Game Bisa Jadi Alat Belajar Untuk Anak

Dianugerahi dua anak lelaki, adalah rasa syukur yang tiada terkira. Kebahagiaan terbesar adalah saya akan selalu menjadi orang yang paling cantik di rumah. Bener kan... :D

Anak lelaki itu cenderung suka main game. Baik itu game di Play Station (PS), Nitendo, atau game yang bisa dimainkan di komputer, tablet dan ponsel pintar (smartphone). Sebagai orang tua, saya cemas juga dengan kesukaan anak saya main game ini. Terutama jika di lingkungan terdekat ada tempat Rental PS ataupun Game Online

Memberikan larangan sama sekali untuk bermain game, sempat saya lakukan. Namun hasilnya anak saya jadi lebih sensitif dan mudah marah. Setelah dipancing-pancing, ternyata dia marah bukan semata karena tidak bisa main game. Dia marah karena merasa ketinggalan dengan teman-temannya. Ketika temannya bicara tentang game baru, dan dia tidak tahu, dia merasa minder dan enggan bergabung ngobrol dengan teman-temannya.

Anak & Keponakan Asyik Main Game
Begitulah dunia anak laki-laki, saya berusaha memahaminya. Bahwa ternyata bermain game dan gadget bisa menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya.

Dengan berbagai pertimbangan, saya dan suami, memutuskan untuk menyediakan perangkat main game anak di rumah, sehingga dia tidak perlu ke rental atau rumah temannya. Kami juga memperbolehkan anak bermain game dengan beberapa aturan main. Misalnya, anak tidak boleh bermain game yang mengandung kekerasan dengan visualisasi darah muncrat dari kepala atau sebilah pedang memenggal leher. Anak tidak boleh main game yang ada gambar dan gerakan yang memalukan (pornografi). Juga kami melarang game yang penuh dengan kata umpatan. Kami dan anak memutuskan bersama, jenis game apa yang boleh dimainkan. 

Setelah survey beberapa kali, kami memutuskan untuk tidak memberikan perangkat game PS. Kami alihkan pada gadget lain seperti komputer, laptop dan smartphone. Dengan alasan, bisa digunakan untuk mengerjakan tugas sekolah dan berkomunikasi. Juga nantinya akan  lebih mudah untuk mengendalikan jenis game yang aman dimainkan oleh anak, sekaligus tidak perlu membeli CD atau DVD game PS baru.

Sebagai langkah awal pengawasan, kami meletakkan komputer dan laptop di ruangan tengah, sehingga kami bisa mengawasi sambil melintas di belakang anak yang sedang bermain. Anak pun menggunakan smartphone-nya juga harus dalam jangkauan mata kami. Alokasi waktu bermain juga dibatasi, sesuai kesepakatan. Beberapa aturan kami ini lebih lengkapnya seperti yang dituliskan di  website Acer Indonesia yaitu  4 Tips Aman Anak Main Smartphone.

Aturan main yang kami terapkan butuh pengawasan yang berkelanjutan. Namun dengan aktivitas orang tua yang tidak hanya di samping anak, maka diperlukan smartphone yang bisa digunakan untuk melakukan sistim pengendalian orang tua serta memberikan lingkungan yang aman untuk anak dalam menggunakan smartphone. Alhamdulillah, ada informasi tentang smartphone Acer Liquid Z320.

Smartphone ini mempunyai fitur Kids Center yang sudah pre-install di dalamnya yang memenuhi kebutuhan saya.

Di fitur Kids Center ini, smartphone Liquid Acer Z320 dapat membatasi aplikasi yang digunakan oleh anak. Fitur Kids Center ini bahkan dilengkapi dengan parental control untuk memantau aktivitas internet anak. Hal ini bisa membantu proses pengawasan orang tua. Selain itu juga ada pengaturan keamanan dalam menggunakan smartphone, sehingga dapat mencegah anak mengakses dan mengunduh konten dewasa atau membeli aplikasi baru tanpa seijin orang tuanya.

Yang paling menarik dari fitur Kids Center adalah, bisa dijadikan media belajar yang asik dengan banyaknya edugame dan ribuan konten bermanfaat disana. Hal ini bisa membantu anak untuk belajar sekaligus mengasah kreatifitasnya.



Anak kedua saya, Aji, pasti senang dengan fitur ini. Karena banyak edugame yang disajikan. Walaupun sudah kelas 3 SD, anak ini suka dengan game lucu-lucu dan ringan. Terutama ketika bermain dengan Zaky, keponakan saya yang masih TK. Apalagi ada aplikasi gaming dan video yang dapat dinikmati anak-anak ketika mereka istirahat sebentar sepulang sekolah. Mereka pun bisa menikmati konten anak terbaru karena tersedia update content. Untuk anak-anak yang masih kecil, Acer Liquid Z320 ini sangat cocok, karena mereka akan terus ada dalam lingkungan yang aman karena tidak dapat keluar dari fitur Kids Center.



Berbeda kebutuhannya untuk Aldo, anak saya yang sudah SMP. Sejak setahun ini, kegemarannya bermain game kami arahkan untuk lebih produktif. Tidak hanya sebagai pemain game, tetapi juga memberikan review atau komentar tentang game. Dan Aldo menyukai hal itu. Dia merekam aksinya bermain game, memberikan komentar atau bahkan tutorialnya dan membaginya di Youtube.

Channel review game Maldoz Zulhaq 

Di channel itu dia belajar untuk merekam, membuat animasi intro, mengedit video dan berkomunikasi dengan para subscriber-nya melalui sosial media. Saya suka mengamatinya ketika sedang asyik merekam, lucu juga. Kadang seperti pak dosen yang memberikan kuliah, kadang seperti reporter sepak bola yang teriak-teriak tidak karuan.

Untuk menambah referensi, biasanya Aldo melihat video Youtuber lainnya melalui smartphone. Acer liquid Z320 ini adalah pilihan yang bagus. Karena resolusi layarnya sebesar 854x480 pixel sehingga nyaman dilihat sekaligus daya tahan baterainya cenderung lebih hemat. Apalagi untuk audio suaranya jernih dengan adanya teknologi DTS Sound.


 Bahkan jika sekaligus dibuka youtube dan google untuk browsing, tidak akan nge-lag atau nge-hang dan error restart ulang sendiri seperti ponsel lamanya. Itu karena Acer Liquid Z320 ini mengusung processor Qualcomm Snapdragon Quad Core 1.1 Ghz dan RAM 1 GB.

Performa Multitasking dan Internet Handal. credit


Begitulah lika-liku kami berhadapan dengan dunia game. Saya dan suami sempat hanya memandang negatif game itu untuk perkembangan anak. Mungkin karena kami berdua tidak begitu suka main game. Maka kami mencari dan mengamati beberapa pendidik yang malah suka main game. Bahkan di luar negeri, ada guru yang menerapkan game Minecraft untuk belajar muridnya di sekolah. Dari situ mulailah pandangan kami terhadap game mulai berubah.

Game bisa menjadi cara yang paling efektif dan efisien untuk memasukkan dan memperkenalkan aneka informasi kepada anak. Contohnya ada game tentang penyebaran virus. Anak-anak saya jadi berlatih nama virus dan nama daerah di dunia (belajar geografi).  Game juga dapat menjadi cara paling ampuh untuk membuat anak menyukai sesuatu, melatih koordinasi mata dan tangan, melatih jiwa perjuangan dan kesabaran. Hal ini juga mulai tampak pada anak pertama saya, Aldo, yang sangat tekun ketika akan mencoba belajar hal baru. Mungkin hal itu dilatih dari ketekunan dan kesabarannya untuk main game berulang-ulang sampai dia bisa tamat di level terakhir. Bahkan sekarang malah penasaran dengan dunia coding dan hacking, mulai belajar dari buku.

doc.pribadi

Bahkan informasi terkini adalah dari game bisa muncul beraneka profesi yang menghasilkan. Misalnya menjadi game designer, game reviewer atau seperti professional gamer perempuan yang sedang muncul di iklan televisi saat ini. Ya, keahlian game bisa menjadi mata pencaharian anak kelak. Yang perlu saya tanamkan dalam-dalam kepada anak saya adalah bahwa untuk menjadi orang yang bermanfaat. Jikalau benar akan menjadi pembuat game pun, buatlah game edukasi yang membuat anak-anak lainnya senang belajar hal baru.

Menjadi orang tua jaman sekarang memang rasanya rada ngos-ngosan mengejar ketinggalan atau mengikuti perkembangan jaman. Namun hal itu bisa diatasi dengan pemilihan perangkat pendukung yang tepat. Seperti halnya penggunaan smartphone Acer Liquid Z320, dengan fitur Kidz Center dan spesifikasi lainnya yang cocok digunakan untuk anak dan orang tua.
Credit: www.acerid.com


Dari pengalaman saya dalam melakukan pengawasan penggunaan smartphone anak-anak, akan sangat membantu orang tua jika dalam Parental Control, bisa ditanamkan juga fitur untuk :

1. Mengendalikan laporan dalam History Browser. Terkadang anak yang sudah remaja, tahu bahwa kami akan mengecek history browser-nya, untuk mengetahui dia sudah membuka situs apa saja hari itu. Namun dia sudah terlebih dahulu membersihkan semua history-nya. Sehingga kami kesulitan untuk melacaknya. Seandainya ada fitur yang bisa menonaktifkan fitur Clean History browser, maka itu akan bisa membantu.
2. Mengendalikan pemasangan password ponsel. Beberapa orang tua mengeluhkan susah mengawasi anak menggunakan ponsel karena dipasang password.

Itulah sedikit sharing parenting saya mengasuh dua anak lelaki saya yang tidak bisa lepas dari dunia game, gadget dan teknologi. Semoga kita semua diberikan kemudahan untuk memberikan pengasuhan terbaik bagi anak-anak kita. Semangat :D




15 comments:

  1. Acer Liquid Z320 selain pas untuk anak juga pas untuk orang dewasa juga lho. Btw kunjungan baliknya ya di http://amir-silangit.blogspot.co.id/2016/01/meningkatkan-prestasi-belajar-anak.html terimakasih :D

    BalasHapus
  2. Iya, sudah saya sampaikan dalam postingan juga. Salam kenal 😊

    BalasHapus
  3. Waah, dg aplikasi ini, jd ngva kuatir ya ngasi gadget ke anak. keren hp nya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  4. Waaah Mbak Heni, informatif sekali. Jadi pengen ikutan jugak lombanyaa. Moga menang yaaah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  5. Semoga sukses lombanya Mbak ...

    Salam saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  6. Semoga menang Mbak.
    Sukses selalu ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  7. setuju mbak, anak pertamaku yang cowok juga menjadikan main game bareng sebagai sarana dia berinteraksi (selain hal2 lain tentunya), jadi nggak bisa dilarang, paling dikasih batasan2 aja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊