Podcast Bu Heni

DARI GAMER KE YOUTUBER; ARAHKAN ANAK JADI PRODUSEN KONTEN DIGITAL

Tidak ada komentar
Bermain adalah keinginan alami anak-anak. Game termasuk salah satu yang memfasilitasi jiwa bermain anak-anak, hanya melalui media yang berbeda. Game ada banyak jenisnya, ada yang baik atau kurang. Game yang baik adalah game yang dimanfaatkan untuk membantu proses belajar (game edukasi), atau mengenalkan suatu topik misalnya tentang penyelamatan lingkungan hidup. Para produsen game di Indonesia sudah banyak bermunculan. Misalnya, Jelasin Studio, Maulidan Studio dan Game Board yang memperkanlkan Waroong Wars, permainan yang mengenalkan jenis makanan tradisional lewat bermain.
Dengan adanya internet, bermain game secara digital menjadi kegemaran anak-anak sekarang. Dulu, game hanya bisa diakses di komputer, game watch, PS atau Nitendo. Dengan teknologi internet, bermain game bisa dilakukan di ponsel, laptop dan tablet. Mulai anak PAUD sampai orang dewasa, banyak yang gemar bermain game.
Bagaimana kita menghadapai fenomena munculnya pemain game ini? Apakah kita harus menarik diri dan ketakutan? Lalu benar-benar melarang anak kita untuk mengakses game dalam segala bentuknya? Atau kita biarkan saja anak bermain game sesukanya? Sebebas mungkin dan tanpa batasan? Ataukah kita memberikan akses anak untuk bermain game, dengan pengawasan dan pendampingan?

Saya pribadi, memilih poin ketiga. Saya memberikan kesempatan pada anak untuk bermain game, dengan pengawasan, pendampingan dan kesepakatan. Beberapa hal yang kami sepakati antara saya dan anak adalah sebagai berikut :
1. Hanya boleh main game di rumah. Dilarang main game di warnet atau tempat rental game online.
2. Boleh bermain game di laptop, hp, tablet, tetapi tidak boleh main game dengan PS, Nitendo, Xbox.
3. Game yang dimainkan tidak boleh ada pornografi, gambaran sadis/kejahatan, kalimat mengumpat.
4. Waktu bermain game dibatasi sesuai kesepakatan antara anak dan orang tua.
5. Anak harus membuat suatu produk konten digital dari game yang diminatinya tersebut.
Sejak awal, saya dan suami sepakat tidak akan membelikan perangkat main game seperti PS, PSP, Nitendo atau Xbox. Tetapi kami membelikan Komputer dan Laptop. Pertimbangannya adalah dengan laptop/komputer, anak bisa belajar hal lain, seperti mengetik dan menggambar. Komputer juga bisa digunakan untuk mengerjakan tugas sekolah. Game yang diinginkan tinggal diunduh dari internet, jadi tidak perlu membeli DVD Game lagi. Lebih hemat.
Berbeda dengan PS dan semacamnya. Hanya bisa digunakan untuk main game. Harus mengeluarkan ekstra uang membeli DVD Game-nya. Walaupun sekarang sudah ada jenis PS dengan game yang disimpan di dalam hard disk, kami tetap tidak membelikan benda tersebut. Dan sejauh yang kami amati, rata-rata jenis gamenya kejam dan ada unsur pornografi.
Setelah orang tua memberikan aturan yang disepakati bersama anak. Ortu tetap harus melakukan pengawasan secara berkala. Tidak hanya mempercayakan pada anak 100%, karena anak bisa terpengaruh teman lainnya. Sesekali ortu perlu duduk di samping anak yang sedang main game, sekedar bertanya dan mengomentari jenis game yang dimainkan. Ini untuk menumbuhkan perasaan dekat antara anak dan orang tua. Jika ortu bisa bermain game bersama, akan sangat menyenangkan bagi anak.
Setelah anak dibiarkan menjadi pengguna game, kita bisa mengarahkan anak membuat sesuatu dari game tersebut. Memproduksi sesuatu yang bisa disebarkan di internet ini disebut menjadi Produsen Konten Digital. Konten digital yang bisa dibuat antara lain berupa tulisan, gambar atau video.
Membuat tulisan, contohnya arahkan anak membuat ulasan/review dari game yang dimainkan tersebut ke dalam blog. Anak yang suka menulis, akan senang membuat blog yang membahas game yang pernah dimainkannya. Sebaiknya anak tidak menggunakan Facebook untuk membagikan tulisan atau berinteraksi. Karena di Facebook mudah sekali disusupi pornografi dari orang yang tak dikenal. Membuat blog lebih aman.
Selain tulisan, anak juga bisa menggambar. Misalnya anak membuat Meme atau Komik sederhana dari game yang disukainya. Lalu dibagikan ke sosial media milik orang tuanya, misalnya instagram, facebook, twitter. Anak juga bisa membagikan kepada temannya melalui aplikasi messenger seperti BBM, Line dan Whatsapp. Ketika anak mendapat respon seperti pujian atau ada teman yang menyukai gambarnya, maka anak akan senang dan jadi percaya diri. Tugas orang tua adalah mengarahkan lagi kegemarannya menggambar tersebut.
Jika anak kurang suka menulis dan menggambar, bisa diarahkan untuk membuat video rekaman ketika dia bermain game. Tentu saja cara ini membutuhkan perangkat dan kemampuan teknologi yang lebih tinggi. Untuk merekam game dan proses review game, diperlukan aplikasi Screen Recorder, seperti OBS, Camtasia, Bandicam, Camstudio, Apowersoft Free Cam Recorder, dll. Semua aplikasi untuk merekam layar desktop komputer dan laptop ini bisa diunduh di internet.
Ketika anak saya memilih membuat konten digital berupa video review game, tanpa kami sadari, dia malah mendapatkan banyak ilmu dan keterampilan baru. Seperti terampil mengedit video, membuat gambar logo, membuat animasi dan terampil berbicara serta berinteraksi dengan orang yang menonton videonya tersebut. Video hasil produksinya ini kemudian diunggah ke You Tube.
Dari sini anak saya akhirnya mempunyai keinginan untuk belajar pemrograman. Bayangkan, sebuah minat dan bakat terasah karena kita mengarahkan anak yang bermain game untuk membuat sesuatu dari game tersebut. Dari menjadi Gamer, lalu jadi You Tuber, kemudian ingin menjadi Programmer.
Mungkin cara saya ini tidak sesuai dengan kondisi anak-anak Anda. Karena karakter, kondisi setiap keluarga memang tidak sama. Yang perlu digarisbawahi adalah arahkan anak-anak membuat sesuatu dari hal yang dia sukai, baik itu berupa game ataupun film.
Jika anak suka main game, berikan motivasi agar kelak dia menjadi pembuat game. Alih-alih hanya menjadi konsumen dan pengguna, arahkan anak kita menjadi produsen konten digital. Dengan basis agama, nilai moral yang kuat, kedekatan dengan keluarga yang kuat, maka anak bisa menjadi produsen konten digital yang baik, positif dan bermanfaat.
Semoga menginspirasi.

Tulisan ini sebelumnya ditayangkan di https://serempak.id/dari-gamer-ke-youtuber-arahkan-anak-jadi-produsen-konten-digital/

Anak Gamer Jadi Santri Programmer

Tidak ada komentar

Game. Gamer. You Tuber dan segala sebutan lain yang kesannya hanya main-main itu, sering menjadi momok bagi orang tua. Di segmen Millenial Motherhood kali ini, saya ingin berbagi cerita. Juga berbagi pengalaman, bahwa hal yang dianggap momok itu sebenarnya saya anggap momok juga. Wajar. Namun, saya tidak memilih jalur melenyapkan momok, melainkan cara lain.

Sebelum melanjutkan tulisan, saya sampaikan semacam disclaimer. Mungkin nanti yang saya tulis akan jauh berbeda dengan prinsip yang anda anut atau yang anda terapkan dalam keluarga anda sendiri. Untuk menghindari polemik dan segala bentuk medsos-war yang mungkin terjadi, maka saya mengajak masing-masing dari kita berlapang dada terhadap perbedaan.

Jika paparan saya nanti ini baik, silahkan diambil. Jika tidak, harus anda tinggalkan. Oke, sepakat ya :)

Anak saya gamer? iya.
Anak saya kecanduan game? bisa iya, bisa juga tidak.

Singkat cerita, saya punya dua anak laki-laki. Keduanya sudah menjelang remaja. Untuk tulisan kali ini, saya angkat cerita tentang anak pertama saya. Panggil saja dia, Maldoz. Itu nickname yang dia buat sendiri untuk profilnya di dunia maya.

Waktu umur 3 tahun, tanpa diajari siapapun, dan hanya dengan mengamati, Maldoz ini bisa mengganti screen saver layar komputer. Itu sekitar 11 tahun yang lalu. Sejak saat itu kecintaan bermain game, atau mengerjakan apapun di depan layar komputer mulai nampak.

Bakatnya pun mulai terasah dengan sendirinya. Dan semuanya itu berasal dari kegemarannya bermain game. Sudah beragam cara saya dan suami mengusahakan agar anak ini berhenti sama sekali bermain game. Bahkan berhenti sama sekali menggunakan komputer.

Sebenarnya mustahil bisa berhasil, karena saya dan suami bekerjanya menggunakan gadget, baik itu komputer maupun smartphone.

Untuk meminimalisir efek negatif, kami sepakat hanya menyediakan komputer atau laptop untuk bermain game. Tidak akan ada PS atau Nitendo di dalam rumah kami. Juga aturan jenis game yang dimainkan serta waktu bermainnya, semua kami bicarakan bersama anak.

Hidden agenda dari aturan ini adalah siapa tau berangkat dari suka main game, nih anak akan tertarik melakukan hal lain di komputer. Misalnya menggambar atau menulis. Sesederhana itu.

Selain memberikan aturan itu, saya pribadi, sebagai ibunya anak-anak, berusaha keras untuk masuk ke dalam hati anak. Dengan segala cara saya ajak mereka ngobrol, bicara, curhat tentang apapun. Tidak hanya tentang keinginan saya melarang mereka main game. Ngobrol ngalor ngidul lah pokoknya.


Setelah antara ibu dan anak sudah KLIK dan saling percaya, barulah pelan-pelan saya masukkan "doktrin" kepada anak-anak saya. "Doktrin" itu adalah:
 percuma jika cuma jago main game. Kalian juga harus jago bikin game.
Dari sini, saya mulai tekankan pentingnya menjadi KREATOR daripada sekadar menjadi PENGGUNA.

Mulailah hati anak saya tergerak. Agar antara saya dan dia tetep nyambung, kami harus satu bahasa. yang dia tahu, saya harus tahu, begitupun sebaliknya. Maka ketika membeli 2 buku tentang gamer, saya pun membaca bareng anak saya.


Buku itu adalah:
  1. Gamers Juga Bisa Sukses
  2. Awas Anak Kecanduan Games

Waktu itu, si Maldoz masih sekitar kelas 3 SD, namun sudah saya minta baca buku "seberat" itu. Buku motivasi dan buku parenting.

Hal kedua yang saya lakukan adalah gerilya dengan blusukan ke dunia para pembuat game. Maksud hati sebenarnya ingin bertanya dan melihat langsung tentang dunia gamer itu sebenarnya seperti gimana sih?

Bahkan sampai saya ikutan BEKRAF DEVELOPER DAY yang diselenggarakan di Surabaya beberapa waktu lalu itu. Lalu bersama anak sulung saya, si Maldoz ini join ke kelas Game Developer, kelasnya pembuat game.



Maldoz ini sama sekali tidak bisa lepas dari game satu hari pun. Jika listrik mati atau internet wifi mati, dia akan beralih melakukan hal lain asal di depan komputer, laptop atau ponsel. Bisa dibilang sama sekali tidak bisa lepas dari layar.

Apakah saya dan suami tidak cemas?
Jawabannya SANGAT CEMAS. 

Prestasi sekolahnya, cukup mencengangkan dengan ritme seperti dia. Pernah juara satu paralel. Hampir selalu juara kelas atau masuk the best 5 sampai the best 10. Padahal kalau sudah sampai rumah, tidak mau lagi mengulang pelajaran. Dia berkomitmen untuk serius belajar di kelas dan di sekolah. Kalau di rumah, khusus untuk game dan hal lain.

Hal lain yang bisa dipelajari Maldoz secara otodidak juga tak kalah mencengangkan saya dan suami. Dia bisa desain grafis, video editing, membuat logo, animasi. Juga berkolaborasi dengan desainer grafis dari luar negeri melalui deviant art dan email. Amazing.

Antara ketergantungannya terhadap layar serta prestasi akademisnya berbanding lurus. Kami sering mati kutu dan tidak tahu harus bagaimana lagi mengendalikannya. Hal yang mencemaskan adalah Maldoz semakin meninggalkan kehidupan sosial di luar aktivitas sekolah. Di rumah, di lingkungan perumahan, dia sama sekali tidak mau lagi berbaur. Bahkan untuk urusan keluarga besar, baginya tak penting lagi. Masih lebih penting berkolaborasi main game dengan teman lainnya.

Karena kecemasan ini dan kewalahan inilah maka saya dan suami mempertimbangkan anak saya untuk masuk pondok pesantren. Dan alhamdulillah wa syukurillah, kami sekaligus dipertemukan dengan ponpes yang menyediakan sekolah pemrograman untuk jenjang SMA.

Sekolah itu adalah SMK Telkom Darul Ulum yang ada di bawah naungan Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang.

Beberapa saat menjelang Ujian Nasional kelas 9 SMP inilah kami baru mendapatkan informasi adanya sekolah tersebut. Tanpa menunggu lama, kami pun melakukan obrolan yang sangat intensif dengan Maldoz, anak sulung kami itu.

Kami bicarakan panjang lebar tentang kecemasan kami. Tentang besarnya potensi minat bakat dan kecerdasannya. Tentang terbentangnya peluang lain bekerja dalam ridho Alloh SWT jika dia menekuni jalur kesukaan terhadap game menjadi pelajar di bidang pemrograman. Dan banyak hal lain yang terus kami bicarakan. Sampai akhirnya anak saya itu sepakat sekolah di Jombang.

Jadi beginilah, sekarang, anak saya yang gamer itu telah resmi menjadi Santri Programmer.

Semoga dalam studinya dan hasilnya kelak mendapatkan barokah untuk kebaikan, kebaikan dan kebaikan di dunia dan akhirat. Amin.

Masih banyak sekali hal yang ingin saya bagi, terkait menghadapi atau membesarkan dua anak lelaki kami di era digital ini. Terutama terkait dengan game, karena kalau punya anak perempuan mungkin tantangannya pada hal lain ya :)

Insya Alloh akan saya teruskan sharingnya melalui segmen Millenial Motherhood. Jika ada yang ingin ditambahkan atau ditanyakan, saya tunggu di komentar blog. Atau bisa langsung menuliskan email kepada saya, di: heni.prasetyorini@gmail.com.

Berikut saya berikan podcast dari soundcloud bagi anda yang lebih nyaman "membaca" secara audiotorial.

Semoga yang saya sampaikan bisa menjadi wawasan kebaikan untuk anda dan keluarga.

Salam,


Heni Prasetyorini


artikel sebelumnya ada di sini, tidak dihapus blognya karena menyimpan komentar dari teman-teman tercinta.

Memasukkan Banyak Link Sekaligus Di Bio Profil Instagram Dengan Linktree

2 komentar

Kita punya banyak tautan website, media sosial atau bahkan marketplace. Ketika ingin menampilkan semua ini di bio profil instagram, kesulitan muncul karena hanya disediakan satu tautan saja di situ.

Solusinya di sediakan oleh LINKTREE.

Buka saja situsnya. www.linktr.ee [jangan salah ketik ya]

Lalu ikuti langkah untuk login menggunakan instagram. 
Setelah itu masukan satu demi satu tautan yang kita punya, dan judulnya. 

Contoh seperti akun saya berikut ini:


Jika diklik akan muncul tampilan seperti di bawah ini. Di setiap kotak hijaunya bisa di klik dan mengarah ke blog atau tautan yang sudah saya masukkan.

Pastikan link yang sudah dimasukkan tidak akan dihapus atau expired ya.