglah, semua konsep lelah dan manja itu harus kuhapus benar-benar di kepalaku. Masih ada tugas demi tugas yang harus kuselesaikan. Ya untuk anak-anakku, ya untuk keinginanku berbagi ketrampilan yang kudapatkan karena aku memilih menjadi ibu rumah tangga full time itu.

Terima kasih ibu kembar. Mungkin aku punya beberapa keterbatasan. Tetapi aku yakin, setitik kemampuanku bisa jadi manfaat di tengah lautan.

aku pun teringat sebuah tulisanku setahun yang lalu, Pelangi Cita-Citaku. Di situ tertulis ada sebuah rumah belajar dan kreasi untuk ibu-ibu yang ingin kubuat, yaitu KARTINI EDUCARE.

yang tidak disangka, namanya mirip dengan sekolah dan kursus gratis yang digagas oleh ibu kembar, yaitu SEKOLAH DARURAT KARTINI,

sekarang belum bisa kulakoni. kalau ditilik posisiku, masih ada excuse, karena anakku masih kecil-kecil, sementara ibu kembar mulai berkiprah ketika anaknya sudah besar, sudah kuliah. Saat ini, kubuat diriku selalu ingin tahu, ingin tahu dan ingin bisa. entah itu ketrampilan tangan ataupun kemampuan di dunia digital. Bismillah, Biidznillah, Kartini Educare ini akan tercapai. Sebuah tempat belajar khusus kaum ibu, kaum putri, kaumku. Amin.

Bisnis [nggak cuman] Nyari Duit, kan ya ...

2 komentar
Beberapa hari ini saya browsing tentang profil beberapa pengusaha sukses yang diulas di Kick Andy tempo hari.

Yang saya cari di internet hanya 3 orang, yaitu pengusaha boneka, baju muslim dan merchandise digital.

Yang menarik dari ketiganya, latar belakang pendidikannya jauh sekali dari usaha yang ditekuninya saat ini.

mereka para Sarjana IT, geodesi , intinya pelajaran sains, komputer yang kagak nyambung dengan usaha jualan jilbab, kaos dan boneka.

Tetapi hal ini berani mereka pilih dan tekuni. Dan akibatnya, bisa menjadi usaha besar yang merekrut banyak tenaga kerja.

Tentu saja, hal ini sangat meredamkan kegelisahan hati saya. Yang terus menerus selama hampir 11 tahun ini merasa telah selingkuh dengan jajaran almamater saya di Kimia ITB. [sekali lagi maaf ya pak dan bu dosen, :D ]

lalu hari ini, saya sekali lagi diberikan masukan oleh YANG MAHA KUASA lewat tayangan di tivi. [tivi tak selalu buruk kan ya??]

disitu, disebutkan sebuah profil dari seorang istri mualaf bule, yang akhirnya menekuni bisnis butik busana muslim dari rumahnya.

ibu ini, dulu mengelola butik yang berhasil eksis selama 10 tahun. dan akhirnya tutup karena suatu hal. setelah itu beliau pindah ke Singapura. dan malah disana mengalami transformasi spiritual untuk mendalami ISlam.

akhirnya, beliau ingin meneruskan usaha butiknya namun beralih pada busana muslim.

saya lihat profil beliau adalah orang yang cukup "kaya" dari segi materi. rumahnya aja gede di tivi kelihatannya. namun beliau mau :
- belanja sendiri kain di pasar jakarta
- mendesain sendiri baju muslimnya
- menawarkan baju-bajunya dimana saja, di pengajian, arisan, dll.

ini membuat saya makin yakin juga dan makin bisa memilah juga. ternyata ukuran sukses itu ya, tidak harus punya banyak toko dimana-mana. atau bisa menjual barang sampai ber-troli troli.

terutama, jika menilik kondisi ibu ini dibandingkan dengan saya, yaitu sama.

sebagai ibu rumah tangga, yang masih ingin dekat dengan anaknya tanpa sekat ruang dan waktu. jadi, memilih untuk berkreasi sekaligus berbisnis dari rumah.

akhirnya ukuran sukses itu pun berubah :

jika, produk sudah banyak yang suka,
produksi dan penjualan lancar,
anak-suami-rumah dan kondisi diri sendiri sudah terkendali ,
maka ini bisa disebut BISNIS RUMAHAN YANG SUKSES kan?

berapa besar profit dan lain sebagainya, di"hidden" dulu saja deh ya. karena jika ini jadi fokus utama, maka akan sangat melelahkan.

Alhamdulillah, profil ibu ini sangat menguatkan saya.

Apalagi ketika bapak Ustadz yang mengajari beliau mengatakan

jika berjualan baju yang minim dan menampakkan aurat, maka kita ikut bertanggung jawab jika baju itu dipakai oleh orang lain dan mengakibatkan terjadinya hal yang negatif di mata ALLOH SWT.

sebaliknya, Jika kita berjualan baju yang sesuai syariat, maka ketika si pemakai itu beraktivitas lalu bisa sampai di rumahnya kembali dengan selamat. Maka,
PAKAIAN YANG BAIK itulah yang menjadi DO'A baginya.

Subhanallah.
Dengan Bismillah, saya semakin yakin untuk terus mengembangkan usaha jilbab saya di Jilbab Orin.

---------------------------------------------------------------------------------------
Mengapa saya sempat gamang, ketika berjualan jilbab?

1. saya ini bukan orang yang modis dan gemar berganti busana. di kepala saya, gonta-ganti baju itu pemborosan :P

jadi ketika saya berjualan jilbab, yang artinya adalah bagian dari busana. hati kecil saya lama-lama berontak, dan mengatakan, sepertinya saya mengajak orang untuk terus menerus boros dan menggunakan uangnya hanya untuk belanja dan bergonta-ganti baju. ini membuat saya nyaris saja mundur dan menutup etalase untuk kembali ke laptop [menulis saja].

2. lalu saya merenung kembali. di misi awal, saya ingin sekali menjadi jalur rejeki buat para pengrajin di desa mertua saya di Lamongan. dimana di dalam jajaran para ibu pengrajin itu, ada adik ipar saya dan beberapa saudara dan tetangga dari mertua. jika saya berhenti, bagaimana ya? sedikit banyak, ada rejeki mereka yang berhenti juga.

3. saya merenung dan berdoa dalam hati, dengan bahasa seadanya kepada ALLOH SWT, untuk memberi saya petunjuk, bagaimana saya seharusnya nanti ke depannya. sementara perasaan bersalah telah melepaskan SAINS, masih terus menerus ada.

dan ALHAMDULILLAH. dalam perjalanan merenung itu, saya pun memutuskan untuk kembali ke misi awal bisnis saya. dan mengkonsep ulang pengertian sukses dalam benak saya. serta membuka konsep RESELLER ONLINE di internet, agar jilbab saya bisa jadi jalan rejeki para ibu-ibu digital yang ingin berjualan lewat facebook atau BBM-nya.

=============================================================

mungkin kegelisahan semacam ini dialami oleh semua/beberapa pebisnis pemula seperti saya ya?

dan benar kiranya, jika ada MISI MULIA dari berbisnis, maka kegelisahan ini lambat laun bisa kita atasi.

========================================

ditulis di Surabaya untuk bagi-bagi cerita :D

multitalented and complicated? Optimis saja !!!

Tidak ada komentar
Hari ini, Subhanallah-nyaaa, banyak sekali masukan bagus gus yang kudapat dari tayangan televisi dan internet.

Yang pertama :
dari Youtube, tentang pemuda tanpa kaki, tanpa lengan bernama Nick. Judul videonya, NO ARM, NO LEG, NO WORRY.

Yang kedua :
tentang tayangan seorang ibu dari Surabaya yang multitalented dan multitasking. asli beliau sih dari Bali, pekerjaannya adalah seorang DOSEN, BIDAN sekaligus PERIAS PENGANTIN. lulusan sarjana Sastra Inggris, Ekonomi, Kebidanan dan kursus merias.

Yang ketiga :
liputan langsung dari Yayasan Bumi Sehat di Bali, yang dikelola oleh ibu Robin Lim dari Hawai. Juga ada satu bidan lagi yang membaktikan dirinya di sana. Di liputan kali ini, ditampilkan juga prosesi ibu yang akan melahirkan di air. Takjub sekaligus ingat jadi mules lagi sebelum melahirkan dahulu.


Dari ketiga hal ini, aku sungguh terlipur begitu indahnya.
Hati ini kemarin bingung dan gundah, karena predikat multitalented. Walau predikat itu yang memberikan hanya suamiku saja. Dan eh, pernah juga ada seorang ibu kenalan baru yang menyebutku begitu.

Mengutip tulisan temanku,
"I'm multitalented that's why I'm so complicated"

"Saya banyak bakat, itulah kenapa saya ini rumit"

Adalah teman sekamar kos saya dulu yang menulis hal ini. Itu karena dia memang multitalented betulan. Bisa main piano, harmonika, drum, gitar, bisa nyanyi dengan merdu, bisa nulis, bisa nggambar kartun animasi yang bagus banget seperti komiknya Jepang, juga pinter ketika kuliah di Teknik Kimia ITB, sampai sekarang pun sukses membina Bimbel di rumahnya sampai anak didiknya bisa lolos beasiswa keluar negeri.

Dia pinter macem-macem, dan belakangan ketularan kegemaranku pada kerajinan tangan dan berniat belajar menjahit. >.<

Ajaib dan bingung.
aku juga begitu.

Ketika ada waktu kosong, aku akan bingung, mau ngapain :
nulis?
bikin bros handmade?
menyulam jilbab?
mendesain hiasan jilbab yang akan dibordir?
atau menyiapkan materi untuk klub sains for kids,yang diminta oleh sekolahannya anakku.

setelah bingung mau ngapain, ujug-ujugnya malah aku seringnya lari ke dapur buat beres-beres, atau mencuci baju, lalu kelelahan di depan tivi sampai waktu menjemput anak sekolah tiba.

akhirnya, semakin hari, aku semakin kecewa dengan diri sendiri.
dan akibatnya, semakin complicated itu tadi

Ndilalah, aku melihat sosok ibu yang punya 3 pekerjaan sekaligus itu, yaitu dosen, bidan, dan perias. itu pun setelah beliau menjadi pramugari dulu selama 7 tahun, dan jadi reporter di TVRI.
Beliau tenang-tenang saja.
karena semua yang dilakukan, memang kesukaannya dan panggilan hatinya,

jadilah,
keinginanku untuk bisa ini itu, pun ada suntikan semangatnya.

tidak ada dosa untuk menekuni seni membuat aksesoris dari kawat yang membuatku jatuh cinta. atau menekuni dunia sulam perca yang sepertinya lucu sekali. juga menekuni dunia buku dan tulis menulis yang kusukai sejak sekolah dasar dan membuat diary tebal-tebal. pun untuk menekuni kembali cintaku kepada sains dan menularkannya kepada anak-anak kecil.

Bismillah.
Hari ini aku optimis sekali, aku bisa.

:)





Tas-ku Tak Berat Lagi

Tidak ada komentar
Sébenarnya hari ini full capeknya, tapi semua itu tidak terasa lagi.
Dalam perjalananku ke desa mertua. Bicara dengan mulut, mata dan hatiku pada semua hal yang kudengar,kulihat dan kurasakan.
Lalu ke rumah ibuku yang kosong,membaca sebuah majalah dan menemukan profil wanita tangguh yang hidupnya jauh jauh lebih sulit dariku; memulai dan terus menjalankan usaha yg sering defisit demi menolong sesama penyandang cacat : AH, hidupku jauh lebih mudah darinya, maka bebanku jadi ringan saja :-)