Podcast Bu Heni

Mendaur Ulang Tas Flanel Serbaguna

1 komentar
Kemarin membuat tas flanel ini, untuk dipakai kemana-mana ketika naik sepeda motor.

Isinya HP, dompet, dan kunci rumah

kadang-kadang juga, buat buku dan kaos kaki anak plus sedikit snack.

Too bad, yang namanya kain flanel dipakai, ya akhirnya mberudul.

Jadi terpaksa aku pensiunkan tas ini.

Lalu kucantolkan di sebelah cermin di kamar. Dan tralala...jadilah AKSESORIS ORGANIZER plus Message Board, eh sekalian wadah kosmetik ding.

Jadi, yang namanya aneka Peniti dan Bros [bikinanku sendiri] , kutancapkan di tas ini,

Lebih enak, jadi aksesorisnya nggak jatuh.

Kantongnya buat wadah pelembab, lipstik dan deodoran juga sisir,

nah Talinya, kupasangi jepit, pas banget buat njepit Edaran dari Sekolahan anak-anak.
Jadi si emak ini nggak bakal lupa lagi deh.

Yah, itung-itung recycle barang deh. Ngurangin sampah :D

Saya juga punya celana jins bututtt banget.
mau kuubah jadi tas , kok ya sayaaang benerrr.
Lah biar butut, tapi enak nyaman top banget dipakainya.

Apa mending di wenter aja ya? pakai warna yang gelap gitu biar bisa dipakai lagi??

SoulMate

Tidak ada komentar
Soulmate is not a person whom you want to live with.
Soulmate is someone who you can't live without


multitalented and complicated? Optimis saja !!!

Tidak ada komentar
Hari ini, Subhanallah-nyaaa, banyak sekali masukan bagus gus yang kudapat dari tayangan televisi dan internet.

Yang pertama :
dari Youtube, tentang pemuda tanpa kaki, tanpa lengan bernama Nick. Judul videonya, NO ARM, NO LEG, NO WORRY.

Yang kedua :
tentang tayangan seorang ibu dari Surabaya yang multitalented dan multitasking. asli beliau sih dari Bali, pekerjaannya adalah seorang DOSEN, BIDAN sekaligus PERIAS PENGANTIN. lulusan sarjana Sastra Inggris, Ekonomi, Kebidanan dan kursus merias.

Yang ketiga :
liputan langsung dari Yayasan Bumi Sehat di Bali, yang dikelola oleh ibu Robin Lim dari Hawai. Juga ada satu bidan lagi yang membaktikan dirinya di sana. Di liputan kali ini, ditampilkan juga prosesi ibu yang akan melahirkan di air. Takjub sekaligus ingat jadi mules lagi sebelum melahirkan dahulu.


Dari ketiga hal ini, aku sungguh terlipur begitu indahnya.
Hati ini kemarin bingung dan gundah, karena predikat multitalented. Walau predikat itu yang memberikan hanya suamiku saja. Dan eh, pernah juga ada seorang ibu kenalan baru yang menyebutku begitu.

Mengutip tulisan temanku,
"I'm multitalented that's why I'm so complicated"

"Saya banyak bakat, itulah kenapa saya ini rumit"

Adalah teman sekamar kos saya dulu yang menulis hal ini. Itu karena dia memang multitalented betulan. Bisa main piano, harmonika, drum, gitar, bisa nyanyi dengan merdu, bisa nulis, bisa nggambar kartun animasi yang bagus banget seperti komiknya Jepang, juga pinter ketika kuliah di Teknik Kimia ITB, sampai sekarang pun sukses membina Bimbel di rumahnya sampai anak didiknya bisa lolos beasiswa keluar negeri.

Dia pinter macem-macem, dan belakangan ketularan kegemaranku pada kerajinan tangan dan berniat belajar menjahit. >.<

Ajaib dan bingung.
aku juga begitu.

Ketika ada waktu kosong, aku akan bingung, mau ngapain :
nulis?
bikin bros handmade?
menyulam jilbab?
mendesain hiasan jilbab yang akan dibordir?
atau menyiapkan materi untuk klub sains for kids,yang diminta oleh sekolahannya anakku.

setelah bingung mau ngapain, ujug-ujugnya malah aku seringnya lari ke dapur buat beres-beres, atau mencuci baju, lalu kelelahan di depan tivi sampai waktu menjemput anak sekolah tiba.

akhirnya, semakin hari, aku semakin kecewa dengan diri sendiri.
dan akibatnya, semakin complicated itu tadi

Ndilalah, aku melihat sosok ibu yang punya 3 pekerjaan sekaligus itu, yaitu dosen, bidan, dan perias. itu pun setelah beliau menjadi pramugari dulu selama 7 tahun, dan jadi reporter di TVRI.
Beliau tenang-tenang saja.
karena semua yang dilakukan, memang kesukaannya dan panggilan hatinya,

jadilah,
keinginanku untuk bisa ini itu, pun ada suntikan semangatnya.

tidak ada dosa untuk menekuni seni membuat aksesoris dari kawat yang membuatku jatuh cinta. atau menekuni dunia sulam perca yang sepertinya lucu sekali. juga menekuni dunia buku dan tulis menulis yang kusukai sejak sekolah dasar dan membuat diary tebal-tebal. pun untuk menekuni kembali cintaku kepada sains dan menularkannya kepada anak-anak kecil.

Bismillah.
Hari ini aku optimis sekali, aku bisa.

:)





PATAH HATI

Tidak ada komentar
kalau ibu Bidan Robin yang menggagas adanya yayasan BUMI SEHAT di BALI, mengatakan, beliau PATAH Hati, ketika menyaksikan seorang ibu dan bayinya meninggal ketika dalam proses persalinan.

Maka, patah hati yang lain seringkali juga terjadi kepadaku.

Setelah kutelusuri, sejak aku SMP dan sering berkendaraan umum melewati kawasan Dolly atau Jarak di Surabaya, yang notabene sebagai kawasan para wanita PSK, disitulah aku mulai patah hati,

terutama, ketika aku melihat deretan wanita berpakaian minim, berdandan menor, duduk rapi di balik etalase rumah itu, aku patah hati.

sedih sekali melihat mereka mencari uang dengan jalan menjual diri. dan aku lebih patah hati ketika melihat ada perempuan yang masih sangat muda di dalam ruangan bernama wisma-wisma itu.

kasihan sekali.

dan kemarin, ketika aku berbincang dengan seorang saudaraku, dia pun bercerita, dua temannya yang melakukan hal yang sama.

yang satu,
ditinggal meninggal suaminya ketika anaknya kecil. lalu bekerja sebagai petugas pembersihan di salah satu wisma psk. akibatnya dan akhirnya terjebak dengan lelaki tua pemilih wisma itu. mau tidak mau, dengan ancaman sana-sini, lelaki tua itu tetap memaksa perempuan ini memenuhi keinginannya.
yang ,membuatku semakin patah hati.
aku pernah bertemu perempuan ini. bercanda, dan bertukar resep membuat martabak bihun. sama sekali aku tidak menyangka dia punya cara hidup seperti itu, untuk memenuhi kebutuhan anaknya [itu dalihnya].
miris. aku tak mau berkomentar tentang keimanannya kenapa mau menadah uang haram dengan menjual dirinya.
tapi, untuk hal-hal seperti ini, aku seperti ingin menyelami perasaan perempuan itu. apa bener dia senang?

dan ternyata tidak. sejatinya, di setiap langkah dia mau mengunjungi lelaki tua bedebah yang memanggilnya itu, hatinya luka tidak kepalang. sakit sekali.
tapi, mungkin juga, luka hati itu cepat terobati dengan beberapa lembaran uang seratus ribuan.

miris!!!


yang kedua,
seorang tetangga saudaraku ini. rela melakukan hal yang sama dengan perempuan pertama untuk sejumlah uang. dan ajaibnya, pasangannya adalah, lelaki tua tetangganya sendiri.

note : lelaki tua.
yang jauh lebih tua daripada umur suaminya yang masih hidup dan tinggal serumah, dan rukun-rukun saja.

alasan perbuatan ini, karena lelaki muda suaminya itu adalah orang yang tenang dan rileks saja ketika menjadi pengangguran tanpa nafkah untuk keluarganya.

gila!!

rasa marah ini selalu bercampur dengan patah hati semacam itu.

wahai kaum perempuan,
mungkin jika kau asah keimananmu itu lebih dalam. dan kau biarkan tangan dan kakimu lebih keras bekerja, maka kau takkan terjerumus di lembah-lembah nista semacam ini.

atau?
ini juga tugas kita - perempuan terhormat- untuk ikut serta menaruh perhatian kepada mereka?

bagaimana?
mungkin dengan membagi pelatihan ketrampilan kepada mereka?
mengajaknya masuk dalam jajaran bisnis kita, walaupun masih kecil-kecilan dan baru saja merintisnya?

entahlah.

hal ini seringkali mengganggu pikiranku.

jika bukan karena perempuan yang rela menjual dirinya seperti itu, aku pun juga sering patah hati ,

ketika melihat istri yang :
- "aku di rumah aja mbaak. males mau kemana-mana, panas. nggak level ketemu ibu-ibu yang udah pada sepuh. "

- :buat apa belajar naik sepeda motor, nanti aku disuruh ngantar-jemput anakku pula, jadi item nih aku. enakan begini, dirumah aja , adem.

yaitu, orang yang berkecukupan, suaminya baik boleh memberi kesempatan istri berkembang, belajar naik sepeda motor biar bisa kemana-mana, tapi istrinya yang malas menangkap kesempatan itu.

atau melihat istri yang :
- " aduh mbaak, aku nggak bisa kemana-mana. nggak boleh sama suamiku. dia cemburuan posesiv. aku gak boleh nyari duit, dia takut kalau istrinya punya penghasilan sendiri nanti malah ngelunjak. aku nggak boleh ikut pengajian, punya teman, dsb. aku stres deh, di rumah aja nggak boleh ngapa=ngapain."

yaitu, istri yang dikekang oleh suaminya yang posesive dan penuh prasangka buruk pada istrinya.

DUH, bikin PATAH HATI !!!

Nama Pena dan Merk

Tidak ada komentar
Tidak sering sih, hanya beberapa kali saja, ada orang yang keliru menyapa aku. Atau tepatnya menyapa akun facebook-ku yang bernama Jilbab Orin.

Pasalnya, dari beberapa perkenalanku dengan komunitas tulis menulis di facebook, ada seorang ibu keren yang memang asli punya nama pena Orin.

Saya baru saja belakangan ini kenal dengan beliau. dan cukup bersyukur, karena sebenarnya saya juga ingin memakai nama ORIN untuk brand segalanya tentang saya. Dan tidak jadi, karena sudah ada nama kembar :)

Siapa sebenarnya Orin?
Kenapa saya memakai nama Jilbab Orin, untuk toko jilbab online saya itu?

SIngkatnya sih, menurut saya itu adalah nama yang mudah diingat. Berpadu dua kata, tapi mudah disebutkan.

Nah, nama Orin, sendiri adalah panggilan saya waktu tinggal di Asrama Putri ITB di Jl. Gelap Nyawang Bandung [sebelum asramanya pindah]

Nama asli saya, kan Heni Prasetyorini
Nah, sudah ada senior yang dipanggil mbak Heni, jadi aturannya tidak boleh ada nama kembar.

Mau dipanggil Prasetyorini, kok panjang benerr.
dipanggil Pras, cowok banget kedengarannyaa..
dipanggil Rini, juga kalau ga salah udah ada deh senior bernama ini.

Alhasil, setelah ngobrol2 sama teman, [saya lupa namanya, sayang sekali :(], dia mengusulkan, kamu dipanggil ORIN aja Hen.
kan di dalam nama PrasetyORINi, itu ada nama Orin.

Saya pun setuju, dan kayaknya keren juga tuh, mirip Oshin, hehehe.

Alhasil, nama saya Orin disana.,
dan untuk teman-teman penghuni baru asrama ini yang selevel dengan saya waktu masuknya, akhirnya tergabung dalam angkatan baru, yang diberi nama angkatan Orin.

kalau ga salah, angkatan Orin, isinya : saya [Orin], novi, nina, neni, laila, shofa, ... duh saya lupa, atau udahan segitu aja ya???

dari semua teman ini, kami sudah ketemu lagi di facebook. senangnyaa...senaaagn sekali.

dan karena di asrama inilah, momen paling berkesan dari sejak saya kuliah di kampus ganesha itu, maka untuk mengenangnya saya mengambil nama Orin , untuk usaha online saya ini.

nah, nama Orin kan mirip-mirip juga sama Oshin tuh, jadi rada ke-Jepang-Jepangan gimanaaa gitu.
itu pun jadi alasan juga sih sebenarnya, pengennya dengan nama Orin, nanti saya bisa ngumpulin dana buat terbang ke NEgeri Nippon itu.

saya suka sekali dengan Jepang. bahkan ketika sudah punya anak sulung umur 3 tahunan, saya ikut kursus bahasa Jepang dasar, MInna no NIhon Go.
dari level 1a dan 1 b, saya bisa masuk jajaran terbaik nomer dua. jadi sambil ngasuh anak, saya belajar bahasa Jepang.

Namun, belajar kursusnya mandeg, ketika saya pindah rumah dan kemudian lanjutt sampai punya anak kedua.

bahkan di awal awal membuat logo JIlbab Orin, saya menggunakan huruf katakana, Orin. di bawah gambar bunga matahari dan tulisan Orin.

tergila-gila dengan Jepang deh pokoknya :)





tapi itu sudah tidak terlalu menghantui pikiranku saat ini. gak terlalu obsesi banget deh. moga2 aja jika ada rejek dan takdirnya ,nanti ada anakku yang bisa sekolah disana. jadi saya bisa sempat kesana suatu saat nanti.

spirit handmade Jepang, yang lucu-lucu itu saja, yang masih nyetrum di diriku ini. jadi for next, aku tidak akan keberatan jika harus mengganti nama Jilbab Orin, yang menurutku sih sebenarnya bukan brand, karena tidak 100% aku produksi sendiri semua koleksi jualanku itu. kalau Brand, kan murni produksi kita sendiri kan ya? bener kan?

ada satu konsep nama yang kupikir nanti bisa fleksibel di dunia handmade maupun fashion. beda dengan paduan nama JIlbab Orin, yang artinya, barang yang ada di dalamnya, setidaknya mencerminkan busana muslim saja.


Suka foto Ini

Tidak ada komentar