Di Lebaran ini ..
Berita itu sangat memukul hatiku. Sejak dia hamil sampai melahirkan, aku ikut tahu bagaimana cerita gembiranya. Dan rencana dia ingin punya 3 anak saja, lalu fokus membesarkan mereka sambil berkarya : menulis novel seperti yang biasa dilakukannya.
Dan,ketika fotonya mengecup jasad bayinya kulihat di fb, hatiku mengerut memeraskan air mataku begitu derasnya. Aku sedih,sangat sedih. Perasaan kehilangan bayi seperti sama dengan perasaanku dulu yang mungkin akan kehilangan bayi. Di saat bayi keduaku lahir dulu.
Aku menangis sejadi-jadinya di depan laptop kecilku. Duduk, tergugu sendirian dan sengaja membiarkan kesedihanku terpuaskan. Mungkin ini juga airmata yang kupaksa kupendam ketika mendampingi anak keduaku di inkubator dulu.
Alhamdulillah, bayiku selamat dan sehat. Karunia ini semakin kurasakan. Susah payah mengurus anak,masih dan pasti sanggup kurasakan, daripada kehilangannya.
Ini semua takdir. Mau tidak mau, harus belajar ikhlas dan siap kehilangan mereka yang sudah jadi "milik" kita.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ingin Jadi Ibu Rumah Tangga? Benarkah?
Jika itu kenalan baru, biasanya awal disertai pujian dulu pada saya,yang mereka kira sebagai ibu rumah tangga yang sukses berbisnis sekaligus sukses ngurus keluarga.Baru kemudian mereka bertanya ini itu.
Yang biasanya mereka tanyakan, gimana caranya jadi ibu rumah tangga sambil bisnis, gimana mulainya, dan tentang kegalauan mereka mau resign apa nggak.
Menghadapi pertanyaan ini, saya sering geli aja sendiri. Pertama, saya heran juga kok bisa dibilang jadi IRT yang sukses bisnis. Saya amin-kan saja kalimat pujian itu. Kedua, saya bingung jika ditanya gimana caranya jadi IRT sambil bisnis ; karena saya gak pake mikir panjang pas mau jualan. Bondo nekad aja. Maka untuk menjawab hal ini,saya seringnya berbagi cerita saja,gimana saya memulai sebuah toko jilbab online.
Nah, untuk pertanyaan yang terakhir,jawaban saya gak pakai ragu. Dan cenderung tegas. Ketika mereka - para istri itu bertanya, mereka perlu resign apa ga ya? Langsung saya jawab "RESIGN saja ! Cari duit di rumah saja !"
Sering penanya jadi kaget dengan "kekakuan" saya ini. Nggak nyangka saya seenak udelnya aja nyuruh mereka berhenti dan tidak mempunyai gaji tetap lagi. Kayak yang saya nggak butuh duit aja.
Saya juga merasa sih, jangan-jangan para penanya ini sekedar uji coba perasaannya aja, nggak beneran ingin resign. Karena walau semanis apapun uraian tentang utamanya para istri dan ibu beraktivitas berbasis rumah, mereka tetep ragu-ragu melepas pekerjaan kantorannya.
Jika sudah begitu ngotot memberikan alasan kenapa dia harus tetap kerja, maka dengan cepat saya putus percakapan saya itu. Salah alamat saja sepertinya. Padahal nggak seharusnya saya begitu (saya pun sadar).
Tapi ya gimana, saya bilang saja : saya sekedar berbagi crita dan memberitahukan prinsip saya. Bahwa saya ini idealis, nekad dan berani melarat. Anak adalah alasan utama saya resign kerja. Memang kemarin-kemarin saya juga ragu mengambil keputusan. Karena ego saya ingin mandiri finansial lebih besar. Namun belakangan,ketika makin pasrah dan tulus menjadi IRT, toh rejeki lewat suami diberikan lebih mudah oleh اللّÙ‡ُ SWT. Dan dengan pengalaman ini,maka saya tanpa tedeng aling-aling mengatakan pada mereka yang bertanya itu dengan satu jawaban tegas. Jika kondisi menitipkan anak, dll tidak memungkinkan, maka RESIGN saja semoga lebih baik.
Semoga.. Semoga, saya harap begitu. Dan alhamdulillah juga, ada seorang teman baru juga yang dulu kerja di laboratorium negara,lalu hamil dan takut kehilangan anaknya lagi,sharing kepada saya. Dan saya yakinkan untuk berani memulai bisnis jika memilih resign. Dan sekarang dia sudah punya bisnis handycraft yang gejalanya makin laris.
Tentu, pendapat saya ini tidak mutlak benar dan bisa berlaku untuk semua orang. Namun saya ingin membagi prinsip nekad saya kepada mereka yang cemas kekurangan rejeki jika resign kerja.
Langit menyimpan banyak rahasia, termasuk rejeki kita. Kenapa dengan yakinnya kita hanya menganggap rejeki cuma dari kantor kita saja? Dan tetap bertahan disana dengan resiko anak-anak dan keluarga kacau atau tidak optimal?
Saya ingat kalimat bahwa Anak Shalih termasuk salah satu modal kita bisa nyangkut ke surga. Maka, bismillah dengan prinsip itu saya tak ragu lagi menjadi IRT - stay at home mom- dan fokus pada anak-anak.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Uji coba insert Picture dari BB ke Blogspot
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Uji coba
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Hijabers
| foto dari sini |
Saya salut dan kagum juga dengan munculnya Hijaber ini.
Hijaber dari kata Hijab.
Dulu penggunaan kata Hijab, sangat limited. Pengertian paling awam tentang hijab [bagi saya] adalah penutup seluruh tubuh yang full seperti para perempuan di Afganishtan. Yaitu jilbab lebaar menjulur sampai kaki dengan cadar atau burqa menutupi wajah. Dengan warna hitam, biru dongker atau warna gelap lainnya.
Dulu, banyak yang enggan menggunakan kata Berhijab dan memilih untuk kata berjilbab atau berkerudung saja. Kesannya lebih ringan dan sesuai dengan proses menjadi muslimah yang ingin mematuhi perintah Alloh SWT untuk menutup aurat.
Lalu, entah dimulai dari siapa, kata Hijaber mulai muncul.
Hijaber yang biasanya tergabung dalam Hijaber's Community ini [dari penjelasan Dian Pelangi] bertujuan untuk mengedukasi para muslimah [khususnya Indonesia] bahwa hijaber, alias pengguna hijab adalah mereka yang tidak hanya peduli pada jilbab / kerudung saja. melainkan juga Hijab dalam arti menutup tubuh dengan pakaian yang sesuai syar;i, serta menghijabi hati agar sesuai dengan yang dititahkan Alloh SWT dalam Alqur'an.
Kreativitas designer dalam komunitas hijaber ini, menurut saya, patut diacungi jempol juga. terutama untuk para designer yang masih mengusung tinggi konsep pakaian muslimah sesuai aturan/syar'i.
Dengan kreativitas mereka, sekaligus cara berjilbab yang super kreatif juga a.k.a hijab style; akhirnya makin mendongkrak keinginan wanita muslim untuk mulai menutup auratnya.
Memang, beberapa segi, model berjilbab para hijaber ini juga menjadi sorotan. Karena kadang, tampak begitu berlebihan. Terutama mereka yang menggunakan inner jilbab dengan isi cempol yang begitu besar, bak punuk unta.
namun, jika kita jeli dan mau rajin mencari di internet, ada banyak designer yang kreatifnya masih dalam koridor syar'i, misalnya designer Gda's Gallery yaitu putri pertama dari Aa Gym. Beberapa saya lihat tergabung dalam sebuah toko hijab online di www.hijup.com.
Berjilbab menutupi dada, menjadi menarik sekarang dan sudah banyak diterapkan oleh para hijaber. Model baju, yang sebenarnya bagi saya, rada ruwet juga tampaknya, tapi berhasil sesuai dengan syar'i yaitu tidak transparan, tidak ketat dan menutup seluruh tubuh.
Saya anggap, Hijaber memulai langkah yang baik untuk syiar islam terutama syiar hijab. Bahwa ada kekurangan disana sini, itu adalah proses.
