Puisi Semesta Suhadi Dan Dedaunan Dik Doank


Tahun Pertama,
Aku hidup di surga
Ada dua malaikat yang selalu mendampingiku dengan setia
Baru kutahu mereka bernama Mama dan Papa
.........

Puisi tentang anak di tahapan usianya, dibacakan oleh pak Suhadi Fajaray dengan baik sekali. Beberapa kali air mataku merebak di sudut-sudut mata saat mendengarnya. Beliau berkata, "puisi ini saya tulis dengan berlinang air mata". Oh, pantas saja. 

Puisi itu betul-betul bisa kunikmati. Mungkin karena pak Suhadi membuatnya dengan sepenuh hati dan membacanya dengan lebih tulus lagi. Awal seminar parenting dan pendidikan yang memasukkan unsur seni sastra di dalamnya, menarik minatku dan melepaskan dahagaku pada puisi yang telah lama kutinggalkan.

Kuatur posisi dudukku senyaman mungkin. Disampingku ada teman sesama wali murid TK dan adik kandungku serta anak sulungnya. Ya, kami bertiga sedang menjadi tamu undangan istimewa dengan kotak konsumsi berpita, pada acara Seminar Pendidikan Spektakuler. Menjadi Orang Tua dan Guru Cerdas untuk Membina Generasi Emas. Berlokasi di Aula Pondok Pesantren Daarul Muttaqien Surabaya.

Kami bertiga adalah calon wali murid SD Islam Terpadu Daarul Muttaqien Surabaya . Sebagai calon wali murid, kami diwajibkan datang di seminar ini agar kelak mempunyai visi dan misi pendidikan yang senada dengan konsep pendidikan di SDIT Daarul Muttaqien ini. 

Dua narasumber dihadirkan di acara ini, yaitu pak Suhadi Fajaray sebagai founder dari Visi Semesta Education System dan artis serta pemerhati pendidikan - Dik Doank dari Kandank Jurank Doank


Menunggu acara dimulai

Dibuka dengan Puisi Hom Pim Pa
dari santri SMP Islam Terpadu Daarul Muttaqien Surabaya

Puisinya keren banget. Kabarnya juara 3 [lupa dalam lomba apa]. 
Puisi Hom Pim Pa ini intinya bercerita tentang manusia yang selalu plin-plan, labil alias keimanannya naik turun. Selalu bingung ingin berbuat baik apa buruk. Dan untuk mudahnya mereka ber- Hom Pim Pa saja cara memutuskannya. Tidak memperdulikan bagaimana keputusan itu sesuai dengan kehendak Alloh SWT apa tidak. Menarik kan ?

Pembicara pertama adalah pak Suhadi Fadjaray. 

Saking semangatnya mendengar lantunan puisi beliau tentang anak, dan joke-joke segar yang menyindir kesalahan orang tua pada anak, atau istri pada suami dan sebaliknya, saya sampai tidak sempat memfotonya. Padahal saya duduk di baris ke dua dari depan. Tepat di hadapan beliau jika berdiri mendekat ke penonton.

Pak Suhadi menggunakan pendekatan Sirah Nabi Muhammad SAW beserta para keluarga dan sahabatnya di masa keemasan islam, untuk menjelaskan patokan dasar kurikulum keluarga. Dan kembali mengingatkan bahwa anak adalah amanah yang besar sekali dari Alloh SWT.

Akhirnya tibalah giliran si "om ganteng" Dik Doank muncul.

Orasi awalnya dengan menerangkan adanya Ilmu Bulan dan Ilmu Matahari.
Karena beliau adalah artis, tampilnya begitu nyeni, santai dan percaya diri. Ngena banget di hati peserta seminar. 

Dik Doank meminta KH. Achmad Sofwan Ilyas, LC owner Pondok Pesantren Daarul Muttaqien Surabaya , untuk menggambar ikan dari coretan yang beliau buat sebelumnya.

"Abah, di pondok ini tolong jangan tinggalkan seni. Karena seni membuat indah. Dan Alloh SWT suka dengan keindahan. Seni bisa melembutkan hati manusia"
itu pesan Dik Doank berkali-kali kepada kami.

Duo pemerhati umat yang menginspirasi karena keistikomahan dan keikhlasan mereka. Salut. 


1 comments:

  1. Terima kasih banget Bu Heni. Bagi bagi donk ilmu dan pengalamannya. tks. usman, smpt dm.

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊