I Was Born To Write

Raising muslim boys.
Parenting.

Aku tertarik dengan topic ini. Karena sangat membantuku dalam menangani anak-anak. Dan sejak aku banyak meluangkan waktu untuk mencari informasi parenting, lalu mencoba mempraktekkannya. Ada perubahan pada perilaku anak-anak. Juga perilakuku sendiri sebagai ibu. Hal ini tentu baik.

Sains. Kuark. Menarik pun. Percobaan dengan Aldo kemarin, membangkitkan ingatanku pada jurusan kimia.
Menarik ya. Terbesit, serunya jika aku punya klub sains kelak.

FLP. Asma Nadia. Teman penulis dan homeschooler. Membuatku terus terjaga. Untuk bergerak semakin baik dan produktif. Keinginan membuat buku dan rumah bacaan menggebu.

Dalam berbagai kodisi tak terduga, craft sedikit saja menggangguku. Karena karakterku yang tidak suka keluar rumah atau sulit mengajak dua anak lelakiku bepergian denganku sendiri, tanpa ada insiden berlarian kesana kemari. Maka, menulis adalah pekerjaan yang tidak perlu bahan baku. Biarpun kadang terdesak pula keinginan berbisnis dan memegang uang secepatnya.

Bosan. Kebosanan itu mau tidak mau pasti datang. Kedua anakku pun lebih senang di dalam rumah. Bermain computer atau mengerjakan hal lain. Tetapi computer masih sangat dominant. Aku harus mencari cara mengatasi kebosanan itu. Karena aku sudah memutuskan untuk menjadi penulis. Aku harus bisa menghasilkan sebuah buku. Sebuah buku. Untuk kali ini, buku parenting yang masih menjadi minatku. Aku harus menyelesaikannya. Tidak perlu sempurna. Minimal selesai dulu. Lalu kukirim ke penerbit kalamedina di DKT. Yang penting target utama adalah bukuku terbit. Ini bisa menjadi katalis yang sangat bagus untukku.

Ke depan. Aku mulai focus pada buku pelajaran dan latihan soal. Agar lain daripada yang lain , aku butuh kamera digital. Percobaan di rumah akan aku gunakan kedua anakku sebagai model.

Sudah. Hari ini bukan jamannya lagi aku menoleh kesana kemari. Menghitung untung rugi dan apa hal yang akan kutekuni. Aku adalah freelance writer. Cukup. Pasti dengan bertambahnya prosi latihanku, aku bisa mempunyai pendapatan sendiri kelak. Aku tidak akan terintimidasi dengan kesuksesan para pendahuluku. Juga beberapa hal yang sudah kuekspos. Ya aku malu. Tampak seperti banyak bicara. Tapi ini proses. Aku mengaku bersalah. Mengaku bimbang. Tetapi hari ini aku sudah yakin. Sudah pasti. Writing adalah duniaku.

2 comments:

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊