Kepada orang tua yang memaksakan kehendak kepada anak. Apakah kalian, Tuhan?
Segmen 1 Dialog antara suami istri:
> Aku pikir, anak kita lebih baik memilih jurusan Farmasi. Nanti dia bisa bikin apotek sendiri.
< Biarlah anak memilih jalur hidupnya...
> Aku yang bekerja. Aku yang tahu kehidupan di luar sana. Kamu cuma di rumah, tau apa?
Segmen 2 Dialog antara bapak-anak
> Ngapain kamu milih jurusan itu? mau kerja apa? bakal cuma jadi kacung, gaji kecil
< Aku suka
> Kemarin bilang suka ini, sekarang ganti suka itu. Udah nurut bapak saja, bapak lebih tau.
> (diam)
Ah, panas hati saya setiap melihat segmen ini terjadi. Iya kalau itu jaman dulu bung, tahun 90-an. Sekarang sudah tahun Millenium. Banyak sekali perubahan yang terjadi di zaman digital ini. Orang tua nggak akan bisa mengejar ketinggalan. Anak-anak melesat begitu cepat.
Saya mengetahui terminologi Langgas ini baru ketika menonton acara Kick Andy Show, yang tayang setiap hari Jum'at malam di Metro TV.
Langgas artinya bebas.
Generasi Millenials, yang lahir di era digital ini, berumur sekitar 25 tahun ke bawah, adalah termasuk generasi Langgas.
Yoris, Penulis Buku Generasi Langgas
Yoris Sebastian, penulis buku Generasi Langgas menyebutkan bahwa dia melakukan riset selama hampir 6 tahun lebih untuk meneliti kecenderungan perilaku anak muda yang lahir di jaman millenial. Lalu dia mengamati beberapa tokoh anak muda produktif dan berprestasi, sebagai contoh generasi Langgas yang baik.
Selama menonton acara ini, saya kagum pada 2 hal. Pertama pada profil anak muda berprestasi yang ditampilkan. Kedua, pada Yoris yang kepikiran untuk meriset selama bertahun-tahun demi sebuah buku.
Menurut Yoris, alasan dia melakukannya adalah agar buku ini bisa menjadi pegangan untuk orang tua agar bisa memahami anak-anaknya yang lahir di era millenial. Sehingga bisa mengarahkan atau mendampingi mereka kelak menjadi pribadi yang utuh dan produktif.
Yang sangat dicemaskan oleh Yoris adalah, jika anak-anak ini diperlakukan dengan keliru. Maka ketika tiba masanya, sekitar 20 tahun kedepan, generasi yang diharapkan menjadi pemimpin bangsa atau penggerak perekonomian bangsa menjadi tidak produktif.
Saya pikir, benar juga Yoris ini. Niatnya sangat tepat. Saya pun langsung melakukan pre-order untuk bukunya di toko buku online, bukabuku.com.
Kita Hanyalah Orang Tua, Bukan TUHAN
Kasus orang tua memaksakan kehendak dan pola pikirnya pada anak, seyogyanya tak terjadi lagi sekarang. Jika saja orang tua, mau lebih lelah sedikit lagi untuk membuka wawasan, bergaul dengan lebih banyak orang di masa libur kerjanya. Mungkin orang tua akan bisa mendapatkan gambaran bagaimana dunia bekerja sekarang. Bagaimana anak-anak muda meraih prestasinya di jalan yang mereka ciptakan sendiri.
Saya pernah mendengar almarhum Bob Sadino bercerita. Dia membiayai anaknya sekolah bisnis ke luar negeri, memilih sekolah terbaik. Namun, ketika anaknya pulang ke Indonesia dan memilih jualan Pecel Lele, beliau pun santai saja.
Nah, itulah karakter anak-anak kita. Generasi Langgas, Millenials Indonesia.
Mereka begitu bebas. Keinginannya, kemauan bahkan kemampuannya tidak bisa kita prediksi dengan jalur berpikir lama.
Jika anda mengalami hal ini, maka selamat. Kita mempunyai frekuensi yang sama. Yang artinya, kita butuh mendapatkan informasi lebih banyak lagi tentang generasi millenials ini. Mungkin salah satunya dengan membaca buku Generasi Langgas, yang diusung oleh Kick Andy Show itu. Kalau saya sudah dapat bukunya, dan membacanya, nanti kita lanjutkan lagi ngobrolnya.
Intinya, mari selamatkan anak-anak kita dari sikap yang melemahkan mereka.
Lah, mbak Heni, itu ngapain sampai mangap-mangap segala.
Ekspresinya itu sepenuh hati banget gaharnya.
Hahaha, itulah cara terampuh saya untuk "mencambuk" diri sendiri. Memaksa diri sendiri melawan baper dan mager. [*baper = bawa perasaan, mager = males gerak]
Apalagi kalau udah harus berhadapan dengan siklus bulanan yang memporak-porandakan mood, dan membuat kaki dan boyok terus nyut-nyutan. Linunya itu loh, kayak habis naik gunung sama himpunan pecinta alam aja. Perasaan jaman sekolah, naik lereng gunung sampai subuh terus pulang ke kos-kosan, besoknya aman aja lari ngejar angkot. Sekarang track jalan kaki cuma pagar dan dapur aja, aduuh badan pegel semua.
Perempuan Multitasking Butuh Multivitamin
Mendengar keluhan saya itu, banyak teman yang menganjurkan saya minum multivitamin mineral dalam kemasan modern yang siap minum. Secara umur juga udah lewat jauh dari angka 17 tahun, saya pun kudu tahu diri juga lah. Apalagi perempuan, kerjaannya banyak bener, nggak ada habisnya dengan waktu terbatas. Mau jadi ibu rumah tangga, kerja dirumah, kerja di kantor, pokoknya jadi emak-emak itu nggak mungkin lepas dari multitasking.
Terlebih kalau udah jadi emak-emak, jadi ibu, jadi mom. Singkatan kata MOM juga apa coba?
MOM = Master of Multitasking.
Menjadi seorang ibu adalah sebuah perjalanan baru menjadi manusia ajaib yang ahli melakukan beberapa hal sekaligus. Multitask. Ajaib? Ya, karena tanpa perlu adanya pelatihan tertentu, seorang ibu otomatis saja bisa melakukan semua hal dalam satu waktu. Misalnya menggendong anak, sambil menyusuinya, sambil membersihkan telinga anaknya, sambil berjalan kesana kemari dari dapur menuju tempat mesin cuci baju. Ya, semuanya bisa dilakukan sekaligus. Bahkan sesekali sang ibu mampir ke meja makan, mencomot beberapa potong tahu goreng untuk pengganjal lapar saat menyusui. Hitunglah berapa jumlah pekerjaannya? Mau ditambahin lagi? bisa! Dengan beberapa pekerjaan yang perlu diprioritaskan sekaligus dalam satu waktu inilah, perempuan biasanya kurang baik menata pola makan dan pola hidup yang sehat. Terkadang karena kelelahan pula, terjadi gangguan kesehatan dan pencernaan yang menyebabkan penyerapan vitamin dan mineral dalam tubuh jadi tidak optimal. Terlebih jenis vitamin dan mineral itu ada yang larut dalam air, yang bisa mudah hilang jadi keringat atau air seni. Jadi harus di-"supply" terus supaya metabolisme tubuh tetep berjalan baik. Cara termudah ya minum multivitamin dan mineral. Selain menjaga stamina, multivitamin mineral diperlukan juga untuk beberapa hal dalam infografik berikut ini:
Memilih multivitamin juga kudu ati-ati loh mak. Sesuaikan dengan kebutuhan gizi kita yang dipengaruhi gender dan juga umur. Untuk perempuan, suplemen multivitamin biasanya dirancang untuk kebutuhan usia subur 18 - 50 tahun. Bahkan pada wanita hamil, diperlukan multivitamin yang mengandung lebih banyak zat besi dan asam folat, utnuk mencegah bayi lahir cacat. Nah, di cerita awal saya lemah letih lesu, itu bisa dikarenakan kekurangan vitamin dan mineral. Emang mak, itu loh, walaupun vitamin dan mineral hanya diperlukan dalam jumlah kecil, akan tetapi penting. Kalau kekurangan bakal ada masalah, kalau berlebihan juga kurang baik. Lebih lengkapnya saya sajikan dalam bentuk tabel ini nih, biar mudah bacanya.
Tabel1. Jenis Mineral, Fungsi dan Akibat jika kekurangan
Tabel 2. Jenis vitamin, produk makanan sesuai
Ketika Menstruasi, Kemampuan Multitasking Perempuan Menurun
Jadi, kayak saya tuh, kalau lagi mens badan pegel semua, lemah, letih, lesu, itu bisa diakibatkan kurangnya asupan vitamin dan mineral berupa zat besi, Mangaan dan seng. Saat siklus menstruasi, bahkan ketika sudah menopouse, perempuan membutuhkan asupan zat seng dan zat besi dengan baik. Coba deh kalau lagi drop bulanan gitu, minum suplemen yang ada kedua unsur mineral tadi, dijamin badan lebih seger rasanya. Kebetulan, kemarin saya coba minum tuh multivitamin mineral Theragran M, lumayan badan ini jadi seger lagi dan bisa neruskan beberapa pekerjaan yang tertunda. Itu karena, di dalam setiap kapsulnya mengandung beberapa vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh, dengan komposisi tepat. Minumnya juga sehari sekali saja ya, kecuali dokter menganjurkan lain.
Jenis vitamin dan mineral yang ada dalam Theragran M
komposisi Multivitamin Mineral Theragran M
Nah, jadi kenapa ada orang bilang kalau multitasking perempuan menurun ketika mens? ya karena setelah diteliti, kemampuan spasial perempuan berkurang dalam siklus mens bulanannya. Kemampuan spasial itu penting karena menentukan kemampuan menggabungkan beberapa kemampuan yang berbeda sekaligus. Tetapi hal ini juga berbeda-beda sih, tergantung bawaan tiap orang juga. Ada perempuan yang makin lincah gesit saat mens, ada yang makin susah mikir banyak hal dan melakukan multitasking.
Pokoknya kalau mau kerja multitasking, butuh banyak energi deh, kayak animasi di bawah ini:
Ingat! Jangan Berlebihan Walaupun sangat berguna untuk kesehatan, minum multivitamin tidak boleh berlebih loh mak. Hindari multivitamin yang melebihi 100% dari nilai harian yang direkomendasikan. Karena kalau kebanyakan dalam dosis besar, dapat jadi racun bukan jadi nutrisi dalam makanan. Misalnya kelebihan kalsium, akan menghambat penyerapan zat besi. Pokoknya pilih multivitamin dengan komposisi seimbanglah kayak Theragran M ini, yang diproduksi perusahaan terpercaya PT. Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk. Belinya juga gampang, ada di apotek terdekat atau apotek online yang sekarang sudah mulai banyak beredar di internet.
Tetap Tegar Jadi Emak Gahar
Bener juga nih, setelah rutin mengkonsumsi multivitamin mineral Theragran M, badan jadi lebih segeran. Nggak gampang ngantuk, lesu dan bete lagi. Pekerjaan rumah beres, urusan kerjaan di blog dan edupreneur juga oke. Proposal training digital learning yang sudah diminta oleh pihak sekolah, bisa saya hias lagi dengan beberapa infografik dan mengirimnya menjadi berkas yang lebih cantik.
fotonya yang cakepan dikit napa mak? :D
Serius nih, nggak mudah jadi perempuan loh, apalagi emak gahar. Kan emak gahar nggak boleh nangis di pojokan? wkk..
Yang artinya, biarpun migren melanda atau gundah gulana kehidupan datang menerjang, tetep aja rencana kerja kudu jalan terus.
Demi apa coba?
Emak gahar ingin membangun 7 karakter perempuan sukses. Ingin menguji kemampuan diri sendiri, seberapa besar pencapaian yang bisa dibangun oleh perempuan yang baru bisa berkarya setelah belasan tahun menjadi ibu rumah tangga. Nah, 7 karakter ini harus saya upayakan sekuat tenaga tetap ada dalam diri saya. Yaitu:
punya passion yang kuat
mau bekerja keras
fokus
punya motivasi diri yang kuat
melayani sepenuh hati
gigih menghadapi rintangan
percaya diri
Apalagi saya nih dianugerahi anak laki-laki semua. Saya kudu menunjukkan ketangguhan dalam menjalani hidup. Sehingga anak saya jadi anak gadas, kuat sekuat batu cadas. Tapi itu semua tidak hanya dibangun dengan tekad. Melainkan kudu dibarengi gaya hidup sehat. Sepakat?
sepenggal kisah dari buku yang akan kutulis berjudul Diary Inkubator.....
Siang
itu rasanya aneh, ada kontraksi di perutku walau prediksi lahir anakku masih
satu setengah bulan lagi. Aku pun memilih tiduran dan beristirahat saja.
Barusan tadi, aku kerja marathon; cuci baju, cuci piring, ngepel rumah, ngisi tandon
air dan bak kamar mandi. Rutinitas yang kulakoni ketika sedang membeli air
sumur di ibu warung kampung seberang. Karena sistim bayar air sumurnya Rp.6000,-/jam.
Supaya hemat sekalian saja ketika air sedang dipompakan ke rumahku, semua
pekerjaan yang membutuhkan air aku kerjakan secara paralel. Hasilnya ya sering
begini, kelelahan. Terutama ketika kehamilanku semakin besar.
Ketika
tiduran, aku merasakan kontraksi lagi beberapa kali. Sakit sekali, tapi jarang.
Belum waktunya lahir kok sudah kontraksi, aku cemas juga. Langsung kuhubungi
suamiku dan akhirnya nanti malam kami sepakat untuk pergi ke dokter kandungan. “Sudah bukaan satu bu, tenang saja. Pulang saja ya, tunggu di rumah” begitu
kata dokter di kamar periksa. “Lho dok, kok sudah bukaan satu. Kan saya
lahirannya nanti akhir bulan Oktober. Sekarang masih tanggal 5 September. Apa
nggak prematur dok, anak saya nanti?” tanyaku cemas. “Ah, enggak. Ini sudah gede anaknya. Udah 2,5
kg. Aman. Sudah di rumah saja, banyak jalan-jalan”. Kami pun pulang. Aku
tenang-tenang saja sekaligus senang. Ibu hamil yang dikabari anaknya segera
lahir, pasti akan senang. Setelah berbulan-bulan hamil, akhirnya bisa melihat
wajah anaknya. Semoga anakku sehat dan organ tubuhnya sempurna, itu saja doaku.
Karena
disarankan untuk aktif, maka aku semakin giat jalan-jalan. Mengajak anak
sulungku yang berumur empat tahun, aku keliling kesana kemari berjalan kaki di
sekitar perumahan. Dan dua hari kemudian, setelah hampir 21 jam di rumah sakit,
anak keduaku lahir. Oeekkkk, suaranya yang keras membuatku lega sekali. Anakku
bisa menangis, anakku sehat. Rasa sakit pasca
melahirkan normal langsung hilang tanpa bekas. Selesai dibersihkan, suamiku
berbisik perlahan padaku, “ma, bapak masuk rumah sakit lagi semalam, kena
stroke. Ibu bilang, kalau mama sudah melahirkan saja dikasih tahu.” Aku
menghela nafas panjang, “howala … semoga bapak sembuh ya. Sudah nasibnya bapak
keluar masuk rumah sakit karena ada penyumbatan di jantung”.
Karena
tensi darahku sudah normal dan tidak ada keluhan pusing, aku diijinkan keluar
dari ruang bersalin. Sampai di sal tempat tidurku di ruangan kelas tiga, aku
langsung jatuh tertidur. Lelah sekali, menahan kontraksi dan proses pembukaan
jalan lahir mulai jam dua siang sampai lima pagi. Aku sempat menggerutu
sendiri, “kata ibu melahirkan anak kedua lebih enak, lebih cepat, lebih nggak
sakit. Ah..ibu bohong nih”. Hanya satu jam aku tertidur, lalu aku segera mandi
dan membersihkan diri dengan lebih maksimal. Aku ingin segera ke ruangan bayi,
melihat wajah anak lelaki keduaku dengan lebih teliti.
Sampai
di ruangan bayi, suster ada yang bertanya, “lho bu, kok sudah bisa jalan-jalan.
Nggak pusing?”. Aku tersenyum dan menjawab tidak. “anak saya mana ya, Sus?”,
tanyaku celingukan dari depan pintu ruang bayi. “Di sebelah sana bu, yang
dipasangi oksigen,” jawab susternya singkat. “Oksigen?”, tanyaku dalam hati. Aku pun menuju ke seorang bayi kecil yang sedang tidur, terbalut selimut putih
dengan selang oksigen yang dipasang di hidungnya. Dadanya turun naik dengan
cepat, seperti anak yang tersengal-sengal setelah lomba lari dengan temannya.
Aku lirik bayi lain di sebelahnya, dadanya tidak bergerak naik turun secepat
anakku, lebih tenang. Hatiku tersentak, ada apa ini?
Lalu
aku menghampiri dokter kandungan yang menolong kelahiranku tadi dan menanyakan,
“Pak dokter, kenapa anak saya dipasangi oksigen?”. Dokter itu berhenti menulis,
menatapku lalu menatap kearah anakku berbaring. “ah itu biasa, seperti kita
kalau memakai kacamata baru. Butuh adaptasi. Nah anak ibu sedang beradaptasi
bernafas langsung. Paling cuma dua jam dioksigennya. Nggak pa pa, ibu istirahat
saja ya.” Hatiku lebih lega, kemudian mencari suami dan ibu mertuaku yang
berpamitan ingin pulang ke rumah. Membersihkan ari-ari dan bajuku yang kotor
terkena darah persalinan. Aku mengiyakan dan menunggu di sal.
Ketika
asik mengobrol dengan teman di kamar sebelah, seorang suster tiba-tiba masuk.
Masih berdiri di depan pintu, suster itu berteriak, “bu Heni? Bu Heni mana ya?
Bu Heni, anaknya mau diinfus nih.” Aku terkejut mendengar namaku disebut.
Langsung kuhampiri suster itu, “ya saya bu Heni. Kenapa anak saya diinfus, Sus?”.
Suster itu masih sibuk dengan kertas-kertas yang dia bawa, lalu menjawab, “
kata dokter anak disuruhnya begitu bu, anak ibu prematur katanya.”.
Hah?
Premature?
Jantungku
serasa berhenti berdetak. “saya mau ketemu dokternya dulu. Saya ingin tahu
penjelasannya. Saya ingin tahu infus itu untuk apa dan isinya apa.” Suster itu
baru menatapku, lalu menjawab “saya telponkan dokternya ya bu.”
Aku
jatuh terduduk di dalam ruanganku yang hanya dipisahkan oleh kelambu dengan
pasien bersalin lainnya. Airmataku jatuh. Sendirian aku menata hati, suamiku
belum juga datang. Pikiran macam-macam mulai muncul, sampai yang terburuk
sekalipun. Bahwa aku akan pulang dengan menggendong jenazah bayiku, dan ada
pengajian tahlilan di rumahku. “ makanan datang bu, silahkan makan,”seorang
petugas dapur memberikan senampan makanan di mejaku. Hatiku masih berdebat sendiri.
“Heni, kamu mau pingsan atau bertahan? Anakmu ada dua. Kalau sekarang kamu
pingsan, sedih dan jatuh sakit maka anak-anakmu bagaimana? Siapa yang menunggu
dan menguatkan anakmu yang baru lahir itu kalau ibunya yang menyerah duluan?
Dan anakmu yang sulung juga bagaimana? Suamimu?” begitulah aku bicara sendiri
dalam hati dan banyak sekali percakapan yang muncul tapi harus kujawab sendiri.
Akhirnya
aku memilih untuk kuat dan bertahan. Aku tidak boleh pingsan. Aku tidak boleh
sakit. Aku harus makan. Dengan sekuat tenaga aku berusaha memasukkan sesendok
demi sesendok makanan ke dalam perutku. Tiap sendoknya bercampur dengan
linangan air mata yang jatuh sangat deras dan tak bisa kubendung. Makanan ini
tidak ada rasanya. Aku makan sambil menangis. Satu jam kemudian, suamiku baru
datang. Rupanya dia sekalian mengubur ari-ari (plasenta bayiku) di pekarangan
rumah kami, membersihkan diri dan sarapan. Kukatakan padanya sambil
terbata-bata, “mas, anak kita harus diinfus. Dia premature kata dokter.”
Suamiku diam saja dan hanya menggenggam tanganku lebih erat. Tidak ada air mata
yang jatuh di wajah suamiku. Kami sepakat untuk kuat dalam diamnya.
“Ibu,
anaknya premature ya. Anak premature itu ada masa kritisnya, namanya Golden
Age. Sejak lahirnya dihitung tiga hari. Jika tiga hari hidup, tunggu sampai
tujuh hari. Jika lewat tujuh hari hidup, maka akan hidup selamanya. Sudah ya,
ada pertanyaan lagi?”.
Itulah percakapan pertama aku dan suamiku dengan dokter
anak utama yang baru pulang dari Umroh. Dua hari sebelumnya, anakku dirawat
oleh dokter pengganti yang tidak menerangkan apa-apa kecuali anakku didiagnosa
lahir premature dan perlu diinfus karena harus puasa tidak minum ASI dulu. Jika
diberi ASI, dikhawatirkan anakku nanti tersedak dan ASI masuk paru-paru karena
dia tersengal-sengal. Kami diam saja dan menggeleng perlahan tanpa pertanyaan
lagi. Dalam kondisi seperti ini, selain memikirkan kesembuhan juga tentang dana
perawatan yang pasti sangat besar.
Setelah
sedikit berdiskusi, aku dan suami sepakat untuk berjuang tanpa merepotkan
keluarga. Aku persilahkan ibu dan bapak mertuaku kembali ke desa dan
beristirahat. Aku kabarkan keadaan anakku pada saudara di rumah dengan syarat
harus merahasiakannya dari ibu dan bapak yang sedang stroke di rumah sakit. Aku
tidak mau bapak nanti semakin sedih dan drop mendengar cucunya harus di
incubator karena premature dan paru-paru
kiri cucunya belum matang. Hanya saja aku meminta bantuan pinjaman dana dari
saudaraku, karena tabungan kami sudah habis untuk biaya persalinanku.
Kami tak
punya cadangan dana medis, karena dari awal anakku diprediksi oleh dokter
kandunganku, akan lahir normal, sehat dan tidak premature.
Dengan pertimbangan untuk menghemat biaya
medis juga, aku menguatkan hati untuk pulang lebih dulu dan meninggalkan anakku
di incubator sendirian. Aku dan suami total pasrah kepada Alloh SWT. Berulang
kali aku dan suami meminta doa kepada keluarga mertuaku, karena aku
merahasiakan hal ini kepada orangtuaku sendiri.
Sakit
pasca persalinan tidak begitu kurasakan. Menggunakan kain stagen tradisional,
aku kencangkan perutku supaya bisa beraktivitas seperti biasa.
Membersihkan
rumah, masak dan mengurus anak sulungku yang sudah masuk sekolah TK. Pagi hari,
anakku diantar sekolah oleh suamiku. Lalu siangnya, aku sudah siap dengan bekal
makanan dan baju ganti anakku di teras rumah. Pintu rumah sudah kukunci dari
tadi. Ketika tukang becak datang mengantar anakku pulang, segera aku mengganti
baju seragam anakku lalu bersama kami diantar ke RSAB tempat anak keduaku di
incubator. Aku menyuapi anak sulungku di depan inkubator adiknya yang lebih
sering tidur merem. Jarang sekali membuka matanya. Mungkin karena belum
waktunya lahir, jadi dia harus lebih banyak tidur. Aku mengganti popok bayiku
itu jika dia ngompol. Terkadang stok selimut pelapis di ruangan habis, jadi
anakku berbaring dilapisi perlak plastic saja. Melihat tubuhnya yang kecil
dengan selang sonde lambung di hidungnya, infus di kaki atau tangannya dan
selang oksigen di hidungnya membuat hatiku teriris. Rasa bersalah tak terkira
terus membayangi, bahkan sampai hari ini.
Pagi
mengurus rumah. Siang hari menjenguk anakku dengan si sulung. Malam hari
menjenguk anakku lagi segera setelah bapaknya pulang dari kerja. Lalu pulang
dan tidur di rumah. Begitu terus ritme hidupku selama anakku dirawat. Sebisa
mungkin aku berusaha suasana di rumah biasa saja, walau hatiku sebenarnya
begitu sedih karena tidak bisa terus mendampingi bayiku selama 24 jam. Setiap
detik aku terus berdzikir dan berdoa. Tak banyak ibadah yang bisa kulakukan
karena aku masih dalam keadaan nifas. Ada yang bilang, bersedekahlah dan
sebutkan niat kesembuhan, maka berusaha kulakukan. Karena dana minim, aku
serahkan uang Rp.20.000,-kepada bapak pengangkut sampah di perumahanku dan
kukatakan, “pak, saya sedekah. Mohon doanya untuk kesembuhan anak saya yang
baru lahir”.
Begitulah
dalam segala keterbatasan, aku menggantungkan harapanku hanya kepada Ke-Maha
Besaran Alloh SWT. Mungkin juga niat kami untuk tidak merepotkan keluarga
walaupun begitu sulitnya, rupanya menjadi nilai tambah juga di hadapan-Nya.
Tepat hari ke-14, bayiku dinyatakan sembuh dan bisa dirawat dirumah. Di hari
itu, aku sudah mandi jam 3 pagi, dan ada di RSAB jam 5 pagi. Padahal dokter
visite baru jam 9 pagi. “ibuk rajin banget siih,”ledek para Suster kala itu. Aku hanya senyum saja menanggapinya. Karena suamiku harus kerja, tinggal aku
dan si sulung yang menunggui adiknya siap pulang. Tepat jam 10 pagi, kami
bertiga pun sampai di rumah kami yang sepi. Setelah bayiku kubaringkan di kasur
kecilnya, dengan gemetar kuhubungi keluargaku, “bu, pak, anakku sudah pulang.”
Itulah
ceritaku di bulan September 2006. Sekarang sudah tahun 2014, aku menuliskan ini
sambil ditemani bayiku yang sudah
berumur delapan tahun. Dia sehat, normal, tinggi besar, begitu ceria dan sudah
naik kelas 2 SD. Kuucapkan terima kasih tiada terkira kepada orang tua dan
keluarga kami yang mendoakan tak henti-henti. Pasti, doa merekalah yang sampai
ke langit dan dikabulkan-Nya. Tentu saja jika hanya mengandalkan doa dan amal
ibadahku dan suami, pasti sangat minim karena banyak tersita energy dan fisik
di masa pengobatan anak kami itu.
Benarlah
kiranya janji Alloh SWT kepada umat-Nya, “berdoalah, maka akan Ku-kabulkan.”
Seberapapun terbatasnya kondisi kita, berdoalah dan mintalah doa terutama
kepada orang tua. Yakinlah Tuhan takkan pernah mengingkari janjinya.
*note: kisah ini kutulis 2 tahun yang lalu. Sekarang tanggal 6 September 2016. Besok, anakku itu akan genap berumur 10 tahun. Dan kondisinya sehat, tinggi besar dan selalu ceria. Alhamdulillah.
Menuliskan kembali kisah tentang lahir dan merawat anak kedua saya yang lahir prematur tanpa sebab pasti, ini sungguh berat sekali. Beberapa kali saya mencoba menulis. Lalu menangis. Dan berhenti. Saya coba lagi, begitu lagi. Menulis. Menangis. Berhenti.
Jadi, saya putuskan untuk menunda rencana menulis buku Diary Inkubator ini, walau sudah siap berkolaborasi dengan 2 ibu hebat yang punya pengalaman sama. Keinginan untuk menulis masih sangat kuat, mungkin bisa menjadi self healing therapy juga buat saya. Supaya ketika kenangan ini muncul lagi, dada saya tak perlu nyeri lagi karena menahan air mata yang masih datang tanpa henti. Dan semoga sedikit trik dan teknik saya merawat anak saya ini, bisa jadi bahan rujukan untuk ibu yang mengalami hal sama. Juga menjadi bahan peringatan agar ibu yang sedang mengandung buah hatinya, lebih waspada menjaga diri. Coming soon, bismillah, setelah beberapa hal tertata dengan rapi, saya akan mulai menulis buku ini. Doakeun yeeess... :)
Cerita dari ibunya Thomas Alva Edison, kurang lebih seperti ini:
Suatu hari, Edison memberikan selembar kertas kepada ibunya.
Kertas itu berasal dari gurunya di sekolah.
Mata ibunya berkaca-kaca, lalu dia membacakan isi kertas itu keras-keras kepada Edison.
Anak anda sangat jenius. Sekolah ini terlalu kecil untuknya dan tidak bisa memberikan guru yang baik untuk melatihnya. Tolong ajari sendiri anak anda.
Edison akhirnya benar-benar berhenti sekolah, dan belajar sendiri bersama ibunya di rumah. Bertahun-tahun kemudian, Edison menjadi salah satu penemu terbaik abad ini. Thomas Alva Edison adalah penemu lampu pijar, yang kemudian berkembang menjadi listrik sangat bermanfaat bagi kehidupan di dunia.
Setelah ibunya meninggal Edison menemukan kertas yang pernah dia berikan kepada ibunya waktu itu. Di situ tertulis,
Anak anda mengalami sakit mental. Kami takkan mengijinkan dia sekolah di sini lagi.
Edison menangis berjam-jam membaca isi sebenarnya dari kertas itu. Llau dia menulis di buku hariannya,
Thomas Alva Edison adalah anak aneh, yang karena sikap kepahlawanan ibunya, menjadi orang paling jenis abad ini
-----------
Duh, meleleh hati saya membaca surat Edison ini.
Saya teringat waktu itu, begitu panik ketika anak kedua saya, Aji, sepertinya akan "ditolak" oleh sebuah sekolah dasar, karena dianggap "belum bisa baca tulis" dengan baik.
Saat itu saya sampai bolak-balik ke TK asalnya, namun tak mendapatkan dukungan berarti. Ada satu statement dari psikolog anak saya tadi, yang malah membuat hati saya jatuh berantakan.
sepertinya anak ibu ini DYSLEKSIA
Saya kaget sekali mendengar hal itu. Dalam hati saya menyangkalnya. Karena anak saya bisa berhitung. Beberapa kali malah bisa menulis dan membaca, jauh dari jurnal perkembangannya di sekolah. Tetapi kendalanya, dia bisa calistung dengan baik kalau belajar dengan saya sendiri, berdua saja, face to face.
Berbeda jika dia ada di sekolahan. Konsentrasinya cepat sekali buyar. Dan anak saya bilang kalau temannya rame, dia nggak bisa mikir.
Saya coba sendiri membuktikan bahwa anak saya tidak dysleksia. Karena minimnya pengetahuan saya waktu itu juga, saya anggap dysleksia mirip dengan autis. Dan anak saya normal semuanya. Dia bisa bergaul, bercanda. Bisa berjam-jam mengerjakan mainan, yang artinya bisa juga berkonsentrasi tinggi.
Anak saya bahkan dengan suka rela menghitung angka 1,2,3 sampai 100. Dan bisa menghitung mundur. Itu waktu dia kelas TK A. Jadi saya benar-benar tidak terima anak saya diduga dysleksia.
Waktu pun berlalu, anak saya akhirnya diterima di sekolahan itu. Maaf sebelumnya saya jelaskan, bahwa kami memilih dia di sekolah tersebut, semata demi pemahaman dan pembiasaan agama Islam yang baik. Saya menyadari sangat terbatas ilmu agama dan kemampuan mengajari anak tentang agama Islam. Maka masuk SD Swasta Islam yang sudah saya daftarkan indent setahun yang lalu, adalah pilihan kami.
Apa yang terjadi ketika anak saya kelas 1-2 SD?
Ternyata dia masih mengalami kendala baca tulis. Beberapa kali gurunya mengeluh, kenapa Aji tidak bisa memahami pelajaran. Saya tetap mengelak, "kalau di rumah, belajar sama saya, benar semua bu. Bisa ngerti. Kenapa di sekolah begitu?'.
Gurunya tidak bisa menjawab, dan malah mengatakan satu usulan yang makin membuat hati saya pecah berkeping-keping,
bagaimana kalau Aji, diberikan "guru bayangan" ?
Saya sangat tersinggung waktu itu, kenapa sampai gurunya mengatakan hal tersebut. Anak saya tidak autis bu, kenapa sampai butuh guru bayangan?
Begitulah, kalau ilmu minim, emosi gampang kesulut ya?
Untung saja, saya menyimpan emosi itu di hati saja. Hanya saya tak habis pikir, kenapa sampai begitu. Separah apakah anakku?
Saya pun bertanya kepada kakak yang menjadi kepala sekolah sebuah SD dan pernah menangani anak TK dan SD kelas 1-2. Katanya, "ah tenang saja, tiap anak punya masa peka sendiri-sendiri. Anakmu juga nanti akan bisa baca tulis sendiri."
Saya pun tenang dan mencoba membiarkan anak saya berkembang sesuai kemampuannya. Dengan perasaan, saya siap-siap jika ternyata harus mengambil keputusan untuk mengajar sendiri di rumah. Homeschooling.
Hal ini menjadi beban pikiran yang sangat besar. Rasa bersalah, bingung, campur aduk. Terlebih ketika saya browsing, seperti ada kaitannya antara pengidap dysleksia dan kelahiran prematur. Lah, anak saya ini lahirnya dulu prematur.
Ketika saya kuliah lagi, konsentrasi saya ke anak sangat berkurang. Terlebih ke anak saya ini, Aji. Saya benar-benar menyerahkan kepada sekolahan. Waktu itu saya nggak ambil pusing tentang akademisnya. Yang penting kamu diajari ngaji, sholat dan berakhlak baik aja dah cukup nak. Nanti akademisnya saya permak setelah lulus kuliah. Hal ini juga berat sekali waktu menjalaninya. Mending drop out nggak pake nerusin kuliah S2 kok rasanya, tapi semua sudah dijalani, dan harus dilakoni dengan tanggung jawab.
Dalam masa itu, yang saya lakukan adalah seperti ibunya Edison diatas. Saya jadi garda paling depan anak saya untuk melindungi kepercayaan dirinya. Tentu dengan keterbatasan anak saya itu, dia jadi langganan remidi ujian. Anehnya, untuk bahasa Inggris, dia bisa memahami dengan natural.
Saya masih menyimpan pertanyaan, "apakah benar anak saya dysleksia?"
Dan apakah semua keterbatasannya dalam belajar di sekolah ini, dikarenakan dysleksia?
Jurnal pencarian ini, akan saya tulis di artikel selanjutnya...
Stay tune....:)
Apakah anak anda, mengalami hal serupa? lalu apa tindakannya?
the secret in education lies in respecting the students
Hari Senin depan, sudah terbuka gerbang sekolah setelah liburan panjang. Berkaitan dengan penerimaan siswa atau mahasiswa baru, maka isu lama kembali berkembang. Yaitu isu tentang OSPEK atau LOS atau MOS. Ketiganya memberikan makna yang sama, yaitu suatu kegiatan untuk Orientasi Siswa baru, agar siap masuk ke jenjang pendidikan baru.
OSPEK yang "kejam", aneh, nggak masuk akal, penuh "bullying" dan menciutkan nyali siswa baru, sudah saya alami beberapa kali. Jaman dulu, semakin "kejam", panitia semakin yakin itu adalah cara paling baik dan elegan untuk mempersiapkan adik-adik kelasnya. Biar mereka kuat mental, kuat fisik dan siap belajar adalah alasan yang diambil dibalik hidden agenda sebagai "balas dendam" terhadap perlakuan tak enak dari senior senior sebelumnya. Hal ini terus saja berputar putar seperti lingkaran pemain Roda Setan yang ada di acara Pasar Malam. Serem, bikin deg-degan namun asik jadi "tontonan".
Menyadari resiko besar dan berat dari konsep ospek kejam ini, maka para pemerhati pendidikan dan pemangku kebijakan pendidikan melakukan segala cara agar kita bisa memberikan masa orientasi siswa baru lebih akademis dan elegan.
Siswa baru perlu disiapkan untuk siap memasuki kelas belajar. Maka perlu diberikan pengenalan secara akademis, kreatif dan masuk akal.
Jangan ada lagi tugas menghitung jumlah beras, kacang hijau atau bicara pada spion. Itu tidak masuk akal. Lebih baik, mereka diberikan training cara membaca cepat, mencatat dengan mind map, dll.
[Bpk. Anis Baswedan. Good Morning Net TV, 14 Juli 2016]
Kebetulan, konsep memberikan materi pendidikan di masa penerimaan siswa baru itu, pernah saya buat sewaktu kuliah pascasarjana Teknologi Pendidikan di Unesa. Tugas yang diberikan oleh dosen materi Teori Pembelajaran ini, saya beri nama SUPERSTART EDUTRAINING. Konsepnya silahkan dibaca dari 3 gambar slide dibawah ini:
Superstart Edutraining meliputi konsep :
Super Learning, Learning Style, Brainbased Learning dan Smart Spirit
Superstart Edutraining adalah konsep pelatihan singkat untuk siswa atau mahasiswa baru, dengan dasar mempelajari dan menguasai bagaimana cara belajar yang tepat dan efektif ( Learning How To Learn).
Di sekolah formal, kebanyakan kelas belajar atau proses belajar dilakukan secara klasikal (bersamaan). Salah satu kendala dengan cara ini adalah adanya perbedaan gaya belajar tiap siswanya. Ada yang suka belajar dengan gambar, suara atau dengan jumpalitan dan bergerak. Yang disebut dengan gaya belajar visual, audiotorial dan kinestetik.
Jenis dan tipe gaya belajar ini sudah bawaan tiap anak. Secara biologis, setelah diteliti, ternyata di bagian otak mereka ada perbedaan. Yang bergaya belajar visual, ada bagian otak yang lebih aktif dan banyak sel neuronnya. Begitu juga dengan lainnya.
Kalau mengingat jaman saya sekolah dulu. Duduk manis, nggak boleh banyak gerak, membaca buku, mengerjakan soal, maju ke depan untuk mengerjakan soal atau menghafal perkalian dan selesai pulang. Nah, cara itu seyogyangya tidak lagi diterapkan sekarang. Kasihan dengan anak audiotorial yang butuh musik dan lagi untuk belajar, terlebih untuk anak kinestetik yang harus bergerak agar memahami materi belajar.
Begitu juga dengan cara mencatat. Saya masih sedih melihat teman anak saya atau "siswa" saya yang masih berusaha keras mencatat dengan tulisan yang rapii jali, pakai garis sana-sini.
Haduuhh itu soo yesterday.
Sekarang jamannya bikin MIND MAP. Mencatat dengan banyak alur, coretan, gambar, warna yang kalau dilihat jadi kayak benang kusut atau spider web (jaring laba-laba).
Mind Map tentang Gaya dibuat oleh anak saya waktu kelas 6 SD
Namun, jika dilakukan dengan tekun, mencatat ala mind map ini bisa mengoptimalkan cara belajar. Karena tiap KATA KUNCI bisa sambung-menyambung.
Selain BELAJAR CARA BELAJAR, dalam konsep Superstart Edutraining juga saya masukkan ESQ (Emotional Spiritual Quotient). Yaitu mengembangkan konsep citra diri positif untuk emosi positif serta mental spiritual untuk kembali menguatkan mental anak-anak bahwa semua ini porosnya adalah DARI TUHAN DAN UNTUK TUHAN. Jadi, belajar juga bagian dari ibadah. Maka itu, harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Silahkan mengadopsi konsep Superstart Edutraining ini dalam lembaga belajar yang teman-teman kelola. Atau bisa diusulkan sebagai training reguler. Jika ada hal yang ingin didiskusikan, silahkan mengontak saya secara pribadi. Jika saya belum bisa memberikan solusi, nanti saya panggilkan guru-guru saya yang banyak tersebar di jagad raya ini. Mari kita tumbuhkan semangat belajar itu menyenangkan dan bagian dari ibadah.
Semoga bermanfaat.
-Heni Prasetyorini-
Untuk ngobrol langsung, silahkan mention saya di twitter @HeniPR atau facebook Heni Prasetyorini
3 tips sukses: Mulai dari hal kecil, Mulai dari diri sendiri, Mulai sekarang juga
Membuka kursus atau lembaga pendidikan non formal, bukan hal baru bagi saya. Waktu saya SD, sekitar tahun 1990-an, kakak saya membuka kursus komputer, akuntansi dan bahasa Inggris di rumah ibu. Saya sempat "magang" jadi tukang ketik buku modulnya dan mendapat gaji 5 ribu :-D.
Sewaktu saya hamil anak pertama, saya sempat membuka bimbingan belajar untuk anak SD-SMP-SMA dan sebuah usaha jasa pengetikan. Walau usaha ini berhenti karena sesuatu hal, namun keinginan untuk membuat "usaha" serupa terus menyala di hati saya.
Waktu pun bergulir, sampai ilmu saya makin bertambah tanpa terasa. Iya, saya mendapat ilmu dari dunia online, dunia digital. Mulai membuat blog, menjadi blogger, menulis konten digital, membuat dan mengendalikan toko online, mengenal e-learning, digital learning di Teknologi Pendidikan serta terakhir saya belajar pemrograman di kursus Coding Mum.
Inspirasi Membuat Kursus Untuk Perempuan
Sewaktu presentasi di Coding Mum, saya menyajikan desain website Akademi Prasetyorini. Yaitu sebuah lembaga belajar untuk perempuan di ranah bisnis, kreatif dan digital. Rencana awal saya akan berkolaborasi dengan 2 teman lainnya. Namun ternyata ada perubahan. Teman saya pindah rumah, jauh dari saya dan sulit untuk meneruskan rencana. Tidak mudah mencari patner pengganti. Akhirnya saya fokuskan untuk bergerak di bidang digital aja. Memberikan kursus tentang materi digital, untuk membantu guru meningkatkan kinerjanya di sekolah dan mencetak calon perempuan pengusaha baru di dunia digital kreatif.
Dengan keputusan ini, maka saya harus maju sendiri. Jika melihat profil lembaga pendidikan serupa, sepertinya banyak sekali yang harus dipersiapkan dan itu mahal. Ajaib dan mustahil rasanya saya sanggup. Namun saya kembali ingat dua perempuan yang memberikan inspirasi.
Pertama, Bu Aisyah dan profil sekolah gratis khusus anak perempuan yang dikelolanya. Kalau tidak salah lokasinya di daerah Jawa Barat. Dari beliau sebuah nasihat saya catat, "Mendidik Satu Perempuan Artinya Mendidik Satu Generasi".
Kedua, bu Ratih dan kursus rias di Surabaya. Waktu itu saya berkunjung ke rumahnya atas rekomendasi kakak, ketika saya akan menikah dan mencari perias. Rumahnya kecil sekali, masuk gang kecil dan ruwet; bisa dibilang gang tikus. Di rumah kecilnya itu, penuh dengan etalase besar berisi baju pengantin dan perangkat make up. Space untuk tamu, hanya sebuah sofa kecil, itu pun ada beberapa blangkon disana. Yang menarik, di space kecil itu, saya sebagai tamu, harus berbagi tempat dengan dua pasang perempuan yang sedang belajar rias pengantin. Riasannya bagus dan cantik sekali. Menurut bu Ratih, mereka adalah peserta kursus. Dari beliau saya mendapatkan pelajaran, "Memulai Sebuah Kursus Bisa dari Tempat Yang Sederhana".
Dari sini saya mendapatkan inspirasi dan semangat, bahwa sekarang pun saya bisa mulai membuka kursus di rumah. Dengan bekal niat, sebuah netbook mini, televisi dan ruang tamu di rumah sendiri.
Kendala Yang Saya Hadapi
Namun ternyata, saya mempunyai kendala. Netbook saya ukuran layarnya sangat kecil. Dengan layar kecil, tampilan presentasi akan terbatas dan terpotong. Terlebih jika saya ingin membuat screenshoot tiap tahapan belajar sebagai materi tutorial/kursus. Saya butuh laptop yang lebih besar atau saya butuh komputer, begitu pikir saya.
Screenshoot Terbatas Karena Layar Netbook Saya Kurang Besar
Selain itu, beberapa kali netbook saya nge-hang karena "panas" jika dipakai untuk waktu lama. Teman saya yang programmer, menganjurkan jika di rumah lebih baik menggunakan komputer saja, karena lebih stabil. Namun suami saya bilang, kalau komputer itu butuh listrik yang banyak, juga tempat yang lumayan besar. Sedangkan ukuran space bebas di ruang tamu kami hanya sekitar 3x6 meter. Juga perlu pertimbangan modal keuangan kami masih terbatas dan harus dibagi dengan keperluan lain.
Jadi gimana nih?
Apa niat harus berhenti karena berbagai kendala?
Saya sudah terlatih untuk terus maju walau fasilitas belum ada.
Bondo Nekad, Bonek, Modal Nekad, gitulah maksudnya. Jadi, ayo maju terus....!
Perangkat Komputer Penunjang Bisnis Yang Saya Butuhkan
Analisa kebutuhan komputer yang sudah kami bicarakan adalah, komputer yang spesifikasi-nya bisa untuk pemrograman dan desain grafis, layar lebar, audio bagus untuk merekam tutorial atau presentasi, hemat listrik, hemat tempat, harga terjangkau.
Tabungan pribadi saya tak seberapa, maka harus sangat hati-hati memperhitungkan pengeluarannya. Setelah semedi dan browsing kesana-kemari, alhamdulillah akhirnya saya nemu satu perangkat yang tepat bahkan sangat tepat.
Perangkatnya adalah komputer model baru, canggih, keren, kompak, yaitu PC All in One ASUS Vivo AiO V200IB. PC All in One berbasis Intel Pentium Processor ini dibandrol dengan harga sekitar 5 juta-an. Nah, dari segi harga, sudah cocok, bagaimana spesifikasinya?.
Amaziingg...saya amazing melihat foto produk, video review dan spesifikasinya. This is it, inilah yang saya cari.
PC All In One ASUS Vivo AiO V200IB
PC All in One ASUS Vivo AiO V200IB,
gambar dari web https://www.asus.com/AllinOne-PCs/Vivo-AiO-V200IB/
Dari video review produknya, saya makin terkiwir-kiwir, jatuh cinta lahir batin, beneran sumpah.
Anak saya sampai heran, kenapa saya jingkrak-jingkrak sambil narik-narik sarung suami saya, saking senengnya. Loh kok sarung sih?
Hehehe, doski baru pulang dari masjid soalnya waktu saya nemu informasi tentang PC All in One ASUS Vivo AiO V200IB ini.
"Mas, mas, lihat lihat nih, cocok dengan yang aku butuhkan untuk bikin kursus!"
Semua Yang Saya Butuhkan Ada di PC All in One ASUS Vivo AiO V200IB
Jadi begini, PC All in One itu adalah PC yang CPU-nya udah jadi satu dengan monitornya. Sekilas penampakan seperti monitor saja, atau malah seperti televisi. Nah, PC All In One ASUS V200IB bentuknya kompak, stylish juga kokoh. Bisa diletakkan dengan rapi di rumah saya dengan satu meja panjang. Cukup deh bikin kursus di rumah saya yang mungil.
PC All In One ASUS V200IB ukuran layarnya gede juga; 19,5 inch. Dilengkapi layar LED-baklit yang menawarkan kecerahan sehingga gambar tampak hidup. Sesuai juga dengan kebutuhan saya, untuk membuat rekaman desktop atau merekam diri sendiri sebagai video tutorial. Juga enak untuk kelas digital dengan tele-conference atau video chat. Kursus online makin enak dilakukan dengan layar lebar.
Keren nih, ada juga teknologi layar sentuh 10 jari. Kalau mau edit gambar mudah kan, nggak perlu beli drawing pad lagi. Peserta kursus juga pasti bakal suka. Untuk presentasi juga pasti mudah dan menarik.
Gambar bagus kalau suaranya pelan ya kurang asik kan? jangan kuatir deh. Pakai PC All in One ASUS V200IB ini suaranya ciamik. Teknologi ASUS Sonic Master nya udah built in. Malah bisa diatur 5 mode loh, untuk music, movie, gaming, recording dan speech. Lengkap pokoknya.
Dengan Intel Premium Processor- ASUS V200IB hanya membutuhkan energi yang kecil (hemat listrik) tapi performa tetap bagus. Untuk multitasking juga kuat, perpindahan cepat dan halus. Mau browsing, sekaligus nonton animasi, sambil ngedit video...bisaaaa banget. Ditambah lagi Advanced NIVIDIA Ge Force Graphic 930M yang digunakan. Menampilkan atau membuat video HD bisa lebih cepat. Juga hemat waktu kalau mau mengirimkan foto berkualitas tinggi.
Yang amazing lagi, teknologi NFC nih. Dengan teknologi ini (dari video reviewnya diatas), kita bisa melihat gambar hasil jepretan henpon tanpa perlu kabel data. Cukup henponnya diletakkan seperti di gambar, maka log in dengan tap, dan bisa kita nikmati gambar atau file lain di henpon langsung ke layar monitor. Ajaib ya?
Pernah kagum dengan charger henpon wireless atau tanpa kabel? nah ini dia, di ASUS V200IB bisa dilakukan loh. Kita lagi kerja pake komputer kompak ini, sambil sekalian nge-charge henpon. Nggak pake repot, nggak pake kabel dan beneran meja kita jadi rapi jali. fiuuh, canggih banget sih ASUS..
Jika bekerja di bagian desain grafis, pasti butuh akses file gambar banyak. Juga untuk programmer, itu file codingnya juga gede banget. Biar aman biasanya disimpan di harddisk eksternal. Nah, port USB dari ASUS V200IB ini ada banyak. Bahkan port HDMI juga ada, biar bisa disambungkan ke televisi dengan layar lebih besar, jadi kerjaan mengajar atau presentasi bisa lebih leluasa.
Teknologi pembaca Smart Card juga keren. Biasanya kita nunggu transfer data sampai ngantuk..karena lama. Nah pake ASUS ya gpl deh, ga pake lama.
Pokoknya kerjaan beress tuntass dengan ASUS V200IB Spesifikasi PC All in One ASUS V200IB ini sesuai dengan materi kursus yang akan saya berikan:
Materi Microsoft Office untuk bisa buka usaha jasa pengetikan
Membuat Blog dan mengoptimasikannya
Membuat konten digital untuk personal atau pengajar (guru)
Membuat kelas virtual dengan platform digital learning (guru)
Membuat web design dan belajar front end programming
Membuat aplikasi berbasis android
Keenam materi digital itu, saya olah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan tahapan pemula dan lanjutan (advance). Sementara sasaran peserta selain perempuan pada umumnya (ibu rumah tangga dan profesi lain), juga para pengajar (guru) dan penyelenggara bimbel yang ingin meningkatkan usahanya di ranah digital.
Strategi belajar juga akan menggunakan metode Blended Learning, yaitu kombinasi kelas tatap muka dan kelas online. Peserta bisa mengulang materi belajar secara mandiri di rumah, melalui website dan sumber belajar yang sudah saya siapkan.
Skenario Usaha Ada 3 Tahapan
Perkara perangkat sudah beres, saya tinggal memantapkan desain skenario usaha kursus yang ingin saya kembangkan. Karena harga produk juga sudah ada, mudah bagi saya menghitung rencana bisnis dalam jangka waktu 3-5 sampai 10 tahun ke depan.
Skenarionya begini:
1-3 tahun, Tahap Inkubasi.
3-5 tahun, Tahap Pemantapan.
5-10 tahun, Tahap Pengembangan.
Tahap Inkubasi
Masa ini, kursus dimulai saat ini juga, dengan perangkat yang ada. Rencananya, saya hanya membutuhkan perangkat berupa:
PC All in One Asus untuk membuat konten digital/materi kursus dan presentasi (untuk saya pribadi sebagai pengajar).
Kabel HDMI untuk menyambungkan PC All in One Asus dengan televisi
Televisi (sudah ada)
Ruangan (belajar dengan lesehan di lantai).
Laptop dibawa oleh masing-masing peserta kursus
Akses internet dengan wifi kabel (sudah ada)
Dari masa inkubasi ini, evaluasi dilakukan untuk memantapkan fokus materi kursus, strategi pengajaran yang sesuai dengan peserta dan perangkat yang dibutuhkan.
Tahap Pemantapan
Modal untuk penambahan perangkat dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk renovasi ruangan dan tambahan perangkat. Rencananya fasilitas yang akan diwujudkan adalah:
6-12 unit PC All in One ASUS untuk peserta
LCD Proyektor
Meja panjang untuk peserta dengan sudah disediakan PC All in One Asus
Akses internet dengan wifi kabel (sudah ada)
Lokasi masih di rumah
Pengajar tambahan diambil dari alumni
Tahap Pengembangan
Di tahap ini kursus sudah mapan, baik dari segi manajemen dan sistem usaha juga dari keuangan. Ada 3 hal yang ingin saya kembangkan dari sini, yaitu Franchise, Kredit PC All in One dan Cafe Coding.
Franchise adalah projek untuk mereka yang sudah punya modal dan memenuhi ketentuan yang kami berikan. Selain sistem usaha, kami juga menyediakan perangkat berupa PC All in One ASUS, LCD Projector, Kabel HDMI, dll.
Kredit PC All in One Asus, kami tujukan pada alumni yang ingin mulai membuka usaha sendiri di rumah dengan modal terbatas. Mengingat saya sendiri juga pernah mengalami kendala yang sama ketika akan memulai usaha.
Cafe Coding adalah projek entertainment dan komunitas alumni yang perlu dijaga loyalitasnya sehingga usaha kursus tetap bertahan lama. Cafe ini berisi spot makanan dan spot ngoding, salah satu materi kursus. Spot ini berisi beberapa unit PC All in One ASUS, yang bisa digunakan oleh pengunjung. Disini juga diberikan ruangan untuk presentasi bagi para komunitas yang ingin membuat workshop atau launching produk baru.
Mengapa 3 tahapan?
Kalau melihat skenario bisnis saya, kesannya lambat ya? 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun.
Hal ini bukan karena saya kurang percaya diri, namun saya memang menyesuaikan langkah. Ibaratnya saya tidak tancap gas pol, melainkan perlahan tapi pasti.
Kenapa?
Tentu saja karena saya masih harus menjadikan anak-anak dalam skala prioritas. Saya ingin bisa membimbing anak dalam belajar sampai di tahapan sekolah yang aman, minimal SMA, baru bisa saya lepas mandiri 100%. Sekarang anak terkecil saya masih berusia 10 tahun masih kelas 4 SD. Jadi 3 tahapan skenario itu saya buat, agar tetap seimbang antara bisnis dan keluarga.
Mengapa hanya perempuan?
Sejak awal saya menyatakan, ingin terlibat dalam projek pengembangan perempuan, baik secara pendidikan dan kemandirian. Selain itu di tahapan inkubasi dan pemantapan, keduanya saya lakukan di rumah. Selain karena saya ingin berbagi untuk perempuan, saya juga harus menjaga kehormatan suami dan keluarga. Akan lebih elok jika interaksi intens terjadi sesama perempuan saja ketika di rumah. Jika usaha sudah berkembang, saya akan meng-handle-nya langsung bersama suami dan dua anak laki-laki saya, maka bisa lebih luas jangkauan peserta kursusnya.
Mengapa di semua tahapan tetap setia dengan PC All in One ASUS?
Dengan suami saja setia, kenapa dengan ASUS enggak?
#eaaa....
Saya sudah percaya dengan kualitas ASUS. Waktu kuliah pasca kemarin, dosen saya, pak B julukannya, sering memamerkan laptopnya pada kami. "Walau semua udah ganti, saya selalu setia sama ASUS. Nih laptop bandel banget!", begitu katanya. Dan beberapa teman juga memilih ASUS. Saya pun yakin takkan salah pilih untuk selalu menggunakan produk ASUS untuk kepentingan pribadi maupun usaha dan bisnis. Recommended windows desktop brand loh nih ASUS.
ASUS Desktops – Most recommended Windows desktop brand.
Apalagi produk ASUS PC All in One yang canggih dan keren itu. Kekuatan komputasinya dapat menunjang bisnis tradisional dengan teknologi terkini berupa layar sentuh 10 jari,
koneksi port serial (COM), modul NFC dan pembaca Smart Card untuk mendukung aplikasi bisnis. Juga, karena bodinya ramping dan kompak, menjadikan produk ini sempurna untuk bisnis yang memiliki keterbatasan ruang area kerja. Cocok sebagai penunjang rencana untuk memulai kursus di rumah minimalis. Baiklah semua spesifikasi PC All in One ASUS V200IB sudah saya ulik sedemikian rupa. Dan hasilnya sesuai banget dengan kebutuhan saya membuat kursus. Alhamdulillah, untung saya ketemu ASUS. Sudah kebayang kelak kursus saya pasti bisa berjalan asyik, seru, menarik dan maknyuuss.
keterangan:
Artikel ini diikutsertakan dalam ASUSPRO Intel Writing Competition, dan alhamdulillah mendapatkan Juara 2 untuk kategori All in One. Semoga ASUS makin jaya, dan kursus saya bisa segera dimulai dengan materi belajar yang makin enak dibaca. Terima kasih dan sukses ya ASUS