Jurus Kuliah ke Luar Negeri #JKLN

Lanjut dari cerita Teror TOEFL , saya akan memberikan review dari buku JKLN yang menjadi inspirasi anak-anak saya untuk menambah waktunya belajar bahasa asing.

Jadi buku Jurus Kuliah ke Luar Negeri (JKLN) ini adalah buku panduan super lengkap untuk bisa kuliah ke luar negeri baik di strata S1, S2, S3. Dan dengan cara beasiswa ataupun tanpa beasiswa. Tidak seperti buku panduan kuliah ke luar negeri pada umumnya, buku ini dibuat dengan sangat detil karena ditulis oleh mereka yang sudah berhasil mendapatkan beasiswa dan belajar kuliah di Luar Negeri.

Buku cetak setebal 302 halaman ini disertai dengan ebook berisi ribuan halaman penjelasan lengkap untuk poin penting yang tidak tertulis di buku cetak. Bayangkan jika semuanya dicetak, bakalan segede bantal nih buku. Itulah sebabnya, agar tetap detil namun masih efektif untuk dibaca dan dicerna maka disertailah ebook dalam DVD.

Isi ebooknya antara lain: Panduan persiapan yang dibutuhkan untuk kuliah keluar negeri. Review kuliah di berbagai benua seperti di Amerika, Eropa, bahkan Timur Tengah. Bagaimana bisa "Berjaya Tanpa Beasiwa" yang berisi panduan untuk kamu yang bisa kuliah di luar negeri dengan biaya sendiri atau ortu.                                                                                                    Bagaimana rasa nasionalisme pelajar Indonesia di luar negeri, bagaimana mengatasi homesick alias kangen rumah, kangen masakan ibu, kangen sama teman sekampung dan bagaimana mengatur kehidupan sehari-hari agar bisa berhasil kuliah di negeri orang tanpa malu-maluin negara kita sendiri.                                                                                                                             Anak sulung saya waktu membaca review negara-negara saja, sudah tertarik untuk kuliah ke luar negeri. Padahal sebelumnya jika saya sekedar cerita walau sambil berlebihan ceritanya, dia tidak tertarik. "Males ah, enak di rumah aja kuliahnya. Nggak mikirin kos, masak sendiri, nyuci sendiri." Begitu komentarnya dulu. 
Nah waktu anak saya sudah berkomentar, "ma, ternyata asik ya kuliah di Arab itu gratis, dapat makan, bisa naik haji." Hati saya sudah optimis, wah  nih buku bagus juga.

Selain berisi ebook, DVD yang menyertai buku ini, juga berisi Video testimoni dan cerita para pelajar yang berhasil kuliah di luar negeri.

Satu per satu menceritakan pengalaman dan kesan serta pesannya ketika belajar di luar negeri. Melihat ini makin optimis deh, karena ada satu kisah anak desa kecil yang ortunya bahkan tidak mampu membiayainya sekolah sampai SMA, tetapi bisa berhasil sampai kuliah ke luar negeri. Jadi di buku ini tidak hanya kisah inspiratif tetapi yang penting, ini kisah nyata. Bikin kita dan anak-anak makin percaya diri, akan mampu meraih cita-cita. 

Kenapa sih perlu kuliah ke luar negeri? apa hebatnya? cuma untuk keren-kerenan?
Nah itu pun diulas disini dengan gamblang, jelas dan realistis. Saya sudah membaca buku ini dan hampir membaca separuh ebook-nya. Dan itu cukup banyak menambah wawasan saya. Bahkan cara menulis Curriculum Vitae (CV) yang baik pun diberikan banyak contohnya disini, salah satunya saya contek untuk CV terbaru saya :)

Apakah ini cuma buku ringkasan browsingan dari Google aja? 
Kan panduan beginian banyak tuh di Google?
Dijamin tidak. Buku dan DVD ini ditulis oleh para pelakunya langsung dijamin original. Dan sudah diendorse oleh tookoh-tokoh terkenal. Salah satunya oleh, Merry Riana. keren kan...

Nah, saya dan anak-anak pun melanjutkan membaca buku ini bergantian sebagai buku pengantar tidur dan ebook kala menunggu antrian :)

Dengan membaca buku ini, mempraktekkan isinya dan belajar bersungguh-sungguh disertai doa, insya Alloh bakal berhasil. Seperti teman kita yang satu ini :

Jika teman-teman memerlukannya, bisa order ke saya ya. 
Bisa ke twitter: @HeniPR atau ke Line/WA= 087851781356
Share kisah-kisahnya setelah teman-teman dan keluarga baca buku ini yaa, 
Pasti senang membacanya :)






TEROR TOEFL dan Kuliah ke Luar Negeri

Ceritanya nih saya heboh banget mau ikutan tes TOEFL di kampus UNESA, sebagai syarat kelulusan dan wisuda S2 saya. Hebohnya itu campur sutris berat, karena cerita teman-teman yang katanya belum lulus walau sudah tes sepuluh kali. Sedangkan saya baru tes sekali, dengan skor 447.

Untuk syarat wisuda, minimal skor TOEFL harus 460.
Namanya ibu-ibu di rumah, harus belajar bahasa Inggris lagi, begitulah bunyinya. Buka software TOEFL bentar dah teriak-teriak aja mengulangi percakapan di latihan LISTENING. Lalu teriak lagi karena nggak ngeh dengan soal-soal grammar di latihan STRUCTURE. Cukup hening sejenak ketika belajar mengerjakan soal-soal READING. Kali ini nggak pake teriak :)

Berbagai doa, dzikir dan amalan menyenangkan hati ibu pun kulakukan agar bisa lolos tes TOEFL. Sehari sebelum tes, saya melipir ke rumah ibu dan memberinya sebatang coklat lalu minta didoakan. Jurus jitu lulus tes ala saya , hehehe.

Hari tes TOEFL kedua saya pun tiba. Tegangnya minta ampun. Saya kudu bolak-balik ke toilet sebelum pintu kelas tes dibuka. Peserta tes banyak bangeet, sekelas bisa 60 orang lebih. Dan hebohnyaa karena pada bete harus tes berkali-kali dan belum lulus dan bakalan mundur lagi wisudanya. Beberapa berteriak akan melakukan demo pada Direktur Pascasarjana Unesa, supaya dibolehin wisuda. Aduh bikin keki aja.

Lalu dimulailah tes TOEFL di kelas yang dingin banget (bagi saya, mungkin karena tegang). Saya berusaha konsentrasi seribu bahkan sejuta persen. Konseeen banget, apalagi pas Listening yang suaranya diperdengarkan dari speaker ruangan dan bukan menggunakan headset per orang seperti di Lab Bahasa. Satu demi satu lingkaran jawaban tes saya hitamkan. Tiap satu bulatan, saya baca Shalawat sambil berdoa sepenuh hati. Ini tips lulus tes saya yang ke#2, hehehe.

Dan alhamdulillah hasilnya adalah....


TOEFL ku LULUS

Skor TOEFL saya 487, artinya sudah melampaui batas minimal kelulusan skor 460. Saya berjingkrak-jingkrak kegirangan (dengan tega) di sebelah teman saya. Ups, lalu saya mengerem kegirangan itu, karena simpati dengan wajah lesu teman saya yang belum juga lulus tes toeflnya. Saya usahakan menyembunyikan senyum saya sekuat tenaga, walau rasanya pingin salto saja saat itu.

Jujur, beneran, suer. Baru kali ini saya ikutan tes TOEFL. Jadi baru dua kali dalam seumur hidupku ini, saya ikutan tes TOEFL.
Jaman S1 di ITB (1997-2001) tidak ada syarat skor TOEFL dan semacamnya. Hanya harus ikutan kelas bahasa Inggris saja sebentar di UPT Bahasa.

Pulang dari kampus pasca Unesa, saya merenung. Merenungnya dalem banget, sampai terik panas matahari pukul 2 siang itu tidak terasa. Sambil naik sepeda motor perlahan-lahan, saya bicara sendiri dalam hati, "gini ya susahnya tes TOEFL. Padahal tes ini jadi syarat masuk anak kuliahan S1. Gimana nanti anak-anakku ya? Ah, mereka kudu, wajib, untuk belajar bahasa Inggris lebih baik lagi demi masa depan mereka supaya tidak kena teror TOEFL seperti emaknya dan teman-teman emaknya." Amin.

Ketika berhenti di lampu merah, gumaman saya tak berhenti sampai disitu,
"biar pinter bahasa Inggris gimana caranya ya? siapa yang ngajari ya? apa kudu les? bimbel? "
"bimbel mana yang bagus? les mana? oh iya ada EF katanya bagus, tapi kan mahal bok, jutaan.."
dan seterusnya...begitulah namanya juga gumaman ibu-ibu :)

Sampai di rumah, sore harinya saya ungkapkan isi hati saya itu kepada anak-anak. Karena mereka semua anak laki-laki, saya panggillah "mas"

"mas, bahasa Inggris mama lulus loh, hebat to."
"Kalian harus lebih pinter bahasa Inggrisnya daripada mama, ya..!"

Jawab anak sulung, " aku udah pinter ma. Nih tiap hari aku lihat video youtube pake bahasa Inggris, ini namanya belajar."

Jawab adeknya,"aku juga tiap hari nonton Doraemon. Aku pinter bahasa Jepang!"

Mama : @$**&^%$@.... (melongo)


Karena masih kena efek teror TOEFL yang bombastis, saya pun lesehan sambil baca buku yang saya beli tempo hari, buku Jurus Kuliah ke Luar Negeri (#JKLN)

Konsep sederhananya kan, kalau bahasa Inggris anak-anakku bagus, mereka bakalan mudah kalau mau kuliah ke luar negeri.

Bakal gampang aja dapat beasiswa ke luar negeri.

Dan artinya itu juga menghemat pengeluaran (nah loh kan, ibu-ibu pikirannya duit belanja melulu sih!!!, hehehhe).

Setelah baca buku ini, wah asyik juga isinya ya. Ada tips persiapan kuliah ke luar negeri, ebook, video testimoni para pelajar. Saya buat review isinya di postingan berikutnya ya teman, biar khusus (pake makhraj 'kh').






Engraver Pelukis Uang Kertas



Tahukah anda ternyata gambar tokoh nasional di uang kertas negara Indonesia ini dilukis dengan teknik khusus?
Ya, namanya adalah teknik engrave dan pelukisnya disebut engraver.
Engraver tidak banyak di dunia, juga di Indonesia. Salah satu pelukis engraver adalah pak Mujirun. 


Beliau adalah salah satu pelukis uang kertas Indonesia untuk pecahan di bawah tahun 1990. Melukis engrave harus dengan teknil garis-garis yang tidak boleh saling bersentuhan. "Setiap garis harus bertanggung jawab," begitu kata pak Mujirun.
Memang melihat hasil lukisannya, luar biasa halus dan rapi serta mirip sekali dengan tokoh yang digambar.
Karena keahliannya yang langka ini, pak Mujirun sempat diminta oleh Malaysia untuk melukis di uang kertasnya karena belum ada engraver disana. 


Sekarang pak Mujirun sudah pensiun, namun beliau masih aktif melukis wajah teknik engrave di kertas khusus. Harga lukisan per wajah ukuran A3, mulai 60-75 juta. Sebuah profesi yang cukup menjanjikan untuk ditekuni. Asalkan punya teknik seni rupa dasar dan tekun mengerjakan satu lukisan dalam 3-6 bulan dengan sabar. Pak Mujirun berharap ada kelas belajar engrave di Indonesia, supaya ada regenarasi pelukis uang kertas Indonesia.