Podcast Bu Heni

Cara Menyimpan File Menjadi Bentuk pdf

2 komentar
Akhir-akhir ini saya rajin mencari bahan untuk belajar Kimia dari internet. Karena masih punya anak kecil, dan biasanya rebutan modem kalau mereka sudah pulang sekolah, maka saya harus rajin menyimpan file dari internet itu dalam bentuk pdf. Supaya nanti malamnya, atau pada waktu luang, saya masih bisa buka file itu lagi tanpa harus koneksi dengan internet (memakai modem).

Saya ingin membagikan caranya, semoga sedikit bermanfaat ya :)

1. Buka link artikel yang kita perlukan.

2. Saya memilih artikel tentang Enzyme Classifications 


3. Klik kanan. Pilih CETAK


 4. Muncul Kolom seperti di bagian kiri. Pilih tombol yang ada tulisan :SIMPAN SEBAGAI PDF"
     Lalu klik SIMPAN


5. Akan muncul Pilihan Folder tempat kita menyimpan file tersebut. Buatlah folder sendiri yang rapi


6. Simpan file tersebut. Save as type, Adobe Acrobat Document



 7. Selesai.

Cara ini sangat menguntungkan. Karena menyimpan artikel dalam bentuk pdf masih bisa menyimpan gambar ilustrasi yang memudahkan kita untuk belajar, seperti dibawah ini :


8. Jangan lupa, untuk membuka file bentuk pdf, kita harus mendownload dulu Acrobat Reader. Gratis di internet. 

semoga bermanfaat ya. Kita bisa belajar gratisan dan berkualitas tinggi dari internet. Semangat :)

selain menyimpan file as pdf, kita juga bisa mendownload video. Seperti contoh digambar ini, cara mendownload video ada disitu langsung.

Di acara Open House Chemistry Week ITS 2013

Tidak ada komentar


Kemarin, hari Sabtu 2 Februari 2013, kami berlima pergi ke acara yang diadakan oleh para mahasiswa jurusan Kimia ITS. Yaitu Open House Chemistry Week ITS 2013. Lokasinya di gedung jurusan Kimia ITS. Saya tahu tentang acara ini dari twitternya anak ITS, yaitu @ITS_Surabaya dan @ChemweekITS. Belakangan saya memang mengikuti tweetnya anak-anak ITS ini, biar tahu bagaimana perkembangan disana. Sebelum saya mengeksekusi rencana untuk melanjutkan studi di kampus itu. 

Kami diantar oleh keponakan saya yang sudah lulus S1 Statistik ITS dan sedang thesis S2 Statistik ITS tahun ini juga. Suami saya sebenarnya alumni ITS juga, alumni D3MITS [D3 Mesin ITS yang lanjut ke S1]. Tapi studinya juga di jaman dahulu kala, jadi kalau nganter ke jurusan mana gitu sering kesasar. Biar nggak ada resiko, ponakan saya todong aja jadi Tour Guide :)

Sebenanrnya saya salah duga juga sih, saya kira di Open House ini semuanya akan di "open". Bahkan Tata Usaha pun buka. Ternyata keliru. Di acara ini hanya ada pameran karya mahasiswa serta dosen dan Tour Lab [keliling ke laboratorium]. Ya sudah, tidak apa-apa. Yang penting saya kenal jurusan Kimia di ITS, Laboratoriumnya dan juga mengenalkan pada dua anak saya sedikit tentang kimia.

Nah inilah Photo Story-nya. Kami berhenti di bangku-bangku yang sudah disiapkan. Sebuah percobaan atau hanya laptop yang menjelaskan tentang kegiatan yang dilakukan. Untuk foto di bawah ini, ada demo kimia untuk Uji Kandungan Formalin dalam makanan [pentol bakso].

Saya iseng nanya ini itu pada dua mahasiswa yang menjelaskan percobaan tersebut dengan malu-malu.

"Ini bu reaksinya" [mereka menyodorkan kertas gambar mekanisme reaksi]

"mekanisme reaksinya gimana mas?"
"ini hasil ujinya kalau positif, warnanya ungu ya? itu terbentuk senyawa apa?"
"apa senyawa Mangan? permanganat?"

"bukan bu, itu dari reaksi dengan ini" [menunjukkan larutan pengujinya]

"laiya, itu ungu karena terbentuk senyawa apa?"

[mereka bingung]

[saya menunjuk ke kertas bertuliskan mekanisme reaksi dengan gambar molekulnya]
"ini terjadi apa? harusnya ini kan ion?"

"bukan bu, ini formalin"

"loh, formalin bukan sesederhana ini kan ya?"
"ini aldehid ya, formalin kan formaldehid, iya nggak?"

"iya bu, jenis alkanal" [mereka rada lega]

"trus H2SO4 (asam sulfat) ini untuk apa?"

"alkalis bu, biar reaksinya cepat"

"mas dan mbak, angkatan berapa?"

"2012 bu"

"ooh pantesan, masih kimia dasar ya"

"iya bu. mmm, ibu guru atau dosen dari mana?"

"rahasia" [saya nyengir lebar]


 Nggak ada maksud untuk menguji sih, saya ingin menguji diri sendiri juga, apakah masih ingat tentang reaksi kimia. Tetapi ponakan saya berbisik, "mbak lagi nguji ta?". Hehehe, saya nyengir aja. Suami saya yang lihat kejadian itu juga cuma nyengir. Apalagi ketika mahasiswa itu bilang, "ibu,guru atau dosen dari mana?"
Saya jawab, "rahasia". heheheh, kagak tau dia kalau saya ini ibu rumah tangga. Dosen dari dapur, hahah


Aldo dan Aji sedang praktek memakai Pipet



Setelah nggak tega lihat mereka berdua pucat saya berondongi pertanyaan, heheeh, iseng loh beneran. Saya lanjut ke meja lain yang menerangkan hasil penelitian dosen kimia ITS. Yaitu Zeolit untuk penyimpanan Hidrogen dan Gelatin dari kulit ikan Pari. Ketika berhenti di stan zeolit, saya ingat tentang konsep sel bahan bakar sebagai bahan bakar alternatif yang keren sekali menurut saya. Waktu itu tahun 1997 saya pertama membacanya di textbook General Chemistry. Saya lingkari, saya tandai, "keren sekali jika ada mobil berbahan bakar air seperti di sel bahan bakar ini." Dan Subhanallah, sekarang, ternyata jadi kenyataan. Mobil ramah lingkungan di luar negeri, sudah ada yang memakai air sebagai bahan bakar, dengan sel bahan bakar. 

Kemudian kami diajak Tour Lab, berkeliling laboratorium. Suami, anak dan ponakan saya baru pertama kalinya masuk lab kimia. Ponakan saya berbisik, "mbak dulu juga di lab kayak gini ya?"


Sedang ditunjukkan alat Oven Bahan Praktikum

di Laboratorium Instrumen Kimia ITS, saya terkagum-kagum pada Ruang Asam-nya, yang  keren dan bagus sekali. Juga pada oven alat praktikum, yang bisa dipakai untuk mensterilkan alat dari apapun bahkan bakteri. jadi tidak usah susah pakai autoclave yang seperti panci presto bandeng itu. Saya dulu pakai autoclave untuk mensterilkan alat praktikum mengisolasi DNA bakteri tiphus. Repot dan lama sekali. Ahai...sudah belasan tahun, maklumlah tidak tahu perkembangan dunia kimia dan laboratoriumnya. Berkunjung di acara ini membuat saya bernostalgia sekaligus mengingatkan saya lagi, Ya Rabb, ternyata passion saya beneran di kimia. Mungkin suami saya melihat binar mata saya begitu bahagia disana, sehingga dia makin yakin untuk mendukung niat saya untuk kembali ke kimia lagi. Oww lope you my dear.
acara selesai, setelah kami dapat es krim gratis. Lalu kami berlima lanjut mampir ke Warung Tegal dekat kampus ITS. trus meluncur pulang.

inilah ponakan saya. yang manggil saya mbak, bukan tante :)


 mumpung ada yang motoin. bisa foto berempat sekeluarga
di gazebo jurusan Statistik ITS



Berkat "Kebiri Kimiawi"

Tidak ada komentar
Dalam minggu ini saya seperti sedang mengalami transformasi diri secara besar-besaran. Perubahan yang hanya karena satu lintasan isi kepala. Dan itu merambat menjadi penemuan hebat.

Dimulai ketika hati geram dengan ngakaknya isi gedung DPR ketika acara fit n proper tes calon hakim Daming. Geram atas nama marah pada kejahatan seksual dengan segala bentuknya. Lalu saya munculkan sebuah status geram itu di fesbuk, dengan menyertakan istilah baru yaitu KEBIRI KIMIAWI untuk pelaku kejahatan seksual.

Sedikit informasi tentang hal ini, Kebiri Kimiawi, prosedurnya seperti berikut : pelaku perkosaan diberi pilihan hukuman. Mau dihukum penjara seumur hidup atau dikebiri secara kimiawi lalu bebas. Nah, kebiri kimiawi dilakukan lewat suntikan pada lengan si pelaku. Suntikan itu berisi zat kimia yang bisa menghilangkan hasrat seksual pelaku tersebut [dalam hal ini laki-laki]. Tujuan hukuman ini agar pelaku tidak sembarangan atau bahkan biar hilang hasrat seksualnya sehingga tidak membahayakan calon korban berikutnya. Efek samping dari zat kebiri ini adalah penurunan kesehatan bahkan sampai pengeroposan tulang. Jadi setelah dikebiri kimiawi, laki-laki itu akan letoy seumur hidupnya. Cukup mengerikan bukan? dan balasan yang setimpal menurut saya sih. Hukuman ini sudah diterapkan di beberapa negara. Kalau tidak salah ingat, di Cina dan Amerika. Berita ini saya lihat di televisi.

Kebiri Kimiawi...itu terngiang di kepala saya.
Dan lalu, Ahaaa... kimiawi !!
hebat sekali ya, penemu zat kimia ini. mendadak di kepala saya muncul gambaran tentang seorang peneliti yang asyik bekerja di laboratorium. Lalu dengan tim risetnya membahas tentang zat yang paling efektif untuk kebiri kimiawi ini. Kemudian menyusul pula terpampang gambar tabung eppendorf, cawan petri yang berisi gel untuk membiakkan bakteri. Tercium bau ruang asam, tempat membuka dan mengambil zat kimia yang berbahaya semacam Asam Sulfat pekat. Erlenmeyer, tabung reaksi, bahkan bak cuci alat praktikum pun muncul di kepala saya.

Kimia, oh Kimia.
Saya sungguh terbawa lagi suasana belasan tahun yang lalu ketika berkutat di laboratorium kimia. Terutama ketika di LIPI Bandung ruang biokimia molekuler. Ketika saya mengerjakan tugas akhir, meneliti reaksi atau interaksi antara DNA bakteri typhus dengan ekstrak dari tanaman Gardenia tubifera wall. Mengerjakan penelitian bersama dengan ketua balai LIPI Biokimia saat itu yaitu bu Zalinar Udin. Perempuan bertubuh kecil, kenes, pintar dan belum menikah sampai usia lebih dari empat puluh tahun. Yang selalu menyebut, calon suamiku, sebagai "Laki Elu itu ya!"

Aih, saya rindu.
Saya rindu kimia. Saya ingat ketika berfoto memegang tabung eppendorf saat melakukan elektroforesis DNA. Lalu saya menuliskan di album foto itu, Calon Peneliti Biokimia.

Saya betul tersengat. Mendadak juga dalam pikiran saya bicara seperti ini. "Jangan-jangan, kembali ke jalur kimia adalah tugas penciptaanku di dunia ini. Jangan-jangan Alloh SWT memberiku minat sekaligus kemampuan di bidang kimia, karena ingin saya berhasil membuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Seperti halnya pembuat zat pengebiri kimiawi itu tadi.

Kuliah Lagi.
Kuliah lagi, menapaki jalan untuk menjadi dosen dan peneliti lagi.
Iya, hati saya berkata berkali-kali. Iya , inilah yang saya inginkan selama ini. Walau bertahun-tahun berusaha untuk dipendam dan dialihkan ke dunia bisnis atau kerajinan tangan, tetap saja hati saya masih terus merasa belum pada tempat yang tepat. Belum pada konfigurasi elektron kehidupanku yang sebenarnya. Saya masih tereksitasi kesana-kemari. Melepaskan elektron. Berpasangan dengan elektron dari unsur tetangga. Agar bisa stabil mirip dengan gas mulia. Namun saya belum stabil. Karena berusaha begitu keras melepaskan passion.

Ya, kimia adalah passion saya. Itu adalah passion saya.
Dan walau sudah belasan tahun saya menjadi ibu rumah tangga, saya yakin bisa kuliah lagi. Insya Alloh pasti. Hal yang sungguh membahagiakan lagi adalah ketika membicarakan dengan suami, beliau mendukung lebih dari seribu persen.

Sayangku, anak-anakku. Semoga dilancarkan, mama ingin kuliah lagi. S2 Kimia lagi.
Kita belajar bersama ya sayang. Nanti kalian akan diajak ke laboratorium mama. Dan akan mama kenalkan yang namanya erlenmeyer, tabung reaksi, pipet, aquadest, dll. Bismillah semoga Alloh SWT meridhoi. Amin.

Ketika percakapan batin ini terjadi, saya merasakan pompa semangat yang luar biasa muncul kembali. Ketika kemarin bangun pagi dengan kebosanan luar biasa. Kali ini, tidak. Semoga ini juga adalah jawaban, dari doa saya kepada-Nya, "berilah saya petunjuk, apa yang harus saya tekuni dan saya lakukan agar menjadi hamba-Mu yang bermanfaat"

My Wirecraft

Tidak ada komentar














Menjelang dan Awal 2013

Tidak ada komentar
Allahu Akbar. Subhanallah.
Dua kalimat itu sungguh bisa mewakili apa yang terjadi padaku di akhir 2012 dan di awal 2013. Tahun Masehi.

Bulan Desember, aku mengalami retak telapak kaki metatarsal basic V. Dan untuk pertama kalinya di infus, sekaligus langsung masuk ke ruang operasi yang lampunya gede-gede itu. Untuk kemudian dibius total dan dipasang kawat di tulangku yang retak itu.

Seumur-umur hanya sakit pilek dan pegal. Mendadak harus masuk rumah sakit dan mengalami peristiwa bernama o-p-e-r-a-s-i. Benar-benar sesuatu.

Yang namanya operasi, ternyata, walau sang dokter mengatakan rasanya cuma cekit-cekit sedikit. Namun kenyatannya, sakit pasca operasi itu Masya Alloh, sakiiiit banget. Namanya kaki kiri ini sakit sekali kalau digerakkan. Dan begitulah, alhamdulillah, hari ini tepat satu bulan pasca operasi, dan sepertinya besok sudah bisa naik sepeda motor matic lagi untuk menjemput anak-anakku pulang sekolah.

Perkara operasi beres sudah. Tidak sakit. Namun hikmahnya luar biasa. Alloh Maha Mendidik umat-Nya.

Yang membuatku sangat ringan menjalani awal tahun baru masehi 2013 ini, adalah banyaknya ilmu yang diberikan oleh Alloh SWT kepadaku lewat cara apapun. Dan akhirnya ilmu itu membuatku bisa memahami diriku sendiri. Bisa menerima peristiwa yang terjadi dengan pandangan baru. Banyak pencerahan yang kuperoleh terutama dari BUKU yang kubaca. Buku yang kudapat dari obral bukunya penerbit Mizan juga ebook gratis dari pak Rhenald Kasali.

Kedua bacaan itu sungguh bisa mencerahkan. Apa saja yang membuatku serba canggung, semakin tampak jelas satu per satu sekarang. Komunikasi yang makin baik dengan keluarga, juga makin meringankan pelaksanaan rencana-rencanaku. Perhatian dari kawan baru, tetangga juga orang kampung di sekitar rumah, membuatku senang juga. Alhamdulillah. Walau memutuskan tak banyak muncul untuk menghindari gosip perumahan, ternyata tidak membuatku kehilangan teman atau dianggap tidak ada. Alhamdulillah. Sungguh awal tahun ini mencerahkan dan penuh semangat. Ini karena kami semakin ingin sederhana dan menikmati setiap hal sederhana itu menjadi hal yang sejuk di hati.

Bismillah. Semoga apa yang terjadi kelal, apa yang kami kerjakan, teman yang datang, bisa menambah keimanan dan ketaatan kami kepada Alloh SWT. Dan kami dijauhkan dari mereka dan hal-hal yang bisa menjauhkan kami dari-Nya. Amin ya Robbal 'alamin.

@HeniPR
semoga bermanfaat

Change DNA

Tidak ada komentar
Short Sharing karena seharian mata pedes membaca ebook pak Rhenald Kasali berjudul Recode Your Change DNA [ebook gratis, linknya ada di sharing saya sebelumnya ya.]

Kesan pertama dari tulisan pak Rhenald adalah jelas dan mudah dimengerti bahasanya, tidak ruwet bin muter-muter seperti tulisan [maaf] pak Super Sekali - pak Mario Teguh. Tulisannya pak Rhenald ini mirip gaya tulisan pak Dis alias Dahlan Iskan. Mungkin karena keduanya pernah masuk karir jurnalistik, jadi tulisannya empuk dibacanya.

Kedua, tulisan pak Rhenald mengena sekali. Itu karena beberapa kisah yang disampaikan benar dialami sendiri oleh beliau. Sehingga saya tidak merasa hanya disuguhi teori atau hasil penelitian. Tipe tulisan pengalaman seperti ini sangat saya sukai, seperti halnya tulisan biografi. Bercerita berdasar kisah nyata. Asik.

Tentang isi ebook Recode, yang paling mengena untuk saya sampaikan saat ini adalah ketika saya masuk ke bab pengujian Change DNA saya. Change DNA = DNA perubahan, yaitu kode genetik dalam sel tubuh saya yang menyimpan kemampuan untuk berubah. Di bab ini saya menuliskan jawaban satu per satu dari kuis yang diberikan. Apakah saya memilih A atau B. Lalu di akhir kuis ada penjelasan tipe karakter Change DNA saya jika memilih A terlalu banyak, atau B terlalu banyak.

Syaa sangat bersyukur sekali, karena jawaban yang saya berikan menunjukkan arah bahwa saya punya Change DNA yang kuat dan terbuka pada perubahan. Alhamdulillah.

Yang menjadi puncak syukur adalah saya bisa menjawab dengan tepat dari beberapa pertanyaan, yang merupakan akumulasi hasil tempaan kehidupan yang saya jalani sebagai ibu rumah tangga bukan wanita karir. Misalnya pertanyaan tentang respon saya terhadap orang yang memfitnah. Apakah saya reaktif dan emosional. Atau tetap tenang, mengajak berbicara orang yang memfitnah dan mencari solusinya atau berusaha memahami.

Nah, perkara fitnah ini tidak pernah sama sekali saya hadapi ketika masih berstatus single dan pelajar atau berstatus karyawan. Tetapi saya pernah menelan pil pahit fitnah ketika menjadi ibu rumah tangga. Dan kepahitan itu benar-benar menjadi obat yang sangat baik karena membuat DNA saya berubah menjadi lebih tangguh sekaligus tenang.

Adalagi pertanyaan yang menunjukkan ketahanan saya terhadap tekanan dan keinginan besar untuk berubah. Saya pun berkali-kali bersyukur karena diberi karunia dan kemudahan oleh Alloh SWT bisa sekolah di tempat yang terbaik. Bisa merantau dan merasakan semua hal di perantauan. Ternyata hal ini  memberikan kontribusi juga dengan DNA saya hingga saat ini. Terbiasa mandiri membuat saya menjadi ibu rumah tangga yang tidak mudah merengek minta bantuan. Walau harus mengurus anak yang prematur seorang diri, walau pasca operasi tulang kaki harus tertartih-tatih menahan sakit yang luar biasa dan mondar-mandir merawat anak kedua yang mendadak sakit panas, saya tidak mudah menangis menelpon suami, ibu atau mertua. Saya terima itu semua dan lebih bangga jika melakukannya sendiri walau sekarang sudah tidak merantau lagi dan bisa saja dengan mudah menelepon mereka meminta bantuan. Rasa sulit ketika di perantauan merawat diri sendiri walau sedang sakit, membuat saya tahan dengan keadaan yang mirip seperti itu. Alhamdulillah, ALLOH MAha MEnguatkan hamba-Nya.

Terakhir saya bersyukur juga dengan motivasi diri yang kuat untuk berubah, saya bisa sekolah di tempat yang baik. karena menurut pak Rhenald, DNA juga dipengaruhi oleh lingkungan, oleh teman. Hanya bermodal niat ingin berubah, dan takut mengecewakan orang tua, saya belajar sangat keras ketika masa sekolah. Sehingga bisa diterima di sekolah negeri favorit dan terbaik. Dan juga berusaha sekeras mungkin menggunakan waktu dengan tepat, belajar cepat, supaya orang tua tidak terbebani biaya jika saya bermalas-malasan dalam belajar. Itu semua, alhamdulillah, ikut serta membina DNA saya. Subhanallah sungguh tak saya sangka. Dari hal ini, saya mulai menemukan vision dream yang makin terang untuk kehidupan saya terutama anak-anak saya kelak. Saya akan merumuskan mimpi saya lagi bersama suami, agar bisa memberikan lingkungan yang baik untuk anak-anak agar mempunyai DNA yang mumpuni, fleksibel dan bersemangat terhadap perubahan. Bismillah, dalam semua kemampuan yang kami miliki, saya akan berusaha merumuskan, menuliskan kembali apa yang perlu kami lakukan agar bisa menjadi Change Maker. Agen Perubahan untuk kehidupan kami sendiri, keluarga kecil kami, keluarga besar kami, tetangga dan saudara kami dan untuk kehidupan yang lebih luas lagi dalam ijin Alloh SWT.

Ya, saya harus mulai menuliskannya, kenapa harus ditulis?

Ada quote dari Woody Allen :
   Tuhan akan tersenyum jika kita menuliskan mimpi atau keinginan yang ingin kita peroleh dalam hidup.

Pasti, itu karena Tuhan yakin kita menghargai hidup yang diberikan oleh-Nya, dan tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Bismillah. Allahumma Amin

Semoga bermanfaat
> Heni Prasetyorini <