Podcast Bu Heni

Tampilkan postingan dengan label Blogger spot. Tampilkan semua postingan

HI-SPEED With Me: Catatan Blogger Goes To Lamong

Tidak ada komentar
HI-SPEED. Dua kata yang menghiasi salah satu kantor di Terminal Teluk Lamong (TTL).  HI-SPEED melambangkan semangat yang energik, muda, inovatif dan yang pasti harus gerak cepat.



Menemukan konsep HI-SPEED ini sangat menarik perhatian saya yang selalu antusias mengulik dan mencari tahu bagaiman suatu perusahaan atau komunitas bisa dibangun dengan nilai-nilai tertentu. Beruntung sekali saya berkesempatan menjadi salah satu peserta BLOGGER GOES TO LAMONG dalam rangkaian acara HUT PT. Terminal Teluk Lamong yang keempat. Acara yang diselenggarakan selama 2 hari itu, 6 Desember 2017 - 7 Desember 2017 memberikan kesan yang sangat berharga untuk saya pribadi.

Terminal Teluk Lamong adalah terminal pelabuhan milik Indonesia yang bervisi menjadi Top 5 terminal operator di kawasan ASEAN yang berwawasan lingkungan pada tahun 2020. Terminal ini baru berusia 4 tahun, namun kinerjanya sudah mumpuni dan target visi sudah mulai tampak sangat baik. Jika anda masuk ke lokasi ini, anda akan menyaksikan sebuah terminal pelabuhan yang begitu bersih, rapi, asri sekali. Kecanggihan dan konsep modern akan langsung tampak sejak melihat rupa gedung dan crane yang dioperasikan. Pelayanan yang ramah juga saya temui di semua tempat, mulai dari petugas security, lobi sampai ke beberapa pihak terkait acara Blogger Goes To Lamong.

Keramahan dan kesigapan ini rupanya dirangkum dalam satu kata yaitu HI-SPEED. Menarik sekali. Sebagai orang yang beberapa kali terlibat dengan bagaimana cara membuat konsep belajar yang baik. Saya merasakan bahwa merumuskan sesuatu nilai atau prinsip dalam organisasi itu tidak mudah. Apalagi mencari satu dua kata atau kalimat tagline untuk mewujudkannya menjadi jargon yang menarik, mudah diingat sekaligus bisa menjadi wakil dari misi yang ingin diwujudkan.

Terminal Teluk Lamong, mempunyai misi yang salah satunya adalah menjadikan pegawai yang kompeten dan berkinerja tinggi melalui pengembangan dan kesejahteraan. Konsep HI-SPEED sangat cocok untuk tujuan tersebut.




HI-SPEED

HIGH COMMITTED

Komitemen untuk selalu responsif den bertanggung jawab menyelesaikan tugas hingga tuntas sesuai aturan yang berlaku secara cepat, tepat dan akurat.

SKILLFULLNESS

Upaya meningkatkan kompetensi dan keahlian secara terus menerus agar selalu dapat diandalkan

PROFESSIONALKemampuan untuk bekerja dan bersinergi sesuai dengan tanggungjawab serta kompetensi yang didasari integritas.

ENTHUASISMBekerja dengan penuh gairah dan proaktif serta mampu menunjukkan pengingkatan yang berkelanjutan.

EXCELLENCEMemberikan pelayanan terbaik untuk memenuhi Service Level Agreement/Service Level Guarantee (SLA/SLG)

DISCIPLINE
Perilaku yang bertanggung jawan berhadap tugas dan kewajibannya secara konsisten.


Untuk dapat mewujudkan misi tersebut, Teluk Lamong berusaha memberikan fasilitas dan program kerja yang mumpuni. Ruang kerja yang warna-warni, cozy dan bahkan instagramable karena banyaknya quote yang ditulis besar memenuhi salah satu dinding kantor, sebagai reminder dan penyemangat kerja. 





Belum lagi, adanya pojok untuk melepas penat sejenak atau mengembalikan sedikit keriangan berupa Tempat Menyanyi Karaoke. Seperti yang tampak di sisi kiri dari meja kerja di atas.



Adanya kebebasan bersikap yang diselaraskan dengan usia para pekerja yang umumnya dibawah 40 tahun, jadi masih pada muda belia dan energik. Bekerja seperti main, begitu kata mbak Magdalena, staf bagian HUMAS yang saya potret punggungnya ini. Gadis mungil yang lincah inilah yang menemani kami selama 2 hari. Dan benar-benar menunjukkan bahwa konsep HI-SPEED sudah mendarah daging di dalam dirinya.


Sebagai emak-emak, konsep HI-SPEED ini menarik sekali untuk dikonversikan dalam kegiatan sehari-hari dalam membesarkan kedua anak lelaki saya itu. Begitu juga untuk menjadi patokan model bekerja bersama geng Coding Mum Surabaya, yang umurnya kelak akan pasti jauh lebih muda daripada saya. Ya, ketika kita bicara meningkatkan potensi kerja, kita juga harus memperhatikan karakter orang tersebut. Jika para pekerja kita masih muda, terutama dalam usia generasi millenial, tentu budaya kerja yang diterapkan harus sesuai dengan karakter mereka.

"Saya harus 'shifting' cara memimpin saya ya, karena disini isinya anak-anak muda. Jadi ya harus sesuai. Main medsos. Santai rileks. Becanda dikit-dikit. Ya sesuai anak mudalah,"begitu kata ibu Dothy, Direktur Utama Terminal Teluk Lamong ketika melakukan sesi sharing bersama blogger waktu itu. 

Sebuah inspirasi yang sangat menarik dari Teluk Lamong. 
Semoga semakin sukses dan bisa menerbarkan energi positif ini ke lebih banyak orang, terutama generasi muda bangsa.

Dirgahayu Terminal Teluk Lamong yang ke-4.

Optimalisasi Potensi Wisata Surabaya Dibahas Seru di Sunday Sharing Surabaya #14

15 komentar
Orang Surabaya, berwisata di Surabaya? Kenapa Tidak?!!
Saya ini asli Surabaya, karena lahir dan tumbuh besar di kota ini. Tapi bicara tentang pariwisata di Surabaya, hampir tak pernah terbesit di benak dan imajinasi saya pribadi. Kota kelahiran jadi tempat wisata?

Bagaimana mengoptimalisasi potensi wisata Surabaya?

Bagaimana sebenarnya Surabaya Sekarang, Kini dan Nanti?
Tema ini jadi topik seru di acara Sunday Sharing Surabaya #14 yang diselenggarakan oleh komunitas blogger Blogdetik Surabaya  

Hari Minggu, 20 maret 2016 lalu, bertempat di kantor QWords.Com, Gedung Intiland Tower Jl. Panglima Sudirman Surabaya, acara Sunday Sharing Surabaya  kembali digelar. Sepertinya bakal jadi basecamp baru nih kantor Qwords. Seneng juga jika benar begitu, selain mudah diakses lokasinya, juga kalau ke sana bisa mampir ke perpustakaan Balai Pemuda Surabaya dulu.

Nyari buku :)



FORKOM Surabaya
mbak Esti dari FORKOM


Acara pertama diisi oleh mbak Esty dari Tim Kreatif Forum Komunikasi Pengelola Obyek Wisata Surabaya (FORKOM). Mbak Esti menceritakan pengalamannya yang "berdarah-darah" ketika bekerja di FORKOM, untuk mengedukasi masyarakat tentang betapa besar potensinya obyek wisata di Surabaya. Juga tentang betapa banyak kendala yang dihadapi, terutama mengubah mindset warga Surabaya tentang wisata kota.

Iya nih, saya jadi ingat. Sejak jaman SD, ketika ada acara perpisahan kelulusan, pasti acaranya berwisata ke luar kota. Kalau jaman saya ya ke Malang. Sampai saya mempunyai anak, ketika mereka berwisata kelulusan juga pasti keluar kota. Kalau tidak ke Malang, ya Mojokerto. Sedangkan keponakan yang sudah SMP ke atas, wisatanya bisa sampai ke Bali. Kenapa tidak ada opsi wisata ke Surabaya ya? padahal jika ditelisik banyak tempat yang bisa menarik dan nyaman untuk didatangi.

Mungkin karena masih adanya mindset bahwa piknik adalah pergi (jauh) dari rumah?
Bisa jadi. 

Mbak Esti menyampaikan gagasannya untuk bisa menarik wisatawan ke Surabaya. Baik itu wisatawan dari luar kota, luar negeri atau bahkan dari orang Surabaya itu sendiri. Beliau ingin membuat even hari Pahlawan sebagai daya tarik

Jadi, idenya mbak Esti itu begini. Ambil saja, di bulan November. Karena bertepatan dengan hari pahlawan, maka semua orang memakai baju pahlawan. Semua pihak baik itu kantor, shopping centre, tempat wisata, semuanya memakai baju tersebut. Dan dibuat satu acara sehingga menarik wisatawan. Semua perangkat disiapkan. Bis wisata lengkap dengan seragam pahlawan, rute wisata berkaitan dengan hari pahlawan dan lain sebagainya. Anggaplah seperti acara Surabaya Shopping Festival (SSF) yang dilakukan di bulan Mei  . Itu serentak semua tempat belanja, melakukan promosi besar-besaran mendukung festival belanja tersebut. Yang ternyata bisa menarik wisatawan dari luar kota untuk datang ke Surabaya dan belanja. Kenapa tidak, jika kita terapkan untuk konsep lain, misalnya Hari Pahlawan?

Eh, usul mbak Esty ini menarik juga ya. Ketika saya browsing, ternyata info SSF ini dipajang di website wisatadimalang.com. Orang Malang sendiri malah menarik wisatawan untuk datang ke Surabaya?. Nah loh. Dari sini bisa dilihat, besarnya potensi wisata di Surabaya jika digaungkan serentak dalam satu waktu. Semoga idenya bisa terealisasi ya mbak Esti. 

Pembicara kedua, adalah mas Ipung penulis buku Surabaya Punya Cerita. Berbeda dengan mbak Esti yang pembawaannya serius, mas Ipung ini ceria sekali. Dan cocok dengan judul bukunya, dia suka sekali bercerita. Bahasanya enteeeng saja mengalir. Seumpama nggak di stop gitu nggak bakal brenti, hehehe. Mas Ipung punya koleksi foto, video yang unik, menarik dan Surabaya banget. Jadi penasaran pengen baca bukunya. Selengkap apa ya isi ceritanya tentang Surabaya?

mas Dhahana Adi alias Ipung, penulis buku Surabaya Punya Cerita
Mbak Esti punya ide Serentak di hari Pahlawan. Mas Ipung lain lagi idenya. Dia ingin sekali menjadikan Kampung-Kampung di Surabaya ini menjadi destinasi wisata. Semakin jadul, unik, asli kampungnya, maka semakin layak di jadikan Kampung Wisata.


Wah, wah keren banget ya jika itu bisa terjadi.  Selain kampung, mas Ipung juga mengenalkan potensi wisata dari pabrik pembuat makanan ciri khas Surabaya. Misalnya pabrik kecap cap Jeruk, pabrik tahu dan beberapa tempat lainnya. Wah kecap cap Jeruk? itu kecap favorit saya dulu waktu kecil. Tapi sudah bertahun-tahun tidak saya temui lagi di pasaran. Kecap cap Jeruk ini biasanya dikemas di botol kaca. Cukup beresiko pecah. Apalagi kompetitor sekarang sudah ada kecap dikemas botol plastik aatau kemasan refill. Tapi tak disangka, di satu toko kecil, saya malah menemukan kecap ini. Langsung saja saya beli, buat nostalgia dan mengenalkan rasanya ke anak-anak saya.


makanan khas surabaya
kecap asli dari Surabaya

Beneran kok, di Sunday Sharing kali ini banyak gagasan kejutan yang nggak pernah sekalipun kepikiran di kepala saya. Dan jujur saja, saya tidak menyangka bahasan tentang wisata di kota kelahiran saya ini, bisa jadi begitu serius.


Ini tampak dari sesi diskusi dan sharing oleh teman-teman yang hadir. Termasuk mas Adi Cipta, seorang Game Developer dari Surabaya. Dia mengatakan sulitnya mengakses website khusus dan resmi yang berisi informasi destinasi wisata Surabaya yang akurat dan berbahasa Inggris. Untuk apa? hal ini diperlukan ketika ada orang asing dari negara lain yang ingin datang ke Surabaya. Mas Adi ini sering ikut traveling bahkan sampai ke luar negeri. Ketika dia menyampaikan asal dari Surabaya, orang luar negeri akan bertanya, "Oh Surabaya. Tempat apa saja yang bisa kami kunjungi? apa saja yang menarik? dimana kami bisa melihat informasinya? ada websitenya?". Dan ketika sudah ada pertanyaan ini, mas Adi kecewa, karena belum ada wesite resmi, lengkap dan terupdate. Yang ada masih blog personal orang, yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Itu pun belum lengkap dan hanya berdasar pengalaman penulis blog tersebut.


Mas Adi menyayangkan, terbuangnya peluang menarik wisatawan asing karena belum lengkapnya informasi dari kita sendiri. PR selanjutnya adalah membuat website khusus tentang destinasi wisata Surabaya atau apapun tentang Surabaya dalam bahasa Inggris. Sehingga bisa menjadi acuan oleh calon wisatawan asing yang ingin datang ke Surabaya.


mas Adi Cipta (biru), Game Developer mengenalkan Waroong Wars game
Mengenalkan potensi sesuatu entah itu kota, tempat, budaya dan negara  memang harus dilakukan dari segala lini. Mas Ipung dengan bukunya Surabaya Punya Cerita, yang menuliskan tentang heritage dan sejarah Surabaya, sekaligus kreatifitas Surabaya. Mbak Esti yang aktif di lembaga Forkomnya. Juga mas berblankon yang mengelola fanpage Kabar Surabaya. Termasuk yang dilakukan oleh mas Adi Cipta dan teman-temannya yang membuat game Waroong Wars. Game ini mengenalkan jenis makanan khas daerah Jawa Timur. Dari bentuk game animasi, akhirnya Waroong Wars dijadikan bentuk Board Game yang menarik. Kami diberi kesempatan untuk mencoba bermain bersama. Mirip permainan kartu monopoli, hanya strategi permainannya berbeda. Biarpun sebagian dah jadi ibu-ibu dan bapak-bapak, main game ini seru juga. Sampai teriak-teriak karena ingin mengumpulkan poin. Saya ikut juga mainnya :)



saya ikutan foto akhir ini, sambil menahan lemas, keringat dingin dan sakit perut :D
Tak terasa waktu pun berakhir. Mungkin karena keasyikan main Waroong Wars game, saya jadi telat makan siang, jadinya saya keder tidak karuan. Setelah berfoto bersama, saya berhenti dulu barang satu jam untuk mengumpulkan tenaga. Agar bisa naik sepeda motor lagi sekitar 20 km ke rumah. Untung saja, mas Ipung punya stok film lawas yang lucu-lucu. Setelah nobar dan ngikik bersama barang setengah jam, saya pun kuat lagi untuk pulang. Terapi tertawa itu manjur juga ya kayaknya?

Sepulang dari acara ini saya jadi keranjingan mencari tahu tentang Surabaya. Bahkan juga kepikiran, ide apa ya? bikin apa ya biar orang teringat lagi ciri khas kota Surabaya. Dan tentu saja, menggali ide bisa saja jadi aneh dan gila. Tapi tak mengapa kan?

Saya pun kepikiran untuk bikin bisnis Es Ganepo Surabaya. Es ganepo adalah sebutan es mambo oleh orang Surabaya. Sampai sekarang, es ini masih laris di pasaran.  Ide saya, nama varian es ganepo ini mengambil nama destinasi wisata Surabaya. Biarpun dimulai dari freezer kulkas saya yang imut-imut, ide ini oke juga kan untuk dikembangkan. 
Yang penting bisa Suroboyo banget rek!

varian es mambo



Nyucup Es Ganepo disek Rek!  #tagline :)


puding dan es
Es ganepo adalah bagian dari Tombo Amis Project (my newBiz)

Sekedar ngobrolin potensi pariwisata di Surabaya, ternyata bisa menumbuhkan bisnis baru yang ekonomis. Akan sangat dahsyat ledakannya ketika banyak pihak yang meramaikan target optimalisasi potensi wisata di Surabaya ini. Dan jangan sedih, sudah ada teman-teman blogger saya yang melakukannya. 

Mbak Yuniari Nukti and the gang, ternyata sudah mempunyai agenda untuk mengekplorasi kota Surabaya. Di instagramnya dia membagi hasil jepretannya pada tempat-tempat yang indah dan ngehits di Surabaya, yang bisa banget dijadikan destinasi wisata. Salah satunya videogram ini:
Jadi, AYO KE SURABAYA  !



Apa Yang Sebenarnya Terjadi Ketika Seorang Guru dari NTT Menghubungi Saya?

2 komentar
Sebuah permintaan pertemanan datang dari akun pribadi saya di Facebook.
Kosmas Baos, NTT. Nusa Tenggara Timur?

Namanya cukup asing. Sempat saya kira ini hanyalah spam. Namun saya menahan diri dan menyelidiki profil beliau. Saya lihat mutual friendnya adalah dosen saya, kajur saya di S2 TP Unesa. Oh, mungkin beliau adalah teman kuliah sekelas saya, Anggelina Morantri Bili asal NTT. Saya pun menerima permintaan pertemanan itu.

Sesaat kemudian, beliau pun menyapa di timeline saya lalu mengirimkan pesan di inbox saya.
Saya (sekali lagi) dikira dosen :)


Pertanyaan kiraan bahwa saya adalah Guru atau Dosen sudah lazim saya terima. Dan sekali lagi saya menjawabnya, bahwa saya bukan dalam profesi formal tersebut. Ternyata bapak Kosmas ini bertanya lagi, saya bekerja di kantor apa?. Waduh saya semakin suudzon, buruk sangka. Saya menjawab balik dengan pertanyaan.

Ternyata beliau butuh buku pelajaran :)
Alhamdulillah, ternyata sangkaan buruk saya tidak benar. Bapak Kosmas Baos ini menghubungi saya, karena membutuhkan buku pelajaran untuk anak didiknya di sekolah. Ya beliau adalah seorang guru di SMP Negeri 1 Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Saya cukup bingung juga menanggapi permintaan beliau. Karena saya tidak mempunyai akses formal. Bukan guru, bukan dosen, bukan anggota Diknas Kota. Namun saya yakin, teman-teman saya di Unesa dan juga para blogger yang aktif di dunia pendidikan dan sosial bisa memberikan informasi yang dibutuhkan. Dengan alasan ini, saya tawarkan kepada bapak Kosmas Baos untuk mengirimkan data lengkap diri dan sekolahnya, serta permasalahannya untuk saya tulis menjadi artikel. Dari situ saya akan menyebarkan informasi kesulitan yang beliau alami ke berbagai sosial media terkait. Semoga dari salah satu komunitas atau organisasi, bisa membantu. Inilah yang bisa saya lakukan sebagai blogger. Menjadi penyambung lidah. 

Lama sekali saya menunggu balasan dari beliau. Bahkan lebih dari dua minggu. Saya mulai berpikir, permintaannya hanyalah  main-main. Saya pun mengabaikannya. Ternyata tak berapa lama kemudian, ada pesan balasan. Beliau mengirimkan foto dirinya sendiri dan bersama murid-muridnya, serta foto sekolah.
SMPN 1 Lamba Leda (doc. Kosmas Baos)

Bapak Kosmas Baos dan muridnya (doc. Kosmas Baos)

Ah, mungkin pak Kosmas lambat menjawab dikarenakan keterbatasan listrik dan akses internet. Saya ingat cerita teman saya Anggelina tentang kehidupannya di NTT. Bahwa di desanya, listrik menyala hanya pada jam tertentu saja. Kalau tidak salah mulai pukul 12 siang sampai 9 malam, selepas itu listrik dipadamkan lagi. Untuk mengakses internet, Anggelina harus ke warnet yang hanya ada di kota, dan itu harus ditempuh 2 jam perjalanan. Ah, harusnya saya tak berburuk sangka.

Sesuai permintaan saya, beliau memberikan beberapa informasi kesulitan yang dialaminya. Serta yang terpenting, adalah nomer kontak  bapak Kosmas Baos ini untuk dihubungi langsung oleh pemberi pertolongan ataupun pihak terkait. jadi saya tidak menyediakan diri sebagai jembatan antar keduanya, saya hanya membagikan informasi. Saya lakukan ini karena itulah kapasitas saya sekarang ini. 



doc. pri
Jadi, Bapak Kosmas Baos adalah guru di SMP Negeri 1 Lamba Leda, Kab. Manggarai Timur, NTT, Indonesia. Beliau menyampaikan permasalahan di sekolahnya yaitu :
1. Gedungnya lantai kasar
2. Kekurangan buku pegangan guru, khususnya mata pelajaran IPS.
3. Kondisi sekolah kurang bagus
4. Membersihkan lingkungan sekolah masih menggunakan tenaga siswa

Ketika saya tanyakan apakah Diknas terkait sudah mengerti hal ini?
Beliau menjawab dari diknas hanya mendapatkan satu jenis buku pegangan guru. Jika ingin mengikuti olimpiade atau lomba, mereka tidak mempunyai buku lain sebagai literatur.

Saya ingat ada komunitas Hibah Buku yang digawangi oleh Blogger. Ataupun gerakan lain yang bergerak di bidang peningkatan mutu pendidikan dari sarana prasarana. Jika teman yang membaca artikel ini mengetahui informasinya atau ingin langsung membantu, silahkan kontak langsung kepada bapak Kosmas Baos, dinomor HP 082237378889 atau 082236944128 atau di akun facebook beliau Kosmas Baos.



Sebagai disclamer, saya hanyalah penyambung lidah, penyambung informasi dari kesulitan yang dialami seorang guru dari NTT ini, Bapak Kosmas Baos, kepada khalayak ramai. Dengan harapan akan ada informasi yang menghubungkan ke arah pemberi harapan dan pertolongan. Saya tidak dalam posisi sebagai penjembatan antara kedua belah pihak. Jika terjadi segala sesuatu yang tidak sesuai, maka itu diluar tanggung jawab saya. Hal ini sudah saya sampaikan juga kepada bapak Kosmas Baos, dan beliau memahaminya.

Jadi, jika teman punya buku lebih atau tahu komunitas yang bergerak di bidang ini, silahkan kontak ke nomer pribadi Bapak Kosmas Baos di atas. Terima kasih.



Generasi SIAP MAJU Bersama AKADEMI BERBAGI SURABAYA

4 komentar
Nuwun sewu mas, jalan ke UNAIR itu sebelah mana ya?"

1 Maret 2016.
Adalah hari bersejarah bagi saya dan kedua anak lelaki ganteng saya itu, Aldo dan Aji. Di hari itulah mereka baru mengetahui bahwa ibunya nggak hafal jalanan di Surabaya. Hahaha.... 

Kasihan kamu naakk...ya inilah ibumu. Walau dah lupa rute jalan dari Grahadi ke UNAIR, tetep aja nekad ngajak kalian berdua. Demi sebuah acara yang sangat ibumu harapkan, bisa membuka wawasan dan menambah inspirasi kalian. 

Saya mengetahui even ini dari twitternya komunitas Akademi Berbagi (@akbersby). Akber adalah komunitas berbagi ilmu, dengan narasumber praktisi,profesional, ahli kepada siapa saja dengan biaya nol rupiah. Alias gratis. Beberapa kali saya melewatkan even yang diadakan, karena terhalang waktu. Namun kali ini, saya niat nekad tekad bulat untuk bisa ikut dengan kedua anak saya.


Mengapa?
Acara apa itu?
Ya, ini adalah acara kolaborasi antara Akber Surabaya dengan pihak Lenovo yang mengadakan program Siap Maju Road Show & Inspirational Class, ke daerah-daerah di Indonesia. Dengan target sasaran para generasi muda bangsa. Generasi millenial Indonesia yang sudah akrab dengan dunia digital dari lahir. Bahkan dari mereka masih dalam bentuk zygot mungkin ya.

Itulah kenapa, even kali ini diadakan di kampus Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, kampus B, Fakultas Ekonomi Bisnis. Lenovo, sebagai vendor ternama penyedia perangkat digital berteknologi canggih, berusaha mengetahui kebutuhan para user-nya, sekaligus memenuhi kebutuhan tersebut semaksimal mungkin.

Siapa saja user yang disasar?
Ya para anak muda era digital yang mulai aktif baik secara akademis, sosial serta bisnis. Salah satu topik yang diangkat adalah bisnis startup.


Topik startup sangat menarik perhatian saya, sejak mengenal konsep virtual distance learning, pembelajaran jarak jauh menggunakan teknologi digital. Cepat atau lambat, insyaAlloh saya ingin sekali membangun sebuah startup pendidikan yang dapat memudahkan guru dan murid untuk belajar di semua tingkatan jenjang pendidikan. Amin.

Startup juga mulai dikenal oleh anak sulung saya, Aldo. Kemarin dia membaca buku tentang startup, dan jadi makin tertarik. Buku yang saya pinjam dari perpustakàan Balai Pemuda Surabaya. Aldo juga sangat tertarik pada dunia animasi, ilustrasi digital, game dan semacamnya. Karena tahu bahwa salah satu inspirator adalah Chiki Fawzi, anaknya Ikang Fawzi, yang adalah animator. Maka saya bela-belain bersepeda motor bertiga, menempuh puluhan kilometer menuju even ini. Emak samsooon bener ya 😀.

Cerita tentang Chiki, akan saya ulas di satu blogpost khusus. Because I adore her so much. Love you dek...

Oke lanjut. Inspirator kedua adalah founder dari gantibaju.com. Anak muda yang mirip artis Vidi Aldiano ini, alumni Universitas Indonesia. Setelah mencoba 12 kali bisnis dan gagal, akhirnya startup gantibajudotcom ini sukses. Beberapa award diraihnya. Cara bicaranya so cool, asik, cuek namun berbobot. Anak saya sedikit banyak mengenal konsep bisnis darinya.


"Cepet action biar cepet gagal!"
Keren kan tips bisnisnya?! Asik juga mengikuti semangat anak muda untuk selalu berani dan siap maju ke depan. Setelah pihak Lenovo dan inspirator, tiba saatnya penanggung jawab Akber Surabaya berbicara. Beliau memberitahukan bahwa konsep Akber harus gratis. "Semua orang boleh belajar. Kapan saja. Dimana saja. Tidak boleh ada batasan."




Beliau mengatakan pentingnya menanamkan jiwa volunteerisme ke dalam anak-anak muda. Agar mereka terbiasa berbuat maksimal dan sesempurna mungkin, walaupun pekerjaan itu tidak dibayar. Karena hal itu akan berdampak sangat baik pada mereka. Dan menjadi bekal mental positif yang sangat membantu untuk sukses ke depannya.
Amazing ya. Semoga saya dan anak-anak suatu saat bisa berkontribusi langsung dalam even Akber Surabaya.
Baiklah, itulah reportase singkat dari even yang dihadiri oleh satu-satunya peserta pasangan ibu dan anak di antara mahasiswa UNAIR yang masih unyu. Untuk artikel tentang isi materi dari inspirator, tunggu blogpost selanjutnya

Salam berbagi.
-HPR-

VISUAL IDENTITY Dalam Kemasan Sunday Sharing #13 Surabaya

2 komentar
Bisnis saya tidak akan sesukses ini, jika kemarin-kemarin saya tidak melakukan visual branding. (Angger, founder DUS DUK DUK)

Visual Branding?
Visual Identity ?
panganan opo maneh iki reeekk....??? :)

Membangun personal branding adalah hal yang mutlak dilakukan bagi siapa saja yang ingin mengenalkan atau mempromosikan hal baru. Entah itu bisnis baru, blog baru atau bahkan profesi baru. Personal branding yang kuat, akan menjadi patokan dasar seperti apa sebuah nama itu dikenal. Membangun sebuah personal branding bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bisa dalam bentuk konten tulisan yang mempunyai ciri khas. Contoh kecilnya, bila kita menyebut kata #kurangpiknik , nama siapa yang teringat?. Warga instagram pasti langsung menjawab, "Kang Emil" (walikota Bandung, Ridwan Kamil). Atau jika kita ingin membeli air mineral, merk (brand) apa yang kita sebut secara spontan? Tentu saja "Aqua". Sama seperti ketika kita ingat "Supermi" sebagai brand yang kuat dulu, sebelum gencarnya personal branding dari "Indomie" dan "Mie Sedap".

Kekuatan brand kelas kakap itu jika ditelisik berasal dari segala penjuru iklan yang tayang baik di media cetak, visual ataupun audio. Jingle khas di radio, iklan di televisi yang menarik, logo yang unik. Tampilan secara visual (logo, video iklan) ini bisa dikemas dalam istilah identitas visual atau visual identity.

Kenapa komunitas Blogger yang berkumpul dalam Sunday Sharing Surabaya #13 Detikdotcom kali ini, merasa perlu membahas tentang Visual Identity ?

Sebagai pegiat online, di dunia maya, pertarungan antar blogger begitu sengitnya. Kita harus mempunyai ciri khas atau sesuatu yang bisa diingat dan unik. Karena blog adalah produk digital yang dinikmati oleh mata (dilihat, dibaca), maka konten blog harus bisa menarik secara visual. Semakin menarik, orang akan semakin senang datang kembali ke blog kita. Ini bisa jadi salah satu cara meningkatkan kunjungan pembaca blog.

Pentingnya Visual Identity dan Visual Brandinginilah yang disampaikan oleh dua narasumber praktisi profesional. Dalam acara yang diselenggarakan secara rutin oleh komunitas blogger dan Detikdotcom. Bertempat di kantor Qwords.com di Intiland Tower, Jl. Panglima Sudirman Surabaya, dua lelaki dengan identitas visual yang kuat ini berbagi ilmu.

Ki-Ka : Cak Waw , Saya, Angger

Narsum pertama adalah CAK Waw, anggota tim penulis dari komik TRIO HANTU CS, Identitas visual cak Waw ini sekilas sudah tertancap kuat. Yaitu mirip dengan budayawan, Sujiwo Tejo. Sorot matanya, gesturnya hampir serupa. Hanya saja Cak Waw tidak melotot-lotot ketika berbicara. Dan intonasi bicaranya kalem saja, tidak meledak-ledak seperti Sujiwo Tejo. Hampir saja muncul pertanyaan, "masih sodaraan sama Sujiwo Tejo nggak mas?".


Sebagai komikus, Cak Waw memberikan materi tentang dua Media Visual yaitu Film Animasi dan Komik Strip. Kedua media ini sekarang sudah bisa ditampilkan secara digital. Keduanya bisa digunakan sebagai suplemen untuk postingan blog supaya lebih menarik. Atau dijadikan media yang bisa dibagikan di sosial media, dan menimbulkan efek viral. Seperti halnya minivideo 3 detik yang banyak dibagi di instagram dan media lain, maka durasi animasi atau film sekarang harus lebih singkat. Bisa sekitar 3 detik, bahkan hanya 1 detik. Sekejap.

komik trio hantu cs

Beberapa contoh film animasi pendek dan komik strip diberikan oleh Cak Waw. Kami terkagum-kagum dan tertawa-tawa karena kebanyakan isinya lucu. Terutama untuk komik strip Trio Hantu Cs, yang isinya hantu banget.
visual identity

Nah itulah basic teori- nya. Menurut Cak Waw, karena durasi singkat dan biar bisa viral maka konten visual harus fokus dan tajam mengarah pada segmen yang akan dibidik. Untuk mendapatkan itu semua, perlu diadakan riset untuk bisa menjawab 5W + 1 H , dari konten yang akan dibuat.

Seperti halnya komik Trio hantu Cs. Komik ini khusus membahas tentang hantu. Dan harus lucu. Walaupun pemilihan segmen hantu ini diambil secara tidak sengaja, alias karena kepepet kudu dapat projek. Tapi, karena digarap dengan sungguh-sungguh, komiknya sukses juga. Bahkan beberapa cerita nampak begitu nyata. Sampai cak Waw ini menerima pertanyaan, "mas, kalau mau nulis komik itu melakukan ritual khusus manggil hantu gitu ya kayaknya? kok bisa persis kayak kenyataan sih?".


mirip Sujiwo Tejo, kan? :)

Selanjutnya ada narsum pengganti yaitu Angger, mahasiswa Desain Produk ITS. Walaupun sudah jadi mahasiswa selama 5 tahun, pria berambut klimis ini tidak mau disebut mahasiwa yang kuliahnya tidak lulus tepat waktu.  Melainkan mahasiswa yang  (sengaja) mencari waktu yang tepat untuk lulus. Angger menampilkan foto awalnya dalam 4 kolom, yang disengaja sebagai Visual Identity. "saya satu-satunya laki-laki yang fotonya dalam 4 kolom di Instagram. Dan ini sengaja saya lakukan."
foto alay-nya = strategi visual branding Angger
Tidak cuma foto 4 kolom saja yang menarik secara visual. Ada 2 pengamatan lanjutan, yaitu pada poni klimis rambutnya serta kaos kaki unyu yang dipakai Angger. Jarang-jarang ada cowok pake kaos kaki mirip kaos kaki yang biasanya dijadikan suvenir ibu-ibu yang pulang dari umroh atau haji. Amazing melihatnya. Atau itu gaya pria kekinian? #entahlah :)

dus duk duk
capture the black shocks :D

Angger... saya tidak sedang mem-bully yaa... hanya keheranan yang tak sempat terucapkan padamu. 
Dengan gayanya yang kalem, ternyata Angger ini asik juga dalam presentasi. Diawali dengan tampilan video sebuah destinasi wisata bawah laut baru di Madura, yang menjadi projek nekadnya. Sampai cerita awal mula bisnisnya jadi tukang kerdus di DUS DUK DUK. Smooth talk dan full humor cerdas. 

Dari tugas mendesain produk, Angger mengembangkan aneka produk kreatif dan siap guna dari bahan kerdus bekas. Kerdus-kerdus itu digabung menjadi kursi, meja, jam dinding, dan banyak benda lain yang bisa dimanfaatkan dan dijual mahal. 

Produk olahan dari kerdus, belum banyak diketahui orang. Untuk itu, Angger dan timnya melakukan visual branding yang dirancanakan dengan baik. Mulai dari pemilihan logo, bentuk foto produk bagus dan pemanfaatan tokoh terkenal di acara pameran untuk memberikan testimoni bahwa kursi kerdusnya kuat untuk diduduki atau produknya bagus. Cerdik sekali caranya. 





mas Gilang dari Detikdotcom
Acara kemudian diakhiri oleh mas Gilang dari Detikdotcom, untuk memilih ketua kelas baru yang bertanggung jawab pada acara Sunday Sharing berikutnya. Dan terpilihlah, Wira sebagai narasumber tentang traveling. Sebelum acara makan siang, diadakan pemilihan 2 penanya terbaik. Alhamdulillah saya terpilih. Dan mendapatkan voucher hosting gratis 100 ribu dari Qwords.com. Lumayan, alhamdulillah.


dapat voucher gratis :)

Begitulah, inilah acara Sunday Sharing Surabaya pertama yang saya ikuti. Dan sangat antusias untuk ikut lagi di acara-acara berikutnya.

sunday sharing surabaya
Blogger bahagiaaa

Salam Blogger Bahagia
- HPR -





Kopdaran Blogger Dan Majulah Internet Indonesia

2 komentar
Life Without Friendship is like the Sky Without The Sun

Yeah, kumpul dengan sesama Blogger is a must do thing. Hal yang hampir bersifat wajib untuk dilakukan. Atau yang lebih tepat, hukumnya Sunnah :). Sebagai penggiat online, blogger biasanya bekerja sendirian di balik layar. Mengelola blognya sendiri, mengatur traffic sedemikian rupa dan berinteraksi hanya lewat sosial media. Walaupun cara ini efektif juga, tetapi masih belum mencukupi kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial. Yaitu bertemu, berkenalan, berjabat tangan, ngobrol dan makan bersama di suatu tempat. Untuk itu, blogger berkumpul membentuk komunitas yang semakin marak muncul di negeri ini. Baik komunitas berdasar daerah tempat tinggal, kampung halaman, profesi dan gender. 

Saya sendiri bergabung dalam beberapa komunitas blogger, yaitu Kumpulan Emak2 Blogger (KEB), Fun Blogging, Blogger Perempuan. Di ketiga komunitas itu, anggotanya mayoritas perempuan dan pernah saya ikuti acara offline (kopdar)nya. Akan tetapi secara online, ada komunitas blogger lagi yang saya ikuti dengan bergabung pada akun sosial media mereka. Seperti komunitas Warung Blogger, Blogger Muslimah, Kompasiana dan Blog Detik. Dari komunitas inilah saya mendapatkan teman baru, pengetahuan baru sekaligus terus me-tune up semangat saya untuk memperbaiki blog saya dalam segi ilmu blogging, SEO, socio buzz, dll. Terutama meng-upgrade postingan blog mengisinya dengan tulisan yang lebih baik lagi, lagi dan lagi. 

Sebelumnya, kegiatan yang saya ikuti hanyalah seputar Workshop Blogging atau Penulisan. Di luar itu, saya masih belum merasakan apa manfaatnya. Apakah sebanding dengan "pengorbanan" saya meninggalkan anak-anak di rumah atau tidak. Namun, dengan berjalannya waktu, saya merasakan kebutuhan untuk bertemu langsung dengan sesama blogger. Alhamdulillah, hal ini tersambut  baik dengan adanya tawaran mbak Dilla UF untuk ikut acara yang diadakan oleh Telkom Indonesia. 

Acaranya di Matchbox Too Cafe Jl. Jawa Surabaya
(Free Lunch & Goodie Bag, yeeeayy)

Bak gayung bersambut, langsung saja saya mendaftarkan diri. Apalagi acaranya di hari Sabtu. Yah, untuk saat ini, Sabtu dan Minggu masih jadi dua hari aman buat saya keluar rumah, hari efektif masih fully stay at home. Jujur, to be honest, inilah adalah acara non-workshop pertama yang saya ikuti. Hati ini masih ragu, berguna nggak ya acara ini? kalau cuma hahahihi aja...saya nggak enak sama suami yang bela-belain nganterin belasan kilometer dari rumah, di hari libur kerjanya. 

Alhamdulillah, keraguan saya tidak terbukti. Di acara Ngobrol Asik Blogger Bersama Indi Home ini, saya mendapatkan banyak hal yang berguna. Dari obrolan ringan di meja, saya mengenal nama-nama blogger terkenal.
 "Jangan bikin status nyinyir loh di sosmed, entar di stalking sama agensi loh. Bahaya."
Dan kalimat-kalimat spontan semacam itu, yang diam-diam saya catat di binder note bergambar jerapah, kesayangan saya :). Tapi ya begitulah, namanya blogger. Biarpun ngobrol ya sambil megang gadget masing-masing. Saling membuka twitter, blog dan mem-follow. Bahkan bikin live tweet juga, menulis status di twitter dengan cepat, seperti melakuan reportase berita di tempat kejadian perkara. Blogger itu bisa aktif sekaligus, jarinya mencet gadget, telinga mendengar, mata bergerak cepat. Keren :)

Pada bikin live tweet acara

Sampai tibalah acara utamanya yang dipandu oleh MC bernama Nasy (his name sound like that). Dengan bu Ivone sebagai Humas dari Telkom yang menjadi narasumber. 
mas Nasy sebagai MC dan bu Ivone dari Telkom
Bu Ivone mensosialisasikan bahwa Telkom Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kualitas internet dan memeratakan pemasangannya di seluruh Indonesia, sampai ke pelosok daerah sekalipun. Adapun produk yang diusung adalah Indi Home yang akan menggantikan keberadaan telkom Speedy dalam memberikan akses internet. 

Indi Home dengan Triple Play akan lebih lengkap lagi melayani kebutuhan masyarakat Indonesia sehingga siap terlibat di era digital. Yaitu mencakup layanan Fix Telepon, Internet dan Home entertainment. Jadi jika kita memasang Indi Home, akan mendapatkan layanan telepon rumah, akses internet dan TV kabel. Pertemuan diisi juga dengan sesi tanya jawab plus curhat dari para pengguna produk internet bawaan Telkom. Bu Ivone dan dua bapak-bapak lain dari Telkom, mencoba menjawabnya dengan baik. 
Pelan-pelan, kami akan mengganti semua jaringan internet kawat tembaga dengan fiber optik. Sehingga lebih lancar lagi aksesnya. ini akan masuk dalam produk Indi Home Fiber
Saya sempat mengatakan kepada bu Ivone, bahwa saya masih setia menggunakan telkom Speedy. Dan belum ada masalah sama sekali, serta kami juga belum berencana untuk beralih ke Indi Home. Akan tetapi bu Ivone mengatakan, "Speedy akan dibunuh". Waduh, langsung aja kepikiran sama isi ATM eh dompet. Saya pun menatap bu Ivone dengan jantung berdebar, menunggu kalimat selanjutnya. "Semua akan di upgrade menjadi Indi Home. Merata ke seluruh pelosok daerah. Ndesoo sekalipun akan bisa internetan sekarang. Dan itu, hanya Telkom saja yang mau melakukannya."

Kalau itu termasuk program negara (Telkom kan milik negara), ya saya pikir tidak ada alasan untuk tidak mengikutinya. Semoga program ini lancar ya bu. Mungkin sampai tahun 2021 semua bisa selesai terpasang jaringan fiber optik, sehingga Indi Home bisa ada dimana-mana. 

Subhanallah, tak menyangka. Sekitar tahun 2014, ketika kuliah pertama tentang TIK (Teknologi Informasi dan Komputer) yang diadakan di kelas Pascasarjana Magister Teknologi Pendidikan di UNESA. Saya sempat bertanya di sebuah sesi presentasi teman. 
"Kita membuat rencana pembelajaran online begitu baiknya. Apa nggak muluk-muluk? Ini Indonesia loh, akses internetnya lemot jaya. Apakah bisa suatu hari, di negeri kita ini ada akses internet merata di segala penjuru nusantara. Di NTT misalnya, listrik saja dijadwal nyalanya." . Tetapi waktu itu, ada teman saya yang menjawab, 'Bisa Bu!!!"
Saat itu saya pesimis mendengar jawaban teman saya. Karena waktu itu saya masih berkutat dengan paket data internet yang dipasang di modem. Dengan akses internet super lemot, bahkan tak pernah berhasil membuka Edmodo, platform e-learning yang ringan dan ingin saya kembangkan sebagai tugas akhir untuk tesis. Namun setelah saya berkenalan dengan Telkom Speedy, dengan biaya sebanding dengan paket data bulanan dari modem saya sebelumnya, saya jadi optimis. Akses internet yang kuat dan merata akan bisa terpasang di negeri kita ini, minimal tahun 2021, hanya 5 tahun lagi. Melalui program Indi Home dan komitmen dari Telkom Indonesia. Majulah Indonesia, Aku Percaya padamu !

Kopdar Blogger memang sangat berharga. Saya tunggu acara berikutnya. Sampai jumpa lagi ya.....

-HPR-

Habis Wisuda Terbitlah Fun Blogging

28 komentar
"Bu Hen, udah lulus mau ngapain?"
Rafi, teman dari Palu di kelas Pasca beberapa kali mempertanyakan hal itu. Saya ingin menjawab dengan cepat, tapi apa ya jawaban yang tepat.

"Jadi ibu rumah tangga lagi?", dia lanjut bertanya dengan aksen Palu yang kental.
Entah kenapa, itu teman sekelas lainnya sontak menoleh ke belakang dan menatap saya. Seolah-olah mereka juga penasaran dengan jawabannya.

"Iya kali, Rafi,"
Sudah, gitu aja menjawabnya. Tentu sambil nyengir-nyengir nggak ikhlas gitulah. Toh, mau jawab apa lagi. 

Sejak awal kuliah umum pertama di Gedung K10 Pascasarjana UNESA, tiap saya kenalan dengan menyebut profesi sebagai Ibu Rumah Tangga saja selalu mendapat respon yang gimana gitu. Antara percaya nggak percayalah. Ah, yaaa begitu itulah.
Ada yang senasib dengan saya? Anyone??? *nyodorin mik

Saat Rafi bertanya sekitar setahun yang lalu itu, saya tak terlalu ambil pusing. Mau lulus entar kerja dimana juga, siapa yang tahu. Suami saya selalu bilang "Ingat loh ya, kuliah itu nyari ilmu bukan nyari kerja". Dan nasihat itu saya pegang kuat-kuat, terutama sebagai pijakan jika ada komentar yang kira-kira bisa bikin semangat saya "down", trus males. Males berangkat kuliah, males ngerjain tugas, males kliyengan nyari dosen buat bimbingan tesis, dan males males yang lainnya.

Akan tetapi, menjelang wisuda saya makin kepikiran. Ketika saya, alhamdulillah atas ijin Alloh SWT, berhasil lulus sidang tesis dan test TOEFL yang mendera jiwa raga, saya mulai gelisah. Saya mulai menyesali kata-kata saya setahun yang lalu itu. Saya mulai cemas bakal kembali nggak punya "profesi". Padahal saya sudah beberapa kali menemui pihak lembaga pendidikan untuk bisa bergabung disana, baik sebagai pengajar atau trainer pendidikan. Namun kabar beritanya belum datang juga sampai saya wisuda.

Dalam kegalauan itu, saya berusaha menyusun rencana lain. Dua belas tahun menjadi ibu rumah tangga,  membuat saya harus berpikir smart dan kreatif. Profesi apa saja yang bisa saya lakukan, saya tekuni dan kira-kira dalam 5 atau 10 tahun lagi, saya bisa jadi "pakar" di bidang itu. Profesi yang menerima latar belakang saya sebagai ibu rumah tangga. 

Saya mengulik lagi sejarah diri sejak memutuskan jadi full time mom. Sampai ingat video Sayang Banget, tugas kuliah Digital Story Telling Pribadi. Hahaha, jadi ketawa sendiri lihat videonya (maap ya, blom bisa masukkin lagu ke video). 

Berat loh sodara-sodara dicibir orang melulu tuh. Beneran, sumpah. Makanya, jika katanya anak-anak korban "bullying" bisa mencelakai dirinya sendiri, itu pasti bener. Karena diolok, dianggap gagal dan sia-sia tuh, sakitnya sampai ke sel DNA !!!

Untunglah video ini sempat di upload di You Tube, jadi file tidak ilang. Udah lihat videonya? *ngarep hehehe. Dari video itu ada cerita saya ngeblog. Nah, muncul deh gagasan cemerlang nan gemilang, saya bisa jadi BLOGGER PROFESIONAL  nih kayaknya.

Sebenarnya saya udah ngeblog cukup lama sih. Sempat ikut suatu komunitas juga. Namun sejak nekad kuliah lagi tuh blog bener-bener saya biarkan jalan di tempat. Saya pun dengan aneka ria kepenatan di kepala, hanya menjadi Silent Reader dan mengamati komunitas blogger itu tanpa punya tendensi apa-apa. Namun setelah saya yakin kalau menjadi blogger bisa dijadikan profesi, kegalauan kedua muncul. Kudu belajar dimana ya?

Itu yang namanya browsing How to be Success Blogger, udah dijabanin tiap hari. Tapi tetep aja nggak ngeh kudu gimana gitu. Pasti lebih enak kalo bisa ketemu langsung dengan blogger yang sukses ini.  Tapi gimana caranya ya? Mau tanya ke siapa? ada nggak acara semacam itu di Surabaya ya? Karena jika luar kota, mustahil saya bisa ikutan untuk saat ini. Belum bisa ninggalin anak-anak yang jadwal sekolahnya ketat. 

Untunglah, alhamdulillah, dengan arahan Sang Maha Tahu, saya pun ketemu iklan Fun Blogging 7 Surabaya ini di twitter.

"Mengubah Hobi Menjadi Profesi".

Wah tagline acara Fun Blogging 7 ini, cucook markocok dengan niat saya mencari profesi baru. Saya pun mendaftar secara online via email. Kurang lebih setengah bulan kemudian, tepatnya hari Sabtu 7 November 2015, acara dilaksanakan di Gedung Intiland Tower Jl. Panglima Sudirman Surabaya pukul 9.00 - 16.00 WIB.

Eh, saya mau share cerita dikit dulu ya tentang drama perjalanan menuju ke lokasi acara. Bener deh pengen crita, karena ibu rumah tangga mau pergi sendiri itu, ada aja tantangannya. Termasuk seperti yang saya alami. Oke lanjut: 

Critanya saya bakalan berangkat naik sepeda motor sendirian, tidak diantar suami seperti biasanya. Sejak pukul 7 pagi saya sudah berangkat, dan memacu sepeda motor matic dengan rasa campur aduk. Ya seneng, ya cemas. Bukannya cemas karena meninggalkan anak-anak dan suami di rumah. Karena mereka sudah saya siapkan makanan untuk sarapan dan makan siang. Melainkan cemas bakal kesasar menuju ke lokasi. Maklum saja, saya ke rute tersebut terakhir kalinya ketika anak sulung saya masih umur 3 tahun, dan sekarang dia umur 13 tahun. Wow, sudah 10 tahun. Selebihnya saya beberapa kali melewati rute tersebut dengan diantarkan oleh suami atau saudara.

Semalam sebelumnya saya berusaha meminta suami untuk menuliskan peta yang jelas untuk saya. Yang arah mata anginnya hanya dua, yaitu belok kanan dan belok kiri :). Begitulah dengan bekal nekad dan perut sedikit mules sejak subuh, saya berangkat (note: kalau stress berat perut saya mendadak mules, heheh). Di tengah perjalanan, benar juga, saya sempat tersesat sedikit. Berbelok ke jalur pintas yang malah mengarahkan saya untuk kembali pulang. Untung saja saya cepat sadar, dan langsung berbalik arah. 

Karena hanya fokus di jalan depan, saya tidak melihat spion dan memasang lampu riting. Ups, nyaris saja saya disundul pemotor di belakang yang dengan geram memencet klakson lalu menghindari saya. Makasih ya mas, beneran deh, maaf ya. Saya melipir ke kanan dan pelan-pelan menuju jalan asal sambil berdoa tidak ada pak polisi, karena saya melawan arus lalu lintas. Singkat cerita, saya berhasil masuk jalan pintas kedua yang benar rutenya. Selanjutnya seperti mengalir saja sampai ke tempat tujuan. Intiland Tower jl Panglima Sudirman Surabaya.

Acara yang disponsori oleh Smartfren, Qwords.com dan mobil123 itu diadakan di lantai dua. Ketika mulai masuk ke gedung, di teras saya lihat mbak Ria Rohma, blogger dari Gresik. Sepertinya beliau juga baru datang. Saya berhenti sebentar.

"Mbak Ria ya? Ria Rohma?"tanya saya sambil membuka slayer penutup hidung.
"Iya mbak. Mbak Heni kan? ayo sana parkir dulu saja," jawab mbak Ria kemudian. Dan saya turuti.

Keluar dari tempat parkir, sudut mata saya menangkap sesosok perempuan tinggi berjalan ke arah gedung yang sama. Narasumber nih? pikir saya. Pasti ada tiga orang. Perlahan saya berjalan sambil melirik sesekali. Dan benarlah ada tiga orang perempuan berjilbab, berjalan ke Intiland Tower. Mereka masing-masing membawa tas travel dan tas ransel besar. Mau menyapa duluan, kok sungkan. Saya memutuskan berjalan di depan mereka. Tepat di pintu masuk, saya sudah nggak tahan. Langsung saja saya membalik badan dan berkata dengan sok kenal sok akrabnya gitu, "nah ini pasti guru-guru saya ya?".
Saya pun disambut dengan ramah. "iya", jawab mbak Haya, mbak Shintaries dan mbak Ani , secara bergantian.

Kami pun bersalaman sambil menyebutkan nama. Saya lihat titik-titik keringat menghiasi wajah mereka. Maklum Surabaya hawanya panas gini. Dengan satu kali naik elevator, kami sampai di tempat acara. Tak seberapa lama kemudian, banyak peserta blogger yang datang termasuk mbak Ria Rohma yang tadi menghilang setelah saya sapa. 

Acara belum dimulai, tapi saya dah seneng sekali. Pertama saya senang telah berhasil sampai di lokasi dengan selamat. Tidak tersesat parah, tidak ditilang polisi, sepeda motor pun aman.
Kedua, bisa bertemu teman blogger Surabaya dan sekitarnya. Mayoritas perempuan dan ibu-ibu, Waktu itu hanya ada satu orang yang ganteng, yaitu pakde Cholik dari Jombang.

Blogger ibu-ibu ada yang membawa serta anaknya yang masih bayi dan balita. Salut berat deh melihat perjuangan mereka. Namanya membawa anak-anak, pasti ada saja ulahnya. Entah harus menyusui, membujuk, menggendong, show must go on :)                                                                           
Peserta blogger ini tidak hanya dari Surabaya. Mereka pun ada yang berasal dari Jombang, Jember, Bondowoso, Kediri, Mojokerto, Gresik, Sidoarjo. Tidak semuanya bisa ke Surabaya semalam sebelumnya agar bisa menginap dan beristirahat. Beberapa orang harus berangkat dari subuh dan baru sampai Surabaya jam 11 siang (blogger dari Bondowoso). Ada yang naik mobil, ada yang naik bus, bahkan para narasumber naik kereta dari Jakarta. Malah mbak Nurul Noe sekeluarga, blogger Jakarta juga bela-belain ke Surabaya loh. Huebat tenan. Perjuwangaannn...!!!

Walau begitu, para peserta mendengar dengan khusyu'. Semuanya konsentrasi dan fokus mendengarkan satu demi satu "sharing ilmu" dari para narasumber cantik. Yaitu mbak Haya Aliya Zaki, mbak Shintaries dan mbak Ani Berta. 

FUN BLOGGING 7: MENGUBAH HOBI MENJADI PROFESI
para Cikgu:
(kiri-kanan) mbak Haya Aliya Zaki, mbak Ani Berta, mbak Shintaries

Itu mereka, 3 DARA BLOGGER dari Jakarta yang ruarrr biasa hebatnya di bidang masing-masing. Mbak Haya yang berprofesi sebagai editor, menuturkan cara menulis konten blog yang bagus dengan kalimat yang tegas, bersahaja dan runtut. Saya tidak menyangka dan terpana melihat mbak Haya berbicara. Ternyata suaranya mantap, berat, runtut dan editor banget deh pokokna mah. Jadi dosen pun cocok deh nih mbak Haya :). Inti dari materi mbak Haya ini adalah, senjata utama blogger adalah membuat konten blog yang baik dan bermanfaat. Konten yang baik, karena menulis dengan bahasa Indonesia, maka sebaiknya memenuhi kaidah penulisan atau EYD walau tidak kaku. Menulislah dari hati dan dengan hati-hati sebelum mem-publish-nya. 

Sesi kedua dari mbak Shintaries, yang membagikan ilmu mengoptimasi platform blog. Materinya lebih menjelaskan bagaimana melakukan treatment pada blog dengan beberapa tipe domain, sehingga bisa mudah membuat analytic report ketika diperlukan oleh blogger saat akan menerima job (pekerjaan). Karena basic nya mbak Shinta ini jagoan coding, pemrograman, otak atik analytic report dan segala ilmu yang menjelimetkan kepala saya. Entah kenapa, itu saya mendadak jadi pusing banget, hehehe. Selesai memberi sesi, mbak Shintaries bertanya, " gimana? sudah paham?"
Saya berseloroh, "saya jadi terharu mbak." hihihihi.

Terakhir adalah sharing ilmu dari mbak Ani Berta, sang Social Media Activist. Ya tentu tentang memanfaatkan aneka jenis sosial media yang tersedia di internet dengan semaksimal mungkin. Supaya para blogger bisa meningkatkan kualitas dirinya dan mendapatkan pekerjaan serta penghasilan dari blog yang dibinanya. Jika mendengar cerita mbak Ani nih, kerjaan blogger ternyata riweuh juga loh. Nggak sekedar nulis seadanya, asal judul ketangkap Google, lalu duduk manis minum kopi dan makan brownies. 

"Harus tekun ya. Telaten. Dan ingat, kita harus memberikan manfaat. Jangan di awal mikirin duitnya dulu. Pokoknya fokus untuk menulis konten baik seperti kata mbak Haya, mempraktekkan tips analitik dari mbak Shinta, lalu terus gencar berpromosi di sosial media. Nanti duit datang sendiri, percaya deh." Nasihat mbak Ani, beberapa kali diulang-ulang seperti itu intinya. 

Aih, ada kata "duit" nyelip jadi melek dah kita semua, hahaha. Bener juga nih, Blogger bisa dijadikan Profesi, dan itu menghasilkan. Makin termotivasi saya. Apalagi dari semua cerita narsum, berkat menekuni profesi blogger, mereka bisa keliling Indonesia bahkan sampai ke luar negeri loh. Pecah nggak tuh? 

"Jadi blogger bisa membuka peluang yang lain. Asal kita sungguh-sungguh!" begitu sengatan motivasinya.

Hal hebat lainnya yang terus digaungkan  mereka adalah untuk tetap seimbang mengatur waktu dengan keluarga. Mengingat pesertanya mayoritas perempuan, dan hampir semuanya ibu-ibu (ibu rumah tangga dengan aneka profesi lainnya). "Jangan karena sudah merasa sibuk sebagai blogger, pergi kesana kemari, lalu kita lupa untuk mengurus anak. Lupa bersilaturahmi dengan keluarga besar. Semua harus seimbang. Asal kita tahu ilmunya, dan mau mencoba dengan tekun, maka kita bisa mengaturnya dengan baik." Begitulah nasihatnya. 

Luar biasa, saya sungguh kagum pada blogger perempuan terutama yang ibu-ibu. Karena tidak mudah membagi konsentrasi, tenaga dan semangat pada diri sendiri, dengan  tetap seiring sejalan dengan aneka kewajiban sebagai istri dan ibu di rumah.

Saya pun jadi pede untuk meneruskan langkah saya menulis di blog. Alat perang di rumah saya juga sudah siap. Modem smart-EVDO (atau sekarang  disebut Smartfren) jadi perangkat akses internet yang mumpuni dan sudah saya gunakan sejak lama. Bahkan saya bisa internetan di rumah pertama kali, dengan membeli HP Smart warna merah itu loh. HP yang bisa dijadikan modem juga. Uh, HP bersejarah... 
                                            
Modem Smart EVDO dan HP Smart 
 Duh alhamdulillah, saya bersyukur banget pake nget. Untung saja saya masih setia pada modem ini. Yang walaupun sejak 2010 nama provider Smart berubah jadi Smartfren, tapi modemnya masih bisa dipake. Saya tinggal isi pulsa dan register paket internet volume based bulanan. Suami pun membelikan alat wifi router (warna putih itu) itu dari High Tech Mall Surabaya, sehingga modem Smartfren saya bisa dipasang di router itu, dan menjadi wifi. Dengan begitu, seisi rumah bisa memakai jaringan internet wifi dari Smartfren. Jadi ketika saya blogging dan internetan di laptop, anak saya masih bisa internetan juga di tabletnya.

Provider ini memang kelihatan banget komitmen-nya untuk memberikan pengalaman berinternet yang lancar, super cepat, harga terjangkau dan merata untuk semua kalangan. Terutama untuk ibu-ibu seperti saya nih, paket internet bulanan Smartfren antara 50 ribu sampai 150ribu, adalah pilihan yang masih aman dalam anggaran belanja rumah tangga.

Dengan komitmen itu pula, Smartfren mendukung penuh acara pelatihan blogger semacam ini. Dengan semakin banyaknya orang yang berprofesi menjadi blogger, maka lapangan kerja kian terbuka luas dan laju pertumbuhan ekonomi bangsa pun ikut terdongkrak ke atas.

Yang lebih penting, khususnya untuk kaum ibu, menjadi blogger adalah pintu sekaligus jendela untuk menerima akses informasi dari luar yang bermanfaat sehingga bisa terus belajar dan berkarya. Jika seorang perempuan bisa terus pintar dan produktif, maka anak-anaknya pun ikut meningkat kualitasnya. Seperti sebuah pepatah, "Mendidik Satu Perempuan, Berarti Mendidik Satu Generasi."

Maka, trims berat ya Smartfren atas supportnya untuk Fun Blogging 7 Surabaya ini, jangan kapok-kapok loh, heheheh *modus biar disponsori lagi.

   Oke baiklah, tak usah berlarut lagi dalam kegentingan hati karena komentar orang. Saya punya barisan guru yang mumpuni dan teman belajar menjadi blogger profesional di komunitas Fun Blogging yang menjadi follow up dari acara ini.                                                      

 Kebaikan para narasumber dan sponsor sungguh tak terlupakan. Dengan biaya hanya Rp.100.000,- saya mendapatkan materi yang super padat, bermutu dan tahan lama dari mbak Haya, mbak Ani dan mbak Shinta; makan siang yang enak, snack yang gurih serta ruangan ber-AC yang nyaman sepanjang acara.                            

  Semoga ilmu yang akan disebar melalui Fun Blogging selanjutnya ke segala penjuru nusantara, turut membawa perbaikan bagi perempuan Indonesia khususnya. Dan jika sudah tiba waktunya, para peserta blogger kali ini, bisa ikutan berbagi ilmu seperti mereka. Mungkin di ranah yang lebih sempit? seperti di pelatihan blogging untuk ibu-ibu PKK dan pengajian?
Kenapa tidak? 

Insya Alloh.

Semoga menginspirasi 😊
- Heni PR -