Podcast Bu Heni

Sepanci Bothokan Rebus

Tidak ada komentar
Gambar dari sini
Sukses saya berlaku lagi hari ini.
Halah, sok narsis sebenarnya, hehe. Tapi bener ini sukses saya yang luaarr biasa. Bahwa hari ini saya berhasil masak Bothok Rebus yang Lumayan ribet.

Foto disamping kanan ini adalah Bothokan Kukus. Sedangkan saya bikinnya lebih mudah, hanya direbus. Tetapi nggak sempat saya foto, dah keburu dimakan habis.

Niat membuat bothok ini sudah beberapa hari yang lalu. Tetapi karena ribet entah karena apa, saya sampai lupa detilnya karena tiap hari ada aja yang bikin ribet. Maka, terlaksanalah hari ini membuat si Bothokan rebus itu.

Pagi setelah si bapak dan si kakak berangkat, saya dan si kecil pergi ke pasar. Ya, begitulah ngajak anak kecil ke pasar pasti panik aja bawaannya. To Do List amburadul.

Singkat cerita, yang ada di tangan adalah Daun Singkong, Kelapa Parut, Udang, Tempe, Tahu dan Ikan teri.

Masih harus menunggu lama, sampai akhirnya prosedur demi prosedur membuat bothok berhasil kulewati. Begini ceritanya :

1. Daun singkong disiangi daunnya saja, dibersihkan, lalu direbus. Tambahkan garam di air rebusan agar warna daun tetap hijau. Setelah lunak, tiriskan. Tunggu dingin, lalu peras dan iris-iris daunnya [dirajang], sisihkan.
2. Tahu , tempe, ikan teri direbus dulu, tiriskan dan sisihkan. [tempe dan tahu dipotong dadu kecil]
3. Siapkan bumbu : bawang merah, bawang putih, ketumbar, kencur sedikit, laos sedikit, daun jeruk purut, cabe merah, cabe rawit. Haluskan.
4. Campur semuanya dalam panci yaitu daun singkong, kelapa parut, tahu, tempe, ikan teri, dan bumbu. Aduk semua tambahkan air secukupnya untuk mematangkan bumbu dan membuat semuanya tercampur.  lalu cicipi dulu apakah rasanya sudah pas. setelah itu baru campuran direbus sampai tanak dan air menyusut.
5. Bothok rebus siap dihidangkan dengan nasi panas dan krupuk..hmmm...yummyyy


Begitulah, mengapa membuat Bothok sedemikian istimewa untuk saya?
Hihihi, bagi anda mungkin ini menggelikan. Tetapi saya penganut paham masak praktis [bukan politik praktis].
Yang sebelumnya anti banget dengan cara memasak yang butuh banyak prosedur seperti diatas, Tetapi sejak beberapa hari yang lalu pikiran saya mulai terbuka.

Apa nanti suami, anak-anak, tidak bosan saya masaknya tumis tumis saja?
Lalu saya bertekad, pasti bisa membuat masakan apapun. Toh ibu saya, kakak perempuan saya pada jago masak. Pasti ada darah pemasak yang mengalir di tubuhku, cieee...

Dan sip deh, rasanya maknyuss kata suami.
Saya pun PD memberikannya pada tetangga sebagai isi piring mereka yang harus saya kembalikan. Gantian, tempo hari mereka memberikan sesuatu untuk saya :)

Kelak kalau berkunjung ke ortu/mertua, saya pun PD untuk membawakan mereka sepanci Bothokan Rebus :)

DIY Facial Scrub Kopi dan Bodyscrub Green tea

Tidak ada komentar
Masih liburan sekolah untuk si anak-anakku. Libur awal bulan puasa Ramadhan tahun 2012 ini.

Karena keajaiban alam dan anugerah Ilahi, aku tidak lemas, letoy dan galau [kok galau sih, hehhe] sama sekali selama berpuasa di hari pertama dan kedua.

Semua kewajiban domestik alias pekerjaan khas Upik Abu di rumah, berrrees seberes-beresnya sejak pagi. Sungguh heran juga. Mungkin efek sebutir "fatigon viro" di waktu sahur, lumayan membantu fisikku masih segar dan kepala tidak cenut-cenut, seperti yang seriing sekali kualami jika berpuasa, sejak dulu kala.

Selain karena itu, aku curiga juga, ini diakibatkan efek internalisasi ilmu-ilmu dan berita gembira tentang pahala, kebaikan bertirakat, berpuasa dan lain sebagainya yang disampaikan oleh para guruku di ponpes Daarul Muttaqien Surabaya, tempatku belajar rutin selama enam bulan ini. Alhamdulillah, Puasa jadi bukan beban lagi.

Bahkan bangun untuk sahur dan memasak sendirian di dapur pun, tak lagi aku rutuki sebagai rutinitas yang diskriminatif - karena kaum lelaki boleh masih lelap di kasur dan aku sendirian di dapur. Melainkan, aku memaknainya sebagai bentuk jihad mengurus rumah tangga, meniti jalan ke surga dan membuatku semakin dicintai-Nya. Allahumma Amin.

Lanjut pada hariku yang sangat produktif itu. Setelah pagi memasak sayur lodeh, yang entah bagaimana rasanya karena nggak bisa mencicipi. Kemudian membersihkan dapur. Dan menjelang dhuhur, rasanya kok semua sudah beres. Maka, aku iseng saja ingin praktek memakai kopi untuk scrub wajah.

Aku dapat dari twitter seseorang, aku lupa tepatnya, kalau tidak salah, "littlepresenthings".


Resepnya begini :

DIY Facial Scrub Kopi :
1. Basahi dan kompres wajah dengan air hangat
2. Campur dua sendok kopi bubuk dengan air, lalu balurkan ke wajah dan biarkan selama beberapa menit [saya lupa ngitung, sekitar 10 menit mungkin]
3. Bersihkan kopi dari wajah, dengan cara, ciprati dulu wajah dengan air, lalu gosok-gosok bubuk kopi yang sudah melekat di wajah itu perlahan-lahan seperti scrubbing. Arah membersihkan wajah, tentu saja dari bawah ke atas. Sesekali diciprati air lagi, dan begitu seterusnya kemudian bilas wajah dengan air bersih.
4. Keringkan wajah dengan handuk
5. Olesi wajah dengan madu secukupnya, biarkan selama beberapa menit.
6. Bersihkan wajah dengan air hangat lalu tutup dengan air dingin [ air es ], membersihkannya menggunakan saputangan handuk yang lembut.
7. facial scrub kopi selesai. silahkan mencoba dirumah :)


Apa rasanya?
ketika kopi saya balurkan ke wajah, rasanya adem. Lama-lama jadi kaku dan kesat, seperti memakai masker. Bau khas kopi, favorit saya, juga bikin relaks. Ketika kopi dibersihkan, wajah terasa kesat dan bersih.

Lalu, ketika wajah dibaluri madu, lama-lama terasa sedikit panas. Namun setelah dibersihkan, wajah jadi terasa lembab dan kenyal.

Dari beberapa literatur, kopi mengandung kafein sebagai antioksidan yang baik untuk kulit. Serta  Kandungan asam alami pada kopi dipercaya mampu mengencangkan dan melicinkan kulit.


Scrub sebaiknya dilakukan seminggu dua kali saja. Jika terlalu sering malah mengurangi kelembaban kulit.




Setelah mem-facial wajah sendiri dengan scrub, giliran saya mencoba untuk bodyscrub sendiri di rumah, menggunakan Pourvous Body Cream Scrub - Tea in Summer 


Wangi Teh hijau-nya segar banget. 
Tekstur Scrub creamnya mudah dikeluarkan dari tube. Dari pengalaman waktu itu, lebih baik, tubuh kita basahi air dulu, baru dibaluri oleh scrub cream. Kemudian digosok perlahan-lahan. Kemudian dibilas air. 


Setelah pakai scrub, saya merasa masih lembab saja dan tidak perlu memakai body lotion.


Rasanya aman menggunakan Pourvous Body Cream Scrub, karena terdiri dari bahan yang alami. Kulit pun menjadi lembut dan perasaan ini merasa lebih dihargai.


Hari itu pun berlangsung dengan sangat menggembirakan. Home spa pertama kali saya lakukan dirumah itu, berjalan sukses. Saya merasa tercerahkan untuk semakin memperdulikan diri sendiri walau saya jarang bertemu orang, karena menjadi ibu rumah tangga.


Merawat diri sendiri, demi diri sendiri, ternyata membuat kita bahagia sendiri. Tidak perlulah kita ngotot ini itu hanya untuk suami atau untuk dinilai orang lain.


Karena kebahagiaan itu harus bersumber dari hati dan kepuasan batin kita sendiri, bukan begitu?

Diary di Buku dan Jurnal digital

Tidak ada komentar

Menjalin komunikasi dengan diri sendiri itu, paling manjur lewat diary. Gitu deh yang kurasakan selama ini. Dan, paling mantap itu malah, dari diary yang ditulis secara manual di buku.

Ini terasa, kemarin-kemarin saya rajiin nulis jurnal di buku diary, belakangan pindah ke blog. Dah itu beda deh rasanya.

Ketika, hati lagi galau bin kacau, ambil diary, lalu sambil selonjoran di kasur, mulai baca satu demi satu tulisanku sendiri. Ajaib bin ajaib. Rasanya ingaat langsung nyebur ke masa itu. Padahal nulisnya nggak detil-detil banget.

Lain halnya ketika buka blog. Baca tulisan demi tulisan. Yang rata-rata detil dan panjang lebar. Kok feelnya nggak dapet. Walau itu seringnya bisa bikin teman yang baca ikutan termehek-mehek.

Thus. Buku masih lebih yahud daripada ebook, versi diaryku loh ya , heheh

Harus keluar dari Zona Nyaman[ku]

Tidak ada komentar
Dua-tiga bulan ini, sehat menjadi issue utama dalam hidup saya. Pertama suami saya opname karena tipus selama 6 hari dan ekstra care untuk hari-hari berikutnya. Lalu teman baru yang mendadak tahu sedang mengidap kanker payudara stadium 3 lanjut, dan harus menjalani operasi pengangkatan satu payudaranya. Lalu satu teman lagi, yang takut memeriksakan diri ke dokter tentang keluhannya, dan menerima hasil diagnosa menderita kanker serviks stadium satu. Kemudian tanpa diduga tak dinyana, saya , yang selama hidup sakitnya cuman berkisar pada : flu, batuk, pilek dan masuk angin, mendadak menerima hasil tes darah saya bahwa ada masalah pada liver.

Ini belum termasuk, ibu mertua yang juga bermasalah pada liver, serta bapak mertua yang bermasalah pada tulangnya serta ibu kandung yang harus mengatasi masalah sakit jantung dan darah tingginya.

Fiuuhh....saya harus terduduk berkali-kali dalam kesendirian, untuk merenungi semua masalah kesehatan yang terjadi ini. Terutama yang menimpa saya, yang notabene saya pikir, gaya makan saya relatif aman, biasa-biasa saja. Tapi memang, saya jarang sekali berolahraga. Saya hanya membakar kalori dalam mengurus rumah tangga saja, dan itu bukan olahraga, itu kata teman saya yang tinggal di Timur Tengah.

Waktu berbilang dengan sendirinya. Terus bertambah satu tahun, satu bulan, satu menit bahkan satu detik. Tubuh pun menyesuaikan dengan sukarela. Menjadi tak setangguh di jaman muda.

Saya ingat, jaman sekolah, jaman kuliah. Dengan kelelahan yang berlipat. Stress tinggi, tekanan harus lulus dan kesulitan ini itu. Serta makan seadanya saja sesuai budget anak kos. Alhamdulillah, kok yaaooo saya aman jaya, sehat-sehat saja. Pernah sekali waktu sakit kepala hebat dan kata dokter cuma kecapekan saja syarafnya dipakai belajar terus-terusan.

Ya, begitulah. Merasa akan sehat selalu dengan gaya hidup saya yang biasa ini, sepertinya tidak bisa diteruskan lagi. Saya harus malah lebih bersusah payah untuk memperbaiki diri. Melawan keengganan untuk keluar rumah dan berolahraga, dengan atau tanpa teman. Menjadi sehat, harus mulai dengan lebih banyak bergerak.

Easy Start

Tidak ada komentar
Pagi-pagi blogging?
wah keren dah, udah berminggu-minggu saya tidak melakukannya. Pertama karena tiap pagi, saya dah kabur ke pondok modern tempat saya dan ibu-ibu lainnya belajar mengaji. Hari ini, pondok tidak libur sebenarnya. Tapi saya ingin di rumah saja, bersama dua anak lelaki saya yang juga libur karena sekolahan ada UNAS.

Hari ini, ingin diisi dengan sesuatu yang ringan. Pertama ingin membuat organizer dari flanel, buat masukin HP kalau lagi di charge tuh. Plus wadah kabel-kabelnya. Lalu lanjut bikin bros aja ah. Oke deh, cabut dulu. Mumpung sepi, anak-anak masih pada main bola di luar sama temannya. Dan mumpung hawa masih bersih di ruang tamu. Nggak kemasukan asap mobil tetangga yang sedang dipanasin. Libur manasin ya pak hari ini, plis :)

Selamat berngapain saja my bloggerfriends. Kita lanjut nanti dengan pamer karya. heheh

Nulis,Bisnis atau Craft; milih mana mbak ? -__-

Tidak ada komentar
Hmmm....
judul itu adalah satu kalimat dari teman jarak jauhku. Ya teman baru yang sangat kuanggap seperti kakak sendiri. Bisa diajak diskusi dengan cara berpikir beliau yang juauuuhhh lebih matang dariku.

Judul itu juga, malah, aduh maaaf, bisa mematahkan sebuah judul yang membuat beliau tertarik padaku. Yaitu sebuah tulisan di blog ini yang berjudul, "Kupilih Bisnis dan Craft". Yang akhirnya membuatku diajak untuk join sharing cerita dalam blog yang dikelolanya.

sebelumnya, aduh mbakku, ojo gelo ya,
ah pasti tidak, karena kami sudah sangat intens bertukar pikiran sebelumnya.

Judul itu juga, walaupun pertanyaan pilihan, semacam tipe ujian sekolahan kita, pun masih tidak bisa kujawab dengan mudah.

Tempo hari, aku mantab menutup buku, meletakkan pensil lalu membuka majalah fashion, buku craft, tabloid bisnis dan sebagainya. Lalu mantap mengatakan , aku memilih bisnis dan craft. Dan sepertinya itu benar jalanku. Aku tidak akan menulis apapun lagi, kecuali penting. Semacam info diskon, begitu :)

Akibatnya, hobi menulis Note, mengisi Blog jadi berhenti. lama lama terasa ada kerinduan yang lain itu. akan rasa hening, hanyut. Rasa yang kualami ketika hanya berdua dengan buku yang kubaca. atau sesuatu yang kutulis.

Rindu itu sangat mengganggu. sampai harus bertarung dengan keinginanku untuk memegang kawat, tang, manik-manik ataupun kalkulator.

Pertarungan itu sangat melelahkan, sampai akhirnya aku memilih berhenti bertarung. melepaskan atribut perangku. lalu terbang ke angkasa.

Di atas sana kupandangi, diriku sendiri yang carut marut stress bingung mau mengerjakan apa dan menuruti kata hati yang mana.

Dan ketika aku menyerah saja. Tersenyum pada satu demi satu desakan hati untuk berbuat. lalu menurutinya menyesuaikan dengan tugas rumahku, maka, sekali lagi, lepaslah bebanku.

Aku menutup mata sejenak, lalu membayangkan kalau diriku adalah superwoman yang pakai daster. Bisa melakukan banyak hal, tapi tidak bisa melonjak-lonjak kegirangan untuk merayakannya - malu kan, pakai daster gitu loh, nanti kelihatan :P

Aku melaju dengan diam-diam.
Dan jika sekarang aku membagi ceritanya, itu karena aku ingin berbagi cerita, bahwa kadang kita tidak perlu memaksakan diri untuk memilih. Lakukan saja, apa yang bisa dilakukan. Selanjutnya, kita evaluasi lagi. Easy ya kedengarannya?

Saya masih terus berbenah untuk menjadi semakin biasa seperti daster itu tadi , hehe.