The Power of Ngobrol

Sejak kecil saya diasuh dengan aturan yang cukup ketat. Bapak saya tentara, namun yang disiplin justru ibu saya,penjahit dan pedagang. Satu jargon disiplin yang saya ingat sampai sekarang adalah " nek gak sinau, turu". Yang artinya, "kalau nggak belajar, tidur".

Maksud aturannya, di hari efektif sekolah, Senin - Jum'at malam, saya dilarang nonton tivi. Habis maghrib, harus masuk kamar dengan 2 opsi saja : kalau nggak belajar, ya tidur saja. Sabtu malam - minggu sore, boleh nonton tivi. Minggu malam kembali dilarang, karena untuk persiapan hari Senin - sekolah lagi.

Pelanggaran hal ini berakibat fatal. Kalaupun ibu/bapak tidak ngeh, 6 kakak saya akan protes massal. "Aku dulu juga gitu kecilnya, ga boleh nonton tivi, jam segini tidur." Saya pun nurut.

Disiplin lainnya selain aturan nonton tivi adalah tidak boleh main keluar rumah, di hari efektif. Aturan ini sama kerasnya. Dan saya juga manut alias nurut.

Akibat dari nurutnya saya ini, kebawa sampai saya beranjak SMA. Saya tidak suka gaul. Pokoknya belajar, sekolah, pulang, belajar lagi. Itu aja. Gaul hanya di sekolah, di jam sekolah/kegiatan sekolah. Saya pun kurang suka ngobrol ringan, ngabisin waktu. Saya cenderung meremehkan orang yang suka ngobrol, curhat, dan semacamnya. Pada saat itu, pandangan saya ini cukup mempan untuk satu hal : konsentrasi belajar saya terjaga, nilai bagus,lulus tepat waktu.

Ketika kuliah dan merantau jauh, saya mulai merasakan enaknya ngobrol ringan. Ngomongin makan apa hari ini, shampoo anti ketombe apa yang bagus, dsb. Tapi saya masih sangat membatasi diri,karena mentarget diri sendiri untuk lulus tepat waktu.

Masuklah di masa pasca menikah dan saya terjun bebas di dunia ibu rumah tangga. Paradigma 'ngobrol tak berguna' perlahan harus saya kikis. Lama-lama saya menyadari, ngobrol ringan ketika bertemu tetangga, bisa jadi ladang rejeki, ladang amal dan juga informasi. "Masak apa mbak hari ini?, mendung ya - cucian segunung" dan semacam itu. Dengan ngobrol terasa lepas juga sedikit beban kejenuhan rutinitas sehari-hari. Apalagi jika bisa tertawa lepas, plong rasanya. Namun memang di sini kudu memfilter antara ngobrol ringan dan nggosip. Gosip berusaha saya hindari karena menyedot energi negatif yang sangat besar, efeknya malah kurang produktif. Asik ngobrol, cucian menggunung :)

The power of ngobrol ringan ternyata sangat berguna ketika kita bertemu teman dengan kondisi berat secara psikis/fisik. Misalnya, ada teman saya kena kanker payudara. Infonya mendadak, dan sudah ganas stadium lanjut. Saya beda kota dengannya. Sedih juga tidak bisa berbuat banyak karena berjauhan sementara teman lain bisa menjenguknya bergantian. Lalu ada teman lain bilang, "kalau njenguk nanti ngobrolin ringan aja ya, nggak usah bahas penyakitnya".

Nah saya pun dapat ide. Berbekal whatsapp, saya tulis aja cerita ngalor ngidul kehidupan sehari-hari, pada teman saya yang sakit ini. "Bayangkan,aku sedang selonjoran di kasurmu sambil ngemil batagor ya, ini ceritaku." Itu yang saya katakan padanya.

Dan mengalirlah kisah anak-anak saya, resep masakan yang baru saya praktekkan,dsb. Feeling so touchy. Kerasa banget malah bisa ngena di hati masing-masing dengan obrolan ringan ini. Niat saya ingin sekedar menemani hari-harinya menahan rasa sakit, sepertinya terkabul.

Begitulah, di kampus ibu rumah tangga inilah saya belajar mata kuliah "The power of Ngobrol Ringan". Silahkan dicoba :)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendaki Gunung Yang Murah Senyum

"Maaf ya Hen," kalimat itu sering diucapkan Aan sambil nyengir khas. 

foto Aan & Erna (document by Erna)
Sepertinya waktu itu kuliah Kalkulus Dasar I, di sebuah GKU (Gedung Kuliah Umum). Aku melihatnya pertama kali dan terkesan karena kelincahannya berlari turun dari deretan meja atas kebawah. Dia berjilbab tapi nyentrik juga. Jilbabnya pendek, bordirannya seperti ciri khas jilbab orang Sumatera, Sulam Bayang. Yang nyentrik, celananya pakai celana gunung yang banyak sakunya. Dia dipanggil Aan.

Aan ini kayaknya tomboy dan banyak kenalannya di kelas ini. Beda denganku yang dari Surabaya, sering bengong karena nggak punya teman lama. Aan tertawa riang, bercanda ke siapa saja. Baik laki-laki maupun perempuan, dia bersikap sama, begitu akrab.

Lama-lama aku tahu, kalau si Aan ini hobinya mendaki gunung. Wuih, super sekali, ada perempuan suka mendaki gunung. Aku langsung jatuh hati padanya. Bagiku dia wonder woman. Hobinya ini bahkan sering disindir oleh dosen kalkulus kami dengan kata-kata, "isi waktu yang baik, jangan iseng-iseng saja seperti mendaki gunung. Gunung nggak ada apa-apanya kok di daki, mau cari apa?", ujar beliau sambil tersenyum tipis. Kami yang mendengar waktu itu langsung tertawa dan bergumam sendiri, karena tahu target sindiran itu adalah Aan.

Waktu pun berlalu dengan kesibukan kami di kuliah jurusan kimia dan di organisasi himpunan. Entah sejak kapan, Aan ini mulai berubah, bisa dibilang Aan mulai hijrah. Jilbab pendeknya mulai melebar, panjang dan menutupi tubuhnya dengan rapi. Celana panjang pendakinya sudah tidak pernah dipakai sama sekali, berganti dengan rok panjang nan serasi. Kalau waktu itu aku menyebutnya, Aan sudah jadi "akhwat".

Walau sudah jadi akhwat, Aan tetap ceria dan hangat padaku yang masih berjilbab biasa saja dengan celana jins. Hanya kelihatan, Aan berusaha menjaga ketika berhadapan dengan teman kami laki-laki. Tidak ada candaan akrab seperti yang dulu kulihat.

Aku semakin dekat dengan Aan ketika menjadi panitia penerimaan mahasiswa baru. Beberapa kali begadang di himpunan, di Gedung Bengkok. Aku sering melihat Aan sholat malam walau seharian penuh kami sudah begitu lelahnya. Sering juga melihatnya melilit menahan lapar. Ketika kutanya, "loh tadi kan masih ada satu kue An? kok nggak dimakan?". Dan jawab Aan saat itu, "sudah aku kasihkan ke teman lain, Hen. Dia lapar katanya.". Aku langsung protes, "kan kamu juga lapar? tau gitu nggak usah ngasih kue ke aku juga tadi semuanya. Atau semua kita bagi rata, jadi kamu nggak kelaparan gini.". Seperti biasa, Aan hanya tersenyum nyengir sambil berkata, "maaf ya.". Dan aku pun tidak bisa menjawab lagi.

Saat ini, aku baru menyadari apa yang diperbuat Aan ini sungguh luar biasa. Walau aku nggak setuju juga, tapi dia mendahulukan orang lain, dan itu tingkatan keimanan yang tertinggi dalam islam: "Itsar, mendahulukan kepentingan saudara sebelum diri sendiri".

Aan ini orangnya bersiih sekali. Waktu di tempat kosnya, huih rapii. Dia selalu sedia tissue, dan sedikit-sedikit membersihkan apa saja yang menurutnya kotor, dan menurutku biasa saja hehehe. Bahkan di laboratorium biokimia, tempatnya praktek tugas akhir, Aan pun sedia sikat gigi, odol, sabun mandi serta gel antiseptik. Setelah makan siang, dia akan langsung sikat gigi. Ya, kebetulan saat itu dia pasang begel gigi.

Setelah kami lulus, kontak pun hilang. Karena jaman dulu, catatan database kan telepon rumah. Kami pun terhubung dari facebook. Saat itu aku baru tahu kalau Aan diterima menjadi dosen biokimia. Aduh, begitu senang aku mendengarnya. Profesi yang kuidamkan ternyata diperoleh Aan. Beberapa kali kami kontak lagi, mungkin karena kesibukan masing-masing juga sudah tidak saling berbagi cerita. Aku hanya mengamatinya dari facebook. Bahwa Aan, anaknya banyak :). Dan kegiatannya sebagai dosen yang sering tugas keluar negeri.

Aan menjadi contoh nyata, bahwa buah dari ketekunan adalah keberhasilan. Dan bahwa hidayah itu jika dirawat, maka akan semakin kuat mengakar dalam kalbu. Sampai sekarang kulihat Aan masih akhwat yang murah senyum. Kabar terbaru cukup mengangetkan kami semua, dengan diagnosa medis yang menimpa Aan. Hatiku rasanya pengen lompat ke rumah Aan, memegang tangannya erat, sambil mengajaknya bicara ngalor-ngidul, membuatnya tertawa lagi. Ingin sekali setiap hari bisa ada di sampingnya, ketika rasa sakit akan bergantian dia rasakan dalam setiap prosedur tindakan medis.

Saudariku, bertahanlah dan bersabarlah ya. Semoga disembuhkan segala penyakit sampai tuntas dan mendapatkan kebaikan dari -Nya dengan ini semua. Semoga dalam setiap luka, sakit, nyeri, sedih, takut dan khawatir, adalah butiran cara untuk menggugurkan dosa. Bertahanlah dan jadilah pendaki gunung yang murah senyum selalu.

Love you Aan .