PRIBADI BERDZIKIR

Tidak ada komentar
by. Arifin Ilham sebelum intro lagu Tombo Ati Opick

Dzikir menjadi kepribadiannya. Allah tujuannya. Rasulullah SAW teladan dalam hidupnya. Dunia ini pun menjadi surga sebelum surga yang sebenarnya. Bumi menjadi masjid baginya. Rumah, kantor bahkan hotel sekalipun menjadi musholla baginya. Tempat ia berpijak; meja kerja, kamar tidur, hamparan sajadah baginya. Kalau dia bicara, bicaranya dakwah. Kalau dia diam, diamnya berdzikir. Nafasnya tasbih. MAtanya penuh rahmah Allah , penuh kasih sayang. Telinganya terjaga. Pikirannya baik sangka. Tidak sinis. Tidak pesimis. Tidak suka memvonis. HAtinya, subhanallah, diam-diam berdoa. DOanya diam-diam. Tangannya bersedekah. Kakinya berjihad. Dia tidak mau melangkah sia-sia. Kekuatannya silaturahim. Kerinduannya, tegaknya syariat Allah. Kalau memang hak tujuannya, maka sabar dan kasih sayang strateginya. Asma Amanina, cita-citanya tertinggi teragung syahid di jalan Allah. Sungguh menarik. Kesibukannya : ia hanya asyik memperbaiki dirinya. Dia tidak tertarik untuk mencari kekurangan apalagi aib orang lain. Hadirilah majelis-majelis dzikir. Raihlah kepribadian berdzikir. Selalu hadir menikmati hidangan dari Allah terlezat. Dzikrullah....

Bukti Kebesaran Allah SWT

Tidak ada komentar


Kemarin baru saja menyaksikan video dari Padang tentang MATA MALAIKAT. Allah Maha BEsar dengan segala fenomena alam ciptaan-Mu. Hati ini sungguh bergetar hebat. Ada rasa takut yang merasuk sampai jauh ke dalam hati. Takut. BEnar-benar merasakan adanya kekuatan Maha Besar di luar sana. Kekuatan itu sekaligus Maha Menyayangi dan Maha Memelihara.

Lalu hari ini kubaca sebuah note dari adik kelas tentang kebesaran Allah SWT dalam dunia biologi. Rangkaian polipeptida dalan DNA "Sampah" yaitu DNA yang tidak bekerja untuk menghasilkan suatu protein apapun. TErnyata DNA itu membentuk ayat Al Quran. Dan sudah terbukti sampai 1/10 Al Quran. Juga adanya keterangan dari kesehatan kulit.
Dan semua ini hendaknya bisa memantapkan hatiku untuk membina diri dan keluarga menjadi semakin menghamba kepada Rabbul Izzati.

BISNIS MERTUA

Tidak ada komentar


Mertuaku berasal dari desa Tanggung Prigel, Kecamatan Glagah LAmongan JaTim. Beliau bernama Annisa. Sedangkan bapak mertuaku asli Kudus bernama Zuhri. Ibu sudah sejak muda menjahit. Dan menjadi penjahit sampai sekarang. Semakin bertambah waktu keahlian ibu tambah satu yaitu BORDIR. Pesanan banyak berdatangan dari sekitar Lamongan, Manyar, Gresik bahkan Surabaya. Untungnya adik iparku, Afiah, punya bakat juga dalam hal bordir. Bahkan hasil bordirannya lebih halus daripada ibu. Ditambah sekarang mendalami kreasi sulam pita.

Aku sempat menjadi produsen dan penjual baju bordir bikinan ibu mertua ini. Aku beli bahannya di kawasan Sunan Ampel Surabaya. Disana ada penjual kain yang murah, juga kain kiloan. Pertama kali aku kesana bersama si kecil Aldo dan suami, di siang bolong. Usaha ini berhenti ketika suamiku pergi training ke Hungaria selama beberapa bulan. Kurirnya tidak ada, jadi mandeg. Dan kebetulan aku masuk kerja baru di Laboratorium Residen Surabaya, dekat RS. Dr. Soetomo. Hanya sebentar kemudian aku resign.

Menanggapi respon kehalusan bordir dan sulam pita mereka, aku optimis kalau usaha ini bisa dikembangkan dengan baik. Asalkan ada penjahit dengan teknik cutting yang lebih berkualitas untuk baju. Atau diarahkan ke kreasi non baju saja. Seperti tas atau perlengkapan rumah dekoratif.

Jika ada yang punya bisnis yang membutuhkan jasa bordir dan sulam pita, silahkan banget kalau mau kerjasama atau menggunakan jasa ibu mertua dan adikku ini. Kebetulan para perempuan di desa ini juga banyak yang bisa sulam pita atau kreasi monte atau payet. Beberapa ada yang bisa membordir juga. Kualitasnya halus dengan biaya ringan. Kami tunggu ya kontaknya...:D

BONEK, Bondo Nekad, Modal Nekad

Tidak ada komentar

Kalung Batu Alam Biru Kombinasi

Sungguh diluar dugaanku, bahwa aku akan tertarik dengan craft. Terutama aksesoris manik. Ini bermula dari obrolan antara anak kos yang tinggal di rumah ibuku, Yuni. Dia menceritakan bisnis kecil-kecilan kakakknya yang tinggal di Jogja. Bisnis membuat aksesoris manik dan batu, dan bisa dipasarkan sampai luar Jawa. Siang itu juga kami berangkat ke tempat kulakan. Rencananya kami akan ke pasar Turi, sekarang PGS. Ternyata belum sampai sana, Yuni sudah belok ke arah pasar Blauran. Dan di dekatnya ada Toko Burhani.

Aku terpana masuk ke toko ini. Roncean manik-manik dan batu segala bentuk dan warna tergantung di atas. Dalam etalase ada manik-manik halus, pin loop o dan 1, beraneka tautan untuk kalung dan gelang, dibungkus plastik. KArena masih terpana itu pula, aku asal mengangguk saja ketika Yuni memilih ini itu. Dan sudah tabiatku sebagai maniak baca, yang membuatku tertarik adalah buku teknik pembuatan aksesoris. Kebeli deh semua. Dan, busyet sampai tiga ratus ribu!!! Aku bisa bikin aksesoris setahun nih bahannya.

Sampai di rumah ibu, heboh semua. Komentar ini itu. Aku inisiatif langsung membagi tiga, sesuai uang titipan. Mbak ipar dan mbakku sendiri tertarik juga belajar bikin. Aku menyerah tidak membuat di situ, karena anak keduaku, Aji masih kecil. BElum bisa jalan. JAdi mustahil tidak terganggu. Apalagi ketika aku datang, dia baru saja muntah. KArena kebanyakan dikasih susu sama budenya. Heheh...dasar si bude, tiap kali nangis, Aji disodori botol susu yang segede itu. Aku pun konsentrasi mengurus Aji.

Eksperimen berlanjut di rumah. Kebetulan tak lama kemudian datang bulan puasa. Targetku bisa menjual untuk keperluan lebaran. Tiap habis sahur aku otak-atik bahan aksesoris dan meniru buku yang kubeli seharga 55ribu. Pokoknya aku curi waktu tiap kali Aji tidur. Kalau Aldo, sudah ikut membuat roncean tanpa mengganggu sama sekali. Aldo masih TK waktu itu.

Jadi deh beberapa model aksesoris. Tiba saatnya menjual. Ya Rabb...hati ini dag dig dug derr!!! nggak pengalaman jualan karya sendiri. Dengan malu-malu kutawarkan pada ibu wali murid TK tempat Aldo sekolah. Terjual 4 biji. Yang lain basa basi nawar sambil muji. Aku ke tempat ibu yang suka ngreditin baju, kemarin dia bilang mau kutitipi barang karyaku, eh sampai di rumahnya aku ditolak dengan super halus. Katanya dia ribet kalau nerima aksesoris, barangnya kecil-kecil, takut ilang. LAlu dia beli 2 kalung untuk 2 anak perempuannya. Dan milih yang paling murah.

Celakanya, aku nih nggak pengalaman ngasih harga. Plus jiwa sosialnya terlalu tinggi. JAdi kalau ada yang suka, lalu bilang tapi nggak punya uang, aku langsung banting harga. Heheh...bisa bangkrut kalau gini ya. Dan sampailah tinggal yang mahal-mahal saja yang tersisa.

Dewi penolongku kemudian adalah kakak iparku. BEliau juga tukang kredit baju. Aku nekad, alias PD aja bikin aksesoris lagi dengan bahan yang ada. PAdahal dalam hati juga tahu, manik bulat aja sudah nggak update lagi. Sekarang kalau tidak etnik ya logam. Ini terakhir belum di cek, semoga banyak yang terjual. Untunglah di sekitar perumahanku ada toko fashion kecil yang menjual rantai kalung stainless steel yang bisa dimodifikasi dengan manik. Jadi lumayan tidak jauh.

Menawarkan pada ibu-ibu perumahan kulakukan secara "pura-pura" nggak sengaja. Ya faktor tidak PD itu tadi. Kalau dagang tuh, malu. Aneh ya. Jadinya mereka protes, lhoo...kok nggak nawarin siihh... sambil lihat-lihat model aksesorisnya. Dan tetep aja nggak beli. Dasar ibu-ibu!!!!

Untunglah ada tetangga sebelah rumah yang maniak kalung handmade. Dia pilih satu bungkus batu alam kecil-kecil dan minta dibuatkan kalung yang panjang. Kejual deh 45 ribu. Itu pun ngasih harganya pake perasaan nggak enak banget. HEheh...

Dan vakumlah semuanya. Sampai pada titik aku bertemu dengan seorang crafter yang menyemangatiku. Namanya mbak Kenti. Kalau nggak salah dia juga pharmacist. JAdi aku berani lagi unjuk gigi. Kalund dan gelang buatanku ku foto dan kupublish. Juga dengan PDnya kupake di acara arisan, pengajian atau sehari-hari. Promosi. Tak dinyana kebonekanku terpupuk semakin subur. Dan ini benar-benar ampuh untuk menerbitkan kembali kreatifitasku.

Aku berencana menekuni pembuatan handmade accessories ini kembali. Biar deh sudah ada Elizabeth Wahyu yang kondang dan mendunia. Moga-moga aja karyaku ada yang suka. Selain diriku sendiri tentunya.

Pelajaran moral dari ceritaku ini adalah tidak apa-apa jika kita ragu. Tapi lawan saja ragu itu ketika kita memulainya. LAlu carilah informasi dan komunitas yang bisa mendukung. Maka semangatmu akan terpupuk dengan sendirinya. [dari tadi ngomongin pupuk, kayak petani aja].
OK selamat mencoba apa saja yang terbesit di hatimu kawan. Semoga sukses.

Bisa Craft Jadi Hemat :D

Tidak ada komentar


Ini Aji memegang pigura flanel untuk tetangga kecil kami bernama Tata. Sudah dua kali ini tampaknya aku menghadiahkan kreasi flanel untuk tetanggaku yang berulang tahun. PErtama adalah hand bag untuk Sawa plus beberapa biji bros flanel karakter hewan. Sekarang pigura untuk Tata.

Aji ikut heboh tiap kali aku membuat ini itu. Apalagi biasanya mendadak aja bikinnya. Maklum, dua anak lelaki no nanny and maid, kesedot energi dan waktu banyak kan???

Kemarin sih rada minder denndy gitu waktu ngasihiinnya. PAlagi pas sudah kukasih embel-embel silahkan main ke rumah Aji ya kalau ingin pesan. TErnyata note itu tidak ada respon. Heheh....

Sekarang, aku sudah tertolong oleh banyak hal. Kemarin aku merasa bersalah banget, kalau hatiku tertarik yang namanya craft. LAh aku ini adalah sarjana kimia. Kok nggak ngajar les sih? minimal gitu kalau nggak mau jadi guru? ya kan.

Entah kenapa, saya bosan sekali dengan dunia perlesan sekarang. Hanya nilai minded aja gitu lho. PAke cara singkat, trik-trik. Huuuhhh....cuma ngasih satu penthungan untuk semua masalah tuh menurutku. Nggak ngasih anak besi dan pelelehnya yang bisa diolah jadi macem-macem senjata. Apalagi sekarang ini para wali murid sungguh punya keberanian protes dan menuntut yang mengerikan. Mereka tidak mau tahu, pokoknya nilai anaknya harus bagus!
Munduuur...munduuurr....mundur deh.

Aku dulu belajarnya nggak instan bo!
Walau nggak ada yang mbimbing, aku belajar berdasarkan rasa penasaran dan semangat menaklukkan soal. NAh loh, masak mau ibu-ibu anaknya kudidik dengan cara itu? kelamaan kali mikirnya. Ntar nggak bisa masuk sekolah favorit? wah berabe.

Jadi, mungkin untuk mengistirahatkan sel neuron yang bertautan dalam atmosfer sains ini aku lari dengan riang gembira menuju craft. handycraft. atau prakarya lah.

Dan, wow, bagus untuk jiwaku. Ada hiburan. Warna warni.
Ini hobi baru, ya.
Dan kuusahakan hobi ini bisa jadi ladang rejeki dalam berbagai bentuknya.
Salah satu keuntungannya ya itu tadi, bisa ngasih kado yang lain daripada yang lain. Sekalian hemat.
Untuk pigura itu, modalnya nggak sampai sepuluh ribu lho.
Hemat kan? :D

My Sons Activity

Tidak ada komentar


CORAT-CORET KAMAR



ALDO DAN AJI, KEDUANYA SUKA UTAK-ATIK KOMPUTER

Free Your Mind MOM!!!

Tidak ada komentar
Aku seorang ibu rumah tangga. Dan celakanya aku suka sekali berada di rumah. MObile. Riwa-riwi. Atau bergerak kesana kemari itu bukan kesenangan bagiku. Melainkan penyiksaan. Entah apa yang salah dalam susunan kimiawi cairan keseimbangan di batang otakku ya. Setiap hari pergi dengan naik kendaraan, bisa membuat kepalaku pusing tujuh puluh keliling.

Hmmm...lucu ya. Atau mungkin ada orang lain yang bernasib sama denganku?
Jika aku senang di rumah, apakah kebosanan tidak melandaku?
Oh tentu saja, iya. AKu sangat bosan berdiam diri di rumah. Catat, berdiam diri. Maka supaya tidak bosan aku tidak boleh berdiam diri saja. Harus ada yang kulakukan selain, masak, nyuci, beres-beres dan ngurusin anak sama suami.

Jadinya, aku buatlah handycraft. Otodidak. Bikin ini itu berdasarkan buku. Semula aku pusing memberi predidkat pada diriku. Karena aku cinta buku dan juga suka menulis. Aku bertanya kesana kemari, dan ada yang menganjurkanku fokus untuk menulis. Bahkan 10 buku dalam setahun. Artinya 1 buku tiap bulan, lalu libur 2 bulan. Itu tidak ringan!!!

Dan menganjurkan diriku sendiri untuk fokus ke nulis saja malah menyiksaku. Karena ada dorongan kreatif yang entah munculnya kapan itu. MEnyuruhku untuk menggerakkan tangan mencipta kreasi lagi. Flanel dan aksesoris manik-manik/batu alam yang menggoda imanku. Selain sulam pita. Yang terakhir belum maksimal ku eksplor.

Kemarin aku dihambat krisis percaya diri ketika ingin terjun ke bisnis kreatif. Namun di dunia maya ini ada dewa dewi penolongku, yaitu komunitas TOBUCIL yang ada di Bandung. LEwat mereka kusaksikan beragam hal dilakukan oleh seseorang. Dan adanya komunitas membuat mereka tidak perlu terisolasi dan kesepian.

Ini menarik.
Maka aku membebaskan hatiku. Aku lakukan saja apa yang kumau. Kubuat saja apa yang ingin kubuat. Kujual saja dengan PD apa yang ingin kujual. Sekalian aku publish dimana saja. Mencari tahu respon teman dan kerabat. Dan ahay,,,positifnya...membuat hidungku mekar. Sekaligus percaya diri.

Jadi aku punya resep nih buat ibu-ibu, muda dan lanjut usia. LAkukan saja keahlian kita. Tak perlu repot dengan label profesi. Yang penting kreatif dan produktif. Ini juga bisa menjadi cara pelepasan stress akibat kebosanan mengurus rumah tangga. Hasilnya kita happy, anak happy, suami happy. Insya Allah, jadi sakinah mawaddah wa rahmah.