Podcast Bu Heni

The Power of Ngobrol

2 komentar

Sejak kecil saya diasuh dengan aturan yang cukup ketat. Bapak saya tentara, namun yang disiplin justru ibu saya,penjahit dan pedagang. Satu jargon disiplin yang saya ingat sampai sekarang adalah " nek gak sinau, turu". Yang artinya, "kalau nggak belajar, tidur".

Maksud aturannya, di hari efektif sekolah, Senin - Jum'at malam, saya dilarang nonton tivi. Habis maghrib, harus masuk kamar dengan 2 opsi saja : kalau nggak belajar, ya tidur saja. Sabtu malam - minggu sore, boleh nonton tivi. Minggu malam kembali dilarang, karena untuk persiapan hari Senin - sekolah lagi.

Pelanggaran hal ini berakibat fatal. Kalaupun ibu/bapak tidak ngeh, 6 kakak saya akan protes massal. "Aku dulu juga gitu kecilnya, ga boleh nonton tivi, jam segini tidur." Saya pun nurut.

Disiplin lainnya selain aturan nonton tivi adalah tidak boleh main keluar rumah, di hari efektif. Aturan ini sama kerasnya. Dan saya juga manut alias nurut.

Akibat dari nurutnya saya ini, kebawa sampai saya beranjak SMA. Saya tidak suka gaul. Pokoknya belajar, sekolah, pulang, belajar lagi. Itu aja. Gaul hanya di sekolah, di jam sekolah/kegiatan sekolah. Saya pun kurang suka ngobrol ringan, ngabisin waktu. Saya cenderung meremehkan orang yang suka ngobrol, curhat, dan semacamnya. Pada saat itu, pandangan saya ini cukup mempan untuk satu hal : konsentrasi belajar saya terjaga, nilai bagus,lulus tepat waktu.

Ketika kuliah dan merantau jauh, saya mulai merasakan enaknya ngobrol ringan. Ngomongin makan apa hari ini, shampoo anti ketombe apa yang bagus, dsb. Tapi saya masih sangat membatasi diri,karena mentarget diri sendiri untuk lulus tepat waktu.

Masuklah di masa pasca menikah dan saya terjun bebas di dunia ibu rumah tangga. Paradigma 'ngobrol tak berguna' perlahan harus saya kikis. Lama-lama saya menyadari, ngobrol ringan ketika bertemu tetangga, bisa jadi ladang rejeki, ladang amal dan juga informasi. "Masak apa mbak hari ini?, mendung ya - cucian segunung" dan semacam itu. Dengan ngobrol terasa lepas juga sedikit beban kejenuhan rutinitas sehari-hari. Apalagi jika bisa tertawa lepas, plong rasanya. Namun memang di sini kudu memfilter antara ngobrol ringan dan nggosip. Gosip berusaha saya hindari karena menyedot energi negatif yang sangat besar, efeknya malah kurang produktif. Asik ngobrol, cucian menggunung :)

The power of ngobrol ringan ternyata sangat berguna ketika kita bertemu teman dengan kondisi berat secara psikis/fisik. Misalnya, ada teman saya kena kanker payudara. Infonya mendadak, dan sudah ganas stadium lanjut. Saya beda kota dengannya. Sedih juga tidak bisa berbuat banyak karena berjauhan sementara teman lain bisa menjenguknya bergantian. Lalu ada teman lain bilang, "kalau njenguk nanti ngobrolin ringan aja ya, nggak usah bahas penyakitnya".

Nah saya pun dapat ide. Berbekal whatsapp, saya tulis aja cerita ngalor ngidul kehidupan sehari-hari, pada teman saya yang sakit ini. "Bayangkan,aku sedang selonjoran di kasurmu sambil ngemil batagor ya, ini ceritaku." Itu yang saya katakan padanya.

Dan mengalirlah kisah anak-anak saya, resep masakan yang baru saya praktekkan,dsb. Feeling so touchy. Kerasa banget malah bisa ngena di hati masing-masing dengan obrolan ringan ini. Niat saya ingin sekedar menemani hari-harinya menahan rasa sakit, sepertinya terkabul.

Begitulah, di kampus ibu rumah tangga inilah saya belajar mata kuliah "The power of Ngobrol Ringan". Silahkan dicoba :)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendaki Gunung Yang Murah Senyum

6 komentar
"Maaf ya Hen," kalimat itu sering diucapkan Aan sambil nyengir khas. 

foto Aan & Erna (document by Erna)
Sepertinya waktu itu kuliah Kalkulus Dasar I, di sebuah GKU (Gedung Kuliah Umum). Aku melihatnya pertama kali dan terkesan karena kelincahannya berlari turun dari deretan meja atas kebawah. Dia berjilbab tapi nyentrik juga. Jilbabnya pendek, bordirannya seperti ciri khas jilbab orang Sumatera, Sulam Bayang. Yang nyentrik, celananya pakai celana gunung yang banyak sakunya. Dia dipanggil Aan.

Aan ini kayaknya tomboy dan banyak kenalannya di kelas ini. Beda denganku yang dari Surabaya, sering bengong karena nggak punya teman lama. Aan tertawa riang, bercanda ke siapa saja. Baik laki-laki maupun perempuan, dia bersikap sama, begitu akrab.

Lama-lama aku tahu, kalau si Aan ini hobinya mendaki gunung. Wuih, super sekali, ada perempuan suka mendaki gunung. Aku langsung jatuh hati padanya. Bagiku dia wonder woman. Hobinya ini bahkan sering disindir oleh dosen kalkulus kami dengan kata-kata, "isi waktu yang baik, jangan iseng-iseng saja seperti mendaki gunung. Gunung nggak ada apa-apanya kok di daki, mau cari apa?", ujar beliau sambil tersenyum tipis. Kami yang mendengar waktu itu langsung tertawa dan bergumam sendiri, karena tahu target sindiran itu adalah Aan.

Waktu pun berlalu dengan kesibukan kami di kuliah jurusan kimia dan di organisasi himpunan. Entah sejak kapan, Aan ini mulai berubah, bisa dibilang Aan mulai hijrah. Jilbab pendeknya mulai melebar, panjang dan menutupi tubuhnya dengan rapi. Celana panjang pendakinya sudah tidak pernah dipakai sama sekali, berganti dengan rok panjang nan serasi. Kalau waktu itu aku menyebutnya, Aan sudah jadi "akhwat".

Walau sudah jadi akhwat, Aan tetap ceria dan hangat padaku yang masih berjilbab biasa saja dengan celana jins. Hanya kelihatan, Aan berusaha menjaga ketika berhadapan dengan teman kami laki-laki. Tidak ada candaan akrab seperti yang dulu kulihat.

Aku semakin dekat dengan Aan ketika menjadi panitia penerimaan mahasiswa baru. Beberapa kali begadang di himpunan, di Gedung Bengkok. Aku sering melihat Aan sholat malam walau seharian penuh kami sudah begitu lelahnya. Sering juga melihatnya melilit menahan lapar. Ketika kutanya, "loh tadi kan masih ada satu kue An? kok nggak dimakan?". Dan jawab Aan saat itu, "sudah aku kasihkan ke teman lain, Hen. Dia lapar katanya.". Aku langsung protes, "kan kamu juga lapar? tau gitu nggak usah ngasih kue ke aku juga tadi semuanya. Atau semua kita bagi rata, jadi kamu nggak kelaparan gini.". Seperti biasa, Aan hanya tersenyum nyengir sambil berkata, "maaf ya.". Dan aku pun tidak bisa menjawab lagi.

Saat ini, aku baru menyadari apa yang diperbuat Aan ini sungguh luar biasa. Walau aku nggak setuju juga, tapi dia mendahulukan orang lain, dan itu tingkatan keimanan yang tertinggi dalam islam: "Itsar, mendahulukan kepentingan saudara sebelum diri sendiri".

Aan ini orangnya bersiih sekali. Waktu di tempat kosnya, huih rapii. Dia selalu sedia tissue, dan sedikit-sedikit membersihkan apa saja yang menurutnya kotor, dan menurutku biasa saja hehehe. Bahkan di laboratorium biokimia, tempatnya praktek tugas akhir, Aan pun sedia sikat gigi, odol, sabun mandi serta gel antiseptik. Setelah makan siang, dia akan langsung sikat gigi. Ya, kebetulan saat itu dia pasang begel gigi.

Setelah kami lulus, kontak pun hilang. Karena jaman dulu, catatan database kan telepon rumah. Kami pun terhubung dari facebook. Saat itu aku baru tahu kalau Aan diterima menjadi dosen biokimia. Aduh, begitu senang aku mendengarnya. Profesi yang kuidamkan ternyata diperoleh Aan. Beberapa kali kami kontak lagi, mungkin karena kesibukan masing-masing juga sudah tidak saling berbagi cerita. Aku hanya mengamatinya dari facebook. Bahwa Aan, anaknya banyak :). Dan kegiatannya sebagai dosen yang sering tugas keluar negeri.

Aan menjadi contoh nyata, bahwa buah dari ketekunan adalah keberhasilan. Dan bahwa hidayah itu jika dirawat, maka akan semakin kuat mengakar dalam kalbu. Sampai sekarang kulihat Aan masih akhwat yang murah senyum. Kabar terbaru cukup mengangetkan kami semua, dengan diagnosa medis yang menimpa Aan. Hatiku rasanya pengen lompat ke rumah Aan, memegang tangannya erat, sambil mengajaknya bicara ngalor-ngidul, membuatnya tertawa lagi. Ingin sekali setiap hari bisa ada di sampingnya, ketika rasa sakit akan bergantian dia rasakan dalam setiap prosedur tindakan medis.

Saudariku, bertahanlah dan bersabarlah ya. Semoga disembuhkan segala penyakit sampai tuntas dan mendapatkan kebaikan dari -Nya dengan ini semua. Semoga dalam setiap luka, sakit, nyeri, sedih, takut dan khawatir, adalah butiran cara untuk menggugurkan dosa. Bertahanlah dan jadilah pendaki gunung yang murah senyum selalu.

Love you Aan .

EmakPrends

Tidak ada komentar

Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.

Syair lagu itu bener banget. Dalam perjalanan persahabatan kami, para eks wali murid TK anak kami ini, telah melalui lilitan benang kepompong yang berliuk-liuk.

Sempat jengkel-jengkelan. Sempat saling curiga dan berprasangka. Sempat sering sakit hati karena celetukan spontan. Dan sempat pula saling diam tanpa tegur sapa.

Tapi entahlah bagaimana semesta mengaturnya, hingga kami berkumpul lagi dengan lebih matang dan dewasa.

Kami sangat berbeda. Namun mungkin punya visi yang sama. Ingin menjadi perempuan mandiri.

Disini saya merasa happy sekali :)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Thesis Bikin Eksis

Tidak ada komentar

Tepat hari Jumat kemarin, tanggal 18 Desember 2014, kuliah terakhir semester 3 di S2 Teknologi Pendidikan Unesa. Dosen terakhir adalah pak Bachtiar alias pak Be. Kuliah diisi preview film pendek media pendidikan parenting yang telah dibuat teman sekelasku Edutek13.

Sayang saya ga bisa ikut saat produksi film genre iklan masyarakat itu ,karena menjaga anak sulung yang sedang sakit. Sebenarnya si anak ini dah sehat dan bisa ditinggal. Memang kemarin si Aldo ini sempat di tes darah, untuk tes widal, tapi hasilnya negatif.

Berhubung saya kalau anak sakit, ikutan ga bisa tidur, maka kepala saya pusingnya bukan main saat itu. Jadi takut mau naik sepeda motor jarak jauh ke rumah teman tempat shooting, jadilah saya absen. Sempat kecewa berat pada diri sendiri, karena proses shoot itu lama sekali saya dambakan bisa tahu prosesnya. Sebab saya suka nonton film agus, jadi penasaran pengen bisa bikin film juga. Apalagi dulu sempat dikomentari dengan sutradara amatir bahwa cerpen saya berjudul Oeekk!!! Ingin dia filmkan.

Ya begitulah, saya pun pamit pada teman dengan sangat tidak enak hati. Untung mereka baik dan tetap mau mencantumkan nama saya di credit title film sebagai penambah materi film. Makasih ya prends.

Begitulah, kuliah tatap muka selesai, selanjutnya tinggal thesis. Syukurlah banyak buku yang dipinjamkan teman saya dari SMA Al Hikmah Surabaya, sangat banyak membantu pengerjaan.

Jadwal semester depan bakal diisi dengan penelitin di sekolah target, nulis thesis, bimbingan ke dosen, dan revisi revisi revisi.

Mengalami thesis udah jadi emak-emak gini cobaannya gede. Selain karena pekerjaan domestik tiada henti, berkurangnya ketangguhan dalam begadang, sakit pinggang kalau lama duduk depan laptop juga kendala jarak e kampus yang jauh bikin susah juga ngatur waktunya.

Tapi semangat saya terus menyala. Belajar itu menyenangkan, apalagi jika kita penasaran.

Setelah lulus ini, saya ingin terus menggeluti elearning. Dan masih penasaran pada brainbased learning, learning how to learn dan tautannya pada psikologi pendidikan.

Untuk kedepan, saya belum ingin kuliah lagi dulu kecuali ada gratisan hehehe. Saya ingin kuliah online di Coursera sampai sukses dapat sertifikat. Sambil bisa ngajar. Jika ada rejeki bisa kuliah lagi, semoga bisa ke Jepang. Ke Jepang bareng anak sulung kuliah S1, kali ya , hehehe amiin.

Begitulah lelah dan sebagainya saat kuliah,apalagi udah mnikah dan punya anak, adalah harga mahal yang harus saya bayar. Saya ingin jadi long life learner, pebelajar seumur hidup, yang terus menambah ilmu baru, apapun itu. Semoga bisa bermanfaat dunia akhirat dan memudahkan jalan untuk menjadi perempuan mandiri dan bermanfaat. Amin

Mengajar Kimia

2 komentar
Beberapa bulan kemarin saya ngajar kimia, di sebuah bimbel di kota tempat tinggal saya di Surabaya.


Si Kembar Prajna yang unyu unyu dan selalu kembaran bajunya. 




Asyik juga ngajar kimia lagi. oh, love it.

Berbagi Tentang Google Drive dan Blog Di Panglungan Wonosalam

2 komentar

Tepat di hari pahlawan, 10 November 2014, Senin, saya bersama beberapa teman ada di desa Panglungan, Wonosalam Jombang.

Kami memenuhi tugas mata kuliah PPL di semester 2, S2 Teknologi Pendidikan UNESA. Ini adalah pengalaman pertama saya melakukan PPL  ke desa. Jaman masih S1 di Kimia ITB, tidak ada mata kuliah semacam ini, PPL ataupun KKN. Tugas akhir hanya berkutat di laboratorium dan penelitian.

Menjadi Pemateri Tentang Blog

Sungguh pengalaman yang sangat menarik. Saya bersama teman, didapuk sebagai Penyaji Materi. Teman yang lain, lebih sibuk lagi sebagai fasilitator dan penyambung antara mahasiswa dan pihak sekolah. Mengurus surat menyurat dan keperluan birokrasi untuk laporan akhir.

Tema yang kami pilih setelah survey awal, adalah Optimalisasi Internet Sebagai Sumber Belajar. Yang intinya berisi materi memanfaatkan aneka aplikasi yang diberikan oleh Google secara gratis. Yaitu Gmail, Mailing List,  Google Drive, Google Form, Google Doc dan Blog.

Menyimak dengan Serius

Para Peserta sangat antusias. Terlihat begitu tertarik mencoba sendiri materi yang kami sajikan di laptop.

Kendala utama hanya pada koneksi internet yang sangat lambat. Segala cara kami coba, mulai modem router, tethering dari hp android dan modem biasa. Mulai dari smartfren, indosat, simpati dan XL. Semua sinyal internetnya putus nyambung. Apalagi cuacanya mendung dan kadang hujan deras sekali. Walau begitu kami masih semangat menanti loading demi loading dan menyelesaikan materi semaksimal mungkin.


Guru dan Kru PPL

Dari bincang-bincang ringan, akhirnya ketahuan kalau ada beberapa guru yang juga satu alumni dengan saya, yaitu di SMA Negeri 2 JOmbang. Beliau adalah Kepala Sekolah MTsN Panglungan Wonosalam, ibu Umi Khoiriyah. Dan satu guru perempuan lagi, saya lupa namanya. Dari cerita beliau, sebenarnya kompetensi para guru sudah cukup mumpuni untuk meningkatkan kinerjanya. Semuanya sarjana dan responnya baik secara akademik. Minim fasilitas saja yang masih jadi kendala pemerataan kualitas pendidikan di desa.
Heni - Hay

Saya berharap di pemerintahan pak Jokowi ini, ada peningkatan yang signifikan pada akses internet di Indonesia. Karena internet bisa mempermudah kinerja para guru dan murid. Tentu saja, penggunaan internet sehat pun harus selalu digaungkan dan menjadi tanggung jawab bersama. Keikutsertaan saya di PPL semakin memantapkan niat saya untuk lebih serius mengotak-atik e-learning, agar kelak jika internet di Indonesia sudah bagus, banyak situs berbahasa Indonesia yang berkualitas bagus dan bisa diakses untuk keperluan pendidikan. Semangat :)