Dari Ebook ke Make Up

Sabtu pagi berkutat memindahkan file ebook melalui SD Card atau kartu memori. Lalu coba baca sedikit garis besarnya.

Ebook tentang Teori Pendidikan Online, dalam bahasa Inggris. Waduh lumayan lama nggak megang bahasa Inggris euy, lieur juga :)

Ada 4 bagian, total 16 bab. Lumayan. Tetep semangat.

Menjelang sore, ebook ditutup dulu, lalu menuju rumah ibu. Masih satu kota, di Surabaya juga. Perjalanan hanya 30 menit.

Ada acara syukuran kakak dan arisan keluarga. Dasar saudara cewek pada narsis semua, jadi deh pengen foto-foto sebelum potong tumpeng.

Kebetulan aku bawa palette lipstik dan bedak two way cake. Jadi deh make over si kakak plus masangin jilbabnya.

Lumayan hasilnya, sayang jilbab itu modot morot alias lepas semua waktu kakak makan nasi tumpeng. Maklum, nggak siap, jadi kurang jarum pentulnya.

Alhamdulillah, berkat kenal sobatan sama emak-emak perias pengantin. Jadi saya bisa belajar merias gratisan deh. Lumayan, bisa jadi hobi yang produktif nantinya.

Nyari target, dirias, dijilbabi, lalu difoto. Hobi visualku yang asik sekali.

Semoga menginspirasi
Heni Prasetyorini
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Steam It Tupperware

Ajaibnya mengukus dengan Steam It Tupperware.

Bisa dipakai diatas wajan biasa. Dengan batas air sesuai ukuran pinggiran wadah Steam It.

Kali ini mengukus tahu sekaligus sayuran untuk Pecel. Cuma sepuluh menit sudah beres.

Alhamdulillah sepiring nasi pecel siap buat sarapan bersama suami tercinta.

Bumbu pecelnya beli di pasar Genteng, pusat keripik dan oleh-oleh di Surabaya.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

MaMakBa

MaBa (Mahasiswi Baru) cocok buat yang masih menik-menik,imut-imut ya. Lah kalau kita ya pantesnya MaMakBa (Emak-Emak jadi Mahasiswi Baru) hehehe.

Lanjut cerita di ruang kelas 04 di gedung K10, Pasca Unesa.
Itu adalah hari pertama kami kuliah. Di jadwal harusnya ada 4 mata kuliah, sejak pukul 1 siang sampai 9 malam.

Ternyata semua dosen berhalangan hadir, ada yang ke Amerika, atau tugas lain. Untung saja ada dosen untuk matkul di hari Sabtu, bisa diminta untuk mengisi.

Yaitu matkul TIK Pendidikan. Teknologi Informasi Komunikasi Pendidikan, oleh bapak Dr. Danang, lulusan Ilmu Komunikasi UNAIR dan UNPAD.

Bapak Danang menjelaskan konsep Teknologi Pendidikan intinya pada meramu metode pembelajaran yang paling efektif agar hasil optimal untuk pelajar. Metode itu tidak harus lewat multimedia seperti komputer dan internet. Tetapi karena sekarang sudah era internet, maka perlu dipelajari metode menggunakan komputer dan internet itu.

Kami pun diberi tugas membedah buku lalu dipresentasikan dalam kelompok kecil. Bukunya berbentuk e-book sebanyak 6 buah. Alhamdulillah saya bisa dapat anggota kelompok gadis NTT yang baru lulus tahun 2013 jadi masih semangat, plus teman yang masih berhaji.

Saya bersyukur bangeet bisa dapat "kado" 6 ebook bagus tentang e-learning ini. Topik yang memang menjadi interest saya ketika memilih jurusan ini.

Yang menarik juga ketika dosen memberi tahu bahwa dalam matkul-nya wajib membuat blog. Saya pun nyeletuk, "wah siap pak, saya ibu rumah tangga blogger", hehehe..

Beliau menjawab, "ah ibu merendah".
Teman berkomentar, "bu Heni nih, ibu rumah tangga mainannya Blog, duh".

Hehehe, targetku menaikkan nama Ibu Rumah Tangga di kancah akademisi, mulai nampak jalan masuknya nih kayaknya, hihihi semangat emaak.

Begitulah, saya pun dinobatkan jadi Bu RT !!!
Yang tugasnya, "mengayomi" kata teman-teman yang rata-rata sebagai guru dan sudah STW alias setengah Tuwa, termasuk diriku, :)

Alhamdulillah, saya yakin nggak salah pilih masuk jurusan ini. Dan tidak menyesal karena melepas rencana semula meneruskan linier ke kimia ITS.

Kata suamiku juga begitu, "kamu cocok di jurusan ini ma, soalnya suka baca".

Syukurlah ebook ini bisa ditransfer ke mana-mana dengan mudah memakai SD Card. Termasuk ke android tablet merk Zyrex milik anak keduaku. Hadiahnya setelah sunat.

Membaca ebook dari tablet lebih nyaman daripada pakai laptop. Syukur alhamdulillah, ketika bisa kuliah lagi, fasilitas ada, anak dah gede dan ngerti tugas ibunya.

Masa sulit kemarin atau masa tunda kemarin itu, sudah tak terasa lagi sulitnya. Asal gigih, pasti terbuka jalan.

Semoga menginspirasi.
Heni Prasetyorini

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sambil Jemput Anak

Jadwal kuliah hanya Jum'at dan Sabtu. Maka dari Senin - Kamis, jadwal per-ibu rumah tangga - an tetap. Salah satunya ya, antar jemput anak sekolah.

Anak-anak saya sudah SD semua. Kelas 6 dan Kelas 1 SD, disekolah yang berbeda. Tiap harinya, yang kelas 1 SD pulang pukul 12.30 sedang kakaknya pukul 14.30. Beda dua jam, biasanya saya pulang dulu sama si adik untuk makan siang dan sekedar istirahat. Saya sempatkan beres-beres rumah. Lalu berdua adik, menjemput kakak yang ikut bimbel wajib di sekolah karena sudah kelas 6.

Hari Rabu, spesial karena si adik ikut bimbel sampai pukul 2 siang. Kebetulan tadi saya lupa kalau dia ikut bimbel, jadi terlalu cepat datang menjemput. Untung saja sebelum pulang, saya ingat untuk mampir ke sekolah si kakak, mengantarkan uang jajan. Pagi tadi lupa saya beri uang jajan, padahal cuma ngasih bekal roti meises. Anak sulung saya sumringah gembira ketika saya datang ke kelasnya memberi uang itu. "Aku kelaparan ma tadi, trus mama datang ngasih uang, aku langsung beri nasi soto 2 mangkok. Seger, kenyang".

Sementara untuk adik, saya juga menyesal hanya memberi bekal roti meises + air putih. Padahal biasanya bekal nasi, susu sebotol, air putih sebotol. Ini bimbel pula, aduh, saya pun kembali lagi ke sekolahan adik mengantarkan sebotol susu coklat yang saya simpan di kulkas, sisa sarapan tadi pagi.

Waktu pulang si adik masih 1 jam lagi. Saya pun ambil buku yang saya pinjam di Perpustakaan Pascasarjana UNESA. Dan menunggu adik sambil membaca buku di aula sekolah yang letaknya di bawah masjid sekolah. Kebetulan sekolahan adik ini adalah Pondok Pesantren Terpadu. Saya pun mengaji disini sejak dua tahun yang lalu. Jadi aula ini rasanya enak, adem, banyak barokahnya, diisi ngaji terus soalnya :)

Ketika adik keluar, masih pukul 2 siang, tanggung setengah jam lagi kakaknya pulang. Maka saya ajak adik ke sekolahan kakak, dan kami tunggu disana. Alhamdulillah, baca buku bisa lanjut, terlanjur penasaran nih. Nekad deh masuk ke depan ruang guru, ada kursi kosong dan meja kosong, sip lanjut baca.

Tak berapa lama, datanglah guru si kakak mengajak ngobrol. "Kuliah lagi bu?"

Saya jawab, dan beliau cerita sekarang memegang kelas 2 SD saja tugasnya seperti professor. "Nggak sanggup saya belajar lagi seperti ibu,"katanya.

Cuaca di luar panaas sekali, 36 derajat lebih kali. Mungkin 40 derajat ya?

Kami bertiga pun pulang, dan karena saya yang kena matahari langsung, kepala cenut-cenut rasanya kena panas.

Begitulah balada emak-emak ojekeres.. Hehehe...

Bismillah, bisa dinilai ibadah, amiin.

Semoga menginspirasi ya..
Heni Prasetyorini
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Pertemuan Awal S2 Teknologi Pendidikan UNESA

Semuanya serba online.

Pendaftaran S2 Teknologi Pendidikan di Universitas Surabaya, dimulai dari pengumpulan berkas dan syarat-syarat yang diberikan di website pasca sarjana UNESA.

Penilaian melalui berkas tersebut, tanpa tes tertulis atau wawancara. Pengumuman disampaikan secara online di web pasca.

Registrasi dilakukan dengan mengirimkan berkas seperti ijazah dan transkrip nilai sarjana yang sudah dilegalisir, foto, dan berkas yang harus diunduh dan diisi dari web. Harus ada mutlak yaitu bukti pembayaran.

Membayar registrasi ini sama dengan waktu membayar biaya pendaftaran. Semuanya dilakukan di BNI secara online.

Jadi, awal kita daftar online di web akan mendapat nomer PIN registrasi. Dan nomer ini selanjutnya terpakai untuk melunasi biaya kuliah atau lainnya di bank yang dipilih, kali ini BNI.

Berkas registrasi sudah dikirim langsung ke admin pasca, dan sekali lagi online. Tidak ada berkas bukti selembar kertas pun bahwa saya sudah resmi jadi mahasiswa s2 disini. Saya hanya dikasih NIM (Nomer Induk Mahasiswa), lalu diminta menunggu berita dari website.

Begitulah, alhamdulillah untung saja ada ponsel pintar dengan aplikasi bookmark. Jadi setiap 1-2 hari sekali, saya memantau website pasca UNESA dari BB saya.

Lalu akhirnya muncullah jadwal Pertemuan Awal Mahasiswa Baru Pasca sarjana UNESA, tanggal 10 September 2013. Di gedung pasca sarjana, gedung K10 lantai 3.

Dag dig dug der waktu saya berangkat kesana. Bayangkan, sejak melahirkan anak kedua, yaitu tujuh tahun lalu, saya tidak pernah naik sepeda motor dengan jarak jauh. paling jauh ke rumah ibu saya, yaitu 11 km.

Ini berangkat ke UNESA yang jaraknya hampir dua kali lipat jauhnya. super dag dig dug. Jadwal masuk pukul 8 pagi, saya berangkat sejak pukul 6.30 pagi.

Saya bangun pukul 4 pagi untuk masak sarapan dan bekal anak-anak sekolah. Cuci piring dan beberes. Dan paginya, anak saya adaa aja masalahnya. Nggak mau bangun, nggak mau mandi sama bapaknya, dsb.

Dan itu suami saya bukannya bantu saya meng-handle anak-anak, malah sibuk ngelap sepeda motor saya. Aduh saya jadi kekii dan makin nervous deh.

Akhirnya saya berangkatlah sendirian naik sepeda motor matic ke UNESA. Di tiap tikungan saya berdoa dan waspada seribu persen. Kalau udah bener jalurnya, dan bisa lewat dari polisi bener, haduuh lega rasanya.

Eh, pas di tikungan dekat Taman Makam Pahlawan Surabaya, pas depan saya ada sepeda motor diseruduk mobil. tepat di depan polisi. Allahu Akbar, makin deg-degan.

Singkat kata saya sampai di gedung pasca dengan selamat. Sudah ada rombongan ibu-ibu bapak-bapak yang tampak seperti para guru. Pakaiannya resmi seperti guru mengajar atau pekerja kantoran.

Saya jadi rada merasa saltum, soalnya pake celana jins, hem katun, pasmina katun, tas handmade. Ya sudah cuek saja, biar dikira fresh graduate, hehehe.

Tiba depan gedung, ada meja daftar hadir. Saya lega ada nama saya disitu. Rasanya sama seperti ketika saya mahasiswa baru di ITB dulu. Di tiap acara, saya selalu melepas nafas lega kalau ada nama saya tertulis di tiap daftar hadir, Heni Prasetyorini.

Setelah tanda tangan, saya naik ke lantai 3. Ruangan aula pasca sarjana UNESA lumayan bagus. Luas, rapi dan kelihatan baru. Dan eh ternyata memang aula ini baru diresmikan dan kamilah yang pertama menempatinya.

Saya sengaja duduk di depan, lalu kenalan sana sini. Ada yang jurusan pendidikan sains, teknik kejuruan rias, seni budaya, PAUD, dll. Amazing sekali saya, bener-bener judul jurusan yang berbeda saat kuliah dulu yang serba sains dan teknik.

Acara molor satu jam karena menunggu rektor dan sejawat datang.

dimulai dengan berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya. Terharu sekali saya. Ingat ibu bapak ... "paakk, bu.. akhirnya saya bisa kuliah lagi". dan ingat suami, "sayangku..makasiih banget dah mau mendanaiku kuliah lagi" .. haru deh.

Acara lanjut dengan laporan dan cermaha dari direktur pasca, lalu rektor dan pejabat lainnya.

Mereka santun,empuk dan enak sekali suaranya nadanya, ketika menyampaikan laporan, pidato atau apapun. Mungkin karena biasa jadi pendidik para pendidik ya, empuk sekali.

Tiba saat simbolisasi penerimaan mahasiwa baru, yaitu memasang jas almamater. Terharu lagi... banggaa...
dan sedih..
sedih karena ingat jas almamaterku ITB dulu, dengan entengnya kuberikan di acara baksos untuk pengungsi. Kok bisa yo Heenn...menyesal banget deh aku.

Kalau jas itu masih ada kan bisa kutunjukkan anak-anakku too..

yaa sudahlah. Kudu ikhlas, terlanjur hehehe..

Saya pun berusaha menikmati setiap acara dan menyerapnya dalam-dalam. Acara dilanjutkan ke ruang masing-masing tiap prodi (program studi).

Di ruang K10.01.05.
ya tetep di gedung ini, turun ke lantai 1, di ruang 05. ketemu 17 teman reguler dan 25 teman dari BP migas Cepu. Teman yang mayoritas sudah bapak-bapak dan ibu-ibu, hehehe. Saya ngerasa lumayan muda lah.

Dari kelas saya, kelas A, kelas reguler dipililah ketua kelas, Yaitu ibu Hayatun Nufus, dari SMA Al-Hikmah Surabaya.
Beliau duduk di sebelah kiriku. lalu bertanya, Heni ngajar dimana?
saya jawab, "ngajar di rumah tangga bu". saya nyengir. beliau kaget, "subhanallah, serius?". saya jawab mantap, "serius bu, sumpah, sueer, saya ibu rumah tangga".
Beliau menatap dan menjabat tangan say, luar biasa, luar biasa.

saya jadi PD nih, hehehe. Begitulah, bu Hayat langsung saya nobatkan jadi sobat saya. Semoga ketularan istikomahnya berislam ya buu, Al Hikmah kan gudangnya muslimah berkualitas. Amiin.

Jadwal kuliah kami pun keluar, yaitu Jumat pukul 13.00 - 21.00. dan Sabtu pukul 13.00 - 19.00. Lumayaan, hari biasa bisa saya pakai dagang dan belajar. Alhamdulillah.

Rencana ngatur anak-anak pun diubah. Kemarin saya sempat menitipkan anak kedua ke sekolahannya sampai sore. Lalu diganti, tiap hari biasa saya antar jemput sendiri dan pulang ke rumah. Lalu Jum'at saya tinggal di rumah ketika kuliah,kemudian suami saya akan pulang dari kantor lebih cepat.
Begitulah, kerjasama tim ngurus anak.

Kuliah saya harusnya mulai minggu depan, tetapi karena dosen harus seminar ke Thailand, jadi diundur seminggu lagi.

Subhanallah, dosennya berkata, "semoga di tahun ini, ada mahasiswa yang ikut kami seminar ke Thailand".

wah saya langsung tersengat. Amin pak, siap !!!

PR deh, kudu belajar bahasa Inggris lebih serius. Biar bisa nulis penelitian dengan bahasa inggris yang bagus dan bisa tembus ke Thailand, juga buat persiapan test TOEFL untuk syarat Ujian Thesis nanti.

wis, pokoke aku siap deh dan sanggup apapun untuk menjalani kuliah ini dengan penuh semangat, rasa ingin tahu dan target.

amazing. bismillah barakallah...

semoga menginspirasi ya...

Heni Prasetyorini
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Untuk Jadi Emak Samson

Begitulah, ada beberapa alasan akhirnya aku dijuluki Emak Samson oleh temanku.
1. Ketika pemasangan dan pelepasan alat KB implan yang dua jarum silikon itu, biasanya di jarum kedua, ibu bidan sulitnya minta ampun masang atau melepas jarum itu dari lenganku. Kata bu bidan, "aduh ibu ini di rumah ngangkat spring bed ya? ototnya kuat banget, susah ditembus". Dan iya itu benar.


2. Setiap aku teriak-teriak ingin curhat karena galau, temanku emak-emak langsung tanggap dengan apa yang kulakukan. Yaitu mengubah letak perabot rumah. Ngangkat lemari, spring bed, mindah rak piring, dsb. Dan biasanya aku telat untuk ikut acara janjian kumpul emak-emak itu, dan mereka menggerutu sambil ngeledek, "emang dasar samson"

Dan berbagai hal lainnya, termasuk ceritaku pada anak-anak, kalau waktu SD aku berani menantang teman laki-laki jika mereka mengganggu adikku. Lalu anakku berkomentar, "mama memang perkasa".

Biarpun mudah termehek-mehek, ototku memang terlatih untuk nekad :)
Tapi masih ada satu hal yang belum tercapai, dan aku masih belum merasa puas. Yaitu kemampuan berenang.

Menurutku, perempuan terhebat adalah yang piwai berenang,berlari, bela diri. Pokoke super keren jika perempuan bisa rutin, istikomah bahkan ahli melakukan hal itu.

Baiklah, satu persatu akan kulakukan untuk melengkapi predikatku sebagai emak samson. Pertama adalah berenang. Maka, mulailah aku belajar berenang. Beruntung sekali, adikku yang baru jadi guru playgroup punya koneksi les murah ibu dan anak sekalian. Di kolam renang dekat rumah pula, hanya 15 menitan. Syukurlah.



Berangkat untuk renang ini perlu perjuangan luar biasa. Karena baru pertama kalinya ini menarik suamiku dari zona nyamannya, yaitu hanya ada di rumah seharian ketika libur kerja. Butuh perjuangan lahir batin deh. hehehe

Tapi kali ini, aku nekad sekali. Tak mau mengalah karena matahari atau capek dan alasan apapun. Pokoknya harus les sampai bisa renang. Target, aku akan selamat jika kelak naik kapal lalu kapalnya terbalik kena ombak, bismillah itu tidak terjadi. Dan anak-anak cowokku bisa renang dengan baik.

Renang dulu, baru nanti lari. Semoga dengan adanya kawat di kakiku untuk pengobatan retak di telapak kaki itu tidak terganggu dan aman saja dipakai berlari memakai sepatu kets. 

Dari Kimia

Saya atau Aku, 
Maaf biasanya saya sering tertukar menuliskan diri sendiri sebagai aku dan saya berbarengan dalam satu tulisan. Jika itu terjadi di tulisan sebelumnya, mohon maklum adanya [seperti surat ijin absen sekolah hehehe].

Ini adalah kisah singkat pencarian minat diri saya sendiri. Yang kalau ditelusuri malah nggak bisa diterima akal sehat. Harusya bisa diterima oleh iman yang sehat :)

Ketika hampir akhir sekolah SMA atau SMU jaman sekarang, saya hampir yakin jika masuk kelas 3 Bahasa adalah pilihan saya yang tepat. Karena sejak SD saya suka sekali membaca dan menulis diary atau semacamnya. Pas masih kelas 2 SMA, sengaja nih kalau saya lewat kelas 3 Bahasa para kakak kelas, saya akan mengintip kegiatan mereka. Dan hati saya meledak-ledak begitu tertarik ketika membaca sebuah karya sastra yang ditulis seorang kakak kelas di papan tulis. Padahal pegel kan tuh nulis sastra di papan tulis pakai kapur?

Namun apa daya. Keinginan saya distop oleh seorang kakak kandung saya, cowok. Yang mengatakan, "ngapain milih bahasa?"!
Singkat cerita, akhirnya saya masuk ke kelas 3 IPA. Lalu lanjut sampai nyemplung ke kampus berlambang ganesha di gedung tua di belakang pojok dekat orang jual gudeg Jogja. Selama 4 tahun saya menjebloskan diri ke dalam meja kelas dan laboratoriumnya departemen Kimia Institut Teknologi Bandung. Luar biasa mati-matiannya saya belajar disini. Yang namanya MIMISAN waktu di lab atau di kelas, seperti hobi saja. 

Mungkin karena hawa dingin Bandung yang ekstrim daripada Surabaya tempat asal saya. Atau mungkin juga begitu menyengatnya bau dari asam asetat, chloroform dan semacamnya yang merusak lapisan tipis pembuluh hidung saya waktu praktikum di laboratorium organik. 

Luar biasanya juga saya nekad merantau di Bandung ini, sendirian. Tanpa saudara dari Jawa Tengah atau Jawa Barat. Tanpa teman satu sekolah dan semacamnya. Benar-benar sendirian. Hanya mengandalkan do'a orang tua bahwa saya akan selamat-selamat saja disini. Ups, mengandalkan juga gaya saya yang super tomboi agar nggak diganggu di perantauan. 

Dari kimia saya berhijrah habis-habisan ke dunia ibu rumah tangga. Saya lepaskan peluang menjadi PNS di sebuah lembaga penelitian negara, karena ada si janin yang udah dititipkan di rahim saya. Begitulah, dunia ibu rumah tangga memompa jiwa raga saya habis-habisan. Betul-betul menjadi kawah candradimuka yang hampir saja membuat tulang belulang saya ikut larut menjadi bahan baku pembakar kawah itu.

Menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja di kantoran, membuat saya putar otak, putar badan untuk melakukan sesuatu. Dan pilihannya belajar membuat kerajinan tangan, belajar di dunia internet, belajar tentang parenting, pendidikan dan lain sebagainya lewat internet. 

Dengan semangat otodidak, karena tak bisa meninggalkan rumah dan anak-anak serta untuk menghemat biaya, maka saya belajar banyak sekali hal baru itu. Membuat kreasi dari kain flanel, aksesoris manik-manik sampai yang lebih rumit yaitu membuat aksesoris dari kawat alias wire jewelry. 

Kadang saya menertawakan diri sendiri juga sih, lulusan kimia kok pegangannya jarum jahit, kain, kawat, manik-manik dan tang. Dan sebenarnya yang menertawakan saya itu banyak sih, ya saudara ya tetangga bahkan orang yang baru kenal sekalipun, selalu berkomentar, "aduh sayang banget lulusan kimia kok jadi ibu rumah tangga saja".

Ya begitulah, mau tidak mau saya harus menyimpan itu suara tertawa di dalam hati sambil mencari cara agar saya bebas dari rasa tidak enak seperti itu. Atau jika tidak bisa, maka saya cari saja motivator lain yang bisa membuat saya nggak minder-minder amat. Sekaligus bisa meningkatkan kemampuan saya baik dalam ketrampilan ataupun pengetahuan.

Begitulah, saya jadi emak-emak browser, yang rajin browsing kesana kemari. Sampai akhirnya saya menclok di dunia komunitas penulis lepas, emak2blogger, ibu profesional dan lain sebagainya. Saya mengenal internet, jejaring maya dan sebagainya untuk mengasah ilmu bahkan sampai nekad berbisnis di dunia maya. Bisnis online. 

Sampai tiga tahun menjalankan bisnis online, saya merasa masih ada kekosongan dalam hati yang belum terpenuhi. Saya kangen dengan sekolah, belajar, ujian dan kawan-kawannya. Saya yang suka sastra tetapi berhasil lolos di dunia IPA, itu karena saya suka sekali belajar. Dan ketika menjadi ibu rumah tangga, proses belajar saya belum mendapatkan tempat yang pas. 

Merenung, merenung dan merenung, maka sampailah satu keputusan bahwa saya harus kuliah lagi. Masuk ke dalam sebuah institusi resmi lagi untuk mengupgrade kembali diri saya dan meletakkan saya kembali tepat di posisi dan konfigurasi yang tepat. Seperti elektron.

Layaknya elektron yang tidak ada di konfigurasinya yang benar, maka dia akan gelisah dan masih ingin sekali lompat ke atas atau malah lompat ke bawah, ketempat yang baginya lebih stabil.

Begitu juga saya. Maka dalam rangka mencari kembali konfigurasi saya yang tepat, saya memilih untuk meneruskan kuliah. Dari informasi yang diharmonisasikan dengan keadaan diri saya sendiri, maka saya pun memilih jurusan Teknologi Pendidikan untuk dipelajari sekarang.

Maka sejak postingan ini, saya akan membagi cerita bagaimana seorang ibu rumah tangga menjalani hari-harinya menjadi mahasiswi pasca sarjana Teknologi Pendidikan. 

Entah nanti bagaimana akhir dari proses saya ini, dari ingin menjadi sastrawan, masuk ke kimia, lalu jadi ibu rumah tangga, kemudian menjadi pebisnis dan emak blogger, kemudian menjadi mahasiswa lagi di dunia pendidikan. Apapun itu, niat saya hanyalah ingin menjadi perempuan yang mandiri dan bermanfaat di dunia dan akhirat. Amin.
Semoga kelak kisah-kisah harian saya menjadi manfaat dan inspirasi, terutama untuk para ibu rumah tangga.