Podcast Bu Heni

Tampilkan postingan dengan label odop. Tampilkan semua postingan

Ngobrol Dengan Anak Sepulang Dari Acara Isra' Mi'raj: Sholat Adalah The Main Keyword

3 komentar
Hikmah Isra' Mi'raj: Sholat adalah The Main Keyword. Satu kata kunci yang saya dapatkan ketika ada pengajian Isra' Mi'raj di kampung rumah saya.

Momen Isra' Mi'raj kali ini sangat istimewa buat saya. Karena setelah acara selesai, saya bisa ngobrol enak dengan si anak bujang alias anak sulung saya yang udah kelas 9. Udah berkumis yaaa nih bocah.

Kali itu, kami membicarakan tentang isi acara yang sudah kami hadiri bersama-sama.

Tepat membuka pagar, nih anak sedikit ngedumel.

"Kok pak ustadznya menjawab gitu ke pertanyaan mama sih ya? kan nggak semudah itu jawabannya.", begitu katanya.

Ya, waktu itu saya bertanya.
Bagaimana sebaiknya mengatur waktu kita sholat, ketika sedang dalam acara seperti seminar atau pelatihan. Apalagi jika kita menjadi narasumbernya. Biasanya sholat dhuhur bisa diatur. Akan tetapi untuk sholat ashar kan di tengah acara. Mau sholat duluan, takutnya dianggap nggak profesional karena berhenti di tengah acara. Atau takutnya tidak menghargai waktu peserta yang mungkin non muslim jadi tidak sholat kan? Tapi kalau ditunda sholat asharnya, biasanya bablas mepet maghrib.
Sedangkan mengambil cara sholat jama' atau qasar tidak memenuhi syarat.

Waktu itu pak Ustadz menjawab, agar kita mengingat kembali pentingnya sholat.

Bahwa sholat itu adalah perintah yang diberikan langsung oleh Alloh SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW. Jadi itu adalah perintah yang sangat penting.

Analoginya begini:
Bandingkan jika presiden mengirimkan Surat perintah melalui pos/kurir, atau memberikan surat perintah langsung dengan kita dipanggil ke istana menghadap presiden.
Tentu, menghadap langsung adalah perintah yang lebih penting.

Begitu juga sholat.

Nah, karena sholat itu penting, maka kita harus menomorsatukannya.

credit pic


Kemudian pak Ustadz menambahkan adanya kalimat dari Alloh SWT yang tertuang dalam sebuah Hadits Qudsi,

 "siapa yang menomorduakan AKU, 
silahkan mengurus sendiri hidupnya"

Nah, jawaban ini yang makjleb banget dalam hatiku.
Siapa berani euy mengurus sendiri hidup kita ini? siapa kita? siapa saya atuuhh...

Selanjutnya beliau menekankan bahwa, Profesional kepada Alloh SWT harus didahulukan daripada profesional kita kepada manusia.

Dari situ, langsung di batin ini muncul keberanian untuk menomorsatukan sholat jika ada dalam kondisi tersebut. Sedangkan caranya, bisa dicari siasat atau kesepakatan dengan peserta atau pihak panitia.

Yang pasti, harus ada juga akal bagaimana agar waktu untuk wudhu dan sholat tidak terlalu lama. Jadi misalnya, untuk outfit atau baju saya, harus mudah dilepas dan digunakan lagi dengan rapi pasca sholat. Atau sekalian menggunakan baju yang bisa dijadikan "mukenah". Seperti gamis, outer panjang dan khimar. Bismillah, semoga bisa sampai ke level dimana berbusana karena ingin memudahkan proses sholat. Doakeun ya emak gahar yang awam ini ya kawan...amiin.

Kembali ke protes anak saya,dia mengatakan bahwa kalau gurunya menjawab pertanyaan saya akan seperti ini,"islam itu nggak hanya hablum minallah tetapi juga hablum minannas. Yang artinya, tidak hanya berhubungan dengan Alloh SWT, tetapi juga dengan manusia. Dan hablum minannas itu rumit. Karena berhubungan dengan manusia itu lebih rumit daripada berhubungan dengan Alloh SWT."

Ya, jawaban anak saya ini masuk akal juga. Waktu itu saya jelaskan, untuk kondisi pengajian saat itu dan kondisi "audience", tidak memungkinkan menjawab seperti itu atau sedetil itu. Karena pesan utama pengajian adalah menekankan kembali keutamaan shalat.

Setelah itu, saya melanjutkan obrolan ringan dengan si anak bujang ini, sambil makan nasi berkatan dari pengajian tadi. Rasa asin dari mie goreng dan ayam rica-rica tidak begitu terasa, karena ngobrol dengan anak yang sudah remaja ini sangat berharga dan manis bagi saya. *emak terharu.

"Mas, kita perbaiki sholat kita ya. Mama juga nggak sempurna, Apalagi sejak kecil mama kurang akses belajar ilmu agamanya, masih lebih bagus kamu. Apalagi nanti kalau kamu sudah mondok, mama juga pasti akan makin berbenah diri."

Anakku itu mengangguk pelan dan mengunyah makanannya dengan tenang.

"Sebentar lagi kamu ujian nasional. Yang penting sekarang kita baguskan sholatnya ya. Berdoa biar lancar ujiannya dan masuk ke sekolah yang kita tuju. Siapa tahu, makin bagus sholatmu, kamu akan diberikan berbagai kemudahan dan prestasi di luar dugaan. ya mas.."

Bagitulah percakapan saya dengan anak sulung, lelaki remaja usia hampir 15 tahun ini.
Antara jadi ibu, jadi teman, kadang kudu rada sendu manja seperti kekasihnya kelak. Begitulah utak atiknya gaya parenting saya yang lebih mengedepankan menjadi pendamping anak, dan memberitahukan kondisi saya apa adanya.

Ya, begitulah saya mamak yang awam banget ilmu agamanya.

Semoga nanti, kelak, anak-anak saya yang menjadi guru terbaik untuk saya.
Dan saya siap berproses bersama mereka, termasuk untuk meningkatkan kualitas sholat.

Bagaimana dengan anda?



Ngeblog Di Handphone, Bisa Nulis Kapan Saja dan Di Mana Saja

6 komentar
Bagaimana tips ngeblog yang paling asyik darimu? 

Jawaban saya: pake HP.

Gadget yang bisa mengakses internet sudah tersedia dalam berbagai bentuk. Selain komputer dan laptop, perangkat mobile bisa berupa ponsel pintar (smartphone), tablet, ipad, iphone. Dengan sistim operasi berbasis android dan ios.

Mobile gadget ini yang sangat membantu para blogger yang punya banyak tugas negara seperti saya. Yaitu tugas ke pasar, memasak, bengong depan mesin cuci atau bengong di depan gerbang sekolah waktu menjemput anak.

Terlebih lagi, jika masih punya anak bayi atau balita. Ngasuh anak, njaga anak, menyusui anak tentu memakan waku yang tidak sedikit. Antara satu jeda waktu ke jeda lainnya tidak bisa diprediksi. Jadi, jika ibu-ibu ingin produktif menulis termasuk membuat postingan blog, harus cermat menyiasati dan memanfaatkan jeda waktu yang ada. Cara termudahnya bagaimana?

Yaitu dengan teknik Ngeblog Di Handphone.

Apakah bisa?
Bisa.

Ada 3 teknik ngeblog di handphone, yaitu:
1. Ngeblog dari browser internet hp, misalnya google chrome, UC Mini, atau internet browser bawaan hp. Tinggal buka www.blogger.com, buka dashboard blog lalu buat entry baru.

2. Ngeblog di aplikasi blogger yang sudah diunduh dari playstore. Caranya juga sama dengan nomer 1 diatas. Tinggal buka aplikasi, buka dashboard, lalu buat entry baru.

3. Ngeblog dari email. Nah ini cara termudah sebenarnya, cuma kita tidak bisa mengedit layout tulisan. Caranya dengan terlebih dulu masuk ke setting dashboard blogger. Atur nama email blogger dari satu blog yang dituju. Satu blog mempunyai satu nama email blogger khusus. Contohnya: blogheni.xxxx@blogger.com.
Lalu, dari aplikasi Gmail, kita tinggal membuat Email baru seperti biasa, dengan nama email yang dituju adalah email blogger seperti diatas. Hasil tulisan bisa langsung dipublish atau dijadikan draft saja, tergantung pilihan di setting.

Untuk jelasnya, akan saya buat video tutorial 3 tahapan diatas.

Dengan cara ini, ngeblog jadi lebih mudah. Memang sih, butuh latihan keluwesan dan kecepatan jempol untuk mengetik di keyboard handphone atau tablet. Namun, lama-lama akan terlatih juga kok. Jadi, kita bisa ngeblog kapan saja dan dimana saja. Ide brilian, unik dan keren bisa langsung diwujudkam menjadi tulisan, sekaligus foto terkait yang lebih aktual.

Seperti waktu saya ngeblog sambil jagain keponakan baru saya ini nih,
Semoga menginspirasi.
Heni Prasetyorini

Bagaimana Kau Menceritakan Tentang Dirimu Kepada Cucumu Kelak?

2 komentar
Di sebuah buku motivasi, saya menemukan pertanyaan ini:
"Bagaimana anda akan menceritakan tentang diri anda sendiri kepada cucu-cucu anda kelak?"

Pertanyaan yanh daleeem banget kan ya?
Mikirnya jadi lamaa gitu.

Iya ya, sekarang aku (cuma) gini-gini aja. Belum ada prestasi. Nanti kalau ketemu cucu, mau cerita apa ya?

Cu, nenek ini biasa ajalah hidupnya. Nrimo ing pandum. Udah aman jadi ibu rumah tangga. Yaa, nenek cuma ngurusi kakekmu, bapakmu lalu nonton sinetron Uttaran di tivi. Lanjut sinetron Turki, infotainment. Sesekali ya arisan sama ikutan temen nenek keliling mall, olahraga.

Nggak mau ah, nada ceritanya begitu.

Saya ingin, punya nada yang bisa dijadikan inspirasi, pedoman dan kebanggaan oleh anak dan cucu saya kelak.
Caranya bagaimana?
Ya, sejak sekarang inilah saya mengupayakannya.
Sepakat juga to?

Oleh karena itu, bertahan untuk terus menerus mengembangkam potensi diri adalah tabungan cerita juga buat anak cucu kelak loh.

Cu, nenekmu ini dulu sukaaa sekali belajar loh. Waktu SD, nenek udah begadang buat belajar. Nggak ada yang nyuruh. Sampai SMA nenek ini malah mati-matian belajarnya. Kalau weekend, sabtu minggu, liburan sekolah, nenek bukannya gaul. Tapi malah lembur depan meja belajar. Dari subuh sampai tengah malam. Adaa aja yang nenek kerjain. Bikin catatan baru, ringkasan yang bertautan, bikin jadwal belajar untuk ujian yang baru ada 3 bulan ke depan. Nyusun rencana mau kuliah dimana. Dan sebagainya.

Malah ya, waktu kelas 3 SMA, nenek lebih sadis lagi belajarnya. Udahlah merantau sendirian di Jombang. Kalau Senin - Jumat sekolah dan les biasa di sekolah. Sabtu, jam 1 pulang sekolah, trus maksi, jam 2 siang naik angkot dan biskota menuju Surabaya. Sampai disana, biasanya jam 8-9 malam. Karena Sabtu macet. Udah sampai rumah mbah buyutmu, nenek nih mandi, makan malam, lalu belajar lagi. Buat apa? Buat persiapan pretest di bimbel reguler untuk anak luar kota, di Surabaya. Nah, besoknya, hari Minggu pagi, nenek berangkat. Lalu ikut bimbel mulai jam 8 pagi - 2 siang. Trus langsung naik angkot dan bis kota lagi, balik ke Jombang. Sekolah. Gituu terus sampai satu tahun.

Alhamdulillah, perjuangan nenek ada hasilnya. Nenek ketrima kuliah di tempat yang bagus, di Bandung. Di jalan Ganesha. Padahal cu, sekolah nenek notabene di desa. Waktu tryout bareng anak Surabaya sering diledekin, di bully. Diremehin. Tapi gpp, maju aja terus. Jangan tumbang dengan hinaan orang.

Lalu, nenek kuliah di Bandung. Merantau lagi. Sendirian lagi nggak ada satu pun sanak saudara di Jawa Barat atau Jawa Tengah. Nenek ini bonek aja, bondo nekad. Bismillah niat belajar.

Alhamdulillah, belum lulus sebenarnya nenek udah diterima kerja di LIPI, di laboratorium biomolekul, di Bandung. Nenek waktu itu membantu kepala Balai-nya riset tentang DNA bakteri typhus. Udah mau dikirim S2 ke luar negeri sih katanya juga. Eehh tiba-tiba nongol tuh bapakmu di perut nenek yang udah nikah sebelum lulus sidang sarjana. Karena kakekmu kasihan, nenek sendirian di Bandung, jadi deh balik ke Surabaya.

Cu, kalau udah jadi ibu, memang harus mau berkorban demi anaknya. Itu tanggung jawab. Tugasmu merawat anakmu. Bukan tugas nenek ini loh. Kalau kamu yakin dan amanah, pasti jalan lain akan terbuka lebar.

Nggak usah bingung atau minder kalau milih tinggal di rumah saja. Atau jadi, Stay at Home Mom gitu, gpp bangeet.
Sekarang jamannya digital kreatif. Apa aja bisa kita lakukan untuk berkarya. Asalkan kamu sungguh-sungguh, tekun dan sesuai passionmu, pasti akan berprestasi dan bisa mandiri.

Udah ah ceritanya, ayo kita ngoding lagi.
Besok deadline klien kita minta kiriman desain websitenya.
Lumayan, buat tabungan kamu nanti melahirkan.

*Begitulah kira-kira obrolan saya dengan cucu perempuan saya yang memilih jadi ibu rumah tangga yang kerja di rumah. Dan yang telah belajar Coding pada saya.

Dari Coding Mum menjadi CodingGrandma :)

Semoga menginspirasi.
Heni Prasetyorini.

Oogway dan Katara, Dua Tokoh Fiksi Yang Menginspirasi

1 komentar

Master Oogway memejamkan mata. Masih dengan tenang dia menjawab cemoohan musuhnya yang gagal mengalahkannya. Jawaban master Oogway, kura-kura tua gurunya si Kungfu Panda itu nanceep banget di hati saya.

"Memang bukan aku yang ditakdirkan untuk mengalahkanmu."

Wow, master. Yang ilmu kungfunya mumpuni. Tidak masalah jika dia bukanlah jalan solusi dari semua masalah. Jadi tertohok, nyadar. Teringat lagi saran seorang teman. "Bantu dirimu sendiri dulu, Hen, baru bantu orang lain."

Ya, mereka berdua benar.
Saya pernah ada di masa ingin jadi "superhero". Segala ada masalah, langsung dipikirin dan maju ke depan. Pasang badan. Merasa wajib jadi pahlawan. Ga peduli diri sendiri lapar, capek,pusing atau jadi banyak pikiran.

Merasa bersalah jika tidak berbuat sesuatu itu, yang menjadi motivasi saya jadi (sok) pahlawan. Hasilnya? Lebih banyak nggak sesuai harapan. Yaa, namanya hidup orang coy, nggak bisa dalam kendali. Mau sejontor apapun bibir kita ngasih edukasi, yang namanya karakter ya karakter. Udah deh, saya mengamini master Oogway saja. Jika belum bisa mengulurkan tangan, mungkin bukan saya yang ditakdirkan jadi jalan.

Dengan ini, saya jadi tenang.
Makin tenang, kuat, kalem dan mengikuti arus air. Saya juga berusaha tegar dengan segala kondisi pahit yang telah terjadi dan yang akan datang. Masih punya akal sehat dan hati nurani "keibuan" seperti Katara Sang Pengendali Air.

Katara.
Dengar nama Katara saja, saya suka.
Jika ditakdirkan mendapat anak perempuan,  mungkin akan saya beri nama Katara Mumtaz deh :)

Saya suka gestur Katara yang tenang, sigap dan kuat dalam mengendalikan air. Dengan gerakan Chi, Katara mampu mengendalikan air, uap air dan es. Sehingga bisa melindugi sekaligus menyerang.

Gitu deh asiknya. Kalem aja kalau mau ngapa-ngapain. Tenang belajar sepenuh hati. Berlatih tiada henti. Dan berisiklah hanya dengan karya asli.

Itulah tokoh fiksi yang menginspirasiku.
Bagaimana dengan anda?

Semoga menginspirasi.
Heni Prasetyorini

Anakku Ingin Masuk SMK dan Saya Jungkir Balik Untuk Mendukungnya

2 komentar

Di keluarga besar kami, belum ada satu pun generasi kedua yang masuk SMK. Sekolah Menengah Kejuruan.
Yang ada, kakak perempuan saya no. 2, dulu masuk SMEA Swasta pinggiran. Dan itu bukan karena pilihan, melainkan karena nilainya kecil, tidak diterima di SMA Negeri.
Jadi, persepsi keluarga besar kami masih begitu. SMK adalah pelarian karena tidak diterima sekolah umum negeri.

Awalnya, saya dan suami juga merancang hal yang sama. Sealur dengan kami berdua, kami ingin anak-anak kami juga begitu. Masuk SD,SMP, SMA, kuliah, kerja.
Akan tetapi, saya mulai melihat gelagat berbeda dari anak sulung saya. Sampai suatu saat, ketika dia hampir naik kelas 2 SMP, dia bilang kalau nanti lulus, mau masuk SMK saja.

"Aku ingin tiap hari bisa "main" komputer, ma."
Itu alasan yang dibuat anakku.

Main disini, bukan sekedar main game atau main-main. Tetapi dia ingin mengeksplorasi komputer, internet, software, dunia animasi dan game developing.

"Aku ingin jadi hacker!"
Itu kalimat spontan yang dia ucapkan beberapa kali.

Hacker?
Anakku mau jadi penyusup ke database orang?
Merusak jaringan keamanan negara?
Haduh, panik. Saya panik. Terlebih suami saya, dia jauh lebih panik. Sekuat tenaga dia menolak rencana anak saya. Dia berusaha meminta saya membujuk anak saya. Dan itu saya lakukan juga.

Note: belakangan saya ketahui kalau penyusup itu bukan hacker namanya, tapi crack'er. Kalau hacker baik konotasinya. Begitulah, saya juga belum begitu paham :)

Namun, sejak mula saya tidak ingin jadi ortu yang otoriter. Saya pun tak mau hanya nuruti alur mainstream yang dianut kebanyakan orang. Saya punya patokan dan kekaguman luar biasa, kepada siapa saja yang mempunyai profesi yang disukai. Entah itu pelukis  penulis, penjual tahu tek legendaris atau bahkan guru.

Saya suka sekali mengamati pancaran mata mereka, nada bicara yang berapi-api, ketika menceritakan pekerjaannya. Profesinya. Bukan jumlah harta bendanya. Saya ingin anak-anak saya seperti mereka.

Maka dari awal, saya berusaha mengamati minat dan bakat anak-anak saya. Dan sebisa mungkin saya arahkan.

Kembali ke anak sulung saya. Dia memang punya minat dan bakat besar pada dunia komputer dan Teknologi Informasi.

Saya ingat, waktu dia masih umur 3 tahun, sudah bisa mengganti screen saver komputer, tanpa diajari siapapun. Dia hanya mengamati saya dan bapaknya ketika ngetik di komputer.

Lalu berkembang dia main game di komputer. Serta apa saja dia oprek. Sampai ada file ilang, hard disk rusak bahkan motherboard yang harganya lumayan itu, kudu ganti beberapa kali.

Untuk mengatasi kegemaran main game, saya arahkan dia menulis review di blog. Namun, akhirnya dia memilih membuatnya di you tube. Dan itu semua prosedur, aplikasi, software apapun, dia pelajari sendiri, dia cari sendiri, didonlot sendiri. Kami hanya menyediakan wifi dan menambah spesifikasi CPU.

Bahkan menguprek coding pun dia coba. Itu semua berkat kegemarannya pada game Minecraft.

"Aku ingin jadi programmer!" Sekarang itulah yang ingin dikerjakannya.

Bagaimana saya jungkir baliknya?
Fiuuhhh keringat saya banjir jika mengingatnya.

Pertama, Saya berusaha keras mencari pendukung atau info alternatif bahwa pilihan anak saya tidak salah. Setiap ada kegiatan blogger yang berkaitan dengan game, coding,programer, saya ikuti. Dengan muka tembok, saya hampiri narasumbernya yang biasanya programmer atau game developer.

"Maaf mas, kenalkan saya bu Heni. Anak saya suka game, ingin belajar pemrograman dan ingin masuk SMK. Boleh kita sharing?"

Alhamdulillah mereka pada baeeek semua. Mau ngikutin aja ulah emak-emak kayak saya.

Kedua, saya masih harus meyakinkan suami saya bahwa pilihan anak saya tidak salah. Dan ini beratnya minta ampuun. Suasana rumah jadi tegaaang. Anak saya bete, suami bete. Saya kejepit di tengah.
Perlahan saya yakinkan suami, bahwa saya kenalan dengan para programmer dan game developer. Bahwa persepsi kami selama ini keliru. Mereka bukan sekedar orang malas yang kerjaannya cuma main game.

"Tapi anak kita laki-laki. Harus kerja ngasih nafkah anak istrinya nanti. Kalau SMK ntar nggak bisa kerja bagus. Cuma jadi "pekerja". Nggak bisa kuliah, susah." Begitu argumen suami saya sebelumnya.

Dan jawaban saya adalah, "justru karena anak kita laki-laki, biarkan dia ambil keputusan sendiri. Sesuai minatnya. Sekarang jamannya dunia kreatif. Buanyak peluang kerja terbuka, bahkan mereka bisa bisnis sendiri. Hey, mereka generasi Z, generasi millenial, nggak bisa dipaksa kaku seperti kita dulu. Ayo ikut aku, kenalan sama narsum yang kutemui kemarin itu."

Begitulah seorang ibu ya. Mau ada granat pun berani diinjak demi kebahagiaan anaknya.

Untunglah sekarang pamor SMK semakin naik. Terlebih kakak sulung saya bercerita tentang Jerman. Disana ekonominya kuat karena banyak lulusan SMK yang siap kerja dan buka bisnis sendiri. Beliau pun menggiatkan pentingnya SMK bersama bapak Anies Baswedan, ketika bertemu di Indonesia atau Jerman.

Begitulah. Anak saya ini akademisnya lumayan. Juara kelas dan rangking 3 paralel. Kami dulu yakin, dia akan jadi ilmuwan. Ternyata dia nggak begitu minat otak-atik rumus seperti kami. Tapi sekarang, ilmu IT nya melejit sendiri dan kami tidak paham.

Baru setelah saya ikut Coding Mum kemarin, saya sedikit ngeh dengan kerjaan anak saya.

Sekarang, saya dan suami sudah plong menerima rencana anak saya. Dia sekarang masih kelas 3 SMP atau kelas 9. Anak saya dan saya berkomitmen belajar lebih giat agar tembus ke SMKN 1 Surabaya. Yang kabarnya terbaik untuk jurusan pemrograman. Khususnya jurusan RPL (Rekayasa Piranti Lunak).

Alhamdulillah dari acara Female Dev dari Intel XDK kemarin, saya kenalan dengan YR, alumni SMKN 1 Sby. Gadis manis berjilbab lebar itu, saya akrabi sepenuh hati. Demi informasi, motivasi sekaligus tempat nanya-nanya trik lulus dan dapat masuk PENS ITS tanpa ujian.

Semoga langkah kami tepat.
Mengarahkan anak sesuai minat dan bakat.

Bagaimana pendapat anda?

Semoga menginspirasi.
- Heni Prasetyorini -