Bubur Ayam Spesial Versi Kehidupan

Satu artikel parenting sehari. Itu yang sedang kuusahakan sekarang ini. Suamiku terus mendukungku. Memuji tulisanku dengan berlebihan. Itu karena dua faktor. Pertama, aku istrinya, mo jelek mo bagus, pasti bilangnya bagus-lah, takut nggak dimasakin. Kedua, karena dia bukan good writer juga bukan good reader. Jadi tidak tahu mana tulisan yang bagus dan yang bukan. Menurutnya, tulisanku mengalir dan menarik. Itu cukup.

Dan itu pun cukup menambah semangatku menulis. Ditambah beberapa permintaan dijadikan friends oleh temannya teman yang suka membaca note parentingku. Ah, jadi mekar lagi nih hidung.

Aku sadar, sudah terlalu lama meracuni hati dan pikiran dengan perasaan tidak mampu. Dan seiring waktu, kemampuanku bisa terbukti begini, sungguh hal yang tidak kusangka-sangka. Yang kusesali adalah, seandainya lingkungan tidak bersikap sedemikian buruk kepadaku tempo hari itu. Mungkin aku masih bisa berkarya dan punya pengharapan dan kepercayaan diri yang lebih stabil.

Namun sekarang sudah waktunya membuat bubur ayam spesial dan tidak lagi menangisi nasi yang sudah menjadi bubur. Kemarin adalah pil terpahit yang pernah kutelan di dalam hidupku. Walau kadang getirnya masih terasa, sedikit demi sedikit manis itu pun datang.

Hal melegakan lagi adalah, syukurlah anakku bukan anak yang gifted. Karena kalau gifted dah complicated deh. Au lebih yakin anak-anakku adalah smart child. Karena sadar atau tidak sadar, kegemaranku mencari pengetahuan baru berdampak bagus pada perkembangan mereka. Dan, ini pun masih terus berlanjut.

Kemarin aku masih penasaran dengan reaksi antara soda kue dan cuka. Sampai ke pertanyaan kenapa terasa dingin, aku buka Brady kembali, karena aku ingin menerangkan hal itu dengan cara yang sederhana pada anak-anak.

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊