Hijabku, keliru ?

Kata Hijaber jadi trending topic di kalangan fashion muslimah saat ini. Sungguh mengherankan juga. Hijab sebelumnya adalah kata yang berat untuk disandang di kalangan muslimah. Karena hijab identik dengan perempuan muslimah yang biasanya di Arab atau Afganistan, yang memakai baju hitam panjang, kerudung besar panjang, bercadar atau berniqab. Itulah konsep Hijab yang kupahami secara pribadi. 

Lalu, tanpa disangka kata Hijab ini berubah menjadi ringan ketika menjadi kata Hijaber. Ini memang berkat gerakan yang sengaja dibuat oleh beberapa muslimah dalam kelompok Hijabers Community. Mereka berupaya mengenalkan konsep menutup aurat bagi muslimah dengan cara yang kreatif, ringan, menyenangkan dan siapapun boleh datang.

Gerakan hijaber ini menurut saya adalah cara yang cerdas untuk memasyarakat anjuran berjilbab bagi muslimah. Anjuran untuk menutup aurat. Dari beberapa hijaber community yang saya amati, ada yang memang berhati-hati dan tetap berpegang pada syar'i, ada yang lebih longgar.

Tetapi apapun itu, gerakan ini perlu dihargai karena membuat berjilbab, menutup aurat menjadi tidak berat dan menerima siapapun yang mau berproses di dalamnya. 

Saya sedikit gundah jika ada saudara muslimah lainnya yang memandang miring para hijaber ini. Mereka begitu tegas dan keras bahkan sedikit menyinggung perasaan ketika menyatakan bahwa hijaber ini berlebihan model fashionnya, sengaja mengundang perhatian lawan jenis atau bahkan tersirat seperti kurang beriman daripada mereka yang berpenampilan sederhana versi mereka itu. 

Saya gundah karena sesama muslimah, seharusnya bisa bersikap dan bercakap lebih lembut. Jika mereka mengecap diri mereka lebih patuh dan beriman karena berjilbab dengan lebih sederhana, maka wajib mereka bersikap lembut dan menghargai proses. Karena begitulah yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Saya sempat keki juga ketika terus mengikuti tausiyah atau syiar yang mereka sampaikan. Bahwa baju dan jilbab yang benar adalah seperti yang mereka jual di butik mereka. yaitu gamis lebar panjang melambai, dengan jilbab lebar segiempat. Saya tidak mempermasalahkan jilbab lebar, karena itu benar dan lebih aman karena menutup dada.Tetapi saklek harus bergamis lebar dengan bahan sifon yang melayang-layang, saya jadi sedih sendiri. Karena banyak alasan yang membuat saya tak bisa memakai jenis baju seperti itu. 

Alasannya, pertama, saya ibu rumah tangga yang harus mondar-mandir ngurus rumah, dan berurusan dengan air, akan sulit jika berbaju seperti itu. Lalu saya harus naik sepeda motor untuk mengantar jemput dua anak lelaki saya. Bagi saya, berbaju gamis itu walau dengan dalaman celana panjang, begitu mengkhawatirkan. Saya takut jatuh. Apalagi kemarin habis operasi retak tulang di telapak kaki, jadinya begitu takut jika kaki tidak bisa membentang lebar untuk menjaga keseimbangan ketika naik motor atau berhenti mendadak.

Saya juga berpikir, apakah mereka yang mewajibkan bergamis lebar itu tidak memperhitungkan profesi ibu-ibu lainnya? tidak semua punay pekerjaan atau aktivitas yang bisa dilakukan dengan lembah lembut atau berjalan perlahan-lahan. Bagaimana dengan penjual sayur di pasar, penjual jamu, kurir antar jemput anak sekolah, dsb. Bukankah mereka juga muslimah? apa benar mereka semua salah?

Akhirnya saya merenung begitu dalam. Kerisauan atas baju ini malah membuat hati saya gelisah bahkan mengganggu ibadah. Terlebih tidak punya stok sama sekali baju tersebut, akhirnya harus beli baru kan? beban pikiran bertambah lagi, saya harus mengumpulkan uang untuk beli baju baru.

Ah, saya berpikir lagi, merenung lagi. Meminta maaf atas segala keterbatasanku kepada ALLOH SWT. Beliau jauh lebih mengerti keadaan hamba-Nya. Asal niat baik, insya Alloh sesuai kemampuan menutup aurat ini bisa diterima. Dan begitulah, saya kembali memakai celana panjang saya, dan kaos panjang saya sesuai yang saya punya. Dalam berjalannya waktu, semoga saya diberi kemudahan rejeki dan aktivitas sehingga bisa semakin sempurna dalam beribadah termasuk menutup aurat. Saya pun menghargai semua proses yang dilakukan oleh teman atau tetangga yang baru mulai berjilbab dengan memakai model baju hijaber yang kadang begitu press body. Saya takkan langsung menuding kepala mereka, dan mengatakan Haram meniru punuk unta, ketika mereka memakai ciput jilbab dengan cempol di kepalanya sebelum berjilbab. Saya tak berhak dan tak punya kapabilitas untuk mengatakan semua itu. Semua itu proses. Siapa tahu doa mereka lebih tulus dan lebih terkabul daripada aku.

ya, begitulah, saya harap sesama muslimah saling memahami proses dan saling mengingatkan dengan cara yang lembut. Karena Alloh SWT Maha Lembut, dan Nabi Muhammad itu pun pria yang sangat lembut . wallahu'alam. Mohon maaf jika kurang berkenan. :)

2 comments:

  1. Aslmlkm. Ternyata, perasaan kita sama ,Mbak. Saya juga beberapa kali mnegalami peristiwa serupa. Ada akhwat atau ummahat yg berjilbab gede, tapi sayang, hatinya nggak segede kerudungnya. Secara pribadi, saya memang kurang suka dengan hijab model hijaber. Tapi, buat saya itu proses. *pengalaman pribadi* Awalnya mungkin, masih belum terlalu syar'i, mudah2an dgn belajar tiada henti insya Allah mereka bisa lebih baik lagi. Salam kenal. W3

    BalasHapus
  2. waalaikumsalam warahmatullah...

    makasih sudah mampir ya mbak Dian. begitulah, mohon maaf jika ada kalimat yg kurang berkenan. Namun saya sangat ingin menghargai proses serta agar sesama saudara muslimah tidak saling menciutkan hati. saling berdoa dalam kebaikan ya mbak. amin.

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊