Podcast Bu Heni

IMF = Ibu rumah tangga Mandiri Finansial

Tidak ada komentar
Finansial ???
Halah, duit lagi duit lagi.
Tapi, gimana lagi, sudah aturannya begitu. Duit, uang, okane, fulush, money, dan apapun istilahnya adalah alat tukar yang sudah disepakati semua bangsa di dunia ini. Kalau saja daun kering, beras, kain bisa jadi alat tukar seperti sistim barter di jaman dulu, mungkin uang tidak begitu diperhitungkan.

Nah,bicara uang, sebagai ibu rumah tangga pun sebenarnya tidak ingin berdiam diri saja. Wah, membahas hal ini sedikit riskan. Karena dibilang diam, toh ibu rumah tangga pekerjaannya nggak sedikit. dan mempunyai siklus atau daur berulang yang bagitu cepat. Selesai nyuci, setrika, eh, baju kotor ada lagi-ada lagi. Piring, panci semua bersih, lalu ibu masak, dan keluarga sarapan; nah kan, piring dan panci kotor pun ada lagi-ada lagi. Yah, begitulah,

Maksud berdiam diri di sini adalah diam dalam arti tidak menghasilkan karya lain selain ritme pekerjaan rumah tangga itu.
Dibilang tidak ada waktu dan tenaga lagi, yaah...gimana ya. Kalau kita lihat tayangan kaum ibu di negara lain; bisnis atau ngantor, dan full ngurus rumah juga anak, toh mereka bisa.

Atau, tidak jauh-jauhlah, pembantu rumah tangga yang harian. Misalnya pagi mereka datang dan siang/sore pulang dari rumah kita. Nah, ketika mereka pulang, kan kembali lagi mereka harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Jadi mereka bekerja dua kali. Nggak mungkin kan, mereka juga menyewa tukang cuci untuk membantu mereka di rumah. Mbulet ae rek, kalau begitu.

Saya punya hobi ngobrol dengan "wong cilik". Tukang sol sepatu, jualan mainan, PRT harian, penjual es sinom sekolahan, dll. Sambil menunggu anak saya pulang sekolah, saya sempat ngobrol dengan ibu penjual es sinom. Berapa penghasilannya sehari, cukup tidak, dan kerjaannya apa saja. Bagaimana ngatur anak-anaknya yang masih kecil dan berani ditinggal sendirian tidur di rumah, dsb. Juga di sore hari, sambil ngaso setelah beberes rumah, PRT tetangga sebelah duduk di teras saya. Dan saya ngobrol ngalor ngidul, capek nggak, gimana anaknya yang sekarang di pesantren Kediri, bahkan kadang saya nanya, gimana caranya ngasuh anak lelakinya kok bisa tidak terpengaruh anak-anak kampung yang nota bene pemabuk dan pengangguran.
Obrolan ini sangat menyenangkan saya.

Pertama, membuat saya malu, mereka lebih sulit hidupnya pasti lebih jarang mengeluh lelah daripada saya. Dan saya, yang hanya ribet memutar keuangan saja tanpa harus ikut mencari nafkah, masih juga sering merasa lelah.
Kedua, saya ikut terpacu untuk bekerja seperti mereka. Bekerja dalam arti menggunakan tenaga dan pikiran saya pribadi untuk menghasilkan uang.

Mengapa saya masih kepikiran ingin menghasilkan uang sendiri, padahal nafkah dari suami sudah cukup?
Entahlah kenapa. saya yakin bukan karena saya matre, tetapi ketika melihat para ibu pekerja itu, saya merasakan ada perbedaan. Yaitu keleluasaan mengolah keuangan pribadi. Entah untuk keluarga, anak, orang tua kita atau untuk diri sendiri.

Ini terlihat misalnya ketika ada tetangga lain yang sedang big sale di rumahnya. PRT harian tetangga saya, akan ringan saja membeli ini itu. Toh itu dari penghasilannya sendiri. Mungkin berbeda dengan orang lain, saya harus berpikir keras. Memutar otak berkali-kali, apakah keputusan saya untuk membeli tidak akan mengganggu stabilitas anggaran belanja bulanan.

Faktor lain yang mendorong saya ingin berpenghasilan adalah, ketika berkunjung ke rumah orang tua. Dan ada rencana atau kesulitan yang membutuhkan dana, wah, akan terasa ringan saja ketika kita ingin memberi orang tua, jika dana itu berasal dari kantong kita sendiri. Tidak mengambil gaji suami.

Yang terakhir adalah, kalimat-kalimat yang menusuk kalbu ketika saya membaca biografi wanita sukses,lalu dia mengatakan," saya berusaha ini karena ingin membuat anak saya bangga melihat ibunya."

Waaahh...saya pun ingin seperti itu. Tidak hanya anak, saya pun ingin sekali ibu dan bapak saya bangga mempunyai anak seperti saya.
Maka, menjadi produktif adalah tekad saya. Harus dan harus. Terlebih lagi, ibu saya sendiri pun mencontohkan hal yang sama.

Ibu saya, diminta oleh bapak berhenti dari pabrik konveksi ketika sudah melahirkan kakak pertama saya. Padahal gaji bapak sebagai TNI AL hanya setengah dari gaji ibu. Bapak berpendapat, :"anak yang diasuh ibunya sendiri, akan menjadi anak yang baik dan berhasil."
Tetapi ibu tidak patah arang. Karena ibu bertekad agar semua anaknya bisa sekolah setinggi mungkin, ibu melakukan apa saja. Buka toko, terima jahitan, terima pesanan kue atau tumpeng dan sebagainya. Dan akhirnya, disertai tirakat dan doa ibu dan bapak yang tak putus-putus, tujuh dari kedelapan anaknya bisa kuliah semua. Satu kakak perempuan yang tidak kuliah, ikut kursus salon dan rias pengantin. Dan sekarang bisa membuka salon sendiri.

Tidak disangkal,sekarang saya adalah istri yang diberi nafkah yang cukup oleh suami. Bahkan untuk sekolah anak, dll. Tetapi tidak bisa disangkal bahwa kebutuhan semakin meningkat. Penghasilan tambahan bisa menjadi tabungan, baik untuk kepentingan material keluarga ataupun untuk bersedekah. Mengingat dulu, istri-istri Nabi Muhammad SAW semuanya mandiri secara finansial. Apalagi Siti Khadijah, beliau adalah pebisnis ulung yang berhasil. Dan dengan penghasilannya bisa menyokong dakwah Rasul.

Dan saya pun harus seperti Siti Khadijah.
Karena menjadi istri, menjadi ibu, bukan berarti kita harus terkukung dan diam. Kita masih bisa mempunyai rencana lain dalam hidup ini, sekaligus bisa mewujudkannya kalau kita mandiri. Mandiri secara batin, pikiran juga finansial. Karena kita juga manusia biasa, yang butuh prestasi, butuh aktualisasi diri dan butuh merasa mampu. Maka, seyogyanya para suami menyadari hal ini, dan membantu usaha istri untuk membuat dirinya sendiri mandiri. Suami tidak perlu takut bahwa si istri ini akan keblabasan, melupakan kodrat atau akan menginjak harga dirinya ketika penghasilannya lebih besar dari suami. Jika terus berpegang teguh pada tujuan awal menjadi mandiri secara finansial adalah mengikuti teladan istri Nabi Muhammad SAW, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kerjasama yang baik, pun dalam mengelola keuangan keluarga, Insya Allah akan mengantarkan keluarga pada kualitas hidup yang lebih baik. Anak-anak mendapatkan kesehatan dan pendidikan terbaik, lingkungan yang baik sehingga pembekalan yang kita berikan akan menjadi modal utama mereka menyongsong masa depan, melakukan tugas penciptaan mereka di dunia ini. Selain juga untuk berjaga-jaga, if something worst happen.

jadi, para perempuan, saudari-saudari, kaum ibu dan istri, mari mengoptimalkan semua kemampuan yang kita miliki. Asahlah kembali ketrampilan lama dan tambahlah yang baru. Lalu buatlah suatu usaha pribadi, usaha yang berbasis rumah, agar pemantauan anak dan keluarga masih di genggaman kita. Mari menjadi ibu rumah tangga berpenghasilan. Menjadi ibu rumah tangga mandiri finansial.

HARGA YANG HARUS DIBAYAR

3 komentar
Beberapa fragmen terbayang di benakku,
pertama : sosok istri dosen yang menggendong sendiri anak bayinya. Kemudian, mahasiswa dan mahasiswi berbisik-bisik, "istrinya itu lulusan s2 lho, ketemu di Australia, dan sekarang jadi ibu rumah tangga (saja)". sosok itu pun masuk ke dalam mobil. dan pak dosen kami yang masih muda, masuk ke dalam gedung jurusan.

kedua : seorang dosen cantik sedang duduk di depan mahasiswanya di meja bundar. untuk membimbing mata kuliah LitKim alias Literatur Kimia. Panjang lebar seputar materi, akhirnya sampai pada sesi menceritakan pengalaman beliau pribadi. Tentang bagaimana usahanya untuk bisa lulus UMPTN, dan kuliah sehingga tidak dipaksa berjualan di toko keluarganya. Kemudian usahanya mencari beasiswa ke luar negeri, supaya bisa sekolah bareng dengan suaminya yang juga akan belajar di negeri yang sama. keluar dari perpustakaan universitas kalau mau ditutup, jarang tidur, minum kopi kental campur garam supaya tetap bisa terjaga. dan usaha keras lainnya. dan kemudian bu Dosen cantik itu pun mengatakan satu kata emas, yaitu " ya..itulah HARGA YANG HARUS DIBAYAR. kalau kalian ingin sukses, atau kalian iri dengan kesuksesan orang, amatilah berapa besar harga yang harus dibayar untuk meraih semua itu."

Dua fragmen tadi tidak sempat terlupakan. Terlebih ketika satu demi satu, keputusan harus diambil dari beberapa pilihan yang ada.

Dan sampailah pada titik jalan ini. Dimana, predikat ibu rumah tangga menjadi sebutan bagi perempuan yang tidak punya institusi/kantor.

Memutuskan profesi ini tentu ada harga yang harus dibayar. kurangnya akses untuk bertemu banyak orang secara langsung, sulitnya bepergian untuk ini itu karena harus mengantar jemput anak, dan usaha tak henti-henti untuk mengingatkan diri sendiri bahwa setiap kegiatan rutin itu berharga di mata Alloh SWT; adalah salah satu dari harga yang harus dibayar.

Dibayar untuk apa?
Untuk kesehatan anak, suami yang bisa dikelola dengan baik
Untuk waktu luang yang bisa dimanfaatkan mempelajari skill lain dan ilmu agama
Untuk kesempatan memberikan bimbingan parenting pada anak sebaik mungkin
Untuk anak yang melambaikan tangan dengan gembira, ketika kita sudah sampai di depan pintu kelasnya
Untuk mereka yang sibuk di atas kasur, satunya membaca buku tebal tentang alam dan tubuh manusia, satunya sibuk menata potongan pizza penghapusnya serta kartu bergambar dora. Sibuk belajar berkonsentrasi
Untuk orang tua dan mertua yang tenang karena cucunya diasuh dengan baik dan ibunya selalu ada
Untuk baju, celana, mukenah dan sarung yang bisa dipastikan suci dan layak untuk dipakai beribadah. Tidak dicuci dan dicampur dalam bak cucian sekenanya saja oleh PRT.
Untuk deretan empat sajadah hijau, ketika maghrib, kemudian bersama melafalkan doa untuk orang tua dan doa kebaikan di dunia dan di akherat, dipimpin oleh anak sulung, dan diikuti oleh anak bontot yang hanya bisa menggumam konyol, "Nyo..nyo..nyo.."
Untuk anak dan suami yang riuh rendah bersilat di atas kasur ketika suami pulang kerja, dengan tawa dan jurus-jurus baru
Untuk mudahnya merawat anak yang sakit, sehingga bisa lekas sembuh, juga mengajari mereka, bahwa jika bisa rela untuk sakit dan berdoa minta sembuh,maka dosanya bisa digugurkan oleh Alloh SWT
Untuk ada di samping anak, ketika mereka bertanya, "Ma, yang daging buahnya paling banyak itu buah apa ya?, dan kita bisa menjelaskannya panjang lebar
Untuk satu-dua kalimat baru yang bisa dikatakan oleh anak balita kita. Dan kita menyambutnya dengan girang, memeluknya dan mengatakan, "horee...sudah bisa bilang RRR"

Untuk beberapa hal lain yang bikin penuh halaman jika dituliskan

Juga sebaliknya,
kemudahan mencari nakah ketika meninggalkan rumah dan anak dalam pengasuhan orang lain. Lebih banyaknya akses teman ataupun rejeki. Sehingga kita bisa menyenangkan hati saudara, keluarga dan teman dengan rejeki kita.

Lalu sesampainya di rumah,
anak hanya sebentar tersenyum, lalu menangis meraung-raung meminta ini itu. Dan kita tidak punya pilihan lain kecuali menurutinya. Karena badan kita pun sudah lelah tiada tara.
Atau anak dan suami begitu bahagia setelah food delivery datang, sebelum kita pulang kantor.
Itu juga termasuk harga yang sudah kita bayar.

Satu hal mudah
Satu hal sulit

Akan menjadi kurang bijak, jika kita menginginkan hal yang sama terjadi. Atau dengan kata lain, "Benda" yang sama akan kita peroleh. Padahal harga yang harus kita bayar itu berbeda jumlahnya, bentuknya juga kualitasnya.

Kurang bijak juga jika kita menilai orang lain lebih "patut dikasihani" karena tidak mendapatkan "benda" seperti kita. Sebelum tahu alasannya yang paling tepat. Karena tujuan hidup yang dipahami semua orang, umumnya, tidak sama.

Seperti kata orang bijak, lakukan apapun terserah kamu. Asal ingat, kelak kau akan dimintai pertanggungjawaban atas semua yang kau lakukan;

Jadi, tentukan tujuan hidup yang ingin kita capai. Lalu lakukan semua hal yang bisa mendukungnya. Apapun yang menyertainya, kesusahan, kemudahan, dsb, adalah harga yang harus kita bayar.

Dan ALLOH SWT tidak pernah tidur.
Dan akan membayar kontan dengan "barang" terbaik yang diberikan sesuai seberapa "besar" harga yang telah kita bayar. Walaupun hal itu tidak nampak kasat mata di hadapan manusia lainnya.

Selamat memilih tujuan hidup ini kawan

TOMBOne ATI

Tidak ada komentar
Aa, saya sudah mau menopause. Tapi belum ketemu jodoh. Jika sampai akhir hayat nanti saya belum menikah, apakah tidak apa-apa? Dan saya bisa bertemu dengan jodoh saya di akherat kelak?dan bisa menjadi kifarat dari dosa-dosa saya?

Aa menjawab,
Hidup ini adalah rahasia Alloh. Dan Alloh paling tahu mana yang terbaik untuk kita. Jikalau kita belum mendapat jodoh, Alloh pun tahu bagaimana rasanya hati ketika sedih melihat kawan sudah pada menikah dan menggendong anak. Bagaimana hati begitu sakit, ketika orang tua, saudara dan lingkungan bertanya, “kapan nih menikah?”. Atau betapa pedihnya hati ketika teman yang lama belum bertemu kemudian bertanya,”hei sudah berapa anaknya?”. Padahal menikah aja belum, boro-boro punya anak.

Rasa sedih, nelangsa, perih dan sebagainya itu adalah rasa yang diciptakan oleh Alloh. Untuk membuat manusia teringat lagi, bahwa kepada Alloh-lah manusia itu harus kembali. Dan jika kita ikhlas, lapang dada menerima semua rasa yang tidak enak itu sebagai bagian dari episode hidup kita; serta berusaha keras untuk tetap ada di jalan yang benar dan disukai oleh Alloh, maka ketidak enakan itu bisa menjadi PENGGUGUR DOSA-DOSA KITA. Bahkan ketika ada duri menusuk kaki kita pun, asal kita ridho, itu pun menjadi penggugur dosa kita.


# # #

Formasi ruang yang baru saya ubek-ubek di rumah, ternyata bisa menjadi hawa baru. Menyenangkan, karena radio gede yang selama ini membisu di ruang tamu, menjadi ramai setelah saya pindah di kamar belakang. Yang kami tetapkan sebagai kamar orang tua. Suara radio ini menemani saya di dapur yang berjarak satu kepal saja dari kamar. Alias dibatasi oleh sekat pintu tripleks buatan suami saya sendiri dan jendela kaca bekas bongkaran ruangan lama.

Shubuh itu, radio Delta FM kembali saya putar. Di waktu biasa, lagu-lagu Indonesia diputar nonstop. Nyaris tanpa jeda. Jarang sekali ada iklan atau penyiar yang berbicara. Full music Indonesia. Asyik deh. Nah, kalau shubuh ternyata ada siaran langsung dari Aa Gym, juga pembicara lain yang kala itu adalah ustadz Hilman Rosyad.

Topic yang disampaikan Aa Gym, seperti biasanya yaitu motivasi untuk beribadah lebih baik. Nah kemudian ada sesi Tanya jawab. Aa Gym membacakan surat yang ditujukan kepada beliau. Jawabannya sangat mengena dan menghibur hati saya. Seperti yang saya tulis di ataslah lengkapnya.

Dua kalimat kunci :
1. rasa sedih dan sejawatnya itu adalah rasa yang sengaja diciptakan Alloh untuk membuat kita teringat pada-NYA
2. jika kita ikhlas akan kepedihan itu dan tetap berusaha di jalan Alloh, maka kepedihan itu bisa menjadi PENGGUGUR DOSA kita.

Dua kalimat itu menjadi titik pencerahan untuk saya. Bahwa, beberapa kepahitan yang harus saya telan di masa lalu. Yang tersembunyi dari pandangan manusia lainnya. Ternyata pasti diketahui oleh Alloh. Dan rasa itu, yang ketika sudah mencapai puncak pahitnya, membuat saya akhirnya menyerah dan menerima episode ini. Kemudian ternyata menyerah bukan berarti kalah.

Setelah saya menyerah, dibukakanlah beberapa hal baru yang malah lebih “gue banget”. Jadi, tugas saya selanjutnya adalah, berusaha tetap berada di jalan yang diridhoi Alloh, sehingga kepedihan di masa lalu itu bisa menjadi penggugur dosa saya itu.

Tentang dosa, pahala, Alloh yang Maha Melihat dan Adil dalam memberikan balasan atas perbuatan kita, akan saya uraikan dalam tulisan selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Tidur 8 jam = MALAPETAKA !!!

2 komentar
Sebuah majalah UMMI edisi lama saya pinjam dari mbak Siwi, kakak ipar pertama saya. Tepatnya edisi 03 Juli 2009. Di halaman 10-12 dipaparkan profil bapak Romi Satrio Wahono berjudul Membagi Ilmu Komputer di Dunia Maya.

Paragraf demi paragraf yang menggambarkan kehidupannya benar-benar menginspirasiku. Pak Romi ini divonis guru SD-nya sebagai anak yang tidak punya masa depan. Karena mengalami disleksia kompleks, tidak bisa membedakan huruf b dan d.

Hebatnya, pak Romi muda tidak patah arang. Dengan metode mind mapping yang penuh simbol dan warna, beliau belajar keras, sampai akhirnya bisa masuk SMA Taruna Nusantara dan lulus sebagai rangking pertama.

Tamat dari SMA, sebenarnya beliau lulus untuk masuk ITB dan STT Telkom, tetapi yang dipilih kemudian adalah beasiswa ke Jepang dari BPPT Ristek, untuk kuliah di Jurusan Informasi dan Ilmu Komputer di Universitas Saitama, Jepang.

Karena ingin segera lulus, di tahun pertama beliau mengambil kuliah sebanyak 70 sks. Mata kuliah tingkat 2 diambil di tingkat pertama. Wow, saya kuliah saja, setahun, paling banter 44 sks, itu sudah paket, dan sudah sampai mimisan. Akhirnya beliau berhasil lulus cum laude. Lalu melanjutkan sekolah sampai s2 dan s3. Dan lulus sebagai master dengan tesis terbaik dan IPK sempurna 4. Subhanallah. Betapa hebat etos kerjanya.

TIDUR 8 JAM ADALAH MALAPETAKA. Itu adalah konsep gaya hidup pak Romi. Sungguh membuat saya tertunduk malu. Malu sekali. Beliau lebih suka tidur di awal dan bangun ketika orang masih tidur. Saya hitung, kira-kira tidurnya jam 8 malam, bangunnya jam 1 dini hari.

Beliau lebih suka bekerja lagi, menulis, lalu sholat malam. Sehingga mengerjakan sesuatu dengan badan dan pikiran segar.

Saya ingin sekali bisa mempraktekkan kebiasaan ini. Semoga saya bisa. Dan tidak ngantuk luar biasa ketika tiba waktunya mengantar jemput anak saya sekolah.

Pak Romi menolak gaji 100 juta sebulan yang ditawarkan perusahaan Jepang, tempat beliau belajar dan bekerja selama 10 tahun sebelumnya itu. Dan memilih untuk tinggal di Indonesia. Semula beliau bekerja di LIPI sambil membuat situs untuk membagikan ilmu komputernya, yaitu di www.ilmukomputer.com

Tetapi di LIPI tidak membuat beliau nyaman, sehingga memutuskan total mengelola situs itu. Sambil merekrut anak-anak lulusan SMK yang cerdas dan berekonomi lemah, Pak Romi mengajak mereka magang di situs miliknya. Kemudian memberinya beasiswa untuk sekolah lagi. Dan meskipun kuliah sambil kerja, anak-anak didiknya ini bisa ber-IPK 3,8 atau 3,9. Waduh, semakin membuat saya malu. Begadang dan mimisan saya tidak sampai menghasilkan angka segitu besarnya. Saya kurang bekerja cerdas dan keras, mungkin ya.

"Jadi anak-anak seperti Lintang di Laskar Pelangi itu nyata adanya," komentar pak Romi pada kegigihan dan kecerdasan anak didiknya. Bahkan beliau merasa, anak didiknya itu lebih cerdas dan lebih pantas kuliah di Jepang daripada beliau. Hanya karena dulu beliau yang punya aksesnya. Jadi sekarang, pak Romi ingin menjadi jembatan akses antara anak cerdas dan pendidikan yang berkualitas.


Situs yang beliau kelola ini kemudian berkembang menjadi bisnis. Dan mendapat penghargaan Continental Best Practice Examples kategori e-learning dari PBB di Jenewa, Swiss. Situs ini bisa menjadi mata pencahariannya, walau sebelumnya diremehkan oleh teman-temannya.

Situs yang beliau kelola antara lain :
www.ilmukomputer.com berisi repositori (artikel, buku dan tutorial)
yang ingin seriua, bisa kuliah online dan dapat sertifikat dari
www.university.romisatriowahono.net
www.brainmatics.com untuk yang ingin training
www.romisatriowahono.net adalah blog pribadinya, yang banyak berisi motivasi dengan bahasa untuk anak muda.

baru saja saya buka blog ini dan memang bahasanya gaul. ada BASBANG alias basi banget, dll.

semua ini disebut beliau adalah e-learning center.

wah benar-benar menginspirasi saya pak Romi. Seorang anak disleksia kompleks, bisa sehebat ini.

Dan ternyata, untuk bisa menjadi ahli, kita harus konsisten di satu bidang saja. Fokus. Persis seperti saran dari Helmi Yahya yang sering diucapkannya di media.

WAIT YOUR COMMENT

Tidak ada komentar
Menulis artikel untuk dijadikan entri baru di blog atau note facebook, semakin menyenangkan.

Tapi ya itu tadi, sesaat setelah publish the note di fb, nih hati H2C melulu. HARAP-HARAP CEMAS terus. Menunggu comment dari pembaca yang sudah di - tag maupun yang belum. Dan..ketika comment, jempol itu sudah ada...
waaaaaaaahhhhhhhhhhh...........senyuman lebaaarrrr membahana

CANTIK

Tidak ada komentar
Cantik menjadi bukan aku, malah ketika aku sudah dewasa.
Di masa remaja, aku panas dingin dan marah ketika ada mata lelaki yang memandangku tanpa berkedip. Apalgi sampai SKSD, Sok Kenal Sok Dekat.

Dan karena aku ingin pintar. Dan pintar tidak perlu cantik. Atau kalau perempuan sudah pintar, otomatis akan terlihat cantik. Maka aku mengtasbihkan diri sebagai perempuan pintar yang tidak peduli dengan kecantikannya.

Alhasil, aku tidak peduli juga dengan ini itu yang harus dilakukan setiap orang agar tampil cantik. Make up, facial, creambath, dll yang menguras uang dan tenaga.

Efek buruknya, aku keterusan merasa tidak cantik. Dan ketika menikah, tanpa kusadari aku ingin disebut cantik. Dan mereka, kaum perempuan yang merasa dirinya lebih cantik dari aku, juga sudah terbiasa menertawakanku ketidakcantikanku itu. Akhirnya aku sedih, kok aku tidak cantik.

Maka aku berusaha untuk memperbaiki diri. Aku beli alat make up yang praktis, karena aku masih tidak suka repot. Aku mencoba merawat sendiri kulit wajahku, karena aku juga masih pelit untuk mengeluarkan aneka rupiah untuk hal-hal selain buku bagus. Aku tidak malu dengan bajuku yang jadul alias nggak ganti-ganti, itu-itu juga. Yang penting bersih dan halal, itu prinsipku.

Karena aku tidak terbiasa berdandan, maka acara menjadi cantik pun hanya berjalan sebentar. Gerah. Sumuk. Tidak nyaman. Aku tidak suka cantik. Kalau itu merepotkan. Tapi suamiku bersiul-siul dan matanya berbinar ketika aku berdandan. Yah,terpaksa aku harus kembali cantik.

Tapi, mereka, burung kutilang yang suka mematukkan pelatuknya pada hati perempuan sepertiku, masih enggan berhenti. Mereka masih suka mencerca. Menertawakan pilihan warna bajuku, warna lipstick dan bedakku. Dan menjulukiku seperti topeng yang baru saja makan singa hidup-hidup. Ah, kenapa aku tidak jua cantik ya? Aku kembali sedih karena tidak cantik.

Dan kesedihan itu membuatku malas bertemu para burung kutilang pesolek itu. Aku sempat memperhatikan mereka. Rasanya, aku jauh lebih cantik daripada mereka. Bahkan ketika aku tidak bersolek. Namun suara ejekan mereka lebih riang daripada suara batinku. Dan aku semakin yakin bahwa aku tidak cantik. Aku jelek.

Lalu, datanglah seekor burung gagak. Dia tentu tidak cantik. Tapi anaknya mirip sekali burung Nuri. Anaknya cantik. Ibu Gagak dan Anak Nuri ini memujiku dengan tulus. Bahwa dari sejak dulu, mereka memuji kecantikanku. Dan malah menyebarkannya ke seantero hutan, bahwa akulah yang paling cantik dalam trah keburungan. Aku cantik dari lahir. Tanpa perlu bersolek.

Untuk pertama kalinya aku tersenyum. Lalu menerima pantulan wajahku di cermin dengan lebih senang hati. Eh iya, benar, aku memang cantik.