Belajar Asik Dengan Kartu 4 Dimensi dari Octagon Studio

Pagi tadi saya melihat berita di televisi, tepatnya di acara Morning Show Net TV. Ada hal yang sangat menarik di segmen talk show. Yaitu tentang kartu 4 dimensi.

Saya tidak mengikuti dari awal, namun sudah tahu kata kuncinya. Jadi, kartu 4 dimensi adalah model kartu flashcard biasa yang jika disorot kamera gadget android/ipad, maka gambar pada flashcard bisa tampak seperti nyata disertai suara.

Misalnya kartu bergambar hewan lebah akan muncul gambar 4 dimensi dari lebah yang bisa bergerak dan bersuara. Di kartu lain jika ada gambar bunga matahari, maka muncul visualisasinya juga. Nah kalau kedua kartu ini didekatkan, maka gambar lebah akan bergerak mendekati gambar bunga matahari.  Bisa jadi pembelajaran rantai makanan.

Sumber gambar disini

Kartu 4 dimensi ini dibuat oleh anak bangsa sendiri loh, Octagon Studio. Kabarnya anak Bandung. Ikutan bangga ah, walau di Bandung cuma 4 tahun hehehe. Postingan ini juga bukan dalam rangka lomba review atau endorse, saya kagum dan ikut senang dengan adanya kartu ini.

Teman-teman yang masih punya balita atau jadi guru PAUD dan TK, kartu 4 dimensi ini bisa jadi alternatif media belajar yang menarik. Perangkat yang dibutuhkan adalah kartu 4 dimensi dan gadget android/ipad. Karena perlu menginstall software di gadget agar bisa melihat kartu secara 4 dimensi.

Materi yang sudah ada adalah hewan, antariksa. Untuk lengkapnya bisa dilihat di www.kartu4dimensi.com

Semoga bermanfaat dan selamat belajar bersama anak-anaknya ya.
*dukung pembelajaran berbasis rumah

Selamatkan Generasi Emas Indonesia Bersama SEMAI 2045

Tayangan berita di televisi, terkadang membuat lelah. Terutama melihat para pemimpin negara yang "bertarung" sendiri. Sibuk mencari kebenaran sendiri dan mengulik kesalahan orang lain. Sebagai rakyat biasa, terkadang melihatnya malah bikin putus asa. Sudah harga sembako naik terus, eh disuguhi adegan saling gugat menggugat, lapor melapor para pejabat yang ngakunya wakil rakyat. Kalau jaman gini aja begitu, gimana di masa depan?

Siapakah pemimpin masa depan? 
Yang pasti adalah generasi muda. Anak-anak kita. Jika syarat menjadi pemimpin ada di kisaran usia 32-51 tahun, maka calon pemimpin bangsa ini sekarang masih berusia 0-19 tahun. Usia anak masuk kuliah sampai yang belum lahir, merekalah calon pemimpin. Apakah anak-anak kita siap menjadi pemimpin bangsa ini?

Apakah anak-anak kita sudah punya mental yang tangguh dan bertanggung jawab, seperti Jenderal Sudirman yang terus memimpin perjuangan bahkan di saat beliau harus ditandu dan bernafas dengan satu paru-paru?

Apakah anak-anak kita sudah terbiasa lelah, sakit, susah payah demi meraih cita-cita, seperti Patih Gajah Mada yang bersumpah akan terus berpuasa sampai bisa menyatukan Nusantara?

Ataukah anak-anak kita rewel jika di sekolah dan di rumah, AC-nya mati? Lalu ngambek, tidak mau belajar karena gerah dan berkeringat?

Maukah anak-anak kita membaca buku berulang-ulang sampai paham ataukah memilih meng-copy paste pertanyaan ke mesin pencari di internet?

Kecanggihan teknologi di era digital ini memberikan kemudahan sekaligus dampak negatifnya. Anak-anak kita setiap hari dikepung oleh paparan pornografi, kekerasan seksual, bullying, kesalahan pola asuh dan tekanan dari lingkungan. Hal inilah yang menjadi dasar bergeraknya sebuah gerakan nirlaba untuk menyelamatkan Generasi Emas Indonesia.

Gerakan ini disebut SEMAI 2045.


SEMAI2045 yang terdiri dari berbagai latar belakang, profesi dan status sosial bersatu padu secara aktif untuk mengatasi masalah generasi muda (anak-anak) saat ini.

Ada 4 fokus gerakan yang dilakukan, yaitu Riset, Knowledge Pool, Sekolah Parenting da  Whisperer Program.

Menurut Elma Fitria,sang koordinator, Semai2045 ini fokus ke edukasi, mendorong orang tua muda sama sama belajar menerapkan pola asuh yang baik dan benar, demi menyelamatkan 90 juta anak Indonesia.

Kenapa 2045 ? Karena di tahun 2045, Indonesia genap 100 tahun. Dan 90 juta anak-remaja Indonesia sekarang akan masuk usia produktif di tahun itu, dan menduduki berbagai amanah penting yang memandu Indonesia nanti.

Sedihnya, 90 juta anak-remaja Indonesia itu sekarang terbelit banyak masalah seputar kekerasan, narkoba, seks bebas, dll.

Menurut Bu Elly Risman, Psi. yang menjadi narasumber dan pembimbing kami, ini karena anak-anak ini BLAST (Bored Lonely Afraid Angry Tired Stress).

Untuk itu, SEMAI2045 mengajak orang tua memperbaiki pola asuh di era digital ini, sehingga anak anak tumbuh jadi BEST (Behave, Emphatic, Smart, Tough).

Urutan BEST ini sesuai dengan urutan pengasuhan yang dicontohkan dalam Alquran dan Hadits, serta sesuai dengan tumbuh kembang otak anak 😊.

Kegiatan yang rutin adalah :

- Fatherhood Forum
Seminar rutin khusus para ayah (pernah 3x untuk ayah-ibu). Memfasilitasi para ayah untuk memahami pengasuhan dari peran laki-laki. Narasumber juga  para ayah.

- Semai sosial 
Seminar skala kecil, gratis untuk masyarakat.

- Semai profesional (kadang berupa acara Fatherhood Forum)
Seminar besar. Narasumber yang pernah hadir : Bu Elly Risman, Bu Septi Peni Wulandani sekeluarga, Bpk Harry Santosa, Bpk Adriano Rusfi, Ust. Saiful Islam, Ust. Bendri Jaisyurrahman.

- Digital Native Education
Seminar khusus anak dan remaja, memandu mereka menjadi pengguna teknologi digital yang sehat dan terhindar dari paparan konten negatif seperti pornografi, dll.

- Video, infografik, tulisan.


Di youtube semai org ada beberapa video yang dibuat melalui kerjasama dengan Kementrian Sosial.
Infografik alhamdulillaah sudah dipakai juga sampai ke TK di Papua.
Tulisan dan ilustrasi (kerjasama dengan Yayasan Kita dan Buah Hati) dipakai oleh Kakatu (apps android) dan Samsung.

Jadi tunggu apalagi, mari bergabung dengan mereka dan menyelamatkan generasi emas bangsa Indonesia.

Fanpage di facebook :
www.facebook.com/semai2045

Twitter : @semai2045

Youtube : Semai org
(Bisa disearch dengan semai 2045)

Instagram : @semai2045Fanpage di facebook :
www.facebook.com/semai2045

Twitter : @semai2045

Youtube : Semai org
(Bisa disearch dengan semai 2045)

Instagram : @semai2045

Kasur Kapuk

“Ibu, kasur ini kok masih ada aja sih, nggak dibuang…??!” pekik Rini tertahan. Dia heran bukan kepalang, kenapa kasur kapuk yang bentuknya sudah merana ini masih tersimpan abadi di rumah ibunya. Ibu tersenyum menanggapi protes Rini, “jangan to, ibu nggak bisa tidur kalau nggak pakai kasur ini.”

Ibu tidak mengindahkan tatapan Rini yang sedikit bergidik. Diambilnya rotan “penebah” kasur. Dipukul-pukulnya gagang rotan itu merata di kasur kapuk. Debu tebal serentak keluar, setiap kali ibu memukulkan gagang rotannya. Bull…seperti asap putih. Uhuk, uhuk. Ibu terbatuk-batuk perlahan karena debu kasur. Beliau hanya menutup hidungnya dengan ujung daster batik lalu tetap meneruskan pekerjaannya menjemur dan membersihkan kasur kapuk.

Rini pun tidak berniat untuk mempermasalahkan kasur itu lebih lanjut. Dia lebih memilih untuk membersihkan diri. Lima belas jam duduk di  kereta api Bandung-Surabaya, sukses membuatnya penat luar biasa. Rini mengguyur air seperlunya, walau badannya ingin digerujuk air terjun saja rasanya. Tetapi tinggal di kota Surabaya, harus sadar diri. Hemat air, hemat uang juga karena sumber air hanya dari PDAM Surabaya. Tidak ada sumur dan alternatif lain.

Bicara tentang hemat, Rini hafal betul sifat ibunya yang luar biasa hemat itu. Ibu berulang kali memberikan nasihat padanya, “Jadi perempuan itu harus gemi nastiti ngati-ati”. Yang artinya harus hemat dan berhati-hati dalam membelanjakan keuangan. Ibu pun memberikan teladan yang super bahkan terlalu sempurna dan sulit untuk ditiru. Apapun dilakukan ibu asal bisa hemat.

“Kalau bapakmu makan pake lauk tempe. Ya ibu makan pake tempe menjes saja. Ngirit.”

Bahkan untuk lauk makanan pun, ibu berani berkorban supaya hemat. Jika bapak dan anak-anaknya makan dengan lauk tempe yang asli dari kedelai. Ibu memilih untuk makan tempe menjes yang terbuat dari ampas kedelai dan harganya jauh lebih murah daripada tempe. Ibu menceritakan hal tersebut dengan nada bangga, tidak ada rasa sedih atau nelangsa sama sekali.

Dan setali tiga uang dengan ibu, bapak pun sama saja hematnya. Walaupun diberikan jatah makan lauk tempe yang spesial, bapak tidak mau makan enak sendiri. Beberapa kali Rini memergoki bapak malah mengambil tempe menjes dan membiarkan jatah lauk tempenya untuk ibu. Sayangnya ada kakak lelaki Rini yang suka mengambil tempe untuk ibu itu seenaknya.

“Rini, ini ada surat dari kampusmu.”
Ibu masuk ke dalam kamar Rini dan menyerahkan selembar amplop putih yang isinya cukup tebal. Rini heran juga, ada apa kok sampai diberi surat dari kampus. Rini merasa tidak ada yang salah dengan kuliahnya satu semester ini. Segera diambilnya isi amplop itu, dan bernafaslah lega dia kemudian.

“Isinya nilai kuliahku semester 1 ini kok bu. Aku kira ada masalah apa. Untunglah,” Rini menyerahkan beberapa lembar transkrip nilainya kepada ibu.

Ibu menerimanya dengan tersenyum senang. Dibacanya satu demi satu nama mata kuliah dan nilai yang diperoleh Rini. Kemudian menyerahkan hasilnya itu kepada bapak yang sedang santai di teras, di samping aquarium ikan yang baru dibersihkannya. Ibu pun jadi ikut duduk di teras, di samping bapak. Ingatannya menerawang pada percakapannya dengan bapak setahun yang lalu.

Kala itu siang begitu terik, sama seperti hari ini.  Ibu selesai menjemur dan menghilangkan debu-debu pada kasur kapuknya. Ibu meminta tolong bapak untuk mengangkat kasur itu ke dalam kamar mereka. Kali ini mereka harus melakukannya berdua karena bapak sudah tidak kuat mengangkat kasur sendirian. Selesai merapikan kasur kapuknya, ibu menunjukkan sebuah kotak merah kepada bapak. Kotak merah itu sedikit kotor kena kapuk.

“Pak, tabunganku sudah banyak. Cukup untuk naik haji,”begitu kata ibu singkat.

Bapak menerima kotak merah yang disodorkan ibu. Setelah dibuka ternyata isinya adalah perhiasan emas yang cukup banyak. Ada kalung panjang, liontin, cincin dan gelang. Bapak kemudian duduk dengan tenang di atas kasur sambil memegang kotak merah itu. Bapak sama sekali tidak menyentuh perhiasan emas di dalamnya. Dadanya sedikit merasa sesak.

Bapak senang sekaligus prihatin. Senang karena melihat ibu, istrinya itu, bisa membeli sendiri perhiasan emas sebanyak itu. Gaji bapak sebagai tentara sekelas Bintara dan berpangkat Sersan, mustahil bisa bersisa setiap bulannya untuk menghidupi keluarga besar. Keluarga dengan delapan anak. Apalagi sampai bisa membeli perhiasan emas. Begitu pun dengan uang pensiunannya sekarang. Mustahil.

Bapak menatap tangan ibu yang penuh bekas goresan luka karena bekerja tiada hentinya. Untuk menambah pendapatan keluarga, ibu berjualan rujak cingur dan kolak pisang di depan rumah. Bahkan sebelumnya ibu juga menjahit baju, berjualan jamu, bensin dan segala macam yang bisa dijual. Ibu mencari uang dan menyimpannya dengan hati-hati. Setiap sudah berkumpul uang yang cukup untuk membeli perhiasan emas, ibu segera pergi ke toko emas. Membeli sejumlah perhiasan sesuai dengan uang yang dipunyai. Kemudian menyimpan perhiasan itu tanpa pernah dipakainya sama sekali. Ibu suka menabung dengan emas, itu juga karena ibu menuruti pesan terakhir dari nenek.

Karena perhiasannya tidak pernah dipakai, bapak pun tidak begitu tahu tentang simpanan emas ibu. Apalagi ibu menyimpannya di tempat rahasia yang siapapun tidak akan menduganya. Yaitu di kasur kapuk. Caranya adalah ibu mengiris kain pinggiran kasur dengan silet, memasukkan kotak merah itu ke dalamnya dengan hati-hati dan menjahit lagi kain kasur yang terbelah dengan benang hitam sebagai tanda. Ibu sudah melakukan itu selama bertahun-tahun, sejak anak pertamanya lahir sampai anak ketujuhnya, Rini, akan masuk kuliah.

“Aku pingin naik haji pak,” kata ibu dengan mata berkaca-kaca. “aku sudah nabung sejak anak-anak masih bayi. Sekarang tahun 1996, naik haji harganya 7 juta-an. Ini kalau kujual semua, ada 8 jutaan. Dan ditambah uang kontrakan rumah kita di desa, aku bisa punya 12 juta.” Titik air mata ibu jatuh saking gembiranya.

Bapak melihat ibu dengan hati berat. Bapak paham keinginan ibu begitu dalam, namun logika bapak saat itu mencegahnya untuk setuju. 

Wong tuku lombok ae, awakmu jik mikir ngono loh. Wistalah, duite gawe anak-anak sekolah ae. Engkok lak awakmu isok munggah kaji. Wistalah percoyo karo aku , awakmu isok isok munggah kaji.”* 

Air mata ibu turun semakin deras tak terbendung di pangkuan bapak. Dan bapak hanya menepuk pundak ibu sampai ibu tertidur.

Dari percakapan itu, akhirnya Ibu mengalah. Uang yang semestinya bisa dibuat untuk naik haji digunakan untuk biaya kuliah Rini, kakaknya dan adik perempuannya yang masih SMA. Apalagi tanpa diduga siapapun, Rini memilih kuliah di Bandung. Di kota yang jauh sekali dari Surabaya, butuh dana lebih untuk kos. Ibu menyadari besarnya dana yang dibutuhkan. Oleh karena itu untuk menambah penghasilan, ibu membuka warung kecil untuk menjual rujak cingur dan kolak pisang. Bapak mempersiapkan gerobaknya dan menghiasnya seindah mungkin. Mereka adalah tim yang kompak.

“Pak, ingat waktu kita mengantar Rini pertama kali ke Bandung?”, lanjut ibu.

Bapak mengangguk dan matanya belum lepas dari deretan nilai kuliah Rini di tangannya. 

Sampeyan kan pulang duluan sama mas Di. Nah aku sama mbaknya temen kos Rini, orang Jombang itu, aku ikut masuk ke acara perkenalan mahasiswa baru. Waktu itu aku lihat Rini kok nggak ada di deretan kursi mahasiswa baru. Eh ternyata dia ada di depan. Dia ikut paduan suara mahasiswa baru. Ya Alloh pak, aku sampai nangis lihatnya. Nggak nyangka itu dia kok bisa sampai ke Bandung.”

Bapak memang tidak banyak bicara, hanya tersenyum. Tentu saja ibu begitu terharu, karena ibu belum pernah ikut acara sekolah anak-anaknya. Bahkan untuk mengambil rapot sekolah pun biasanya dilakukan oleh bapak. Dan melihat deretan nilai kuliah Rini, sama saja seperti saat bapak menerima rapor Rini sejak SD sampai SMA. Dalam periode itu bapak hampir selalu menerima berita yang sama. Rini masuk rangking satu, dua atau minimal masuk sepuluh besar. Itulah kenapa, bapak tidak tega mencegah Rini dan membiarkannya memilih kuliah sampai jauh di Bandung. Walaupun Rini hanya anak perempuan, yang mungkin tidak bisa berkarir tinggi, bapak hanya ingin Rini mendapatkan kesempatan sesuai dengan kerja kerasnya belajar sejak kecil.

“Ibu, bapak ngapain disini?” mendadak Rini ada di belakang mereka. 

Ibu segera menghapus air matanya. Bapak melipat transkrip nilai semesteran Rini dan memasukkan dalam amplop.

“Ibu lagi latihan main ludruk,” bapak menjawab sekenanya. Bapak ini walau jarang bicara, sekalinya bicara biasanya bercanda.

Rini tertawa, “ aku di Bandung malah dipaksa-paksa sama anak-anak asli Surabaya pak. Disuruh ikutan main ludruk. Aku nggak mau ah, takut habis waktu. Nggak bisa belajar, malah nggak lulus-lulus nanti.”

Mendadak ibu memeluk Rini yang duduk di sampingnya. Rini kaget menanggapinya. “Ibu, ada apa to?”. Ibu pun menatap Rini begitu dalam. 

“Ibu dulu pingin sekolah saja nggak boleh, nduk. Disuruh kerja sama mbah,” ibu mulai bercerita. Ibu tidak bisa lulus SD, karena ketika ujian akhir kelas 6, ibu tidak boleh pergi ke sekolah.

“Percuma sekolah tinggi-tinggi. Yang penting sudah bisa baca tulis. Nomer satu, perempuan itu bisa bikin sambel enak. Udah!” itu kata-kata mbah Pah, neneknya Rini dari pihak ibu.

“Itulah sebabnya ibu bertekad kuat-kuat, anakku harus sekolah setinggi-tingginya semua. Walaupun anak perempuan.” 

Kata-kata ibu membuat Rini merinding juga. Seperti tersengat kata-kata yang dikobarkan bung Tomo saat memimpin pasukannya. “Dari kecil ibu sudah dilatih untuk kerja, cari duit. Ibu lakukan semuanya asal halal, biar bisa nabung untuk bayar sekolahmu. Sekolahnya kakak-kakakmu, adikmu.”

Rini terpaku di tempat duduknya. Semua keluh kesah yang sudah dia simpan sejak dalam kereta api tadi, seketika lenyap. Kesulitanku tidak ada apa-apanya dibanding ibu,  pikir Rini.

“Kamu belajar yang sungguh-sungguh ya. Jangan mikir yang aneh-aneh. Ibu berjuang disini, kamu berjuang di Bandung.”

Rini menatap kasur kapuk yang masih dijemur. Kainnya sudah kusam, beberapa tempat terlihat bercak jamur yang berwarna hitam. 

Hatinya menghangat ketika mendengar ibu melanjutkan ceritanya, “Ibu menyimpan tabungan ibu di kasur kapuk itu. Tabungan emas. Dari situlah ibu bisa mengirimmu kuliah di Bandung. Ibu melepaskan keinginan untuk naik haji, tapi ibu yakin tidak akan pernah menyesali hal itu.”

note: *(“Untuk beli cabe saja, mau masih mikir gitu loh. Sudahlah, uangmu untuk sekolah anak-anak kita saja. Nanti kamu pasti bisa naik haji. Percayalah padaku, kamu pasti bisa naik haji”).



Blogpost ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan www.nulisbuku.com .   

BBM Based Learning - Belajar Dengan BBM

Ketika belajar di prodi Teknologi Pendidikan Unesa, dua tahun kemarin saya mendapatkan banyak hal. Salah satunya adalah tentang bagaimana cara mengatasi masalah belajar dan bagaimana cara belajar (learning how to learn). Untuk memahami hal ini, banyak bidang ilmu yang diberikan oleh para dosen kami. Mulai teori belajar, pembelajaran mandiri,  belajar jarak jauh (e-learning), cara mendesain suatu pembelajaran, dsb.

Konsep dasar dari belajar tentang Teknologi Pendidikan adalah tentang berbagai cara, proses atau sistim untuk mengatasi masalah belajar anak (peserta didik). Salah satu masalah yang biasanya terjadi adalah, ketika anak sedang asyik belajar secara mandiri, menemui kesulitan, lalu tidak tahu bisa bertanya kepada siapa.

Contohnya si Vivin ,mantan murid bimbel saya. Dia sudah kelas 3 SMA. Anaknya ceria dan rajin belajar walau kalau di kelas bimbel malah sukanya nggambar dan cekikikan. 

Tadi pagi, katanya sih pas jamkos (jam kosong), dia bbm saya. "Mbak, aku nanya soal boleh ta?" tulisnya.

Saya baruu aja sampai di rumah ibu yang jaraknya hampir 11 km dari rumah. Naik si Matic sambil mbonceng adik saya yang lagi hamil trimester dua plus anaknya umur 5 tahun. Mayan berat kan beban roda belakang :)


"Boleh dek" saya jawab sambil mengatur kaki biar enak selonjoran di kamar ibu. 


Dia bertanya tentang reaksi redoks (reduksi oksidasi) di sel volta. Saya ya bukan orang jenius lah, nggak 100% ingat dan hafal rumus atau tahap penyelesaian soal. Hanya saya ingat konsepnya, dan  tau juga apa yang saya lupa. Akhirnya saya penasaran juga coba mengerjakan di kertas, dengan sesekali browsing teori kimia di Google.
Macam trial error juga sama nih anak. Saya jawab, dia nanya. Saya sadar kliru. Browsing ulang. Kerjain ulang soalnya. Fun juga sih, apalagi kalau ketemu jawabannya :). Sudah selesai, kertas jawaban saya foto dan saya kirim deh pake bbm juga. Dia paham, seneng deh.

Eh, malamnya diulang lagi. Saya sedang membaca ulang buku Chicken Soup for College Student. Sambil selonjoran juga nempel tembok dan ada lagi BBM dari Vivin. Lanjutan dari teori redoks, sekarang nanya tentang elektrolisis leburan NaCl. 

Nah, kebetulan saya ingat juga. Jadilah belajar lewat bbm. Asik juga ternyata. Mungkin cara ini cocok dengan gaya anak muda belajar. Pantesan juga waktu saya mbimbel anak SMA, ketika mereka pulang selalu janjian "eh nanti online ya. Twitter sama Line. Aku belum ngerjain tugas yang kemarin". 

Amazing ya untuk generasi tahun (hampir) 80-an kayak sana ginih. Dimana semuanya berbasis paper and pencil. Harus tertulis. Belajar hanya dengan dua pilihan. Ketemu guru atau sendirian dengan buku. 

Berani mengirim BBM ke saya untuk nanya soal, sudah saya hargai banget. Berarti nih anak sedang ingin tahu (karena bukan waktu ujian nanyanya loh..). Dan jika anak sudah ingin tahu, harus segera direspon. Karena momentum belajarnya tepat banget. Nggak harus benar juga sih njawabnya. Tetapi cara berpikir, mengupas maksud soal, mencari dasar teorinya, lalu mencoba mengerjakan soal, itu adalah pembelajaran cara berpikir ilmiah yang runtut dan sistematis. Ini bekal yang cukup baik sebagai 'soft skill' anak, untuk mengatasi segala hal dalam kehidupannya kelak. Nggak akan grusa grusu dan mudah kemakan berita hoax :)

Begitulah kisah " selonjoran-based learning" kali ini, hehehehe. Mari lanjut baca bukunya Chicken Soup lagi. Jadi pingin nulis cerita jaman sekolah juga nih, kayaknya seru (mumpung masih ingat). Oke selamat malam manteman semua. Selamat selonjoran :))

Semoga menginspirasi
-Heni PR- 

(ps. Maaf layout tulisan kok middle terus. HP lagi ngambek, nggak mau ngedit layout nya. Nanti deh diedit pas buka laptop)




Beras Kontrasepsi Hoax Atau Benar ?

Sedang marak beredar pesan BC (broadcast) tentang Beras Kontrasepsi ini. Yaitu beras yang mengandung pemutih dan pil KB sebagai bahan pengawet.

Inti dari pesan BC itu adalah seperti berikut:

LAKUKAN UJI BERAS.
Campurkan betadine pada nasi yang anda makan sehari-hari. Caranya dengan merendam sedikit nasi dengan air, kemudian diberi beberapa tetes Betadine. 
1. Jika nasi berubah sewarna seperti zat Betadine, maka nasi anda aman.
2. Jika berubah menjadi hitam, maka dalam nasi anda ada kandungan zat pemutih atau pengawet
3. Jika berubah menjadi biru atau ungu, maka dalam nasi anda ada kandungan kontrasepsinya.

Pesan ini beredar luas, dan beberapa teman sudah mencobanya pada nasi, bahkan ada anak-anak teman alumni di kimia yang mencoba menetesi batang spagethi yang masih mentah itu dengan Betadine. Dan hasilnya adalah :
1. Nasi + Betadine ---> warna biru ungu
2. Batang spagethi mentah + Betadine -----> warna biru ungu juga

foto kiriman teman saya, Euis (alumni Kimia ITB 1997)

note: untuk gambar nasi + Betadine menjadi ungu, teman-teman bisa mencari di internet dan sosmed karena sudah banyak beredar.

Mengapa hal ini bisa terjadi?
Apakah benar nasi kita mengadung zat kontrasepsi?
Kalau begitu, spagethi juga mengandung zat kontrasepsi?

Untuk menjawab hal tersebut, mari kita susun beberapa pertanyaannya:

1) Apa yang terkandung dalam nasi dan spagethi?
2) Apa yang terkandung dalam Betadine?
3) Apa yang terkadung dalam pil KB sebagai zat kontrasepsi yang diberitakan?
4) Mengapa nasi atau spagethi jika ditambah Betadine akan berubah warna menjadi biru/ungu?
5) Reaksi apa yang terjadi?


Dengan bahasa sederhana, jawaban dari pertanyaan di atas adalah:

Nasi ataupun spagethi mengandung karbohidrat. Nasi dari beras dan spagethi dari gandum. Kedua bahan itu mengandung zat pati atau amilum. Amilum atau starch adalah suatu karbohidrat yang mengandung banyak unit glukosa yang tergabung dengan banyak ikatan glikosidik. Bisa baca lengkapnya di wikipedia yaa :).

Betadine adalah nama dari sebuah antiseptik yang dijual bebas. Biasa dipakai untuk mengobati luka terbuka untuk mencegah dari bakteri. Zat antiseptiknya adalah povidon-iodin. Apa itu povidon-iodin? adalah suatu senyawa iodin yang mengandung unsur I ( Iodium). Itulah mengapa jaman dulu, orang menyebut obat sejenis ini sebagai obat merah atau obat yodium.

Pil KB mengandung hormon estrogen dan progesteron. Hormon ini adalah sekumpulan senyawa steroid. Senyawa ini tidak bersifat antiseptik.

Nasi atau spagethi + Betadine berubah menjadi biru/ungu, mungkin karena ada suatu zat dalam nasi (amilum)  yang bereaksi dengan suatu zat dalam betadine (Iodine)

Meninjau adanya kandungan amilum dan Iodine serta perubahan warna biru/ungu, maka literatur yang tepat adalah diarahkan pada Uji Amilum.


Uji Amilum
         Uji amilum biasa dilakukan  di kelas biologi untuk mengetahui kandungan karbohidrat pada suatu bahan makanan. Pengujian dilakukan dengan meneteskan beberapa larutan Iodine (Iodium) pada bahan tersebut. Bahan makanan yang diuji bisa dari pisang, kentang, roti, nasi, mie, gula pasir, tepung, telur dan lain sebagainya. Seperti pada seorang pelajar yang menuliskan hasil percobaan uji amilum di blognya.

Dari blog tersebut menunjukkan bahwa nasi + Betadine hasilnya ungu kehitaman. Hal ini menunjukkan kandungan amilum (karbohidrat) yang besar. Bukan menunjukkan bahwa di beras kita mengandung zat kontrasepsi.


Lalu bagaimana dengan adanya pil KB?

Kandungan steroid pada pil KB, adalah semacam senyawa kompleks yang (sepengetahuan saya) akan cukup sulit bereaksi dengan zat Iodine pada Betadine. Ataupun kalau bereaksi tidak menghasilkan warna biru/ungu. Untuk membuktikannya bisa dilakukan pengujian: pil KB + Betadine.

Memang dengan adanya uji nasi + Betadine ini belum bisa membuktikan apakah di beras kita ada pil KB atau tidak, karena warna ungu yang dihasilkan adalah reaksi dari kandungan amilum (karbohidrat) dengan Betadine. Jika ingin menguji adanya pil KB dalam beras, maka perlu dipilih zat kimia lain (bukan Betadine).

Akan tetapi, saya mencoba menarik analisa sederhana ala ibu-ibu:

1) Untuk apa pil KB dicampur ke beras?. Pil KB hanya mengandung hormon.  Dan sepengetahuan saya, hormon tidak bisa berfungsi mengawetkan beras. Berbeda dengan misalnya beras dicampur formalin atau zat pemutih pakaian, karena zat itu mengandung antiseptik (anti bakteri dan jamur), jadi bisa mengawetkan.

2) Kalaupun ingin menggunakan pil KB untuk tujuan tertentu, apakah tidak malah merugikan?. Bukankah pil KB berukuran sangat kecil dengan kandungan hormon kecil pula. Jika ingin mengawetkan beras sekarung isi 25 kg, bayangkan berapa kerdus pil KB yang diperlukan?. Jatuhnya lebih mahal kan? Tentu bisa bertolak belakang dengan niat pemakai yang ingin lebih untung dalam berdagang beras. Berbeda dengan pemakaian formalin yang murah harganya.

3) Jika saja ada kandungan hormon dalam beras, mungkin saja berasal saat proses tanam. Bisa saja dari pupuk atau penyubur tanaman padi. Jadi bukan dari pil KB yang sengaja ditambahkan ketika padi sudah dipanen dan diolah menjadi beras. (ini murni pendapat saya)

Jadi, berita Beras Kontrasepsi itu adalah HOAX ???

Silahkan teman-teman sendiri yang menyimpulkan :)

Saya melakukan studi literatur untuk menganalisa berita ini, dan menyediakan link sumber referensi tentang beberapa hal yang bisa kita investigasi sendiri untuk membuktikan kebenaran info tersebut. Keputusan di tangan teman-teman semua.

Saya juga sangat terbuka jika ada teman-teman lain yang menguji lagi di rumah. Seperti saran dari teman saya, Cip, kita bisa melakukan semua pengujian di rumah satu persatu untuk memperkuat penyelidikan kita sendiri. Yaitu dengan menguji campuran dari:

1) pil KB + Betadine
2) zat pemutih + Betadine
3) zat pengawet + Betadine
4) nasi + pil KB + Betadine
5) nasi + zat pemutih + Betadine
6) nasi + zat pengawet + Betadine
7) nasi + pil KB + zat pemutih + zat pengawet + Betadine
Lalu bandingkan semua hasilnya, jika ada teman-teman yang sudah melakukannya di rumah, saya tunggu sharingnya ya :)


Semoga menginspirasi
-Heni PR-


Obat Sakit Mata Yang Aman Untuk Anak

Hampir satu bulan lalu anak sulung saya, Aldo menderita sakit mata. Awalnya sepulang dari kegiatan ekstrakurikuler Badminton, matanya menjadi merah, nyeri, gatal dan keluar kotoran terutama ketika bangun tidur.

Saya pikir itu sakit mata biasa. Karena inisiatifnya mengurangi obat, maka saya buatkan rebusan daun sirih. Kemudian saya basuhkan air rebusan daun sirih yang hangat itu ke mata anak saya. Caranya adalah, sediakan rebusan daun sirih hangat di gelas bersih. Dengan kapas bersih, celupkan kapas. Suruh anak untuk terpejam. Lalu oleskan kapas dengan air sirih dari arah dekat hidung keluar. Hanya sekali usap, lalu kapas buang. 

Biasanya dengan cara ini, dalam semalam saja sakit mata sudah sembuh. Air rebusan daun sirih mengandung zat yang bisa membunuh bakteri (antiseptik). 

Ternyata besoknya mata Aldo masih merah. Dan dia merasakan gatal dan nyeri sampai pusing kepalanya. Saya mulai cemas, dan mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. Sayang sekali di situ tidak ada dokter spesialis mata. Terpaksa kami mendaftar di poli umum. Dari dokter umum, kami diberikan obat tetes mata Inmatrol dan obat antibiotik untuk diminum. Menurut dokternya, sakit mata Aldo karena virus. Sesampai di rumah obat itu kami gunakan. Akan tetapi setiap menggunakan obat tetes mata, Aldo merasakan matanya sangat perih. Dia bahkan sampai menggulung diri dan memegang matanya yang tetutup untuk menahan rasa sakit. Saya sempat curiga dan cemas, sakit mata biasanya kalau dikasih obat, nggak gitu banget deh perihnya. 

Walaupun perih, mata Aldo menjadi bening beberapa menit kemudian. Obat ini kami gunakan sampai tiga hari. Selama pengobatan, anak saya masih tetap sekolah seperti biasa. Eh ternyata tiap pulang sekolah, matanya masih merah, perih dan gatal. Bahkan sampai kepalanya jadi pusing. 


Obat dari dokter umum. Inmatrol. Anak saya kesakitan ketika memakainya.
Tidak disarankan oleh dokter spesialis mata. Termasuk obat keras dan harus dengan resep dokter. 

Meninjau ulang rasa perih anak saya tiap kena obat mata dari dokter umum itu (Inmatrol), saya pun ke dokter spesialis mata. Saya boncengan motor berdua dengan anak saya itu, ke RS swasta yang cukup jauh juga dari rumah. Disana ada dokter spesialis mata yang buka tiap hari.

Setelah diperiksa dengan beberapa alat khusus, dinyatakan dokter "ini bukan sakit mata biasa bu. Ini kena kelenjarnya. Namanya sakit mata vernalis. Harus diterapi. Ini bukan sakit mata alergi , tetapi bisa dipicu oleh angin, debu dan matahari. Kalau sekolah di dalam kelas saja, kalau pergi pakai kacamata hitam".

Waduh jadi deg-degan juga ya.

Saya tunjukkan obat sebelumnya dari dokter umum. Lalu kata beliau, "Inmatrol itu obat keras bu. Pokoknya obat mata yang belakang namanya ada ....trol, itu obat keras. Jangan diberikan sembarangan ke anak, apalagi beli sendiri di apotik".

Duh ya kan, pantesan. Saya nggak enak ati pas ngelihat anak saya kesakitan pas make obat sakit mata itu. Kami pun diberi obat tetes mata baru. Ada dua obat, yang harus diberikan beda 15 menit untuk tiap mata. Pengobatan ini harus kontrol satu minggu kemudian.



Obat dari dokter spesialis mata ke-1. 
Tobroson (kuning) dan Vernacel (biru).
Digunakan berturut-turut selang 15 menit. Diteteteskan 4 kali dalam sehari.


Kami pun melakukannya. Dan di pemeriksaan kontrol itu, hasilnya mata anak saya mulai membaik tetapi kelenjarnya masih kena. Entah apa maksudnya.

"kelenjarnya kurang bersih bu." begitu kata dokternya.
"Ini bahaya nggak dok?" tanya saya.
"Jika dibiarkan, nanti kelenjarnya bisa membengkak lalu merah bu. Lama-lama nanti matanya jadi terlihat coklat", jawab dokter.
"Bisa mempengaruhi penglihatan nggak dok?" tanya saya kemudian.
"Ya kalau sampai coklat gitu, ya bisa mempengaruhi bu," jawaban dokter terakhir membuat makin cemas.

Ngeri juga sakit mata seminggu lebih nggak sembuh total, dibilang bukan sakit mata biasa pula. Waktu periksa pertama sudah saya cek tentang sakit mata vernalis , dan disebutkan disitu ini sejenis alergi. Tetapi dokter itu mengatakan bukan alergi.

Akhirnya pengobatan kami teruskan seminggu kemudian, dengan obat yang sama. Jadi anak saya menggunakan obat tetes mataTobroson dan Vernacel selama hampir dua minggu. Sebenarnya sejak kontrol pertama itu, anak saya tidak mengeluh perih matanya. Tidak gatal dan tidak belekan.

Akan tetapi karena dokter mata mengatakan harus ada kontrol lagi seminggu kemudian, untuk melihat tekanan mata. Dan dengan penjelasan seperti percakapan saya diatas, saya jadi cemas dan menyuruh anak saya tetap memakai obat tetes mata itu.

Sampai dua hari menjelang kontrol kedua, saya jadi makin ragu. Meneruskan dokter itu atau cari second opinion ke dokter kedua. Akhirnya setelah berbincang dengan suami, saya memutuskan ke rumah sakit lain dan dokter mata lain.
Saya pun ke dokter mata kedua. Beliau kaget mengetahui anak saya memakai obat mata Tobroson (warna kuning ) selama 2 minggu terus menerus.

"Semua obat ini harus di stop ya bu. Apalagi yang kuning ini mengandung steroid. Kalau dipakai terus matanya bisa krompong nanti"

Saya menghela nafas panjang. Bismillah, semoga mata anak saya nggak kenapa-napa, kok salah terus gini.

Dari dokter mata kedua ini saya diberikan penjelasan yang cukup bikin adem ati.

Jadi sakit mata anak saya memang sakit mata vernalis. Dan itu karena alergi yang dipicu oleh angin, debu dan sinar matahari. Biasa diderita anak laki-laki, dan akan membaik ketika sudah umur 18 tahun. Namanya alergi ya tidak bisa hilang sama sekali. Jika ada pemicunya, bisa sakit mata lagi.  Kami pun diberikan dua obat tetes mata baru, yang kata dokternya aman. Bahkan jika habis, boleh beli sendiri di apotek.

Obat dari dokter spesialis mata ke-2 ( RS lain).
Obat yang aman untuk sakit mata Vernalis karena alergi. 
Patanol dan Vasacon-A
Obatnya adalah Patanol dan Vasacon-A. Penggunaannya Panatol dulu diteteskan lalu selang 5 menit, diteteskan Vasacon-A. Pengobatan 4 kali sehari, pagi, siang, sore, malam. Pengobatan dilakukan jika sakit mata kambuh (mata merah, perih, gatal, keluar kotoran). Jika sudah hilang gejalanya, tidak perlu diberi obat tetes mata lagi.
Syukurlah, akhirnya ketemu dokter mata yang lebih mumpuni. Benar juga kiranya ketika ada masalah kesehatan yang di hati belum sreg, sebaiknya mencari pendapat kedua dari dokter lain dan rumah sakit lain.

Semoga menginspirasi

-Heni PR-

Recharging Energy dari Saling Sapa dotcom

Surabaya mulai mendung setelah kemarau cukup panjang. Suasana yang jauh lebih adem ini, seharusnya bisa makin bikin heppi. Tapi entah kenapa sejak semalam, tubuh saya rasanya kok serba kurang nyaman.
Makan udah, olahraga sekedarnya udah tadi, tetep gak mood aja. Kaki rada linu, kepala juga mulai nyut-nyutan.

Saya lihat kalender, ah sepertinya ini efek hormonal. Siklus pelepasan sel telur saya, akan datang seminggu lagi. Pantesan badan nggak enak semua nih. Biasanya begitu kan bu-ibu? :O

Kalau sudah PMS (pre Menstruation Syndrom) gini, bawaannya jadi malees aja ngapa-ngapain. Saya rencana bongkar rak buku dan mereformasi ulang isinya, jadi urung. Akhirnya saya mengambil laptop. Ada beberapa file materi Fun Blogging yang harus diunduh dan dibaca ulang. Mau sekalian praktek, sinyal internet sedang kurang bersahabat hari ini. Tumben banget, ikutan PMS kali :)).

PMS biasanya memicu pusing, depresi dan sensi berlebihan di saat dua minggu sebelum haid dan beberapa hari setelahnya. Gejala makin meningkat ketika perempuan sudah menikah, umur 30 tahun keatas, kurang olahraga, stress atau jika pola makan rada gak seimbang. Kebanyakan minum kopi juga bisa nambah gejala gak enak PMS. Wah jadi nyadar, hampir beberapa bulan ini tiap hari minum kopi. Padahal cuma segelas kecil kopi loh, eh efeknya lumayan juga. Faktor U yang lebih dominan kali ya? Faktor umur :)

Walau bad mood, kerjaan rumah kudu beres kan? Nyuci baju seragam sekolah dan baju kantor suami kan harus dilakukan. Apalagi mendung gini, mungkin nggak bisa kering dalam sehari. Lalu gimana biar jadi mood dan berenergi lagi ya?

Beberapa hari ini saya nyoba recharging energy dengan mendengar ceramah agama dan motivasi. Akhirnya ketemu nih, satu aplikasi yang baru saya unduh kemarin dari play store, yaitu saling sapa. Saya mengenal aplikasi ini dari video ceramah Aa Gym yang saya lihat di You tube. Gak tau nih, sejak masuk grup whatsaap alumni kuliah di Bandung, eeh jadinya saya teringat dengan si Aa ini. Gaya bicaranya kan sering ada kata Sunda, jadi kayak ngobrol sama pribumi Bandung dulu di kos-kosan.

Waktu mendengar ceramahnya lagi, rasanya, makjleemmm. Hati saya kena banget. Teringat lagi beberapa kali ikutan pengajian Aa di Daarut Tauhid, jl Geger Kalong Girang Bandung. Saya sempat beberapa kali mabid (malam ibadah) disana, menginap semalam di DT.

Setelah mengunduh aplikasinya, wah seneng bingits. Ada banyak video dan audio inspirator disana. Ada juga para penulis terkenal seperti Ahmad Fuadi (penulis novel Negeri 5 Menara) dan Asma Nadia (penulis aneka novel terlaris yang juga difilmkan).
Di Google Play Store: Saling Sapa

Saling Sapa ini juga bisa dibuka di laptop. Kontennya sama saja. Jadi deh langsung aja, sambil nge-laundry di rumah, saya pasang speaker di laptop. Saya putar audio dari Aa Gym cukup keras, sehingga rasanya ada di DT langsung seperti dulu :)

Pekerjaan rumah beres, nambah ilmu. Dan semoga nambah energy biar ilang rasa 'bad mood' nya tadi.


Semoga menginspirasi
-Heni PR -







Mengenal Konsep Sex Education Dengan Cara Bermain

Hari Minggu kemarin, tanggal 8 November 2015 keponakan saya - Dita - yang kuliah di jurusan Despro ITS datang ke rumah ibu. Info awal sih, katanya si Dita ini ingin menguji produk 'game' yang dia buat ke keponakan lain. Game ini nanti mau diujikan dalam sidang sarjananya.

Saya semangat mengajak anak-anak untuk ikut ke rumah ibu saya. Saya pikir bakal mereview game digital seperti yang biasa mereka mainkan. Ternyata maksudnya adalah alat peraga permainan. Salah paham :)

Dita kemudian cuma memilih keponakan yang duduk di kelas 3 sampai 5 SD, sesuai target penelitiannya. Game atau alat bermain yang dibawa Dita ini seperti permainan ular tangga. Pionnya dari kertas. Namun tidak ada langkah ular atau merosot turun. Hanya meliuk sesuai garis maze. Di tiap langkah berhenti, sesuai angka dadu, anak diberi kartu untuk dibaca. Isi kartu adalah tentang pengenalan sex education pada anak.


Wah, lucu juga nih. Saya mengamati reaksi keponakan-keponakan yang sedang bermain. Mereka senang dan tertarik. Ketika ada satu kartu bertuliskan, "Apa yang kau lakukan ketika ada orang asing yang memegangmu?".

Aneka macam jawaban bersahutan muncul:
" aku nggak pernah"
"Aku lariii"

Dita lalu memancing tanya, "kamu akan bilang ke mama nggak?"
Serempak mereka menjawab, "bilaaang".

Setiap anak yang membaca kartu, mendapat hadiah satu keping puzzle besar. Di akhir permainan, semua keping puzzle dikumpulkan lalu dipasang bersama. Dan akhirnya berbentuk pesan utama tentang Sex Education pada anak.


Kreatif ya?... Bisa diterapkan untuk menyampaikan pesan moral yang lain untuk anak-anak seusia mereka. Tepat sekali caranya karena masa bermain sangat dominan. Pembelajaran berdasarkan permainan ini, bisa disebut Game-based Learning. Yaitu penggunaan game dan perangkat bermain untuk menyampaikan materi pelajaran.

Papan maze itu bisa menjadi media pembelajaran yang efektif, jika kemudian selesai bermain anak-anak diajak untuk mereview ulang. Kemudian pengajar memberikan penguatan pada inti materi yang diberikan sehingga tujuan belajar bisa tercapai.

Dengan cara ini, anak tidak langsung mendengar kalimat sex education. Yang mungkin juga mereka belum paham. Akan tetapi mereka sudah tahu, bahwa isi di kartu permainan adalah hal penting yang harus mereka perhatikan. 

Menjelaskan perihal sex education memang harus sesuai dengan umur dan tahapan perkembangan anak. Di usia dini sampai sekolah dasar, anak hanya perlu diberi pengertian bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fisik. Bagaimana cara menjaga kebersihan dan kesehatan alat kelamin. Siapa saja yang boleh memegang daerah tertentu tubuhnya. Aturan agama yang harus ditaati sejak dini pun dibiasakan, seperti tidak keluar dari kamar mandi tanpa memakai baju apapun, dsb.

Ketika beranjak remaja, pengenalan sex education meningkat. Mulai dari perkembangan biologis seperti mimpi basah dan menstruasi. Kebersihan, kesehatan serta yang terpenting pengenalan kegiatan reproduksi manusia yang harus dikaitkan dengan norma agama. Bahwa hubungan laki-laki dan perempuan, harus dilakukan setelah ada pernikahan resmi. 

Biasanya orang tua masih segan, malu, kikuk dan tabu untuk membicarakan hal ini pada anak remajanya. Tetapi mau tidak mau, kita harus melakukannya. Kata bu Elly Risman, sejak umur 9 - 10 tahun sebaiknya anak mendengar tentang hubungan sex manusia itu dari orang tuanya sendiri. Saya pun memberanikan diri bicara pada anak sulung saya, lelaki, ketika dia kelas 5 SD. Saya khawatir jika tidak bicara, maka anak akan mencari sendiri entah tanya teman atau dari internet.

Dan benar saja, saya coba browsing di google tentang Sex Education, lalu muncul juga video porno tentang hubungan suami istri. Serem kan kalo anak-anak mengakses sendiri tanpa dibekali ilmu dari ortunya???

Maka sungguh bijaksana jika sedini mungkin kita beri anak-anak bekal ilmu dan iman yang kuat, sehingga kelak mereka mampu menyaring sendiri hal yang baik dan tidak.

Semoga menginspirasi
-Heni PR - 


Habis Wisuda Terbitlah Fun Blogging

"Bu Hen, udah lulus mau ngapain?"
Rafi, teman dari Palu di kelas Pasca beberapa kali mempertanyakan hal itu. Saya ingin menjawab dengan cepat, tapi apa ya jawaban yang tepat.

"Jadi ibu rumah tangga lagi?", dia lanjut bertanya dengan aksen Palu yang kental.
Entah kenapa, itu teman sekelas lainnya sontak menoleh ke belakang dan menatap saya. Seolah-olah mereka juga penasaran dengan jawabannya.

"Iya kali, Rafi,"
Sudah, gitu aja menjawabnya. Tentu sambil nyengir-nyengir nggak ikhlas gitulah. Toh, mau jawab apa lagi. 

Sejak awal kuliah umum pertama di Gedung K10 Pascasarjana UNESA, tiap saya kenalan dengan menyebut profesi sebagai Ibu Rumah Tangga saja selalu mendapat respon yang gimana gitu. Antara percaya nggak percayalah. Ah, yaaa begitu itulah.
Ada yang senasib dengan saya? Anyone??? *nyodorin mik

Saat Rafi bertanya sekitar setahun yang lalu itu, saya tak terlalu ambil pusing. Mau lulus entar kerja dimana juga, siapa yang tahu. Suami saya selalu bilang "Ingat loh ya, kuliah itu nyari ilmu bukan nyari kerja". Dan nasihat itu saya pegang kuat-kuat, terutama sebagai pijakan jika ada komentar yang kira-kira bisa bikin semangat saya "down", trus males. Males berangkat kuliah, males ngerjain tugas, males kliyengan nyari dosen buat bimbingan tesis, dan males males yang lainnya.

Akan tetapi, menjelang wisuda saya makin kepikiran. Ketika saya, alhamdulillah atas ijin Alloh SWT, berhasil lulus sidang tesis dan test TOEFL yang mendera jiwa raga, saya mulai gelisah. Saya mulai menyesali kata-kata saya setahun yang lalu itu. Saya mulai cemas bakal kembali nggak punya "profesi". Padahal saya sudah beberapa kali menemui pihak lembaga pendidikan untuk bisa bergabung disana, baik sebagai pengajar atau trainer pendidikan. Namun kabar beritanya belum datang juga sampai saya wisuda.

Dalam kegalauan itu, saya berusaha menyusun rencana lain. Dua belas tahun menjadi ibu rumah tangga,  membuat saya harus berpikir smart dan kreatif. Profesi apa saja yang bisa saya lakukan, saya tekuni dan kira-kira dalam 5 atau 10 tahun lagi, saya bisa jadi "pakar" di bidang itu. Profesi yang menerima latar belakang saya sebagai ibu rumah tangga. 

Saya mengulik lagi sejarah diri sejak memutuskan jadi full time mom. Sampai ingat video Sayang Banget, tugas kuliah Digital Story Telling Pribadi. Hahaha, jadi ketawa sendiri lihat videonya (maap ya, blom bisa masukkin lagu ke video). 

Berat loh sodara-sodara dicibir orang melulu tuh. Beneran, sumpah. Makanya, jika katanya anak-anak korban "bullying" bisa mencelakai dirinya sendiri, itu pasti bener. Karena diolok, dianggap gagal dan sia-sia tuh, sakitnya sampai ke sel DNA !!!

Untunglah video ini sempat di upload di You Tube, jadi file tidak ilang. Udah lihat videonya? *ngarep hehehe. Dari video itu ada cerita saya ngeblog. Nah, muncul deh gagasan cemerlang nan gemilang, saya bisa jadi BLOGGER PROFESIONAL  nih kayaknya.

Sebenarnya saya udah ngeblog cukup lama sih. Sempat ikut suatu komunitas juga. Namun sejak nekad kuliah lagi tuh blog bener-bener saya biarkan jalan di tempat. Saya pun dengan aneka ria kepenatan di kepala, hanya menjadi Silent Reader dan mengamati komunitas blogger itu tanpa punya tendensi apa-apa. Namun setelah saya yakin kalau menjadi blogger bisa dijadikan profesi, kegalauan kedua muncul. Kudu belajar dimana ya?

Itu yang namanya browsing How to be Success Blogger, udah dijabanin tiap hari. Tapi tetep aja nggak ngeh kudu gimana gitu. Pasti lebih enak kalo bisa ketemu langsung dengan blogger yang sukses ini.  Tapi gimana caranya ya? Mau tanya ke siapa? ada nggak acara semacam itu di Surabaya ya? Karena jika luar kota, mustahil saya bisa ikutan untuk saat ini. Belum bisa ninggalin anak-anak yang jadwal sekolahnya ketat. 

Untunglah, alhamdulillah, dengan arahan Sang Maha Tahu, saya pun ketemu iklan Fun Blogging 7 Surabaya ini di twitter.

"Mengubah Hobi Menjadi Profesi".

Wah tagline acara Fun Blogging 7 ini, cucook markocok dengan niat saya mencari profesi baru. Saya pun mendaftar secara online via email. Kurang lebih setengah bulan kemudian, tepatnya hari Sabtu 7 November 2015, acara dilaksanakan di Gedung Intiland Tower Jl. Panglima Sudirman Surabaya pukul 9.00 - 16.00 WIB.

Eh, saya mau share cerita dikit dulu ya tentang drama perjalanan menuju ke lokasi acara. Bener deh pengen crita, karena ibu rumah tangga mau pergi sendiri itu, ada aja tantangannya. Termasuk seperti yang saya alami. Oke lanjut: 

Critanya saya bakalan berangkat naik sepeda motor sendirian, tidak diantar suami seperti biasanya. Sejak pukul 7 pagi saya sudah berangkat, dan memacu sepeda motor matic dengan rasa campur aduk. Ya seneng, ya cemas. Bukannya cemas karena meninggalkan anak-anak dan suami di rumah. Karena mereka sudah saya siapkan makanan untuk sarapan dan makan siang. Melainkan cemas bakal kesasar menuju ke lokasi. Maklum saja, saya ke rute tersebut terakhir kalinya ketika anak sulung saya masih umur 3 tahun, dan sekarang dia umur 13 tahun. Wow, sudah 10 tahun. Selebihnya saya beberapa kali melewati rute tersebut dengan diantarkan oleh suami atau saudara.

Semalam sebelumnya saya berusaha meminta suami untuk menuliskan peta yang jelas untuk saya. Yang arah mata anginnya hanya dua, yaitu belok kanan dan belok kiri :). Begitulah dengan bekal nekad dan perut sedikit mules sejak subuh, saya berangkat (note: kalau stress berat perut saya mendadak mules, heheh). Di tengah perjalanan, benar juga, saya sempat tersesat sedikit. Berbelok ke jalur pintas yang malah mengarahkan saya untuk kembali pulang. Untung saja saya cepat sadar, dan langsung berbalik arah. 

Karena hanya fokus di jalan depan, saya tidak melihat spion dan memasang lampu riting. Ups, nyaris saja saya disundul pemotor di belakang yang dengan geram memencet klakson lalu menghindari saya. Makasih ya mas, beneran deh, maaf ya. Saya melipir ke kanan dan pelan-pelan menuju jalan asal sambil berdoa tidak ada pak polisi, karena saya melawan arus lalu lintas. Singkat cerita, saya berhasil masuk jalan pintas kedua yang benar rutenya. Selanjutnya seperti mengalir saja sampai ke tempat tujuan. Intiland Tower jl Panglima Sudirman Surabaya.

Acara yang disponsori oleh Smartfren, Qwords.com dan mobil123 itu diadakan di lantai dua. Ketika mulai masuk ke gedung, di teras saya lihat mbak Ria Rohma, blogger dari Gresik. Sepertinya beliau juga baru datang. Saya berhenti sebentar.

"Mbak Ria ya? Ria Rohma?"tanya saya sambil membuka slayer penutup hidung.
"Iya mbak. Mbak Heni kan? ayo sana parkir dulu saja," jawab mbak Ria kemudian. Dan saya turuti.

Keluar dari tempat parkir, sudut mata saya menangkap sesosok perempuan tinggi berjalan ke arah gedung yang sama. Narasumber nih? pikir saya. Pasti ada tiga orang. Perlahan saya berjalan sambil melirik sesekali. Dan benarlah ada tiga orang perempuan berjilbab, berjalan ke Intiland Tower. Mereka masing-masing membawa tas travel dan tas ransel besar. Mau menyapa duluan, kok sungkan. Saya memutuskan berjalan di depan mereka. Tepat di pintu masuk, saya sudah nggak tahan. Langsung saja saya membalik badan dan berkata dengan sok kenal sok akrabnya gitu, "nah ini pasti guru-guru saya ya?".
Saya pun disambut dengan ramah. "iya", jawab mbak Haya, mbak Shintaries dan mbak Ani , secara bergantian.

Kami pun bersalaman sambil menyebutkan nama. Saya lihat titik-titik keringat menghiasi wajah mereka. Maklum Surabaya hawanya panas gini. Dengan satu kali naik elevator, kami sampai di tempat acara. Tak seberapa lama kemudian, banyak peserta blogger yang datang termasuk mbak Ria Rohma yang tadi menghilang setelah saya sapa. 

Acara belum dimulai, tapi saya dah seneng sekali. Pertama saya senang telah berhasil sampai di lokasi dengan selamat. Tidak tersesat parah, tidak ditilang polisi, sepeda motor pun aman.
Kedua, bisa bertemu teman blogger Surabaya dan sekitarnya. Mayoritas perempuan dan ibu-ibu, Waktu itu hanya ada satu orang yang ganteng, yaitu pakde Cholik dari Jombang.

Blogger ibu-ibu ada yang membawa serta anaknya yang masih bayi dan balita. Salut berat deh melihat perjuangan mereka. Namanya membawa anak-anak, pasti ada saja ulahnya. Entah harus menyusui, membujuk, menggendong, show must go on :)                                                                           
Peserta blogger ini tidak hanya dari Surabaya. Mereka pun ada yang berasal dari Jombang, Jember, Bondowoso, Kediri, Mojokerto, Gresik, Sidoarjo. Tidak semuanya bisa ke Surabaya semalam sebelumnya agar bisa menginap dan beristirahat. Beberapa orang harus berangkat dari subuh dan baru sampai Surabaya jam 11 siang (blogger dari Bondowoso). Ada yang naik mobil, ada yang naik bus, bahkan para narasumber naik kereta dari Jakarta. Malah mbak Nurul Noe sekeluarga, blogger Jakarta juga bela-belain ke Surabaya loh. Huebat tenan. Perjuwangaannn...!!!

Walau begitu, para peserta mendengar dengan khusyu'. Semuanya konsentrasi dan fokus mendengarkan satu demi satu "sharing ilmu" dari para narasumber cantik. Yaitu mbak Haya Aliya Zaki, mbak Shintaries dan mbak Ani Berta. 

FUN BLOGGING 7: MENGUBAH HOBI MENJADI PROFESI
para Cikgu:
(kiri-kanan) mbak Haya Aliya Zaki, mbak Ani Berta, mbak Shintaries

Itu mereka, 3 DARA BLOGGER dari Jakarta yang ruarrr biasa hebatnya di bidang masing-masing. Mbak Haya yang berprofesi sebagai editor, menuturkan cara menulis konten blog yang bagus dengan kalimat yang tegas, bersahaja dan runtut. Saya tidak menyangka dan terpana melihat mbak Haya berbicara. Ternyata suaranya mantap, berat, runtut dan editor banget deh pokokna mah. Jadi dosen pun cocok deh nih mbak Haya :). Inti dari materi mbak Haya ini adalah, senjata utama blogger adalah membuat konten blog yang baik dan bermanfaat. Konten yang baik, karena menulis dengan bahasa Indonesia, maka sebaiknya memenuhi kaidah penulisan atau EYD walau tidak kaku. Menulislah dari hati dan dengan hati-hati sebelum mem-publish-nya. 

Sesi kedua dari mbak Shintaries, yang membagikan ilmu mengoptimasi platform blog. Materinya lebih menjelaskan bagaimana melakukan treatment pada blog dengan beberapa tipe domain, sehingga bisa mudah membuat analytic report ketika diperlukan oleh blogger saat akan menerima job (pekerjaan). Karena basic nya mbak Shinta ini jagoan coding, pemrograman, otak atik analytic report dan segala ilmu yang menjelimetkan kepala saya. Entah kenapa, itu saya mendadak jadi pusing banget, hehehe. Selesai memberi sesi, mbak Shintaries bertanya, " gimana? sudah paham?"
Saya berseloroh, "saya jadi terharu mbak." hihihihi.

Terakhir adalah sharing ilmu dari mbak Ani Berta, sang Social Media Activist. Ya tentu tentang memanfaatkan aneka jenis sosial media yang tersedia di internet dengan semaksimal mungkin. Supaya para blogger bisa meningkatkan kualitas dirinya dan mendapatkan pekerjaan serta penghasilan dari blog yang dibinanya. Jika mendengar cerita mbak Ani nih, kerjaan blogger ternyata riweuh juga loh. Nggak sekedar nulis seadanya, asal judul ketangkap Google, lalu duduk manis minum kopi dan makan brownies. 

"Harus tekun ya. Telaten. Dan ingat, kita harus memberikan manfaat. Jangan di awal mikirin duitnya dulu. Pokoknya fokus untuk menulis konten baik seperti kata mbak Haya, mempraktekkan tips analitik dari mbak Shinta, lalu terus gencar berpromosi di sosial media. Nanti duit datang sendiri, percaya deh." Nasihat mbak Ani, beberapa kali diulang-ulang seperti itu intinya. 

Aih, ada kata "duit" nyelip jadi melek dah kita semua, hahaha. Bener juga nih, Blogger bisa dijadikan Profesi, dan itu menghasilkan. Makin termotivasi saya. Apalagi dari semua cerita narsum, berkat menekuni profesi blogger, mereka bisa keliling Indonesia bahkan sampai ke luar negeri loh. Pecah nggak tuh? 

"Jadi blogger bisa membuka peluang yang lain. Asal kita sungguh-sungguh!" begitu sengatan motivasinya.

Hal hebat lainnya yang terus digaungkan  mereka adalah untuk tetap seimbang mengatur waktu dengan keluarga. Mengingat pesertanya mayoritas perempuan, dan hampir semuanya ibu-ibu (ibu rumah tangga dengan aneka profesi lainnya). "Jangan karena sudah merasa sibuk sebagai blogger, pergi kesana kemari, lalu kita lupa untuk mengurus anak. Lupa bersilaturahmi dengan keluarga besar. Semua harus seimbang. Asal kita tahu ilmunya, dan mau mencoba dengan tekun, maka kita bisa mengaturnya dengan baik." Begitulah nasihatnya. 

Luar biasa, saya sungguh kagum pada blogger perempuan terutama yang ibu-ibu. Karena tidak mudah membagi konsentrasi, tenaga dan semangat pada diri sendiri, dengan  tetap seiring sejalan dengan aneka kewajiban sebagai istri dan ibu di rumah.

Saya pun jadi pede untuk meneruskan langkah saya menulis di blog. Alat perang di rumah saya juga sudah siap. Modem smart-EVDO (atau sekarang  disebut Smartfren) jadi perangkat akses internet yang mumpuni dan sudah saya gunakan sejak lama. Bahkan saya bisa internetan di rumah pertama kali, dengan membeli HP Smart warna merah itu loh. HP yang bisa dijadikan modem juga. Uh, HP bersejarah... 
                                            
Modem Smart EVDO dan HP Smart 
 Duh alhamdulillah, saya bersyukur banget pake nget. Untung saja saya masih setia pada modem ini. Yang walaupun sejak 2010 nama provider Smart berubah jadi Smartfren, tapi modemnya masih bisa dipake. Saya tinggal isi pulsa dan register paket internet volume based bulanan. Suami pun membelikan alat wifi router (warna putih itu) itu dari High Tech Mall Surabaya, sehingga modem Smartfren saya bisa dipasang di router itu, dan menjadi wifi. Dengan begitu, seisi rumah bisa memakai jaringan internet wifi dari Smartfren. Jadi ketika saya blogging dan internetan di laptop, anak saya masih bisa internetan juga di tabletnya.

Provider ini memang kelihatan banget komitmen-nya untuk memberikan pengalaman berinternet yang lancar, super cepat, harga terjangkau dan merata untuk semua kalangan. Terutama untuk ibu-ibu seperti saya nih, paket internet bulanan Smartfren antara 50 ribu sampai 150ribu, adalah pilihan yang masih aman dalam anggaran belanja rumah tangga.

Dengan komitmen itu pula, Smartfren mendukung penuh acara pelatihan blogger semacam ini. Dengan semakin banyaknya orang yang berprofesi menjadi blogger, maka lapangan kerja kian terbuka luas dan laju pertumbuhan ekonomi bangsa pun ikut terdongkrak ke atas.

Yang lebih penting, khususnya untuk kaum ibu, menjadi blogger adalah pintu sekaligus jendela untuk menerima akses informasi dari luar yang bermanfaat sehingga bisa terus belajar dan berkarya. Jika seorang perempuan bisa terus pintar dan produktif, maka anak-anaknya pun ikut meningkat kualitasnya. Seperti sebuah pepatah, "Mendidik Satu Perempuan, Berarti Mendidik Satu Generasi."

Maka, trims berat ya Smartfren atas supportnya untuk Fun Blogging 7 Surabaya ini, jangan kapok-kapok loh, heheheh *modus biar disponsori lagi.

   Oke baiklah, tak usah berlarut lagi dalam kegentingan hati karena komentar orang. Saya punya barisan guru yang mumpuni dan teman belajar menjadi blogger profesional di komunitas Fun Blogging yang menjadi follow up dari acara ini.                                                      

 Kebaikan para narasumber dan sponsor sungguh tak terlupakan. Dengan biaya hanya Rp.100.000,- saya mendapatkan materi yang super padat, bermutu dan tahan lama dari mbak Haya, mbak Ani dan mbak Shinta; makan siang yang enak, snack yang gurih serta ruangan ber-AC yang nyaman sepanjang acara.                            

  Semoga ilmu yang akan disebar melalui Fun Blogging selanjutnya ke segala penjuru nusantara, turut membawa perbaikan bagi perempuan Indonesia khususnya. Dan jika sudah tiba waktunya, para peserta blogger kali ini, bisa ikutan berbagi ilmu seperti mereka. Mungkin di ranah yang lebih sempit? seperti di pelatihan blogging untuk ibu-ibu PKK dan pengajian?
Kenapa tidak? 

Insya Alloh.

Semoga menginspirasi 😊
- Heni PR - 

WISUDA

WISUDA, yo WIS yo SUDAH 😁.
Akhir drama ibu rumah tangga nekad kuliah lagi ini dirayakan secara simbolis di hari Sabtu 17 Oktober 2015, GOR Unesa Kampus Lidah Wetan.

Kiri-kanan: Rafi (Palu), Annisa, Winda, Aku, Firman, Suri
Bersama enam teman sekelas, kulewati momen wisuda S2 ku ini. Karena sesuatu hal,keluargaku tidak bisa hadir di lokasi. Cukup sedih sih, tapi harus berbesar hati dan menikmati waktu bercanda dengan anak-anak muda temanku itu, yang mungkin terakhir kali.

Walau tak ikut masuk ruangan wisuda, sesampainya di rumahku, kami sempatkan berfoto ria. Rona bangga dan bahagia dari ibu, suami, anak, adik dan keponakan cukup menentramkan hati. Momen yang direncanakan dapat disaksikan ibu,anak,suami di dalam ruangan semoga kelak digantikan dengan kebahagiaan yang lebih. Mungkin di wisuda doktorku? Saat pengukuhan professorku? Saat pengangkatanku jadi rektor? Who knows?? 
Insya Alloh, semoga dijinkan dan diridhoi-Nya. Amiin :)


Di momen wisuda, saat melihat jajaran dewan Senat masuk, yang terdiri dari rektor dan para professor, hatiku tergerak. Diiringi bait lagu orkestra, "Vivat Academica, Vivat Professorens", dari lagu Gaudeamus Igitur,

 Hatiku berdegub kencang dan bicara sendiri, " aku ingin jadi professor seperti mereka, aku akan mencari jalan menjadi dosen dan kuliah lagi. Gimana caranya ya? Ah, pokoknya terus belajar aja deh, mau berprofesi apa ntar belakangan.
 Terserah Alloh SWT aja :) 



Hari Senin, kuambil ijazah dan menyelesaikan urusan di kampus pasca Unesa. Sempat bertemu mereka yang berpamitan juga untuk pulang ke Palu dan Palangkaraya.
"Bu, kami pamit ya, sampai jumpa di S3".

Aku tertawa girang mendengarnya. 
" Sampai jumpa!" Pekikku tertahan.