Ibu Mertua Bilang, Lebih Baik Kami Belajar dari In Harmony Clinic. Mengapa Ya?



opname 1, ketika suami ditelepon ibu mertua. dan saya #senyumajayuk :)

Perlahan-lahan saya menjawab telepon dari ibu mertua, “iya mak, sekarang mas Zam opname.”, itu terjadi ketika suami opname. Telepon senada juga akhirnya saya terima juga ketika anak opname. 

Suara saya bergetar menahan debaran jantung. Menahan rasa sedih, malu campur “takut dimarahi” sama ibu mertua. Hiks, siapa yang bisa ga gemetar, ini sudah ketiga kalinya saya memberitahu ibu mertua, kalau keluarga saya sedang opname. Kemarin suami opname karena sakit demam typhoid (tipus). Lalu anak sulung saya kena demam berdarah. Lanjut anak kedua kena demam berdarah juga. 

Tanpa babibu lagi, ibu mertua lalu bilang bahwa besok beliau akan datang (lagi)  menjenguk ke rumah sakit. Nah loh. Saya melirik suami. Rencana merahasiakan ke-opname-an anak dari ibu mertua yang jauh di luar kota, harus gagal lagi. Ibu mertua saya bukan pemarah atau menyalahkan orang, apalagi menantunya. Tetapi beliau tipe pencemas. Sedikit masalah, sudah cemas. Apalagi mendengar anak cucunya sakit dan opname. Hadeeehh bisa bisa beliau sendiri yang jatuh pingsan. Nah itulah yang kami cemaskan.

Sakit Itu Ujian atau Musibah?

Yaelah, nggak lagi pengen bicara filosofi spiritual deh. Sakit ya sakit. Apalagi opname. It means, harus mengerahkan segenap jiwa raga tinggal di rumah sakit. Dan itu sungguh tidak mudah kawan. Sangat melelahkan. Walaupun rumah sakitnya mewah seperti hotel bintang lima. Sempat saya merenungkan kesalahan apa yang saya perbuat, kok anak dan suami sakit dan harus diopname berturut-turut. Perasaan udah bener menjaga makanannya, membersihkan rumahnya. Kami pun tidak suka jajan kulineran, bahkan jarang jalan-jalan belusukan di tempat yang kotor.

“Anak bojomu kaget paling Nik, apene mbok tinggal kuliah maneh”.
Candaan dari kakakku ini bikin hatiku maknyess. Nyerii banget. Sedih. Apa iya, anak dan suamiku jatuh sakit dan opname karena mereka kaget bakalan aku tinggal untuk kuliah lagi? Apakah ini ujian dari Tuhan, saya sungguh-sungguh mau belajar lagi di kelas Pascasarjana. Ataukah ini teguran dari Tuhan untuk menghentikan langkah saya?
Aduh, betapa isu kesehatan bisa mempengaruhi semua rencana kehidupan ya?
Namun kalau sudah terlanjur opname kayak gitu, nggak ada waktu galau. Hanya fokus menjaga pasien sampai stabil dan dinyatakan sembuh lalu bisa pulang ke rumah.

Bahaya Penyakit


Baik penyakit Demam berdarah Dengue maupun Tipus (Demam Typhoid), duan-duanya bisa berbahaya dan mengancam keselamatan jika tidak mendapat tindakan cepat dan tepat. Gejala kedua penyakit itu sekarang juga tidak bisa disamaratakan lagi. Hal ini karena adanya perubahan genetik dari virus yang beredar, akibat penggunaan obat dan antibiotik yang irasional (kurang tepat).

Waktu itu suami saya tidak mengalami demam panas tinggi, atau panas naik turun yang ekstrim. Dia hanya lemas dan meriyang (sedikit demam, bukan merindukan kasih sayang loh :D). Lebih dari 3 hari dia mengeluh pusing dan capek badan, akhirnya kami ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Karena demam sudah lebih dari 3 hari, maka diwajibkan untuk tes darah oleh pihak RS. Dan hasilnya ada indikasi demam typhoid yang cukup tinggi angka widal test-nya. "Tipusnya tiarap", gitu istilah dokternya yang sempat marah karena dianggap kami hampir telat datang.
Waktu itu saya cemas luar biasa. Teringat cerita anaknya ibu kos di Bandung, yang meninggal karena sakit tipus ini. Aa Epi, itu nama almarhum. Menurut istrinya, saat itu dikira sakit maag biasa. Lalu dikira sakit demam berdarah. Hampir 2 minggu lebih mungkin, setelah di tes di RS berbeda, ternyata hasilnya demam tipoid. Tidak lama diopname, A' Epi kemudian meninggal dunia. Ternyata demam tipoidnya sudah menjalar sampai ke otak. Sehingga tidak bisa diselamatkan.

Memang beberapa teman dan saudara sedikit meremehkan. "Kenapa sakit tipus aja pake opname? suamiku biasanya minum cacing aja beres, sembuh.", begitu komentar teman ketika menanyakan kabarku yang sedang menunggu di RS. Aduh, bikin galau kan?

Begitu juga saat kedua anakku, hampir berurutan opname karena sakit Demam Berdarah Dengue. Tanda panas tinggi, naik turun, bintik merah tidak muncul sama sekali pada tubuh mereka. Keduanya hanya demam biasa, sekitar 38 derajat. Hanya mengeluh perutnya sakit tidak enak, badannya sakit semua bahkan disentuh saja rasanya sakit dan pegal lalu matanya merah.


kalau anak-anak sakit, sampai opname, saya mikirnya macem-macem T_T
Akhirnya, karena mereka tampak lemas, kami bawa ke rumah sakit. Demam "biasa"nya itu tidak turun-turun. Setelah di tes darah, akhirnya ketahuan Demam Berdarah Dengue. Kalau diingat saat itu, trombosit anak-anak saya tidak terlalu drop, namun fisik mereka lemas banget. Saya memilih opname tanpa memikirkan hal lain. 


Komentar teman juga ada lagi, yang mengatakan bahwa Demam berdarah tak harus opname. Bisa dirawat sendiri di rumah sakit, asal ibunya telaten. Aduuhh, tidak, saya nggak bisa banget begitu. Saya pengalaman punya anak prematur - itu foto anak yang di bawah itu - anak kedua saya lahir prematur. Berada di dalam kecemasan antara hidup dan mati untuk anak itu sangat berat. Mending saya susah payah merawat di rumah sakit deh, asal dekat dengan para dokter dan tenaga medis. 

Itulah kenyataan di sekeliling kita ya. Kondisi medis seperti ini sering disamaratakan dan dianggap berlebihan jika kita memilih menyerahkan tindakan pada penyedia layanan medis dan kesehatan. Padahal para dokter, suster, peneliti medis dan kerabatnya itu kan sekolahnya juga sulit, juga pinter gitu. Pasti ilmunya jauh lebih mumpuni dari kita, saya, orang awam. Saya percaya hal itu, maka menyerahkan kepada yang ahli, adalah pilihan terbaik. Apalagi ini bicara medis dan layanan kesehatan.

Semakin Concern Pada Pencegahan Penyakit

Yang saya tulis diatas itu terjadi  3 tahun yang lalu. Rasanya berat sekali kemarin itu. Dan sekarang juga, saya masih sering kuatir bakal terulang lagi. Mau sebagaimanapun kami menjaga rumah untuk bersih dan sehat, lingkungan sekitar perumahan kami agak kurang mendukung. Ada sebuah Telaga dan semacam perkebunan kecil yang kurang terawat. Dipastikan banyak nyamuk dan serangga lain yang bisa menjadi carrier penyakit, entah itu Dengue, Malaria atau Cikhungunya. Belum bertebarannya virus di udara, mulai virus campak, cacar air, penumonia, meningitis dan yang paling umum, influenza. 

Apa iya, kita kemana-mana harus memakai masker hidung. Sedikit-sedikit menggunakan gel antiseptik. Mencuci pakaian dengan cairan antiseptik. Super clean begitu malah bahaya juga katanya, bikin tubuh kita kurang kebal terhadap penyakit.

Kalau lingkungan luar tidak bisa dikendalikan sepenuhnya, maka perlu ada tindakan pencegahan dari dalam tubuh kita sendiri nih. Memanfaatkan fungsi imunitas tubuh yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Baik.

Konsep imunitas tubuh itu semacam perang antara zat asing tubuh (virus, bakteri, jamur). Jadi ketika ada benda asing masuk ke dalam tubuh, akan terjadi reaksi imunitas. Tubuh menghasilkan “zat pembunuh” benda asing itu, sehingga tubuh mempunyai kemampuan menyerang benda asing atau “menyembuhkan” dirinya sendiri. Nah konsep inilah yang diambil dari Vaksinasi.

Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin ke dalam tubuh. Sehingga nanti tubuh bereaksi terhadap vaksin, lalu menghasilkan zat kekebalan yang diperlukan jika virus sejenis masuk ke dalam tubuh kita. Kalau ditilik di jaman modern gini ya, waduh, buanyak sekali jenis vaksin loh, sampai bingung milihnya. 


Vaksin adalah sediaan biologis yang meningkatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Vaksin biasanya mengandung agen yang menyerupai mikroorganisme penyebab penyakit, dibuat dari mikroba yang dilemahkan atau mikroba mati atau toksin atau salah satu protein permukaan bakteri/ virus. [Wikipedia]

Untuk anak bayi juga, dulu hanya 5 Imunisasi Dasar [BCG, CAMPAK, DPT, HEPATITIS A&B, POLIO], sekarang bertambah lagi seperti HIB, IPD/PVC, MMR, ROTAVIRUS, INFLUENZA ANAK, TIFOID ANAK DAN VAKSIN COMBO. 


Kemudian tumbuh juga jenis vaksin untuk orang dewasa, seperti vaksin untuk CACAR AIR DEWASA, HEPATITIS A&B, HPV-KANKER SERVIKS, TYPHOID, INFLUENZA DAN PNEUMONIA.

Loh kok tau sih?
Iya, ini berkat datangnya ibu mertua saya itu tadi. Setelah insiden stripping opname anak dan cucunya, beliau  makin sering datang ke rumah. Tujuannya ya menjadi pengawas kesehatan :). Suatu hari beliau membawa informasi adanya In Harmony Health Clinic (IHHC). 

"Lihat nih, suamimu suruh ambil vaksin Typhoid. Biar nggak kena tipus lagi. Nggak kumat lagi." kata ibu mertua. 
Vaksin Typhoid, vaksin mencegah penyakit tipus

Saya tersenyum aneh gitu, sambil bercanda menjawabnya, "mas Zam takut jarum suntik loh mak. Ini dari kemarin sudah disurun vaksin sama kantornya, malah vaksin influenza juga dia nggak mau. Takut katanya."

Vaksin Influenza, pencegahan penyakit flu atau ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas)
"Panggil emak aja kalau dia lagi mau disuntik. Biar emak yang anter!", jawab emak singkat.

Buahahahaha, saya ngakak kenceng banget melihat wajah suami jadi pucat. Pulang kantor mendadak diberondong  ancaman kudu disuntik.

Karena penasaran dengan informasi IHHC dari ibu mertua, saya pun meluncur ke websitenya In Harmony Health Clinic.


Apa sih itu In Harmony Health Clinic (IHHC)?

Untuk menjawab trend pencegahan penyakit di tahun 2020, IHHC dibuat. 

In Harmony Health Clinic (IHHC) adalah sebuah layanan kesehatan modern yang berkomitmen untuk menciptakan pusat pelayanan kesehatan menyeluruh. Bener-bener holistik, mulai dari opsi layanan medis, alternatif dan preventif. IHHC ini punya visi untuk menjadi pelopor klinik imunisasi dan vaksinasi terlengkap, terdepan, serta pengembangan layanan preventif terkemuka di Indonesia.

Ini penting loh. Sebuah one stop solution yang memberikan layanan kesehatan berkualitas, terjamin dan terpercaya. Aneka vaksin yang saya sebutkan sebelumnya, itu tersedia di beberapa tempat. Di klinik dokter anak, klinik dokter umum, puskesmas bahkan saya pernah ditawari bidan dekat rumah, di tempat prakteknya yang sederhana dan kurang bersih,  untuk suntik vaksin HPV-Kanker Serviks. Waktu itu saya hanya diberikan beberapa brosur dan penjelasan bahwa jika ingin vaksin, maka harus inden dulu dan bayar DP. Antara percaya tidak percaya, saya dengarkan penjelasan bidan. Namun terbesit di hati kecemasan terhadap, “siapa lembaga yang memberikan vaksin? Apakah negara? RSUD? Atau Cuma pabrik produsen vaksin?”. Karena saya tidak yakin, maka saya tidak melakukan saran bidan. Salah suntik vaksin, bisa berabe deh gue…. Itu saja yang saya takutkan >.<

“Ingat loh Hen, anak-anaknya dijaga. Suamimu juga dilayani yang baik makannya. Bla..bla..bla..” nasihat berulang yang selalu diucapkan ibu mertua sebelum beliau pamit pulang, dan diulangi lagi ketika beliau menelepon. Uulalalaa…
Saya dan suami pun menyingsingkan lengan baju dan bekerjasama, berkomitmen untuk semakin hidup sehat. Tujuannya Cuma satu, mencegah penyakit. Walaupun ketika opname, biaya rumah sakit ditanggung asuransi dari kantor suami. Tetapi ya, perlu diketahui, biaya dan lain-lain ketika ada yang opname itu juga bikin pengeluaran membengkak. Ekstra makanan, ekstra keperluan seperti minyak kayu putih dan hal-hal yang membuat pasien nyaman serta penunggu pasien sehat jiwa raganya. Sehat itu mahal? Lah, sakit lebih mahal bro :)

Kami menjaga pola makan kami. Selain lebih sehat, juga lebih mengatur hati agar ketika makan itu perasaannya damai, menikmati, mensyukuri makanan yang ada. Terkadang karena faktor kelelahan dan kesibukan, saya tak bisa memasak dan menyajikan makanan sehat. Maka yang saya tanamkan pada keluarga adalah perasaan syukur terhadap makanan yang ada.
“Ayo dimakan sate ayamnya. Bismillah, niat menjadi jalan rejeki penjual sate ayam. Semoga kita sehat.” Aneh, nggak aneh, kami lakukan juga hal ini. Untuk mengatasi ketidaksempurnaan dalam usaha memberikan makanan sehat. Dari konsep Revolusi Makan, cara ini bisa menanggulangi metabolisme tubuh jadi lebih baik dalam mengolah makanan apapun yang masuk tubuh. Ikhlas bikin sehat, gitu lah kira-kira. Tentu saja komitmen makanan sehat, kami optimalkan sekuat tenaga. 

Kami pun menggiatkan diri berolahraga, bergerak. Empat buah sepeda sudah siap menemani kami mencari keringat di akhir pekan. Anak saya hobi main badminton, ya sering main di depan rumah. Suami malah mempraktekkan jenis senam unik, Senam Empet-Empet (Lin  Tieng Kung), yang marak di Surabaya. Biar geraknya sederhana, nih senam bikin keringat kita mengucur deras loh, padahal senamnya di dalam rumah nggak kena sinar matahari.

Selain makanan dan olahraga, kami berusaha makin harmonis. Makin akrab dalam keluarga. Menikmati betul detik demi detik bertemu keluarga dalam keadaan sehat. Ketika suami sedikit spanneng dan keras terhadap anak-anak, saya sering mengingatkan, “ingat jaman mereka opname. Kita paniknya luar biasa. Mikirnya macem-macem. Sekarang kalau kita bangun pagi, terus ketemu mereka sehat aja udah syukur loh. Terlebih melihat mereka tertawa gembira. Sudah itu cukup, jangan dibebani banyak pikiran. Toh masa depan anak bukan milik kita lagi.”
Ya, kami berusaha mengendalikan pikiran, emosi dan memanajemen stress supaya tidak menurunkan kekebalan tubuh.

Satu resep warisan lagi yang saya lakukan untuk menjaga kesehatan adalah dengan minum jamu. Ya, kebetulan ibu saya adalah penjual jamu ketika saya masih SD. Jadi, saya sudah biasa minum jamu. Ibu, menjual jamu seduh merek terkenal juga jamu rebusan sendiri. Untuk menjaga kesehatan, ibu menyarankan saya membuat minuman rebusan kunyit, temulawak dan asam jawa ditambah sedikit gula batu. Ini minuman favorit kami.



Jamu adalah pengobatan tradisonal warisan Nusantara, perlu diwadahi lembaga medis terpercaya seperti IHHC



Kalau sekarang, jamu dikategorikan pengobatan alternatif ya, atau Herbal. Nah ternyata di IHHC juga bakalan ada loh layanan Herbal. Dengan kualitas tenaga profesional di IHHC, produksi herbal-nya bisa dijamin aman. Karena kadang berbahaya juga kalau kita tidak tahu takaran atau efek samping dari obat Herbal atau jamu. Di IHHC ada divisi khusus yang menangani yaitu In harmony Alternative (IHA). Asik ya, jamu tradisional bisa naik kelas. 

Wis pokoknya, ingat pencegahan penyakit, ingat lembaga kesehatan terpercaya, ingat In harmony Clinic.Ingat ibu mertua, juga ingat In Harmony Clinic :)

Semoga Sehat Selalu.
@HeniPR 

keterangan : foto vaksin dan selain foto anak dan suami, diambil dari website In Harmony Clinic.













8 comments:

  1. Balasan
    1. kalau udah pernah ketiban 3 kali nungguin orang opname, kita mendadak bisa mencerahkan :D

      Hapus
  2. iya betul, kalo anak sakit pikiran kita suka macem2.
    moga sehat sehat terus yaa buat mak heni sekeluarga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga doa yang sama buat mak inna sekeluarga yaaa

      Hapus
  3. Wah beruntung juga mba punya ortu eh mertua yg care... semog keluarga mba sehat dan cepat pulih ya...

    Hmm dan memang mencegah lebih baik. Ga salah deh org bilang ingat sehat sebelum sakit...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ibu mertua saya emang asik mbak, walau emang pencemas hehehe

      Hapus
  4. Aku juga takut kalo urusannya dgn jarum suntik.Kalo untuk minum jamu jagonya meski rasanya super pahit.Hihi

    BalasHapus
  5. Wah, sama kayak ibu mertuaku mba, kami serumah dan baik-baik saja, saling memperhatikan.
    Sama, beliau juga pencemas, mungkin faktor U ya

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊