PELANGI CITA-CITAKU

Polwan, Pramugari, dokter, polisi, tentara...dst, itu cita-cita masa kecilku. Standar. Hampir di penjuru negeri anak kecil mendambakan profesi ini. Karena orang tua pun guru mereka ikut-ikutan mempropagandakannya.

Dunia berputar sampai pada pendidikan tertinggi-strata satu- di Bandung. Dengan keputusan mengambil jurusan ilmu murni, FMIPA KIMIA, menjadi DOSEN adalah impian terkuat saya. Jatuh bangun, mimisan, lapar dan lelah, kantuk mendera, tak menghentikan niat untuk bisa lulus pas empat tahun.

Oops, salah. Seharusnya niat tidak begitu kecil. Jika ingin menjadi dosen, seharusnya aku malang melintang menjadi ASDOS. Lalu tak peduli akan lulus berapa tahun pun, asal bisa dekat dengan dunia dosen dan kemudian ditawari beasiswa s2, s3 lalu diangkatlah aku menjadi dosen.

PENELITI. Ini impian dua serangkai dengan dosen tadi. Ini juga yang menjadi alasanku ngotot mengambil jurusan kimia, ketika mas Rudi, kakak lelakiku nomor 3, menganjurkanku masuk jurusan Farmasi. Hampir saja impian atau cita-cita ini terwujud. Karena secara kebetulan aku mengambil topik tugas akhir yang berkaitan dengan disertasi Ibu Zalinar Udin, Kepala Balai Penelitian Kimia Terapan di LIPI Bandung, Jl. Cisitu Lama. Kinerjaku yang memuaskan beliau, membuatku ditawari untuk menjadi staf peneliti disitu. Dan, karena beberapa hal aku memutuskan menolaknya dan kembali ke kota asalku di Surabaya.

DOSEN. Masih menjadi impian. Di kota kelahiranku, Surabaya, aku mencoba melamar posisi ini di UNESA dan ITS. Lolos di tes akademik. Gagal di tes dan lain-lain berikutnya. apa ini ada hubungannya dengan adanya kekuasaan otonomi kampus yang lebih menghendaki alumninya menjadi dosen di kampus sendiri. Atau kualifikasiku tidak memenuhi saat itu. Usaha menjadi dosen untuk sementara waktu dihentikan.

PENULIS. Kebiasaan dan beberapa pengalaman menulis menghimbau diriku sendiri untuk memulai kegiatan ini kembali. Tepatnya ketika Aldo, anak pertamaku masih berumur bilangan bulan. Diselingi dengan kursus ini itu yang semakin membuahkan kebingungan sekaligus pertambahan ketrampilan. Usaha ini belum berhasil, terutama naskah untuk lomba-lomba menulis belum satupun yang gol. Berhenti dulu, karena ada hal lain yang meneteskan air liur dan memberikan pengharapan yang lebih nyata.

PEBISNIS. Kata terakhir ini membius otak kanan sekaligus otak kiriku. Apalagi propaganda, anjuran,seminar dan pelatihan bisnis di media-media, menunjukkan betapa berprospeknya profesi ini. Mulailah aku menerapkan segala bentuk skill yang telah kuperoleh baik dari kursus maupun otodidak. Bahkan MLM pun sempat singgah dan memporak-porandakan keuangan keluarga kecilku. Sekaligus menyadarkanku bawa bisnis tak semata mencari uang. Aku [sungguh] tak rela harus berpelukan mesra dengan lelaki lain semata untuk membesarkan jaringannya. Huh, tak bakal sudi. Itu bukan persaudaraan. Aku lari tunggang langgang menjauhinya. Bisnis murni, ini yang ingin kujalani.

HOME-EDUCATOR. Keberhasilan Aldo masuk semifinal olimpiade sains kuark tahun 2009, menyentakkan kepala dan hatiku. Wow, sehebat itu anakku. Anak didikku ini. Aku punya kebisaan untuk mengajar. Mungkin aku harus jadi guru. Melamarlah menjadi guru dan menunggu. Namun bayangan pekerjaan administratifnya yang menjemukan, memaju mundurkan kembali niatku. Sehingga aku tidak lagi menunggu. Toh aku tak mau berlama-lama meninggalkan anak-anakku berjam-jam untuk anak orang lain. Ini pengalamanku kemarin menjadi guru SD Islam Swasta di Surabaya kelas 2, selama 6 bulan.

Masalah lain. Pembelajaran di rumah butuh dana lebih. untuk kegiatan try and error. Tentu, harus ada nafkah tambahan. Dan ya, pemandangan sekitar pada anak yang tidak mampu menyentak-nyentakkan hatiku untuk menolongnya. Bapak-bapak mereka pengangguran, bahkan mungkin juga pemabuk. Ibu-ibu mereka mengayuh sepeda dengan perut besar ke pasar, untuk sekedar berjualan gorengan. Aha aku harus berbuat sesuatu untuk mereka.

KARTINI EDUCARE. Rumah Pemberdayaan Perempuan. Terpikir untuk menyatukan semua itu dalam satu wadah. Di rumah ini, anak mendapatkan bimbingan belajar. Bekerjasama dengan adik iparku yang bisa mengajarkan baca tulis Al Quran. Ibu-ibu dan wanita lain bisa mendapatkan kursus sulam pita, kreasi flanel, aksesoris manik, kue kering dan bolu kukus. Hanya memberikan ilmunya. Dan sedikit tempat untuk showroom. Di rumahku yang kecil mungil ini kuyakin bisa berjalan lancar. Tak perlu menjadi besar. Yang penting menjadi bermanfaat. Sehingga, menjadi penulis bisa berlanjut terlebih lagi menjadi home-educator. Pasti, pasti dalam beberapa waktu, ini semua akan menunjukkan jalan masuk. Allahumma Amin.

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊