Podcast Bu Heni

Bubur Ayam Spesial Versi Kehidupan

Tidak ada komentar
Satu artikel parenting sehari. Itu yang sedang kuusahakan sekarang ini. Suamiku terus mendukungku. Memuji tulisanku dengan berlebihan. Itu karena dua faktor. Pertama, aku istrinya, mo jelek mo bagus, pasti bilangnya bagus-lah, takut nggak dimasakin. Kedua, karena dia bukan good writer juga bukan good reader. Jadi tidak tahu mana tulisan yang bagus dan yang bukan. Menurutnya, tulisanku mengalir dan menarik. Itu cukup.

Dan itu pun cukup menambah semangatku menulis. Ditambah beberapa permintaan dijadikan friends oleh temannya teman yang suka membaca note parentingku. Ah, jadi mekar lagi nih hidung.

Aku sadar, sudah terlalu lama meracuni hati dan pikiran dengan perasaan tidak mampu. Dan seiring waktu, kemampuanku bisa terbukti begini, sungguh hal yang tidak kusangka-sangka. Yang kusesali adalah, seandainya lingkungan tidak bersikap sedemikian buruk kepadaku tempo hari itu. Mungkin aku masih bisa berkarya dan punya pengharapan dan kepercayaan diri yang lebih stabil.

Namun sekarang sudah waktunya membuat bubur ayam spesial dan tidak lagi menangisi nasi yang sudah menjadi bubur. Kemarin adalah pil terpahit yang pernah kutelan di dalam hidupku. Walau kadang getirnya masih terasa, sedikit demi sedikit manis itu pun datang.

Hal melegakan lagi adalah, syukurlah anakku bukan anak yang gifted. Karena kalau gifted dah complicated deh. Au lebih yakin anak-anakku adalah smart child. Karena sadar atau tidak sadar, kegemaranku mencari pengetahuan baru berdampak bagus pada perkembangan mereka. Dan, ini pun masih terus berlanjut.

Kemarin aku masih penasaran dengan reaksi antara soda kue dan cuka. Sampai ke pertanyaan kenapa terasa dingin, aku buka Brady kembali, karena aku ingin menerangkan hal itu dengan cara yang sederhana pada anak-anak.

I Was Born To Write

2 komentar
Raising muslim boys.
Parenting.

Aku tertarik dengan topic ini. Karena sangat membantuku dalam menangani anak-anak. Dan sejak aku banyak meluangkan waktu untuk mencari informasi parenting, lalu mencoba mempraktekkannya. Ada perubahan pada perilaku anak-anak. Juga perilakuku sendiri sebagai ibu. Hal ini tentu baik.

Sains. Kuark. Menarik pun. Percobaan dengan Aldo kemarin, membangkitkan ingatanku pada jurusan kimia.
Menarik ya. Terbesit, serunya jika aku punya klub sains kelak.

FLP. Asma Nadia. Teman penulis dan homeschooler. Membuatku terus terjaga. Untuk bergerak semakin baik dan produktif. Keinginan membuat buku dan rumah bacaan menggebu.

Dalam berbagai kodisi tak terduga, craft sedikit saja menggangguku. Karena karakterku yang tidak suka keluar rumah atau sulit mengajak dua anak lelakiku bepergian denganku sendiri, tanpa ada insiden berlarian kesana kemari. Maka, menulis adalah pekerjaan yang tidak perlu bahan baku. Biarpun kadang terdesak pula keinginan berbisnis dan memegang uang secepatnya.

Bosan. Kebosanan itu mau tidak mau pasti datang. Kedua anakku pun lebih senang di dalam rumah. Bermain computer atau mengerjakan hal lain. Tetapi computer masih sangat dominant. Aku harus mencari cara mengatasi kebosanan itu. Karena aku sudah memutuskan untuk menjadi penulis. Aku harus bisa menghasilkan sebuah buku. Sebuah buku. Untuk kali ini, buku parenting yang masih menjadi minatku. Aku harus menyelesaikannya. Tidak perlu sempurna. Minimal selesai dulu. Lalu kukirim ke penerbit kalamedina di DKT. Yang penting target utama adalah bukuku terbit. Ini bisa menjadi katalis yang sangat bagus untukku.

Ke depan. Aku mulai focus pada buku pelajaran dan latihan soal. Agar lain daripada yang lain , aku butuh kamera digital. Percobaan di rumah akan aku gunakan kedua anakku sebagai model.

Sudah. Hari ini bukan jamannya lagi aku menoleh kesana kemari. Menghitung untung rugi dan apa hal yang akan kutekuni. Aku adalah freelance writer. Cukup. Pasti dengan bertambahnya prosi latihanku, aku bisa mempunyai pendapatan sendiri kelak. Aku tidak akan terintimidasi dengan kesuksesan para pendahuluku. Juga beberapa hal yang sudah kuekspos. Ya aku malu. Tampak seperti banyak bicara. Tapi ini proses. Aku mengaku bersalah. Mengaku bimbang. Tetapi hari ini aku sudah yakin. Sudah pasti. Writing adalah duniaku.

Hari Baru

Tidak ada komentar
Hari baru. Sebenarnya setiap pagi sudah menjelang. Kita bisa menyebutnya hari baru. Ya kan.

Nah. Ini hari baru. HAri dimana aku tidak memulai hariku sama seperti kemarin. Biasanya, setelah menyiapkan sarapan pagi ala kadarnya, aku hanya duduk-duduk saja. Menemani atau menunggu suami dan anak-anak yang sedang sarapan.

NAh, aku bosan. Juga hal itu biasanya malah membuatku semakin malas. Lalu, aku beranjak untuk membereskan mainan Aji yang tergeletak di meja. Lalu merembet ke teras. Ada sedikit kliping dari koran bekas. Tukang rombeng sudah mengintai dan berteriak keras-keras ketika aku menggunting kliping. Lumayan nanti dirombengkan bisa dapat 5000 an.

Aktivitas baru ini cukup menyegarkan. Sedikit ruang lebih bersih.

Small step accomplished :D

Mi-shil ; Inspire Me

Tidak ada komentar


Ada kata-kata mujarabnya yang masih terngiang sampai sekarang.
JIKA AKU GAGAL. AKU AKAN MEMULAI LAGI SEGALANYA DARI AWAL.

MIRACLE OF LOVE

Tidak ada komentar
Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.


Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya-- karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing-- Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu 'agar semua anaknya dapat berhasil'.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:

“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu." Sambil air mata si sulung berlinang.

"Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.

”Anak-anakku...Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit." Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa....disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit...” Sambil menangis

" Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya..."BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH".

Dear my friends, that's a true story from someone who taught me about the importance of investment three years ago. I wish i could be someone like him...to give all the attention to my family...i believe family is the most precious thing...more than money or gold.


__._,_.___

Amarah

Tidak ada komentar
Aku baru kembali dari rumahnya.

Berderu dengan degup hatiku yang masih saja memunculkan sedikit amarah.

Siapa yang rela menyaksikan ibunya sekali lagi. Lagi-lagi disusahkan??

Huh. Seberat apa nafas harus kuhembuskan. Memuakkan sekali perilaku mereka itu. Satu per satu mulai menunjukkan wajah aslinya. Satu demi satu membuang kemungkinan terbaik sebagaimana sifat mereka akan berubah.

Duh. dikau. Yang tega saja membuat kepala ibuku terbebani lagi dan lagi. Dan entah kapan bisa berhenti. Duh...aduuh...sudah tak bisa lagi aku berpikir jernih. Amarah ini masih datang lagi dan lagi.