Andai Aku "Angie" ,,,,,,,,,,

Kemarin. Dan beberapa hari sebelumnya, tivi disemarakkan eh tak pantas mengatakannya semarak. Tivi didominasi berita tentang wafatnya aktor dan politisi Aji Massaid. Beberapa mencoba menganalisa penyebab wafatnya. Beberapa malah fokus pada keluarga yang ditinggalkannya terutama istrinya, Angelia Sondakh. Satu tivi malah dengan aneh membahas tentang cinta di usia matang [rasanya tidak tepat waktu untuk membicarakannya kan?!!]

Aku begitu terusik dengan pemberitaan itu.
Pertama, aku ingat keadaan sekitar empat tahun lalu, ketika (alm) bapakku terkena serangan jantung ketika mandi. Ketika bapak dan ibu serta adik dan mbakku akan pelesir ke Trawas, ke hotel, sekaligus rencana Bulan Madu Kesekian kalinya untuk ibu dan bapakku menjelang Ulang tahun pernikahannya. Tidak sampai lima belas menit dari pasca bapak ditemukan duduk bersandar di bak mandi dengan memegang dada kiri, menurut adikku, bapak sudah menarik nafasnya yang terakhir. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Aku, yang kala itu sedang menggendong anak kedua yang masih berumur 9 bulan di rumahku sendiri. Dan menunggu si kakak pulang sekolah TK. Kami berencana ke rumah ibu, tanpa tahu sebelumnya bahwa mereka akan wisata ke Trawas. Dan ternyata, rencana itu berubah. Tepat ketika di belokan gang ibuku, kulihat kursi plastik hijau berjejeran di depan selubung kain hijau tempat memandikan jenazah itu mulai dipasang di depan rumahku.

Seperti MIMPI.

Ya, itu juga yang dirasakan dan dikatakan oleh Angie, ketika ditinggal wafat secara mendadak oleh suaminya. Dan itu juga yang disesalkan ibu berkali-kali, karena ketika bapak menarik nafas terakhir, ibu sedang ke pasar membeli jamu cair anti masuk angin, untuk bekal perjalanan nanti. Hanya adik, adik ipar dan mbakku, yang mendampingi.

Aku pun saat itu, hanya bisa diam tertegun melihat jenazah bapak ada di ruang tamu. Anakku masih dalam gendonganku, dan baru saja diimunisasi Campak beberapa hari yang lalu. Aku tak berani menangis. Karena takut anakku ini akan ikut menangis dan membuat suasana jadi heboh. Tanganku hanya terasa begitu gemetar begitu juga hatiku.
Singkat kata, hanya satu jam kemudian, aku dan beberapa saudara serta tetangga sudah pulang dari pemakaman umum yang berjarak kira-kira 3 km dari rumah ibu. Mengantarkan bapak ke pengistirahatan yang terakhir.

Dan, rasa bagai MIMPI itu masih ada hingga saat ini.
Terutama ketika aku saksikan anak keduaku tumbuh, tanpa mengenal sosok MBahKung alias Kakek dari pihakku. Karena dari pihak bapak, kita memanggilnya Abah.

Anakku ini, Aji, sering digoda kakaknya Aldo, karena tidak punya MbahKung.
Pernah sekali, ketika aku ajak menjemput kakaknya, ada seorang peminta tua di depan pagar sekolah kakaknya. Dan aku berbisik pada Aji,"Dek, kasihan ya Mbahkungnya gak punya uang.."
Dan setelah itu, ketika dia melihat peminta-minta, selalu dia sebut Mbah KUng. Aku merasa salah konsep juga memberitahunya istilah MbahKung.

MIMPI.
Ibuku pun selalu merasa sedih sampai sekarang. Apabila teringat pada bapak. Dan teringat ketiadaan teman bicara ketika dirundung suatu masalah.

FINANSIAL
Mohonlah maafku untuk yang membaca artikel ini. Karena ketika ibuku, dan kebetulan saja Angie, ada di depanku, ditinggal wafat suaminya secara mendadak, kenapa akhir-akhir ini malah finansial yang menjadi pikiranku.

Kalau ibuku, beliau sudah tak perlu menafkahi anak-anaknya. Karena kami sudah dewasa, bekerja dan bekeluarga.

Tetapi Angie?
Kebetulan dia sudah punya pekerjaan tetap. Dan sepertinya, saya yakin juga, penghasilannya kelak pasti cukup untuk memenuhi kehidupannya dan anak-anaknya.
Lalu bagaimana denganku? atau dengan beberapa ibu rumah tangga sepertiku?

Aku mulai mengandai-andai. Jika ini mendadak terjadi, apa yang harus kulakukan?

Bukankah ini semua mungkin?
Karena ini hanya dunia, dan suamiku pun makhluk yang bernyawa. Dan setiap makhluk yang bernyawa pasti akan tiba ajalnya.

Maka, PERSIAPAN untuk menjadi Mandiri secara Finansial terus mengusikku.

Aku harus serius untuk mempersiapkan hal ini.

Aku juga ingat sebuah kalimat dari ibu Melly Kiong, Penulis buku Parenting pada Ibu Bekerja. Bahwa beliau bekerja, karena menjadi seorang perempuan harus siap dengan kemungkinan keadaan yang terburuk. Beliau meneladani keadaan sang ibu yang harus bekerja sekuat tenaga setelah ditinggal wafat suaminya.

Dan perasaan itu bertabrakan terus dengan kalimat dari sahabat perempuan yang katanya mirip denganku. Kata temanku ini, "jangan mengada-ada sesuatu yang belum tentu terjadi. Seperti tidak percaya pada Tuhan saja."
Itu dikatakannya, ketika kuutarakan, kecemasanku jika mempunyai anak lagi.

Lalu bagaimana seharusnya?
Kemarin ada momentum, ketika aku sangat diperingatkan bahwa mendidik dan melatih anakku ini harus sangat serius. dan itu memakan waktu dan pikiran. Lalu ditambah kecemasan ini. Cukupkah waktu dan tenaga yang kumiliki???

Berlanjutlah terus kecemasan itu, sampai aku menonton acara Kick Andy kemarin,tentang para istri yang tabah mengurus suami yang sakit stroke, parkinson dan multiple sclerosis selama bertahun-tahun.

Ada satu istri yang mengatakan sesuatu yang sangat menjawab kecemasanku kemarin kemarin itu.

Yaitu :

SEMAKINLAH MENGENAL TUHAN.
KETIKA KITA SEMAKIN MENGENAL TUHAN.MAKA KITA TIDAK AKAN TAKUT APAPUN LAGI. KARENA TUHAN ITU MAHA KUASA DAN MAHA BAIK. SUBHANALLAH. TUHAN PASTI MENOLONG KITA.

Nah, kata kunci sudah kudapat.
Secara manusiawi, aku masih cemas, dan lebih sering memandangi suamiku tanpa sebab, sampai dia heran. Tapi satu hal yang pasti, aku akan lebih serius menata hidupku sendiri. Dan lebih menghargai, waktu demi waktu yang masih bisa kita lewati secara fisik. Dan yang pasti, aku harus lebih serius mempelajari cara mengenal Tuhan,
ALLAH AZZA WA JALLA.

GMA - 12/02/2011

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊