Podcast Bu Heni

Mama, S1 saja ...

2 komentar

Entah sejak kapan, anak keduaku, Aji jadi penakut sekarang. Kemana-mana minta diantar. Pintu dapur harus ditutup. Mandi, BAK,BAB tidak mau sendirian. Dia akan teriak ketakutan jika tidak ada seorang pun yang ada di dekatnya. Padahal jaman dia masih umur 5 tahunan, berani sekali. Lah sekarang umur 7 tahun, mendadak jadi penakut.

Dengan alasan takut karena digoda kakaknya inilah juga, Aji selalu minta bapaknya atau saya tidur menemaninya. Seperti malam tadi, Aji masuk kamar saya dan tiduran diatas kasur saya.

"Kok tidur disini?" tegur saya. "Pengen tidur disini sama mama, mas Aldo nakal godain terus loh", begitu jawabnya.

"Ya udah tidur di sini dulu", sahut bapaknya kemudian.

Saya diam dan melanjutkan pekerjaan saya di depan laptop. Mengedit jawaban UTS mata kuliah Pembelajaran Mandiri yang akan saya email-kan ke dosen malam ini. Tak lupa juga menambahkan satu daftar pustaka yang relevan.

Aji memeluk guling dan bergerak gelisah. Beberapa kali mencoba menari perhatian saya, tapi saya respon sekedarnya saja. Saya tetap konsentrasi di laptop.

"Ma, mama lihat iniloh ma, tanganku bisa begini," kata Aji.
Saya jawab pelan, "he em", tanpa menoleh.

"Maa maa, ..." Aji mengulang lagi kalimatnya. Saya menoleh dan menjawab pelan, "oiya pinteer".

Aji terdiam, saya pikir dia sudah puas dengan jawaban saya. Ternyata tidak, setelah itu dia berkata seperti ini, "mama nggak usah S2 harusnya. S1 aja ma. Udah selesai". Begitu berulang-ulang.

Saya tidak menoleh, hanya merespon " emangnya kenapa?"

Aji menjawab, "soalnya mas itu nakal. Nggodain aku kalau mama nggak ada."

"Mm, waktu mama kuliah ta? Mas nggodain ta? Ya kalau gitu, besok kamu sama mas dititipkan ke Uti saja ya?"Jawabku tetep tanpa menoleh.

"Yawis, pokoknya aku bawa tablet ya ma" , jawab Aji.

"Iya," dan saya tetap fokus di laptop. Namun hati saya rasanya tertohok sekali lagi. Aduh, apalagi kendalaku untuk maju? Begitu saja yang terpikir.

Sore tadi saya membaca buku tulisan motivator terkenal se Asia, Adam Khoo. Buku berjudul I'm Gifted so Are You !.

Saya baca buku itu awalnya karena buku itu adalah bahan UTS matkul Teori Belajar. Setelah membaca sedikit saya tertarik sekali. Dan mirip juga sih dengan motivator lain, bahwa harus berani bercita-cita , bla..bla..bla

Saat sore itu saya merenung. Jadi emak-emak gini apa iya saya bisa bercita-cita? Apa iya ada perubahan nanti? Sedangkan gaya karakter suami dan anak-anakku, Njawani banget. Alias sosok laki-laki yang 90% harus dilayani,ditunggui,didampingi perempuan.

Apa iya saya bisa tembus ke luar Surabaya dalam pencapaian cita-cita saya? Bahkan bisa ke Jepang seperti yang sangat saya idam-idamkan?

Apa iya saya bisa? Wong masih awal S2 saja, anak protes gitu?

Bagaimana solusi ini? Saya terus merenung.

Apa iya tidak bisa?
Wong bu Sri Mulyani saja bisa kerja di Amerika. Padahal kan orang Jawa, iya kan?

Tugas UTS yang hampir beres jadi tertunda pengeditannya. Saya diam dan keluar kamar. Berpapasan dengan suami yang baru selesai mandi. Dia heran dengan perubahan raut wajah saya. Lalu bertanya, "ada apa ma, kok wajahnya gitu?"

"Baru dicurhatin sama anakmu".


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Di Semester Satu

4 komentar
Jauh sebelumnya, saya berspekulasi sendiri bagaimana sih ritme kuliah pasca sarjana itu. Yang pada intinya, pasti lebih berat daripada kuliah di tahap sarjana. Pengalaman saya waktu di Kimia ITB itu, ada 2 x 8 jam ada di laboratorium tiap minggunya. Tidurnya hanya 3 jam. Tugasnya banyak. Bukunya tebal semua dan berbahasa Inggris. Dan capeknya sampai mimisan.

waktu di laboratorium biokimia

Ketika saat itu saya bertemu dengan kakak-kakak yang sedang pasca sarjana, sepertinya ritmenya seperti itu juga. Bahkan lebih ganas lagi. Contohnya saja, ketika saya sedang tugas akhir penelitian di gedung Biokimia Medis di PAU ITB, itu kakak kelas pulangnya jam 9 malam lebih. Bahkan subuh kadang harus kembali lagi untuk mengecek biakan bakteri, jamur atau mikroorganisme yang sedang diteliti.

Nah, jika masuk pasca sarjana jurusan Kimia lagi, saya haqqul yakin, pasti akan mengalami ritme belajar dan kerja sekeras itu. Bahkan bagi saya yang sudah 12 tahun lebih jadi ibu rumah tangga, tentu makin gila-gilaan harus mengejar ketertinggalan sekaligus kelupaan terhadapa materi pelajaran kimia.

Itulah yang mendasari, akhirnya saya meloncat pindah dengan nekad [sekali lagi] ke dunia baru yaitu Teknologi Pendidikan (TP). Paling dasar adalah saya yakin tidak bisa membagi waktu dan tenaga dengan baik, jika tetap ambil kuliah di kimia, dengan waktu untuk anak-anak dan rumah tangga saya.

Singkat cerita, saya sampai di gedung kuliah Universitas Negeri Surabaya jurusan Teknologi Pendidikan. Seperti apa kuliah S2 di sini?

Kebetulan, jadwal kuliah saya cuma dua hari, Jumat dan Sabtu. Mulai jam 1 siang sampai maksimal 9 malam. Intensif banget ya sebenarnya. Tetapi begitulah, saya tidak bisa memilih jadwal, karena sudah ditentukan dari pusat. Bagaimana dengan kurikulumnya? ternyata sama saja dengan waktu saya di Bandung itu, semua juga ditentukan oleh pusat. Jadi bahkan referensi kurikulum 2012 yang saya baca sebelumnya di website pasca TP UNESA tidak sama dengan kurikulum 2013. Untung alhamdulillah ada satu mata kuliah yang dihapus yaitu Statistik. 

Kurikulum TP UNESA 2013, meliputi teori belajar, cara membuat dan mengembangkan kurikulum, teori dan praktek mengembangkan pembelajaran online, filsafat ilmu dan kebijakan ilmu pendidikan serta pembelajaran mandiri. 

Ketika kuliah, para dosen yang terdiri dari para doktor dan profesor, memfasilitasi kami dengan membuka diskusi menggunakan slide power point. Beberapa menit mereka menjelaskan isi power pointnya, yaitu apa-apa saja yang perlu dipelajari, dan buku rujukan apa yang perlu dibaca [kadang perlu juga dibeli].

Setelah itu, hampir pasti, kami langsung diberi tugas untuk mereview buku atau jurnal baik secara individu atau kelompok. Tugas itu berbentuk slide power point dan makalah. Kadang kami hanya perlu mengirim tugas lewat email, menulisnya dalam blog atau harus mencetaknya dalam bentuk handout dan makalah. Kebetulan UNESA belum menerapkan sistim pembelajaran online sepenuhnya, jadi perkuliahan harus ada bukti fisik berupa printout dari tugas-tugas.

Kami tidak hanya mengumpulkan tugas, tetapi wajib wajib dan wajib mempresentasikannya di depan kelas. Kemudian mendiskusikannya dengan teman dan dosen. Begitu seterusnya tugas demi tugas diberikan.






Kehadiran tidak dianggap penting, karena mayoritas mahasiswanya adalah para guru dan pekerja. Terutama bagi guru PNS, mereka sulit sekali untuk membolos saat ini. Karena ada ketentuan waktu minimal mengajar sebagai syarat cairnya insentif sertifikasi dari pemerintah. 

Karena jarang bertemu, kami berkomunikasi lewat email, grup whatsapp dan sms/telpon. Untuk mengerjakan tugas juga mudah sekali, karena adanya internet. Buku rujukan juga beberapa berupa e-book, sehingga kami bisa jauh lebih hemat dan mudah. Walau sebenarnya jauh lebih nyaman membaca buku cetak daripada ebook.

Dengan waktu kuliah hanya 2 hari, apakah itu mudah bagi saya?
Oh ternyata diluar dugaan, saya sulit juga membagi waktu. Mengurus rumah, anak-anak, sesekali mengendalikan bisnis online saya, mengerjakan tugas kuliah dan belajar. Apalagi ketika kuliah itu, saya berangkatnya jam 12 siang dari rumah, naik sepeda motor di waktu macet. Sampai di kampus biasanya 1 jam kemudian. Penatnya luar biasa, terlebih di pagi harinya saya biasanya tidak istirahat. Karena harus ekstra memasak untuk anak suami di rumah, menjemput anak-anak, dan menyiapkan mereka agar aman ketika saya tinggal ke kampus. Sering waktu sampai kampus, saya lapar luar biasa karena tidak sempat makan siang. Untungnya saya selalu sempatkan untuk membawa bekal sendiri dari rumah. Jadi sayalah satu-satunya mahasiswi ibu-ibu yang selalu dengan cueknya makan di kelas sebelum kuliah mulai atau di waktu rehat. Cuek aja biar saya tidak kena sakit maag.

kebetulan ga bawa bekal, beli nasi bungkus di kantin pasca


Begitulah, mungkin jika kita ambil kelas pasca langsung setelah lulus sarjana atau ketika kita aktif bekerja sebagai pendidik atau di bidang yang sama, kesulitannya lebih sedikit daripada saya yang full ibu rumah tangga dan malah aktif ke bisnis dan craft. Namanya mendongkrak isi kepala agar bisa konsentrasi kembali itu luar biasa usahanya. Alhamdulillah sangat terbantu dengan deadline. Kalau sudah waktu mepet, eh selesai juga kerjaan saya, hehehe.

ada teman asli dari Cina, miss Zhu, dosen bahasa Mandari, Univ. Petra Sby


Dan alhamdulillah, berkat sebelumnya saya aktif membaca dan update diri secara online, maka ketika presentasi, saya bisa melebarkan topik pembicaraan yang relevan sehingga lebih menunjukkan faktanya. Di awal semester ini, intinya kami masih belajar di pusaran teori. Hobi browsingku sebelumnya juga membantu saya dengan cepat mencara referensi atau gambar yang sesuai dan menarik untuk power point saya. Apalagi ketrampillan blogging saya, sampai bisa bermanfaat untuk beberapa teman yang bahkan belum mengenal blog sama sekali. Begitulah kawan, semua ilmu pasti kelak ada manfaatnya untuk orang lain.

 Ini saja sharing saya kali ini, semoga bermanfaat. 
Heni PR

Class Shoot

Tidak ada komentar
Gedung Pasca Sarjana Universitas Negeri Surabaya
jurusan Teknologi Pendidikan 
angkatan 2013
kelas A


Mayor Sita. Pengembang kurikulum di kalangan pendidikan TNI AL
Markas di Kobangdikal Surabaya
Berkat ibu Mayor Sita ini kita selalu "SIAP !'", ya SIAP !


suasana serius ngerjakan tugas di kelas
tampak deretan kabel-kabel di lantai
colokan kabel sampai panjang paralel

kemarin sempat shoot dosen Pembelajaran Mandiri waktu ngajar


Makan Siang + Dinner sekalian di kelas, Hemat bawa sendiri. :)


Kelas Kosong, Narsis duluuu :)

Dari Ebook ke Make Up

1 komentar
Sabtu pagi berkutat memindahkan file ebook melalui SD Card atau kartu memori. Lalu coba baca sedikit garis besarnya.

Ebook tentang Teori Pendidikan Online, dalam bahasa Inggris. Waduh lumayan lama nggak megang bahasa Inggris euy, lieur juga :)

Ada 4 bagian, total 16 bab. Lumayan. Tetep semangat.

Menjelang sore, ebook ditutup dulu, lalu menuju rumah ibu. Masih satu kota, di Surabaya juga. Perjalanan hanya 30 menit.

Ada acara syukuran kakak dan arisan keluarga. Dasar saudara cewek pada narsis semua, jadi deh pengen foto-foto sebelum potong tumpeng.

Kebetulan aku bawa palette lipstik dan bedak two way cake. Jadi deh make over si kakak plus masangin jilbabnya.

Lumayan hasilnya, sayang jilbab itu modot morot alias lepas semua waktu kakak makan nasi tumpeng. Maklum, nggak siap, jadi kurang jarum pentulnya.

Alhamdulillah, berkat kenal sobatan sama emak-emak perias pengantin. Jadi saya bisa belajar merias gratisan deh. Lumayan, bisa jadi hobi yang produktif nantinya.

Nyari target, dirias, dijilbabi, lalu difoto. Hobi visualku yang asik sekali.

Semoga menginspirasi
Heni Prasetyorini
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Steam It Tupperware

1 komentar

Ajaibnya mengukus dengan Steam It Tupperware.

Bisa dipakai diatas wajan biasa. Dengan batas air sesuai ukuran pinggiran wadah Steam It.

Kali ini mengukus tahu sekaligus sayuran untuk Pecel. Cuma sepuluh menit sudah beres.

Alhamdulillah sepiring nasi pecel siap buat sarapan bersama suami tercinta.

Bumbu pecelnya beli di pasar Genteng, pusat keripik dan oleh-oleh di Surabaya.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

MaMakBa

Tidak ada komentar

MaBa (Mahasiswi Baru) cocok buat yang masih menik-menik,imut-imut ya. Lah kalau kita ya pantesnya MaMakBa (Emak-Emak jadi Mahasiswi Baru) hehehe.

Lanjut cerita di ruang kelas 04 di gedung K10, Pasca Unesa.
Itu adalah hari pertama kami kuliah. Di jadwal harusnya ada 4 mata kuliah, sejak pukul 1 siang sampai 9 malam.

Ternyata semua dosen berhalangan hadir, ada yang ke Amerika, atau tugas lain. Untung saja ada dosen untuk matkul di hari Sabtu, bisa diminta untuk mengisi.

Yaitu matkul TIK Pendidikan. Teknologi Informasi Komunikasi Pendidikan, oleh bapak Dr. Danang, lulusan Ilmu Komunikasi UNAIR dan UNPAD.

Bapak Danang menjelaskan konsep Teknologi Pendidikan intinya pada meramu metode pembelajaran yang paling efektif agar hasil optimal untuk pelajar. Metode itu tidak harus lewat multimedia seperti komputer dan internet. Tetapi karena sekarang sudah era internet, maka perlu dipelajari metode menggunakan komputer dan internet itu.

Kami pun diberi tugas membedah buku lalu dipresentasikan dalam kelompok kecil. Bukunya berbentuk e-book sebanyak 6 buah. Alhamdulillah saya bisa dapat anggota kelompok gadis NTT yang baru lulus tahun 2013 jadi masih semangat, plus teman yang masih berhaji.

Saya bersyukur bangeet bisa dapat "kado" 6 ebook bagus tentang e-learning ini. Topik yang memang menjadi interest saya ketika memilih jurusan ini.

Yang menarik juga ketika dosen memberi tahu bahwa dalam matkul-nya wajib membuat blog. Saya pun nyeletuk, "wah siap pak, saya ibu rumah tangga blogger", hehehe..

Beliau menjawab, "ah ibu merendah".
Teman berkomentar, "bu Heni nih, ibu rumah tangga mainannya Blog, duh".

Hehehe, targetku menaikkan nama Ibu Rumah Tangga di kancah akademisi, mulai nampak jalan masuknya nih kayaknya, hihihi semangat emaak.

Begitulah, saya pun dinobatkan jadi Bu RT !!!
Yang tugasnya, "mengayomi" kata teman-teman yang rata-rata sebagai guru dan sudah STW alias setengah Tuwa, termasuk diriku, :)

Alhamdulillah, saya yakin nggak salah pilih masuk jurusan ini. Dan tidak menyesal karena melepas rencana semula meneruskan linier ke kimia ITS.

Kata suamiku juga begitu, "kamu cocok di jurusan ini ma, soalnya suka baca".

Syukurlah ebook ini bisa ditransfer ke mana-mana dengan mudah memakai SD Card. Termasuk ke android tablet merk Zyrex milik anak keduaku. Hadiahnya setelah sunat.

Membaca ebook dari tablet lebih nyaman daripada pakai laptop. Syukur alhamdulillah, ketika bisa kuliah lagi, fasilitas ada, anak dah gede dan ngerti tugas ibunya.

Masa sulit kemarin atau masa tunda kemarin itu, sudah tak terasa lagi sulitnya. Asal gigih, pasti terbuka jalan.

Semoga menginspirasi.
Heni Prasetyorini

Powered by Telkomsel BlackBerry®