Menjemput Prospek Bisnis

Dalam beberapa bulan ini hati saya mulai gamang. Untuk menentukan produk apa yang akan fokus saya tekuni di bisnis JIlbab Orin , yang -Alhamdulillah- sudah saya tekuni hampir setahun di bulan April ini.

*Jilbab Orin* Ulang tahun lhoo.... :)))

Sempat ingin berpindah konsep ke Dunia Anak-Anak. Karena merasa tidak akan mampu berkompetisi di area para fashionita, jika masih bergelut di dunia para wanita trendy.

Alasannya, saya ini mah sejatinya nyaman dengan atmosfer 'perkucelan'. seperti : jins kucel, kaos kucel, muka kucel -- ups.

Saya mendidik diri sendiri untuk tak peduli sangat dengan penampilan. Terutama ketika harus bertahan hidup di perantauan. Berlagak seperti laki-laki, adalah sikap yang paling aman pada saat itu.

Ketika saya utarakan niat untuk hijrah ke produk muslim anak-anak tersebut kepada teman saya, dia nyengir kuda. "hihi biasa mbaakk. kalau orang bisnis tuh di tengah jalan, pasti melirik prospek usaha lain."

Aku tersindir juga. Lalu berkilah, "ah mungkin saja passionku di dunia yang lucu-lucu dan anak-anak. Aku nih macho banget deh, kayaknya ketinggalan mode melulu bakalan nantinya." jawabku kepada temanku yang manis dan asli modis banget penampilannya. cucok deh kalau dia berkutat di bidang fashionita.

Akhirnya, aku mencoba satu dua hal berkaitan dengan dunia anak. Sambil melihat prospeknya. Lalu aku mengevaluasi respon pembeli onlineku. Lho, beda ya. Mungkin segmen Jilbab Orin sudah pas sesuai produk yang kami tawarkan selama setahun ini. Yaitu para ibu-ibu muda.

Dan dalam berjalannya waktu itu juga, munculla info baru dari para calon pembeli : bahwa ibu-ibu muda itu pun suka sama yang lucu-lucu. hihihi...baru aku tahu deh. misalnya kayak jilbab di bordir payung, boneka, lebah, dst.

Lho itu kan sudah pernah aku bikin kemarin?

Keputusan sementara, aku memutar otak agar sasaran Jilbab Orin tetap. Bukan konsepnya yang diubah. Produknya saja yang dibuat beda,

Aku tak punya banyak waktu dan sekaligus nggak hobi banget kumpul sana, kumpul sini. arisan sana , arisan sini dsb. tapi aku tantang saja diriku sendiri : memang wajib ya pebisnis jadi nyonya sosialita?

aku bukan sosialita
tapi aku ingin berhasil dalam penjualan
pasti ada cara lain.

itu saja pikirku

maka aku rajin kembali browsing sana-sini, buka blog baru, website baru. membaca catatan-catatan seputar bisnis, bazar, fashion dan kecantikan.

lambat laun, ketetapan hati itu pun muncul.
akhirnya aku tahu bahwa semua produk kita pasti punya prospek. seperti jilbabku, walaupun ada jenis jilbab yang ajaib bentuknya,dan marak dipakai para muda kala ini, pastilah pasti, peminat jilbab klasik, praktis, manis dan lucu, akan kembali pada kesukaannya tersebut. takkan mati gaya deh pokoknya, itu yang kuyakini

untuk kosmetik Wardah, juga begitu. walaupun ada jenis facial care racikan dokter kecantikan yang harganya ratusan bahkan jutaan ribu, bermunculan di muka bumi ini. yang namanya produk dengan harga terjangkau, aman dan nyaman dipakainya seperti Wardah ini pun, pasti akan menarik konsumennya kembali. dan yang pasti lebih loyal lagi.

terlebih untuk aksesoris.
dengan tidak adanya informasi para pengrajin aksesoris yang sudah berhasil. apapun bentuknya. aku akan merasa dan masih merasa, usaha ini nggak prospek banget. tetapi SUBHANALLAH. dari kota kecil pun, semacam Kediri, jika dibandingkan aku di Surabaya. ada seorang pengrajin yang punya langganan dari Malaysia.

nah lho, apa sih yang nggak bisa dengan internet dan jasa ekspedisi?
minimal selama masih ada Pos Indonesia, dan warnet, hidup kita aman. hehehe

dari aksesoris juga aku melihat adanya prospek lain : yaitu membuka kursus, menjadi pembicara pada seminar dan membuat aksi sosial dari craft, dalah craft for humanity.

semua ini membuatku semakin bersemangat saja. dan semoga bisa jadi inspirasi juga buat anda.

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊