GUS DUR VAN JOMBANG

Minggu pagi ini cukup luar biasa buat saya. Dengan lancar kami sekeluarga bisa mengunjungi masjid agung Al Akbar Surabaya. Atau lebih sering disebut, masjid Agung saja.
Dari masjid ini saya mampir ke toko buku Mizan, dalam perjalanan pulang. Yang tak disangka sebelumnya kami lewati. Karena di awal berangkat kami lewat tol.



Ini adalah perjalanan pertama saya dan anak-anak ke masjid Agung. Sudah lama kami ingin kesana, tetapi belum tepat juga waktunya. Di masjid ini, kami hanya numpang sarapan nasi pecel di emper jalan masjid dan sekedar duduk berteduh di teras masjid.

Saya tidak masuk ke dalam masjid. Padahal rencana di batin saya jauh hari sebelum berangkat, ingin ngademkan ati di dalam masjid. Sholat, dzikit, tafakur dan terpekur dengan nikmatnya. Namun hal itu tidak terjadi, karena, seperti biasa, dua anak lelaki saya akan gelisah dan ingin segera pulang. Mungkin salah saya juga, tidak memberikan gambaran rencana ke masjid ini mau apa saja. Dan tidak sekedar ingin tahu letak masjid Agung itu dimana, dan beli sarapan disana kalau minggu pagi. Tetapi ya sudahlah, lumayan bisa tau masjid Agung. 

kembali ke cerita toko buku Mizan. Saya dan anak-anak memekik gembira ketika ternyata lewat ke toko buku ini. Sudah lama sekali kami tidak membeli buku baru. Terakhir itu sepertinya beberapa waktu setelah lebaran tahun kemarin. Hmm..sudah hampir setahun mungkin. 

Toko buku utamanya ditutup, yang ada hanya deratan rak buku diskon di emperan toko. Tapi tak apalah, lumayan. Saya sudah mewanti-wanti anak-anak untuk memilih sedikit buku saja, dan buku yang bagus tapi murah saja. Maklum sudah tanggal tua, hehehe.

Salah satu buku yang dipilih anak sulung saya adalah buku ini.
Dan malam ini, gantian saya dan anak saya membacanya. Bagus loh isinya. Saya pernah membaca buku biografi tentang Gus Dur bergenre novel, dan isinya sama dengan komik ini. Saya seneng karena anak sulung saya jadi tertarik dengan Gus Dur. Tokoh penting dan istimewa negeri ini.

Yang terutama semoga berbekas pada anak-anak, adalah Gus Dur suka membaca buku sejak kecil. Bahkan ketika bermain pun selalu membawa buku.

Ah, banyak sekali nasihat manis dari buku ini. Terutama buat saya ya.
Ketika kisah ibunda Gus Dur, yang sering ditinggal pergi berjuang oleh ayah Gus Dur, dijaman perang untuk membela rakyat. Ibunda Gus Dur, dengan tampak biasa saja, mengurusi anak-anaknya dan menjual permen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Begitu juga istri Gus Dur. membantu berjualan kacang untuk memenuhi hidupnya. Mereka dulu miskin, namun bahagia dan yang penting keimanannya begitu kuat. 

Saya ternasehati betul oleh buku ini. Terlebih oleh kisah Gus Dur. Terima kasih untuk para penulis buku biografi tokoh istimewa yang patut diteladani macam Gus Dur ini. Semoga jasa kalian menjadi amal jariyah yang tiada putusnya. 

Belajar Dari Bung Tomo




Bung Tomo berwasiat ingin dimakamkan di makam rakyat biasa. Rakyat yang selama ini diperjuangkan. Maka walaupun sudah menjadi pahlawan, beliau tidak mau dimakamkan di makam pahlawan. Bung Tomo, dimakamkan di makam Ngagel Surabaya.

Siapakah Bung Tomo?
Yang saya ingat, jaman SD dulu, bung Tomo adalah pemimpin gerakan melawan penjajah di Surabaya. Bung Tomo meneriakkan, Rawe Rawe Rantas, Malang Malang Tuntas.

Intinya bung Tomo adalah pahlawan dari Surabaya.

Snapnote saya kali ini mencoba merekam sedikit hal yang baru saja saya lihat di acara TVRI pagi. Sambil rehat setelah mengerjakan pekerjaan domestik, saya nyalakan televisi.

Ada tiga hal dari bung Tomo yang menarik, diceritakan oleh istrinya dan anak lelakinya. Begini cerita mereka.

#cerita istri :
1. Bung Tomo itu romantis dan berhati lembut. Suka menulis puisi. Kecintaan istrinya ini dituliskan dalam bukunya yang berjudul, Bung Tomo Suamiku.


2. Dalam mendidik anak, bung Tomo sangat disiplin. Yang utama itu harus jujur. Tidak boleh bohong sama sekali. Pernah anaknya yang perempuan itu ketahuan berbohong. Lalu dihukum disuruh berdiri di pinggir jalan. Dan setiap ada orang lewat, anak itu harus mengatakan, "saya dihukum bapak karena bohong".

#cerita anak lelaki bung Tomo
- "Pernah suatu hari, saya memainkan pita berwarna merah putih. Karena bermain-main di dapur, akhirnya pita itu terkena api kompor dan terbakar. Bapak saya tahu tentang hal itu, lalu berkata, "warna merah putih itu lambang bendera negara yang kita perjuangkan selama ini. kamu jangan main-main". Lalu bapak meminta saya mengumpulkan abu pita warna merah putih itu, dan menguburnya ke tanah menggunakan sendok. Sejak saat itu sampai sekarang, tiap bangun tidur saya selalu memasang bros bendera merah putih ini ke baju yang saya pakai".

Sebuah cerita yang indah dari jejak pahlawan kita, bung Tomo. Semoga menginspirasi :)