Podcast Bu Heni

hm...

Tidak ada komentar
Sepi. Padahal Aji hanya main di luar rumah, berjarak beberapa meter saja.
Nganggur. Bengong. Sudah mengupdate foto di situs jualan, sudah itu tidak tahu lagi harus ngapain. Sambil ngeprint worksheet gratisan buat Aldo, aku ingat, aku bisa menulis kan? :)

lucu, cita-cita jadi penulis, kok malah menulis hanya ketika waktu sudah kosong. kebanyakan dan terlalu lama menganggurkan kepala nih ya kayaknya...

MOM-PRENEURSHIP WANNABE

Tidak ada komentar
Ada seorang kenalan baru yang bertubi-tubi menyerangku dengan pertanyaan dan pernyataan, yang siratan maknanya adalah "kok bisa sih jadi ibu rumah tangga dan lain-lain?..

Pertanyaan itu menohokku. Jujur sih, ada bangga terselip di dada. Karena, sedikit banyak pertanyaan beliau menunjukkan kalau aku sudah tampak hebat, minimal baginya. Apalagi ketika ada pertanyaan lanjutan, "Kasih resepnya donk?"

Nah lho, seharian aku mencoba meramu kalimat yang pas untuk menjawabnya. Aku harus hati-hati sekali, karena takut terkesan sombong, sekaligus khawatir,kalau nulisnya sok hebat, jadinya nanti kejepit sendiri dan terpaksa harus selalu melakukan apa-apa yang sudah kutulis, kan?
misalnya, ketika aku menjawab, "itu manajemen waktu dan emosi harus dibina banget mbak.." dan semacam itulah. Nah, konsekuensinya kan, dalam keseharianku nanti, aku harus menunjukkan bahwa, aku pribadi sudah bisa menerapkan manajerial sebaik yang kutulis. padahal aslinya??

Tetapi, jika aku diam saja, resikonya, dianggap NOT RESPONDING atau PROBLEM LOADING ya?? :-P

Aku ingin sekali menjawab dengan kalimat yang indah dan inspiratif. Tapi dari tadi tidak nemu. Aku coba meramu secara sistematis, dan instruksional mirip tutorial craft gratisan yang bertebaran di dunia maya ini. Tapi tetap tidak bisa.

Dan sampai sekarang, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan runtut.

Kenapa?

karena :

aku biasanya mengambil kepingan-kepingan nasihat dari alam semesta di sekitarku. satu per satu. dari dialog film di tivi, dari kisah sejati di tivi, eh itu karena sejak bayi aku sudah akrab banget dengan tivi...
atau dari chatting dengan teman, dari kisah biografi, dsb.

Yang pada intinya menguatkan kilatan-kilatan di hatiku, tentang :

1. ibu harus di rumah. dan menjadi pusat kehidupan anak dan keluarganya. mungkin juga karena aku sempat beberapa saat menjadi GURU SD, maka, menjadi guru buat anak-anakku sendiri, merancang pembelajaran mereka, melatihnya, membuat soal,dsb, itu sangat seru. walau melelahkan tentunya.


2. aku ingin menjadi kebanggaan buat anakku, jadi kalau aku seringnya ngelist sinetron ecek-ecek saja di tivi , ketika waktuku senggang, di jamin anakku gak akan bangga, ya nggak?
aku pun ingin menjadi kebanggaan orang tuaku. minimal, aku sudah menjadi atau menghasilkan sesuatu yang kontinu.

3. aku harus mandiri secara finansial. karena aku ingin bebas menggunakan penghasilanku untuk ibuku [karena bapakku sudah almarhum], ibu mertuaku, sanak saudaraku dan siapa saja yang ingin kurengkuh dengan rejeki yang dilewatkan kepadaku. aku pun ingin bebas memenuhi keinginanku sendiri sebagai perempuan. karena biasanya, ketika seorang perempuan sudah mempunyai anak, maka dirinya tak lagi dipikirkan. semuanya menjadi "anak-minded". aku tak ingin terlalu seperti itu, aku ingin seimbang. maka agar tidak mengganggu anggaran belanja rumah tangga, maka aku harus berpenghasilan sendiri.
dan selain itu, aku pun ingin perempuan lain juga bisa mandiri secara financial sepertiku.

4. aku tidak ingin menjadi "manula pengangguran".
ketika tua harus berkutat dengan cucu dan mengulang kembali periodeku sebagai seorang ibu muda. terkesan bakal jadi nenek yang "judes" sih, cuma aku ingin di periode tuaku, aku semakin bebas menjadi pribadiku sendiri. karena, ketika mengasuh anak seperti sekarang ini, aku harus melepaskan atribut "keakuanku", dan mengikuti dunia mereka sampai anak-anak mandiri nanti.
yang menjadi bayanganku, adalah , ketika tua nanti, [jika ada umur panjang dan barakah], aku masih sibuk. sibuk berkreasi, menjadi pengajar di rumah kreatifku, mengajari gratis para gadis/ibu muda yang kurang beruntung, ikut pameran INACRAFT, dan sibuk memantau perkembangan usahaku-apapun nanti muaranya-entah jilbab atau craft.

dari keempat kilatan hatiku ini, aku sering berdiskusi mencari bentuk kegiatan yang bisa mengakomodasi semuanya, dengan suamiku. maka terbitlah kata USAHA ONLINE. dengan alasan utama, usaha ini bisa dikendalikan dari rumah.


aku berbasis sains, itu ditinjau darimana aku menyelesaikan kuliahku. jika aku berwirausaha, biasanya yang terlintas,adalah bimbel, klub sains,buku, dll. lalu aku merenung, ketika bertemu ibu-ibu rumah tangga yang lulusan SMP atau SMA, mana bisa aku merekrutnya menjadi tenaga pengajar atau karyawan akademikku? maka aku putuskan untuk pindah ke craft, yang bisa lebih mudah diajarkan dan juga mudah dipelajari. hati ini sebenarnya berat, karena aku seperti mengkhianati para dosenku dan guru-guruku. juga, masih harus membuka telinga mendengar komentar pedih dari mereka yang mengenalku dan mendadak tahu almamaterku, kemudian berkata "sayang banget mbak, lulusan kimia kok nggak ngajar, atau nggak kerja, atau kok malah jualan jilbab, dst.." klasik, tapi nyata.

dan lahirlah konsep USAHA JILBAB ONLINE. dengan target utama, minimal, bisa menjadikan usaha ini jalan rejeki untuk keluarga besarku, : aku , adik iparku yang jago bordir dan sulam, ibu mertua yang sudah puluhan tahun menjadi penjahit, keponakan yang bisa merajut, dan sanak saudara lain jika tertarik untuk mengikuti usaha ini.

oww...MISI USAHA yang sungguh MULIA.

apakah misi yang mulia itu berarti segalanya pasti lancar?

enam bulan pertama, keadaan rada kacau. anakku yang sudah sekolah kelas 2 SD, jarang sekali belajar bersamaku. aku pun jarang membuatkan soal dan belajar bersamanya seperti jaman kelas 1 atau TK dulu. perhatian pun terbagi untuk adiknya yang kuajak monda-mandir warnet-rumah ketika menggawangi bisnis jilbab onlineku itu.

suamiku memendam amarahnya, dan menganggap prioritasku berubah arah. dan ini cukup memancing emosi. namun bisa redam ketika aku mengingat misi utamaku membuka usaha ini.

bagaimana keadaan rumahku yang tanpa pembantu rumah tangga?
cucian baju menumpuk padahal tinggal digiling di mesin cuci, apalagi yang harus disetrika. suamiku sering harus mensetrika baju kantornya sendiri di pagi hari, karena ketika modemku masih SMART Hape, aku harus online sejak sebelum shubuh,ketika sinyal masih kuat.

sarapan, masak seadanya. anakku sekolah kubekali dengan uang saja. perlengkapan sekolah dan buku-buku, kupaksa disiapkannya sendiri.
kadang siangnya aku tidak masak, karena dari pagi sampai menjelang acara menjemput anak pertama sekolah, aku stay di warnet, untuk mengedit dan mengupload foto atau chatting dengan calon pembeli jilbab. aku di warnet bersama anak keduaku, Aji.

Aji sering ketiduran di pangkuanku, dengan keringat penuh karena warnetnya panas tanpa AC. Aji pun sering bolak-balik BAB karena kebanyakan makan snack - bekalku untuk menyogoknya agar tidak minta pulang.

Sulit dan kacau, namun aku diyakinkan oleh teman kuliahku yang sudah lama berbisnis, agar aku bertahan dengan kondisi itu. dan bisa memenuhi fasilitas yang kuperlukan dari keuntungan usaha. dan nasihat ini sangat manjur.

dalam waktu enam bulan , fasilitasku terpenuhi, modem yang bagus, kamera digital yang cukup bagus, laptop yang hard disknya sembuh,

karena fasilitas sudah bagus, maka ritme kerja sudah bisa diperbaiki. aku tak perlu lagi begadang untuk upload foto. anak, suami dan rumah bisa terurus.

dan , apakah itu sudah menunjukkan menajemen yang bagus?
belum sih, cuman membaik, karena aku menerapkan konsep, JANGAN MENUNDA DAN KERJAKAN SECEPAT MUNGKIN KALAU BISA.

misalnya, aku harus memasak dan berbenah dapur. aku harus lakukan saat itu juga, masak sekalian beberes dapur, dan selesai. kemudian kembali ke laptop, hehehe...

kadangkala, rasa enggan, capek, dan ga mood kembali mengacaukan sistim pengaturan kerja ini, tapi aku terapkan lagi satu resep AKU TIDAK MERASA BERSALAH LAGI DENGAN SEDIKIT KETIDAKSEMPURNAAN PEKERJAANKU,

jadi, kalau terpaksa anak-anak makan siang pakai abon, ya dibuatlah suasana makan yang asik-asik saja, aku gak membiarkan diriku merasa bersalah karena belum masak. hasilnya sangat positif. karena perasaan bersalah itu racun berbisa untuk produktivitas.

baru dua hal ini yang cukup membantu dan mampu kukerjakan. semakin hari, tentu aku ingin mempunyai ritme kerja yang manis, antara mengurus rumah tangga, diri sendiri, berkarya dan berjualan, ohya dan satu lagi bertetangga [karena asik online, jadi jarang keluar rumah soalnya, hehehe]

itu dulu yang ingin kubagi, jika ada MOM-PRENEURSHIP yang udah gape banget ngatur waktu, kita bisa share disini.

KADO PAGI HARI

Tidak ada komentar
Kemarin malam, pasca buka puasa, membuka inbox facebook dari hapeku, sambil memelorotkan isi perut. Sebuah jawaban dari pesanku sebelumnya datang dari kawan lama. Kawan yang sebelumnya malah jarang bertegur sapa. Isi pesan itu intinya tentang pengelolaan ke-online-an usaha jilbabku di facebook. Yang menurut sarannya harus dipisahkan dengan akun pribadiku, dengan alasan karena ini itu. Wah, isi pesannya sungguh mengganggu, tersebab, aku tak ada niat menjadi takprofesional. Hanya di awal aku tidak tahu, kalau membuat page business itu tidak punya fasilitas selengkap akun pribadi, misalnya fasilitas INBOX. Maka ketika aku harus menjawab pertanyaan dari customer, terpaksa aku menggunakan akun pribadi, dan supaya mereka tidak bertanya-tanya, aku masukkan nama tokoku ke dalam namaku. Jadi nama aku pribadiku sebelumnya adalah HENI PRASETYORINI. kuganti menjadi HENI JILBAB ORIN, pasalnya tokoku kulabeli JILBAB ORIN.

Pesan temanku itu meresahkan, karena beberapa kalimatnya membuatku berpikir dan merenung, sesuambar apakah statusku selama ini sehingga tampaknya bisa memporak-porandakan imageku sebagai pedagang. Dan kutarik benang merah dari batinku sendiri, bahwa sebenarnya, aku pun ingin menjadi INSPIRASI KAUM IBU, bahwa memulai usaha dst itu tidak butuh modal besar, selain KEMAUAN.

Pikiran ini menggangguku sampai rakaat terakhir shalat witir yang kulakukan bersama suamiku. Setengah mati aku mengatur isi kepalaku agar fokus menghadap SANG MAHA SEGALANYA, ALLAH AZZA WA JALLA. Tetapi kejahiliaan ingatanku sangat tidak bisa diajak kompromi. Oh betapa biasanya aku sebagai manusia.

Sampailah pada shubuh esok harinya, setelah selesai salam terakhir, ada pencerahan di hatiku. JUST FREE YOUR LIFE. Yah, aku putuskan untuk tidak mengambil hati terlalu dalam pada isi pesan temanku kemarin malam. Yah, ada beberapa hal yang tidak semestinya, tetapi hanya fokus pada pengelolaan fb, sungguh memakan waktu dan tenaga. Desain kreativitas dan inovasi bisa terhambat tentunya. Belum perbaikan manajerial dan penataan keuangan.

Ya sudah, fb biarlah begitu. Hanya aku harus menahan diri dan memikirkan dua kali dulu untuk berperilaku dalam status dan komentar di fb. itu saja.

Kemudian, setelah keputusan menjadi bebas ini meringankan hatiku, mulailah aku online. Membuka FB untuk mengkroscek pesanan jilbab teman. Biar tidak salah kirim. Nah, ada sebuah pesan singkat dari seorang ibu muda yang belum kukenal. namnya RIKA. Dia mengatakan suka membaca BLOGku, karena sederhana dan bernilai. Juga mengagumi kreativitasku lainnya sambil menjalankan peranku sebagai ibu rumah tangga.

Ah, sungguh kawan, ini bagaikan air yang menyejukkan. Hatiku sungguh bahagia dengan apresiasi ini. Sungguh, dan membuatku kembali menekuni kesukaanku, menulis . sekarang menulis untuk menikmati. aku takkan lagi terbebani untuk hGarus menulis ini dan itu. aku nikmati saja semuanya dan aku pasrahkan rejekiku pada SANG MAHA PEMBERI REJEKI, untuk ku dan keluarga besarku. Aku tinggal bekerja dan bekarya lebih nikmat lagi. Bukan begitu??

my new passion

Tidak ada komentar


selamat pagi duniaku yang baru. Dunia yang menghiburku, ketika aku bersiap-siap untuk putus asa dan memutuskan untuk tidak melakukannya.

Hari ini, bukanlah kali pertama aku merasa menang dari keraguan hati akan masa depan. Hari ini adalah lanjutan, bahwa beberapa hal yang telah kulewati, tak perlu kujadikan beban. Beban dalam bentuk apapun.

Aku memilih dan memutuskan, bahwa serentetan jalan hidupku kemarin itu bisa ku install ulang dengan lebih baik. Tidak akan bisa kudelete, namun aku bisa menayangkan ulang dengan modifikasi di sana-sini sehingga lebih menarik dilihat.

Jadi, kisah ini pun bermula dari kegemaranku blogwalking atau bisa juga disebut browsing. Itu jauh sebelum aku memulai usaha onlineku jualan jilbab.

Dari situ aku mengenal istilah WIRE JEWELRY. Yang dulu tak pernah terlintas, bahwa skill yang satu itu, bisa sungguh menarik hati.

Wire jewelry, cara membuat aksesoris dengan bahan manik-manik cs dan kawat, ternyata tersebar di seantero jagad maya ini. dan belakangan hari, produknya semakin ngetrend.

Tidak mudah memutuskan untuk menekuni ketrampilan ini, karena aku masih terbayang kewajiban untuk menularkan ilmu akademis sainsku. Cuma kemudian, aku memilih ingin melakukan sesuatu karena aku senang bukan karena harus. Dan aku yakin juga, suatu saat nanti, aku bisa menulis sesuatu tentang ke-kimianku itu. Entah berupa bacaan populer ilmiah, novel sains atau cerita anak atau bahkan soal latihan. Begitulah, sekarang aku memutuskan untuk menyukai dan mengasah ketrampilanku membuat aksesoris dari kawat. Dan itulah karya pertamaku, yang murni menggunakan teknik kawat tidak memakai sarangan bros.

My new target = menikmati aliran air

Tidak ada komentar
Menjelang sore habis, sekitar jam 4 sore, acara Kick Andy tayangan ulang menarik perhatianku. Padahal belum juga mandi sore dan sholat ashar. Duh kebiasaan buruk.
Isi acaranya sudah menarik perhatianku beberapa waktu lalu sih. Karena, berkisar tentang perjuangan anak miskin untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Wuih semangat sekali. Bagus sekali. Saya sangat terinspirasi.
Tokohnya adalah pak Yohanes Surya, A. Azra, Renald Kasali dan A. Fuadi.
Suka sekali mendengar betapa mereka bekerja sambilan, tidur hanya 3 jam sehari dan bias lulus cum laude atau straight A. hebat benar. Jadi terinspirasi lagi untuk kembali belajar bahasa Inggris. Dan ingin merapikan kembali sistim pembelajaran untuk anak-anak.

Sekaligus juga membuatku terinspirasi di hal lain. Untuk kembali sekolah lagi, aku sudahi dulu. Bukannya apa-apa, kondisi anak dan keluargaku, jika aku tinggal, wah pengorbanannya terlalu besar. Dan aku bias jadi tidak maksimal kemana-mana. Sekarang sudah terlanjur bisnis jilbab yang ingin dijadikan bisnis keluarga sampai nanti kami sama-sama tua. Iya kan. Kalau aku sekolah, bisnis selesai, anakku sama siapa, suami bingung ga bias konsen, mertua sudah sakit-sakitan dan tidak bias nyari nafkah lagi, dan terutama ibuku sudah sepuh gitu. Wah, terlalu mengerikan.

Jadi aku focus saja sekarang pada usahaku. Nah, karena aku sudah mulai mendesain jilbab dan membuat aksesoris. Maka, kursus atau ilmu seni apa yang bias aku pelajari, sehingga desainku lebih bagus. Aku ingin berhasil dalam hal ini. Sungguh menarik menggeluti bidang desain dan aksesoris handmade ini. Fantastic. Warna-warni. U
Untuk ilmu sainsku, aku bias mengajari anakku dengan lebih intensif dan regular. Kelak aku ingin mengajar bimbel kelas 6 SD saja seperti bu Tjok dulu itu. Persis seperti itu saja, sebagai tambahan income sekaligus amal.

Sedangkan menulis adalah nafas sehari-hari. Jadi tidak ada target, karena menulis itu menikmati. Seperti yang dikatakan Desi padaku tempo hari.

Tinggal yang mengganggu pikiranku adalah kondisi rumah yang belum bias rapi dan enak dibuat belajar. Harus menunggu sampai selesai lebaran. Ya sudahlah, itu adalah konsep yang bagus. Pisah kamar, banyak rak, jadi rumahku rapi. Semua bias dikerjakan sedikit sedikit dan tidak terlalu capek atau malah malas seperti selama ini.

esmosi

Jika kondisi rumah biasa. Ramai. Aku begitu rindu dengan kesepian. Begitu suka dengan tiadanya suara apapun, kecuali desisan deru kipas angin, tarikan nafas anak dan suami yang sedang tidur dan suara ketukanku sendiri di atas papan berhuruf kapital.

Namun, ketika kesepian itu mendadak dianugerahkan kepadaku, ketika aku belum menyerah pada kuasa alam mimpi. Aku mendadak pula tertegun kebingungan. Oke, sekarang sendiri. Lalu apa?

Dan ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali.

Maka kemudian aku mencoba cara ini, aku menulis saja ketertegunanku itu sekarang. Dan sepertinya semakin bergeraknya jari jemariku, yang sudah mampu pula tidak menabrak touchpad, sehingga tidak ada huruf yang berloncatan kesana kemari, aku merasakan nyawaku mulai kembali.

Dan terasa mulai menyenangkan. Terutama sekarang di dalam kamarku tidak hanya ada kipas angin. Sudah ada mesin pengendali kesejukan udara, yang kubeli secara kredit dari kartu kredit milik kakakku. Kakak yang sering memporak-porandakan hatiku. Sekaligus yang paling sering memberi dan menolongku. Betapa ironis dan relatifnya hati itu.

Aku menutup malam ini tidak dengan cantik.
Ada sesal dan sesak di dada. Ketika menyaksikan, Aldo, anak pertamaku, menarik nafas panjang mendengar jawabanku atas permintaannya membeli buku. Ampuun...bukankah aku sudah bertekad untuk menjadi baik, baik dan baik.

Menjadi ibu yang baik.
Seperti apa itu?

Aku pikir minimal, tidak berteriak-teriak dan tidak marah.

Tapi, aku masih mudah sekali marah. Amat sangat mudah marah kepada dua anak lelakiku. Mudah sekali jengkel dan merasa betapa berat mengurus mereka berdua. Padahal aku tahu, bahwa yang sedang kukerjakan itu berpahala, ladang amal, amanah dan tugasku sebagai ibu.
Maka, aku mulai memikirkan hal ini, dengan ingin mencari tahu apa sebabnya.
Kenapa aku ingin marah hari ini, padahal aku bisa ke warnet, foto bisa diupload, ada yang mau beli, laptop pun beres. Lalu kenapa masih marah?
Entahlah, ini mungkin analisaku :
1. Aku marah biasanya ketika aku mulai marah kepada diri sendiri. Kenapa aku memarahi anakku untuk hal-hal yang seharusnya aku tidak perlu marah. Dan perasaan bersalah itu malah semakin membuatku terus menerus marah dan mudah sekali gusar.
2. Ketika aku menatap wajah tidak enak dari suamiku, dan merasa aku bukanlah sebaik yang seharusnya sebagai ibu ataupun istri.
Ya, biasanya karena dua hal ini, aku menjadi begitu mudah naik pitam untuk hal yang sangat sepele. Perasaan bersalah itu sangat meracuniku dengan mudahnya. Kenapa ya?
Lalu bagaimana mengatasinya.
1. Aku mulai berdoa dan mengadu. Aku menyerah dengan kelemahanku. Aku tidak mau menganalisa terlalu dalam bahwa diriku adalah efek dari pola asuh ortuku saja. Karena aku tidak mau menjadi marah kepada mereka. Padahal mereka sudah berjuang jiwa raga untuk semua anaknya. Maka aku mengadu dan meminta pertolongan agar bisa menjadi lebih baik hatinya. Minimal tidak mudah marah dan bisa berkata lebih lembut.
2. Supaya tidak kelepasan marah, aku ngapain ya enaknya. Itu marah kok spontan banget rasanya. Di hati masih berkata tidak, jangan. Eh mulut ini sudah keceplosan teriak ini itu. Aduuhh….kok aku gini-gini amat ya,,…..
3. Mungkin lebih baik aku…menggigit lidah? Menutup mata? Atau berkata, anakku yang baiiikkkk…………..begini ya………huhuhuhu…dicoba ajalah…
4. Aku adalah istri yang baik dan bisa mengurus rumah dengan baik lho. Iya iya, kadang juga berantakan lagi. Iya nih, aku sebel aja kali sama suami dan anak yang pinter banget memberantakkan kembali keadaan rumah yang sudah dibereskan dengan susah payah. Ya mainan, ya koran. Ampun, lelaki apa jorok semua se,,,,,
5. Ya sudah, terakhir, aku harus mencoba menahan diri saja. Minimal tidak ngomel-ngomel. Malu ngomel dah umur. Gitu aja deh mikirnya. Malu dilihat anak, dah segede ini ngomel melulu. Aku pengen mereka hormat padaku. Oke deh, itu yang cukup mengkatalis hatiku di akhir hari ini. Semoga ada pertolongan-NYA untukkku dalam melaksanakannya. Amin.