Sambil Jemput Anak

Jadwal kuliah hanya Jum'at dan Sabtu. Maka dari Senin - Kamis, jadwal per-ibu rumah tangga - an tetap. Salah satunya ya, antar jemput anak sekolah.

Anak-anak saya sudah SD semua. Kelas 6 dan Kelas 1 SD, disekolah yang berbeda. Tiap harinya, yang kelas 1 SD pulang pukul 12.30 sedang kakaknya pukul 14.30. Beda dua jam, biasanya saya pulang dulu sama si adik untuk makan siang dan sekedar istirahat. Saya sempatkan beres-beres rumah. Lalu berdua adik, menjemput kakak yang ikut bimbel wajib di sekolah karena sudah kelas 6.

Hari Rabu, spesial karena si adik ikut bimbel sampai pukul 2 siang. Kebetulan tadi saya lupa kalau dia ikut bimbel, jadi terlalu cepat datang menjemput. Untung saja sebelum pulang, saya ingat untuk mampir ke sekolah si kakak, mengantarkan uang jajan. Pagi tadi lupa saya beri uang jajan, padahal cuma ngasih bekal roti meises. Anak sulung saya sumringah gembira ketika saya datang ke kelasnya memberi uang itu. "Aku kelaparan ma tadi, trus mama datang ngasih uang, aku langsung beri nasi soto 2 mangkok. Seger, kenyang".

Sementara untuk adik, saya juga menyesal hanya memberi bekal roti meises + air putih. Padahal biasanya bekal nasi, susu sebotol, air putih sebotol. Ini bimbel pula, aduh, saya pun kembali lagi ke sekolahan adik mengantarkan sebotol susu coklat yang saya simpan di kulkas, sisa sarapan tadi pagi.

Waktu pulang si adik masih 1 jam lagi. Saya pun ambil buku yang saya pinjam di Perpustakaan Pascasarjana UNESA. Dan menunggu adik sambil membaca buku di aula sekolah yang letaknya di bawah masjid sekolah. Kebetulan sekolahan adik ini adalah Pondok Pesantren Terpadu. Saya pun mengaji disini sejak dua tahun yang lalu. Jadi aula ini rasanya enak, adem, banyak barokahnya, diisi ngaji terus soalnya :)

Ketika adik keluar, masih pukul 2 siang, tanggung setengah jam lagi kakaknya pulang. Maka saya ajak adik ke sekolahan kakak, dan kami tunggu disana. Alhamdulillah, baca buku bisa lanjut, terlanjur penasaran nih. Nekad deh masuk ke depan ruang guru, ada kursi kosong dan meja kosong, sip lanjut baca.

Tak berapa lama, datanglah guru si kakak mengajak ngobrol. "Kuliah lagi bu?"

Saya jawab, dan beliau cerita sekarang memegang kelas 2 SD saja tugasnya seperti professor. "Nggak sanggup saya belajar lagi seperti ibu,"katanya.

Cuaca di luar panaas sekali, 36 derajat lebih kali. Mungkin 40 derajat ya?

Kami bertiga pun pulang, dan karena saya yang kena matahari langsung, kepala cenut-cenut rasanya kena panas.

Begitulah balada emak-emak ojekeres.. Hehehe...

Bismillah, bisa dinilai ibadah, amiin.

Semoga menginspirasi ya..
Heni Prasetyorini
Powered by Telkomsel BlackBerry®

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊