PECAH TELUR. Itu sebutan yang pas saat saya memutuskan untuk batal mundur menjadi tenant Inkubator UNAIR 2022.
Pecah telur, karena itulah momen pertama kali saya keluar rumah sendiri, menginap 3 hari, mengikuti Airlangga Startup Camp 2022 di daerah Pandaan. Setelah sejak 2020 saat dimulainya pandemi saya hanya ada di rumah saja.
selfie pertama ketika baru sampai lokasi dan masuk ruang workshop
sering bertanya karena kepo dan kasihan kalau peserta lain pada diem :)
foto bersama di akhir acara, saya di 2 sebelah kanan
Baik, cerita kita lanjutkan di sini. Sebaiknya kawan membaca dulu link tulisan di atas, supaya tahu sejarah sampai saya lolos menjadi calon tenant di Inkubator UNAIR 2022.
Pandemi membuat saya maju mundur melanjutkan proses menjadi tenant ini. Karena ketika lagi marak kasus masuknya varian Delta dan juga Omicron, diberikan jadwal untuk ikut pelatihan atau workshop Pre-Bootcamp.
Waktu itu langsung saya menolak. Karena takut virusnya, juga lagi ribetnya anak bungsu sakit ketika baru masuk kelas tatap muka di sekolah dua hari. Dan dia sudah kelas 3 SMP, artinya lagi spanneng-spannengnya persiapan ujian akhir sekolah dan ujian nasional.
Saya pemegang kunci antar jemput anak sekolah, juga urusan dia di rumah - makan, dll, merasa berat untuk mengiyakan ikut pelatihan pre-bootcamp.
Jadi saya bilang ke panitia, kalau munndur bagaimana?
Udah resiko nama jadi ga baik atau diblacklist, yaudah gimana lagi. Demi kesehatan keluarga.
Panitia meminta saya mengirimkan surat resmi mengundurkan diri. Namun saya bimbang jadi saya diamkan, tidak mengirim email. Ya sudah di DO saja otomatislah kalau ga ikut, begitu pikir saya.
Eh ternyata, masih jadi rejeki. Jadwal pelatihan pre bootcamp ini diundur sampai hampir 2-3 bulan kemudian. Pas ketika kasus COVID-19 sudah menurun dan kami sekeluarga sudah vaksin. Anak-anak, saya dan suami juga sehat.
Ketika suami mengiyakan, ikut saja lanjutkan, langsung saya mengisi formulir dan segala dokumen yang harus diisi malam itu juga. Esoknya bersiap untuk packing baju dan keperluan traveling.
Wih, sudah 3 tahun lebih saya tidak keluar rumah apalagi keluar kota. Sedangkan di akhir tahun 2019 saya sampai terbang ke Balikpapan loh. Kebayang betapa bersemedinya saya karena virus ya :)
Alhamdulillah, Kersaning Gusti Allah SWT, saya pun berangkat diantar suami dengan hati gembira. Simak foto dan video saya di instagram ini, hihihih....
Perjalanan sangat lancar. Kami naik bis khusus dari Airlangga Travel. Bis bersih, tidak bau mesin atau khas bis kota yang bikin saya mual. Padahal dah ngeri aja bakal muntah-muntah di perjalanan. Karena saya udah lama banget ga naik bis dan kendaraan umum sejak lulus kuliah.
Tapi pas kemarin di perjalanan naik bis, smooth aja, mulus tanpa hambatan. Santai dan ga macet langsung sampai tujuan.
Ketika sudah masuk ruangan seminar di K Hotel Pandaan, dan mengikuti prosesi menyanyikan Mars UNAIR. Hati saya kembang kempis. Antara haru dan gimana gitu. Sempat bicara sendiri di dalam hati, "Heni Heni, kenapa dulu nggak kuliah di Surabaya aja sih, di UNAIR aja gitu. Kan bisa hafal lagu MARS tadi :). Ngapain sih Hen, dulu susah jauh-jauh ke ITB."
Tapi yaudinlah, ga ada gunanya, ga ada jawabannya. Kalau saya nggak kuliah di ITB, ya gak ketemu suami kali ya. Kan ketemunya di Bandung.
Oke lanjut ke cerita Airlangga StartUp Camp.
biar ga asik posenya, tapi ini foto berharga
Jujur saja saya kikuk dan salah tingkah sendiri ketika masuk ke gedung inkubator UNAIR dan ruang seminar pertama kali. Harus bersikap gimana ke anak-anak muda ini ya. Kan pada masih mahasiswa yang usianya setengah dari umur saya.
Kalau bersikap santai dengan dosen yang seusia saya, nanti kayak sok akrab.
Jadi, saya hati-hati banget bersikap. Garing deh lah. Ini rejeki banget bisa foto bareng pas hari pertama makan siang. Selebihnya saya lebih sering makan sendiri di ruangan dalam yang ber-kipas angin. Karena di teras outdoor itu hawanya panas banget. Sumuk pol. Dan kalau sumuk, saya kehabisan energi atau bisa jadi migren,
hanya sekali kumpul makan dan foto bareng, selanjutnya saya makan di ruangann dalam karena di luar panas banget
Selama 3 hari itu penuh dengan workshop berbagai materi. Dan materinya dalem banget. Lebih detil dan mendalam daripada materi startUp yang selama ini pernah saya ikuti atau pelajari sendiri. Mayan bikin puyeng kepala.
Terutama tentang LEGALITAS MERK dan PENGURUSAN PT ATAU PERUSAHAAN.
Nah ini, saya kan buta hukum banget ya, termasuk buta ekonomi juga. Pokoknya saya nih anak sainstek kolot dan kuper. Yang terbuka wawasan segala hal di INKUBATOR UNAIR ini.
Satu keputusan cepat yang harus saya ambil adalah mengganti nama KELASKU DIGITAL. Karena merk Kelasku sudah resmi terdaftar di HAKI oleh orang lain.
Jika saya terus memakai Kelasku Digital, bisa-bisa menyalahi aturan.
resmi tanda tangan kontrak menjadi tenant selama 1 tahun
Keputusan penggantian nama, saya konsultasikan ulang ke LegalHub. Dan kembali disarankan untuk mengganti nama.
Maka, bismillah, walau berat hati ya, karena Kelasku Digital sudah dikenal di hati dan juga masuk beberapa liputan media, tapi ya diganti saja dengan nama yang semoga bisa lebih luas dan memberi berkah, yaitu HEZTEK INDONESIA.
Di usia saya yang sudah 43 tahun ini, saya dapat rejeki lagi. Dapat kesempatan ngangsu ilmu lagi di Inkubator UNAIR. Semoga kelak menjadi jalan kebaikan yang lebih seru dan mbois lagi. Bermanfaat untuk lebih banyak orang. Terutama diri saya pribadi dan keluarga.
Oke cerita detil disambung lagi nanti ya. Termasuk tembak-tembak'an dan makan duren.
Kuliah di ITB sekarang jadi impian hampir semua anak-anak dan orang tua, karena ITB termasuk kampus impian di Indonesia. Kalau saya memilih ITB, pada waktu itu, karena ingin menantang diri sendiri saja. Masuk ITS yang ada di tempat kelahiran saya, biasa aja pastinya. Gimana kalau kuliah lebih jauh? dan yang passing grade untuk masuk kuliahnya lebih sulit?
Menantang diri sendiri seperti hobi aneh, yang ternyata berguna juga sampai saat ini. *LOL
Sebelumnya, saya ingin membagi kisah perjuangan atau perjalanan saya belajar dari SMA sampai bisa diterima di ITB jalur UMPTN, di tahun 1997 waktu itu.
Disclaimer: tulisan ini murni berdasarkan pengalaman saya yang belum tahu segala trik tentang Learning How To Learn, Smart Learning dan semacamnya.
*sebenarnya mau share ini duluan di Live Youtube, tapi batal, karena SDN di belakang rumah lagi ada kegiatan akhir sekolah untuk anak kelas 6 SD, jadi rame banget :)
Pasti bakal seru kalau saya bisa menyampaikan cerita ini lewat video, namun ada kendala tadi pagi. Maka ditunda dulu bercerita lewat suara. Saya dulukan cerita lewat blog ini ya. Semoga bisa jadi referensi untuk memotivasi anak-anaknya yang ingin belajar di jenjang lebih tinggi.
ini videonya tadi, dibuang sayang :)
Ohya, di gambar itu ada Macbook Pro besar yang lumayan harganya. Jangan bikin jiper duluan dan menganggap cerita mbak Heni ini, MBA (Modal Bacot Aja), iya bisa ini itu karena kaya dan banyak duitnya.
Oh tidak, Alhamdulillah, saya berasal dari keluarga menengah ke bawah, cenderung miskin. Yang kalau diceritain bisa bikin kalian meneteskan air mata. Canda guys.
Silahkan simak dulu sejenak cerita ini, nanti lebih seru lewat video atau suara emang ya. Sabar dulu. Daripada mood hilang, saya tangkap di blog ini aja dulu.
Singkat cerita, keluarga saya itu mewajibkan anaknya sekolah atau kuliah negeri karena satu alasan. Yaitu murah bayarnya.
Bapak saya, sudah pensiun sejak saya SMP, sebagai Purnawirawan TNI Angkatan Laut, yang waktu pensiun baru dinaikkan sebagai SERMA (Sersan Mayor). Bapak masuk dari jalur Bintara, kalau tak salah itu sebutannya. Lulus SD saja waktu itu. Sayang tak sempat bertanya ke bapak sebelum beliau wafat. Intinya bukan tentara berjabatan tinggi, melainkan biasa-biasa saja. Uang pensiunan juga tidak besar.
Ketika bapak pensiun, dengan sedikit uang pensiun bulanan, yang menjadi tonggak nafkah keluarga adalah usahanya ibu di rumah. Berbagai hal ibu lakukan, emang sejak dulu sih, yaitu berjualan rujak, nasi, jamu, menerima pesanan tumpeng, menjahit, berjualan dan seputar itu.
Kesulitan ekonomi ini yang juga membuat saya pindah sekolah, yang sebelumnya sejak TK-SMP di Surabaya, harus ke Jombang untuk melanjutkan SMA.
Nilai saya cukup untuk bisa diterima di SMA Negeri 5 Surabaya, sekolah terfavorit di Surabaya dulu sampai sekarang. Namun saat itu, yang saya tahu, ibu ingin kembali ke kampung halaman yaitu di Jombang. Maka saya dan adik bungsu, ikut pindah ke sana. Termasuk sekolah.
Usia remaja segitu, apalagi orang Jawa ya, kami atau saya dan adik tidak diberitahu alasan kepindahan ke Jombang itu kenapa. Hanya nurut saja begitu.
Yang saya ingat, waktu mengambil Raport SMP Negeri 1 Surabaya, tempat saya sekolah untuk mengurus kepindahan di Diknas Surabaya ke Diknas Jombang, ada guru yang nyeletuk, "Kok pindah nang ndeso se Hen? kan isok ketrimo nang SMA Limo (5)?".
Saya ingat kalimat itu, tapi lupa siapa yang bicara. Dan saya tidak bereaksi atau merasakan apa-apa. Hanya nurut saja, lupa apa saya senyum atau sedih atau senang atau gimana. Hanya ingat langsung mengikuti langkah ibu untuk balik badan dan pulang naik bemo lyn W dari pinggir Jalan Pacar Surabaya.
Sampailah saya di Jombang dan diterima di SMA Negeri 2 Jombang. Yang kabarnya juga sekolah favorit negeri di sana.
Sejak SD ke SMP, SMP ke SMA, saya tak pernah risau dengan akan sekolah di mana. Mikirnya gampang. Sekali berangkat dengan naik satu kali jalur bemo, biar murah. Tidak terlalu terobsesi dengan sekolah favorit. Itulah cara berpikir kami, keluarga miskin ini. Sederhana.
Dan saya, sejak kecil memang suka sekali belajar. Maka asal bisa belajar, dan pasti suka belajar, sekolah di mana saja, ga masalah. Kalau harus negeri, emang benar, sekali lagi karena biar ibu bapak bisa bayar biaya yang murah untuk sekolah anaknya. Kami keluarga besar, saya anak ke-8. Terbayang besarnya tugas ibu bapak ya, semua sekolah dan hampir semua juga kuliah di kampus negeri. Dengan gaji tentara, sudah pensiun pula, ditambah kerja serabutan seorang ibu rumah tangga.
Saya sekolah di Jombang, terhitung sebagai sekolah "ndeso" atau desa. Jauh banget dari perkembangan di Surabaya. Belum ada bimbel seperti Primagama dll pada waktu itu, sekitar tahun 1996. Maka ketika naik kelas 3 SMA, saya ikutan teman-teman juga sepertinya, saya putuskan ikut Bimbel Luar kota di Surabaya.
Saya mendaftar di Phi Beta, bimbelnya ada di Jalan Bali Surabaya. Ikut bimbel luar kota itu maksudnya, belajarnya hanya hari Minggu, mulai jam 8 pagi sampai 1 siang. Terhitung 5 jam untuk 5 materi belajar persiapan EBTANAS dan UMPTN. Yaitu Kimia, Matematika, Fisika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Jadi selama 1 tahun, di kelas 3 SMA, setiap hari Sabtu itu saya pulang sekolah jam 12 siang. Pulang di rumah tante (adiknya ibu), makan siang sebentar, mandi, menyiapkan buku untuk bimbel dan baju ganti. Lalu naik bemo menuju terminal bis kota, di depan rumah tante. Perjalanan naik bis kota dari Jombang ke Surabaya, ganti beberapa kali, lalu naik bemo lagi sampai ke rumah ibu di Surabaya, itu rata-rata dari siang sampai jam 7 malam. Karena harus nunggu bemo/bis penuh, istilahnya nge-tem dulu. Ganti bis. Nge-tem lagi. Ganti bemo. Nge-tem lagi. Begitu terus. Apalagi hari Sabtu adalah hari macet jalur luar kota. Hari orang yang kerja di Surabaya akan pulang ke desa/daerahnya karena libur kerja. Ditambah hari liburan atau piknik atau malam mingguan orang yang tinggal di Surabaya. Macet pokoknya.
Sampai di rumah ibu di Surabaya, sekitar jam 7 malam, saya akan mandi, makan, naik ke kamar kakak dan adik perempuan, lalu belajar karena di bimbel selalu ada pre-test sebelum kelas dimulai.
Esoknya, hari Minggu, saya akan diantar kakak ke Jalan Bali, tempat bimbel. Lalu ditinggal. Saya belajar di sana selama 5 jam. Untuk makan siang, kadang bawa bekal dari ibu. Kadang membeli tahu isi aja yang gede dan bikin kenyang di kantin bimbel.
Bimbel selesai sekitar jam 2 siang, saya akan berjalan di pinggir jalan untuk mencegat bis DAMRI menuju ke terminal Bungurasih untuk naik bis luar kota ke Jombang.
Sampai di Jombang, rumah tante, sekitar jam 7 atau 8 malam. Saya akan mandi, makan malam, dan sekali lagi belajar sebelum tidur. Mengulang lagi pelajaran di bimbel. Mengatur buku dengan baik. Dan juga kroscek dengan tugas dan materi pelajaran untuk sekolah besok Senin.
Ini berputar terus rutin, selama satu tahun utuh tanpa jeda karena saya lelah atau bosan.
Dan anehnya, nggak ada lelah dan bosan. Dan tidak juga saya berhenti karena sakit.
Kalau sakit flu, panas, batuk, itu saja akan saya abaikan.
Pulang ke Surabaya setiap hari Sabtu juga untuk melipur rindu. Bisa makan masakan ibu. Ketika seminggu makan di rumah tante.
Kenapa kok tiba-tiba di rumah tante, mbak Hen?
Karena ketika saya kelas 3 SMA, ibu memutuskan kembali tinggal di Surabaya. Adik saya sudah lulus SMP jadi bisa ikut ibu ke sana. Giliran saya yang tinggal setahun lagi SMA di Jombang, jadinya terpaksa ditinggal.
Sekali lagi, saya tidak pernah risau dengan kondisi begini. Karena fokus saya hanya di belajar dan lulus EBTANAS bagus, siap dan lolos UMPTN lalu bisa diterima kuliah di kampus negeri. Itu saja. Lainnya boleh terjadi apa saja saya terima dan jalani saja.
Wah capek juga nih, ngos-ngosan nulisnya. Lanjut nanti ya. Sekalian udah bisa live streaming. Nanti saya sertakan videonya di bawah ini.
Makin berumur makin kusadari, tidak apa-apa jika kamu memilih hal yang berbeda dengan yang diyakini oleh banyak orang, dan kamu sendirian. Setidaknya kamu bisa tersenyum ceria dan bisa secerah bunga kuning ini.
Tadi pagi, ingin melepaskan beban hati dengan menulis banyak tweet, yang tiba-tiba menjadi sebuah utas di twitter.
Buah dari deep thinking yang kulakukan sejak kemarin.
Buah lagi dari pertanyaan, "Emang apa sih yang aku cari di hidup ini?", kemarinnya kemarin.
Kejadian HP jatuh lalu earphone iphone original milikku rusak, putus. Sementara paparan Dipta, muridku yang kutunjuk sebagai Tutor Sebaya di kelas Bootcamp coding, tidak kusimak dan kudengarkan sama sekali.
Kulihat viewer dari acara IG Live itu hanya 27 orang dari ratusan ribu follower pihak yang mengajakku talkshow secara streaming itu.
Pertanyaan berulang, sama, membosankan, dan jawabanku yang juga berulang, sama dan membosankan itu seperti menyekat liang tenggorokanku. Enggan sekali rasanya berbicara itu-itu saja.
Panik ketika earphone itu rusak, setelah 2 tahun lebih aman-aman saja di tanganku. Ini cukup membuatku shock. Kaget. Dan setiap kejadian seperti ini, aku selalu yakin, Allah SWT sedang menegurku.
Sepele banget earphone seharga 120ribuan aja bikin shock.
Ya kalau dilihat untung rugi. Percakapan live itu gratisan, tidak dibayar. Karena terburu-buru mengiyakan, aku pun lupa sudah ada jadwal mengajar kelas coding, walaupun ada Tutor Sebaya, namun aku biasanya hadir untuk menyimak dan memberi semangat. Atau mengingatkan tutor jangan bicara terlalu cepat.
Aku pun tak bisa menyiarkan streaming ke facebook group tertutup, karena suaraku ketika live akan terdengar.
Aku pun terpaksa berbohong kepada murid-muridku itu, kalau sedang ada tugas briefing dengan pihak penting. Padahal itu sudah selesai barusan.
Hatiku tak terbiasa dengan hal-hal manipulatif seperti ini. Jadi kejadian HP jatuh dan earphone patah membuatku terpana.
Tuhan, aku salah. Aku bersalah. Mohon maafkan aku. Aku segera akan memperbaikinya.
Saat itu juga aku ingat kembali dengan cerita dari Dee Lestari, saat launching novel barunya berjudul Inteligensia Embun Pagi.
Yang kuingat adalah ucapannya bahwa ketika novelnya resmi diumumkan telah terbit, dia sudah menyiapkan template email penolakan menjadi narasumber di berbagai talkshow dan seminar. Juga menolak menjadi instruktur pelatihan menulis.
Saat itu kupikir, kenapa ya, kan bisa promosi. Kan bisa dapat duit lain lagi. Lumayan kan. Saat itu yang kuasumsikan adalah, ya iyalah Dee udah banyak duitnya, menolak ajakan ini itu ya wajar, itu recehan aja.
Waktu berlalu, semakin kurasakan bahwa Dee bersikap begitu pasti ada alasan lainnya. Dan itu sedikit banyak kualami sendiri.
Aku sedang ada di titik, lelah sekali menjadi narasumber untuk topik yang sama. Pertanyaan berulang. Dan aku harus menjawab lagi hal yang sama. Sudah mentok banget. Walau aku tak tega mengatakan, sudah muak. Tidak berani. Mungkin kelak aku butuh promosi lagi, aku belum sehebat dan sekaya Dee, bukan?
Jalan tengahnya sepertinya, aku harus mengatur jadwalku dengan baik. Aku masih butuh dipromosikan sukarela oleh mereka yang mengundangku tanpa bayaran. Atau aku lebih baik me-monetize sekalian urusan ini, sehingga bisa resmi jadi bentuk pekerjaan.
Hal ini terus bergantian muncul di benakku dan kepalaku. Menimbang ini itu. Untung rugi. Duit dan bukan duit.
Sampai akhirnya bertanya dengan kalimat terdalam yang suka dikatakan oleh almarhum bapak padaku dan anak-anak lainnya.
"Karepmu opo? Opo sing mbok goleki?"
Yang artinya, "Keinginanmu apa? Apa yang sebenarnya kau cari (dalam hidup) ini?"
Semakin lama, semakin terngiang suara bapak di telingaku dan mata batinku.
Setelah sholat, aku pun bisa meluangkan waktu lebih lama untuk duduk, memikirkan jawaban atas pertanyaan itu.
"Untuk apa semua ini?"
"Yang sudah kudapatkan ini, apakah belum cukup?"
"Apa benar undangan itu karena mereka membutuhkanmu, atau sekadar konten memenuhi rencana program bisnis mereka? komunitas mereka? keuntungan mereka?"
Tentu saja, aku sangat ahli menciptakan aneka jenis pertanyaan seperti ini.
Dan aku yakin, muara jawabannya akan kupilih di bagian mana aku bisa lebih dekat dengan Sang Ilahi.
Di masa pandemi ini, di mana berita orang meninggal seperti lalu lalang biasa saja berita harga cabe hari ini. Di mana tiba-tiba istri kehilangan suami, anak kehilangan bapak.
Tentu saja, aku harus pakai akal sehat juga untuk tetap bisa membangun pertahanan diri ke depan. Jalan karir sudah kurintis dengan susah payah. Dan itu juga jadi jalan rejeki dan nafkah untuk keluarga.
Walau keimanan atas Qadha dan Qadar harus kuyakini sepenuh hati, aku pun yakin bersiap menjadi istri dan ibu yang mandiri finansial, juga kebaikan yang bisa kupersembahkan kepada Tuhanku nanti.
Selama masih diparingi hidup, badan sehat, pikiran sehat, aku harus bertahan untuk tetap waras dan bekerja dengan baik. Minimal tidak menyisakan kesusahan pada anak-anakku nanti.
Gusti Allah SWT Mugi paringi ridho barokah. Amiin.
Credit gambar dari https://unsplash.com/photos/5yDDiMcbnHM
Bandeng ini musuh besar saya dulu. Sampai akhirnya punya suami dari daerah pertambakan yang dari bayi udah makan ikan. Dan seringnya ikan bandeng. Dia dan keluarganya tidak risau sama sekali dengan duri kecil-kecil yang saya takuti dulu.
Lama-lama saya ikutan juga suka makan ikan bandeng. Dan sudah piawai mengatasi duri-durinya. Berikut resep Asem-Asem Bandeng yang mudah banget bikinnya dan pasti seger jadi favorit keluarga anda.
ASEM-ASEM BANDENG
Asem-Asem Bandeng
BAHAN:
Seekor ikan bandeng segar, bersihkan, tidak perlu dihilangkan sisiknya.
Cuci dengan bersih banget, pastikan tidak ada empedu pahit yang tertinggal saat membuang isi perut ikan.
Irisan bawang putih dan bawang merah, sesuai selera
Irisan daun bawang
Satu ruas jari lengkuas, digeprek
Dua lembar daun jeruk nipis
Beberapa butir cabe rawit, sesuai selera.
Asam mentah, secukupnya.
Garam dan penyedap rasa.
CARA MEMASAK:
1. Didihkan air di panci, masukkan asam mentah. Sampai mendidih.
2. Masukkan potongan ikan bandeng
3. Masukkan bumbu iris-iris itu semua.
4. Ambil asam mentah yang sudah empuk dan mulai mengelupas, masukkan ke saringan, gecek-gecek dengan sendok, dan masukkan ke air dalam panci. Saring untuk membuat asam atau kecutnya bisa masuk ke air yang mendidih tadi. Ini untuk mengambil sari rasa kecut dari asam mentah. Lalu buang ampasnya.
5. Berikan garam dan penyedap rasa jika mau. Tambah gula jika suka, nggak juga gpp.
6. Incipi dulu
7. Tunggu sampai mendidih dan ikan bandeng sudah pasti matang. Dan setelah rasa sudah oke, matikan kompor dan hidangan siap disajikan.
Karena namanya Asem-Asem Bandeng, maka rasanya sebaiknya rada kecut, asin dan segar. Tidak perlu terlalu manis. Karena berbeda dengan Sayur Asem ala Jawa, biasanya manis.
Jika suka tambahkan rempah-rempah lainnya seperti irisan jahe dan batang sereh. Jika tidak ada, resep di atas sudah cukup bikin sedap.
Sajikan dengan tempe goreng krispi atau krupuk blek. Paling enak dimakan setelah badan meriang dan males makan tuh. Hidangan ini bikin segar dan tidak eneg.
Passive Income atau pendapatan pasif ini yang kumaksudkan adalah mendapatkan pemasukan berupa uang, dari jasa dan produk digital, yang sekali saja bikinnya dan bisa menghasilkan berulang-ulang.
Berbeda dengan membuka kelas online di KELASKU DIGITAL, yang aku harus mengajar setiap kali ada sesi kelas. Ini bukan disebut passive income. Melainkan active income. Sepertinya begitu.
Ada beberapa sumber penghasilan yang kuharapkan bisa mendatangkan Passive Income ini, yaitu:
Membuat online course di Udemy.com
Memasang Google Ads di beberapa blog
Ikut afiliasi
Monitize Channel YouTube
Podcast di Anchor dan Spotify
Untuk poin ke-4, entahlah susah amat. Subscriber channel pribadiku dan Kelasku Digital, masih berputar dari 100-200 orang saja, susah banget nambahnya. Dan aku tak pandai juga membuat konten video secara rutin.
Termasuk poin kelima, dengan kendala mood juga perangkat rekaman yang kurang bagus. Jadi podcast resmiku masih isi beberapa aja.
Yang paling mudah kulakukan adalah menulis di blog, ini bisa spontan. Dan karena terbiasa membuat konten job review, maka menulis postingan untuk afiliasi juga bisa cepat daripada merekam suara dan membuat video.
Untuk membuat kursus online atau e-course di Udemy, ini adalah niat terkuat untuk mencoba platform yang bagiku dulu sangatlah sulit ditembus. Berbekal OBS dan mic punya anak sulung, seadanya, serta membeli ring light biar wajahku kelihatan cerah, jadilah satu kursus gratis dan satu kursus berbayar. Alhamdulillah dapat juga sampai 30 dollar. Walau untuk dicairkan ke rekening rupiah, minimal kudu 50 dollar.
penghasilan dari Affiliasi Shopee
penghasilan dari Google Ads
penghasilan dari Udemy
Ketiga hal ini baru aku lakukan selama pandemi. Itungannya belum berjalan satu tahun. Apalagi google ads itu sering kuotak-atik, kupasang kulepas di blog, begitu aja terus. Karena merasa nggak akan menghasilkan.
Hampir sebulan lebih, baru dapat 50ribu, dan ga naik-naik juga. Ternyata hari ini diperiksa, sudah berubah jadi 80ribu. Artinya ini ada pergerakan dan bisa jadi passive income.
Untuk affiliasi SHopee, aku iseng aja mendaftar dan diterima. Padahal follower di tiktok dikit banget, di instagram cuma 2ribuan, kalau di facebook sih full teman ada 5ribu dan facebook page Jilbab Orin ada seribu lebih. Mungkin ini menyebabkan aku lolos ya, ada blog juga.
Penghasilan dari affiliasi Shopee, sekitar 13 ribu kalau ga salah. Dan ternyata ditransferkan juga walau seuprit itu ke rekening bank. Wah mantap dah.
Google ads di blog, entahlah. Kadang ga enak hati, karena aku sendiri sebel banget buka blog tapi ada iklannya. Namun kadang merasa penasaran juga, kan enak juga udah nulis susah-susah, ada penghasilan tanpa perlu "mengajar tiap hari" gitu. Jadi kupasang lagi.
Apapun hasilnya yang menarik adalah aku telah mengalami sendiri prosesnya.
Terutama untuk kelas online di Udemy, sedikit lagi aku persiapan memperbaiki perangkat rekaman dan tempat menyimpan video hasil rekaman itu. Mungkin beli harddisk external yang ukuran muat 2 Terabyte. Macbookku ini udah penuh banget. Record desktop aja ditolak melulu. Ga bisa simpan file baru lagi. Dan satu per satu aku posting videonya secara unlisted di YouTube, karena sayang banget kalau dihapus.