Whatsapp-mu Harimau-mu.


 Ini sudah kesekian kalinya saya menemui ada masalah di grup whatsapp. Tidak hanya satu grup, beberapa grup juga mengalami hal yang sama. 


Whatsapp adalah sebuah fitur di ponsel pintar yang lebih banyak digunakan daripada lainnya. Saya sudah menginstall LINE, wechat dan kakao talk untuk berpesan singkat. Tetapi hanya whatsapp yang aktif. Lainnya tidak.

Padahal saya lebih suka LINE, karena bisa juga digunakan di laptop atau PC dan ada gambar yang lucu-lucu. Sayangnya di LINE, karakter hurufnya sangat terbatas.


WA atau whatsapp ini menjadi sarana yang paling efektif untuk berbagi informasi, terutama di kelas pasca kami. Di minggu pertama kuliah, langsung ada teman yang membuat grup di whatsapp dan menginvite kami satu per satu. Tentu saja yang menggunakan aplikasi android atau blackberry.

Saya sebenarnya sudah membuat milis jauh hari sebelum pertemuan pertama kuliah pasca, tetapi aktifnya milis jauh di bawah grup WA ini. Padahal milis bisa efektif untuk semua orang, walaupun tidak menggunakan android atau BB.

Karena seperti chatting, grup WA tidak hanya untuk berbagi informasi kuliah. Tetapi juga untuk bercanda atau berbagi cerita. Beberapa hal terjadi dan menyebabkan konflik di dunia WA, sampai-sampai yang sedang sakit hati langsung keluar dari grup.

Saya pernah sekali melakukannya. Saat itu saya merasa sangat tidak nyaman, ketika teman-teman mulai bercanda dan menggoda seolah-olah ada teman lelaki yang mencari saya karena naksir. Saya marah bukan karena memang jadi pelaku yang ketahuan (ih amit amiiit), wong yang dipasangkan ke saya itu umurnya jauh lebih muda alias seperti keponakan saya sendiri. Tetapi saya tidak suka beneran, gaya bercanda begituan untuk kami-kami yang sudah menikah dan punya anak. Saya makin marah, ketika sang pelaku membela diri dan menjawab keluhan saya dengan tulisan yang full huruf kapital dan banyak tanda seru. Tanpa babibubebo saya langsung cabut, keluar dari grup.
                          " JANGAN SALAH PERSEPSI!!!! SAYA HANYA BERCANDA !!!"

nah loh, baca tulisan ginian apa nggak malah emosi jiwa?

Untungnya beberapa teman lalu meminta saya bersedia masuk kembali ke grup. Mereka sebenarnya kuatir saja sih ga dapat info atau kehilangan reminder. Karena saya dinobatkan jadi bu RT di kelas pasca itu. Mereka nggak tulus-tulus amat sih takut kehilangan saya, heheh.

Kondisi lain terjadi di grup satunya lagi. Teman alumni saya itu aktif sekali berdiskusi apa saja di grup WA. Apa saja. Mulai dari tentang banjir, korupsi, PKI, apa aja. Saya jarang aktif, karena ada satu hal yang saya kurang sreg. Ada diskusi tentang agama disitu. Teman saya sesama muslim ini sering menuliskan keluhannya tentang beberapa hal yang muslim juga lakukan. Lalu ini dibahas oleh semuanya, bahkan yang non muslim. Tentu saja ini rasanya kurang etis. Mau membantah, nanti debat kusir. Diam saja, hati gak enak. Akhirnya dengan beberapa alasan, saya pamit untuk keluar dari grup itu. Tentu dengan lebih dulu menyimpan nomer kontak beberapa teman yang dekat dan kira-kira nanti perlu untuk dihubungi.

Terakhir, terjadi lagi. Seorang teman saya mendadak ngambek dan langsung keluar dari grup WA. Karena dua postingannya tidak ada yang mengomentari. Saya yang memang seharian tidak membuka ponsel karena sedang main ke rumah ibu, jadi kaget. Ini ada apa?
Namanya itu hari Minggu, semua pada pergi sama keluarga mungkin. Dan nggak ada sinyal yang baik buat WA, bisa saja ga ada yang baca tuh postingan. Perasaan saya campur antara heran, geli dan ga enak juga. Karena masuk jajaran teman yang tidak mengomentari itu tadi.

Hffhh...begitulah resiko text world.Whatsapp-mu Harimaumu.  Jarimu Harimaumu.


TELEPORT DI SECOND LIFE

Saya tahu tentang second life, setelah mbak Lala Mira Julia menuliskan di statusnya di facebook beberapa waktu yang lalu, udah cukup lama sebenarnya sih. Tapi saya tidak terlalu tertarik, buat "para ahli" saja menurutku. Alias aku dah keder duluan, sepertinya susah.

Beberapa kali melihat tampilan hasil SL mbak Lala itu tampak seperti gambar tiga dimensi, seperti di film kartun. Nah, susah kan pastinya. Mana bisa aku membuat grafis tiga dimensi seperti itu. Dan berlalulah niat untuk mengeksplorasi lebih dalam.

Sampai akhirnya, muncul penasaran lagi. Mungkin juga akibat dari mikir keras, apa yang beda dan keren ya buat bahan tugas penerapan e-learning di Indonesia, tugas yang diberikan dosen TIK. Lalu aku mencloklah ke web nya mbak Lala, di Rumah Inspirasi.

Di web ini, saya tulis elearning di kolom Search. dan muncullah kembali tentang Second Life ini. Nah, mulailah niat dan minat untuk mengeksplorasi muncul kembali.

Saya coba membuat akun di Second Life, membuat avatar  dan teleport kesana kemari. Seperti ini nih,

Saya belum bisa masangin jilbab di avatar, belum nemu tutorialnya. ada yang bisa? :-)

Ini saya lagi duduk di land Art and Education, 
trus nggak tau lagi mau ngapain hehehe, selain mengamati bentuk pajangan yang artistik


Ini saya di Genome Island
tepatnya di depan meja eksperimen tentang bakteri Salmonella typhi
wah, sama dong, jaman tugas akhir sarjana dulu saya juga neliti nih bakteri.
kereen banget disini, ada link tentang Peta Kode Genom Bakteri yang detiil banget.
Bener-bener pendidikan berkualitas dunia dah, hebaaatt...


SL ini keren banget deh. Tapi saya masih kesulitan banget. Terlebih akses internet belum sip. Karena nih SL buat internet yang kuat. Sinyaal mana sinyaaall....hellp.

Teman Belajar Baru di CN (Course networking)

Course Networking (CN), www.thecn.com adalah platform gratis online yang khusus didedikasikan untuk pendidikan. Saya kenal CN ini dari blognya mbak Anna Farida, di LEARN THEN TEACH.

Setelah saya otak-atik sedikit, saya berhasil deh register, dengan username CN #HP101. Disini saya mulai cooba-coba membuat course.
kali ini saya coba buat course buat anak saya belajar, namanya course Meja Belajar. Saya coba-coba fitur membuat ujian online, di fitur QUIZ. Hasilnya ini . Anak saya masih belum mulai menggunakan CN ini untuk belajar. Karena saya juga masih otak-atik fitur Quiz onlinenya, yang lumayan ribet juga bikinnya sebenarnya. Ribet di awal saja kok, karena setelah quiz online jadi, kan bisa digunakan berulang-ulang, juga bisa di print. Ini cocok buat para guru sebenarnya.



di CN ini saya bertemu teman baru dari penjuru dunia. Menyapa mereka yang dari Malaysia, Thailand dan negara lainnya. Juga menyapa pembuatnya yaitu Ali Jafari, dan alhamdulillah, dibalas juga nih sapaan saya. 

Di CN saya bisa membuka link yang di share oleh para edukator, dan mereka yang peduli pendidikan. Asik asik deh websitenya. Kualitasnya, saya kalah jauuh.

Yang bagus juga dari CN ini adalah saya praktek berbahasa inggris lagi, dengan baik dan benar sesuai percakapan saja, belum sesuai grammar, hehehe... 
Ya, karena CN itu internasional, jadi ya terpaksa pake bahasa inggris untuk pasang status, mengeposkan file atau berkomentar.

Karena CN khusus untuk pendidikan, jadi saya merasa aman berada disini. Untuk belajar, ya untuk berteman. Penasaran nih prend? coba deh.. :-)

Kesengsem e-Learning

Singkat cerita, saya nih diselamatkan oleh internet. Sehingga bisa tetap "hidup". Dari hasil browsing sana-sini, akhirnya kenal dengan istilah e-learning alias pembelajaran online [kata yang umum].

Kebetulan di semester 1, Teknologi Pendidikan di pasca Unesa ada mata kuliah TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Pendidikan. Dan subyek yang diajarkan itu tentang e-learning dengan segala bentuknya.

Jika disimpulkan dengan singkat, ada 3 bentuk proses belajar yang umum digunakan di dunia ini :
1. Kelas tradisional (kelas tatap muka) --> ya seperti kelas sekolahan kita pada umumnya
2. Kelas online (e-learning murni) ---> belajar benar-benar lewat internet, tanpa tatap muka sama sekali
3. Blended learning ---> kombinasi dari kelas tradisional dan kelas online (ini yang mulai diterapkan di beberapa sekolah dan universitas di Indonesia di daerah tertentu)

3 poin diatas untuk memperjelas topik entry saya kali ini. Dan akhirnya saya jatuh cinta dengan konsep e-learning, pembelajaran melalui internet. Kenapa? karena dari kalimat awal tadi, internet menyelamatkan saya. Kok bisa? bukankah internet mahal?
\mahal? benarkah?

Begini, saya mulai mengakses internet di rumah tuh, dengan ponsel CDMA Smart yang bisa dijadikan modem. Saya beli di toko ponsel dekat rumah seharga 300ribu, kira-kira tahun 2010. Dipasang di komputer yang jadul juga deh, atau sudah diupgrade CPU nya jadi core 2 duo sama suami saya ya? ah lupa.

jadi begitulah, modem smart ini luar biasaaaaa .... lemotnya, hehehe
Walau begitu saya hobi browsing dan nekad mulai bisnis jilbab online dengan modem ini loh. Pertama kali niat banget pengen upload foto jilbab ke facebook page, sampai bela-belain bangun jam 1 pagi. Dengan pertimbangan jam segitu internetnya cepat, dan memang lumayanlah. Jika saya perlu upload foto dengan segera, ya lari ke warnet dekat rumah bersama anak kedua saya yang masih kecil waktu itu dan ribetnya duileee sedaappp. *ah masa itu telah berlalu* hehehe....

Namanya orang niat belajar itu, pasti sama Alloh SWT diberikan kemudahan rejeki. Dan akhirnya, saya ganti beli modem smart evdo. [kok smart lagi, bukannya lemot?]. Untungnnya NGGAK. karena modem ini harga awalnya yang baru itu sekitar 900ribu kalau nggak salah. mehong juga kok. Dan saya beli bekas dari adek saya, seharga 500ribu. Modem ini masih setiaaa saya pakai sejak tahun 2011 sampai sekarang. Dan lumayan bagus untuk paket internet unlimited yang cuma 45ribu/bulan.


45ribu/bulan dipakai 30 hari, jadi setiap hari sekitar bayar 1.500 rupiah aja buat internetan. Ya murah kan?

malah sekarang, modem smartfren evdo ini murah harganya, mulai 200ribu-400ribu. Atau modem lain dengan kartu provider lain yang semakin muuuraaah aja sekarang. Beruntunglah mereka yang berkompetisi di bidang ini, kami pelanggannya yang diuntungkan juga hehehe...

Internet murah ini juga saya diskusikan di kelas. Bisakah di seluruh pelosok Indonesia kelak bisa mengakses internet dengan murah bahkan gratis dengan kualitas dan kecepatan yang bagus?
karena e-learning yang membutuhkan internet ini bisa menjadi solusi efektif untuk penyebaran merata materi pendidikan berkualitas. Bahkan membuka peluang daerah terpencil di Indoneisa untuk bisa mengakses informasi dari luar negeri dengan mudah.

Dan kata teman saya, bisa saja. Mungkin saja, apalagi sekarang ada provider yang bekerjasama dengan pemerintah untuk menyediakan internet murah. Misalnya Indischool yang disediakan telkomsel untuk sekolah-sekolah. Kalau tidak salah murah sekali, Rp.1000,-/hari atau bahkan gratis, dengan kualitas yang bagus.

Saya makin tertarik dan penasaran dengan e-learning. Saya pun ingat beberapa teman yang sering membagikan informasi atau ngeblog tentang online learning ini. Yaitu mbak Mira Julia, Anna Farida dan Romi Satria Wahono (yang terakhir ini belum jadi teman, belum kenalan, hehehe).

Dari mbak Anna dan mbak Mira Julia, saya mengenal dua platform gratisan untuk membuat e-learning ini yaitu Course Networking (CN) dan Second Life.

COURSE NETWORKING (CN)


SECOND LIFE FOR EDUCATION (SLED)


Oh ya, ada satu lagi, dari institut Ibu Profesional yang dibuat oleh mbak Septi, saya kenal WizIQ.

virtualclassroom

kalau pak Romi SW, itu lebih pada informasi tentang e-learning dan ilmu komputer yang dibagikan di blognya, secara beliau juga seorang dosen keren yang baik hati membagikan ilmunya dengan gratisan.

Begitulah indahnya dunia internet, banyak yang gratisan :)

Selain platform untuk membuat kelas online gratisan seperti WizIQ, CourseNetworking dan Second Life, ada dua  aplikasi lain yang sangat sangat amat berguna untuk digunakan di dunia persilatan jagad online. Yaitu EVERNOTE dan keluarga GOOGLE.
   Singkatnya, EVERNOTE ini adalah aplikasi untuk menyimpan data dimana saja, di komputer, laptop, android, handphone dan asiknya data ini bisa diakses dimana saja. Jadi semua gadget yang mendonlot evernote di dalamnya, bisa bersinkronisasi.

Lalu keluarganya GOOGLE, misalnya Google Drive, Google Plus, Gmail, Google Hangout dan satu lagi yang baru saya tahu dan keren juga yaitu Google Connected Classrooms. Wah hebring...

Adalah suatu impian dan ambisi, kalau kelak saya akan cukup menguasai segala hal tentang e-learning ini dan bergabung dengan mbak Anna farida dan ibu-ibu lain yang menggiatkan e-learning di Indonesia untuk pendidikan yang murah dan berkualitas dunia. Okeh semangaattt....

Mengagumi Bu Risma Walikota Surabaya [#SaveRisma]







 

Sudah berapa kali aku sering berkata pada suami, "bu Risma itu hebat deh mas. Dia begini, dia begitu. Nggak neko-neko, kelihatan banget kalau dia pinter asli ya."
Dan suamiku selalu mengiyakan semua komentarku pada bu Risma.



Coba deh mengamati sosok beliau secara fisik. Biasa saja kan. Kalau misalnya bu Risma ini pergi ke tempat yang nggak ada yang tahu kalau beliau adalah walikota Surabaya, pasti dikiranya ibu-ibu biasa, ya kan? bajunya biasa saja. Kerudungnya juga model ibu-ibu PKK biasa. Ya, tampak seperti ibu rumah tangga biasa seperti aku gitu :)

Nah ini juga yang menjadi perhatianku. Ibu Risma tidak neko-neko berpenampilan. Tidak menggunakan jilbab atau kerudung yang aneh, seperti tampak poninya yang disasak tinggi. Atau jilbab yang harganya jutaan rupiah seperti yang [katanya] dibeli oleh seorang gubernur perempuan di Indonesia ini, gubernur yang sedang tersandung kasus korupsi. Penampilan bu RIsma pun tidak bersolek rapi, tidak alus mulus kinclong seperti porselen yang biasanya tampak pada kulit wajah perempuan yang rajiin merawat kulit wajahnya di dokter kecantikan. Buiasuaaa...biasa pool, itulah yang kukagumi dari bu Risma.

Dari hal itu aku berpendapat, betapa bu Risma berhasil melepaskan diri dari belenggu kecantikan luar. Bu Risma ibaratnya seperti para sufi yang tak lagi risau dengan apa yang dilihat orang darinya. Atau memang melepaskan diri dari usikan pemikiran hal yang kurang penting. Tampilan seperti ini aku amati juga pada pak Dahlan ISkan (pak Dis).

Sejauh yang kuamati beberapa tahun ini, pak Dis jika tampil di media, pakai bajunya ya itu-itu saja. Celana kain warna gelap, baju hem warna putih, pakai dalaman kaos putih, pakai sepatu kets putih. Itu saja bajunya. Bahkan aku pernah ketemu ketika ada acara DBL Basket di mall PTC Surabaya, bajunya pak Dis ya begitu juga. Pak Dis yang penganut tarikat ini, pasti sudah masuk kelas sufi. Sudah melepaskan keduniawian, dan bekerja bekarya atau apapun itu demi ibadah, demi akhirat. Sungguh hebat.

Kembali ke bu Risma, aku mengaguminya sebagai sosok perempuan yang sukses. Semula aku selalu mengagumi sosok bu Sri Mulyani. Aku menyadari betapa pintarnya beliau, ketika ada sidang masalah bank Century yang ditayangkan di televisi secara live. Juga kiprahnya yang bisa jadi pakar ekonomi sampai bisa kerja di luar negeri. Dengan nama sederhananya yang tampaknya asli Jawa, aku kagum dengan kepintarannya itu.

Dari kedua perempuan ini, aku selalu bertanya-tanya, suaminya bagaimana ya?
kok bisa mereka meroket prestasinya begitu? pasti mereka sering begadang untuk rapat dan bekerja. Sering harus pergi kemana-mana. Kok boleh ya sama suaminya? apa anak-anaknya nggak protes ya?
bagaimana ritme kehidupan mereka sehari-hari? sehingga sang ibu bisa berprestasi seperti itu?

Hehehe...bisa jadi itu pertanyaan konyol tapi itulah adanya. Namanya sudah merasakan jadi ibu rumah tangga yang rasanya susah banget ninggalin rumah, melihat mereka yang leluasa kemana-mana. Bekerja, berprestasi dan bermanfaat, aku sungguh iri sekali. Dan berharap kelak bisa sampai ke tahap kehidupan seperti mereka, seperti bu Sri Mulyani dan bu Risma.


Terakhir aku nonton JTV (Jawa Pos Televisi) yang menayangkan profil bu Risma sebagai walikota. Bu Risma pergi kerja sejak jam setengah enam pagi. Ditemani dua ajudannya dengan mobil pribadinya, bu Risma blusukan kemana-mana. Pertama mengunjungi panti asuhan dan memberikan sumbangan, tempatnya mblusuk masuk gang kecil dan kumuh. Lalu memberikan bantuan pada janda miskin yang rumahnya kumuh banget. Karena hari Sabtu pagi, secara rutin bu Risma mampir dulu ke makam kedua orang tuanya. Dan berdoa disana. Langsung berdoa saja, tanpa membawa sebotol air dan sebungkus bunga seperti yang umumnya dilakukan orang Jawa yang berziarah ke makam. Lalu bu Risma lanjut sidak ke taman pinggir jalan. sekelompok petugas kebersihan tampak kaget dengan kedatangan bu Risma. Sambil menelepon untuk menyelesaikan masalah yang ada ditempat itu, bu Risma memegang sapu lidi dan menyapu daun kering di taman. Memberikan contoh kepada petugas, caranya membersihkan taman. Beliau juga dengan santai mengambil sampah dengan tangannya dan membuangnya di tempatnya. Lalu mengamati got dan meminta petugas membersihkan agar tidak tersumbat.

Aku melihat acara itu dengan terkagum-kagum. Bu Risma, adalah walikota perempuan yang sangat bisa menjadi inspirasi bagi warganya ini. Salut bu Risma :)













Beranjak Pagi

Ini terjadi padaku setiap kali aku selesai "curhat" atau "mengeluh", maka sepertinya mendadak aku sembuh. Yang semula malas, mendadak jadi rajin kerja lagi. Yang semula bosan, merasa banyak teman, hehehe. Dan pagi ini, aku coba untuk tidak mengeluh dengan urusan dapur. Ya, biasanya ketika membuka mata, maka yang membebani batinku adalah kewajiban untuk ke dapur. Untuk membuat sarapan. Untuk melihat tumpukan piring kotor yang belum dicuci. Untuk menginjak lantai dapur yang basah, karena bocornya pipa bak cuci piring. Piring kotor itu sering menumpuk karena aliran air PDAM beberapa hari ini tidak lancar dan kecil sekali. Agar air bisa naik ke tandon air, maka harus disedot dengan mesin pompa air. Demi hemat listrik, maka mengisi tandon dan mencuci piring sekaligus dikerjakan dalam satu waktu. Apapun yang terjadi, konsep harus menghemat masih terus dilakukan lho, :)

Aku mengatur hatiku semaksimal mungkin untuk menerima semua itu. Dan pagi ini berjalan cukup lancar. Setelah rumah dan dapur bersih, serta ada sarapan sederhana untuk anak dan suami. Aku sempat melakukan peregangan tubuh di depan tivi sambil menemani suami yang siap berangkat kerja. Lumayan juga, sedikit keringat membuat segar tubuh. Aku pun berlanjut menyapu daun-daun kering di halaman luar. Hmmm...udara lumayan segar, karena  entah kenapa para tetangga seperti sepakat tidak memanaskan mobilnya pagi ini. Biasanya turun adzan subuh, langsung deh mereka bremm..bremm...bremmm.... memanaskan mesin mobil dan menjengkelkan tetangga sekitarnya yang ingin menghirup udara segar pagi. Hehehe, ya begitulah hidup bertetangga.

Ketika menyapu halaman, mendadak ada telepon dari teman untuk ikut berziarah ke rumah alumni sekolah TK anakku yang kedua. Aku pun segera meluncur memberikan bela sungkawa bersama ibu-ibu lainnya. Singkatnya aku kembali ke rumah. Mencoba berdamai dengan kondisi rumah yang kosong dan sepi. Menyalakan televisi dan memutar iklan home shopping yang pasti ditayangkan berulang-ulang, acara yang kuanggap sebagai teman saja di rumah. Lalu membuka laptop dan ingin mengoprek lagi platform pendidikan online yang kemarin kutemukan ketika mencari data tentang penerapan e-learning di Indonesia.

Platform itu adalah wiziq, course networking dan second life. Yup, harus move on dan move ooon :-)

Comfortable Life


 Comfortable Life, dua kata ini diartikan dalam blog ini dengan gambaran orang yang melakukan rutinitas hidupnya dengan kebosanan. 



Aduh, mau nggak ngakuu tapi kok ya sepertinya itu saya ya. Kena virus bosan lagi. Rutinitas yang membosankan dalam kehidupan sehari-hari. Ini sempat saya alami sejak menjadi ibu rumah tangga. Sampai pernah ada di puncak kebosanan yang begitu parah. Waktu itu saya sering menuliskan kata, "saya sedang mati suri", "saya sudah mati ketika masih hidup".

Begitu membosankannya kehidupan saya saat itu. Hingga saya bereksplorasi kesana kemari [baca : di dunia online] untuk  menghibur diri.
Eh, tapi rupanya berteman online tidak cukup, saya pun berusaha punya genk emak-emak untuk sekedar menghilangkan kebosanan, untuk curhat, untuk hepp-heppi lah ceritanya. Tapi ternyata lagi-lagi saya nggak cocok dengan tipe genk ibu-ibu gini. Akhirnya dikit-dikit kami ketemu. Saat mau sarapan, eh beli lontong mie bareng. Lalu mampir ke rumah seorang teman, "cangkrukan" sampai nunggu jam njemput anak datang yaitu di tengah hari. Sorenya kami ketemu lagi di tempat jogging sore. Habis jogging bisa aja lanjut makan bakso bersama. Hampir tiap hari begini, sampai urusan beberes rumah nggak selesai. Apalagi urusan ngerjain tugas saya di kampus.

Saya pun berpikir ulang, dan menarik diri. "Berteman di dunia nyata, menghabiskan waktu" itu kesimpulanku saat itu. Walaupun aku coba mengakali membawa laptop ketika kumpul geng, tetep saja jatuhnya ya ngobrol ngalor ngidul dan pasti akhirnya gosip sana-sini. Akhirnya saya kembali ke laptop. Dan kehidupan kembali ke normal.

Normal?
Ya begitulah, hampir 90% waktuku ada di dalam rumah lagi. Benar-benar di dalam rumah. Saya hanya keluar ketika belanja sayur, antar jemput anak dan sesekali ke bank jika perlu.

Saya yang aneh yaaa?
Iya kayaknya aneh banget ya? tapi pasti tidak aneh karena sejak kecil, gaya dalam keluarga saya juga begitu. Dan eh ndilalah, gaya keluarga suami juga begitu. Cuma, beruntungnya, ibu mertua saya itu penjahit. Jadi walaupun nggak pernah keluar rumah, tiap hari bisa saja ketemu orang baru yaitu para pelanggan yang mau menjahitkan baju. Dan gaya hidup di desa itu, "rumah tanpa pagar", jadi bisa blas blus blusukan masuk ke rumah orang, dengan enaknya.

Secara kalau hidup di kota besar seperti Surabaya gini, ya "rumahku rumahku, rumahmu rumahmu". Makin tinggi pagar orang, makin keren kali hehehe.

Saya sering mengamati gerak-gerik beberapa emak2 di KEB. Asik bener, ibu-ibu bisa mampir ke kantor Google Indonesia-lah, bisa kopdar, bisa bikin workshop, aduuh menyenangkan banget ya.
Hampir saya pastikan mereka lakukan semua kegiatan itu ketika anaknya sedang sekolah. Bahkan beberapa bisa membawa bayinya kesana kemari.

Saya kok belum bisa kayak gitu ya?
ini kebiasaan atau apa??

Saya ingin berubah, SUMPAH deh.
Saya sempat berharap besar dengan proses perjalanan saya ketika memutuskan kuliah lagi di pascasarjana UNESA. Pikir saya, akan dapat teman baru, bisa diskusi sambil nongkrong santai, bisa ikut seminar ini itu, dll. Ternyata jadwal kuliah saya cuma dua hari, jumat dan sabtu, mulai jam 1 siang - 9 malam jika full. Nah, saya berangkatnya mepet waktu masuk, karena harus selesai menjemput anak sekolah dan memastikan mereka aman di rumah ketika saya tinggal kuliah. Saya tidak punya saudara atau asisten rumah tangga untuk menitipkan anak-anak sejak pagi. Dengan waktu kuliah segitu, kapan saya bisa kenalan sama mahasiswa jurusan lain? hahaha, ternyata beda banget sama tahap sarjana dulu. Banyak waktu untuk kegiatan mahasiswa, atau ketemu ngobrol di musolla,  angkot atau kantin.


Sebenarnya waktu pagi saya panjang juga loh. Karena anak-anak baru pulang jam 1 siang dan 3 sore. tetapi udah biasa kali ya, sejak kecil dilarang ketat main dan boleh hanya di rumah kalau nggak tidur ya belajar. Maka saya kok rasanya beraaat sekali mau keluar rumah. Misalnya ke mall, atau ke toko buku,dll. Yang kalau dihitung juga nggak terlalu jauh dari rumah pun ada. Belum berangkat nge-mall aja saya udah kepikiran, apa waktunya cukup? nanti saya sampai di mall jam 11 trus jam 12.30 harus sudah di parkiran sepeda motor lalu berangkat jemput anak.

karena banyak pertimbangan gitu, akhirnya saya batalkan lagi.
Atau jika saya ingin lebih jauh, misalnya ke pusat perbelanjaan surabaya PGS atau ke kampung ilmu tempat jual buku bekas yang jaraknya lumayan jauh dari rumah, tapi sejak pagi udah buka. Nah, belum berangkat saya udah kepikiran, kalau nanti mendadak ada telepon dari gurunya anakku dan dia harus dijemput misalnya sakit panas atau muntah, atau apa gitu, gimana? aku lagi jauh? nanti ngebut lagi jadinya dan bahaya...

Nah kan, saya gitu melulu. Jadinya aman di dalam rumah saja. Tapi ya gitu, lama lama ya bosan lagi, walaupun akses internet sudah bagus.
Duh, gimana ya enaknya?