Podcast Bu Heni

Uji coba

Tidak ada komentar
Baru saja nemu cara mudah ngisi blog pake BB. Memanfaatkan pushing email.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Hijabers

Tidak ada komentar
foto dari sini
Namanya Ramadhan. Selain tema ibadah, yang rame juga tema busana muslim. Hijaber menjadi nama baru yang makin merakyat di media, terutama televisi.

Saya salut dan kagum juga dengan munculnya Hijaber ini.

Hijaber dari kata Hijab.
Dulu penggunaan kata Hijab, sangat limited. Pengertian paling awam tentang hijab [bagi saya] adalah penutup seluruh tubuh yang full seperti para perempuan di Afganishtan. Yaitu jilbab lebaar menjulur sampai kaki dengan cadar atau burqa menutupi wajah. Dengan warna hitam, biru dongker atau warna gelap lainnya.

Dulu, banyak yang enggan menggunakan kata Berhijab dan memilih untuk kata berjilbab atau berkerudung saja. Kesannya lebih ringan dan sesuai dengan proses menjadi muslimah yang ingin mematuhi perintah Alloh SWT untuk menutup aurat.

Lalu, entah dimulai dari siapa, kata Hijaber mulai muncul.
Hijaber yang biasanya tergabung dalam Hijaber's Community ini [dari penjelasan Dian Pelangi] bertujuan untuk mengedukasi para muslimah [khususnya Indonesia] bahwa hijaber, alias pengguna hijab adalah mereka yang tidak hanya peduli pada jilbab / kerudung saja. melainkan juga Hijab dalam arti menutup tubuh dengan pakaian yang sesuai syar;i, serta menghijabi hati agar sesuai dengan yang dititahkan Alloh SWT dalam Alqur'an.

Kreativitas designer dalam komunitas hijaber ini, menurut saya, patut diacungi jempol juga. terutama untuk para designer yang masih mengusung tinggi konsep pakaian muslimah sesuai aturan/syar'i.

Dengan kreativitas mereka, sekaligus cara berjilbab yang super kreatif juga a.k.a hijab style; akhirnya makin mendongkrak keinginan wanita muslim untuk mulai menutup auratnya.

Memang, beberapa segi, model berjilbab para hijaber ini juga menjadi sorotan. Karena kadang, tampak begitu berlebihan. Terutama mereka yang menggunakan inner jilbab dengan isi cempol yang begitu besar, bak punuk unta.

namun, jika kita jeli dan mau rajin mencari di internet, ada banyak designer yang kreatifnya masih dalam koridor syar'i, misalnya designer Gda's Gallery yaitu putri pertama dari Aa Gym. Beberapa saya lihat tergabung dalam sebuah toko hijab online di www.hijup.com.

Berjilbab menutupi dada, menjadi menarik sekarang dan sudah banyak diterapkan oleh para hijaber. Model baju, yang sebenarnya bagi saya, rada ruwet juga tampaknya, tapi berhasil sesuai dengan syar'i yaitu tidak transparan, tidak ketat dan menutup seluruh tubuh.

Saya anggap, Hijaber memulai langkah yang baik untuk syiar islam terutama syiar hijab. Bahwa ada kekurangan disana sini, itu adalah proses.

Benang Merah

2 komentar
Masih di bulan Ramadhan ya.
Hmm..sudah di minggu kedua, alhamdulillah. Sekeluarga saya sehat semuanya, bagaimana dengan keluarga kawan sekalian? semoga sehat selalu ya.

Perkara sehat, saya sendiri sering nyolong waktu minum sebutir kapsul habbatussauda atau ekstrak temulawak [ah kok saya lupa namanya]. Selang-seling. Kadang sehari minum Habbat, kadang temulawak. Sesekali ditambah sesendok madu, minumnya pas sahur atau pas sebelum tidur malam. Lumayan banget, badan tak mudah flu dan masuk angin, seperti biasanya, walau sedang puasa.

Wokay, selesai bicara suplemen-nya ya :)

Sudah beberapa bulan tidak memegang yang namanya "berkreasi". Walau ingin disangkal, dan tak ingin menjadikannya excuse. Tapi.. yang namanya kerjaan rumah kok ya menyita waktu lumayan banyak.

Ada hal baru yang saya mulai yaitu menjadi Reseller Pourvous Natural Bodycare. Sehingga perhatian terpusat disana. Saya bersyukur menemukan produk dan sistim bisnis di Pourvous ini. Produknya beneran bagus. Sistim bisnisnya sangat mudah.

Ketika aktif menelorkan Pourvous di setiap akun jejaring sosial saya ini, terus terang saya dilanda kejenuhan akut di kancah fashion dalam toko online saya di Jilbab Orin.

Saya juga menderita writerblock yang lumayan parah juga.

Dua "derita" yang saya alami ini, cukup mengganggu. Antara rasa bersalah, ingin maju namun entah, yang namanya isi kepala nggak bisa konek dan terisi.

Mengapa, oh mengapa? saya pun bingung sendiri. Ada yang bilang, ini adalah masa remaja kedua saya. Ibaratnya puber, ada puber kedua. Menjadi remaja pun begitu. Dalam arti menjadi remaja adalah masa yang labil dan mencari jati diri.

Ada seorang teman yang mengatakannya, kelak jika sudah berumur 35 tahun, maka saya akan stabil dengan sendirinya. tidak sering galau, bingung, dan menyesali apa yang sudah dilakukan. Persis perasaan ketika masih sweet seventeen itu.

Saya masih terjebak dalam segala perasaan kacau balau galau tersebut. Sampai saya membaca novel Perahu Kertas, karya Dee.

Di novel itu, ada cerita dari pak Wayan, Pelukis. Yang membiarkan dirinya tidak melukis selama bertahun-tahun, karena memang tak bisa melukis lagi, dalam arti, tak tahu harus melukis apalagi. Perasaan ini dibiarkan dan diterima dahulu dengan pasrah. Mengalir saja seperti air. Kelak akan bisa melukis lagi dengan sendirinya.

nah, dengan tulisan ini, membuatku cukup aman. Minimal tidak ruwet dengan kegalauan diri sendiri yang merasa semakin tidak produktif. Karena, saya tidak ingin ,menjadikan posisi sebagai ibu rumah tangga, kembali menyeret saya dalam perasaan tidak berguna itu tadi, karena tidak produktif.

Seiring waktu, saya akan menemukan benang merah kehidupan saya sendiri. Saya mempraktekkan minta bantuan kepada Tuhan, kepada Alloh Rabbul Izzati, untuk menunjukkan jalan mana yang paling baik untuk saya lalui.

Sekarang, yang saya lakukan adalah menjalani hidup, belajar bersyukur dan menikmatinya dengan cara yang semakin sederhana.

Tutorial Handmade Case

Tidak ada komentar



















Bros Purple

1 komentar


Hari ini adalah hari terakhir mengurus Raport Anak. Untuk Quick Hijab, saya comot saya Bros dari kawat yang saya buat beberapa bulan yang lalu. 



Kalung dan Gelang Perca batik - Wire

Tidak ada komentar


Ceritanya untuk seragam panitia wisuda Taman Kanak-Kanak tempat anak keduaku sekolah, memutuskan untuk berjilbab nila ungu ini kembar semua. Secara untuk hemat dan belajar menjahit, saya dan satu wali murid, nekad membuat Sifon Batwing warna hitam ini. 

Nah, supaya baju serba hitam saya ini nggak sepi, maka saya pakailah kalung dan gelang wire ini. 




Untuk manik-maniknya, dibungkus dulu dengan kain perca batik. Prosesnya lumayan lama supaya ikatan kainnya kuat. Malah lebih cepat membuat bandul kalung [pendant] yang belakangnya saya pasang jarum bros. Tujuannya agar jika bandul dilepas, bisa dijadikan bros. Atau ketika dipakai jadi kalung pun, jarum bros ini saya pasang tembus ke baju inner, supaya kalungnya 'steady', atau bandulnya tidak lari kesana kemari. Kalungnya lebih antheng dan rapi :)



Nah, untuk bangle ini, beadnya juga dibungkus Perca Batik. Teknik uwer-uwernya baru saya coba sekali itu. Terinspirasi dari gelang wire [entah milik siapa] yang saya pegang dan lihat waktu ada acara Free Workshop Oksidasi Wire Jewelry oleh mbak Kiki Adiwijaya di Surabaya beberapa waktu yang lalu. 
Ternyata uwer-uwer zigzag ini, sulit juga. Lamaa sekali baru selesai. Fiuuh. Alhamdulillah, respon yang lihat cukup menentramkan hati. Jadi sepertinya edisi coba-coba sendiri di rumah, ada hasilnya.
Ketika saya pakai gelang ini, seandainya tidak dipasang beads perca batik itu, gelangnya bisa kelihatan seperti gelang emas deh,hehehe