Podcast Bu Heni

Melanjutkan Ramadhan

1 komentar
Idul Fitri sudah hampir masuk waktu seminggu. Isi perut tak lagi sering kosong seperti Ramadhan kemarin. Malah seringnya kuisi makanan silih berganti. Sudah sarapan, lalu kue kering kemudian mangga dan lanjut sesuai apa yang ada.

Minum air mineral pun kulakukan beberapa menit sekali. Untuk mengatasi kerongkongan yang rasanya haus melulu. Mungkin balas dendam kemarin terasa kering karena puasa.

Karena sempat berhalangan rutin, Al-qur'an pun tak kupegang sama sekali. Kegiatanku lebih banyak berbenah rumah. Mencuci baju kotor yang menumpuk setelah mudik. Membersihkan isi kulkas, kompor, rak piring dan dapur semuanya. Yang biasanya berimbas membuatku malas belanja dan masak. Karena belanja membuat kulkasku jadi penuh dan bisa kotor lagi. Memasak pun membuat dapurku berantakan lagi dan bak cuci piring penuh lagi. Efek dapur bersih, hehehe.

Di depan tivi aku merenung (sambil setrika _ teuteup...), haruskah rutinitas selama Ramadhan berhenti begitu saja?

Tadarus
Tharawih (yg bisa diganti tahajud)
Nggak nonton inpotainment gosip
Berkompromi dengan haus dan lapar
Dsb

Konon katanya, diterima tidaknya amalan Ramadhan kita ini, baru tampak Pasca Ramadhan : ya sekarang inilah waktunya.

Jadi ?

Sayang ya jika dibiarkan berlalu begitu saja momen Ramadhan dan perasaan suka melaksanakan ibadah di dalamnya itu.

Biarpun pasti pasti sulit, mari bersetapak meneruskan Ramadhan ini اللّÙ‡ُ. Tak butuh ibadah kita.
Kita yang butuh.
Kita yang butuh.
Dan keluarga kita butuh tauladan dan percikan pahala dari amalan itu, demi mencari ridho اللّÙ‡ُ .

Bismillah, dengan semua kelemahanku, aku berharap diberi kemudahan untuk beribadah bersama keluarga besarku.

Allahumma 'ainna alaa dzikrika
Wa syukrika
Wa husna ibadatika

Ya اللّÙ‡ُ , tolonglah kami dalam berdzikir, bersyukur dan memperbaiki ibadah kami.

آمين ÙŠَا رَ بَّ العَـــالَÙ…ِÙŠْÙ†

Mulai dari hal yang terkecil
Mulai dari diri sendiri
Mulai saat ini juga

Have a nice praying process :-)


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kapal Pinisi

Tidak ada komentar
Dari Kick Andy Show yang baru saja tayang di Metro TV, tentang ekspedisi Ring of Fire.

Ada cerita tentang Kapal Pinisi.
Kapal buatan tangan orang Indonesia. Dari kayu terbaik. Dibuat tanpa sketsa, gambar dan perhitungan apapun. Tanpa ilmu sekolahan melainkan diajarkan secara turun temurun. Kapal Pinisi ini banyak dipesan oleh orang Belanda dan Inggris. Dibuat dalam waktu 2 tahun atau lebih, sesuai ukuran kapal. Dihargai dua milyar rupiah atau lebih. Dalam proses pembuatannya selalu diawali dengan do'a. Untuk peletakan kayu pertama, pemasangan tiang dan peluncuran kapal. Tiap tiang punya makna sendiri.

Kurang hebat apa Indonesia kita ini?

Bangga sekali !

»Aku Cinta Indonesia«

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Lovely Reminder

Tidak ada komentar

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Di Lebaran ini ..

Tidak ada komentar
Beberapa hari sebelum lebaran, berita duka datang dari sahabatku di dunia maya. Bayi mungilnya - 5 bulan- berpulang ke Rahmatullah setelah 2 hari masuk NICU karena kejang, ada pembengkakan di jantung dan masalah di paru-parunya.

Berita itu sangat memukul hatiku. Sejak dia hamil sampai melahirkan, aku ikut tahu bagaimana cerita gembiranya. Dan rencana dia ingin punya 3 anak saja, lalu fokus membesarkan mereka sambil berkarya : menulis novel seperti yang biasa dilakukannya.

Dan,ketika fotonya mengecup jasad bayinya kulihat di fb, hatiku mengerut memeraskan air mataku begitu derasnya. Aku sedih,sangat sedih. Perasaan kehilangan bayi seperti sama dengan perasaanku dulu yang mungkin akan kehilangan bayi. Di saat bayi keduaku lahir dulu.

Aku menangis sejadi-jadinya di depan laptop kecilku. Duduk, tergugu sendirian dan sengaja membiarkan kesedihanku terpuaskan. Mungkin ini juga airmata yang kupaksa kupendam ketika mendampingi anak keduaku di inkubator dulu.

Alhamdulillah, bayiku selamat dan sehat. Karunia ini semakin kurasakan. Susah payah mengurus anak,masih dan pasti sanggup kurasakan, daripada kehilangannya.

Ini semua takdir. Mau tidak mau, harus belajar ikhlas dan siap kehilangan mereka yang sudah jadi "milik" kita.




Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Ingin Jadi Ibu Rumah Tangga? Benarkah?

10 komentar
Untuk kesekian kalinya, ada teman curhat sekaligus konsul pada saya,kadang di malam hari. Entah lewat inbox fesbuk, chatting atau sms. Topik mereka sama : ingin resign kerja dan jadi ibu rumah tangga (saja) seperti saya ini.

Jika itu kenalan baru, biasanya awal disertai pujian dulu pada saya,yang mereka kira sebagai ibu rumah tangga yang sukses berbisnis sekaligus sukses ngurus keluarga.Baru kemudian mereka bertanya ini itu.

Yang biasanya mereka tanyakan, gimana caranya jadi ibu rumah tangga sambil bisnis, gimana mulainya, dan tentang kegalauan mereka mau resign apa nggak.

Menghadapi pertanyaan ini, saya sering geli aja sendiri. Pertama, saya heran juga kok bisa dibilang jadi IRT yang sukses bisnis. Saya amin-kan saja kalimat pujian itu. Kedua, saya bingung jika ditanya gimana caranya jadi IRT sambil bisnis ; karena saya gak pake mikir panjang pas mau jualan. Bondo nekad aja. Maka untuk menjawab hal ini,saya seringnya berbagi cerita saja,gimana saya memulai sebuah toko jilbab online.

Nah, untuk pertanyaan yang terakhir,jawaban saya gak pakai ragu. Dan cenderung tegas. Ketika mereka - para istri itu bertanya, mereka perlu resign apa ga ya? Langsung saya jawab "RESIGN saja ! Cari duit di rumah saja !"

Sering penanya jadi kaget dengan "kekakuan" saya ini. Nggak nyangka saya seenak udelnya aja nyuruh mereka berhenti dan tidak mempunyai gaji tetap lagi. Kayak yang saya nggak butuh duit aja.

Saya juga merasa sih, jangan-jangan para penanya ini sekedar uji coba perasaannya aja, nggak beneran ingin resign. Karena walau semanis apapun uraian tentang utamanya para istri dan ibu beraktivitas berbasis rumah, mereka tetep ragu-ragu melepas pekerjaan kantorannya.

Jika sudah begitu ngotot memberikan alasan kenapa dia harus tetap kerja, maka dengan cepat saya putus percakapan saya itu. Salah alamat saja sepertinya. Padahal nggak seharusnya saya begitu (saya pun sadar).

Tapi ya gimana, saya bilang saja : saya sekedar berbagi crita dan memberitahukan prinsip saya. Bahwa saya ini idealis, nekad dan berani melarat. Anak adalah alasan utama saya resign kerja. Memang kemarin-kemarin saya juga ragu mengambil keputusan. Karena ego saya ingin mandiri finansial lebih besar. Namun belakangan,ketika makin pasrah dan tulus menjadi IRT, toh rejeki lewat suami diberikan lebih mudah oleh اللّÙ‡ُ SWT. Dan dengan pengalaman ini,maka saya tanpa tedeng aling-aling mengatakan pada mereka yang bertanya itu dengan satu jawaban tegas. Jika kondisi menitipkan anak, dll tidak memungkinkan, maka RESIGN saja semoga lebih baik.

Semoga.. Semoga, saya harap begitu. Dan alhamdulillah juga, ada seorang teman baru juga yang dulu kerja di laboratorium negara,lalu hamil dan takut kehilangan anaknya lagi,sharing kepada saya. Dan saya yakinkan untuk berani memulai bisnis jika memilih resign. Dan sekarang dia sudah punya bisnis handycraft yang gejalanya makin laris.

Tentu, pendapat saya ini tidak mutlak benar dan bisa berlaku untuk semua orang. Namun saya ingin membagi prinsip nekad saya kepada mereka yang cemas kekurangan rejeki jika resign kerja.

Langit menyimpan banyak rahasia, termasuk rejeki kita. Kenapa dengan yakinnya kita hanya menganggap rejeki cuma dari kantor kita saja? Dan tetap bertahan disana dengan resiko anak-anak dan keluarga kacau atau tidak optimal?

Saya ingat kalimat bahwa Anak Shalih termasuk salah satu modal kita bisa nyangkut ke surga. Maka, bismillah dengan prinsip itu saya tak ragu lagi menjadi IRT - stay at home mom- dan fokus pada anak-anak.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Uji coba insert Picture dari BB ke Blogspot

Tidak ada komentar

Aku pernah diledek mbakku nomer dua. Waktu masang jam ini. Katanya, lah, jam pas lulus kuliah kok udah dipasang foto bonusnya : dua prencils. Hehehe
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!