Terapi Bekam

Sakit kepala saya belum reda juga walau sudah banyak obat flu yang saya minum. Bahkan antibiotik pun terpaksa saya telan juga, karena sepertinya flu kali ini bandel.

Mm, cerita penyakit nggak seru juga ya, tapi siapa tau jadi manfaat.

Karena nggak tahan dengan rasa badan yang gak karuan serta sakit kepala bangeet, akhirnya saya putuskan untuk menjalani terapi Bekam.

Sudah lama saya diajak untuk bekam demi kesehatan oleh teman saya seorang survivor kanker payudara. Namun baru kali ini saya berani dan nekad untuk menjalaninya. BErharap penuh ada perubahan.

Saya pun mengontak nomer telepon yang diberikan teman saya, dan datanglah sang umik - terapis bekam ke rumah saya.

Menatap umik saya jadi terharu, jilbabnya mirip model jilbab Teh Ninih jaman saya kuliah di Bandung dulu. Matanya teduh, bicaranya santai hangat. Tapi pijitannya manteb banget walau badannya kurus kecil. Eh biarpun kecil ternyata anaknya udah 5 loh, :)

Satu demi satu cup untuk bekam akhirnya menyedot darah kotor dari tubuh saya, yang kata umik penuh dengan toxic alias racun.

Karena pas dibekam sakit kepala dan migren saya luar biasa menyerang, maka saya mengiyakan saja ketika ditawari untuk dibekam di bagian kepala. Hasilnya, hiyy,...kata anak-anak saya, mama mirip Hell Boy atau Siluman Sapi.

Darah kotor dari bekaman di kepala saya mengucur deras terutama disisi kanan, tempat saya sering migren. Daerah bekam lainnya di pundak dan tangan. Khusus di lengan kiri saya yang tertancap jarum silikon KB Implant, tidak dibekam, karena takut beresiko. Walau saya enteng aja, bilang nggak papa umiik. Beliau menolak, takut ada apa-apa. ya sudahlah.

Maunya saya waktu itu, dibekam di sekujur tubuh sekaligus. Biar ilang deh semua racunnya. Tetapi umik menganjurkan bertahap, karena saya bisa lemas jika kehilangan darah terlalu banyak.

Setelah dibekam, subhanallah wal hamdulillah, ada perubahan besar sekali. Pundak enteng, mata rada enteng walau masih pusing. Saya pun tidur lebih lelap, nyenyak sekali. Sudah lama rasanya tidak bisa tidur nyenyak loh, baru sadar saya. Oh, ternyata saya beneran nggak jaga kesehatan rasanya.

Esoknya pun saya mudah berkeringat ketika beraktifitas. Keringatnya bikin badan seger. Cuma ya itu, sakit kepala dan hidung tersumbat saya masih ada. Sakit kepalanya belum juga reda, saya pun takut ada apa-apa. Maka saya pun lari ke dokter di RKZ Surabaya. Disana saya di diagnosa terserang Rhinitis Akut.

Yaitu semacam inflamasi atau radang di daerah mucosa hidung, disebabkan oleh virus atau bakteri. Anak saya sebelumnya, didiagnosa Sinusitis Bilateral Kompleks. Menderita hal yang sama dengan saya. Lah wong, dia sakit, saya jaga. Akhirnya saya sakit. Eh ternyata virusnya sama.

Anak saya harus menjalani fisioterapi nebul (penguapan) selama 5 hari berturut-turut.
Kalau saya, masih minum obat. JIka tidak ada perubahan berarti, harus foto rontgen hidung dulu dan mungkin akhirnya fisioterapi sama dengan anak saya.

Jika mengingat rasa sakit kepala yang menyerang ini karena rhinitis, apa saya sakit ini dari jaman jahiliyah dulu ya? :)
karena sejak SMA saya sudah sering sakit kepala, terutama ketika kuliah di Bandung.

Wis pokoke bismillah, ada obat untuk semua penyakit. Niat kudu kuat, sehat hanya untuk mengabdi kembali kepada-Nya, Alloh SWT.

1 comments:

  1. Insyaallah sembuh.. Semoga sehat selalu ya, Aamiin yaa robbal alamin :)

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊