Podcast Bu Heni

My Hijab Journey

Tidak ada komentar
Hidayah
Kata ini terasa begitu...."mahal".
Terasa begituu....*SULIT*
Rasanya takkan mau menghampiri diriku ini, yang dari kemarin-marin, masih begini-begini saja.
Biasa-biasa saja :
sholat sekedarnya 5 waktu.
tak lanjut bergegas sholat tahajud ketika alarm berbunyi jam 3 dini hari
tak segera menghabiskan hutang puasa di bulan ramadhan
standar
gituuu saja.

Namun, hati kecil ini sering sekali merasa nggak puas dan memarahi diri sendiri.
karena aku ingin sebenarnya meningkatkan keimanan dalam bentuk apapun. Ya ibadahnya , ya menutup auratnya.
Aku ingin menjadi seperti sosok yang menawan di hatiku :
seperti istrinya AA Gym [Teh Ninih]- yang bagiku beliau adalah wanita yang lembut, tangguh, tahan banting sekaligus selalu maju ke depan, apapun yang terjadi. Aku terkesan ketika beliau menjadi mentor di acara Kajian Muslimah ITB, beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih menjadi mahasiswi Kimia ITB.

Aku terkesan dengan bajunya, terus terang. Walaupun tutur kata, tatapan matanya yang teduh, suaranya yang pelan - yakin dan teratur, sungguh juga mengagumkan. Tapi aku masih sangat terkesan pada cara beliau berpakaian. Gamis panjang lebar berlapis, dengan kerudung khas Daarut Tauhid berwarna senada. Manis dan anggun sekali tampaknya. Ingin sekali aku berpakaian seperti itu, feel so free, gitu deh rasanya.

Maka ketika masih kuliah itu pun, aku mencoba-coba dan meniru-niru. Pertama aku coba beli jilbabnya di daerah Dipati Ukur, kalau tidak salah. Di gerai Rabbani - saat itu belum sebesar ini merk Rabbani. Itu sekitar tahun 1999. Wow, 11 tahun yang lalu ya...!!! nggak kerasa.

Aku memakai Jilbab Teh Ninih. Ukurannya gede banget. Sebenarnya nggak cocok dengan gaya berpakaianku yang bercelana panjang. Maka aku memakai rok panjang yang dibuatkan kakakku dari Surabaya.

UUhh...rasanya ribet banget deh. Maklum saja, sejak kecil aku sudah dibiasakan oleh ibu untuk memakai celana panjang. Begitu juga dengan keempat saudara perempuanku lainnya. Alasan ibu waktu itu, karena biar aman. Maklum saja kami tinggal di kota besar, di Surabaya. Notabene banyak kejahatan yang bisa terjadi pada anak perempuan, jika kita tak ekstra waspada menjaga diri.

Nah kebiasaan itu terus terlaksana sampai sekarang. Sampai dua anak lelakiku sudah berumur 8 dan 4 tahun. Aku masih setia bercelana panjang kemana-mana. Jilbab juga makin pendek karena milih praktisnya. Kadang juga repot kudu berjilbab, main meluncur saja ke warung atau toko tetangga untuk membeli krupuk.

Dan..berjalannya waktu...
Kenangan atau bisa disebut sosok seorang Teh NInih ini masih terpancang kuat di mata batinku. Betapa tenang rasanya beliau. Sering aku berangan, kapan ya bisa seperti beliau? dalam hal berpakaian. Entahlah, pakaian ini yang masih saja menjadi PR besar buatku,

Pernah, suatu hari aku bercakap dengan temanku Nora, ketika sama-sama aktif di masjid Salman ITB. Nora ini mahasiswi UNPAD. Gaya berpakaiannya persis Teh Ninih. Dia pun kulihat mempunyai ketenangan air muka yang sama,
aku curahkan isi hatiku pada Nora ini, aku katakan "ingin sekali bisa berpakaian seperti kamu Nora. Rasanya aman dan damai banget deh"

Dan malah dia menjawab dengan kalimat yang diluar dugaanku.
"Hen, harusnya bukan baju yang jadi prioritasmu. Perbaiki dulu ibadahmu dan rasamu kepada Allah SWT"

Aku tercengang beberapa saat, dan itu berlanjut sampai sekarang.
Aku pun melepaskan diri dari angan-angan untuk bergamis dan berjilbab lebar. Aku pun semakin mensahkan diri sebagai perempuan tomboy. Terlebih anakku laki-laki semua , klop deh. Semakin orang mengomentariku, "gagah, kayak cowok, tomboy" hatiku semakin senang.

Pun ketika aku mulai membuka usaha Jilbab. Itu aneh sebenarnya. Karena aku tak peduli dengan berdandan. Bergonta=ganti jilbab, baju, dll, cuek deh. Jaket, kaos oblong, jilbab pendek, celana jins, itu saja seharianku.

Lalu ada beberapa hal yang menelisik hatiku sedikit demi sedikit.
Ketika aku lewat di depan kaca jendela sekolah atau rumah orang dan melihat siluet badanku, aku merasa.."ih, kok kelihatan banget gitu ya...lekuk tubuhku..."
ada rasa malu menyergapku diam-diam. Dan ketika ini kuutarakan kepada suamiku, dia hanya tersenyum.

Semakin hari semakin waktu...
rasa malu itu semakin bertambah besar. Apalagi ketika mendengar komentar anak sulungku, ketika aku berpakaian sedikit pas di rumah, dia sudah protes, "mama kok bajunya malu se?"

Dan...
Hidayah itu pun datang. Terutama ketika aku semakin yakin, bahwa perintah dari TUHAN itu hanya untuk kebaikan MAKHLUK=NYA semata. PAsti.
Sekarang...
Tanpa disuruh siapapun..
Tanpa dipelototin suamiku...karena dia lebih suka aku sadar karena kemauanku sendiri. ...

Semakin hari, aku semakin membenahi busanaku...
Baju, kaos, jilbab yang pendek dan rada ngepas, sudah aku wariskan ke adik iparku.
Kuganti dengan yang ukuran lebih panjang.

Dan itu sekarang kupakai dengan nyaman saja. Tidak merasa ribet sama sekali. Pun ketika di rumah aku sering memakai rok dan gamis. Subhanallah, inikah namanya hidayah itu?

Aku senang dengan perubahan diriku sendiri. Terutama ketika aku ingin sekali agar anak-anakku bisa punya keimanan dan kebiasaaan ibadaha yang lebih baik dariku. Maka aku sering merasa , kalau harus lebih dulu membenahi diri. Apapun itu. Ya sholat, ya bicara, ya semuanya. Aku semakin haus ilmu. Aku semakin ingin menerapkan ini itu. dan Hidayah itu datang

Aku pun sekarang berjilbab lebih baik daripada kemarin.
KEtika belanja, aku berjilbab. Ketika duduk-duduk di teras , aku usahakan berjilbab
Dan ketika berjilbab, aku sudah merasa biasa saja. Tidak merasa gerah dan segera melepas jilbab seperti sebelumnya.

Dan..
ketika kemarin aku sibuk memikirkan, apa komentar tetanggaku nanti ya?
kemarin aku sore-sore nyuapin anak, dengan berpakaian biasa, tanpa jilbab.
Trus aku berjilbab, jadi sok gimana-gimana jangan-jangan nanti aku dianggapnya?...

ternyata...
tidak ada satu pun reaksi negatif kepadaku...setidaknya yang kudengar.
Atau juga karena aku sudah tidak menghiraukannya lagi, karena aku sekarang lebih sibuk untuk membenahi diriku sendiri, agar semakin pantas menjadi teladan untuk anak-anakku.

Oh semoga, kelak anak mantuku bisa lebih baik dariku dari segi keimanan...
semoga kedua anak lelakiku mendapatkan istri yang shalihah dan baik kepadaku dan suamiku.

RITME KERJAKU SAAT INI ^_^

Tidak ada komentar
Terus terang, beberapa bulan ini aku mengalami kemunduran yang sangat pesat di dunia PERBACAAN BUKU dan PENULISAN sesuatu.
Sejak aku memulai USAHA GROSIR JILBAB ORIN ku itu. Waktu, pikiran dan tenagaku tersedot habis-habisan disana.
Untuk :
1. Upload foto produk sekaligus mengedit ini itunya
2. Upload foto ini sekarang ada di 3 tempat : BLOGSPOT, FACEBOOK dan KIOS DAGANG
lumayan melelahkan dan rada membosankan sebenarnya, tapi untunglah ada teknologi
COPY PASTE
3. Untuk promosi
3. Untuk menerima pesanan atau menunggu pesanan :)
Bisa seharian CHATTING, SMS atau bertukar INBOX
4. Setelah ada pesanan,sibuk riwa riwi cek STOK BARANG, nelpon TIKI nanyain Ongkos kirim --- karena website TIKI tidak sip untuk cari ONGKIR, filenya bentuk pdf yang panjaanggg lebar, sementara JNE - mudah cari ongkir di website, tapi jauuhhh dari rumahku, ini dilakukan sembari SMS/CHATTING-an dengan calon pembeli.
5. Selesai, masih mengurus CATATAN ADministratif, supaya ALAMAT , NOMER REKENING, JUMLAH PESANAN tidak salah tulis
6. BErkutat dengan INTERNET BANKING atau SMS BANKING untuk cek transfer
7. Jika pembayaran beres, lalu packing, kasih Bonus sesekali :), dan siap kirim
8. Mengirim Paket pesanan pun menunggu jadwal yang pas dengan rute keluar rumah.
Biasanya setelah mengantar anak sekolah, atau sekalian beli token listrik atau
sebelum menjemput anak sekolah [maklumlah yang dagang kan IBU RUMAH TANGGA ^^]
9. Jika pesanan terkirim, harus segera mengirimkan SMS berisi NOMER RESI.
Terpaksa kembali nunduk sambil mencet-mencet hape, mirip remaja masa kini
10. Beberapa hari kemudian, Kroscek ke Pembeli, apakah paket sudah diterima.
Jika SUDAH = BERES
Jika BELUM dan melewati MAsa Normal = harus kroscek ke Ekspedisi.

Di sela-sela melakukan itu semua, biasanya aku :
1. Melayani anak keduaku, Aji : makan,mandi, main, bacain buku atau ngurus BAB --
fiuhh yang terakhir ini bisa 3x sehari !!! mabok deh
2. Masak dan urusan Dapur
3. Nyuci manual Baju yang bakal error kalau digiling di mesin cuci
4. Njemur baju yang udah setengah kering dari mesin cuci
5. Setrika baju - jika sikon dan mood memungkinkan :)
6. Menyapa tetangga sambil belanja di tukang sayur depan rumah
7. Nyapu rumah, beres-beres sedikit.
Atau kadang kubiarkan saja, kalau Aji dan temannya main dan mengacak-acak rumah
Nanggung dibersihkan juga, sandal n sepatu akan dijajar dari pagar sampai pintu
tamu
8. Siap-siap menjemput anak sulungku Aldo, yang artinya harus membangunkan adiknya
Aji, jika dia ketiduran. Atau memandikan Aji dulu. Atau membuatkan dulu susu.
Atau sibuk membujuk agar mau memakai jaket dan kacamata hitam biar nggak kepanasan
dan kelilipan, karena jemputnya ini jam setengah satu siang. Untuk perjalanan
15 menit naik motor
9. Sesampai di sekolah, kadang menerima SMS customer, sambil ribeet membujuk Aji
biar nggak minta es ini, jajan itu dan mainan ini itu. Lalu menyapa wali murid
lainnya dan membicarakan ekskul pilihan, PR atau remidi atau bahkan harga jilbab
di pasar grosir surabaya [sekalian survey maksudnya, hehehe...]
10. Sampai di rumah, segera ke dapur, untuk makan siang, sambil nengok komputer
kalau masih nyala. Kalau udah dimatikan tadi ya, ngurus anak-anak dulu yang
biasanya dengan semangat memulai acara rebutan kursi, jenis Game di PC, botol
minum, kartu, Stik es krim, mainan dsb...RAME dah pokokna !!!
11. Jika berhasil, maka dua anak ini akan tidur bersamaan. Jika tidak akan lanjut
sampai sore. Dan masuk waktu belajar bersama. Yang artinya : si kakak belajar
sama mama [saya], di adik [harusnya] main sama bapaknya --- tetapi lebih senang
mengganggu kami [kakaknya dan saya] ==== RAME LAGI deh...
12. Urusan makan malam, sholat maghrib, dll...beres...maka menuju tidur..
eh kadang, ada lho sms pesanan masuk jam 9 malam, 10 malam, bahkan 12 malam
[itu kalao saya kebetulan begadang, langsung deh saya jawab]

fiuhh...
baca aja ikutan capek ya?

Anda Ibu RUmah Tangga Murni tanpa PRT...
dan ingin mulai Dagang Online??

Nah seperti inilah kira-kira RITME KERJANYA...

Tiada maksud lain...selain berbagi cerita.....

Kesal

Tidak ada komentar
Beberapa hari yang lalu aku dikejutkan dengan kenyataan, bahwa tidak semua pernikahan berjalan mulus. Dan tidak semua pernikahan, dipegang teguh kesuciannya oleh para suami atau istri yang ada di dalamnya.

SUngguh kacau dan menyebalkan. Menyadari, ketika kita berupaya sekuat tenaga menuju jalan syar'i, agar keluarga semakin diridhoi oleh NYA. Ini malah ada sepasang manusia yang bermain-main dengan lembaga suci bernama pernikahan.

Memuakkan sekaligus membiuskan rasa kesal di dada.

Bukankan ada jalan sebelum menikah yang perlu diwaspadai, agar anda bersungguh-sungguh ketika sudah masuk ke dalamnya?
ataukah sama saja. Anda sama main-mainnya ketika berpacaran sampai pada pernikahan. Walaupun beberapa buah hati, keturunan kalian sudah lahir kedunia dengan lucu-lucunya??!!!

Seandainya bisa, ingin kukejar lelaki beranak dan perempuan bersuami itu, lalu aku tendang sekuatnya mereka supaya terjengkang sampai ke sungai.

JIka ini itu bisa memudahkan kalian bermaksiat. Lebih baik masuklah kembali ke dalam rumah, wahai para perempuan. DI rumah itu bisa kita sediakan apa saja. DI rumah itu kita bisa ber;apa saja. Kita tidak hanya bisa diam dan melakukan pekerjaan para pembantu rumah tangga.

Sungguh, sungguh amat keliru. Kebebasan bergaul ini, mudah sekali menggelincirkan orang.

Ah, inikah kehidupan modern dan metropolis itu?
Ironis.

hm...

Tidak ada komentar
Sepi. Padahal Aji hanya main di luar rumah, berjarak beberapa meter saja.
Nganggur. Bengong. Sudah mengupdate foto di situs jualan, sudah itu tidak tahu lagi harus ngapain. Sambil ngeprint worksheet gratisan buat Aldo, aku ingat, aku bisa menulis kan? :)

lucu, cita-cita jadi penulis, kok malah menulis hanya ketika waktu sudah kosong. kebanyakan dan terlalu lama menganggurkan kepala nih ya kayaknya...

MOM-PRENEURSHIP WANNABE

Tidak ada komentar
Ada seorang kenalan baru yang bertubi-tubi menyerangku dengan pertanyaan dan pernyataan, yang siratan maknanya adalah "kok bisa sih jadi ibu rumah tangga dan lain-lain?..

Pertanyaan itu menohokku. Jujur sih, ada bangga terselip di dada. Karena, sedikit banyak pertanyaan beliau menunjukkan kalau aku sudah tampak hebat, minimal baginya. Apalagi ketika ada pertanyaan lanjutan, "Kasih resepnya donk?"

Nah lho, seharian aku mencoba meramu kalimat yang pas untuk menjawabnya. Aku harus hati-hati sekali, karena takut terkesan sombong, sekaligus khawatir,kalau nulisnya sok hebat, jadinya nanti kejepit sendiri dan terpaksa harus selalu melakukan apa-apa yang sudah kutulis, kan?
misalnya, ketika aku menjawab, "itu manajemen waktu dan emosi harus dibina banget mbak.." dan semacam itulah. Nah, konsekuensinya kan, dalam keseharianku nanti, aku harus menunjukkan bahwa, aku pribadi sudah bisa menerapkan manajerial sebaik yang kutulis. padahal aslinya??

Tetapi, jika aku diam saja, resikonya, dianggap NOT RESPONDING atau PROBLEM LOADING ya?? :-P

Aku ingin sekali menjawab dengan kalimat yang indah dan inspiratif. Tapi dari tadi tidak nemu. Aku coba meramu secara sistematis, dan instruksional mirip tutorial craft gratisan yang bertebaran di dunia maya ini. Tapi tetap tidak bisa.

Dan sampai sekarang, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan runtut.

Kenapa?

karena :

aku biasanya mengambil kepingan-kepingan nasihat dari alam semesta di sekitarku. satu per satu. dari dialog film di tivi, dari kisah sejati di tivi, eh itu karena sejak bayi aku sudah akrab banget dengan tivi...
atau dari chatting dengan teman, dari kisah biografi, dsb.

Yang pada intinya menguatkan kilatan-kilatan di hatiku, tentang :

1. ibu harus di rumah. dan menjadi pusat kehidupan anak dan keluarganya. mungkin juga karena aku sempat beberapa saat menjadi GURU SD, maka, menjadi guru buat anak-anakku sendiri, merancang pembelajaran mereka, melatihnya, membuat soal,dsb, itu sangat seru. walau melelahkan tentunya.


2. aku ingin menjadi kebanggaan buat anakku, jadi kalau aku seringnya ngelist sinetron ecek-ecek saja di tivi , ketika waktuku senggang, di jamin anakku gak akan bangga, ya nggak?
aku pun ingin menjadi kebanggaan orang tuaku. minimal, aku sudah menjadi atau menghasilkan sesuatu yang kontinu.

3. aku harus mandiri secara finansial. karena aku ingin bebas menggunakan penghasilanku untuk ibuku [karena bapakku sudah almarhum], ibu mertuaku, sanak saudaraku dan siapa saja yang ingin kurengkuh dengan rejeki yang dilewatkan kepadaku. aku pun ingin bebas memenuhi keinginanku sendiri sebagai perempuan. karena biasanya, ketika seorang perempuan sudah mempunyai anak, maka dirinya tak lagi dipikirkan. semuanya menjadi "anak-minded". aku tak ingin terlalu seperti itu, aku ingin seimbang. maka agar tidak mengganggu anggaran belanja rumah tangga, maka aku harus berpenghasilan sendiri.
dan selain itu, aku pun ingin perempuan lain juga bisa mandiri secara financial sepertiku.

4. aku tidak ingin menjadi "manula pengangguran".
ketika tua harus berkutat dengan cucu dan mengulang kembali periodeku sebagai seorang ibu muda. terkesan bakal jadi nenek yang "judes" sih, cuma aku ingin di periode tuaku, aku semakin bebas menjadi pribadiku sendiri. karena, ketika mengasuh anak seperti sekarang ini, aku harus melepaskan atribut "keakuanku", dan mengikuti dunia mereka sampai anak-anak mandiri nanti.
yang menjadi bayanganku, adalah , ketika tua nanti, [jika ada umur panjang dan barakah], aku masih sibuk. sibuk berkreasi, menjadi pengajar di rumah kreatifku, mengajari gratis para gadis/ibu muda yang kurang beruntung, ikut pameran INACRAFT, dan sibuk memantau perkembangan usahaku-apapun nanti muaranya-entah jilbab atau craft.

dari keempat kilatan hatiku ini, aku sering berdiskusi mencari bentuk kegiatan yang bisa mengakomodasi semuanya, dengan suamiku. maka terbitlah kata USAHA ONLINE. dengan alasan utama, usaha ini bisa dikendalikan dari rumah.


aku berbasis sains, itu ditinjau darimana aku menyelesaikan kuliahku. jika aku berwirausaha, biasanya yang terlintas,adalah bimbel, klub sains,buku, dll. lalu aku merenung, ketika bertemu ibu-ibu rumah tangga yang lulusan SMP atau SMA, mana bisa aku merekrutnya menjadi tenaga pengajar atau karyawan akademikku? maka aku putuskan untuk pindah ke craft, yang bisa lebih mudah diajarkan dan juga mudah dipelajari. hati ini sebenarnya berat, karena aku seperti mengkhianati para dosenku dan guru-guruku. juga, masih harus membuka telinga mendengar komentar pedih dari mereka yang mengenalku dan mendadak tahu almamaterku, kemudian berkata "sayang banget mbak, lulusan kimia kok nggak ngajar, atau nggak kerja, atau kok malah jualan jilbab, dst.." klasik, tapi nyata.

dan lahirlah konsep USAHA JILBAB ONLINE. dengan target utama, minimal, bisa menjadikan usaha ini jalan rejeki untuk keluarga besarku, : aku , adik iparku yang jago bordir dan sulam, ibu mertua yang sudah puluhan tahun menjadi penjahit, keponakan yang bisa merajut, dan sanak saudara lain jika tertarik untuk mengikuti usaha ini.

oww...MISI USAHA yang sungguh MULIA.

apakah misi yang mulia itu berarti segalanya pasti lancar?

enam bulan pertama, keadaan rada kacau. anakku yang sudah sekolah kelas 2 SD, jarang sekali belajar bersamaku. aku pun jarang membuatkan soal dan belajar bersamanya seperti jaman kelas 1 atau TK dulu. perhatian pun terbagi untuk adiknya yang kuajak monda-mandir warnet-rumah ketika menggawangi bisnis jilbab onlineku itu.

suamiku memendam amarahnya, dan menganggap prioritasku berubah arah. dan ini cukup memancing emosi. namun bisa redam ketika aku mengingat misi utamaku membuka usaha ini.

bagaimana keadaan rumahku yang tanpa pembantu rumah tangga?
cucian baju menumpuk padahal tinggal digiling di mesin cuci, apalagi yang harus disetrika. suamiku sering harus mensetrika baju kantornya sendiri di pagi hari, karena ketika modemku masih SMART Hape, aku harus online sejak sebelum shubuh,ketika sinyal masih kuat.

sarapan, masak seadanya. anakku sekolah kubekali dengan uang saja. perlengkapan sekolah dan buku-buku, kupaksa disiapkannya sendiri.
kadang siangnya aku tidak masak, karena dari pagi sampai menjelang acara menjemput anak pertama sekolah, aku stay di warnet, untuk mengedit dan mengupload foto atau chatting dengan calon pembeli jilbab. aku di warnet bersama anak keduaku, Aji.

Aji sering ketiduran di pangkuanku, dengan keringat penuh karena warnetnya panas tanpa AC. Aji pun sering bolak-balik BAB karena kebanyakan makan snack - bekalku untuk menyogoknya agar tidak minta pulang.

Sulit dan kacau, namun aku diyakinkan oleh teman kuliahku yang sudah lama berbisnis, agar aku bertahan dengan kondisi itu. dan bisa memenuhi fasilitas yang kuperlukan dari keuntungan usaha. dan nasihat ini sangat manjur.

dalam waktu enam bulan , fasilitasku terpenuhi, modem yang bagus, kamera digital yang cukup bagus, laptop yang hard disknya sembuh,

karena fasilitas sudah bagus, maka ritme kerja sudah bisa diperbaiki. aku tak perlu lagi begadang untuk upload foto. anak, suami dan rumah bisa terurus.

dan , apakah itu sudah menunjukkan menajemen yang bagus?
belum sih, cuman membaik, karena aku menerapkan konsep, JANGAN MENUNDA DAN KERJAKAN SECEPAT MUNGKIN KALAU BISA.

misalnya, aku harus memasak dan berbenah dapur. aku harus lakukan saat itu juga, masak sekalian beberes dapur, dan selesai. kemudian kembali ke laptop, hehehe...

kadangkala, rasa enggan, capek, dan ga mood kembali mengacaukan sistim pengaturan kerja ini, tapi aku terapkan lagi satu resep AKU TIDAK MERASA BERSALAH LAGI DENGAN SEDIKIT KETIDAKSEMPURNAAN PEKERJAANKU,

jadi, kalau terpaksa anak-anak makan siang pakai abon, ya dibuatlah suasana makan yang asik-asik saja, aku gak membiarkan diriku merasa bersalah karena belum masak. hasilnya sangat positif. karena perasaan bersalah itu racun berbisa untuk produktivitas.

baru dua hal ini yang cukup membantu dan mampu kukerjakan. semakin hari, tentu aku ingin mempunyai ritme kerja yang manis, antara mengurus rumah tangga, diri sendiri, berkarya dan berjualan, ohya dan satu lagi bertetangga [karena asik online, jadi jarang keluar rumah soalnya, hehehe]

itu dulu yang ingin kubagi, jika ada MOM-PRENEURSHIP yang udah gape banget ngatur waktu, kita bisa share disini.

KADO PAGI HARI

Tidak ada komentar
Kemarin malam, pasca buka puasa, membuka inbox facebook dari hapeku, sambil memelorotkan isi perut. Sebuah jawaban dari pesanku sebelumnya datang dari kawan lama. Kawan yang sebelumnya malah jarang bertegur sapa. Isi pesan itu intinya tentang pengelolaan ke-online-an usaha jilbabku di facebook. Yang menurut sarannya harus dipisahkan dengan akun pribadiku, dengan alasan karena ini itu. Wah, isi pesannya sungguh mengganggu, tersebab, aku tak ada niat menjadi takprofesional. Hanya di awal aku tidak tahu, kalau membuat page business itu tidak punya fasilitas selengkap akun pribadi, misalnya fasilitas INBOX. Maka ketika aku harus menjawab pertanyaan dari customer, terpaksa aku menggunakan akun pribadi, dan supaya mereka tidak bertanya-tanya, aku masukkan nama tokoku ke dalam namaku. Jadi nama aku pribadiku sebelumnya adalah HENI PRASETYORINI. kuganti menjadi HENI JILBAB ORIN, pasalnya tokoku kulabeli JILBAB ORIN.

Pesan temanku itu meresahkan, karena beberapa kalimatnya membuatku berpikir dan merenung, sesuambar apakah statusku selama ini sehingga tampaknya bisa memporak-porandakan imageku sebagai pedagang. Dan kutarik benang merah dari batinku sendiri, bahwa sebenarnya, aku pun ingin menjadi INSPIRASI KAUM IBU, bahwa memulai usaha dst itu tidak butuh modal besar, selain KEMAUAN.

Pikiran ini menggangguku sampai rakaat terakhir shalat witir yang kulakukan bersama suamiku. Setengah mati aku mengatur isi kepalaku agar fokus menghadap SANG MAHA SEGALANYA, ALLAH AZZA WA JALLA. Tetapi kejahiliaan ingatanku sangat tidak bisa diajak kompromi. Oh betapa biasanya aku sebagai manusia.

Sampailah pada shubuh esok harinya, setelah selesai salam terakhir, ada pencerahan di hatiku. JUST FREE YOUR LIFE. Yah, aku putuskan untuk tidak mengambil hati terlalu dalam pada isi pesan temanku kemarin malam. Yah, ada beberapa hal yang tidak semestinya, tetapi hanya fokus pada pengelolaan fb, sungguh memakan waktu dan tenaga. Desain kreativitas dan inovasi bisa terhambat tentunya. Belum perbaikan manajerial dan penataan keuangan.

Ya sudah, fb biarlah begitu. Hanya aku harus menahan diri dan memikirkan dua kali dulu untuk berperilaku dalam status dan komentar di fb. itu saja.

Kemudian, setelah keputusan menjadi bebas ini meringankan hatiku, mulailah aku online. Membuka FB untuk mengkroscek pesanan jilbab teman. Biar tidak salah kirim. Nah, ada sebuah pesan singkat dari seorang ibu muda yang belum kukenal. namnya RIKA. Dia mengatakan suka membaca BLOGku, karena sederhana dan bernilai. Juga mengagumi kreativitasku lainnya sambil menjalankan peranku sebagai ibu rumah tangga.

Ah, sungguh kawan, ini bagaikan air yang menyejukkan. Hatiku sungguh bahagia dengan apresiasi ini. Sungguh, dan membuatku kembali menekuni kesukaanku, menulis . sekarang menulis untuk menikmati. aku takkan lagi terbebani untuk hGarus menulis ini dan itu. aku nikmati saja semuanya dan aku pasrahkan rejekiku pada SANG MAHA PEMBERI REJEKI, untuk ku dan keluarga besarku. Aku tinggal bekerja dan bekarya lebih nikmat lagi. Bukan begitu??