Mengenal Grafologi, Ilmu Analisa Tulisan Tangan

Hari Minggu, 14 Februari 2016 kemarin, saya mengikuti Mini Workshop Grafologi di salah satu hotel Surabaya. Acara ini diselenggarakan oleh Psiko Hipnotis, lembaga pelatihan hipnotis dan grafologi dari Surabaya.  

Apa itu Grafologi?
Kenapa saya tertarik dengan Grafologi?

Saya ingat, sepertinya cukup lama, hampir 5 tahun saya mengenal istilah ini. Dari sebuah tayangan di televisi tentang seorang grafolog yang sedang menjadi narasumber tentang analisa tulisan tangan. Waktu itu saya tertarik, 'wah ternyata tulisan tangan manusia bisa "dibaca" dengan detil dan mengungkapkan sisi psikologis manusia. 
Sayangnya pada waktu itu, pelatihan tentang Grafologi masih terpusat di Jakarta. Walaupun buku tentang Grafologi sudah ada di toko buku, namun rasanya tidak pas jika belum bertemu langsung dengan grafolog untuk mempelajarinya pertama kali. 
Sampai akhirnya, tanpa sengaja, saya mengenal salah satu coach Grafolog sekaligus web designer, pak Nugroho. Waktu itu saya iseng saja membaca status kontak Whatsapp saya di ponsel. Ternyata ada salah satu status berbunyi, Dibuka Pelatihan Grafologi di Surabaya. Kontak yang tertulis adalah Dunia Bros dan Aksesoris, namun foto pofilnya seorang laki-laki. Iseng saya bertanya tentang pelatihan tersebut. Sampai akhirnya ada pemberitahuan adanya Mini Workshop, sebuah pelatihan pengenalan tentang Grafologi. 


pak Nugroho

Mbak Anisa, Istri pak Nugroho, pemilik akun Dunia Bros & Aksesoris di ponsel saya

coach Banu (gurunya pak Nugroho).
- my handmade binder note ikutang nampang :) - 

Mini Workshop ini memberikan pengenalan singkat tentang Grafologi, hipnotis  dan 9 tanda bahaya dalam tulisan tangan yang harus kita waspadai. 
Hah, tanda bahaya???

Jadi begini, intinya adalah grafologi adalah ilmu untuk menganalisis tulisan tangan. Tulisan tangan adalah bentuk ekspresi dari otak tentang apa yang terjadi dalam diri seseorang. Apakah dia mengalami sedih, gembira, bingung, marah, percaya diri, rendah diri, putus asa atau bahkan tidak peduli dan ingin mengakhiri hidupnya.
credit

credit

Tanpa disadari semua hal yang terjadi dalam diri seseorang itu bisa tampak dari bentuk tulisan tangannya. Grafologi menganalisanya dengan mengamati trait tulisan. Trait bisa terdiri dari bentuk huruf, kemiringan tulisan, tanda titik, adanya bentuk tajam dan lain sebagainya. Seperti contoh analisa oleh Deborah Dewi, seorang grafolog Indonesia dibawah ini : 
credit

Gambar diatas adalah hasil analisa mbak Deborah. Beliau menganalisa tulisan tangan Presiden Jokowi tentang hubungan Indonesia-Amerika. Dalam laman sumber disebutkan bahwa, dari tulisan tangan pak Jokowi, terlihat adanya keraguan atas hubungan kerjasama dua negara tersebut, namun ada juga harapan yang besar. Nah semua ini bisa dipelajari dalam ilmu Grafologi. 

Apa manfaatnya jika kita mempelajari Grafologi?
Untuk dunia pendidikan, grafologi bisa membaca potensi siswa sehingga bisa mengarahkan jurusan pendidikan yang bisa ditekuni lebih lanjut. Untuk pengembangan diri, grafologi bisa membaca sifat, karakter, kekurangan dan kelebihan diri. Banyak yang sudah menggunakan grafologi, bahkan di dunia penegakan hukum, teknik membaca tulisan tangan ini digunakan untuk menganalisa seorang kriminal dan menjadi pendukung data tes psikologi atau lie detector.

Bagaimana jika dengan grafologi, ditemukan adanya kekurangan diri atau tanda bahaya?
Nah, untuk mengatasi hal tersebut ada sesi yang dinamakan Grapho Teraphy, atau terapi grafologi. Jadi seseorang itu diminta untuk mengubah tulisan tangannya selama beberapa waktu, sehingga secara tidak langsung dapat mengubah kekurangannya tersebut. 

Sebenarnya, apa saja sih 9 tanda bahaya itu?
Jika penasaran bisa langsung belajar di Psiko Hipnotis Surabaya, bisa dihubungi disini
Semoga bermanfaat :)

-HPR-







2 comments:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊