Guru, Coba Sampaikan Penghargaan Atas Prestasi Muridmu Dengan Secarik Kartu

Send to your students a postcard, they will received your heart

Sebuah kartu pos yang diterima oleh keponakan saya, Jasmin, dari gurunya ini membuat saya senang sekaligus tak tenang. 

Kartu yang diterima keponakan saya, Jasmin, dari gurunya
Jasmin sekarang masih tinggal di Jerman bersama ibu dan ayahnya, kakak tertua saya. Jika mereka menceritakan kondisi sekolah dan proses pembelajaran disana, saya begitu iri dan rindu hal itu juga terjadi di sini, di Indonesia. Begitu sederhana namun bisa kena di hati.


                               Status facebook ayah Jasmin, kakak tertua saya


Saya ulangi lagi, sebuah kartu pos yang diterima oleh keponakan saya, Jasmin, dari gurunya ini membuat saya senang sekaligus tak tenang.

Senang, karena dua hal.
Pertama, senang karena teringat surat cinta serupa dari murid saya ketika saya pernah mencicipi masa sebagai guru. Sekitar tahun 2004.
Kedua, senang karena di jaman serba digital ini, 12 tahun kemudian, 2016, keponakan saya masih merasakan manisnya menerima tulisan dalam bentuk kartu Pos.

Surat dari murid saya bernama Dea.
"Hallo bu Heni. Ini aku Dea. Aku hanya mau mengucapkan
Selamat Hari Kasih Sayang.
Semoga bu Heni Tambah sayang pada kami semua."

Tak tenang karena satu hal.
Bahwa dengan beberapa pengalaman, penghargaan kepada murid "biasanya" masih diberikan dari HASIL bukan PROSES mereka belajar. Hanya dari angka akhir di rapor, bukan dari usahanya belajar berulang-ulang setiap hari. Dan kemajuan demi kemajuan yang mereka ciptakan.

Namun saya tidak pernah pesimis akan perubahan pendidikan dan pola pendidikan di negeri ini. Saya selalu optimis, ke depan akan ada kemajuan dan menjadi lebih membumi, lebih baik, lebih kena di hati.

Mengirim Kartu Pos Untuk Generasi Digital, Masuk Akal?
Tentu saja masuk akal.
Betapapun digitalnya kita, takkan mau hanya dipeluk oleh ibu berbentuk hologram kan?
Ya, kita masih butuh bentuk fisik.
Butuh sesuatu yang bisa disentuh, dirasakan oleh panca indera kita.

Bahkan sebagai pegiat digital, saya merindukan lagi menerima kiriman surat dan kartu dalam bentuk fisik. Sempat kemarin saya menerima surat dan kiriman majalah dari mbak Hanny Von Gillern, teman pena saya dari Amerika. Namun belakangan kami hanya berkomunikasi via email.

Kartu pos yang diberikan oleh guru Perancis keponakan saya itu, memberikan kesadaran baru. Bahwa cara ini bisa jadi efektif untuk mengungkapkan penghargaan kita atas USAHA murid kita dalam belajar.

Perlu dicatat ya, USAHA, bukan hasil.


Saya sendiri membayangkan. Seandainya di suatu sore yang sejuk, mendadak datang pak Pos mengantarkan Kartu Pos dari guru saya. Dengan nada yang sama seperti kartunya Jasmin, pasti sangat membanggakan.

Begitu juga dengan anak kita, murid kita.

Mungkin dengan menyempatkan diri mengatakan hal kecil yang kita banggakan atau kita hargai dari usaha murid kita itu, akan sangat berharga bagi mereka.

Kita bisa menulisnya di sebuah Kartu Pos dan mengirimkan ke alamat rumahnya. Jangan hanya kiriman teks digital. Karena surat fisik atau Kartu Pos, bisa mereka sentuh, mereka simpan dan mereka baca ulang.

Iya memang, mereka sekarang adalah generasi Millenial. Mencoba melakukannya baik juga kan?
Siapa tahu dengan cara ini, mereka semakin terpacu semangatnya belajar karena merasa dicintai, diterima dan dihargai oleh gurunya.

Jika murid senang, akan mudah dia belajar. Jika dia mudah belajar, akan berprestasi.  Jika murid bisa berprestasi, guru juga pasti senang.

Wahai Guru, silahkan mencoba, kirimkan Kartu Pos tanda cinta pada muridmu :)

-Semoga Menginspirasi-
      Heni Prasetyorini

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter:@HeniPR atau di Facebook

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊