OEEKK!!!!

Oeekkk…suara manusia kecil yang baru terpisah dari pelukan hangat rahim ibunya terdengar di malam itu. Pukul 22.15 tepat.

“Pak San. Laki-laki.” 

Suster pembantu bidan di rumah sakit Sayang Ibu mengantarkan seorang bayi yang terbungkus selimut putih keluar ruang bersalin. Untuk menunjukkan bayi berkulit putih kemerahan itu pada keluarga yang setia menunggunya lahir sejak maghrib tadi.

“Alhamdulillah..alhamdulillah. San, San, anakmu wis lahir. Duh Gusti, alhamdulillah.” Ibuku berlari menuju pintu ruang bersalin yang terang benderang itu. Aku segera berdiri tanpa sempat membereskan sajadah yang sejak maghrib tadi menemaniku berdzikir tiada henti. Aku meloncat dan berpekik lirih, “Subhanallah, alhamdulillah anakku selamat.”

Aku dan ibu berdiri merapat di depan boks bayi yang masih dipegang oleh Suster Asisten. “Ini bu, silahkan dilihat dulu. Anda bapaknya ? kalau mau diadzani silahkan.” Tanganku gemetar tidak karuan ketika ibu meletakkan bayi itu di gendonganku. Aku menatap ibu. Beliau tersenyum sangat manis. Semanis bait-bait do’anya yang turut diberikannya tadi ketika menunggu istriku melahirkan. 

“Masih ada wudhu kan ? langsung kamu adzani di telinga kanan dan iqomah di telinga kirinya. Yang khusyu’,”kata ibu. Aku mengangguk dan mundur tiga langkah menjauh. Kudekatkan bibirku pada telinga anakku. Sedikit terpejam kulantunkan adzan dan iqomah bergantian. Perasaanku terguncang tidak karuan. Berdebar-debar. Senang. Haru yang begitu sangat. Sebenarnya lenganku sangat gemetar. Tapi kutahan. Aku harus bisa menyelesaikan tugas pertamaku sebagai bapak.
Alhamdulillah, gumamku dalam hati. 

Kuserahkan lagi bayiku kepada ibuku. “ibu, ucapkan shalawat juga ya ke adek. Biar kenal suara neneknya,”pintaku pada beliau. Ibu mengangguk dengan tersenyum sangat lebar. Permintaanku membuatnya sangat berarti agaknya . “Sudah bu, pak ? bayinya saya antarkan dulu ke ruang bayi ya. 
Oh ya untuk malam ini istri bapak tidak usah ditunggu dulu. Semua sudah jadi tugas suster ruangan. Ibu dan bapak istirahat di rumah saja. Besok pagi baru kesini, jangan lupa bawa perlengkapan ibu dan bayi lebih banyak.” Permintaan suster menghentikan belaian lembutku pada pipi montok bayiku.
“Ari-arinya, Sus..?”tanya ibu tiba-tiba. “Oh iya sudah dimasukkan ke kendil tanah liat yang ibu siapkan tadi. Nanti dibersihkan lagi di rumah. Silahkan diambil di ruangan itu bu,” suster menunjuk ke ruangan kecil bercat putih bersih di belakang kami. Tak lama kemudian aku dan ibu sudah dalam perjalanan pulang. Dinginnya angin malam yang begitu menusuk kulitku yang tidak ditutupi jaket itu tak terasa lagi. Kebahagiaan dan kebanggaanku sebagai lelaki menghangatkanku lebih dari sekedar jaket kulit.

“Assalamualaikum sayang.” 

Dua belahan jiwaku sedang asyik duduk di atas tempat tidur berukuran kecil. Sapaan lembutku membuat belahan jiwaku yang cantik menoleh. “Waalaikum salam. Eh, itu bapak datang dik.” Perlahan Sastri menepuk pipi anakku yang sedang menyusu. “Belum terlalu bisa menghisap ASI-ku mas,”keluh Sastri setelah mengambil tissue basah yang kubawakan dari rumah. Dia membersihkan sudut mata bayiku yang masih ada kulit arinya yang berwarna putih-putih seperti bercak kapas tertinggal di kulitnya. Mungkin itu sisa lemak yang melindungi tubuh anakku sewaktu masih di dalam perut seperti yang kubaca di majalah ibu itu.

“Baru sehari dik. Belum pengalaman kali,”selorohku. 

Maklum pengetahuanku tentang bayi dan ASI masih sebatas buku. “Katanya kalau dicoba terus dia bakal bisa menghisap dengan baik kok.” Sastri tersenyum. “Iya kali ya. Mungkin juga dia sama capeknya kayak aku. Dari tadi cuma tidur. Waktu aku susui pertama kali. Dia membuka mata sebentar, lalu tersenyum trus tidur lagi.”

Pembicaraan kami terputus sebentar ketika ada seorang lelaki masuk ke ruangan yang sama dengan kami. Lelaki itu berpakaian rapi sekali. Dengan jas dan handphonenya yang model terbaru tampak berpegangan erat di pinggangnya. Dia menatap kami. Tersenyum. Kami membalasnya. Lelaki itu kemudian berjalan ke tempat tidur yang ada di seberang tempat tidur istriku.

“Istrinya itu sejak tadi malam menangis mencari suaminya,”bisik istriku pelan-pelan. “Biarin saja. Kangen kali.” Aku menjawab bisikan istriku dengan bercanda. Tidak berminat untuk melanjutkannya, khawatir jadi ghibah.

“Sudah sayang. Jangan cemberut terus toh. Kan sudah dijenguk.” Waduh nggak pengen ngurusi orang lain sebenarnya. Tapi kok suara lelaki yang baru datang itu keras sekali. Aku pura-pura tidak mendengar. Dengan isyarat aku meminta istriku mendekat. “aku bawa cd player portable sama murotal juz-ammah. Aku mau memperdengarkan lantunan kalimat-kalimat Ilahi pada anak kita.” Aku berbisik pada Sastri, dan dia mengangguk senang. Sebentar kemudian kami bertiga larut dalam hening. Mendengar lantunan surat Ar-Rahman. Nikmat sekali mendengarkannya di ruangan ini. Pada saat ini. Entah mengapa rasanya jauh lebih nikmat daripada ketika aku mendengarkannya setiap hari di ruang kerjaku sejak lima tahun yang lalu. Mungkin sekarang karena ada si kecil. Yang ikut bergerak pelan ketika murottal ini kuperdengarkan. Lima tahun yang lalu jagoan kecilku itu belum datang.

“Iya. Tapi kenapa kemarin mas nggak datang!” Suara perempuan di seberang tempat tidur istriku mengagetkan kami. Dengan tenang Sastri membelai rambutku, menjagaku supaya tidak jadi emosi. Aku yang hendak protes jadi mengurungkan niatku dan meletakkan kepalaku lebih dekat ke perut si bayi yang tergeletak di samping Sastri.

“Mas kan meeting di luar kota. Selesainya baru jam delapan sore. Sudah ya jangan marah.” Rupanya kedua suami istri itu mempunyai jenis suara yang super vokal. Keras sekali kalau bicara. “Bawa apa ?!” suara istrinya masih terdengar ketus. “Baju, selimut, tisue sama apa ya nggak tahu tadi mami yang nyiapin,” jawab suaminya. “Bawa dot sama susunya nggak ? coba periksa di tasnya,” pinta sang istri.
“Nggak ada tuh. Buat apa ?” tanya sang suami. “Ya buat dia. Masak nggak dikasih minum susu. Emangnya mau dikasih nasi rawon seperti kesukaanmu ?”. jawaban sang istri membuatku menahan tawa. “Lho dik, bukannya kalau baru lahir harus disusui sama ibunya sendiri ?” kata sang suami kemudian. “Siapa bilang. Itu kan katanya orang-orang tua dulu. Waktu jaman ekonomi sulit,” sang istri menjawab dengan intonasi yang masih tinggi. “Bukan begitu. Katanya kalau baru lahir itu bisa dapat zat kebal dari ASI yang pertama kali keluar. Biar anak kita nggak gampang sakit. Itu loh Sontrum …sontrum gitu namanya.”

Kolostrum kali pak, aku menggumam dalam hati. Kurasakan kaki Sastri bergerak. Mungkin dia juga menahan tawa seperti aku. Mendengar lelaki itu salah menyebut cairan bening yang padat zat kebal itu.

“Tahu apa kamu tentang ASI mas..mas. Itu kan cuma mitos. Susu formula sekarang sudah canggih. Vitaminnya sudah lengkap-kap. Biar bagaimanapun aku nggak mau ah nyusuin. Nanti bentuk tubuhku jadi nggak proporsional lagi. Sebulan lagi aku juga mau diet dan senam. You kan eksekutif muda masa kuno gitu mikirnya,” jawab si istri panjang lebar. Yang intinya tidak ada kata ASI untuk si bayi. Dia tidak mau repot bangun malam untuk menyusui. Atau harus duduk bermenit-menit tanpa bisa melakukan hal apa-apa selain memandangi bayinya yang asyik menghisap cairan putih dari dalam tubuhnya itu. “Sudah ada baby sister yang kusewa seminggu lalu dari agen. Jangan minta aku berkorban lebih banyak lagi. Waktu dan tenagaku sudah habis ketika masih hamil kemarin. Sekarang masih sakit nggak karuan, disuruh repot lagi. Nggak mau aku,” lanjutnya.
Hhhh…terdengar lelaki itu menghembuskan nafas berat. “Ya sudahlah.terserah kamu.”

Jendela ruangan ini besar-besar. Anginnya terasa sepoi-sepoi. Bau harum bayiku dan lantunan halus ayat suci bagaikan lagu nina bobok yang indah di telinga batinku. Kurasakan badanku jadi berat untuk meninggalkan Sastri dan anakku dari sini. Tapi aku harus pergi, sebentar lagi Mr. Kondo akan menyelesaikan negoisasinya denganku. Aku sudah janji untuk menemuinya setelah jam makan siang. Duh.. kok ngantuk sekali. Kepalaku terasa berat, aku merebahkannya di samping anakku.

“Dandy, kamu lupa dotnya anakmu. Nih aku bawakan,” kata perempuan tua itu sambil menyerahkan sebuah dot yang telah penuh berisi cairan putih. Tampak istri Dandy tersenyum senang sambil mengerling manja kepada suaminya. “Mami memang yang paling top deh. Nggak kayak mas Dandy. Apa-apa lupa.” Kata si istri menyindir suaminya yang lupa membawa botol susu. Gadis berseragam putih itu dengan sigap mengambil si bayi dari boksnya. Memangkunya dan menyodorkan botol susu berukuran besar itu padanya. Sebentar kemudian terlihat si bayi mulai menghisap puting karet yang nongol dari dalam botol itu. “Tuh..pinternya anak ini. Sudah bisa ngedot sendiri. Apa tadi malam dia sempat kamu susuin Ven ?” tanya ibu paruh baya itu. ”Nggak. Dikasih dot sama susternya. Aku yang minta, soalnya badanku rasanya masih remuk semua. Sakiiit sekali. Nggak nyangka bakal sesakit ini jadinya,”jawab Veni, istri lelaki itu. “Ya sudah nggak masalah. Nanti sebelum pulang kamu coba aja minta obat untuk menghentikan air susumu supaya nggak keluar lagi. Karena kalau masih produksi tapi kamu nggak kasih ke itu bayi, biasanya payudara jadi penuh dan sakitnya minta ampun,”nasehat ibu itu pada putri semata wayangnya. “Ya sudah kalau begitu, kita pulang dulu aja. Suster kamu jaga disini ya. Jangan sampai ibu kecapekan.” Perempuan berbusana merah tua itu mengajak menantu lelakinya pulang.

Mendengar percakapan mereka bertiga di belakangku, aku jadi penasaran. Ingin tahu bagaimana sih tampang wanita yang kalah sama kucingku. Ogah nyusuin anaknya sendiri. Supaya tidak kentara, aku pura-pura mau keluar. Pelan-pelan aku berdiri. Masya Allah, pekikku dalam hati. Kayak artis sinetron, pantes saja bingung masalah berat dan bentuk badan. Aku berkata dalam hati. Sambil berjingkat kuhampiri boks mungil itu. Ingin tahu betapa rupawannya bayi mereka yang sudah pasti mengusung gen-gen kecantikan ibunya.

Selimut pink muda itu bergerak. Telapak tangan yang mungil muncul perlahan dari sela-sela lipatan selimut. Kulitnya putih sekali. Kuberanikan diri menengok wajahnya. Hmm…betul dugaanku. Pipinya montok bersemu merah, bibir dan hidungnya mungil namun sangat proporsional. Maha Besar Engkau Ya Rabb, bisa menciptakan manusia begini rupa. Dorongan batin menyuruhku membelai kepalanya. Sedikit ragu aku tengok dulu ibunya. Hm..masih tidur pulas dan suster bayi ini juga sedang tidak ada di sini. “Sayang..,” aku memanggil bayi itu lirih. Kuusap kepalanya dengan lembut sekali. Kalau besar nanti kamu akan jadi teman anakku, gumamku pelan-pelan. Seperti tahu kalau sedang disayang, bayi perempuan itu membuka matanya. Dia tersenyum padaku. Kedua tangan dan kakinya bergerak lebih banyak. Mungkin dia gembira. Aku tersenyum menyapanya langsung. 

Hallooo..kubuat wajah lucu tepat di mukanya. Aku harus berdiri membungkuk untuk dapat menciumnya. Cup. Nah kena kamu, kataku gemas. Tiba-tiba bayi itu menangis. Aku panik. Dia menatap mataku tajam. Dia bergerak dan bergerak semakin banyak. Selimutnya sudah tak lagi menutupi tubuh mungilnya itu. Bajunya juga amburadul. Popoknya turun sampai pangkal paha. Aku panik dan bingung, bagaimana bisa menghentikan tangisnya. Dengan ujung jari aku menarik selimutnya pelan-pelan. Ingin menutupi tubuh bayi itu kembali. Astaghfirullah, aku memekik heran. Bayi itu …si cantik itu ternyata tidak mulus total. Kulitnya tidak hanya putih mulus. Tapi banyak totol-total hitam di sekitarnya. Seperti totol anjing dalmatian, tapi lebih besar. Apa itu tanda lahir ? aku menatapnya heran. Rupanya tatapanku itu menambah marah si bayi. Bagaikan sudah mengerti apa yang berada di dalam benakku. Dia menangis keras-keras. Semakin lama semakin keras. Aku bingung. 

Kuputuskan untuk kembali duduk di sebelah istriku. Pura-pura tidak tahu. Biar saja mereka menganggap bayinya menangis karena ngompol. Aku lihat dia dari jauh. Tangisnya belum berhenti. Memekakkan telinga. Tapi tunggu…kenapa suaranya lain dengan bayiku. Dengan bayi pada umumnya. “ Mmmoooohhh….mmmmooohhhh…” bayi itu menangis dengan suara mmoh bukan ooeekkk. “Ya Alloh keanehan apa ini,” aku berdiri dari tempat dudukku. Tapi baru saja aku mau melangkah untuk menenangkannya, bayi itu tiba-tiba tengkurap. Aku heran bukan kepalang, belum saatnya bayi berumur dua hari bisa tengkurap sendiri. lalu dia berputar. Sekarang kepalany tepat mengarah kepadaku. Dan..oh…Masya Allah…dia…bayi itu…anak itu.. sekarang telah berdiri. Dia menatapku dan berdiri. Tapi bukan dengan dua kakinya, dia berdiri dengan kedua tangannya juga. Berdiri dengan empat kaki. Kulitnya bertotol hitam semakin jelas, dan rambutnya…oh di kepalanya sekarang tersembul dua benjolan besar. Seperti ..seperti tanduk. Aku mundur beberapa langkah. Merapat ke tempat tidur istriku. 

Aku menatapnya tanpa berkedip. Sssaa….sa..sapi. aku gemetar sekali. Sapi, anak itu seperti sapi. Astaghfirulloh…aku beristighfar berulang-ulang. Aku duduk. Kupegang tubuh bayiku erat-erat. Aku tak mau makhluk itu menyerang anakku. Keringat dingin mengucur. Bayi itu menatapku liar. Penuh amarah. Terdengar dengusan nafasnya. Dia menggerakkan kaki belakangnya. Apa yang mau dilakukan. Apa dia mau pipis ? tanyaku dalam hati. Dzikirku tak putus sedikitpun. Lho..lho..jangan..jangan ! Kulihat bayi itu menekuk kaki depannya atau tangannya. Dia siap melompat. Menerjang kami. Tolong..tolong….kurasakan dia mencengkeram mukaku dengan kuat. Nafasku sesak..tolong..tolong. Jangan sakiti anakku.

“Ada apa ini ?” teriak ibu bayi itu keras. “Lho mana bayiku?” dia menceracau. Dilihatnya seorang lelaki sedang diterjang makhluk kecil di lantai. Lelaki itu meronta-ronta. Makhluk atau hewan yang menyerang lelaki itu seperti anak sapi. Perempuan itu mencoba tak peduli, dia hanya ingin mencari anaknya. Tiba-tiba masuklah baby sitter yang mereka sewa. Sendirian. Tanpa si bayi. “Lho, anakku mana ?” teriak wanita itu. Baby sitter itu menggeleng. Dia hanya berdiri di depan pintu, karena melihatku bergumul dengan makhluk bermuka sapi ini. Tak lama kemudian dia menunjuk ke arah kami. 

“Bu…ii..tuu…bajunya ..dik..Janette,”katanya kemudian. Wanita itu melompat dari tempat tidur. Sekuat tenaga dia menarik makhluk kecil yang menyerangku itu. “Janeeette..apa yang terjadi. Tidak…”wanita itu menjerit. Berteriak sekeras-kerasnya. Mendekap sapi kecil itu. Eh mendekap anaknya. Yang hidung dan mulutnya masih sama. Tapi kulitnya, tanduknya dan kakinya tak lagi seperti anak manusia. Aku langsung bangkit, meloncat ke tampat tidur istri dan anakku. Aku harus menyelamatkan mereka.

“Mas…mas..bangun. ponselnya bunyi tuh. Dari Mr. Kondo.” Aku bangun dengan terkesiap. Setengah sadar kusambut ponsel yang disodorkan istriku. “Hai. Kondo-san, watashi moo owarimasuyo, soshite jimushoo e ikimasu.” Kutatap tempat tidur di seberangku. Kosong. 

Astaghfirullah. Jantungku belum berhenti berdebar. “Ada apa mas ?”selidik istriku yang heran dengan peluh dingin yang tidak biasanya ada di jidatku. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Kumatikan poselku. Kutubruk istriku. Terima kasih sayang.. terima kasih atas kesediaanmu menyusui anak kita. Seberapa lelahnya aku akan membantumu, meringankan payahmu dalam merawat buah hati kita. Terima kasih sayang, kau tidak mempercayakan anak kita minum susu formula sebelum enam bulan umurnya. Kau bilang, apa anak kucing disusui sama anjing, kan sama ibunya sendiri sesama kucing. Masa anakku disusui sama sapi.

Catatan :
Hai. Kondo-san, watashi moo owarimasuyo, soshite jimushoo e ikimasu.
(Ya. Tuan Kondo. Saya sudah selesai, setelah ini akan pergi ke kantor.)

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊