Anak Keduaku Sepertinya Bergaya Belajar Auditorial

Nama panggilannya Aji.
Ada kata Dirgantara di belakang namanya, itu sengaja kami lakukan untuk mengenang jasa perusahaan yang telah membesarkan dan memberi kesempatan bapaknya untuk kuliah lagi, yaitu PT. Dirgantara Indonesia atau IPTN (untuk nama lamanya) - tempat bapaknya Aji bekerja.

Aji, adalah anak kedua saya. Dia lahir prematur dengan adanya masalah pada alat pernafasannya. Yaitu diagnosa prematur dengan paru-paru kiri belum sempurna. Aji harus  ada di inkubator selama 14 hari. Ketika baru lahir, tubuh Aji beranjak berwarna biru dan nafasnya ngos-ngosan seperti orang habis lomba lari.

Alhamdulillah, akhirnya kami masih diberi  kepercayaan untuk mengasuh Aji sampai saat ini, dan semoga sampai masa terbaik kami nanti. Aji sekarang kelas 1 SD, umurnya 7 tahun. Dia sekolah di SD Islam Terpadu Daarul Muttaqien Surabaya. Lokasinya hanya 15 menit dari rumah kami.

Di sekolah ini, Aji mengalami hal yang istimewa. Istimewa menurut saya ibunya :)
Ketika masuk, ada tes menguji kemampuan calistung dasar Aji. Istimewanya Aji perlu ujian dua kali, karena dianggap mungkin untuk tes kedua, kondisi Aji lebih siap sehingga hasilnya lebih akurat.

Singkat cerita, kemampuan calistung Aji masih terkendala di dua hal yaitu kemampuan membaca dan menulis. Untuk matematika, malah menurut saya, dia maju dengan cepat dan dengan minatnya sendiri. Bahkan ketika masih TK, Aji bisa menghitung mundur dari angka 100 dengan benar, dan dari angka 10 dengan sangat cepat.

Kurangnya Aji membaca dan menulis ini terjadi sejak TK. Saya dan gurunya belum menemukan cara yang tepat agar Aji bisa menghafalkan huruf dengan sempurna dan bisa membaca. Tetapi karena pihak SD mengatakan sebelumnya hal ini tidak masalah, maka saya yakin memasukkan Aji disana. Tidak perlu tetap tinggal kelas di TK.

Dalam perjalanan sampai akhir semester, saya dan gurunya Aji masih mengamati adanya kesulitan Aji untuk membaca dan memahami bacaan. Walaupun dalam perjalanannya saya sudah berusaha memasukkan Aji ke sebuah bimbel baca, dengan harapan ada pengalaman baru yang memotivasinya dan membuatnya yakin bahwa di sebenarnya bisa membaca.

Dan prediksi saya itu benar. Hanya satu bulan saja di bimbel, sudah ada peningkatan yang signifikan untuk kemampuan membacanya. Aji pun menunjukkan minat untuk membaca apa saja, yang sebelumnya tidak muncul. Kami pun memberi apresiasi dengan memberikan hadiah berupa sepeda lipat yang sudah lama di idam-idamkan.

Kami pikir, dengan Aji mulai lancar dan suka membaca, masalah belajarnya di kelas terutama, akan selesai. Tapi ternyata belum. Gurunya Aji masih mengeluh bahwa AJi di kelas masih sering melamun, butuh bimbingan untuk mengerjakan soal dan sering menulis huruf yang terbalik.

Saya menjawab, kenapa bisa begitu? karena ketika di rumah, Aji belajar dengan saya lancar saja. Bisa mengerti dan mengerjakan soal. Tetapi ketika sampai di sekolah, Aji sering tidak bisa merespon keterangan gurunya, menjawab soal ujian paper-test.

Gurunya menambahkan, Aji bisa fokus dan merespon dengan baik jika berhadapan langsung dengan gurunya. Jadi diminta untuk duduk di depan gurunya, atau di samping gurunya. Intinya menjauh dari teman-temannya.

Saya sampaikan, di rumah juga begitu. Jika belajar menghadap buku, Aji tidak bisa jika seruangan dengan kakaknya. Maka saya pindah belajar membaca buku dan mengerjakan soal tertulis di kamar saya. Itu sukses. 

Ketika di rumah, saya tanyakan kepada Aji, kalau di kelas bagaimana?
intinya Aji menjawab, "di kelas kalau ramai, temanku ngomong-ngomong aku bingung"

Dengan jawaban Aji ini saya menduga, jangan-jangan gaya belajar Aji itu AUDITORIAL. Sangat berbeda dengan saya, bapaknya dan kakaknya. Kami bertiga sangat VISUAL. Kami suka membaca buku dan tidak terganggu dengan suara apapun.

Dengan begitu, saya coba mempraktekkan metode belajar yang lain pada Aji. Saya mengajaknya tebak-tebakan, membacakan materi belajarnya, lalu main cerdas cermat berebut menjawab dengan kakaknya. Kata Aji, cara ini membuatnya ingat. Tetapi ada kendala lain, yaitu untuk pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Jawa. Karena keduanya berbeda tulisan dan cara membacanya. Aduh, tugas saya belum selesai.

 Dari literatur yang saya cari, eh ternyata benar, anakku Aji sepertinya tipe auditorial dalam belajar.

AUDITORI (Auditory Learners )
Gaya belajar Auditori (Auditory Learners) mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Ciri-ciri gaya belajar Auditori yaitu :
  1. Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang didiskusikan dalam kelompok/ kelas
  2. Pendengar ulung: anak mudah menguasai materi iklan/ lagu di televise/ radio
  3. Cenderung banyak omong
  4. Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
  5. Kurang cakap dalm mengerjakan tugas mengarang/ menulis
  6. Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
  7. Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru dilingkungan sekitarnya, seperti hadirnya  anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll

sumber : http://www.gayabelajar.net/gaya-belajar-anda-visual-auditori-atau-kinestetik.html

Dari kutipan web berikut juga menggambarkan yang terjadi pada anak saya, dia pernah berkata "aku ini anak bodoh ya ma, aku ini bodoh". Dan itu menghancurkan hati saya *serius walau lebay :)

During my first session with Derek he said, “I can’t do the work because I’m stupid.” I replied, “You’re not stupid, you just need to learn how you learn.” He gave me a puzzled look, so I said, “Some of us learn best by seeing, some by hearing, and some by doing. Let’s see what works best for you.”
Here are some characteristics of auditory learners and what strategies maximize their learning.
Auditory Learners Usually:
  • Enjoy talking.
  • Talk aloud to themselves.
  • Like explaining things to others.
  • Remember names.
  • Recognize variations in a person’s tone of voice.
  • Understand concepts better by talking about them.
  • Are distracted by background noise.
  • Have difficulty following written directions.
  • Read slowly.
  • Have difficulty being quiet for extended periods of time.
  • Like being read to.
  • Memorize things by repeating them aloud.
  • Enjoy music.
  • Whisper the words on the page as they read.
  • Hum or sing often.
  • Like being around other people.
  • Enjoy the performing arts.
Here's a List of Strategies to Help Auditory Learners Succeed in School:
Teach reading by having your child:
  • Use the phonetic approach.
  • Use rhyming word games.
  • Read aloud, even when reading independently.
Use auditory materials to teach lessons, including:
  • Video tapes
  • Audio tapes
  • Books on tape
  • Melodies, rhythms and beats to reinforce information
Have your child:
  • Answer questions orally.
  • Give oral reports.
  • Repeat facts aloud with their eyes closed.
  • Use repetition to memorize.
  • Recite information aloud when they’re studying (i.e., facts, spelling words).
  • Use tape recorders to record and play back lessons.
  • Participate in small and large group discussions before working independently.
  • Study in groups.
Parents should also try to give directions verbally, paraphrase key information, provide students a quiet place to do homework, and play music softly in the background, if they prefer.
So, break out the tape recorder, the books on tape and those rhyming skills, and maximize your child's learning style while boosting his confidence.

sumber :  http://www.education.com/magazine/article/auditory_learners/

Ya, semoga bermanfaat buat kawans yang mengalami hal yang mirip dengan keadaan saya.




Mama, S1 saja ...

Entah sejak kapan, anak keduaku, Aji jadi penakut sekarang. Kemana-mana minta diantar. Pintu dapur harus ditutup. Mandi, BAK,BAB tidak mau sendirian. Dia akan teriak ketakutan jika tidak ada seorang pun yang ada di dekatnya. Padahal jaman dia masih umur 5 tahunan, berani sekali. Lah sekarang umur 7 tahun, mendadak jadi penakut.

Dengan alasan takut karena digoda kakaknya inilah juga, Aji selalu minta bapaknya atau saya tidur menemaninya. Seperti malam tadi, Aji masuk kamar saya dan tiduran diatas kasur saya.

"Kok tidur disini?" tegur saya. "Pengen tidur disini sama mama, mas Aldo nakal godain terus loh", begitu jawabnya.

"Ya udah tidur di sini dulu", sahut bapaknya kemudian.

Saya diam dan melanjutkan pekerjaan saya di depan laptop. Mengedit jawaban UTS mata kuliah Pembelajaran Mandiri yang akan saya email-kan ke dosen malam ini. Tak lupa juga menambahkan satu daftar pustaka yang relevan.

Aji memeluk guling dan bergerak gelisah. Beberapa kali mencoba menari perhatian saya, tapi saya respon sekedarnya saja. Saya tetap konsentrasi di laptop.

"Ma, mama lihat iniloh ma, tanganku bisa begini," kata Aji.
Saya jawab pelan, "he em", tanpa menoleh.

"Maa maa, ..." Aji mengulang lagi kalimatnya. Saya menoleh dan menjawab pelan, "oiya pinteer".

Aji terdiam, saya pikir dia sudah puas dengan jawaban saya. Ternyata tidak, setelah itu dia berkata seperti ini, "mama nggak usah S2 harusnya. S1 aja ma. Udah selesai". Begitu berulang-ulang.

Saya tidak menoleh, hanya merespon " emangnya kenapa?"

Aji menjawab, "soalnya mas itu nakal. Nggodain aku kalau mama nggak ada."

"Mm, waktu mama kuliah ta? Mas nggodain ta? Ya kalau gitu, besok kamu sama mas dititipkan ke Uti saja ya?"Jawabku tetep tanpa menoleh.

"Yawis, pokoknya aku bawa tablet ya ma" , jawab Aji.

"Iya," dan saya tetap fokus di laptop. Namun hati saya rasanya tertohok sekali lagi. Aduh, apalagi kendalaku untuk maju? Begitu saja yang terpikir.

Sore tadi saya membaca buku tulisan motivator terkenal se Asia, Adam Khoo. Buku berjudul I'm Gifted so Are You !.

Saya baca buku itu awalnya karena buku itu adalah bahan UTS matkul Teori Belajar. Setelah membaca sedikit saya tertarik sekali. Dan mirip juga sih dengan motivator lain, bahwa harus berani bercita-cita , bla..bla..bla

Saat sore itu saya merenung. Jadi emak-emak gini apa iya saya bisa bercita-cita? Apa iya ada perubahan nanti? Sedangkan gaya karakter suami dan anak-anakku, Njawani banget. Alias sosok laki-laki yang 90% harus dilayani,ditunggui,didampingi perempuan.

Apa iya saya bisa tembus ke luar Surabaya dalam pencapaian cita-cita saya? Bahkan bisa ke Jepang seperti yang sangat saya idam-idamkan?

Apa iya saya bisa? Wong masih awal S2 saja, anak protes gitu?

Bagaimana solusi ini? Saya terus merenung.

Apa iya tidak bisa?
Wong bu Sri Mulyani saja bisa kerja di Amerika. Padahal kan orang Jawa, iya kan?

Tugas UTS yang hampir beres jadi tertunda pengeditannya. Saya diam dan keluar kamar. Berpapasan dengan suami yang baru selesai mandi. Dia heran dengan perubahan raut wajah saya. Lalu bertanya, "ada apa ma, kok wajahnya gitu?"

"Baru dicurhatin sama anakmu".


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Di Semester Satu

Jauh sebelumnya, saya berspekulasi sendiri bagaimana sih ritme kuliah pasca sarjana itu. Yang pada intinya, pasti lebih berat daripada kuliah di tahap sarjana. Pengalaman saya waktu di Kimia ITB itu, ada 2 x 8 jam ada di laboratorium tiap minggunya. Tidurnya hanya 3 jam. Tugasnya banyak. Bukunya tebal semua dan berbahasa Inggris. Dan capeknya sampai mimisan.

waktu di laboratorium biokimia

Ketika saat itu saya bertemu dengan kakak-kakak yang sedang pasca sarjana, sepertinya ritmenya seperti itu juga. Bahkan lebih ganas lagi. Contohnya saja, ketika saya sedang tugas akhir penelitian di gedung Biokimia Medis di PAU ITB, itu kakak kelas pulangnya jam 9 malam lebih. Bahkan subuh kadang harus kembali lagi untuk mengecek biakan bakteri, jamur atau mikroorganisme yang sedang diteliti.

Nah, jika masuk pasca sarjana jurusan Kimia lagi, saya haqqul yakin, pasti akan mengalami ritme belajar dan kerja sekeras itu. Bahkan bagi saya yang sudah 12 tahun lebih jadi ibu rumah tangga, tentu makin gila-gilaan harus mengejar ketertinggalan sekaligus kelupaan terhadapa materi pelajaran kimia.

Itulah yang mendasari, akhirnya saya meloncat pindah dengan nekad [sekali lagi] ke dunia baru yaitu Teknologi Pendidikan (TP). Paling dasar adalah saya yakin tidak bisa membagi waktu dan tenaga dengan baik, jika tetap ambil kuliah di kimia, dengan waktu untuk anak-anak dan rumah tangga saya.

Singkat cerita, saya sampai di gedung kuliah Universitas Negeri Surabaya jurusan Teknologi Pendidikan. Seperti apa kuliah S2 di sini?

Kebetulan, jadwal kuliah saya cuma dua hari, Jumat dan Sabtu. Mulai jam 1 siang sampai maksimal 9 malam. Intensif banget ya sebenarnya. Tetapi begitulah, saya tidak bisa memilih jadwal, karena sudah ditentukan dari pusat. Bagaimana dengan kurikulumnya? ternyata sama saja dengan waktu saya di Bandung itu, semua juga ditentukan oleh pusat. Jadi bahkan referensi kurikulum 2012 yang saya baca sebelumnya di website pasca TP UNESA tidak sama dengan kurikulum 2013. Untung alhamdulillah ada satu mata kuliah yang dihapus yaitu Statistik. 

Kurikulum TP UNESA 2013, meliputi teori belajar, cara membuat dan mengembangkan kurikulum, teori dan praktek mengembangkan pembelajaran online, filsafat ilmu dan kebijakan ilmu pendidikan serta pembelajaran mandiri. 

Ketika kuliah, para dosen yang terdiri dari para doktor dan profesor, memfasilitasi kami dengan membuka diskusi menggunakan slide power point. Beberapa menit mereka menjelaskan isi power pointnya, yaitu apa-apa saja yang perlu dipelajari, dan buku rujukan apa yang perlu dibaca [kadang perlu juga dibeli].

Setelah itu, hampir pasti, kami langsung diberi tugas untuk mereview buku atau jurnal baik secara individu atau kelompok. Tugas itu berbentuk slide power point dan makalah. Kadang kami hanya perlu mengirim tugas lewat email, menulisnya dalam blog atau harus mencetaknya dalam bentuk handout dan makalah. Kebetulan UNESA belum menerapkan sistim pembelajaran online sepenuhnya, jadi perkuliahan harus ada bukti fisik berupa printout dari tugas-tugas.

Kami tidak hanya mengumpulkan tugas, tetapi wajib wajib dan wajib mempresentasikannya di depan kelas. Kemudian mendiskusikannya dengan teman dan dosen. Begitu seterusnya tugas demi tugas diberikan.






Kehadiran tidak dianggap penting, karena mayoritas mahasiswanya adalah para guru dan pekerja. Terutama bagi guru PNS, mereka sulit sekali untuk membolos saat ini. Karena ada ketentuan waktu minimal mengajar sebagai syarat cairnya insentif sertifikasi dari pemerintah. 

Karena jarang bertemu, kami berkomunikasi lewat email, grup whatsapp dan sms/telpon. Untuk mengerjakan tugas juga mudah sekali, karena adanya internet. Buku rujukan juga beberapa berupa e-book, sehingga kami bisa jauh lebih hemat dan mudah. Walau sebenarnya jauh lebih nyaman membaca buku cetak daripada ebook.

Dengan waktu kuliah hanya 2 hari, apakah itu mudah bagi saya?
Oh ternyata diluar dugaan, saya sulit juga membagi waktu. Mengurus rumah, anak-anak, sesekali mengendalikan bisnis online saya, mengerjakan tugas kuliah dan belajar. Apalagi ketika kuliah itu, saya berangkatnya jam 12 siang dari rumah, naik sepeda motor di waktu macet. Sampai di kampus biasanya 1 jam kemudian. Penatnya luar biasa, terlebih di pagi harinya saya biasanya tidak istirahat. Karena harus ekstra memasak untuk anak suami di rumah, menjemput anak-anak, dan menyiapkan mereka agar aman ketika saya tinggal ke kampus. Sering waktu sampai kampus, saya lapar luar biasa karena tidak sempat makan siang. Untungnya saya selalu sempatkan untuk membawa bekal sendiri dari rumah. Jadi sayalah satu-satunya mahasiswi ibu-ibu yang selalu dengan cueknya makan di kelas sebelum kuliah mulai atau di waktu rehat. Cuek aja biar saya tidak kena sakit maag.

kebetulan ga bawa bekal, beli nasi bungkus di kantin pasca


Begitulah, mungkin jika kita ambil kelas pasca langsung setelah lulus sarjana atau ketika kita aktif bekerja sebagai pendidik atau di bidang yang sama, kesulitannya lebih sedikit daripada saya yang full ibu rumah tangga dan malah aktif ke bisnis dan craft. Namanya mendongkrak isi kepala agar bisa konsentrasi kembali itu luar biasa usahanya. Alhamdulillah sangat terbantu dengan deadline. Kalau sudah waktu mepet, eh selesai juga kerjaan saya, hehehe.

ada teman asli dari Cina, miss Zhu, dosen bahasa Mandari, Univ. Petra Sby


Dan alhamdulillah, berkat sebelumnya saya aktif membaca dan update diri secara online, maka ketika presentasi, saya bisa melebarkan topik pembicaraan yang relevan sehingga lebih menunjukkan faktanya. Di awal semester ini, intinya kami masih belajar di pusaran teori. Hobi browsingku sebelumnya juga membantu saya dengan cepat mencara referensi atau gambar yang sesuai dan menarik untuk power point saya. Apalagi ketrampillan blogging saya, sampai bisa bermanfaat untuk beberapa teman yang bahkan belum mengenal blog sama sekali. Begitulah kawan, semua ilmu pasti kelak ada manfaatnya untuk orang lain.

 Ini saja sharing saya kali ini, semoga bermanfaat. 
Heni PR

Class Shoot

Gedung Pasca Sarjana Universitas Negeri Surabaya
jurusan Teknologi Pendidikan 
angkatan 2013
kelas A


Mayor Sita. Pengembang kurikulum di kalangan pendidikan TNI AL
Markas di Kobangdikal Surabaya
Berkat ibu Mayor Sita ini kita selalu "SIAP !'", ya SIAP !


suasana serius ngerjakan tugas di kelas
tampak deretan kabel-kabel di lantai
colokan kabel sampai panjang paralel

video
kemarin sempat shoot dosen Pembelajaran Mandiri waktu ngajar


Makan Siang + Dinner sekalian di kelas, Hemat bawa sendiri. :)


Kelas Kosong, Narsis duluuu :)

Dari Ebook ke Make Up

Sabtu pagi berkutat memindahkan file ebook melalui SD Card atau kartu memori. Lalu coba baca sedikit garis besarnya.

Ebook tentang Teori Pendidikan Online, dalam bahasa Inggris. Waduh lumayan lama nggak megang bahasa Inggris euy, lieur juga :)

Ada 4 bagian, total 16 bab. Lumayan. Tetep semangat.

Menjelang sore, ebook ditutup dulu, lalu menuju rumah ibu. Masih satu kota, di Surabaya juga. Perjalanan hanya 30 menit.

Ada acara syukuran kakak dan arisan keluarga. Dasar saudara cewek pada narsis semua, jadi deh pengen foto-foto sebelum potong tumpeng.

Kebetulan aku bawa palette lipstik dan bedak two way cake. Jadi deh make over si kakak plus masangin jilbabnya.

Lumayan hasilnya, sayang jilbab itu modot morot alias lepas semua waktu kakak makan nasi tumpeng. Maklum, nggak siap, jadi kurang jarum pentulnya.

Alhamdulillah, berkat kenal sobatan sama emak-emak perias pengantin. Jadi saya bisa belajar merias gratisan deh. Lumayan, bisa jadi hobi yang produktif nantinya.

Nyari target, dirias, dijilbabi, lalu difoto. Hobi visualku yang asik sekali.

Semoga menginspirasi
Heni Prasetyorini
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Steam It Tupperware

Ajaibnya mengukus dengan Steam It Tupperware.

Bisa dipakai diatas wajan biasa. Dengan batas air sesuai ukuran pinggiran wadah Steam It.

Kali ini mengukus tahu sekaligus sayuran untuk Pecel. Cuma sepuluh menit sudah beres.

Alhamdulillah sepiring nasi pecel siap buat sarapan bersama suami tercinta.

Bumbu pecelnya beli di pasar Genteng, pusat keripik dan oleh-oleh di Surabaya.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

MaMakBa

MaBa (Mahasiswi Baru) cocok buat yang masih menik-menik,imut-imut ya. Lah kalau kita ya pantesnya MaMakBa (Emak-Emak jadi Mahasiswi Baru) hehehe.

Lanjut cerita di ruang kelas 04 di gedung K10, Pasca Unesa.
Itu adalah hari pertama kami kuliah. Di jadwal harusnya ada 4 mata kuliah, sejak pukul 1 siang sampai 9 malam.

Ternyata semua dosen berhalangan hadir, ada yang ke Amerika, atau tugas lain. Untung saja ada dosen untuk matkul di hari Sabtu, bisa diminta untuk mengisi.

Yaitu matkul TIK Pendidikan. Teknologi Informasi Komunikasi Pendidikan, oleh bapak Dr. Danang, lulusan Ilmu Komunikasi UNAIR dan UNPAD.

Bapak Danang menjelaskan konsep Teknologi Pendidikan intinya pada meramu metode pembelajaran yang paling efektif agar hasil optimal untuk pelajar. Metode itu tidak harus lewat multimedia seperti komputer dan internet. Tetapi karena sekarang sudah era internet, maka perlu dipelajari metode menggunakan komputer dan internet itu.

Kami pun diberi tugas membedah buku lalu dipresentasikan dalam kelompok kecil. Bukunya berbentuk e-book sebanyak 6 buah. Alhamdulillah saya bisa dapat anggota kelompok gadis NTT yang baru lulus tahun 2013 jadi masih semangat, plus teman yang masih berhaji.

Saya bersyukur bangeet bisa dapat "kado" 6 ebook bagus tentang e-learning ini. Topik yang memang menjadi interest saya ketika memilih jurusan ini.

Yang menarik juga ketika dosen memberi tahu bahwa dalam matkul-nya wajib membuat blog. Saya pun nyeletuk, "wah siap pak, saya ibu rumah tangga blogger", hehehe..

Beliau menjawab, "ah ibu merendah".
Teman berkomentar, "bu Heni nih, ibu rumah tangga mainannya Blog, duh".

Hehehe, targetku menaikkan nama Ibu Rumah Tangga di kancah akademisi, mulai nampak jalan masuknya nih kayaknya, hihihi semangat emaak.

Begitulah, saya pun dinobatkan jadi Bu RT !!!
Yang tugasnya, "mengayomi" kata teman-teman yang rata-rata sebagai guru dan sudah STW alias setengah Tuwa, termasuk diriku, :)

Alhamdulillah, saya yakin nggak salah pilih masuk jurusan ini. Dan tidak menyesal karena melepas rencana semula meneruskan linier ke kimia ITS.

Kata suamiku juga begitu, "kamu cocok di jurusan ini ma, soalnya suka baca".

Syukurlah ebook ini bisa ditransfer ke mana-mana dengan mudah memakai SD Card. Termasuk ke android tablet merk Zyrex milik anak keduaku. Hadiahnya setelah sunat.

Membaca ebook dari tablet lebih nyaman daripada pakai laptop. Syukur alhamdulillah, ketika bisa kuliah lagi, fasilitas ada, anak dah gede dan ngerti tugas ibunya.

Masa sulit kemarin atau masa tunda kemarin itu, sudah tak terasa lagi sulitnya. Asal gigih, pasti terbuka jalan.

Semoga menginspirasi.
Heni Prasetyorini

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sambil Jemput Anak

Jadwal kuliah hanya Jum'at dan Sabtu. Maka dari Senin - Kamis, jadwal per-ibu rumah tangga - an tetap. Salah satunya ya, antar jemput anak sekolah.

Anak-anak saya sudah SD semua. Kelas 6 dan Kelas 1 SD, disekolah yang berbeda. Tiap harinya, yang kelas 1 SD pulang pukul 12.30 sedang kakaknya pukul 14.30. Beda dua jam, biasanya saya pulang dulu sama si adik untuk makan siang dan sekedar istirahat. Saya sempatkan beres-beres rumah. Lalu berdua adik, menjemput kakak yang ikut bimbel wajib di sekolah karena sudah kelas 6.

Hari Rabu, spesial karena si adik ikut bimbel sampai pukul 2 siang. Kebetulan tadi saya lupa kalau dia ikut bimbel, jadi terlalu cepat datang menjemput. Untung saja sebelum pulang, saya ingat untuk mampir ke sekolah si kakak, mengantarkan uang jajan. Pagi tadi lupa saya beri uang jajan, padahal cuma ngasih bekal roti meises. Anak sulung saya sumringah gembira ketika saya datang ke kelasnya memberi uang itu. "Aku kelaparan ma tadi, trus mama datang ngasih uang, aku langsung beri nasi soto 2 mangkok. Seger, kenyang".

Sementara untuk adik, saya juga menyesal hanya memberi bekal roti meises + air putih. Padahal biasanya bekal nasi, susu sebotol, air putih sebotol. Ini bimbel pula, aduh, saya pun kembali lagi ke sekolahan adik mengantarkan sebotol susu coklat yang saya simpan di kulkas, sisa sarapan tadi pagi.

Waktu pulang si adik masih 1 jam lagi. Saya pun ambil buku yang saya pinjam di Perpustakaan Pascasarjana UNESA. Dan menunggu adik sambil membaca buku di aula sekolah yang letaknya di bawah masjid sekolah. Kebetulan sekolahan adik ini adalah Pondok Pesantren Terpadu. Saya pun mengaji disini sejak dua tahun yang lalu. Jadi aula ini rasanya enak, adem, banyak barokahnya, diisi ngaji terus soalnya :)

Ketika adik keluar, masih pukul 2 siang, tanggung setengah jam lagi kakaknya pulang. Maka saya ajak adik ke sekolahan kakak, dan kami tunggu disana. Alhamdulillah, baca buku bisa lanjut, terlanjur penasaran nih. Nekad deh masuk ke depan ruang guru, ada kursi kosong dan meja kosong, sip lanjut baca.

Tak berapa lama, datanglah guru si kakak mengajak ngobrol. "Kuliah lagi bu?"

Saya jawab, dan beliau cerita sekarang memegang kelas 2 SD saja tugasnya seperti professor. "Nggak sanggup saya belajar lagi seperti ibu,"katanya.

Cuaca di luar panaas sekali, 36 derajat lebih kali. Mungkin 40 derajat ya?

Kami bertiga pun pulang, dan karena saya yang kena matahari langsung, kepala cenut-cenut rasanya kena panas.

Begitulah balada emak-emak ojekeres.. Hehehe...

Bismillah, bisa dinilai ibadah, amiin.

Semoga menginspirasi ya..
Heni Prasetyorini
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Pertemuan Awal S2 Teknologi Pendidikan UNESA

Semuanya serba online.

Pendaftaran S2 Teknologi Pendidikan di Universitas Surabaya, dimulai dari pengumpulan berkas dan syarat-syarat yang diberikan di website pasca sarjana UNESA.

Penilaian melalui berkas tersebut, tanpa tes tertulis atau wawancara. Pengumuman disampaikan secara online di web pasca.

Registrasi dilakukan dengan mengirimkan berkas seperti ijazah dan transkrip nilai sarjana yang sudah dilegalisir, foto, dan berkas yang harus diunduh dan diisi dari web. Harus ada mutlak yaitu bukti pembayaran.

Membayar registrasi ini sama dengan waktu membayar biaya pendaftaran. Semuanya dilakukan di BNI secara online.

Jadi, awal kita daftar online di web akan mendapat nomer PIN registrasi. Dan nomer ini selanjutnya terpakai untuk melunasi biaya kuliah atau lainnya di bank yang dipilih, kali ini BNI.

Berkas registrasi sudah dikirim langsung ke admin pasca, dan sekali lagi online. Tidak ada berkas bukti selembar kertas pun bahwa saya sudah resmi jadi mahasiswa s2 disini. Saya hanya dikasih NIM (Nomer Induk Mahasiswa), lalu diminta menunggu berita dari website.

Begitulah, alhamdulillah untung saja ada ponsel pintar dengan aplikasi bookmark. Jadi setiap 1-2 hari sekali, saya memantau website pasca UNESA dari BB saya.

Lalu akhirnya muncullah jadwal Pertemuan Awal Mahasiswa Baru Pasca sarjana UNESA, tanggal 10 September 2013. Di gedung pasca sarjana, gedung K10 lantai 3.

Dag dig dug der waktu saya berangkat kesana. Bayangkan, sejak melahirkan anak kedua, yaitu tujuh tahun lalu, saya tidak pernah naik sepeda motor dengan jarak jauh. paling jauh ke rumah ibu saya, yaitu 11 km.

Ini berangkat ke UNESA yang jaraknya hampir dua kali lipat jauhnya. super dag dig dug. Jadwal masuk pukul 8 pagi, saya berangkat sejak pukul 6.30 pagi.

Saya bangun pukul 4 pagi untuk masak sarapan dan bekal anak-anak sekolah. Cuci piring dan beberes. Dan paginya, anak saya adaa aja masalahnya. Nggak mau bangun, nggak mau mandi sama bapaknya, dsb.

Dan itu suami saya bukannya bantu saya meng-handle anak-anak, malah sibuk ngelap sepeda motor saya. Aduh saya jadi kekii dan makin nervous deh.

Akhirnya saya berangkatlah sendirian naik sepeda motor matic ke UNESA. Di tiap tikungan saya berdoa dan waspada seribu persen. Kalau udah bener jalurnya, dan bisa lewat dari polisi bener, haduuh lega rasanya.

Eh, pas di tikungan dekat Taman Makam Pahlawan Surabaya, pas depan saya ada sepeda motor diseruduk mobil. tepat di depan polisi. Allahu Akbar, makin deg-degan.

Singkat kata saya sampai di gedung pasca dengan selamat. Sudah ada rombongan ibu-ibu bapak-bapak yang tampak seperti para guru. Pakaiannya resmi seperti guru mengajar atau pekerja kantoran.

Saya jadi rada merasa saltum, soalnya pake celana jins, hem katun, pasmina katun, tas handmade. Ya sudah cuek saja, biar dikira fresh graduate, hehehe.

Tiba depan gedung, ada meja daftar hadir. Saya lega ada nama saya disitu. Rasanya sama seperti ketika saya mahasiswa baru di ITB dulu. Di tiap acara, saya selalu melepas nafas lega kalau ada nama saya tertulis di tiap daftar hadir, Heni Prasetyorini.

Setelah tanda tangan, saya naik ke lantai 3. Ruangan aula pasca sarjana UNESA lumayan bagus. Luas, rapi dan kelihatan baru. Dan eh ternyata memang aula ini baru diresmikan dan kamilah yang pertama menempatinya.

Saya sengaja duduk di depan, lalu kenalan sana sini. Ada yang jurusan pendidikan sains, teknik kejuruan rias, seni budaya, PAUD, dll. Amazing sekali saya, bener-bener judul jurusan yang berbeda saat kuliah dulu yang serba sains dan teknik.

Acara molor satu jam karena menunggu rektor dan sejawat datang.

dimulai dengan berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya. Terharu sekali saya. Ingat ibu bapak ... "paakk, bu.. akhirnya saya bisa kuliah lagi". dan ingat suami, "sayangku..makasiih banget dah mau mendanaiku kuliah lagi" .. haru deh.

Acara lanjut dengan laporan dan cermaha dari direktur pasca, lalu rektor dan pejabat lainnya.

Mereka santun,empuk dan enak sekali suaranya nadanya, ketika menyampaikan laporan, pidato atau apapun. Mungkin karena biasa jadi pendidik para pendidik ya, empuk sekali.

Tiba saat simbolisasi penerimaan mahasiwa baru, yaitu memasang jas almamater. Terharu lagi... banggaa...
dan sedih..
sedih karena ingat jas almamaterku ITB dulu, dengan entengnya kuberikan di acara baksos untuk pengungsi. Kok bisa yo Heenn...menyesal banget deh aku.

Kalau jas itu masih ada kan bisa kutunjukkan anak-anakku too..

yaa sudahlah. Kudu ikhlas, terlanjur hehehe..

Saya pun berusaha menikmati setiap acara dan menyerapnya dalam-dalam. Acara dilanjutkan ke ruang masing-masing tiap prodi (program studi).

Di ruang K10.01.05.
ya tetep di gedung ini, turun ke lantai 1, di ruang 05. ketemu 17 teman reguler dan 25 teman dari BP migas Cepu. Teman yang mayoritas sudah bapak-bapak dan ibu-ibu, hehehe. Saya ngerasa lumayan muda lah.

Dari kelas saya, kelas A, kelas reguler dipililah ketua kelas, Yaitu ibu Hayatun Nufus, dari SMA Al-Hikmah Surabaya.
Beliau duduk di sebelah kiriku. lalu bertanya, Heni ngajar dimana?
saya jawab, "ngajar di rumah tangga bu". saya nyengir. beliau kaget, "subhanallah, serius?". saya jawab mantap, "serius bu, sumpah, sueer, saya ibu rumah tangga".
Beliau menatap dan menjabat tangan say, luar biasa, luar biasa.

saya jadi PD nih, hehehe. Begitulah, bu Hayat langsung saya nobatkan jadi sobat saya. Semoga ketularan istikomahnya berislam ya buu, Al Hikmah kan gudangnya muslimah berkualitas. Amiin.

Jadwal kuliah kami pun keluar, yaitu Jumat pukul 13.00 - 21.00. dan Sabtu pukul 13.00 - 19.00. Lumayaan, hari biasa bisa saya pakai dagang dan belajar. Alhamdulillah.

Rencana ngatur anak-anak pun diubah. Kemarin saya sempat menitipkan anak kedua ke sekolahannya sampai sore. Lalu diganti, tiap hari biasa saya antar jemput sendiri dan pulang ke rumah. Lalu Jum'at saya tinggal di rumah ketika kuliah,kemudian suami saya akan pulang dari kantor lebih cepat.
Begitulah, kerjasama tim ngurus anak.

Kuliah saya harusnya mulai minggu depan, tetapi karena dosen harus seminar ke Thailand, jadi diundur seminggu lagi.

Subhanallah, dosennya berkata, "semoga di tahun ini, ada mahasiswa yang ikut kami seminar ke Thailand".

wah saya langsung tersengat. Amin pak, siap !!!

PR deh, kudu belajar bahasa Inggris lebih serius. Biar bisa nulis penelitian dengan bahasa inggris yang bagus dan bisa tembus ke Thailand, juga buat persiapan test TOEFL untuk syarat Ujian Thesis nanti.

wis, pokoke aku siap deh dan sanggup apapun untuk menjalani kuliah ini dengan penuh semangat, rasa ingin tahu dan target.

amazing. bismillah barakallah...

semoga menginspirasi ya...

Heni Prasetyorini
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Untuk Jadi Emak Samson

Begitulah, ada beberapa alasan akhirnya aku dijuluki Emak Samson oleh temanku.
1. Ketika pemasangan dan pelepasan alat KB implan yang dua jarum silikon itu, biasanya di jarum kedua, ibu bidan sulitnya minta ampun masang atau melepas jarum itu dari lenganku. Kata bu bidan, "aduh ibu ini di rumah ngangkat spring bed ya? ototnya kuat banget, susah ditembus". Dan iya itu benar.


2. Setiap aku teriak-teriak ingin curhat karena galau, temanku emak-emak langsung tanggap dengan apa yang kulakukan. Yaitu mengubah letak perabot rumah. Ngangkat lemari, spring bed, mindah rak piring, dsb. Dan biasanya aku telat untuk ikut acara janjian kumpul emak-emak itu, dan mereka menggerutu sambil ngeledek, "emang dasar samson"

Dan berbagai hal lainnya, termasuk ceritaku pada anak-anak, kalau waktu SD aku berani menantang teman laki-laki jika mereka mengganggu adikku. Lalu anakku berkomentar, "mama memang perkasa".

Biarpun mudah termehek-mehek, ototku memang terlatih untuk nekad :)
Tapi masih ada satu hal yang belum tercapai, dan aku masih belum merasa puas. Yaitu kemampuan berenang.

Menurutku, perempuan terhebat adalah yang piwai berenang,berlari, bela diri. Pokoke super keren jika perempuan bisa rutin, istikomah bahkan ahli melakukan hal itu.

Baiklah, satu persatu akan kulakukan untuk melengkapi predikatku sebagai emak samson. Pertama adalah berenang. Maka, mulailah aku belajar berenang. Beruntung sekali, adikku yang baru jadi guru playgroup punya koneksi les murah ibu dan anak sekalian. Di kolam renang dekat rumah pula, hanya 15 menitan. Syukurlah.



Berangkat untuk renang ini perlu perjuangan luar biasa. Karena baru pertama kalinya ini menarik suamiku dari zona nyamannya, yaitu hanya ada di rumah seharian ketika libur kerja. Butuh perjuangan lahir batin deh. hehehe

Tapi kali ini, aku nekad sekali. Tak mau mengalah karena matahari atau capek dan alasan apapun. Pokoknya harus les sampai bisa renang. Target, aku akan selamat jika kelak naik kapal lalu kapalnya terbalik kena ombak, bismillah itu tidak terjadi. Dan anak-anak cowokku bisa renang dengan baik.

Renang dulu, baru nanti lari. Semoga dengan adanya kawat di kakiku untuk pengobatan retak di telapak kaki itu tidak terganggu dan aman saja dipakai berlari memakai sepatu kets. 

Dari Kimia

Saya atau Aku, 
Maaf biasanya saya sering tertukar menuliskan diri sendiri sebagai aku dan saya berbarengan dalam satu tulisan. Jika itu terjadi di tulisan sebelumnya, mohon maklum adanya [seperti surat ijin absen sekolah hehehe].

Ini adalah kisah singkat pencarian minat diri saya sendiri. Yang kalau ditelusuri malah nggak bisa diterima akal sehat. Harusya bisa diterima oleh iman yang sehat :)

Ketika hampir akhir sekolah SMA atau SMU jaman sekarang, saya hampir yakin jika masuk kelas 3 Bahasa adalah pilihan saya yang tepat. Karena sejak SD saya suka sekali membaca dan menulis diary atau semacamnya. Pas masih kelas 2 SMA, sengaja nih kalau saya lewat kelas 3 Bahasa para kakak kelas, saya akan mengintip kegiatan mereka. Dan hati saya meledak-ledak begitu tertarik ketika membaca sebuah karya sastra yang ditulis seorang kakak kelas di papan tulis. Padahal pegel kan tuh nulis sastra di papan tulis pakai kapur?

Namun apa daya. Keinginan saya distop oleh seorang kakak kandung saya, cowok. Yang mengatakan, "ngapain milih bahasa?"!
Singkat cerita, akhirnya saya masuk ke kelas 3 IPA. Lalu lanjut sampai nyemplung ke kampus berlambang ganesha di gedung tua di belakang pojok dekat orang jual gudeg Jogja. Selama 4 tahun saya menjebloskan diri ke dalam meja kelas dan laboratoriumnya departemen Kimia Institut Teknologi Bandung. Luar biasa mati-matiannya saya belajar disini. Yang namanya MIMISAN waktu di lab atau di kelas, seperti hobi saja. 

Mungkin karena hawa dingin Bandung yang ekstrim daripada Surabaya tempat asal saya. Atau mungkin juga begitu menyengatnya bau dari asam asetat, chloroform dan semacamnya yang merusak lapisan tipis pembuluh hidung saya waktu praktikum di laboratorium organik. 

Luar biasanya juga saya nekad merantau di Bandung ini, sendirian. Tanpa saudara dari Jawa Tengah atau Jawa Barat. Tanpa teman satu sekolah dan semacamnya. Benar-benar sendirian. Hanya mengandalkan do'a orang tua bahwa saya akan selamat-selamat saja disini. Ups, mengandalkan juga gaya saya yang super tomboi agar nggak diganggu di perantauan. 

Dari kimia saya berhijrah habis-habisan ke dunia ibu rumah tangga. Saya lepaskan peluang menjadi PNS di sebuah lembaga penelitian negara, karena ada si janin yang udah dititipkan di rahim saya. Begitulah, dunia ibu rumah tangga memompa jiwa raga saya habis-habisan. Betul-betul menjadi kawah candradimuka yang hampir saja membuat tulang belulang saya ikut larut menjadi bahan baku pembakar kawah itu.

Menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja di kantoran, membuat saya putar otak, putar badan untuk melakukan sesuatu. Dan pilihannya belajar membuat kerajinan tangan, belajar di dunia internet, belajar tentang parenting, pendidikan dan lain sebagainya lewat internet. 

Dengan semangat otodidak, karena tak bisa meninggalkan rumah dan anak-anak serta untuk menghemat biaya, maka saya belajar banyak sekali hal baru itu. Membuat kreasi dari kain flanel, aksesoris manik-manik sampai yang lebih rumit yaitu membuat aksesoris dari kawat alias wire jewelry. 

Kadang saya menertawakan diri sendiri juga sih, lulusan kimia kok pegangannya jarum jahit, kain, kawat, manik-manik dan tang. Dan sebenarnya yang menertawakan saya itu banyak sih, ya saudara ya tetangga bahkan orang yang baru kenal sekalipun, selalu berkomentar, "aduh sayang banget lulusan kimia kok jadi ibu rumah tangga saja".

Ya begitulah, mau tidak mau saya harus menyimpan itu suara tertawa di dalam hati sambil mencari cara agar saya bebas dari rasa tidak enak seperti itu. Atau jika tidak bisa, maka saya cari saja motivator lain yang bisa membuat saya nggak minder-minder amat. Sekaligus bisa meningkatkan kemampuan saya baik dalam ketrampilan ataupun pengetahuan.

Begitulah, saya jadi emak-emak browser, yang rajin browsing kesana kemari. Sampai akhirnya saya menclok di dunia komunitas penulis lepas, emak2blogger, ibu profesional dan lain sebagainya. Saya mengenal internet, jejaring maya dan sebagainya untuk mengasah ilmu bahkan sampai nekad berbisnis di dunia maya. Bisnis online. 

Sampai tiga tahun menjalankan bisnis online, saya merasa masih ada kekosongan dalam hati yang belum terpenuhi. Saya kangen dengan sekolah, belajar, ujian dan kawan-kawannya. Saya yang suka sastra tetapi berhasil lolos di dunia IPA, itu karena saya suka sekali belajar. Dan ketika menjadi ibu rumah tangga, proses belajar saya belum mendapatkan tempat yang pas. 

Merenung, merenung dan merenung, maka sampailah satu keputusan bahwa saya harus kuliah lagi. Masuk ke dalam sebuah institusi resmi lagi untuk mengupgrade kembali diri saya dan meletakkan saya kembali tepat di posisi dan konfigurasi yang tepat. Seperti elektron.

Layaknya elektron yang tidak ada di konfigurasinya yang benar, maka dia akan gelisah dan masih ingin sekali lompat ke atas atau malah lompat ke bawah, ketempat yang baginya lebih stabil.

Begitu juga saya. Maka dalam rangka mencari kembali konfigurasi saya yang tepat, saya memilih untuk meneruskan kuliah. Dari informasi yang diharmonisasikan dengan keadaan diri saya sendiri, maka saya pun memilih jurusan Teknologi Pendidikan untuk dipelajari sekarang.

Maka sejak postingan ini, saya akan membagi cerita bagaimana seorang ibu rumah tangga menjalani hari-harinya menjadi mahasiswi pasca sarjana Teknologi Pendidikan. 

Entah nanti bagaimana akhir dari proses saya ini, dari ingin menjadi sastrawan, masuk ke kimia, lalu jadi ibu rumah tangga, kemudian menjadi pebisnis dan emak blogger, kemudian menjadi mahasiswa lagi di dunia pendidikan. Apapun itu, niat saya hanyalah ingin menjadi perempuan yang mandiri dan bermanfaat di dunia dan akhirat. Amin.
Semoga kelak kisah-kisah harian saya menjadi manfaat dan inspirasi, terutama untuk para ibu rumah tangga.

Liputan Jilbab Orin di Wideshot Metro TV , 6 Agustus 2013. Inspirasi Bis...

Behind the scene JIlbab Orin diliput Metro TV Jatim

Hampir tiga minggu yang lalu, sebuah sms tiba-tiba masuk ke handphoneku.

SMS itu masuk ketika aku masih duduk di atas sajadah untuk sholat dhuhur. Bahkan belum berdzikir dan berdoa. Sudah jadi kebiasaan, tiap ada suara sms, aku langsung segera menyambar hp. Karena takut itu dari suami atau ibu, dan itu penting. Jika ringtone suara BBM, aku masih tak terlalu mengindahkan karena ibu dan suami tidak memakai ponsel pintar itu.

Ternyata SMS tawaran dari Metro TV jatim itu yang datang. Semula aku tak terlalu menghiraukan, dan menjawabnya sekedarnya saja. Kujawab, "Maaf mas saya tidak siap. Karena beberapa saat ini bisnis Jilbab Orin sedang vakum."

Kupikir jawabanku akan mengakhiri semuanya. Tetapi ada sms balasan, "bisa diatur settingnya mbak. Jika mbak masih ada beberapa produk handmade dll. Ini untuk acara Inspirasi Bisnis Kreatif. Dan ini gratis. Lumayan kan mbak, jika gambarnya bagus bisa masuk tivi."

Gratis?
wah kebetulan juga. Karena tahun kemarin, aku sering mendapat tawaran muncul di media koran atau elektronik tapi harus membayar dulu sejumlah uang. Mulai dari 4 jutaan. Dan aku belum bersedia. Dan tawaran ini gratis? wow kebetulan yang amazing sekali kan. 

"kalau bisa besok siang kita shoot ya mbak," begitu lanjut sms-nya.

Hahh, besok? gila aja. Hampir semua produk jilbabku habis terjual. Yang tersisa hanya beberapa. Aksesoris kawat, lumayan banyak karena jika waktu luang aku bereksperimen membuat aksesoris kawat. Tetapi ini luar biasa, besok? ah aku langsung menyatakan tidak sanggup.

"kalau 2 minggu lagi, gimana mas? untuk persiapan?," jawabku bernegosisasi.

"Oh, 2 minggu lagi mungkin saya sedikit sibuk banyak liputan mbak. Besok sabtu itu saya banyak waktu luang. Ya sudah, semoga 2 minggu lagi tidak ada halangan, trims." jawaban singkat itu mengakhiri sms-sms kami.

Waktu pun berlalu. Aku menganggap hal ini akan lancar saja. 2 minggu lagi akan kupersiapkan dengan sempuran. Jilbab handmade, aksesoris handmade, bahkan membuat logo baru dan baligo baru. Sempurna pokoknya.

tetapi... 2minggu lagi banyak liputan?
bagaimana jika dia tidak sempat datang meliput kami? betapa emannya, sayangnya kesempatan ini disia-siakan.

Tetapi jika lanjut? bagaimana? stokku kurang banget tentu. Kemarin vakum berbisnis cukup lama sejak anak-anak berturut-turut opname dan aku mempersiapkan diri untuk kuliah lagi.

Sepanjang sore aku kepikiran terus, terlebih setelah buka puasa. Lalu aku kontak teman ibu-ibu wali murid TK anakku yang udah lulus. Mereka pun bersedia membantu. Kami punya waktu 24 jam saja. 

Dan begitulah sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Mencorat-coret buku membuat konsep, mengumpulkan aksesoris wire jewelry yang kubuat selama ini, mengumpulkan produk jilbab handmade yang mewakili seperti jilbab sulam pita, jilbab lukis, jilbab bordir.






Sempat aku tidak PD menggunakan rumahku sendiri sebagai tempat liputan. Dan mengajukan ide butik teman sebagai gantinya. Namun teman emak-emakku tadi menentang semua. Aku harus tampil apa adanya, dan menunjukkan hasil kerja kerasku selama ini. Toh semuanya berkonsep sebagai inspirasi bisnis. Dan menurut mereka, yang kulakukan selama ini sangat bisa menjadi inspirasi. Alhamdulillah, aku pun nurut dengan ide mereka.

Dan setelah sahur, aku pun mulai beraksi. Membuat nama JIlbab Orin dari kain flanel, menata ruang tamu kami yang super minimalis itu menjadi workshop. Suamiku membantuku dengan baik, mengeluarkan kursi, mengepel dan mengangkat meja. Sehingga aku fokus pada kreativitas visualisasi di ruangan itu.

menyiapkan display, masih 30%

Menjelang dhuhur semuanya beres. Aku, anakku, suamiku sampai ketiduran sambil menunggu emak-emak datang. Membawa patung manekin tambahan, baju, aksesoris, dll yang membantu agar display lebih semarak. 

Kebetulan ada satu emak yang jadi perias pengantin, kami pun di make overnya. Celakanya, giliranku di make up belum beres, eh si reporter dan kameraman datang. Mas @rifaipamone ini pun teriak-teriak manggil agar aku keluar dari kamar untuk interview awal. Aduh mak, lisptikku masih separuh. 

Panik. Temanku yang perias itu masih ngejar aku aja agar bisa beres make upnya. Jadi aku di make over sambil jalan, sambil ngobro, kayak artis kejar tayang aja dah. hehehe...

Sambil menyiapkan lainnya, reporter ngobrol sama suamiku. Dan dia kaget ketika diberitahu suamiku, kalau aku dulu pernah dapat panggilan kerja dari Metro TV, tapi aku tolak karena sedang hamil anak pertama. Ohya, aku ingat dulu pas iseng ikut bursa kerja, hehehe. Dikit nyambung juga deh. *eh tapi aku lupa ya, itu Metro TV apa Trans TV ??* halaagh yaudinlah, kagak penting juga. 

Dan akhirnya proses shooting berjalan dengan lancar, diselingku keriweuhan sedikit oleh anak-anak kami yang berseliweran dan teriak-teriak.

foto lengkapnya disini yaa



Satu lagi, namanya ibu-ibu yang ribet sama foto-foto narsisnya. Apalagi pada pengen di foto di gadget masing-masing. Ruwetnyaaa emaak-emaaak, sungguh malu-maluin :D


Ending shooting, aku berikan dua paket kripik Khas Malang. Sekalian promosi juga sebenarnya. Mas reporter berkali-kali menyebutkan kalau ini gratis loh. 

Rasa happy dan legaku numpuk jadi satu. Karena kebetulan, hari itu Sabtu 13 Juli 2013, adalah hari ulang tahun pernikahanku dan suamiku. So sweettt.....


Begitulah, acara shooting selesai, kami harus menunggu dua minggu katanya. Nah sudah dua minggu lebih berlalu belum ada kabar. Apalagi pas seminggu setelahnya, anakku yang kecil masuk rumah sakit, opname karena demam berdarah. Udah deh, nggak kepikiran sama sekali tuh liputan akan tayang.

dan... 3 minggu kemudian, alias kemarin.... mendadak lagi, ada sms ke hp-ku, dan itu ... OMG... membacanya membuatku menyesal tiada tara. 

mengapa? karena sms itu datangnya jam setengah 2. Dan baru aku baca jam setengah 4 sore. Telaat..... oh tidaaakkk !!!!

Aku mencarinya di website www.metrotvnews.com di bagian wideshot, dan ternyata tidak ada. Aku konfirmasikan kata mas Rifai ini tidak semua tayangan di upload di web metro. 
Duh, menyesalnya. Tapi ya sudahlah. Pengalaman ini luar biasa pokoknya. Thanks to metro. Semoga mereka bisa dan boleh dan mau mengirimkan file videonya kepada kami. Amiin. 

Semoga menginspirasi. 

Jilbab Orin Diliput Metro TV Jatim

Kagak nyangka.
Allahu Akbar.

Speechless...

share foto-fotonya dulu, next akan ditambahi deskripsi. Mata udah nggak kuat. Ngantuk .... persiapan sahur :D












Fashion No Mention

Sebel nggak sih?
Jika...
Beberapa kali kumpul ibu-ibu, ada yang suka melototin kita dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu dia mendekat pada kita, dan berbisik,

                      "nggak pantes banget sih jilbabnya"
"wajahnya nggak dirawat ya? kusem banget"
"pakai nih krim saya. jadinya alus dan mengkilat. nggak perlu pake bedak Jeng"
"aduh gede banget sih bempernya. Nggak pernah ngaca ya?"
"itu roknya beli dimana? pas banget ya sama gedenya badan"

Saya nih, yang dari muda nggak peduli-peduli amat sama penampilan, kok ya lama-lama sebel juga mendengar hal itu ya?

Jaman saya masih merantau dan sekolah jauh dari rumah itu, saya nggak menyediakan waktu buat mikiran fashion sama sekali. Kecuali  malah berusaha tampak gagah, macho, berani dan kuat. Tujuannya sih agar saya nggak diganggu siapapun jika di stasiun, di kereta api berjam-jam atau harus pulang jalan kaki dari kampus ke tempat kos di tengah malam.

credit
Celana jins longgar, kaos, jaket kampus, jilbab kaos, sepatu kets atau sandal. Sudah itulah senjata andalan. Make up paling banter bedak dan pelembab. Yang penting cuma, aku nggak bau badan dan bau mulut gitu aja deh, aman.

Nah, jaman itu jadi tomboi masih aman-aman saja. Atau lingkunganku mendukung juga ya?
Sekarang mulai membuka diri bergaul dengan ibu-ibu sekitar rumah, sekolahan dan sekitarnya kenapa malah saya jadi makin terintimidasi ya rasanya?

Makin terancam oleh ulah Fashion.
Jadi salting jika kumpul-kumpul. Takut dibilang nggak matching. Takut kelihatan gendut. "aduh jilbabku berlebihan gak ya? atau aduh salah kostum nih." 

Perasaan yang muncul ini bikin saya sebel juga pada diri sendiri.
"Kemana jiwaku yang merdeka dalam balutan celana jins belelku itu?'
begitulah kira-kira teriakan dalam hatiku.

Tetapi jika saya bertahan cuek beibeh juga kasihan sama suami saya. Mosok istrinya acakadut gitu sih? kayak nggak dikasih nafkah aja, kayak nggak diurus.

Akhirnya saya mulai menerima kenyataan bahwa berdandan adalah kebutuhan perempuan. Saya mulai merawat diri. Memperhatikan baju dan kebutuhan pakaian lainnya. Iya, saya juga merasakan ada energi positif juga pada self esteem dan self confidence saya dalam bergaul atau tampil keluar.
Tapi rasa terintimidasi itu belum hilang juga.

sebagai kebalikannya adalah seperti ini,
saya punya kenalan beberapa dosen perempuan. Bidang Kimia dan Matematika. Mbak-mbak ini [begitu saya memanggilanya, pakai mbak bukan ibu], konsisten banget dalam berpakaian. Kalau dari modelnya ya juadul banget. Bahkan jarang ganti baju. Artinya sering ketemu pakai baju yang sama. Tetapi kepintaran mereka luar biasa. Apalagi kebaikan hati mereka, sudah pantas jadi penghuni surga deh pokoknya. Mereka mending spend money buat mahasiswanya yang butuh uang penelitian daripada beli baju, gitu deh kasarannya.

I adore them so much. Saya sangat memuja mereka. Dan saya yakin di lingkungan kampus, mereka tidak akan menerima bentuk intimidasi fashion seperti yang saya alami di dunia ibu rumah tangga. Mereka dihargai di lingkungan yang mendukungnya itu. 

Memang sih, tidak semua ibu rumah tangga begitu. Hanya terkotak pada lomba update fashion semata. Unluckily lingkungan dekat saya begitu. Menghargai orang dari bajunya, tas-nya, sandalnya dan apalagi mobil dan rumahnya. 

Walau begitu saya juga pernah mengendalikan sebuah bisnis fashion kecil-kecilan : Jilbab Orin. Sebuah keajaiban atau campur tangan Alloh SWT juga kali ya, untuk membuat  saya nggak tomboi terus seumur hidup. Sedikit care sama kecantikan gitulah. Dan memang berhasil juga, saya sedikit ngeh tentang fashion.

Namun terus terang, jujur. Saya tersiksa sekali berbisnis di bidang fashion. Rasanya saya telat terus. Kuper terus. jadul terus. Dan ketinggalan jaman terus mengikuti putaran dunia fashion yang cepatnya minta ampun itu. Dan saya paling nggak nyaman kudu berdandan sesuai trend masa kini. jadinya saya nggak bisa jadi manekin berjalan untuk bisnis fashion saya itu. lama-lama saya menyerah deh. Fashion is not my passion. 

Sebenarnya ibu saya, keluarga saya, bahkan bapak saya itu suka berdandan. Suka tampil rapi, modis dan trendi. Cuma saya aja yang nggak. Dari kecil lebih tenggelam di buku-buku. 

Akhirnya saya mau ambil jalan tengah saja deh dari per-fashionan ini. Saya tetap akan meningkatkan diri untuk tampil lebih rapi dan pantas. Namun dengan gaya yang sederhana dan pilihan baju yang abadi sepanjang masa. 

karena saya nggak mau repot update fashion. Saya mau lebih meluangkan waktu untuk hal lain. Saya nggak sanggup tampil lebih cantik lebih cantik versi banyak orang.

Hhhh maaf ya ibu-ibu di lingkungan rumah saya. Saya terpaksa menjauh untuk menjaga energi positif diri saya sendiri. :DD

do you ever feel the same, woman ? 

Officeless Not Jobless

Blogwalking ke "rumahnya" mbak Dina Begum (@dinabegum) membuat saya melek rasa. Mbak Dina adalah penerjemah. Cerita beliau tentang awal karirnya sebagai penerjemah membuat saya terinspirasi, bahwa ketekunan pasti membuahkan hasil.

Yang paliing menarik adalah satu foto di sudut bawah blog. Foto mbak Dina sedang memakai laptopnya di meja teras Starbuck. Dibawah meja itu ada tulisan "Officeless Not Jobless".

Kalimat itu kereeen sekali. Dan sepertinya itulah keinginan saya selama ini. Officeless [gak ada kantor tetap] not Jobless [bukan pengangguran, artinya berpenghasilan]. Dan benar, begitulah mbak Dina.

Sebelumnya, saya dan suami sepakat memutuskan, bahwa saya berkarya dari dalam rumah saja. Kenyataannya pun benar-benar dari rumah saja. Di dalam rumah. Tidak kemana-mana kecuali ngantar jemput anak atau belanja dan ke ATM. Tidak ketemu teman. Jarang sekali ngobrol sama tetangga karena menghindari go-syip yang tak habis-habis. Begitulah, setelah rumah sepi, pada berangkat semua. Mulailah menyalakan tivi sebagai teman dan laptop untuk berkarya itu tadi.

Lama-lama menjalani hari-hari seperti ini menghadirkan kejenuhan yang luar biasa. Benar-benar luar biasa efek negatif kejenuhan ini ya. Walaupun sudah berusaha keras menghadirkan penentram hati, bahwa yang saya lakoni ini sungguh mulia, tetapi saja rasa jenuh itu mendera.

Kadang saya ingin seminggu sekali, atau sebulan sekali bertemu dengan teman baru dan belajar hal baru. Sempat saya lakukan dua kali saja di sebuah komunitas handycraft. Itu senangnya minta ampun. Tetapi akhirnya harus terkendala lagi, karena ketika weekend, suami saya pengen istirohat di rumah saja. Atau malah dia keluar kota. Kendalanya saya tidak bisa nitipkan anak-anak jika saya tinggal sekaligus tidak bisa mengajak mereka ke tempat pertemuan handycraft.

Hal ini lanjut terus sampai saya pun tidak mengindahkan lagi adanya seminar, workshop dan lain sebagainya. Dan itu cukup menyebalkan, karena saya suka sekali ada di suasana "belajar" seperti itu.

Memang sih ini juga proses. Pertama proses menunggu saya sampai anak-anak cukup gede untuk ditinggal. Dan proses lainnya sehingga suami, keluarga bisa nyaman ketika saya pergi sendirian tanpa mereka. Saya pun tenang meninggalkan mereka tanpa rasa cemas, kikuk, panik atau merasa bersalah. Ini proses.

Makanya saya sempat irii banget pada seorang makpon KEB yang bercerita tentang acaranya di seminar blogger atau lainnya, sampai terbang kemana-mana. Pikir saya, kok suaminya ngijinin ya pergi kemana-mana sendirian hanya untuk komunitas "blogger" ?

Yah, saya sadar diri juga, ada yang perlu dibenahi dalam keluarga kecil saya ini biar tidak melulu ada di dalam kotak. Begitulah, saya di masa kecil dilarang main hanya boleh belajar atau tidur dan saya nurut. Dan suami saya lebih parah lagi, tidak suka main dan hanya suka belajar di pesantren atau di rumah.

Dulu saya enjoy saja belajar di dalam rumah, lebih banyak berteman dengan buku. Tidak banyak teman nyata, tidak masalah. Tetapi kok ya ada perubahan yang signifikan ketika saya sudah berumahtangga dan mungkin karena memilih tinggal di rumah saja.

Saya merasa butuh sekali teman. Terutama teman yang nyambung diajak bicara dan suka mengajak saya belajar hal baru atau lebih produktif dan kreatif. Teman di dunia maya, tidaklah cukup juga rasanya. Karena sering terbatas oleh jumlah karakter dan waktu luang untuk online.

Maka ketika bertemu emak-emak di KEB, sungguh terinspirasi sekali. Dan walaupun semula saya iri dengki terhadap mereka, hehehe, tetapi akhirnya saya bisa yakin kalau saya bisa juga seperti mereka.

credit
Pagi, setelah rumah sepi, saya ke tempat senam. Lalu berolahraga bersama teman. Pulang dari sana, kami mampir ke toko donat dan kopi terdekat, ngobrol sebentar. Lalu teman saya pulang. Saya tetap tinggal disana, dan aktif dengan laptop saya. Dan bisa berpenghasilan dari laptop itu. Mengetukkan jari di keyboard sambil menyeruput kopi dan menggigit donat manis. Minumnya, makannya dikit-dikit aja, biar awet, hemat, hahaha.

Lalu alarm hp berbunyi. Waktunya saya menjemput anak-anak. Jika saya perginya naik mobil, maka waktu menunggu mereka keluar sekolahan bisa dipakai dengan buka laptop lagi di mobil. Atau jika sedang bosan laptop juga, saya bisa membuka alat-alat handycraft saya.

Dan begitulah, menjadi Officeless, bisa pergi kemana-mana dan bekerja di tempat-tempat yang baru, pasti asik sekali rasanya.

Ah, semoga bisa. Minimal, beberapa bulan lagi, in sya Alloh, di pelataran kampus atau di perpus, saya bisa asik berlaptop ria dan makin produktif ketika menunggu jam kuliah di mulai.

Namun, jika Alloh SWT menghendaki hal lain, atau ga jadi kuliah. Saya sudah siap dengan gaya baru hidup saya, biar tidak monoton, tidak bosan dan tidak lagi menyalahkan istilah menjadi ibu rumah tangga yang di dalam rumah saja. #ayobelajarnyetirmobillagi :D

Bismillah, semoga Alloh SWT memudahkan niat ini. Amiin.

Eehh, bu Oling Mau Kuliah Lagi, Lho !!!

> "mbak, ngapain sih sekarang nggak pernah ngaji? bisnis baru ya?"

Bu Oling, nyengir saja. Setengah mati menahan diri untuk tidak bercerita kepada banyak orang sebelum rencananya resmi dijalankan.

> "mbak, besok kumpul-kumpul ya di rumah bu Rugi", ajak seorang ibu-ibu.

Bu Oling salah tingkah, "aduh maaf, nggak bisa mbak."

> "kenapa sih?"

Bu Oling menjawab, "anu.aku ada yang dikerjakan"

> "pesenan bros ta? duh sibuk bisnis aja sih. Nyari duit melulu"

Bu Oling nyengir palsu, hehehe.

# "Monggo ibu-ibu, kita akhiri pengajian ini dengan berdo'a. Semoga yang punya hajat bisa terlaksana. Bu Oling yang mau kuliah lagi, semoga lancar dan diberi kesabaran."

amiinn... suara guru mengaji membuat hati bu Oling tenang dan besar. Didoakan tentu senang.
setelah mendongak, bu Oling menyadari tatapan mata teman-temannya sesama ibu-ibu sedikit berubah. Serius, hanya satu orang yang nyengir lebar dan gembira mendengar rencananya ini disebutkan oleh sang guru. Hati bu Oling menjadi ciut kembali.

> "ngapain sih mau kuliah lagi? pengen kerja ya? pengen kerja ya?"

Sekali lagi bu Oling hanya nyengir palsu.

Hadeeh, susah banget ya dapat dukungan tulus dari manusia di dunia nyata.

60 juta

"Eh prend, kan udah haji yak kemarin. Tolong do'ain ya, gue mau kuliah lagi nih. Do'anya pak Haji kan makbul tuh"

> "Ha?? elu mau kuliah lagi?"
>" eh, mikir dua kali deh Ling. Nggak sayang lu lepas jualan lu. Ini agenku ya, kemarin udah berhasil punya omset 60 juta pake belagak kuliah lagi segala. Sekarang bisnisnya berantakan"

[bu Oling diam]
Dia menyesal sekali memberitahukan rencana ini pada mantan teman kuliahnya dulu.
"Aduuh ngapain siih diriku ini... sesumbar kesana kemari kalau mau kuliah lagi. Wong daftar aja belum."

Tapi sebenarnya bu Oling ingin sekali menjawab kepada temannya itu,
"apa salahnya aku kuliah lagi, bro?"
"misalnya saja nih, yang punya niat ini istrimu, adik perempuanmu atau anak perempuanmu kelak. Apa akan kau jawab hal yang sama?"

Kalimat itu hanya di dalam hati bu Oling, tidak tersampaikan. Karena dia memilih mematikan nada dering handphonenya, lalu memaksa untuk tidur.

Ini adalah terakhir kalinya, aku meminta do'a dan motivasi dari teman, saudara, tetangga atau siapapun yang kukenal dan kuanggap lebih manjur doanya, lebih bisa memberiku motivasi.

Sejak detik ini, biar aku berdoa sendiri, hanya meminta doa pada suami dan orang tuaku serta mertuaku. Dan tidak minta motivasi kepada siapapun lagi karena sesungguhnya yang bisa memotivasiku adalah diriku sendiri.

Begitu tekad bu Oling


Bu Oling Mau Kuliah Lagi

"ngapain kuliah lagi?"
"mau ambil apa?"

> "ambil kimia lagi kayak dulu, mas"

"halah ngapain. ambil pendidikan guru aja, sekarang guru SMA gajinya besar. enak"

glek.

>"tapi. kayaknya aku ingin belajar biokimia lagi deh mas. kalau SMA kan cuma kimia dasar"

"tujuanmu kuliah itu apa?!"
"kuliah kok dijadikan hobi !"

grrr... seisi ruangan tertawa.

Bu Oling menghembuskan nafas kuat-kuat, mengendalikan emosinya. Lalu dengan terbata dia menjawab, "mmm...sebenarnya menekuni kimia sudah cita-cita dan keinginan sejak SMA. Pas lulus kuliah juga, sebenarnya sudah diterima jadi peneliti. Laluu..yaa...setelah menikah ya prioritas ke anak-anak dulu. Nah sekarang mereka sudah besar. Saya dan suami sepakat, saya kuliah lagi, moga-moga bisa jadi dosen atau peneliti atau kedua-duanya."

Hffhhh nafas bu Oling dihembuskan kuat-kuat. Ingin sekali dia menggenggam erat tangan suaminya yang duduk disampingnya. Tapi itu tampaknya nanti terlalu lebay.


Bu Oling menutup mata sejenak saja, tapi kelibatan beberapa peristiwa malah muncul dengan cepat. Jelas sekali, ya kalimatnya, ruangannya.

"Eh...kemarin itu kamu kuliah ta? kirain ke Bandung cuma mau nyari suami"

"Aduh, jangan kawin dulu anakmu itu. Sekolah saja terus sampai S3. Jangan niru tantenya, sekolah jauh-jauh cuma jadi ibu rumah tangga. Momong anak."

"Ini anak saya. Iya mulai usaha pengetikan kecil-kecilan. Sebenarnya lulusan ITB. Tapi sekarang hamil, yaa nanti momong anak saja jadinya"

"Aduh mbak, lulusan ITB? kok jadi ibu rumah tangga? sayang banget. Mbok bikin les bimbel gitu loh."

"bikin ayam goreng aja gak bener. Katanya pinter. Sarjana ITB. halaahhh...."


aisss...dah, bu Oling memukul kepalanya sendiri.

credit






UNAS SD Dihapus

Kemarin menulis keresahan akan begitu hebohnya hal yang terjadi akibat UNAS alias UN alias Ujian Nasional. Hari ini dari koran Jawa Pos kemarin, Rabu15 Mei 2013, terpampang di headline paling atas. Ujian Nasional SD Resmi Dihapus.

Subhanallah.
Nggak nyangka juga saya, kalau keputusan untuk menghapus UNAS khusus SD ini cepat juga. Sudah resmi pula, sampai disebutkan nomer keputusannya atau PP-nya.

Karena, tema Ujian Nasional ini sudah bertahun-tahun lamanya. Dan seperti biasanya akan berulang-ulang saja seperti itu. Kembali menjadi masalah. Tetapi rupanya sekarang lain. Mungkin juga ini adalah akumulasi dari perjuangan tak henti-henti para guru, wali murid, murid dan pemerhati pendidikan yang menganalisa bahwa ujian nasional sekarang ini begitu tidak efektifnya di dunia pendidikan di Indonesia.

Di Jawa Pos itu disebutkan bahwa penghapusan ujian nasional untuk SD ini dikarenakan agar sesuai dengan kurikulum baru 2013 yang akan diterapkan. Kalau tidak salah, kurikulum tematik terintegrasi. Yang mengandung pengurangan mata pelajaran dan penggabungan beberapa mata pelajaran.

Nah, bicara kurikulum nanti akan ada masalah lagi, pastinya.
Bahkan ilmuwan Indonesia, Yohanes Surya sangat resah dengan kurikulum baru ini. Beliau resah karena adanya penggabungan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan IPA.

Prof-Yos ini tidak setuju karena banyak sekali materi IPA yang dikurangi karena penggabungan ini. Dan karena beliau sangat memperhatikan dunia sains, IPA dan teknologi maka jika materi IPA berkurang itu seperti bencana alam yang direncanakan.

Kalau saya pikir juga begini, IPA digabung dengan Bahasa Indonesia...
Bagaimana dengan nilai SASTRA dari Bahasa Indonesia ?
Apakah bisa bernilai seni sebuah kalimat atau paragraf jika dipakai untuk menggambarkan pelajaran IPA?

Dan bagaimana dengan IPA?
apa bisa diungkapkan dengan kalimat yang panjang, berbunga-bunga seperti sastra?
bukankan IPA butuh kalimat yang tegas, jelas dan langsung ke tujuan?

Ah, sudahlah, kembali ke prinsip awal.
Yang penting adalah menuntut ilmu, mencari ilmu, belajar. Bagaimanapun negara ini mengatur para murid untuk belajar di sekolah. Kita, orang tua, bisa menambal kekurangannya atau menyediakan alternatif lainnya di rumah. Asal orang tuanya mau berlelah-lelah untuk kembali belajar lagi bersama anak-anaknya di rumah.

Pokoknya sekolah tidak diremehkan. Mencari ilmu tidak dianggap buang-buang waktu tetapi bernilai ibadah tinggi. Maka jika nilai ini diyakini dan dilaksanakan seluruh anggota keluarga, maka betapa dinamisnya dunia pendidikan di Indonesia ini nantinya, tidak akan terlalu berpengaruh.

Bagaimana menurut anda sahabat?