TEROR TOEFL dan Kuliah ke Luar Negeri

Ceritanya nih saya heboh banget mau ikutan tes TOEFL di kampus UNESA, sebagai syarat kelulusan dan wisuda S2 saya. Hebohnya itu campur sutris berat, karena cerita teman-teman yang katanya belum lulus walau sudah tes sepuluh kali. Sedangkan saya baru tes sekali, dengan skor 447.

Untuk syarat wisuda, minimal skor TOEFL harus 460.
Namanya ibu-ibu di rumah, harus belajar bahasa Inggris lagi, begitulah bunyinya. Buka software TOEFL bentar dah teriak-teriak aja mengulangi percakapan di latihan LISTENING. Lalu teriak lagi karena nggak ngeh dengan soal-soal grammar di latihan STRUCTURE. Cukup hening sejenak ketika belajar mengerjakan soal-soal READING. Kali ini nggak pake teriak :)

Berbagai doa, dzikir dan amalan menyenangkan hati ibu pun kulakukan agar bisa lolos tes TOEFL. Sehari sebelum tes, saya melipir ke rumah ibu dan memberinya sebatang coklat lalu minta didoakan. Jurus jitu lulus tes ala saya , hehehe.

Hari tes TOEFL kedua saya pun tiba. Tegangnya minta ampun. Saya kudu bolak-balik ke toilet sebelum pintu kelas tes dibuka. Peserta tes banyak bangeet, sekelas bisa 60 orang lebih. Dan hebohnyaa karena pada bete harus tes berkali-kali dan belum lulus dan bakalan mundur lagi wisudanya. Beberapa berteriak akan melakukan demo pada Direktur Pascasarjana Unesa, supaya dibolehin wisuda. Aduh bikin keki aja.

Lalu dimulailah tes TOEFL di kelas yang dingin banget (bagi saya, mungkin karena tegang). Saya berusaha konsentrasi seribu bahkan sejuta persen. Konseeen banget, apalagi pas Listening yang suaranya diperdengarkan dari speaker ruangan dan bukan menggunakan headset per orang seperti di Lab Bahasa. Satu demi satu lingkaran jawaban tes saya hitamkan. Tiap satu bulatan, saya baca Shalawat sambil berdoa sepenuh hati. Ini tips lulus tes saya yang ke#2, hehehe.

Dan alhamdulillah hasilnya adalah....


TOEFL ku LULUS

Skor TOEFL saya 487, artinya sudah melampaui batas minimal kelulusan skor 460. Saya berjingkrak-jingkrak kegirangan (dengan tega) di sebelah teman saya. Ups, lalu saya mengerem kegirangan itu, karena simpati dengan wajah lesu teman saya yang belum juga lulus tes toeflnya. Saya usahakan menyembunyikan senyum saya sekuat tenaga, walau rasanya pingin salto saja saat itu.

Jujur, beneran, suer. Baru kali ini saya ikutan tes TOEFL. Jadi baru dua kali dalam seumur hidupku ini, saya ikutan tes TOEFL.
Jaman S1 di ITB (1997-2001) tidak ada syarat skor TOEFL dan semacamnya. Hanya harus ikutan kelas bahasa Inggris saja sebentar di UPT Bahasa.

Pulang dari kampus pasca Unesa, saya merenung. Merenungnya dalem banget, sampai terik panas matahari pukul 2 siang itu tidak terasa. Sambil naik sepeda motor perlahan-lahan, saya bicara sendiri dalam hati, "gini ya susahnya tes TOEFL. Padahal tes ini jadi syarat masuk anak kuliahan S1. Gimana nanti anak-anakku ya? Ah, mereka kudu, wajib, untuk belajar bahasa Inggris lebih baik lagi demi masa depan mereka supaya tidak kena teror TOEFL seperti emaknya dan teman-teman emaknya." Amin.

Ketika berhenti di lampu merah, gumaman saya tak berhenti sampai disitu,
"biar pinter bahasa Inggris gimana caranya ya? siapa yang ngajari ya? apa kudu les? bimbel? "
"bimbel mana yang bagus? les mana? oh iya ada EF katanya bagus, tapi kan mahal bok, jutaan.."
dan seterusnya...begitulah namanya juga gumaman ibu-ibu :)

Sampai di rumah, sore harinya saya ungkapkan isi hati saya itu kepada anak-anak. Karena mereka semua anak laki-laki, saya panggillah "mas"

"mas, bahasa Inggris mama lulus loh, hebat to."
"Kalian harus lebih pinter bahasa Inggrisnya daripada mama, ya..!"

Jawab anak sulung, " aku udah pinter ma. Nih tiap hari aku lihat video youtube pake bahasa Inggris, ini namanya belajar."

Jawab adeknya,"aku juga tiap hari nonton Doraemon. Aku pinter bahasa Jepang!"

Mama : @$**&^%$@.... (melongo)


Karena masih kena efek teror TOEFL yang bombastis, saya pun lesehan sambil baca buku yang saya beli tempo hari, buku Jurus Kuliah ke Luar Negeri (#JKLN)

Konsep sederhananya kan, kalau bahasa Inggris anak-anakku bagus, mereka bakalan mudah kalau mau kuliah ke luar negeri.

Bakal gampang aja dapat beasiswa ke luar negeri.

Dan artinya itu juga menghemat pengeluaran (nah loh kan, ibu-ibu pikirannya duit belanja melulu sih!!!, hehehhe).

Setelah baca buku ini, wah asyik juga isinya ya. Ada tips persiapan kuliah ke luar negeri, ebook, video testimoni para pelajar. Saya buat review isinya di postingan berikutnya ya teman, biar khusus (pake makhraj 'kh').






1 comments:

  1. ahahaha abis lulus SMA langsung disuruh bubar, nyoh sana kuliah di negeri org, tp jgn lupa mbalik yo leeeee :D

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊