Selamat pagi di 1 Januari.
Suamiku pergi nggowes dengan sepeda listrik kesayangannya.
Aku sudah mandi dan berlipstik merah ceria, lalu kembali beberes rumah dan membuat kopi.
Ngopi berdua dan membahas lagi tentang gaji anggota tim Heztek.
Selamat pagi di 1 Januari.
Suamiku pergi nggowes dengan sepeda listrik kesayangannya.
Aku sudah mandi dan berlipstik merah ceria, lalu kembali beberes rumah dan membuat kopi.
Ngopi berdua dan membahas lagi tentang gaji anggota tim Heztek.
Anak gadis yang pemalu dan kutubuku itu sedang menepuk pundak seorang ibu berusia 43 tahun. Tepukannya riang dan berulang-ulang.
"We did it. We did it. Yes.
Kita bisa. Kita berdua bisa melakukannya, Heni. Kita hebat!"
Ibu Heni itu tersenyum senang. Dan juga tersenyum menang. Kali ini dia membiarkan rasa bangga menyinari wajahnya. Dia tidak berusaha memendam dan meredupkannya lagi, karena takut saudaranya yang lain merasa iri atau kalah.
Tapi dia sungguh merasa menang. Menang melawan keinginan besar untuk menyerah, berhenti dan putus asa. Menang pada perasaan kalah dan selalu salah. Menang menjalani waktu demi waktu dengan sebaik-baiknya.
Ibu Heni menarik tangan Si Kecil Heni. Lalu meletakkan tubuh kecilnya itu di pangkuan. Rambutnya yang terkepang dua dengan ujung rambut merah dan pecah-pecah, sempat menggelitik hidungnya dan membuatnya merasa gatal dan ingin bersin.
Hattssyiii....!!!!
Si kecil Heni terlompat kaget. Bu Heni juga kaget melihat dirinya yang masih kecil itu kaget. Lalu mereka tertawa bersama. Tertawanya sungguh renyah.
------
Ini gambaranku jika bisa kembali ke masa sekitar 35 tahun lalu dan bertemu diriku yang masih kecil. Yang selalu merasa serba salah dan serba tidak diterima di dalam keluarga.
Si kecil Heni, nak, kamu tenang saja. Kita berhasil. Walau menunggu usia kita 43 tahun lamanya.
Lihatlah ini, dua foto ini, kita dan suami kita sedang meeting online dengan beberapa calon mitra kerja. Iya, kita lakukan di rumah. Di dalam kamar. Di atas meja kerjaku dan itu macbook besar kesayanganku, pasti juga menjadi kesayanganmu.
![]() |
| selfie pertama ketika baru sampai lokasi dan masuk ruang workshop |
![]() |
| sering bertanya karena kepo dan kasihan kalau peserta lain pada diem :) |
![]() |
| foto bersama di akhir acara, saya di 2 sebelah kanan |
![]() |
| pengumuman lolos jadi tenant |
![]() |
| saat sambutan pertama |
![]() |
| biar ga asik posenya, tapi ini foto berharga |
![]() |
| hanya sekali kumpul makan dan foto bareng, selanjutnya saya makan di ruangann dalam karena di luar panas banget |
![]() |
| resmi tanda tangan kontrak menjadi tenant selama 1 tahun |
Kuliah di ITB sekarang jadi impian hampir semua anak-anak dan orang tua, karena ITB termasuk kampus impian di Indonesia. Kalau saya memilih ITB, pada waktu itu, karena ingin menantang diri sendiri saja. Masuk ITS yang ada di tempat kelahiran saya, biasa aja pastinya. Gimana kalau kuliah lebih jauh? dan yang passing grade untuk masuk kuliahnya lebih sulit?
Menantang diri sendiri seperti hobi aneh, yang ternyata berguna juga sampai saat ini. *LOL
Sebelumnya, saya ingin membagi kisah perjuangan atau perjalanan saya belajar dari SMA sampai bisa diterima di ITB jalur UMPTN, di tahun 1997 waktu itu.
Disclaimer: tulisan ini murni berdasarkan pengalaman saya yang belum tahu segala trik tentang Learning How To Learn, Smart Learning dan semacamnya.
![]() |
| *sebenarnya mau share ini duluan di Live Youtube, tapi batal, karena SDN di belakang rumah lagi ada kegiatan akhir sekolah untuk anak kelas 6 SD, jadi rame banget :) |
Pasti bakal seru kalau saya bisa menyampaikan cerita ini lewat video, namun ada kendala tadi pagi. Maka ditunda dulu bercerita lewat suara. Saya dulukan cerita lewat blog ini ya. Semoga bisa jadi referensi untuk memotivasi anak-anaknya yang ingin belajar di jenjang lebih tinggi.
Ohya, di gambar itu ada Macbook Pro besar yang lumayan harganya. Jangan bikin jiper duluan dan menganggap cerita mbak Heni ini, MBA (Modal Bacot Aja), iya bisa ini itu karena kaya dan banyak duitnya.
Oh tidak, Alhamdulillah, saya berasal dari keluarga menengah ke bawah, cenderung miskin. Yang kalau diceritain bisa bikin kalian meneteskan air mata. Canda guys.
Silahkan simak dulu sejenak cerita ini, nanti lebih seru lewat video atau suara emang ya. Sabar dulu. Daripada mood hilang, saya tangkap di blog ini aja dulu.
Singkat cerita, keluarga saya itu mewajibkan anaknya sekolah atau kuliah negeri karena satu alasan. Yaitu murah bayarnya.
Bapak saya, sudah pensiun sejak saya SMP, sebagai Purnawirawan TNI Angkatan Laut, yang waktu pensiun baru dinaikkan sebagai SERMA (Sersan Mayor). Bapak masuk dari jalur Bintara, kalau tak salah itu sebutannya. Lulus SD saja waktu itu. Sayang tak sempat bertanya ke bapak sebelum beliau wafat. Intinya bukan tentara berjabatan tinggi, melainkan biasa-biasa saja. Uang pensiunan juga tidak besar.
Ketika bapak pensiun, dengan sedikit uang pensiun bulanan, yang menjadi tonggak nafkah keluarga adalah usahanya ibu di rumah. Berbagai hal ibu lakukan, emang sejak dulu sih, yaitu berjualan rujak, nasi, jamu, menerima pesanan tumpeng, menjahit, berjualan dan seputar itu.
Kesulitan ekonomi ini yang juga membuat saya pindah sekolah, yang sebelumnya sejak TK-SMP di Surabaya, harus ke Jombang untuk melanjutkan SMA.
Nilai saya cukup untuk bisa diterima di SMA Negeri 5 Surabaya, sekolah terfavorit di Surabaya dulu sampai sekarang. Namun saat itu, yang saya tahu, ibu ingin kembali ke kampung halaman yaitu di Jombang. Maka saya dan adik bungsu, ikut pindah ke sana. Termasuk sekolah.
Usia remaja segitu, apalagi orang Jawa ya, kami atau saya dan adik tidak diberitahu alasan kepindahan ke Jombang itu kenapa. Hanya nurut saja begitu.
Yang saya ingat, waktu mengambil Raport SMP Negeri 1 Surabaya, tempat saya sekolah untuk mengurus kepindahan di Diknas Surabaya ke Diknas Jombang, ada guru yang nyeletuk, "Kok pindah nang ndeso se Hen? kan isok ketrimo nang SMA Limo (5)?".
Saya ingat kalimat itu, tapi lupa siapa yang bicara. Dan saya tidak bereaksi atau merasakan apa-apa. Hanya nurut saja, lupa apa saya senyum atau sedih atau senang atau gimana. Hanya ingat langsung mengikuti langkah ibu untuk balik badan dan pulang naik bemo lyn W dari pinggir Jalan Pacar Surabaya.
Sampailah saya di Jombang dan diterima di SMA Negeri 2 Jombang. Yang kabarnya juga sekolah favorit negeri di sana.
Sejak SD ke SMP, SMP ke SMA, saya tak pernah risau dengan akan sekolah di mana. Mikirnya gampang. Sekali berangkat dengan naik satu kali jalur bemo, biar murah. Tidak terlalu terobsesi dengan sekolah favorit. Itulah cara berpikir kami, keluarga miskin ini. Sederhana.
Dan saya, sejak kecil memang suka sekali belajar. Maka asal bisa belajar, dan pasti suka belajar, sekolah di mana saja, ga masalah. Kalau harus negeri, emang benar, sekali lagi karena biar ibu bapak bisa bayar biaya yang murah untuk sekolah anaknya. Kami keluarga besar, saya anak ke-8. Terbayang besarnya tugas ibu bapak ya, semua sekolah dan hampir semua juga kuliah di kampus negeri. Dengan gaji tentara, sudah pensiun pula, ditambah kerja serabutan seorang ibu rumah tangga.
Saya sekolah di Jombang, terhitung sebagai sekolah "ndeso" atau desa. Jauh banget dari perkembangan di Surabaya. Belum ada bimbel seperti Primagama dll pada waktu itu, sekitar tahun 1996. Maka ketika naik kelas 3 SMA, saya ikutan teman-teman juga sepertinya, saya putuskan ikut Bimbel Luar kota di Surabaya.
Saya mendaftar di Phi Beta, bimbelnya ada di Jalan Bali Surabaya. Ikut bimbel luar kota itu maksudnya, belajarnya hanya hari Minggu, mulai jam 8 pagi sampai 1 siang. Terhitung 5 jam untuk 5 materi belajar persiapan EBTANAS dan UMPTN. Yaitu Kimia, Matematika, Fisika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Jadi selama 1 tahun, di kelas 3 SMA, setiap hari Sabtu itu saya pulang sekolah jam 12 siang. Pulang di rumah tante (adiknya ibu), makan siang sebentar, mandi, menyiapkan buku untuk bimbel dan baju ganti. Lalu naik bemo menuju terminal bis kota, di depan rumah tante. Perjalanan naik bis kota dari Jombang ke Surabaya, ganti beberapa kali, lalu naik bemo lagi sampai ke rumah ibu di Surabaya, itu rata-rata dari siang sampai jam 7 malam. Karena harus nunggu bemo/bis penuh, istilahnya nge-tem dulu. Ganti bis. Nge-tem lagi. Ganti bemo. Nge-tem lagi. Begitu terus. Apalagi hari Sabtu adalah hari macet jalur luar kota. Hari orang yang kerja di Surabaya akan pulang ke desa/daerahnya karena libur kerja. Ditambah hari liburan atau piknik atau malam mingguan orang yang tinggal di Surabaya. Macet pokoknya.
Sampai di rumah ibu di Surabaya, sekitar jam 7 malam, saya akan mandi, makan, naik ke kamar kakak dan adik perempuan, lalu belajar karena di bimbel selalu ada pre-test sebelum kelas dimulai.
Esoknya, hari Minggu, saya akan diantar kakak ke Jalan Bali, tempat bimbel. Lalu ditinggal. Saya belajar di sana selama 5 jam. Untuk makan siang, kadang bawa bekal dari ibu. Kadang membeli tahu isi aja yang gede dan bikin kenyang di kantin bimbel.
Bimbel selesai sekitar jam 2 siang, saya akan berjalan di pinggir jalan untuk mencegat bis DAMRI menuju ke terminal Bungurasih untuk naik bis luar kota ke Jombang.
Sampai di Jombang, rumah tante, sekitar jam 7 atau 8 malam. Saya akan mandi, makan malam, dan sekali lagi belajar sebelum tidur. Mengulang lagi pelajaran di bimbel. Mengatur buku dengan baik. Dan juga kroscek dengan tugas dan materi pelajaran untuk sekolah besok Senin.
Ini berputar terus rutin, selama satu tahun utuh tanpa jeda karena saya lelah atau bosan.
Dan anehnya, nggak ada lelah dan bosan. Dan tidak juga saya berhenti karena sakit.
Kalau sakit flu, panas, batuk, itu saja akan saya abaikan.
Pulang ke Surabaya setiap hari Sabtu juga untuk melipur rindu. Bisa makan masakan ibu. Ketika seminggu makan di rumah tante.
Kenapa kok tiba-tiba di rumah tante, mbak Hen?
Karena ketika saya kelas 3 SMA, ibu memutuskan kembali tinggal di Surabaya. Adik saya sudah lulus SMP jadi bisa ikut ibu ke sana. Giliran saya yang tinggal setahun lagi SMA di Jombang, jadinya terpaksa ditinggal.
Sekali lagi, saya tidak pernah risau dengan kondisi begini. Karena fokus saya hanya di belajar dan lulus EBTANAS bagus, siap dan lolos UMPTN lalu bisa diterima kuliah di kampus negeri. Itu saja. Lainnya boleh terjadi apa saja saya terima dan jalani saja.
Wah capek juga nih, ngos-ngosan nulisnya. Lanjut nanti ya. Sekalian udah bisa live streaming. Nanti saya sertakan videonya di bawah ini.
Tarik nafas dulu juga kalian... :)
Makin berumur makin kusadari, tidak apa-apa jika kamu memilih hal yang berbeda dengan yang diyakini oleh banyak orang, dan kamu sendirian. Setidaknya kamu bisa tersenyum ceria dan bisa secerah bunga kuning ini.
Tadi pagi, ingin melepaskan beban hati dengan menulis banyak tweet, yang tiba-tiba menjadi sebuah utas di twitter.
Buah dari deep thinking yang kulakukan sejak kemarin.
Buah lagi dari pertanyaan, "Emang apa sih yang aku cari di hidup ini?", kemarinnya kemarin.
Kejadian HP jatuh lalu earphone iphone original milikku rusak, putus. Sementara paparan Dipta, muridku yang kutunjuk sebagai Tutor Sebaya di kelas Bootcamp coding, tidak kusimak dan kudengarkan sama sekali.
Kulihat viewer dari acara IG Live itu hanya 27 orang dari ratusan ribu follower pihak yang mengajakku talkshow secara streaming itu.
Pertanyaan berulang, sama, membosankan, dan jawabanku yang juga berulang, sama dan membosankan itu seperti menyekat liang tenggorokanku. Enggan sekali rasanya berbicara itu-itu saja.
Panik ketika earphone itu rusak, setelah 2 tahun lebih aman-aman saja di tanganku. Ini cukup membuatku shock. Kaget. Dan setiap kejadian seperti ini, aku selalu yakin, Allah SWT sedang menegurku.
Sepele banget earphone seharga 120ribuan aja bikin shock.
Ya kalau dilihat untung rugi. Percakapan live itu gratisan, tidak dibayar. Karena terburu-buru mengiyakan, aku pun lupa sudah ada jadwal mengajar kelas coding, walaupun ada Tutor Sebaya, namun aku biasanya hadir untuk menyimak dan memberi semangat. Atau mengingatkan tutor jangan bicara terlalu cepat.
Aku pun tak bisa menyiarkan streaming ke facebook group tertutup, karena suaraku ketika live akan terdengar.
Aku pun terpaksa berbohong kepada murid-muridku itu, kalau sedang ada tugas briefing dengan pihak penting. Padahal itu sudah selesai barusan.
Hatiku tak terbiasa dengan hal-hal manipulatif seperti ini. Jadi kejadian HP jatuh dan earphone patah membuatku terpana.
Tuhan, aku salah. Aku bersalah. Mohon maafkan aku. Aku segera akan memperbaikinya.
Saat itu juga aku ingat kembali dengan cerita dari Dee Lestari, saat launching novel barunya berjudul Inteligensia Embun Pagi.
Yang kuingat adalah ucapannya bahwa ketika novelnya resmi diumumkan telah terbit, dia sudah menyiapkan template email penolakan menjadi narasumber di berbagai talkshow dan seminar. Juga menolak menjadi instruktur pelatihan menulis.
Saat itu kupikir, kenapa ya, kan bisa promosi. Kan bisa dapat duit lain lagi. Lumayan kan. Saat itu yang kuasumsikan adalah, ya iyalah Dee udah banyak duitnya, menolak ajakan ini itu ya wajar, itu recehan aja.
Waktu berlalu, semakin kurasakan bahwa Dee bersikap begitu pasti ada alasan lainnya. Dan itu sedikit banyak kualami sendiri.
Aku sedang ada di titik, lelah sekali menjadi narasumber untuk topik yang sama. Pertanyaan berulang. Dan aku harus menjawab lagi hal yang sama. Sudah mentok banget. Walau aku tak tega mengatakan, sudah muak. Tidak berani. Mungkin kelak aku butuh promosi lagi, aku belum sehebat dan sekaya Dee, bukan?
Jalan tengahnya sepertinya, aku harus mengatur jadwalku dengan baik. Aku masih butuh dipromosikan sukarela oleh mereka yang mengundangku tanpa bayaran. Atau aku lebih baik me-monetize sekalian urusan ini, sehingga bisa resmi jadi bentuk pekerjaan.
Hal ini terus bergantian muncul di benakku dan kepalaku. Menimbang ini itu. Untung rugi. Duit dan bukan duit.
Sampai akhirnya bertanya dengan kalimat terdalam yang suka dikatakan oleh almarhum bapak padaku dan anak-anak lainnya.
"Karepmu opo? Opo sing mbok goleki?"
Yang artinya, "Keinginanmu apa? Apa yang sebenarnya kau cari (dalam hidup) ini?"
Semakin lama, semakin terngiang suara bapak di telingaku dan mata batinku.
Setelah sholat, aku pun bisa meluangkan waktu lebih lama untuk duduk, memikirkan jawaban atas pertanyaan itu.
"Untuk apa semua ini?"
"Yang sudah kudapatkan ini, apakah belum cukup?"
"Apa benar undangan itu karena mereka membutuhkanmu, atau sekadar konten memenuhi rencana program bisnis mereka? komunitas mereka? keuntungan mereka?"
Tentu saja, aku sangat ahli menciptakan aneka jenis pertanyaan seperti ini.
Dan aku yakin, muara jawabannya akan kupilih di bagian mana aku bisa lebih dekat dengan Sang Ilahi.
Di masa pandemi ini, di mana berita orang meninggal seperti lalu lalang biasa saja berita harga cabe hari ini. Di mana tiba-tiba istri kehilangan suami, anak kehilangan bapak.
Tentu saja, aku harus pakai akal sehat juga untuk tetap bisa membangun pertahanan diri ke depan. Jalan karir sudah kurintis dengan susah payah. Dan itu juga jadi jalan rejeki dan nafkah untuk keluarga.
Walau keimanan atas Qadha dan Qadar harus kuyakini sepenuh hati, aku pun yakin bersiap menjadi istri dan ibu yang mandiri finansial, juga kebaikan yang bisa kupersembahkan kepada Tuhanku nanti.
Selama masih diparingi hidup, badan sehat, pikiran sehat, aku harus bertahan untuk tetap waras dan bekerja dengan baik. Minimal tidak menyisakan kesusahan pada anak-anakku nanti.
Gusti Allah SWT Mugi paringi ridho barokah. Amiin.
Credit gambar dari https://unsplash.com/photos/5yDDiMcbnHM
![]() |
| Asem-Asem Bandeng |
Passive Income atau pendapatan pasif ini yang kumaksudkan adalah mendapatkan pemasukan berupa uang, dari jasa dan produk digital, yang sekali saja bikinnya dan bisa menghasilkan berulang-ulang.
Berbeda dengan membuka kelas online di KELASKU DIGITAL, yang aku harus mengajar setiap kali ada sesi kelas. Ini bukan disebut passive income. Melainkan active income. Sepertinya begitu.
Ada beberapa sumber penghasilan yang kuharapkan bisa mendatangkan Passive Income ini, yaitu:
![]() |
| penghasilan dari Affiliasi Shopee |
![]() |
| penghasilan dari Google Ads |
![]() |
| penghasilan dari Udemy |
Ketiga hal ini baru aku lakukan selama pandemi. Itungannya belum berjalan satu tahun. Apalagi google ads itu sering kuotak-atik, kupasang kulepas di blog, begitu aja terus. Karena merasa nggak akan menghasilkan.
Hampir sebulan lebih, baru dapat 50ribu, dan ga naik-naik juga. Ternyata hari ini diperiksa, sudah berubah jadi 80ribu. Artinya ini ada pergerakan dan bisa jadi passive income.
Untuk affiliasi SHopee, aku iseng aja mendaftar dan diterima. Padahal follower di tiktok dikit banget, di instagram cuma 2ribuan, kalau di facebook sih full teman ada 5ribu dan facebook page Jilbab Orin ada seribu lebih. Mungkin ini menyebabkan aku lolos ya, ada blog juga.
Penghasilan dari affiliasi Shopee, sekitar 13 ribu kalau ga salah. Dan ternyata ditransferkan juga walau seuprit itu ke rekening bank. Wah mantap dah.
Google ads di blog, entahlah. Kadang ga enak hati, karena aku sendiri sebel banget buka blog tapi ada iklannya. Namun kadang merasa penasaran juga, kan enak juga udah nulis susah-susah, ada penghasilan tanpa perlu "mengajar tiap hari" gitu. Jadi kupasang lagi.
Apapun hasilnya yang menarik adalah aku telah mengalami sendiri prosesnya.
Terutama untuk kelas online di Udemy, sedikit lagi aku persiapan memperbaiki perangkat rekaman dan tempat menyimpan video hasil rekaman itu. Mungkin beli harddisk external yang ukuran muat 2 Terabyte. Macbookku ini udah penuh banget. Record desktop aja ditolak melulu. Ga bisa simpan file baru lagi. Dan satu per satu aku posting videonya secara unlisted di YouTube, karena sayang banget kalau dihapus.
Kelasku di Udemy bisa diakses di https://www.udemy.com/user/heni-14/
Pandemi bikin bosen, tapi juga bikin ada effort lebih gimana caranya bekerja dengan baik, dari rumah dengan modal internet.
Jika pandemi usai, enak juga kan bisa jadi Digital Nomad sesekali, dengan semua sudah ada jalur penghasilan. Tinggal promosi sana-sini.
Gitulah, kamu jangan putus asa juga kerja di masa pandemi Corona. Asal niat kuat, cari tahu jalannya dan mulailah mencoba. Lama-lama pasti bisa juga.
Gambar credit: unsplash.com
Belajar lagi di usia 42.
Kali ini, saya jadi murid lagi.
Udah...Bukan untuk belajar coding lagi 🙂.
Tetapi sekarang belajar bisnis.
Alhamdulillah. Sungguh. Merasa beruntung sekali bisa ikut (lagi) ke program yang tak membatasi usia pendaftaran.
Ketika persiapan wawancara tempo hari, masih deg-deg’an juga. Yakin ga yakin diterima.
Namun, Allah SWT Maha Baik, yang mengatur semua ini.
Tepat ketika saya yakin sudah saatnya menjadi hustler, dan sepakat dengan suami dan anak-anak yang udah bujang semua untuk lebih serius berbisnis, program ini dibuka.
Saya mengalami sendiri kalau berbisnis itu sulit. Tidak mungkin saya bisa.
Kalaupun ngotot, bakal biasa saja. Karena saya bukan orang yang lincah bisa pergi ke sana ke mari. Mustahil berhasil.
Saya adalah ibu rumah tangga yang hampir 100% ada di dalam rumah.
Apalagi di masa pandemi. Keluar hanya untuk belanja sembako atau ke tukang sayur pun tidak setiap hari. Bahkan ke luar pagar rumah saja jarang.
Tak ada kata kopdar, hangout, piknik, cangkrukan atau apalah-apalah. Sejak kecil pun saya adalah kutu buku yang lebih suka diam di rumah untuk membaca, menulis dan belajar. Tidak suka main. Tidak punya banyak teman. Begitulah sampai dewasa juga tak banyak berubah.
Mustahil tipe ibu-ibu dengan gaya hidup rumahan seperti saya ini bisa berhasil berbisnis.
Tapi, rupanya Gusti Allah SWT belum mengijinkan saya berhenti walau sulit.
Ada saja kejadian tak terduga, yang membuat saya harus punya tanggung jawab yang lebih besar atas keputusan yang kami buat untuk keluarga. Serius berbisnis.
Mungkin anda mengalami hal yang sama.
Dan, percayalah, program seperti FFBS inilah yang bisa menyelamatkan kita dari rasa putus asa atau menyerah.
Entah itu bisnis atau berkarya apa saja, pasti ada aja kendalanya.
Kesulitan tidak hanya bisa melemahkan tapi kadang benar-benar membuat orang merasa gagal dan layak untuk berhenti.
“Terus belajar dan kemudian mengajar”
Itulah kunci hidup yang semakin kuat saya pegang.
Semoga lancar menjalani program Future Females Business School ini bersama teman seangkatan. Sampai tuntas & langsung praktek ilmunya.
Info lengkap bisa baca di sini https://futurefemales.co/ff-business-school/
Thank You @ukindonesiatechhub @futurefemales #ffbsukindonesiatechhub
Dalam rangka ikut program Future Females, acara awalnya adalah mengenali diri sendiri. Termasuk ikut tes karakter ini. Dan inilah hasilnya
Judulnya bukan untuk memprovokasi kalian untuk menikah muda. Nanti jadi korban Pernikahan Dini, bahaya. Halah. Yang tahu judul sinetron yang dimainkan Agnes Monica dan Syahrul Gunawan ini, fix, kita seumuran.
Judulnya adalah cerita hidup saya. Yang nggak hebat-hebat amat, jadi ditulis bukan untuk ditiru atau dijadikan target hidup. Apalagi masuk dalam Vision Board kalian di rumah. Jangan.
Ini adalah berbagi cerita, bahwa yang namanya Menikah Itu, memang beneran nggak mudah. Baik itu untuk perempuan Sarjana, Lulusan SMA, tidak sempat sekolah atau tidak boleh ikut ujian SD seperti ibu saya.
Baiklah, mari kita lanjutkan ceritanya.
![]() |
| saya dan suami di usia 20 tahun pernikahan |
Begini, sebenarnya rada enggan ngobrolin tentang rumah tangga dan cinta-cintaan di media sosial atau di blog. Bukannya apa, takut menyinggung perasaan kalian yang berbeda cerita.
Tapi sepertinya udah di usia 42 tahun ini, ya saatnya mendongeng alias berbagi cerita. Siapa tahu ada yang mengena di hati kalian dan bisa nambah wawasan untuk berpikir jernih sebelum mengambil keputusan untuk menikah.
Iya benar. Tiga bulan sebelum Sidang Sarjana di Kimia ITB, saya menikah. Lalu mengerjakan Skripsi, sidang, baru lulus kuliah.
Singkat cerita, setelah lulus Sarjana di Bandung, saya dan suami memutuskan kembali ke kota kelahiran saya di Surabaya. Hampir selama 12 tahun saya menjadi Ibu Rumah Tangga, yang melanjutkan kuliah S2 dengan biaya sendiri, alias didanai oleh gaji dan tabungan suami. Saya, sama sekali tidak berpenghasilan pada saat itu.
Kok keren mbak Hen?
Kelihatannya iya. Tapi bener-bener itu adalah sejarah yang berdarah-darah.
Menjadi Ibu Rumah Tangga setelah lulus Sarjana, sama sekali bukan impian saya bahkan bukan target hidup saya. Saat itu seharusnya saya menjadi PENELITI BIOKIMIA MEDIS di LIPI Bandung. Tepatnya di Laboratorium Bio Molekuler, tempat saya menyelesaikan Tugas Akhir, membantu ibu Zalinar Udin, Kepala Balai Laboratorium itu, yang kebetulan satu grup dengan saya, satu Dosen Pembimbing, almarhum bapak Agus Noer.
Tugas akhir saya membantu penelitian Disertasi bu Zalinar yang sedang mengambil S3. Judul Skripsi saya adalah penelitian tentang Interaksi DNA Bakteri Salmonella Typhi dengan Ekstrak Tanaman Obat Gardenia Tubifera WALL.
Wuhuu, saya masih hafal judul skripsi ini di luar kepala.
Hebat?
Bukan itu. Tapi menjadi dosen atau peneliti memang target saya selama kuliah. Bahkan ketika masih SMP dan SMA, atau masih muda, saya sudah "didoktrin" oleh ibu saya untuk kelak menjadi WANITA KARIR dan jangan sampai seperti ibu saya, yang (hanya) menjadi ibu rumah tangga.
Kebayang apa yang terjadi, ketika strategi pasca menikah saya meleset. Yang harusnya, berdua dengan suami berkarir di Bandung, sama-sama menjadi pegawai BUMN. Lalu melepaskan semuanya dan kembali ke titik nol lagi di Surabaya.
Suami saya dulu bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nasional) yang dibangun oleh bapak B.J. Habibie. Kelak berubah nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia.
Dengan dua posisi karir yang sama-sama keren dan matang ini, kami berdua berani melangkah untuk menikah bahkan sebelum saya lulus Sarjana.
Menikah dengan hal yang manis-manis dan unyu-unyu itu, serius nih, hanya ada di media sosial. Atau di cerita-cerita buku roman.
Mungkin bisa begitu, kalau pernikahan sudah dalam kondisi ekonomi mapan, berkecukupan bahkan berlebihan.
Sementara kami, nekad menikah dalam kondisi MINUS alias di bawah titik nol.
Setelah menikah, kami tak punya tabungan sama sekali. Sepertinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja. Dan itu harus dibagi dengan ongkos naik kereta api kembali ke Bandung, segera, karena saya harus menyelesaikan Seminar Tugas Akhir, lalu skripsi dan sidang.
Sejenak saja menggelar resepsi pernikahan yang biayanya hasil patungan dari keluarga besar. Lalu beberapa hari saja menginap di rumah orang tua suami. Tidak sampai sepasar atau seminggu kemudian, kami sudah harus kembali ke Bandung. Karena jadwal Seminar Tugas Akhir saya sudah keluar.
Tanpa pikir panjang untuk bersenang-senang dan bahkan mengecewakan keluarga besar karena tidak sempat banyak menemui tamu dah saudara, kami hanya berkomitmen untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Dan tidak menundanya karena akan berdampak pada biaya.
Tidak begitu kaget juga ketika sepasang pengantin baru ini masuk ke kamar kos yang diobrak-abrik tikus di dalam kamar. Yang namanya Mesin Ketik manual saya, habis sudah dengan air kencing dan kotoran tikus yang kecil-kecil. Buku-buku, modul kuliah dan isi rak buku yang terbuka, kena juga jadi tempat pesta pora mereka, si Mickey Mouse, begitu saya menyebut para tikus berkuping bulat, berbadan kecil dan ke sana ke mari suka berjalan sambil membuang kotorannya itu.
Tanpa ada amarah, tangis, sesal atau jengkel, kami meletakkan tas ransel dan barang bawaan di lantai kamar kos. Lalu gerak cepat membersihkan ini itu. Kemudian mandi dan beristirahat.
Bersih-bersihnya tidak mudah ya, karena kamar mandi dan akses air bersih hanya ada di lantai bawah ibu kos. Kami ada di kamar atas, lantai kayu sementara yang dirombak menjadi kamar semi permanen dan kemudian disewakan sebagai tempat kos. Sebuah tempat yang kurang layak sebenarnya, namun itulah yang cukup untuk kantong kami berdua.
Tinggal sekitar beberapa bulan di situ, sampai akhirnya kami putuskan mencari tempat kos yang lebih bersih dan di lantai satu saja, sehingga tidak repot kalau harus ke kamar mandi. Syukurlah akhirnya nemu pas di belakang gedung LIPI Bandung. Jadi saya kalau harus ke laboratorium, lebih dekat. Walaupun sama juga hanya perlu jalan kaki saja seperti di tempat kos sebelumnya.
Ketika saya di Bandung, suami saya harusnya masih kuliah lagi di ITS (Surabaya), namun tinggal menyelesaikan skripsi. Ya suami saya lulusan D3 Teknik Mesin ITS, lalu kerja di IPTN atau PT. DI yang mengambil cuti belajar untuk kuliah lagi melanjutkan ke jenjang S1.
Sebenarnya, semuanya akan sempurna, jika itungan kami berdua tepat.
Seharusnya jika sesuai jadwal, kami berdua akan lulus barengan jadi Sarjana. Beneran barengan.
Akan tetapi, nasib berkata lain, tugas akhir suami saya rumit. Mungkin topiknya yang dikaitkan dengan industri pesawat terbang tempatnya bekerja ya, jadi untuk menemukan software yang pas aja butuh perjuangan. Apalagi kami berdua hanya punya satu unit laptop Celeron, yang sering ngadat ketika suami butuh mengerjakannya untuk skripsi.
Jangan ditanya bagaimana kondisi pengantin baru yang sama-sama didera skripsi ini.
Asyik-asyik saja?
Tentu tidak.
Tegang. Kepikiran terus. Harus berhemat sangat, karena gaji suami kan jadi setengah doang karena cuti belajar. Kebayang kan, setengah gaji untuk biaya hidup sehari-hari, bayar SPP kuliah berdua, bayar kos, transportasi naik angkot sampai 6 kali pulang pergi. Berat banget.
Dan, kami sama sekali tidak menelepon orang tua atau mertua dan menangis-nangis minta pertolongan. Semua kami ambil sebagai tanggung jawab yang harus dipikul oleh kedua pundak kami sendiri.
Ketika saya sudah yakin akan bekerja menjadi PENELITI sesuai impian dan target selama kuliah, lalu tiba-tiba saya terlambat datang bulan dan positif hamil, maka melepaskan impian itu dan sepakat kembali ke Surabaya adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai perempuan yang memutuskan untuk menikah.
Dan, ketika saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja selama belasan tahun, itu juga bentuk tanggung jawab.
Mungkin saja, kalian tidak mengalami hal yang sama dan masih bisa melakukan ini itu, bekerja, mencari penghasilan, bisnis dan lain sebagainya selama awal pernikahan. Namun, saya, tidak.
Kondisi dan situasi saya, anak-anak dan suami yang masih merintis karir, membuat saya berpikir untuk mengalah lebih dulu. Menerima semua keterbatasan keuangan, aktivitas dan meredam ambisi pribadi, semata untuk membuat kondisi RUMAH TANGGA STABIL dulu.
Baru ketika semua sudah kuat. Anak-anak sehat dan kuat dan mandiri. Suami sudah punya pekerjaan tetap yang bagus dengan posisi yang sangat kompeten di bidangnya. Barulah saya beranjak untuk kembali berkiprah.
Bayangkan keputusan yang saya ambil ini membutuhkan waktu belasan tahun. Bukan sulap. Dan tidak instan sama sekali.
Berusaha menahan diri atas nama tanggung jawab mengurus anak-anak, suami dan rumah tangga. Tanpa sama sekali merepotkan kedua belah orang tua. Adalah SENJATA UTAMA untuk laki-laki dan perempuan yang memutuskan untuk menikah.
Tentu saja sangat tidak enak lebih banyak daripada enaknya.
Konflik pun mudah terpicu. Karena saya dan suami sama-sama capek lahir batin. Sama-sama berusaha di sisi masing-masing. Dia bekerja sebagai Kepala Keluarga, walau harus lembur tiap hari bahkan sakit Typhus ketika anak-anak masih bayi. Saya pun harus menggedor pintu tetangga ketika tengah malam, meminta bantuan diantarkan ke rumah sakit. Karena saya ada bayi dan anak balita, tentu tidak bisa meninggalkan mereka berdua di rumah untuk membonceng suami saya ke dokter, kan?
Capek. Harus berhemat. Jarang piknik, karena harus berhemat pula. Menyimpan dalam-dalam semua kesusahan dari orang tua. Walau tak jarang, jadinya saudara dan orang tua menganggap kita sebagai orang yang pelit, tak peduli dan anti sosial, karena menarik diri dari beberapa hal dan kegiatan, serta tak mampu menceritakan kondisi keuangan yang sangat ketat dan harus super ngirit.
Tak mudah menjalani ini semua. Bahkan ketika melanjutkan S2 juga entah komentar muncul dari kanan, kiri, atas dan bawah, masih terus saja ada.
Kalau dipikir-pikir sekarang, kenapa saya dulu seberani itu melepaskan pekerjaan sebagai Peneliti. Padahal kuliah berdarah-darah selama 4 tahun demi menggapainya.
Kenapa juga saya sukarela menjadi ibu rumah tangga saja, padahal bisa saja merepotkan orang tua, meminta bantuan ini itu supaya karir saya tetap jalan dan meningkat.
Kenapa juga saya mau susah payah kuliah lagi S2, padahal pekerjaan suami sudah aman dan saya bisa duduk tenang menerima nafkahnya?
Ini semua adalah perkara TANGGUNG JAWAB.
Saya menjadi ibu rumah tangga, karena merasa bahwa anak-anak yang saya lahirkan adalah tanggung jawab saya, bukan tugas kakek-neneknya.
Bahwa saya kuliah lagi S2, itu adalah juga cara membuka pintu untuk kembali mengamalkan ilmu dan kemampuan diri, sebagai bentuk tanggung jawab saya diberikan titipan bakat sebagai pembelajar yang suka belajar dan mengajar.
Nikah dulu baru S2.
S2 dulu baru nikah.
Menikah atau tidak menikah. Yang penting harus berani bertanggung jawab.
Mungkin mengejutkan bagi beberapa orang, termasuk suami saya sendiri, ketika saya memutuskan melepas satu pekerjaan di era pandemi ini. Saya mundur dari jabatan sebagai editor blog suatu startup pendidikan, yang sudah saya ikuti kurang lebih setahun ini, sejak pandemi bermula tahun 2020.
Alasan utama adalah saya mulai keteteran dan sebenarnya lebih pada kehilangan minat dan daya tarik pada pekerjaan itu. Sebenarnya menjadi editor tulisan itu lebih sulit daripada menulis. Itu opini saya pribadi. Dan sepertinya akan diaminkan oleh banyak penulis juga. Terbukti saya membaca beberapa status blogger dan penulis buku yang menyerah pada pekerjaan sebagai editor profesional.
Menjadi editor itu ibaratnya seperti jadi tukang permak baju.
Bandingkan dengan pekerjaan sebagai desainer baju atau tukang jahit baju dari nol.
Mana yang lebih rumit?
Enak mana menjahit baju dari kain, atau menyesuaikan baju yang sudah jadi dan kurang ini itu dengan permak?
Kalau saya pribadi, tentu lebih enak jadi penjahit baju, atau kalau buku dan tulisan, lebih enak menjadi penulisnya.
Nah, kembali ke mundur kerja tadi, seharusnya ini bisa saja tidak terjadi. Karena dengan pengalaman bertahun-tahun menulis blog, mengedit tulisan di blog itu mudah saja. Asal no typo, aman. Biasanya saya bekerja juga sekali duduk bisa mengedit 10 artikel. Bahkan lebih. Untuk tulisan artikel berisi 500 - 1000 kata. Mudah.
Namun, yang namanya BOSAN itu seperti racun dalam jiwa saya.
Ketika sudah merasa bosan, akhirnya tertekan. Terlebih lagi MERASA BERSALAH karena seperti makan gaji buta.
Pekerjaan jadi editor blog kok semakin mudah bagi saya, tidak ada masalah apa-apa, bahkan ketika saya tidak berbuat apa-apa pula untuk kemajuan blog startup yang menggaji saya itu. NGGAK ENAK HATI rasanya jika seperti itu.
Dan di usia segini, 42 tahun, menerima dan menyimpan perasaan bersalah itu semakin tidak enak dan berat. Maka setelah menimbang ini itu, saya pun mundur, dan bisa diterima dengan baik oleh CEO startup yang memang tahu saya bakal begitu. Ya, sebelumnya saya juga mengundurkan diri namun dicegah.
Lalu saya ngapain?
Nah, di usia ini, saya merasakan ingin lebih SANTAI DI ZONA NYAMAN. Tidak begitu tertarik lagi untuk bekerja atau belajar atau berapa-saja dalam perasaan tertekan atau dipaksa dan terpaksa. Capek banget deh. Nggak banget.
Untung saja, ALHAMDULILLAH, saya diberikan rejeki untuk bisa menghasilkan uang atau pendapatan sebagai PEKERJA LEPAS, yang artinya tidak tergantung pada suatu lembaga apapun. Atau disebut lebih keren dengan istilah SELF EMPLOYEE.
Saya membuat kelas online sendiri untuk mengajarkan coding anak-anak di KELASKU DIGITAL. Dan ingin bekerja di ranah saya sendiri ini saja. Tidak menjadi karyawan perusahaan atau startup orang lain.
Supaya saya bisa ber-TANGGUNG JAWAB dengan diri saya sendiri. Untuk saya sendiri. Dan tidak risau jika kiranya tidak bisa bertanggung-jawab dengan baik kepada orang lain.
Ah cemen dan receh sekali tampaknya?
Iya betul.
Jikalau harus berkaitan dengan pihak lain, maka saya memilih mengambil sikap sebagai MITRA KERJA atau saya yang menjadi BOS-nya. Ini akan lebih mudah.
Maka, di ZONA NYAMAN yang saya maksud ini adalah bukan dengan bersantai-santai belaka. Melainkan memilih satu NICHE PEKERJAAN yang paling pas dengan ritme hidup saya sehari-hari (yang didominasi mengurus rumah tangga) dan juga karakter diri saya pribadi.
Tidak bermalas-malasan dibuktikan dengan gerakan selanjutnya saya untuk menambah skill profesi dengan mendaftarkan diri ke beasiswa Digital Talent Scholarsip yang diadakan oleh KOMINFO secara daring.
Baca Juga: Usia 42 Dapat Beasiswa Digital Talent Kominfo 2021
Ini sebuah keputusan yang tidak mudah namun menarik untuk dilakukan. Menjadi pelajar lagi di usia 42. Jika mengingat saya masuk ke Apple Developer Academy 2019 di usia 40 tahun. Ceritanya bisa dibaca di sini: Alhamdulillah, Diterima di UC Apple Developer Academy 2019.
Ini beberapa tahun setelah saya tekun belajar coding dan seputar itu, setelah ikut program Coding Mum, tahun 2016. Yaitu di usia saya sekitar 37 tahun. Banyak tulisan saya tentang Coding Mum, bisa anda akses juga di sini.
Maka begitulah.
Dari cerita saya ini, jika anda masih muda, tidaklah mengapa mencoba segala hal yang sulit, rumit, terpaksa dan semacamnya. Coba saja. Lakukan dengan sungguh-sungguh. Toh tenaga dan semangat masih membara tentu saja di usia muda itu. Yang penting tekun dan tekun. Kelak akan bertemu dengan energi dan pola hidup yang sesuai dengan diri kita sendiri. Dan sesuai dengan MISI HIDUP yang kita yakini.
Semoga menginspirasi.
-Heni Prasetyorini -
*Credit: gambar dari Unsplash.com
![]() |
| sebagian buku yang saya beli di awal bulan Februari |
Niat awal menulis ini dan merekam suara secara bersamaan, menceritakan hal yang sama. Ternyata sulit bareng mengetik di keyboard sambil bicara di depan mic. Jadinya ngetiknya berhenti, lalu melanjutkan rekaman suara podcast dan diposting di anchor.fm. Podcast itu bisa didengarkan di sini ya, sambil membaca ini. Monggo...
https://anchor.fm/henipr/episodes/Bulan-Buku-dan-Cinta-eptfa2
Bulan ini adalah bulan saya umbar-umbaran membeli buku di awal bulan. Alhamdulillah dengan penghasilan saya sendiri, maksudnya tidak minta suami dan tidak memakai jatah uang bulanan keluarga.
Saya tulis sekalian judul buku yang saya beli.
Nah total berapa rupiah ya ini. Coba saya hitung dulu.
Jadi totalnya sekitar 1,5 juta rupiah lengkap untuk buku dan 2 workshop menulis buku.
Ini gilaa tapi saya bahagia
Ini sebuah kegilaan, ketika berhari-hari bingung mau beli apa ya untuk hari istimewa kelahiran saya ini di bulan Februari. Apa beli oven listrik, set panci bagus atau alat olahraga sepeda statis yang murah meriah. Dan itu berat semuanya, mau beli batal melulu. Mikir melulu. Takutnya ga berguna amat. Sayang. Tapi pengen. Apa butuh? gitu aja mikirnya.
Eh tiba-tiba keluar begitu saja, transfer sana-sini untuk beli buku.
Nah, perasaan saya begitu lega dan plong dan yakin. Tidak menyesal dan mikir ulang seperti sebelumnya. Ini saya lakukan dengan yakin sekali.
Dan sengaja tidak cerita ke anak dan suami. Karena mereka semua bukan pembaca buku dan pecinta buku. Jadi bakal komentar aneh-aneh hahaha.
Blog ini adalah tempat saya bercerita dan berbagi pengalaman. Sebagai perempuan, ibu rumah tangga, yang suka menulis dan bisa dapat banyak karir baru karena melek teknologi. Selamat menikmati cerita saya.