DUA PULUH RIBU CINTA

PAgi ini sengaja nggak sengaja aku kasih Aldo uang saku sebanyak 20 ribu. Nggak sengaja karena kebetulan nggak ada uang kecil lagi. Barengan sama habisnya air minum di rumah. Dan toko belum juga ngirim padahal sudah ditelpon setengah jam. Sengaja karena sekalian ingin tahu, apa yang diperbuat Aldo dengan uang sebanyak itu.

Biasanya uang saku berkisar dari 2000 - 5000 saja. Itu toh tidak setiap hari. JIka aku bisa menyediakan bekal lengkap. Mulai nasi dan air minum, dan hari itu tidak ada olahraga, maka tidak ada uang saku, tidak masalah. 5000 kuberikan sebagai bonus biasanya. Jika kemarin atau beberapa hari itu, dia berperilaku semakin baik. Atau hari itu ada olahraga. Ini pengalaman, pernah dia minta dibeliin temannya makanan karena masih lapar atau haus, sementara bekalnya sudah habis.

Nah, Aldo pun mengulum senyum menerima pemberitahuanku atas nominal uang sakunya hari ini. "masukkan sakuku aja mah," teriaknya. Aku membalas, "mama masukkan dompet flanel merah ini lho, kamu belum mandi gitu. Nanti hilang kalau ditaruh di saku celana. Pas kamu pakai celana kan uangnya bisa jatuh."
Berangkatlah dia.

Ndilalah, di rumah aku kepikiran terus sama uang itu. Dan apa yang dilakukan Aldo dengannya. Aku menebak, pasti dia beli mainan. Karena sebelum berangkat aku beri tahu, uang saku itu untuk 3 hari ya. Rabu, Kamis dan Sabtu. JAngan beli mainan. PAdahal dalam hati sudah kepikiran untuk membiarkan saja, eh nih mamah masih aja nyeletuk gitu. Waduh kepikiranku makin menjadi-jadi. Salah nggak ya ngasih uang saku sebanyak itu. Kenapa aku tidak belanja telur aja dulu gitu. Aku mulai didera penyakit bawaan para wanita, cemas dan bersalah.

TIba waktunya pulang sekolah. Aku menjemputnya sendirian. Aji ketiduran ketika menunggu waktu menjemput kakaknya. PAdahal dia sudah siap. Minta dimandiin dan pakai kaos upin ipin kegemarannya itu. Aku titipkan Aji pada tetangga depan rumah, yang kebetulan ada. Biasanya dia sering tinggal di desa.

Waktu sudah mepet. PAs aku tengok kelasnya, murid-murid sudah siap berdoa di bangkunya masing-masing. Setelah melaksanakan tugas piketnya , Aldo keluar menemuiku. Dia peluk aku, dan mengatakan, "Ma uangku tinggal 5 ribu. "

Haa....sabar-sabar, aku menahan reaksiku. "Buat apa mas?" tanyaku pelan. Tumbeen juga, biasanya langsung murka deh nih mamah. Itu karena dari kemarin aku dan Aldo membuat kesepakatan. Dia akan lebih menurut kalau aku bisa lebih lembut. Dan kemarin ada insiden belajar sambil menangis, aku menyesal, lalu mengetik surat permohonan maaf pagi2, dan kuselipkan di kotak pensilnya Aldo. MAka saat itu aku kebawa lembut dan sabar. Dah janji sih soalnya. :D

"Mmm...buat beli majalah kuark. Yang level 2. "

Waah...aku langsung menyeringai lebar. Bangganyaa.....

"HArganya lho ma, 13.500, trus kembaliannya 6 ribu..mm....5 ratus. ya. "

Kemarin aku sudah membelikan majalah kuark level 1, karena untuk kelas 1 dan 2 SD. Untuk persiapannya olimpiade sekalian. Semalam dia sempat bilang penasaran sama majalah kuark level atasnya. Dan hari ini dia menjawab sendiri penasarannya itu.

Di atas sepeda motor yg melaju, kukatakan, "Mama bangga..."
dia bertanya, "kenapa ma?"
"Anak mama bisa ngatur uangnya. Untuk beli barang yang berguna. Sip deh. "

Agaknya hasil obrolan kemarin tempo hari masuk juga kehatinya ya. Aku bilang, " inti belajar itu ya mas ALDO ya, ingin tahu, lalu mencari tahu. kalau sudah tahu kemudian tugas kita itu memberi tahu teman yg belum tahu, "

Semoga mamah dan Aldo bisa terus belajar bersama.
Sungguh anak adalah guru yang paling pemaaf dan bijaksana.

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊