Podcast Bu Heni

Bisnis Bukan [hanya] Cari Uang

Tidak ada komentar
Pertama, saya kemarin nonton acara Kick Andy di Metro TV. Temanya adalah Kids-Preneur, yaitu profil para pemenang lomba usahawan cilik yang diadakan oleh bank Permata. Menarik sekali, terutama profil usahawan kakak beradik laki-laki yang menjual replika mobil kuno,brosur dan onderdil mobil kuno. Dua anak itu bernama Sena dan Wibi. Kedekatan mereka dalam bersaudara membuat saya ingat dua anak lelaki saya, Aldo dan Aji. Saya sungguh berharap kelak mereka tumbuh dewasa sebagai sahabat. Dan melihat contoh kemarin, mungkin saja lewat bisnis bersama sejak kecil mereka akan semakin akrab. Saya mulai berpikir untuk mengenalkan bisnis pada mereka. Mungkin tentang kaos sablon digital printing atau kaos berlukis fabric crayon dengan gambar buatan mereka sendiri. Karena mereka gemar sekali menggambar. Dan Aldo, si kakak, sudah mulai mencoba sendiri menggambar dengan Photoshop. Semoga ada jalan yang mudah untuk memulai hal tersebut, untuk pembelajaran.

Bisnis dikupas sedikit oleh pak Renald Khasali di acara metro TV itu dengan singkat tapi kena pas banget padaku. Bahwa generasi sekarang adalah tipe Connected Generation. Yaitu generasi yang terhubung satu sama lainnya, terutama lewat internet atau blackberry. Bahkan pak Renald berkelakar, anak sekarang baru lahir saja tangan kanannya sudah pegang mouse. Karakter lain dari anak sekarang adalah mereka bertipe Driver = pengemudi. Mereka mulai bisa mengemudikan hidup mereka sendiri. Soft skill mereka bagus, mereka bisa presentasi bisnis dengan baik, berpromosi dengan yakin dan tekun menjalankan usahanya.

Pak Andi F. Noya selaku host menanyakan bahwa dulu ada kekhawatiran jika anak diajari mencari uang atau berbisnis maka akan merusak konsentrasinya belajar di sekolah. Jadi sejak kapan anak diajari bisnis, begitu tanya pak Andi selanjutnya.

Dan pak Renald menjawab, "sebenarnya bisnis juga belajar. Asal dibimbing dengan baik. Harus ditekankan bahwa bisnis itu tidak mencari uang. Uang bukan tujuan. uang adalah akibat. Yang perlu diperhatikan adalah pembelajaran dalam berbisnis, seperti tekun, kerja keras, jujur, berkomunikasi dengan baik, melayani pelanggan, pencatatan teratur, disiplin dan sebagainya. Dengan bekal ini maka karakter anak akan terbentuk mandiri dan tangguh.

Yang tidak kalah penting, lanjut pak Renald, kita harus mengawasi bacaan anak tentang bisnis. Tentu bacaan ini bisa mereka dapat dari mana saja, terlebih dari internet. Kita harus membimbing mereka agar tidak salah menafsirkan. Karena sekarang banyak beredar bacaan yang memberikan cara instan untuk sukses berbisnis dan sebagainya. Seperti halnya konsep "The power of Kepepet", Kerja Cerdas, dsb.

Bisnis harus dikonsep dengan baik, dan tidak perlu menunggu untuk kepepet dulu baru bergerak dengan sungguh-sungguh. Juga tentang kerja cerdas, jangan sampai anak menafsirkan bahwa bekerja cerdas itu berarti tidak perlu bekerja keras. Karena tidak ada satupun bisnis di bumi ini bisa sukses tanpa kerja keras.

Kata-kata pak Renald ini sangat baru bagi saya. Memberi konsep baru tentang bisnis dan terutama kaitannya dengan anak-anak. Sekaligus juga menguatkan saya untuk tetap menekuni bisnis yang telah saya mulai dua tahun yang lalu. benar memang kata beliau, dalam bisnis ini banyak hal yang bisa disebut pembelajaran.

Kemudian baru tadi, saya tak sengaja menekan channel TVRI dan menemukan acara Rumah Perubahan Renald Kasali. Disitu beliau menunjukkan buku yang beliau tulis, berjudul Recode, Change Your DNA. Sekilas kalimat singkat yang saya ingat adalah kita harus beradaptasi dengan baik saja dalam hidup yang selalu berubah.
Langsung deh, saya tertarik untuk membeli buku ini. Dan ternyata, setelah saya cari di Google, berita bahagianya adalah pak Renald berbaik hati untuk membuat ebook gratis dari buku tersebut. Linknya disini. Sementara info tentang ebook gratis ini saya peroleh dari blog seseorang disini
Tanpa menunggu, ebook itu langsung saya download. Dan alhamdulillah, ebooknya ada berbentuk pdf, bisa dibaca, ada beberapa foto menarik dan tentu saya akan lanjut membacanya malam ini juga. Jika tertarik silahkan klik link yang saya berikan di atas.

Semoga bermanfaat >.<
Heni Prasetyorini

Kutahu Yang Kumau

Tidak ada komentar
Beberapa hari ini nonton tivi, menampilkan profil artis. Acaranya apa ya? singkat cerita sajalah. Ada dua artis yang dibahas. Famous semua. Yaitu Agnes Monica dan Dian Sastro.

Kedua artis ini diberi komentar yang sama oleh rekan dekatnya atau ibunya. Bahwa mereka berdua itu Tahu Yang Dia Mau.

Artinya mereka tahu benar apa keinginan mereka di masa depan. Membuat rencananya dan melakukannya. Keren betul. Apalagi pas di acara profil Dian Sastro ditunjukkan diarynya masa SMA, disana ditulis beberapa mimpinya atau ibunya bilang Repelita Dian [Rencana Pembangunan Lima Tahun] versi Dian. Dan beberapa tercapai, beberapa tidak.

Saya jadi ingat ketika membongkar buku dan menemukan diary. Bener juga, ada beberapa hal yang saya tulis dan tanpa sadar semuanya terjadi. Menikah cepat, punya anak laki-laki semua dan bahkan tanpa sadar di salah satu buku campur yang mencatat tentang resep dan kesehatan, saya menulis info tentang bayi prematur. itu saya nulisnya ketika masih kuliah. Eh Subhanallah, Masya Alloh, Allohu Akbar, ternyata bayi kedua saya lahir prematur.

Menuliskan mimpi atau keinginan ternyata tanpa sadar memberikan koridor yang jelas bagi kita untuk melangkah ke depan. Walau benar-benar itu semua saya lakukan tanpa sadar. Atau malah ini disebut "dibawah sadar ya"? entahlah. Ketika masih sekolah saya rajin menuliskan keinginan ini dan itu. Dan tanpa sadar pula saya mempunya semangat sangat membara jaman sekolah.

Nah, belakangan saya merenungi diri sendiri, kenapa semangat itu tak semenyala dulu. Kenapa saya juga tak memulai menuliskan mimpi saya lagi?
mungkinkah karena :
1. sejak punya anak, saya ragu untuk mempunyai mimpi lagi. karena walau berencana secanggih apapun, akhirnya eksekusi rencana itu harus sesuai dengan kondisi anak, suami dan rumah tangga. alias, saya sudah sangat sering harus mengalah mundur agar mereka semua maju. mungkin ini yang membuat saya enggan bermimpi lagi.

2. zona nyaman. kemarin saya anti dengan kenyamanan. lalu beberapa teguran dari Alloh SWT datang pada saya. paling gress ya ketika tulang telapa kaki saya retak tempo hari, dan harus menjalani operasi besar tipe tiga untuk memasang kawat diantara tulang kaki saya itu. Sakitnya luar biasa dan pengalaman ketika operasi sungguh membuat saya takut meninggal. Jujur itu benar. Akhirnya karena takut meninggal dan melihat anak-anak, maka fokus saya saat itu sudahlah melepaskan saja semua mimpi yang muluk-muluk dan kembali menginjak bumi dimana anak-anak saya berada.

3. banyak alasan dan semakin malas. namanya otak dan otot itu mirip. jarang dipakai, ya lembek bin letoy. ini benar terjadi pada saya. Menulis yang biasanya saya lakukan spontan membahan badai halilintar [eh niru jeng syahrinem hehehe], ini karena saya lama betul tidak menulis, jadinya sulit sekali. Membaca dengan tenang juga sulit, saya masih selalu emosian dan membaca cepat. Bahkan novel tebal Perahu Kertas habis dalam sehari semalam saja. Karena penasaran juga tidak bisa membaca lambat lagi, takut dikejar pekerjaan lagi.

Begitulah, saya membolak-balik hati, kenapa semakin pesimis dari hari ke hari. Kenapa ya, toh saya berusaha untuk memompa semangat diri sendiri ini setiap hari loh. Ternyata eh ternyata saya mendapa jawabannya setelah membaca timeline di twitternya pak Ippo di @ipporight. Beliau menunjukkan konsep Input in Output Out. Garbage in Garbage Out.

yang artinya, Apapun yang masuk dalam pikiran kita- itulah hasil yang keluar. Jika bacaan-tontonan-teman kita positif dan semangat, kita pun ketularan begitu. Jadi semangat, optimis dan yakin,

Tapi, kita akan mudah pesismis jika suka melihat berita negatif, tontonan horor,..

nah jreng jreng itu dia, BERITA NEGATIF. inilah biang keladinya. Sejak jadi ibu rumah tangga, karena menghindari sinetron, saya rajin nonton berita. Lah, berita di negeri ini berapa persen yang positif? mayoritas negatif semua. Ini diaaa, saya kebanyakan nonton berita negatif, seperti korupsi, perceraian, rusuh, banjir, dll. Pantesan saya keder sendiri secara tidak sadar.

Lalu ada lagi, karena menjadi ibu rumah tangga yang ingin posisinya aman di masyarakat sosial, saya merasa semakin sering diam memendam kalimat yang ingin saya sampaikan. Misalnya ingin menjelaskan pentingnya konsep bahwa belajar di rumah itu oke loh bu, daripada anaknya dibawa kabur les kesana kemari sampai kecapekan. Nah itu kalimat haruus saya telan terus, karena kuatir menyinggung perasaan teman sesama ibu-ibu. Atau semacam itulah kasusnya. Karena saya harus diam dan diam tanpa konsep diam yang baik , maka saya merasa untuk menambah ilmu lagi jadi sia-sia dan tidak bersemangat. Ini juga biang keladi rasa pesimis dan malas saya ini.

Tapi untunglah, alhamdulillah. Berkat gemar internetan dan membaca dengan seksama saya terinspirasi oleh status seorang teman yang menunjukkan simpati dan kagum pada temannya. Ibu rumah tangga, punya dua balita, baru melahirkan dan bisa lulus di kuliah online gratisan di www.coursera.org. Nah status ini bikin saya penasaran lalu membuka link website itu. Kuliah online gratis, asik sekali. Dan ketika saya buka, eh benar, disana banyak sekali materi kuliah dan kursus yang ditawarkan. Yang menarik bagi saya adalah tentang sains, menulis, psikologi dan digital. Yang membuat keder dan terhenyak adalah kudu pake bahasa Inggris ciin. *mukul kepala sendiri - salah sendiri dah lama kabur kalau ada bahasa Inggris yang serius. [apa saya perlu kursus lagi? hehehe]

Ah, setidaknya, ibu itu memberi saya motivasi dan contoh yang luar biasa. Memberitahukan pada saya bahwa harapan itu masih ada terbentang begitu luas. Lambat laun, saya kembali tahu apa yang saya inginkan. Kutahu Yang Kumau.

{Break} because of my BrokenBone :)

1 komentar

saya sedang dapat rejeki nih
bisa istirohat, leha-leha dan nggak kemana-mana
karena baru operasi pasang pen [wire]
akibat fractur metatarsal basic v .

salam sehat buat semuanya yaaa, terima kasih yang sudah mampir kesini :)


Ceritaku Bersama Matahari

Tidak ada komentar



Matahari masih garang memanggang siapapun yang lewat dibawah sinarnya. Berikut aku dan dua anakku. Setiap hari di siang bolong, berkendara bertiga menembus jalanan beraspal yang tampak menguap. Panasnya matahari seakan bisa membuat otakku mendidih, bahkan setelah ditutupi oleh jilbab dan helm. Luar biasa derajat panas sedikit sinar matahari yang jatuh ke bumi itu. Atmosfer !!! teriakku setiap hari. Apa yang terjadi padamu hingga sejuk masih jadi mimpi. Dan oh ya itu, OMG, kenapa kotaku ini belum juga terjamah oleh air hujan? Bahkan di Jakarta yang super panas juga itu sudah hujan. Di Lamongan juga, yang bagiku lebih panas daripada Surabaya, juga sudah hujan. Lalu kenapa disini, kotaku, Surabaya, masih kering kerontang?

Kotaku menjadi kota pahlawan kesiangan. Bukan pahlawan yang telat menolong korbannya. Tetapi pahlawan yang mengering karena terlalu panas menahan matahari siang. Bahkan ya, untuk pergi keluar rumah pukul delapan pagi pun, aku perlu perlengkapan khusus. Scarf segitiga penutup hidung dan muka, kaos tangan, kaos kaki dan sepatu. Walaupun perginya cuma sejarak lima belas menit perjalanan, tetapi tanpa perlengkapan perang itu aku masih kalap kepanasan. Jika kalap kepanasan di jalan, rasanya tidak tenang. Ingin memacu gas motor maticku dengan terburu-buru agar segera lari dari matahari. Nah buru-buru di jalan raya adalah hal yang berbahaya. Maka biar aku bisa berkendara dengan tenang, maka kututupi semua tubuhku kecuali yang terlidung oleh kacamata. Kalau begini, amanlah sudah.

Kenapa Surabaya tidak juga turun hujan? Apakah kami terlalu banyak dosa?
Ya sudahlah jika itu benar. Semoga keringat kami bisa menggugurkan dosa-dosa itu. Amin.

Terkadang aku heran, dulu di masa kecil aku merasa nyaman saja beraktivitas di kamar kecil berempat. Padahal atap kamar kami itu terbuat dari seng. Terbayang jika siang hari, panasnya bagaimana? Bahkan ketika tidur pun, aku sering tidak memakai kipas angin kecil kami. Memang sih, sebelum tidur siang, sepulang sekolah, aku seringnya mandi dulu lalu memakai bedak bayi banyak-banyak dan lelap tidur.Tetapi aku tetap nyaman tidur, belajar atau bermain di dalam kamar sampai mandi keringat. 

Sekarang, kondisi rumahku jauh lebih baik. Dengan atap genteng yang pasti lebih sejuk. Namun ketika ada panas seperti ini, rasanya, ampun, tersiksa sekali. Kepala seperti mau pecah, pusing sekali. Badan penat semua, pegel linu. 

Entahlah, ini faktor umur juga mungkin. Karena dua anak lelakiku juga santai saja dengan panas seperti ini. 

Workshop Wire Jewelry #1 di Kebun Bibit Surabaya

Tidak ada komentar
Alhamdulillah, akhirnya Workshop Wire jewelry di Kebun Bibit Surabaya, terjadi juga ^_^
Horeee...

Ini pertama kalinya saya jadi Tutor. Deg-degan juga, takut salah omong, atau bikin kecewa atau ngajarinnya geje [gak jelas].

Namun berangkatlah dengan persiapan yang sudah kulakukan satu bulan sebelumnya. Membuat beberapa model cincin dan mengira-ngira cara mengajarkan yang mudah dimengerti, sekaligus mengukur panjang kawat dan jumlah bahan yang dibutuhkan di tiap model cincinnya. 

Sekali lagi, terima kasih untuk mbak Ririe Rengganis dan ers pengurus My Sister;s Fingers yang memfoto dan mengupload foto ini. Link asli foto disini ya 


Persiapan dan menunggu Peserta lain datang. 


ada yang butuh di reparasi cincinnya ^_^



beberapa cincin untuk contoh teknik wire yang saya buat

dan mbak Arina, sukarela memfotoinya ^_^

hasil cincin-cincin kamiii

pose sebelum pulang, cibi-cibiiii



Nah, inilah salah satu kegiatan rutin komunitas craft My Sister's Fingers di Surabaya. jika ingin tahu lengkapnya coba klik link di bawah gambar ini ya, 

[sedikit] Cerita Korden Pink

2 komentar
Korden pink menyala terselip di areal dinding warna oranye pasta. Sungguh tidak matching sama sekali ^_^

Apa mau dikata, perkara korden dan cat tembok tidak bisa singkron dalam sekejap. Ketika husbano memutuskan upgrade cat rumah dan memilih warna orange, aku menyesal luar biasa kenapa pas tukang jual korden keliling lewat itu, aku belinya korden warna pink banget. Kenapa nggak beli warna krem aja gituu, biar netral. #sighmenyesaltiadaguna

Dan muncullah keingin menyamaratakan korden di rumah dengan warna klasik dari kain blacu. Namun, begitulah, perkara jahit menjahit sering masuk urutan mbuncit kecuali terpaksa buanget. Atau penasaran buanget.

Mungkin hal ini akan terkikis oleh waktu. Artinya, makin lama, aku makin suka dan ringan tangan saja untuk menjahit, heheh. Mudah-mudahan tetanggaku itu mau menjahit-jahit ria,dan main kerumahku. Tidak lagi sendirian di rumahnya dan meratapi suaminya yang telah berpulang itu.

Cerita sampai disini dulu, karena harus persiapan besok ada tutorial wire jewelry oleh saya sendiri. Semoga lancar dan yang datang puas dengan tutorialnya. Sekaligus bisa bermanfaat. Amin.